<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>starmyu &amp;mdash; reeinshiyu</title>
    <link>https://reeinshiyu.writeas.com/tag:starmyu</link>
    <description>Seluruh kisah yang dikhususkan kepada mereka yang berkenan untuk membacanya.</description>
    <pubDate>Thu, 14 May 2026 01:37:58 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Harmoni Setiap Kehidupan</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/harmoni-setiap-kehidupan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Tsukigami Kaito × Hizamara Fauraza.&#xA;  #FaureYume; #KaiFau.&#xA;&#xA;   .&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #StarMyu © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Bunga sakura tampak menari di atas kanvas luas yang terbentang di penjuru negeri, kanvas yang warnanya berubah dari biru cerah siang hari hingga merah jingga saat senja menjelang. Langit, dalam segala perubahannya, selalu menawarkan pemandangan yang memikat, sanggup mengalihkan atensi para astrophile.&#xA;Awan-awan pun ikut bergerak, menyisipkan nuansa putih yang menawan. Mereka menghadirkan suasana yang berbeda setiap waktu, memberi sentuhan siluet dan rupa yang memancing imajinasi.&#xA;&#xA;Netra berwarna biru lembut selalu terlihat bersinar, bagaikan kelopak nemophila yang mekar di bawah sinar mentari ketika musim semi tiba. Warna yang jarang ditemui, terlihat tenang, dan hampir rapuh. Tatapan itu selalu memberikan jeda waktu untuk orang-orang &#xA;yang melihat sepasang warna mata miliknya.&#xA;&#xA;Sang wanita dengan rambut ungu lembut tampak menanti kedatangan seseorang yang paling dinantikannya. Beberapa kali, sepasang mata beralih antara layar ponsel dan ke arah tepi jalan, tempat yang paling sering dilalui oleh banyak orang. Setiap kali bayangan sosok indah yang dinantinya muncul di antara orang-orang yang berlalu-lalang, harapannya seolah menguat.&#xA;&#xA;Dari kejauhan, ia mendapati figur indah yang paling dinantikannya. Sudah berapa tahun berlalu sejak mereka tak lagi sering bertemu, tepatnya semenjak memasuki tahun terakhir masa sekolah. Meski begitu, keduanya tetap saling bertukar sapa, walau hanya menyita sebagian kecil dari waktu yang mereka miliki.&#xA;&#xA;Tepat ketika tatapan mereka bertemu, keheningan yang tak terbatas menyelimuti. Tak satu pun kata terucap, hanya embusan angin yang lewat, membawa kesejukan yang menambah sunyi di antara mereka. Senyuman terlukis pada bibir milik sang gadis, sepasang matanya menyiratkan penuh kebahagiaan. Pertemuan pertama mereka, setelah berbagai kesibukan menghalangi keduanya berjumpa lagi. &#xA;&#xA;&#34;Maaf, aku terlambat.&#34;&#xA;&#xA;Perkataan itu keluar dari mulut pemuda di hadapannya. Lelaki itu memulai percakapan terlebih dahulu, sementara sang gadis tak bisa menyembunyikan rasa terkejut atas kata-kata yang baru saja terlontar.&#xA;&#xA;&#34;Tidak, aku sendiri baru saja tiba.&#34; &#xA;&#xA;Bohong. Gadis itu sudah menunggu selama satu jam penuh, sebelum janji untuk mereka bertemu lagi. Padahal, biasa yang sering terlambat itu perempuan, karena terlalu lama untuk berdandan, &#39;kan? Namun kali ini tampaknya berbeda, tak ada yang terlambat dari waktu yang telah ditentukan. Mereka bahkan datang lebih awal, sekitar tiga puluh menit sebelum waktu pertemuan yang dijanjikan.&#xA;&#xA;&#34;Ah, begitu?&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Tsukigami Kaito × Hizamara Fauraza.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:KaiFau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">KaiFau</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:StarMyu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">StarMyu</span></a> © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. </p></blockquote>

<hr/>

<p>Bunga sakura tampak menari di atas kanvas luas yang terbentang di penjuru negeri, kanvas yang warnanya berubah dari biru cerah siang hari hingga merah jingga saat senja menjelang. Langit, dalam segala perubahannya, selalu menawarkan pemandangan yang memikat, sanggup mengalihkan atensi para <em>astrophile</em>.
Awan-awan pun ikut bergerak, menyisipkan nuansa putih yang menawan. Mereka menghadirkan suasana yang berbeda setiap waktu, memberi sentuhan siluet dan rupa yang memancing imajinasi.</p>

<p>Netra berwarna biru lembut selalu terlihat bersinar, bagaikan kelopak nemophila yang mekar di bawah sinar mentari ketika musim semi tiba. Warna yang jarang ditemui, terlihat tenang, dan hampir rapuh. Tatapan itu selalu memberikan jeda waktu untuk orang-orang
yang melihat sepasang warna mata miliknya.</p>

<p>Sang wanita dengan rambut ungu lembut tampak menanti kedatangan seseorang yang paling dinantikannya. Beberapa kali, sepasang mata beralih antara layar ponsel dan ke arah tepi jalan, tempat yang paling sering dilalui oleh banyak orang. Setiap kali bayangan sosok indah yang dinantinya muncul di antara orang-orang yang berlalu-lalang, harapannya seolah menguat.</p>

<p>Dari kejauhan, ia mendapati figur indah yang paling dinantikannya. Sudah berapa tahun berlalu sejak mereka tak lagi sering bertemu, tepatnya semenjak memasuki tahun terakhir masa sekolah. Meski begitu, keduanya tetap saling bertukar sapa, walau hanya menyita sebagian kecil dari waktu yang mereka miliki.</p>

<p>Tepat ketika tatapan mereka bertemu, keheningan yang tak terbatas menyelimuti. Tak satu pun kata terucap, hanya embusan angin yang lewat, membawa kesejukan yang menambah sunyi di antara mereka. Senyuman terlukis pada bibir milik sang gadis, sepasang matanya menyiratkan penuh kebahagiaan. Pertemuan pertama mereka, setelah berbagai kesibukan menghalangi keduanya berjumpa lagi.</p>

<p>“Maaf, aku terlambat.”</p>

<p>Perkataan itu keluar dari mulut pemuda di hadapannya. Lelaki itu memulai percakapan terlebih dahulu, sementara sang gadis tak bisa menyembunyikan rasa terkejut atas kata-kata yang baru saja terlontar.</p>

<p>“Tidak, aku sendiri baru saja tiba.”</p>

<p>Bohong. Gadis itu sudah menunggu selama satu jam penuh, sebelum janji untuk mereka bertemu lagi. <em>Padahal, biasa yang sering terlambat itu perempuan, karena terlalu lama untuk berdandan, &#39;kan?</em> Namun kali ini tampaknya berbeda, tak ada yang terlambat dari waktu yang telah ditentukan. Mereka bahkan datang lebih awal, sekitar tiga puluh menit sebelum waktu pertemuan yang dijanjikan.</p>

<p>“Ah, begitu?”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/harmoni-setiap-kehidupan</guid>
      <pubDate>Sat, 24 May 2025 14:24:25 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Spring Happiness</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/spring-happiness?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Toraishi Izumi × Hizafa Rein.&#xA;  #FaureYume; #IzuRein.&#xA;&#xA;   Simple happiness of the noblest behavior.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #StarMyu © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Latihan Tim Hiiragi selesai lebih awal pada waktu itu. Padahal, sewaktu Festival Ayanagi mereka bahkan tidak punya waktu untuk sekadar beristirahat. Bertemu dengan Tim Ootori saja hanya beberapa kali, itupun sampai harus diikuti oleh salah seorang leader-nya. Lagi pula, orangnya memang unik juga, sih. Alhasil, anggota Tim Hiiragi tidak heran lagi, kalau orangnya bisa senekat itu.&#xA;&#xA;Meskipun sudah menjelang sore hari, cuacanya masih saja terlihat sangat cerah. Senyuman terlukis pada bibir salah seorang anggota Tim Hiiragi, ia adalah Toraishi Izumi. Netra kelabunya menatap terus ponselnya. Bersyukur semua kegiatan telah berakhir, waktunya ia akan kembali ke asrama dan membersihkan tubuhnya yang penuh keringat, setelah latihan selama beberapa jam.&#xA;&#xA;&#34;Toraishi-kun, mau sampai kapan kau berdiri di situ?&#34; tegur pemuda dengan rambut seindah bunga Sakura, itu adalah Ugawa Akira, teman satu timnya. &#xA;&#xA;Mendengar teguran dari sosok yang familier baginya, sukses mengalihkan atensi pemuda tersebut. &#34;Oh, kalian duluan saja. Aku akan menyusul setelah membalas pesan dari Rein-chan,&#34; ujarnya sembari tersenyum lebar. &#xA;&#xA;&#34;Wah, aku benar-benar tidak mengerti, seorang Rein bisa terpikat sama orang seperti dia.&#34; Sindiran itu secara tidak langsung menyentak keberadaan Toraishi, meskipun ia tahu kalau wataknya Ugawa memanglah demikian.&#xA;&#xA;&#34;Hei, jangan bicara begitu!&#34; tegur Toraishi. Seolah direnggut ketenangannya, dia justru meladeni Ugawa. &#xA;&#xA;&#34;Ya, ya. Lakukan saja sesukamu, aku tidak akan peduli.&#34; Ugawa segera pergi meninggalkan anggota timnya yang lain, tidak mau berurusan lebih banyak dengan Toraishi untuk hari ini. Sepertinya karena latihan kali ini sudah sangat menguras tenaga, jadinya Ugawa tidak memperpanjang perkataannya hingga terjadi pertikaian yang sudah menjadi kebiasaan.&#xA;&#xA;Melihat kepergian Ugawa, ketiga orang lainnya yang tadi menatap Toraishi pun akhirnya memutuskan untuk pergi dahulu. &#34;Toraishi, kami kembali ke asrama duluan, ya.&#34; Itu adalah Tatsumi Rui yang berkata dengan lembut. &#34;Sepertinya, suasana hati Ugawa kurang bagus akhir-akhir ini, jangan terlalu marah padanya, ya?&#34; lanjutnya. Sungguh mulia sekali hatinya, meminta teman satu timnya agar tidak bertengkar dan memaklumi perasaan anggota lain timnya juga. Sungguh leader sejati.&#xA;&#xA;&#34;Ya, tidak masalah~ Nanti, aku akan menyusul.&#34; Syukurnya, suasana hati Toraishi sedang bahagia saat ini. &#xA;&#xA;&#34;Kalau begitu, sampai jumpa nanti, Toraishi-kun,&#34; ujar pemuda dengan rambut cokelat disamping Tatsumi, Sawatari Eigo.&#xA;&#xA;&#34;Toraishi, sampai jumpa nanti!&#34; seru sosok yang berada didekat Tatsumi dan Sawatari. Seorang yang energinya mungkin tidak akan pernah habis. Orang yang selalu ceria dan bahagia. Tanpa ada beban sama sekali.&#xA;&#xA;Melihat kepergian anggota timnya, ia mendengkus kecil. &#34;Ya, sampai nanti,&#34; sahutnya sembari tersenyum. Setidaknya, ia masih akan tersenyum saat temannya pun melontarkan senyum kepada dirinya. Toraishi itu bukanlah pemuda yang irit tersenyum, hanya saja dia membutuhkan waktu-waktu tertentu untuk tersenyum. Terkadang, senyuman Toraishi lebih mirip seperti senyum jahil ketimbang senyum yang tulus. Ia terlalu banyak menggoda seseorang disekitarnya.&#xA;&#xA;Kini ia mengalihkan atensinya lagi ke ponsel yang sedari tadi setia digenggamnya. &#34;Oh apa ini? Rein-chan mengajak aku ketemuan?&#34; Toraishi bertanya-tanya, sejujurnya jarang sekali kalau sosok yang sedari tadi mengirimkan pesan kepadanya itu mengajaknya duluan. Padahal, biasa Toraishi yang lebih sering duluan untuk mengajaknya.&#xA;&#xA;Toraishi membalas pesan sang gadis pujaan hatinya itu. Namun, tak lama kemudian pesan itu dibalas. Sembari menunggu balasannya tadi, Toraishi sempat merapikan tas selempang yang dia bawa, dari asrama ke tempat latihan yang sekarang dipijaki olehnya.&#xA;&#xA;Pesan masuk itu bertuliskan, &#39;Bagaimana kalau hari ini, sepulang sekolah? Apa Izumi sudah punya rencana?&#39; Ia bahkan menulis balasannya dengan cepat. Tentu saja ia tidak akan mengabaikan kesempatan itu.&#xA;&#xA;Setelah itu, Toraishi bergegas untuk segera kembali ke asrama dan membersihkan tubuhnya dengan baik, karena sudah menghabiskan banyak waktu untuk latihan bahkan sepulang sekolah.&#xA;&#xA;Pesan masuk kembali diterima oleh Toraishi yang berbunyi, &#39;Kalau begitu, nanti akan aku kabari lagi. Sekarang aku mau kembali ke asrama dulu.&#39;&#xA;&#xA;Saat Toraishi kembali ke asrama, tak disangka ada salah seorang dari Tim Ootori yang menyambutnya, lebih tepatnya leader mereka.&#xA;&#xA;&#34;Toraishi, selamat ulang tahun!&#34; Betapa terkejutnya dia, padahal belum ada selangkah untuk memasuki asrama. Rasanya seolah dicegat oleh sosok pemuda bersurai cokelat muda dengan mata sehijau pepohonan.&#xA;&#xA;&#34;Wah, Hoshitani! Kau membuatku terkejut. Oh, hari ini ulang tahunku?&#34; Toraishi melirik ponsel yang dia genggam, ternyata disana terpampang jelas bahwa sudah tanggal 12 April. Dia benar-benar tidak sadar. Sepertinya, Toraishi baru saja mengerti apa yang sedang terjadi kali ini.&#xA;&#xA;&#34;Kau benar, terima kasih Hoshitani.&#34; Toraisi menepuk pundaknya sambil menyengir. Pantas saja kelihatannya suasana hati Toraishi bisa sebahagia itu, meskipun ternyata ia tetap melupakan salah satu hari penting dalam hidupnya.&#xA;&#xA;&#34;Ah, maaf membuatmu terkejut. Tadinya aku bertanya kepada Tatsumi, kalau kau ternyata masih berada di ruang latihan. Lalu, belum ada beberapa menit mereka masuk ke kamar, kaupun datang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh, iya. Tadi setelah latihan selesai, Rein-chan mengirimku pesan dan ingin mengajakku pergi setelah pulang sekolah. Makanya, aku baru saja pulang,&#34; jelas Toraishi.&#xA;&#xA;&#34;Ah~ Rein sudah lebih dahulu, ya?&#34; gumam Hoshitani, sepertinya terdengar oleh Toraishi.&#xA;&#xA;&#34;Ya, setidaknya kalau Hoshitani tidak berkata hal itu kepadaku, bisa saja aku justru seperti orang yang melupakan hari kelahirannya sendiri,&#34; balasnya tertawa renyah. Setelah itu ia pun melanjutkannya, &#34;Padahal, Rein-chan bisa mengucapkan selamat padaku yang pertama kali, sayang sekali. Tapi, tidak masalah! Suasana hatiku sekarang sedang dalam kondisi baik~&#34; &#xA;&#xA;Hoshitani awalnya terkejut mendengar jawaban itu, tetapi begitu ia mendengar perkataan terakhirnya, entah kenapa justru merasa lega. &#34;Ya sudah, aku ke dalam dulu. Boleh tolong minggir? Aku mau segera bertemu dengan Rein-chan, haha.&#34; Sungguh, kalau Toraishi tidak mengatakan hal ini, Hoshitani akan terus menerus berada di depan pintu asrama. &#xA;&#xA;&#34;Oh, maaf! Nanti, jangan pulang larut malam, ya~&#34;&#xA;&#xA;Melihat kepergian Toraishi yang hanya melambaikan tangannya saja, menandakan bahwa ia mendengarkan pernyataan itu. Sepertinya, berkat Hoshitani, dia ingin segera bertemu dengan kekasih pujaan hatinya itu.&#xA;&#xA;Sesampainya di kamar milik Toraishi, tidak terlihat keberadaan teman satu kamarnya. Dia tidak memusingkannya juga, ia memutuskan untuk membersihkan diri dan bersiap untuk bertemu dengan sosok yang selalu didambakan olehnya. &#xA;&#xA;Seorang gadis berambut kelabu, dengan iris mata sehijau tanaman yang selalu memberikan oksigen kepada makhluk hidup. Seberharga itulah sosoknya bagi seorang Toraishi Izumi. Gadis itu akrab disapa Rein, nama panjangnya ialah Hizafa Rein.&#xA;&#xA;Tidak lama setelah Toraishi bersiap, ternyata muncul pesan masuk. Awalnya Toraishi mengira itu dari Rein, tetapi sepertinya bukan. Itu adalah pesan dari Kuga Shu, teman masa kecilnya.&#xA;&#xA;Melihat pesannya yang ternyata mengucapkan, &#39;Selamat ulang tahun&#39; membuat Toraishi melukis senyuman. Sepertinya, untuk hari ini dia tidak bisa menemuinya. Ia tidak mempermasalahkan hal itu, karena tahu bahwa Kuga memiliki kerjaan sambilan. Sebenarnya, Rein pun seperti itu. Sehingga dirinya sekarang berpikir, apakah tidak akan menyita waktu sang terkasih untuk bekerja malam harinya? &#xA;&#xA;Toraishi memang tidak tahu pasti, jadwal kerja sambilannya Rein. Ia juga berharap kalau tidak membuat gadis itu justru tidak memiliki jatah istirahat, alhasil ia jarang untuk mengajaknya berkencan.&#xA;&#xA;Pada akhirnya, Toraishi memutuskan untuk bertanya mengenai hal ini dengan Rein. Selang beberapa menit kemudian, pesan masuk muncul diponsel milik Toraishi.&#xA;&#xA;Rein menuliskan balasannya, &#39;Tenang saja~ aku masuk kerjanya sekitar jam tujuh nanti malam.&#39; Toraishi bisa membayangkan betapa santainya Rein saat membaca pesan tersebut. Akan tetapi, Toraishi tetap saja merasa khawatir. Mau bagaimanapun, Rein itu seorang gadis, tidak terlalu bagus keluar malam-malam sekadar untuk bekerja.&#xA;&#xA;Toraishi membalas beberapa kalimat untuk disampaikan kepada Rein. Namun, balasan yang Toraishi dapatkan berupa, &#39;Hei, tenang saja. Sebelum aku bertemu denganmu, aku sudah lebih dahulu bekerja. Aku bisa untuk menjaga diriku sendiri. Omong-omong, aku sudah selesai bersiap. Nanti aku menunggu di depan gerbang Akademi, ya.&#39;&#xA;&#xA;Toraishi rasanya akan melesat saat itu juga, setelah ia membaca balasan dari Rein. Tentu saja, dia tidak lupa menyempatkan diri untuk membalas pesannya terlebih dahulu.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Yo, Izumi,&#34; sapa seorang gadis bersurai ungu dengan sedikit helaian rambutnya berwarna lebih muda, dibandingkan rambut lainnya.&#xA;&#xA;Bukan Rein yang menyapanya, melainkan teman akrab Rein. Sosok yang lebih sering bersama salah seorang dari Tim Ootori. &#34;Heh, sepertinya suasana hatimu bahagia sekali. Rein yang mengajakmu pergi duluan, ya~?&#34; goda gadis tersebut. Sungguh, entah kenapa gadis ini lebih berbakat dalam hal menggoda dirinya.&#xA;&#xA;&#34;Izumi, maaf membuatmu menunggu.&#34; Ya, ini barulah suara yang dia rindukan. Sosok yang akhirnya bertemu setelah percakapan panjang di ponsel mereka masing-masing. &#xA;&#xA;&#34;Tidak masalah~&#34;&#xA;&#xA;&#34;Huh? Ya, baiklah! Sudah sana kalian pergi berkencan segera. Jangan menebar kemesraan di depanku,&#34; gerutu gadis berambut ungu tadi.&#xA;&#xA;Gadis itu, Hizamara Fauraza, mendorong Toraishi dan Rein agar supaya menjauh dari hadapannya. Entah mengapa wajah Rein memanas. Ia tidak mengira kalau ajakannya malah terdengar seperti mengajak berkencan. Sementara itu, Toraishi sendiri tampak mengomeli gadis itu. Dia tidak terima karena tiba-tiba saja didorong agar menjauh dari tempat itu.&#xA;&#xA;Pada akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk pergi dan tak lupa mengucapkan sampai jumpa kepada gadis tersebut. Melihat kepergian mereka berdua, senyuman terulas diwajah mereka. Setelah itu, tangannya mengambil ponsel dan menghubungi seseorang yang dikenal oleh mereka semua.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Dalam perjalanan Toraishi bersama Rein terasa hening. Entah karena tidak bisa memulai topik, atau justru kepikiran tentang perkataan Fauraza yang berkata bahwa saat ini mereka berdua sedang kencan. Rasanya Rein ingin menangis sekolam sekarang. &#xA;&#xA;Belum sempat Toraishi ingin berbicara, terdengar seorang anak kecil tiba-tiba menangis. Atensi mereka berdua teralihkan, awalnya Rein ingin bertanya dengan anak itu, tetapi Toraishi lebih dahulu menenangkan anak kecil tersebut. Melihat hal itu membuat Rein tersenyum kecil. &#xA;&#xA;&#34;Hei, anak jagoan. Jangan menangis seperti itu,&#34; ujar Toraishi sembari jongkok tuk menyejajarkan tingginya dengan anak kecil itu. Anak kecil itu mungkin sekitaran usia tiga atau empat tahun. Toraishi mengelus pelan kepalanya sewaktu ia berkata demikian.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa dirimu menangis? Apa mungkin anak jagoan ini terpisah dengan Ibunya? Tenang saja, ayo kita cari Ibumu bersama-sama!&#34; Anak kecil itu tertawa kecil. &#xA;&#xA;&#34;Um ... Aku terpisah sama Ibuku,&#34; sahutnya pelan. Tetapi, karena Toraishi berada dekat dengannya, sehingga ia bisa mendengar suaranya.&#xA;&#xA;&#34;Tidak apa-apa, sebelum semakin malam, kita bisa ke tempat di mana Ibumu bisa menemukanmu!&#34; &#xA;&#xA;Rein menatap perilaku lembutnya Toraishi pada anak kecil itu. Terlepas dari kebiasaannya yang dahulu, Toraishi memang anak yang lemah lembut terutama kepada wanita dan anak-anak. Rasanya, diantara mereka berdua justru Toraishi yang lebih ahli dalam hal seperti ini.&#xA;&#xA;&#34;Izumi, kita pergi ke tempat petugas yang berjaga disekitar sini,&#34; sahut Rein, sembari membaca aplikasi navigasi yang berada di ponsel miliknya. Setidaknya, Rein masih bisa membantu walaupun sebatas ini saja.&#xA;&#xA;Setelah beberapa menit berlalu akhirnya, tempat yang mereka tuju ditemukan. Ternyata di sana memang sudah ada seorang Ibu yang dari ekspresi wajahnya tampak khawatir. Sampai akhirnya, &#34;Mama!&#34; Mereka berpelukan penuh haru. &#xA;&#xA;Rein yang melihat itu merasa terharu sekali. Meskipun ia sungguh tidak membantu apapun, karena lebih banyak Toraishi yang melakukannya. Akan tetapi, ia justru mendengar Toraishi menangis, walau dengan tangannya menutup matanya itu dan nyaris cukup pelan. Rein tahu, kalau Toraishi memang mudah terpengaruh hal-hal seperti ini. Namun, ia benar-benar tidak pernah menduga kalau Toraishi akan menangis di tempat itu juga. &#xA;&#xA;Rein menepuk bagian punggung Toraishi, menenangkan sosok yang lebih tinggi daripada dirinya. &#34;Jagoan masa menangis,&#34; celetuknya. &#xA;&#xA;Pada akhirnya, Toraishi tidak lagi menangis. Sang Ibu dari anak kecil yang mereka ajak untuk mencari Ibunya tadi, kini mengucapkan beribu terima kasih kepada mereka. Sebuah kisah yang mengharukan. Khususnya, pada hari kelahiran Toraishi Izumi sendiri. Ah, ia jadi membayangkan Ibunya bisa menjadi seseorang yang lebih penyayang.&#xA;&#xA;Melihat kepergian Ibu dan anak kecil itu sembari melambaikan tangannya kepada mereka, justru menjadikan kenangan itu tak terlupakan. &#xA;&#xA;&#34;Ah, Rein-chan. Maafkan aku yang justru tidak memperhatikan dirimu sedari tadi,&#34; ucap Toraishi, terlihat dari raut wajahnya yang tampak menyesal.&#xA;&#xA;Rein hanya tersenyum kecil sembari berkata, &#34;Tidak masalah, lagi pula menolong seorang anak untuk bertemu Ibunya merupakan perilaku yang sangat mulia.&#34; &#xA;&#xA;Mendengar perkataan itu dari Rein, entah kenapa ekspresi wajahnya tak dapat dikondisikan. Perasaannya terlalu banyak dalam satu waktu, ia tak mampu menampung semua ekspresi itu. &#34;Ah ... Begitu, ya. Rein-chan, boleh kita mencari tempat duduk dulu? Kita sudah berjalan hampir beberapa menit,&#34; tawar Toraishi.&#xA;&#xA;Rein sebenarnya memperhatikan ekspresi wajah Toraishi yang berubah terus, rasanya pasti tidak nyaman. Ia menyetujui hal itu, setidaknya mereka gunakan waktu untuk berbicara saja, dibanding menghabiskan banyak tenaga untuk berkeliling tanpa tahu arah.&#xA;&#xA;Mereka berjalan mendekat kesebuah tempat di mana tidak jauh berada pejalan kaki berada yang terkadang berolahraga di sore hari. &#34;Ah, ayo kita duduk di sana, Izumi!&#34; ajak Rein, sembari menunjuk ke arah yang tidak jauh dari mereka.&#xA;&#xA;Tidak menghabiskan banyak waktu akhirnya mereka duduk di sebuah bangku. &#34;Aku akan pergi membeli air minum sebentar, Izumi istirahat saja di sini.&#34;&#xA;&#xA;Baru saja, Rein ingin pergi. Namun, Toraishi tidak ingin membiarkannya pergi. &#34;Tidak lama, kok! Aku akan segera kembali, tenang saja.&#34; Kini adalah saat yang tepat bagi Rein untuk membantu Toraishi beristirahat sejenak.&#xA;&#xA;Rein bisa tahu seberapa padatnya latihan Tim Hiiragi, karena sebelum ini dia mengetahui banyak hal dari Fauraza, teman satu kamarnya di asrama. Awalnya Rein merasa bersalah untuk mengajak Toraishi pergi sepulang sekolah. Tetapi, kerja sambilannya adalah malam hari. Jadi, menurut Rein ia tidak memiliki banyak waktu. &#xA;&#xA;Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Rein tiba dengan membawakan sebotol minuman itu adalah air putih. Ada banyak energi yang mereka pergunakan seharian ini, terutama Toraishi. Dia menerima pemberian itu dari Rein, tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepadanya.&#xA;&#xA;&#34;Maaf, sepertinya hal tadi membuatku memikirkan sesuatu yang agak mustahil,&#34; ujar Toraishi dengan ekspresinya kembali tenang, setelah ia meminum air pemberian dari Rein.&#xA;&#xA;&#34;Mengenai Ibumu, ya? Maafkan aku juga, semisal perkataanku tadi sedikit menyinggung dirimu.&#34; Sungguh, Rein sebenarnya hanya ingin mengungkapkan kata hatinya, tetapi ia melupakan sesuatu yang paling mustahil untuk Toraishi sendiri.&#xA;&#xA;Terlihat Toraishi mengangguk pelan. &#34;Tidak apa-apa, bukan salahnya Rein-chan juga, kok! Aku justru sangat senang, kalau kamu yang mengajak aku pergi jalan duluan~&#34; Akhirnya sebuah senyuman terlukis dibibir Toraishi. Menandakan bahwa ia benar-benar merasa senang, apalagi melihatnya yang tampak bahagia menantikan dirinya, ia bisa mengerti perbedaan senyum Toraishi.&#xA;&#xA;&#34;Ini mungkin waktunya kurang tepat, tapi aku mau mengucapkan sesuatu kepada Izumi,&#34; ujar Rein, sedari tadi mendengar perkataan dari Toraishi ia sembari mengatur ketenangannya. Sementara dia yang mendengar namanya dipanggil tampak gugup, melihat keseriusan dari Rein.&#xA;&#xA;Rein kemudian berbicara, sembari menggenggam kedua tangan Toraishi. &#34;Terima kasih, karena sudah terlahir kedunia ini. Aku merasa beruntung sekali bisa bertemu dengan orang sebaik Izumi. Seseorang yang perhatian sama anak kecil dan wanita, tidak mungkin rela bahkan sekadar melukai mereka. Sederhana, tetapi Izumi sudah melakukan perbuatan yang begitu mulia. Sungguh, aku tidak tahu harus berkata apalagi ketika melihat Ibu dan anak kecil tadi tampak bahagia,&#34; jelas Rein.&#xA;&#xA;Perkataan tersebut menyentuh lubuk hati seorang Toraishi Izumi. Dia mungkin sudah terbawa suasana dan ingin menangis sekarang.&#xA;&#xA;&#34;Izumi, aku berharap dirimu menjadi orang paling bahagia di dunia. Khusus untuk hari ini, hari paling spesial bagimu. Selamat bertambah usia, Izumi. Aku akan selalu memperhatikan dirimu.&#34;&#xA;&#xA;Air mata Toraishi Izumi mungkin sudah menetes sekarang juga. Namun, kala ia ingin menghapusnya, Rein malah memeluknya erat. Tidak membiarkan orang-orang melihat sang jagoan itu menangis. Napasnya Toraishi mungkin menyentuh bagian lehernya, tetapi khusus untuk kali ini. Ia akan biarkan Toraishi meluapkan segala emosinya. Sebab, akan ada kejutan yang lebih spesial yang untuknya.&#xA;&#xA;Kelopak bunga sakura mulai berjatuhan. Suasana senja sudah hampir menggelap, tanda sore akan segera berakhir. Sudah berapa menit mereka habiskan duduk berdua, dengan Rein yang membenamkan Toraishi dalam pelukannya di sana. Ia mengelus pelan punggungnya. &#xA;&#xA;&#39;Musim semi memang akan selalu menjadi kenangan yang sangat berkesan bagi Toraishi Izumi.&#39;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Malam hampir tiba, disaat itulah Toraishi akhirnya memutuskan kembali ke asrama. Ia sudah mengantar Rein ke tempat kerja sambilannya, meskipun agak memakan waktu sedikit jauh dari asrama. Akan tetapi, sekadar membayangkannya saja sudah membuat dia mengkhawatirkannya lagi. &#xA;&#xA;Sebelum mereka saling mengatakan sampai jumpa besok, Rein sempat berkata, &#34;Nanti kakak kembaranku akan menjemput diriku, tenang saja~&#34; Sebenarnya, Toraishi sendiri memang belum pernah bertemu dengan kembaran Rein. Jadi, ia tidak bisa berbicara banyak hal.&#xA;&#xA;Dalam perjalanan Toraishi menuju asrama, ia merasakan sesuatu yang aneh membuat dirinya sedikit merinding. Sebelum itu, dia juga sudah mencuci wajahnya supaya saat kembali ke asrama tidak terlihat kalau ia sempat menangis.&#xA;&#xA;Namun, saat ia menyentuh pintu depan asrama. Terlihat beberapa orang berkata sesuatu yang membuatnya teringat kejadian tadi sore. Ketika, Hoshitani menghadangnya di depan pintu asrama sembari mengatakan, &#34;Toraishi, selamat ulang tahun!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Astaga! Kenapa kalian semua berada di depan pintu?!&#34; gerutu Toraishi, sungguh ia tidak suka dikejutkan untuk kedua kalinya seperti ini. Meskipun mereka semua bermaksud baik dan mungkin ingin merayakan ulang tahunnya. Menurutnya, semua ini terlalu aneh!&#xA;&#xA;&#34;Oh, sudah mulai acaranya? Selamat ulang tahun, sepertinya kau bersenang-senang hari ini,&#34; sahut seseorang datang dari asrama kedua. &#xA;&#xA;Akademi Ayanagi memiliki lebih dari satu asrama, mengingat ada banyak siswa yang bersekolah di tempat ini.&#xA;&#xA;&#34;Kau sangat terlambat, bersalah!&#34;&#xA;&#xA;Sepertinya, ini adalah kejutan yang direncanakan. Namun, Toraishi tidak pernah mengetahui kejutan ini bermula dari siapa. Setidaknya, biarkan dia menikmati hari spesialnya dengan bahagia dan kesenangan.&#xA;&#xA;Musim semi kali ini, membawa kebahagiaan bagi mereka semua. Tidak hanya Toraishi Izumi, seluruh orang yang merayakan turut memperoleh kebahagiaan yang dia berikan dengan keberadaannya itu sendiri. &#xA;&#xA;End.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Toraishi Izumi × Hizafa Rein.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:IzuRein" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">IzuRein</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>Simple happiness of the noblest behavior.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:StarMyu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">StarMyu</span></a> © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. </p></blockquote>

<hr/>

<p>Latihan Tim Hiiragi selesai lebih awal pada waktu itu. Padahal, sewaktu Festival Ayanagi mereka bahkan tidak punya waktu untuk sekadar beristirahat. Bertemu dengan Tim Ootori saja hanya beberapa kali, itupun sampai harus diikuti oleh salah seorang <em>leader</em>-nya. Lagi pula, orangnya memang unik juga, sih. Alhasil, anggota Tim Hiiragi tidak heran lagi, kalau orangnya bisa senekat itu.</p>

<p>Meskipun sudah menjelang sore hari, cuacanya masih saja terlihat sangat cerah. Senyuman terlukis pada bibir salah seorang anggota Tim Hiiragi, ia adalah Toraishi Izumi. Netra kelabunya menatap terus ponselnya. Bersyukur semua kegiatan telah berakhir, waktunya ia akan kembali ke asrama dan membersihkan tubuhnya yang penuh keringat, setelah latihan selama beberapa jam.</p>

<p>“Toraishi-<em>kun</em>, mau sampai kapan kau berdiri di situ?” tegur pemuda dengan rambut seindah bunga Sakura, itu adalah Ugawa Akira, teman satu timnya.</p>

<p>Mendengar teguran dari sosok yang familier baginya, sukses mengalihkan atensi pemuda tersebut. “Oh, kalian duluan saja. Aku akan menyusul setelah membalas pesan dari Rein-<em>chan</em>,” ujarnya sembari tersenyum lebar.</p>

<p>“Wah, aku benar-benar tidak mengerti, seorang Rein bisa terpikat sama orang seperti dia.” Sindiran itu secara tidak langsung menyentak keberadaan Toraishi, meskipun ia tahu kalau wataknya Ugawa memanglah demikian.</p>

<p>“Hei, jangan bicara begitu!” tegur Toraishi. Seolah direnggut ketenangannya, dia justru meladeni Ugawa.</p>

<p>“Ya, ya. Lakukan saja sesukamu, aku tidak akan peduli.” Ugawa segera pergi meninggalkan anggota timnya yang lain, tidak mau berurusan lebih banyak dengan Toraishi untuk hari ini. Sepertinya karena latihan kali ini sudah sangat menguras tenaga, jadinya Ugawa tidak memperpanjang perkataannya hingga terjadi pertikaian yang sudah menjadi kebiasaan.</p>

<p>Melihat kepergian Ugawa, ketiga orang lainnya yang tadi menatap Toraishi pun akhirnya memutuskan untuk pergi dahulu. “Toraishi, kami kembali ke asrama duluan, ya.” Itu adalah Tatsumi Rui yang berkata dengan lembut. “Sepertinya, suasana hati Ugawa kurang bagus akhir-akhir ini, jangan terlalu marah padanya, ya?” lanjutnya. Sungguh mulia sekali hatinya, meminta teman satu timnya agar tidak bertengkar dan memaklumi perasaan anggota lain timnya juga. Sungguh <em>leader</em> sejati.</p>

<p>“Ya, tidak masalah~ Nanti, aku akan menyusul.” Syukurnya, suasana hati Toraishi sedang bahagia saat ini.</p>

<p>“Kalau begitu, sampai jumpa nanti, Toraishi-<em>kun</em>,” ujar pemuda dengan rambut cokelat disamping Tatsumi, Sawatari Eigo.</p>

<p>“Toraishi, sampai jumpa nanti!” seru sosok yang berada didekat Tatsumi dan Sawatari. Seorang yang energinya mungkin tidak akan pernah habis. Orang yang selalu ceria dan bahagia. Tanpa ada beban sama sekali.</p>

<p>Melihat kepergian anggota timnya, ia mendengkus kecil. “Ya, sampai nanti,” sahutnya sembari tersenyum. Setidaknya, ia masih akan tersenyum saat temannya pun melontarkan senyum kepada dirinya. Toraishi itu bukanlah pemuda yang irit tersenyum, hanya saja dia membutuhkan waktu-waktu tertentu untuk tersenyum. Terkadang, senyuman Toraishi lebih mirip seperti senyum jahil ketimbang senyum yang tulus. Ia terlalu banyak menggoda seseorang disekitarnya.</p>

<p>Kini ia mengalihkan atensinya lagi ke ponsel yang sedari tadi setia digenggamnya. “Oh apa ini? Rein-<em>chan</em> mengajak aku ketemuan?” Toraishi bertanya-tanya, sejujurnya jarang sekali kalau sosok yang sedari tadi mengirimkan pesan kepadanya itu mengajaknya duluan. Padahal, biasa Toraishi yang lebih sering duluan untuk mengajaknya.</p>

<p>Toraishi membalas pesan sang gadis pujaan hatinya itu. Namun, tak lama kemudian pesan itu dibalas. Sembari menunggu balasannya tadi, Toraishi sempat merapikan tas selempang yang dia bawa, dari asrama ke tempat latihan yang sekarang dipijaki olehnya.</p>

<p>Pesan masuk itu bertuliskan, <em>&#39;Bagaimana kalau hari ini, sepulang sekolah? Apa Izumi sudah punya rencana?&#39;</em> Ia bahkan menulis balasannya dengan cepat. Tentu saja ia tidak akan mengabaikan kesempatan itu.</p>

<p>Setelah itu, Toraishi bergegas untuk segera kembali ke asrama dan membersihkan tubuhnya dengan baik, karena sudah menghabiskan banyak waktu untuk latihan bahkan sepulang sekolah.</p>

<p>Pesan masuk kembali diterima oleh Toraishi yang berbunyi, <em>&#39;Kalau begitu, nanti akan aku kabari lagi. Sekarang aku mau kembali ke asrama dulu.&#39;</em></p>

<p>Saat Toraishi kembali ke asrama, tak disangka ada salah seorang dari Tim Ootori yang menyambutnya, lebih tepatnya <em>leader</em> mereka.</p>

<p>“Toraishi, selamat ulang tahun!” Betapa terkejutnya dia, padahal belum ada selangkah untuk memasuki asrama. Rasanya seolah dicegat oleh sosok pemuda bersurai cokelat muda dengan mata sehijau pepohonan.</p>

<p>“Wah, Hoshitani! Kau membuatku terkejut. Oh, hari ini ulang tahunku?” Toraishi melirik ponsel yang dia genggam, ternyata disana terpampang jelas bahwa sudah tanggal 12 April. Dia benar-benar tidak sadar. Sepertinya, Toraishi baru saja mengerti apa yang sedang terjadi kali ini.</p>

<p>“Kau benar, terima kasih Hoshitani.” Toraisi menepuk pundaknya sambil menyengir. Pantas saja kelihatannya suasana hati Toraishi bisa sebahagia itu, meskipun ternyata ia tetap melupakan salah satu hari penting dalam hidupnya.</p>

<p>“Ah, maaf membuatmu terkejut. Tadinya aku bertanya kepada Tatsumi, kalau kau ternyata masih berada di ruang latihan. Lalu, belum ada beberapa menit mereka masuk ke kamar, kaupun datang.”</p>

<p>“Oh, iya. Tadi setelah latihan selesai, Rein-<em>chan</em> mengirimku pesan dan ingin mengajakku pergi setelah pulang sekolah. Makanya, aku baru saja pulang,” jelas Toraishi.</p>

<p>“Ah~ Rein sudah lebih dahulu, ya?” gumam Hoshitani, sepertinya terdengar oleh Toraishi.</p>

<p>“Ya, setidaknya kalau Hoshitani tidak berkata hal itu kepadaku, bisa saja aku justru seperti orang yang melupakan hari kelahirannya sendiri,” balasnya tertawa renyah. Setelah itu ia pun melanjutkannya, “Padahal, Rein-<em>chan</em> bisa mengucapkan selamat padaku yang pertama kali, sayang sekali. Tapi, tidak masalah! Suasana hatiku sekarang sedang dalam kondisi baik~”</p>

<p>Hoshitani awalnya terkejut mendengar jawaban itu, tetapi begitu ia mendengar perkataan terakhirnya, entah kenapa justru merasa lega. “Ya sudah, aku ke dalam dulu. Boleh tolong minggir? Aku mau segera bertemu dengan Rein-<em>chan</em>, haha.” Sungguh, kalau Toraishi tidak mengatakan hal ini, Hoshitani akan terus menerus berada di depan pintu asrama.</p>

<p>“Oh, maaf! Nanti, jangan pulang larut malam, ya~”</p>

<p>Melihat kepergian Toraishi yang hanya melambaikan tangannya saja, menandakan bahwa ia mendengarkan pernyataan itu. Sepertinya, berkat Hoshitani, dia ingin segera bertemu dengan kekasih pujaan hatinya itu.</p>

<p>Sesampainya di kamar milik Toraishi, tidak terlihat keberadaan teman satu kamarnya. Dia tidak memusingkannya juga, ia memutuskan untuk membersihkan diri dan bersiap untuk bertemu dengan sosok yang selalu didambakan olehnya.</p>

<p>Seorang gadis berambut kelabu, dengan iris mata sehijau tanaman yang selalu memberikan oksigen kepada makhluk hidup. Seberharga itulah sosoknya bagi seorang Toraishi Izumi. Gadis itu akrab disapa Rein, nama panjangnya ialah Hizafa Rein.</p>

<p>Tidak lama setelah Toraishi bersiap, ternyata muncul pesan masuk. Awalnya Toraishi mengira itu dari Rein, tetapi sepertinya bukan. Itu adalah pesan dari Kuga Shu, teman masa kecilnya.</p>

<p>Melihat pesannya yang ternyata mengucapkan, <em>&#39;Selamat ulang tahun&#39;</em> membuat Toraishi melukis senyuman. Sepertinya, untuk hari ini dia tidak bisa menemuinya. Ia tidak mempermasalahkan hal itu, karena tahu bahwa Kuga memiliki kerjaan sambilan. Sebenarnya, Rein pun seperti itu. Sehingga dirinya sekarang berpikir, apakah tidak akan menyita waktu sang terkasih untuk bekerja malam harinya?</p>

<p>Toraishi memang tidak tahu pasti, jadwal kerja sambilannya Rein. Ia juga berharap kalau tidak membuat gadis itu justru tidak memiliki jatah istirahat, alhasil ia jarang untuk mengajaknya berkencan.</p>

<p>Pada akhirnya, Toraishi memutuskan untuk bertanya mengenai hal ini dengan Rein. Selang beberapa menit kemudian, pesan masuk muncul diponsel milik Toraishi.</p>

<p>Rein menuliskan balasannya, <em>&#39;Tenang saja~ aku masuk kerjanya sekitar jam tujuh nanti malam.&#39;</em> Toraishi bisa membayangkan betapa santainya Rein saat membaca pesan tersebut. Akan tetapi, Toraishi tetap saja merasa khawatir. Mau bagaimanapun, Rein itu seorang gadis, tidak terlalu bagus keluar malam-malam sekadar untuk bekerja.</p>

<p>Toraishi membalas beberapa kalimat untuk disampaikan kepada Rein. Namun, balasan yang Toraishi dapatkan berupa, <em>&#39;Hei, tenang saja. Sebelum aku bertemu denganmu, aku sudah lebih dahulu bekerja. Aku bisa untuk menjaga diriku sendiri. Omong-omong, aku sudah selesai bersiap. Nanti aku menunggu di depan gerbang Akademi, ya.&#39;</em></p>

<p>Toraishi rasanya akan melesat saat itu juga, setelah ia membaca balasan dari Rein. Tentu saja, dia tidak lupa menyempatkan diri untuk membalas pesannya terlebih dahulu.</p>

<hr/>

<p>“Yo, Izumi,” sapa seorang gadis bersurai ungu dengan sedikit helaian rambutnya berwarna lebih muda, dibandingkan rambut lainnya.</p>

<p>Bukan Rein yang menyapanya, melainkan teman akrab Rein. Sosok yang lebih sering bersama salah seorang dari Tim Ootori. “Heh, sepertinya suasana hatimu bahagia sekali. Rein yang mengajakmu pergi duluan, ya~?” goda gadis tersebut. Sungguh, entah kenapa gadis ini lebih berbakat dalam hal menggoda dirinya.</p>

<p>“Izumi, maaf membuatmu menunggu.” Ya, ini barulah suara yang dia rindukan. Sosok yang akhirnya bertemu setelah percakapan panjang di ponsel mereka masing-masing.</p>

<p>“Tidak masalah~”</p>

<p>“Huh? Ya, baiklah! Sudah sana kalian pergi berkencan segera. Jangan menebar kemesraan di depanku,” gerutu gadis berambut ungu tadi.</p>

<p>Gadis itu, Hizamara Fauraza, mendorong Toraishi dan Rein agar supaya menjauh dari hadapannya. Entah mengapa wajah Rein memanas. Ia tidak mengira kalau ajakannya malah terdengar seperti mengajak berkencan. Sementara itu, Toraishi sendiri tampak mengomeli gadis itu. Dia tidak terima karena tiba-tiba saja didorong agar menjauh dari tempat itu.</p>

<p>Pada akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk pergi dan tak lupa mengucapkan sampai jumpa kepada gadis tersebut. Melihat kepergian mereka berdua, senyuman terulas diwajah mereka. Setelah itu, tangannya mengambil ponsel dan menghubungi seseorang yang dikenal oleh mereka semua.</p>

<hr/>

<p>Dalam perjalanan Toraishi bersama Rein terasa hening. Entah karena tidak bisa memulai topik, atau justru kepikiran tentang perkataan Fauraza yang berkata bahwa saat ini mereka berdua sedang kencan. Rasanya Rein ingin menangis sekolam sekarang.</p>

<p>Belum sempat Toraishi ingin berbicara, terdengar seorang anak kecil tiba-tiba menangis. Atensi mereka berdua teralihkan, awalnya Rein ingin bertanya dengan anak itu, tetapi Toraishi lebih dahulu menenangkan anak kecil tersebut. Melihat hal itu membuat Rein tersenyum kecil.</p>

<p>“Hei, anak jagoan. Jangan menangis seperti itu,” ujar Toraishi sembari jongkok tuk menyejajarkan tingginya dengan anak kecil itu. Anak kecil itu mungkin sekitaran usia tiga atau empat tahun. Toraishi mengelus pelan kepalanya sewaktu ia berkata demikian.</p>

<p>“Kenapa dirimu menangis? Apa mungkin anak jagoan ini terpisah dengan Ibunya? Tenang saja, ayo kita cari Ibumu bersama-sama!” Anak kecil itu tertawa kecil.</p>

<p>“Um ... Aku terpisah sama Ibuku,” sahutnya pelan. Tetapi, karena Toraishi berada dekat dengannya, sehingga ia bisa mendengar suaranya.</p>

<p>“Tidak apa-apa, sebelum semakin malam, kita bisa ke tempat di mana Ibumu bisa menemukanmu!”</p>

<p>Rein menatap perilaku lembutnya Toraishi pada anak kecil itu. Terlepas dari kebiasaannya yang dahulu, Toraishi memang anak yang lemah lembut terutama kepada wanita dan anak-anak. Rasanya, diantara mereka berdua justru Toraishi yang lebih ahli dalam hal seperti ini.</p>

<p>“Izumi, kita pergi ke tempat petugas yang berjaga disekitar sini,” sahut Rein, sembari membaca aplikasi navigasi yang berada di ponsel miliknya. Setidaknya, Rein masih bisa membantu walaupun sebatas ini saja.</p>

<p>Setelah beberapa menit berlalu akhirnya, tempat yang mereka tuju ditemukan. Ternyata di sana memang sudah ada seorang Ibu yang dari ekspresi wajahnya tampak khawatir. Sampai akhirnya, “Mama!” Mereka berpelukan penuh haru.</p>

<p>Rein yang melihat itu merasa terharu sekali. Meskipun ia sungguh tidak membantu apapun, karena lebih banyak Toraishi yang melakukannya. Akan tetapi, ia justru mendengar Toraishi menangis, walau dengan tangannya menutup matanya itu dan nyaris cukup pelan. Rein tahu, kalau Toraishi memang mudah terpengaruh hal-hal seperti ini. Namun, ia benar-benar tidak pernah menduga kalau Toraishi akan menangis di tempat itu juga.</p>

<p>Rein menepuk bagian punggung Toraishi, menenangkan sosok yang lebih tinggi daripada dirinya. “Jagoan masa menangis,” celetuknya.</p>

<p>Pada akhirnya, Toraishi tidak lagi menangis. Sang Ibu dari anak kecil yang mereka ajak untuk mencari Ibunya tadi, kini mengucapkan beribu terima kasih kepada mereka. Sebuah kisah yang mengharukan. Khususnya, pada hari kelahiran Toraishi Izumi sendiri. <em>Ah, ia jadi membayangkan Ibunya bisa menjadi seseorang yang lebih penyayang.</em></p>

<p>Melihat kepergian Ibu dan anak kecil itu sembari melambaikan tangannya kepada mereka, justru menjadikan kenangan itu tak terlupakan.</p>

<p>“Ah, Rein-<em>chan</em>. Maafkan aku yang justru tidak memperhatikan dirimu sedari tadi,” ucap Toraishi, terlihat dari raut wajahnya yang tampak menyesal.</p>

<p>Rein hanya tersenyum kecil sembari berkata, “Tidak masalah, lagi pula menolong seorang anak untuk bertemu Ibunya merupakan perilaku yang sangat mulia.”</p>

<p>Mendengar perkataan itu dari Rein, entah kenapa ekspresi wajahnya tak dapat dikondisikan. Perasaannya terlalu banyak dalam satu waktu, ia tak mampu menampung semua ekspresi itu. “Ah ... Begitu, ya. Rein-<em>chan</em>, boleh kita mencari tempat duduk dulu? Kita sudah berjalan hampir beberapa menit,” tawar Toraishi.</p>

<p>Rein sebenarnya memperhatikan ekspresi wajah Toraishi yang berubah terus, rasanya pasti tidak nyaman. Ia menyetujui hal itu, setidaknya mereka gunakan waktu untuk berbicara saja, dibanding menghabiskan banyak tenaga untuk berkeliling tanpa tahu arah.</p>

<p>Mereka berjalan mendekat kesebuah tempat di mana tidak jauh berada pejalan kaki berada yang terkadang berolahraga di sore hari. “Ah, ayo kita duduk di sana, Izumi!” ajak Rein, sembari menunjuk ke arah yang tidak jauh dari mereka.</p>

<p>Tidak menghabiskan banyak waktu akhirnya mereka duduk di sebuah bangku. “Aku akan pergi membeli air minum sebentar, Izumi istirahat saja di sini.”</p>

<p>Baru saja, Rein ingin pergi. Namun, Toraishi tidak ingin membiarkannya pergi. “Tidak lama, kok! Aku akan segera kembali, tenang saja.” Kini adalah saat yang tepat bagi Rein untuk membantu Toraishi beristirahat sejenak.</p>

<p>Rein bisa tahu seberapa padatnya latihan Tim Hiiragi, karena sebelum ini dia mengetahui banyak hal dari Fauraza, teman satu kamarnya di asrama. Awalnya Rein merasa bersalah untuk mengajak Toraishi pergi sepulang sekolah. Tetapi, kerja sambilannya adalah malam hari. Jadi, menurut Rein ia tidak memiliki banyak waktu.</p>

<p>Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Rein tiba dengan membawakan sebotol minuman itu adalah air putih. Ada banyak energi yang mereka pergunakan seharian ini, terutama Toraishi. Dia menerima pemberian itu dari Rein, tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepadanya.</p>

<p>“Maaf, sepertinya hal tadi membuatku memikirkan sesuatu yang agak mustahil,” ujar Toraishi dengan ekspresinya kembali tenang, setelah ia meminum air pemberian dari Rein.</p>

<p>“Mengenai Ibumu, ya? Maafkan aku juga, semisal perkataanku tadi sedikit menyinggung dirimu.” Sungguh, Rein sebenarnya hanya ingin mengungkapkan kata hatinya, tetapi ia melupakan sesuatu yang paling mustahil untuk Toraishi sendiri.</p>

<p>Terlihat Toraishi mengangguk pelan. “Tidak apa-apa, bukan salahnya Rein-<em>chan</em> juga, kok! Aku justru sangat senang, kalau kamu yang mengajak aku pergi jalan duluan~” Akhirnya sebuah senyuman terlukis dibibir Toraishi. Menandakan bahwa ia benar-benar merasa senang, apalagi melihatnya yang tampak bahagia menantikan dirinya, ia bisa mengerti perbedaan senyum Toraishi.</p>

<p>“Ini mungkin waktunya kurang tepat, tapi aku mau mengucapkan sesuatu kepada Izumi,” ujar Rein, sedari tadi mendengar perkataan dari Toraishi ia sembari mengatur ketenangannya. Sementara dia yang mendengar namanya dipanggil tampak gugup, melihat keseriusan dari Rein.</p>

<p>Rein kemudian berbicara, sembari menggenggam kedua tangan Toraishi. “Terima kasih, karena sudah terlahir kedunia ini. Aku merasa beruntung sekali bisa bertemu dengan orang sebaik Izumi. Seseorang yang perhatian sama anak kecil dan wanita, tidak mungkin rela bahkan sekadar melukai mereka. Sederhana, tetapi Izumi sudah melakukan perbuatan yang begitu mulia. Sungguh, aku tidak tahu harus berkata apalagi ketika melihat Ibu dan anak kecil tadi tampak bahagia,” jelas Rein.</p>

<p>Perkataan tersebut menyentuh lubuk hati seorang Toraishi Izumi. Dia mungkin sudah terbawa suasana dan ingin menangis sekarang.</p>

<p>“Izumi, aku berharap dirimu menjadi orang paling bahagia di dunia. Khusus untuk hari ini, hari paling spesial bagimu. Selamat bertambah usia, Izumi. Aku akan selalu memperhatikan dirimu.”</p>

<p>Air mata Toraishi Izumi mungkin sudah menetes sekarang juga. Namun, kala ia ingin menghapusnya, Rein malah memeluknya erat. Tidak membiarkan orang-orang melihat sang jagoan itu menangis. Napasnya Toraishi mungkin menyentuh bagian lehernya, tetapi khusus untuk kali ini. Ia akan biarkan Toraishi meluapkan segala emosinya. Sebab, akan ada kejutan yang lebih spesial yang untuknya.</p>

<p>Kelopak bunga sakura mulai berjatuhan. Suasana senja sudah hampir menggelap, tanda sore akan segera berakhir. Sudah berapa menit mereka habiskan duduk berdua, dengan Rein yang membenamkan Toraishi dalam pelukannya di sana. Ia mengelus pelan punggungnya.</p>

<p><em>&#39;Musim semi memang akan selalu menjadi kenangan yang sangat berkesan bagi Toraishi Izumi.&#39;</em></p>

<hr/>

<p>Malam hampir tiba, disaat itulah Toraishi akhirnya memutuskan kembali ke asrama. Ia sudah mengantar Rein ke tempat kerja sambilannya, meskipun agak memakan waktu sedikit jauh dari asrama. Akan tetapi, sekadar membayangkannya saja sudah membuat dia mengkhawatirkannya lagi.</p>

<p>Sebelum mereka saling mengatakan sampai jumpa besok, Rein sempat berkata, “Nanti kakak kembaranku akan menjemput diriku, tenang saja~” Sebenarnya, Toraishi sendiri memang belum pernah bertemu dengan kembaran Rein. Jadi, ia tidak bisa berbicara banyak hal.</p>

<p>Dalam perjalanan Toraishi menuju asrama, ia merasakan sesuatu yang aneh membuat dirinya sedikit merinding. Sebelum itu, dia juga sudah mencuci wajahnya supaya saat kembali ke asrama tidak terlihat kalau ia sempat menangis.</p>

<p>Namun, saat ia menyentuh pintu depan asrama. Terlihat beberapa orang berkata sesuatu yang membuatnya teringat kejadian tadi sore. Ketika, Hoshitani menghadangnya di depan pintu asrama sembari mengatakan, “Toraishi, selamat ulang tahun!”</p>

<p>“Astaga! Kenapa kalian semua berada di depan pintu?!” gerutu Toraishi, sungguh ia tidak suka dikejutkan untuk kedua kalinya seperti ini. Meskipun mereka semua bermaksud baik dan <em>mungkin</em> ingin merayakan ulang tahunnya. <em>Menurutnya, semua ini terlalu aneh!</em></p>

<p>“Oh, sudah mulai acaranya? Selamat ulang tahun, sepertinya kau bersenang-senang hari ini,” sahut seseorang datang dari asrama kedua.</p>

<p>Akademi Ayanagi memiliki lebih dari satu asrama, mengingat ada banyak siswa yang bersekolah di tempat ini.</p>

<p>“Kau sangat terlambat, bersalah!”</p>

<p>Sepertinya, ini adalah kejutan yang direncanakan. Namun, Toraishi tidak pernah mengetahui kejutan ini bermula dari siapa. Setidaknya, biarkan dia menikmati hari spesialnya dengan bahagia dan kesenangan.</p>

<p>Musim semi kali ini, membawa kebahagiaan bagi mereka semua. Tidak hanya Toraishi Izumi, seluruh orang yang merayakan turut memperoleh kebahagiaan yang dia berikan dengan keberadaannya itu sendiri.</p>

<p><strong>End.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/spring-happiness</guid>
      <pubDate>Sat, 12 Apr 2025 11:20:25 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Insomnia.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/insomnia?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Tsukigami Kaito × Reader.&#xA;  #StarMyu Fanfiction.&#xA;&#xA;Batch 9; Day 1 of #MariMenulis 2022. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Ini jam tiga pagi.&#34;&#xA;&#xA;Tak mampu berkata apa lagi, setelah fakta yang keluar dari lantunan mulut dia. &#34;Mungkinkah kau sekarang tidak bisa tertidur?&#34; Tsukigami Kaito kini menatapnya.&#xA;&#xA;Masih tanpa sepatah kata, ia mengangguki hal tersebut. &#34;Ya ampun? Kau tahu, besok masih ada kegiatan sekolah.&#34;&#xA;&#xA;Membuang wajah, topik itu hal yang paling ingin dijauhinya. Kaito menghela napas panjang karena dia. &#34;[Last Name], bisakah kau tidak melakukan hal itu sekali saja?&#34;&#xA;&#xA;Kalau dipikir kembali, rupanya ia telah melakukan hal seperti ini setiap kali. Entah apa yang menyebabkan dia tidak bisa tertidur hari ini juga.&#xA;&#xA;Tetapi, Kaito juga masih terjaga. Lantaran, ada apa dengan dirinya atau dia juga sama seperti ia?&#xA;&#xA;&#34;Aku baru selesai mengerjakan pekerjaanku, setelah ini barulah aku akan tidur. Aku tahu kau sedang menerka-nerka, apakah aku juga tidak bisa tidur sepertimu.&#34;&#xA;&#xA;Tersentak kaget. [Full Name] sedari tadi tak banyak berbicara, hanya reaksi-reaksi kecil yang diperlihatkan.&#xA;&#xA;Namun, pada akhirnya ia mengutarakan kalimat, &#34;Oh? Maaf, karena telah mengganggu waktu tidurmu. Jadi, selamat malam, Tsukigami-san.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Tsukigami Kaito × Reader.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:StarMyu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">StarMyu</span></a> Fanfiction.</p></blockquote>

<p><em>Batch 9; Day 1 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:MariMenulis" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">MariMenulis</span></a> 2022.</em> </p>

<hr/>

<p>“Ini jam tiga pagi.”</p>

<p>Tak mampu berkata apa lagi, setelah fakta yang keluar dari lantunan mulut dia. “Mungkinkah kau sekarang tidak bisa tertidur?” Tsukigami Kaito kini menatapnya.</p>

<p>Masih tanpa sepatah kata, ia mengangguki hal tersebut. “Ya ampun? Kau tahu, besok masih ada kegiatan sekolah.”</p>

<p>Membuang wajah, topik itu hal yang paling ingin dijauhinya. Kaito menghela napas panjang karena dia. “[Last Name], bisakah kau tidak melakukan hal itu sekali saja?”</p>

<p>Kalau dipikir kembali, rupanya ia telah melakukan hal seperti ini setiap kali. Entah apa yang menyebabkan dia tidak bisa tertidur hari ini juga.</p>

<p>Tetapi, Kaito juga masih terjaga. Lantaran, ada apa dengan dirinya atau dia juga sama seperti ia?</p>

<p>“Aku baru selesai mengerjakan pekerjaanku, setelah ini barulah aku akan tidur. Aku tahu kau sedang menerka-nerka, apakah aku juga tidak bisa tidur sepertimu.”</p>

<p>Tersentak kaget. [Full Name] sedari tadi tak banyak berbicara, hanya reaksi-reaksi kecil yang diperlihatkan.</p>

<p>Namun, pada akhirnya ia mengutarakan kalimat, “Oh? Maaf, karena telah mengganggu waktu tidurmu. Jadi, selamat malam, Tsukigami-<em>san</em>.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/insomnia</guid>
      <pubDate>Sun, 25 Sep 2022 01:39:16 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Kejutan Ulang Tahun.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/kejutan-ulang-tahun?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Toraishi Izumi × Hizamara Fauraza.&#xA;  #FaureYume; #IzuRaza.&#xA;&#xA;   Is it necessary to switch to another?&#xA;        written by @geminiintegra (Ayudia/Akari).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #StarMyu © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   &#34;Huh!&#34; Fauraza berjalan kesal ke arah asrama, entah kenapa yang terjadi tadi membuat dirinya kesal.&#xA;  &#xA;---&#xA;&#xA;   Fauraza berjalan santai di kota dengan senyum bahagia yang merekah diwajahnya. Tentu, besok adalah hari yang sangat spesial untuknya, dan Fauraza beharap akan ada hal spesial yang menantinya.&#xA;   &#xA;   Ditengah keramaian Fauraza melihat seseorang yang sangat familiar baginya. Itu adalah seorang lelaki bersurai hitam dengan warna merah dibeberapa bagian. Ia rupanya berjalan dengan wanita cantik bersurai coklat. Akibat, rasa penasaran Fauraza pun mengikuti mereka berdua.&#xA;&#xA;   Toraishi Izumi merupakan lelaki yang diikuti oleh Fauraza, kini berjalan ke arah toko aksesoris. Fauraza mengintip dari luar, dilihatnya bahwa Izumi sedang memilihkan beberapa aksesoris bersama gadis bersurai coklat itu.&#xA;&#xA;   Sesekali mereka tertawa bersama. Izumi memakaikan kalung pada gadis itu. Kemudian membelai lembut pipinya, Izumi mendekatkan wajahnya pada sang gadis kemudian ....&#xA;&#xA;   &#39;Brak!&#39;&#xA;&#xA;   Fauraza tanpa sengaja menjatuhkan vas bunga yang ada disana hingga pecah dan membuat sang pemilik toko tergesa gesa melihat keluar.&#xA;&#xA;   &#34;Bagaimana ini?! Vas ini mahal!&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Maafkan saya tuan, saya akan menggantinya.&#34; Fauraza membungkukkan badannya, kemudian memberikan sedikit uang kepada sang pemilik. Bersyukur saat itu ia membawa uang lebih, kalau tidak malah lebih sial dirinya.&#xA;&#xA;   &#34;Lain kali kalau jalan hati hati, mata dipakai buat melihat!&#34; Fauraza hanya menanggapinya dengan tersenyum.&#xA;&#xA;   &#39;Mata memang dipakai buat melihat, bukan untuk berjalan.&#39; dalam hati Fauraza merutuki sang penjaga toko, sebisa mungkin menahan kesal. Lagi pula memang kesalahan dia juga.&#xA;&#xA;   Fauraza menoleh sekilas, rupanya Izumi terusik dan ternyata melihat Fauraza. Meski akhirnya tatapan mereka sempat bertemu, langsung saja Fauraza membungkukkan badan sekali lagi pada sang pemilik toko, dan bergegas untuk pergi.&#xA;&#xA;   &#39;Ah, menyebalkan! Kenapa sih, harus ketahuan?&#39;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Fauraza masuk ke kamar dengan kesal. Dia merebahkan dirinya ke kasur dengan kasar kemudian mengeluarkan headphone dan mengerasakan volume-nya. Tidak memperdulikan apa yang akan terjadi nantinya.&#xA;&#xA;   Setidaknya, musik bisa sedikit mengurangi rasa kesalnya untuk saat ini. Akari yang sedang membaca buku di meja belajar miliknya, mengernyit heran saat melihat tingkah Fauraza yang berbeda dari biasanya.&#xA;&#xA;   &#39;Pasti sedang ada masalah.&#39; Dengan cepat Akari menggeleng pelan, menyangkal pikirannya dan ingin bertanya langsung pada Fauraza, namun dia urungkan. Dia mengetahui kalau sepertinya saat ini Fauraza butuh watu untuk menenangkan diri. &#xA;     &#xA;   Akari kembali fokus pada buku yang tadi ia baca. Tanpa sengaja Akari menatap kalender  didepannya, netra akari membulat.&#xA;&#xA;   &#39;Ini kan!&#39; Akari menyunggingkan senyum tipis, seketika dia menoleh pada Fauraza yang masih tidak berkutik. Sepertinya dia tertidur? Baiklah, akan ku lakukan.&#39;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Fauraza terbangun dari tidurnya, dia ketiduran. Namun,headphone-nya sudah tidak ada. Fauraza melihat jam, tak terasa sudah menjelang senja. Netranya melihat ke sekeliling dia mencari-cari keberadaan Akari namun tidak ada. Berpikiran, tidak biasanya Akari keluar dijam seperti ini.&#xA;&#xA;   &#34;Mungkin dia sedang ada urusan ....&#34;&#xA;&#xA;   Fauraza merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, kemudian berjalan ke arah jendela.&#xA;&#xA;   Fauraza menatap matahari yang mulai tenggelam dengan tatapan sendu. Pikirannya kembali melayang ketika ia mengingat kejadian tadi pagi.&#xA;&#xA;   &#39;Apakah dia juga tidak ingat? Ah,  sudahlah! Lagipula, aku juga harus membayar perbuatannya.&#39; Fauraza tersenyum miring. Ia sepertinya terpikirkan suatu ide untuk membalas Izumi nanti.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   &#34;Jadi?&#34; Suara itu berasal dari Tengenji. Kini, mereka semua berkumpul disebuah taman. Akari, Ayane, bersama anggota Tim Hiiragi dan Tim Ootori sedang berunding mengenai kejutan yang akan mereka berikan untuk Fauraza, pada hari ulang tahunnya. Benar saja, besok adalah hari ulang tahun Fauraza. Mereka berencana untuk membuat kejutan yang sangat spesial untuk gadis itu.&#xA;&#xA;   &#34;Aku ingin memberinya kejutan yang spesial, yang membuatnya tidak akan melupakan hari ini,&#34; ucap Akari lembut. Izumi tersenyum pahit.&#xA;&#xA;   &#34;Sebenarnya, aku sudah membeli cincin ini untuknya ..., tapi sepertinya akan sulit untuk menemuinya.&#34; Reaksi Izumi sedikit berbeda dari biasa. Akari mengerti, tingkah aneh Fauraza tadi pasti ada hubungannya dengan Izumi.&#xA;&#xA;   &#34;Kamu habis bertengkar dengan Fauraza-chan? Dia terlihat sangat marah tadi,&#34; tanya Akari, memastikan apakah perkiraannya benar atau salah. Izumi menggaruk lehernya yang tidak gatal. Yang benar saja!&#xA;&#xA;   Izumi menatap semua temannya, yang kini menatapnya sedikit mengintimidasi. Sungguh, Izumi merasa seperti tersangka dalam sebuah kasus. Izumi menghela napasnya pelan.&#xA;&#xA;   &#34;Jadi, sebenarnya tadi pagi ...,&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Izumi kini berada di depan taman, ia sedang menunggu seseorang. &#34;Toraishi-kun!&#34; Seorang gadis bersurai coklat panjang berlari mendekati Izumi dengan melambaikan tangannya.&#xA;&#xA;    &#34;Hai, teman lama!&#34; Izumi tersenyum. Gadis itu, melihat penampilan pria dihadapannya kemudian tersenyum meremehkan.&#xA;&#xA;   &#34;Kau tidak jauh berbeda dari dulu ya, Tora. Apakah kau masih suka bergonta ganti pacar? Tetapi, kau masih takut pada ibumu,&#34; ucap gadis itu sedikit menggodanya, Izumi langsung membuang muka.&#xA;&#xA;   &#34;Terserah! Aku memanggilmu kesini untuk menemaniku berbelanja aksesoris. Kau adalah ahlinya, bukan?&#34; Gadis itu tersenyum.&#xA;&#xA;   &#34;Wah~ untuk pacarmu lagi? Sudah berapa hari?&#34; Izumi menatap tajam gadis didepannya. Dari dulu, gadis ini memang tidak pernah menyaring perkataannya saat berbicara, &#34;Dia bukan wanita sembarangan, asal kau tahu. Kali ini aku ingin serius dengannya.&#xA;&#xA;   Dia tertawa puas. &#34;Toraishi Izumi yang aku kenal, sudah besar ternyata.&#34;&#xA;&#xA;   Saat berbelanja disebuah toko, Izumi dan gadis itu memilih milih perhiasan yang kira kira cocok untuk Fauraza, sesekali mereka bercanda dan tertawa. Izumi memasangkan kalung dileher gadis cantik tersebut, tuk melihat apakah nanti akan cocok, jika dipakai untuk Fauraza nantinya.&#xA;&#xA;   &#34;Ekspresi saat kau memakaikan kalung ini pada kekasihmu nanti, coba belai pipinya dengan lembut,&#34; instruksi dari wanita itu. Izumi menggerakkan tangannya untuk membelai pipi gadis dihadapannya.&#xA;&#xA;   &#34;Seperti ini?&#34; tanya Izumi, gadis itu tersenyum, jujur saja ia segera memperagakan. Hanya saja, secara tiba-tiba mata gadis itu terkena debu, &#34;Ah, mataku kemasukan debu.&#34;&#xA; &#xA;   &#34;Biar kutiup.&#34; Izumi mendekatkan wajahnya pada gadis itu untuk meniup matanya yang kemasukan debu, tetapi kala itu pula ia mendengar suara benda jatuh dari luar dan dia melihatnya. Terlihat Fauraza yang sedang berbicara dengan sang pemilik toko.&#xA;&#xA;   &#39;Apa yang dilakukan Fauraza-chan disini?&#39; Mata Izumi dan Fauraza bertemu. Tapi, gadis itu malah menatapnya dengan tatapan tajam, dan berakhir dia pergi.&#xA;&#xA;   &#39;Astaga, ayolah! Jangan bilang dia mengikutiku dan salah paham dengan kejadian tadi ...,&#xA;&#xA;   &#34;Tora, ada apa?&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Gadis itu tadi ..., argh. Kurasa, aku akan sulit untuk menemuinya.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Shu menjitak kepala Izumi keras hingga Izumi mundur kebelakang beberapa langkah. Tunggu ini sedikit déjà vu.&#xA;&#xA;   &#34;Hoi!&#34; Izumi menatap tajam Shu, selaku orang yang telah membuat dahinya berdenyut.&#xA;&#xA;   &#34;Itu balasan untukmu,&#34; cakap Shu tenang. Kaito hanya geleng-geleng kepala melihatnya. &#34;Aku cukup mengenal Fauraza, aku yakin dia tidak akan tinggal diam dengan apa yang telah dilihatnya. Jadi, mungkin saja dia akan membalas perbuatan mu, Toraishi.&#34;&#xA;&#xA;   Izumi begidik ngeri saat dia mulai membayangkannya.&#xA;&#xA;   &#34;Astaga, bisakah kalian hentikan pertikaian tidak penting kalian?!&#34; tegur Ayane membuat semua orang yang ada disana menoleh padanya.&#xA;&#xA;   &#34;Aku menemukan ide, hadiah yang akan kita berikan pada Fauraza-chan.&#34; Ayane tersenyum, ia menatap Izumi dengan tatapan yang tak dapat diartikan, &#34;Kau akan berperan penting dalam misi kali ini Toraishi-san.&#34; Izumi tidak bisa mencerna apa yang akan dilakukan oleh Ayane saat ini. Berharap saja kalau bukan hal macam-macam.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Fauraza baru saja selesai mandi, hari sudah hampir malam. Cuma di kamarnya masih terasa cukup sepi. Dia merebahkan dirinya di atas kasur dengan bermain ponsel miliknya. Disana tertera tanggal yang menunjukkan bahwa besok ia berulang tahun.&#xA;&#xA;   &#39;Agak sedih sebenarnya.&#39; Fauraza mengecek aplikasi chat miliknya, melihat ucapan selamat ulang tahun dari teman temannya tahun lalu.&#xA;&#xA;   &#34;Selamat ulang tahun, Fauraza! Semoga kamu menemukan masa depan yang indah untukmu.&#34; Salah satu chat dari teman masa lalu Fauraza membuatnya sedikit tersenyum.&#xA;&#xA;   &#34;Selamat ulang tahun ya, Fauraza-chan, aku mendoakan yang terbaik untukmu.&#34; Ucapan teman-temannya waktu itu, juga terus terngiang di telinga Fauraza.&#xA;&#xA;   &#34;Tahun depan, aku akan memberikan hadiah yang sangat spesial Fauraza-chan, pasti!&#34; Ucapan Izumi waktu itu juga terngiang ngiang dikepalanya, Fauraza tersenyum. &#34;Dasar, menyebalkan.&#34;&#xA;&#xA;   Fauraza mendengar suara ketukan pintu, ia menoleh dan mendapati Akari yang masuk ke kamar diikuti Ayane di belakangnya.&#xA;        &#xA;   &#34;Fauraza-chan, konbawa~&#34; sapa Akari ramah, diikuti Ayane tersenyum pada Fauraza. &#34;Kalian dari mana?&#34; tanya Fauraza, sejujurnya ia penasaran, mengapa kedua temannya ini bisa pulang sampai larut malam.&#xA;&#xA;   &#34;Kami dari kafe, maaf karena tidak mengajakmu tadi. Melihat kamu tertidur, aku jadi tidak tega untuk membangunkan,&#34; ucap Akari dengan ekspresi bersalah, Fauraza mengambil napas panjang, kemudian mengulas senyum.&#xA;&#xA;   &#34;Tidak masalah, santai saja!&#34; Ayane mendekati Fauraza dengan air muka khawatir, itu membuat Fauraza sedikit bingung.&#xA;  &#xA;   &#34;Fauraza-chan, ada yang ingin kuberitahukan kepadamu,&#34; ucap Ayane, tetapi Akari segera memegang lengan Ayane, dan merubah raut wajahnya menjadi khawatir. &#34;Kau tidak akan memberitahu Fauraza-chan tentang hal ini kan, Ayane-chan?&#34;&#xA;&#xA;   Melihat interaksi mereka yang demikian, semakin membuat dia bingung. &#34;Sudah kewajiban kita untuk memberitahunya, Akari-chan. Aku tidak akan membiarkan hati Fauraza-chan dipermainkan!&#34; ucap Ayane tegas. Dipermainkan, apa maksudnya?&#xA;&#xA;   &#34;Hei. Apa maksud kalian? Aku tidak mengerti.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Toraishi ..., dia ....&#34; Ayane menggantung ucapannya, hal ini membuat Fauraza gemas karena penasaran.&#xA;&#xA;   &#34;Ada apa Ayane? Izumi kenapa?&#34; Ayane menghembuskan nafasnya pelan, &#34;Toraishi ..., dia akan bertunangan.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Oh?&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   &#34;Aku pulang dulu ya, Akari, Fauraza.&#34; Ayane berpamitan pada Akari dan Fauraza. Akari mengangguk sambil tersenyum.&#xA;&#xA;   &#34;Kamu harus kuat! Kami, disini ada buat dukung kamu,&#34; ucap Ayane menyemangati Fauraza, Fauraza tersenyum tipis dan mengangguk.&#xA;&#xA;   &#34;Giliranmu.&#34; Akari mengangguk paham. Ayane membalikkan badan kemudian melambaikan tangannya.&#xA;  &#xA;   Fauraza menatap punggung Ayane, hatinya sedikit hancur. Sebetulnya, ia sedikit senang juga. Hanya saja, bukan hal ini yang dia inginkan saat hari ulang tahunnya. Akari menggenggam tangan Fauraza kemudian membawanya masuk kedalam. &#xA;       &#xA;   &#34;Fauraza-chan,&#34; Akari memanggil Fauraza pelan. Fauraza hanya menundukkan kepalanya ia bahkan tidak menatap Akari. Sungguh melihat sahabatnya seperti itu meski Akari tidak tega, namun ini adalah rencana mereka semua maka dari itu, ia perlu harus bisa melawan perasaannya sendiri. &#xA;&#xA;   &#34;Tidak apa-apa, mungkin semua ini adalah jalan yang dipilihkan Tuhan untukmu,&#34; ucap Akari lembut, Fauraza tetap menunduk. Akari memeluk Fauraza, gadis itu menangis dalam diam.&#xA;&#xA;   Seolah, baru sekarang ini Akari bisa tahu Fauraza adalah seseorang yang bisa rapuh kapanpun, bagaimanapun dia tetaplah seorang wanita, sungguh Akari merasa sudah keterlaluan memainkan perasaan Fauraza.&#xA;&#xA;   &#34;Menangislah, tidak perlu ditahan, keluarkan semua yang mengganjal dihatimu.&#34; Akari mengusap lembut punggung Fauraza.&#xA;&#xA;   &#34;Akari,&#34; Fauraza memang sedih. Tapi, ia bingung sekali, untuk sekarang harus menangis seperti apa. Menangis terharu atau menangis kecewa? &#34;Kami semua ada disini bersamamu Fauraza-chan, kamu tidak sendiri.&#34;&#xA;&#xA;   &#39;Maafkan aku, Fauraza-chan.&#39;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Izumi berdiri didepan cermin, ia melihat penampilannya sendiri yang memakai jas berwarna hitam dan rapi dengan rambut yang ditata. Sehingga, ia jauh berbeda dari penampilannya sebelumnya. Wanita dibelakangnya cukup puas ketika melihatnya, &#34;Sangat memuaskan!&#34;&#xA;&#xA;   Gadis itu mengacungkan kedua jari jempol, Izumi hanya memalingkan wajah. Ia tidak yakin dengan rencana ini, dan takut melukai perasaan Fauraza. Bagaimana kalau rencananya malah gagal, dan Fauraza membencinya? Ah, ini cukup membuatnya pusing saja.&#xA;&#xA;   &#34;Hei tenanglah, percayakan saja pada teman temanmu.&#34; Izumi menghembuskan nafasnya pelan.&#xA;&#xA;   &#34;Ya, hanya itu yang bisa kulakukan, terima kasih Mio-chan.&#34; Gadis yang dipanggil Mio itu tersenyum dan mengangguk. &#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Fauraza duduk diranjang ditemani Akari disampingnya. &#34;Um, Akari. Apakah diriku, akan baik-baik saja dengan ini?&#34; Dia menganggukinya, seraya mengingat kejadian tadi malam.&#xA;      &#xA;   &#34;Huh, apa? Kau yakin tidak berbohong kepadaku.&#34; Sejujurnya ia tidak percaya, tetapi ketika ia diberikan bukti undangan oleh Ayane, sedetik kemudian dia terdiam. Meneliti jelas, kalau tidak ada nama Izumi disana.&#xA;&#xA;   Rupanya, acara tersebut malah tepat pada hari ulang tahunnya. Kejadian yang tidak sedikit memberikannya restu, malah memberikan banyak ujian. &#34;Izumi mengharapkanmu datang,&#34; ucap Ayane.&#xA;&#xA;   &#34;Tetapi, terserah padamu juga, apakah dirimu ingin datang atau tidak.&#34; Menahan dan menahan, ia menggumamkan sesuatu, &#34;Bakazumi, kenapa dia tidak memberitahuku apapun ...?&#34; Rupanya didengar oleh Akari.&#xA;&#xA;---&#xA; &#xA;   &#34;Semua sudah siap?&#34; tanya Yuta. Hari ini adalah hari pertunangan Izumi, rencananya memang bohongan. Sekaligus merupakan ulang tahun Fauraza. Waktu saat ini, sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan acara akan di mulai pukul delapan nanti.&#xA;&#xA;   &#34;Kau cukup tampan untuk ukuran orang biasa,&#34; ucap Tengenji, Izumi tidak menjawab. &#xA;&#xA;   &#34;Lihatlah, banyak sekali wanita yang melihatmu. Apakah sebaiknya kau menikah dengan salah satu dari mereka saja?&#34; ucap Shu, membuat Izumi menatap dia tajam.&#xA;    &#xA;   &#34;Halo kalian!&#34; Ayane tiba tiba datang.&#xA;&#xA;   &#34;Apa Akari dan Fauraza sudah datang?&#34; tanya Ayane, semua menggeleng. &#34;Aku bahkan tidak yakin Fauraza-chan ingin datang,&#34; ucap Izumi pelan.&#xA;&#xA;   &#34;Tenanglah, aku percaya pada Akari-chan.&#34;  &#xA;&#xA;   &#34;Kau siap Fauraza-chan?&#34; ucap Akari lembut. Segera, Akari dan Fauraza masuk kedalam mobil.&#xA;&#xA;   &#34;Kamu yakin dengan keputusan ini, Fauraza-chan?&#34; tanya Akari, Fauraza mengangguk.&#xA;&#xA;   &#34;Tentu saja, untuk apa aku terpuruk selamanya?&#34; Akari tersenyum dan mengangguk. &#xA;&#xA;   Saat itu, ponsel Akari berbunyi, ia mendapati nama Tatsumi Rui di sana. Akari segera mengangkatnya &#34;Ya, Rui-kun?&#34; Akari memulai, suara Rui terdengar dari sana, Akari tersenyum kemudian mengangguk. &#34;Aku akan segera sampai, um, ya, akan kuusahakan.&#34; Fauraza memandang Akari, &#34;Ada apa?&#34; Akari hanya tersenyum, &#34;Tidak apa-apa.&#34;&#xA;&#xA;   Mereka kini telah sampai di sebuah gedung, gedung itu cukup megah. Banyak sekali orang yang berdatangan dan mereka semua berpakaian sangat elegan. Kaki Fauraza sangat sulit digerakkan seakan menolak untuk masuk, Akari yang mengetahui raut khawatir Fauraza menggandeng tangannya, dan membawa Fauraza masuk kedalam.&#xA;&#xA;   Terdapat banyak orang disambut oleh Rui dan Shu, Akari mendekati Rui dan tersenyum manis dihadapannya begitupula Rui. Ah, sedikit melupakan fakta, kalau keduanya adalah sepasang kekasih. Fauraza hanya tersenyum pada yang lain. &#34;Tidak perlu dipikirkan,&#34; ucap Shu disana.&#xA;&#xA;   Fauraza melihat seorang gadis yang terlihat cukup cantik. Astaga, apakah sekarang ia merasa iri dengannya? Fauraza menggelengkan kepalanya. Tentu saja, Izumi lebih memilih gadis tersebut daripada dirinya, dia jauh lebih cantik daripada Fauraza. Fauraza juga melihat Izumi disana.&#xA;&#xA;   &#34;Hai Izumi,&#34; sapa Fauraza, Izumi menoleh, dia semula terkejut namun kembali seperti biasa. &#34;Hai Fauraza-chan,&#34; sapa Izumi balik. Fauraza tidak begitu heran, namun suasana canggung ini cukup memusingkan dirinya.&#xA;&#xA;   &#34;Selamat ya, tidak kusangka kau telah bertunangan. Lalu, kenapa tidak memberitahuku? Aku kan bisa ikut merayakan atau mungkin memberikan hadiah.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ah, maaf. Sebenarnya aku ingin mengatakan diwaktu yang tepat, tetapi ....&#34;  Izumi menggaruk lehernya yang tidak gatal. Fauraza tidak tahan. Ia mengambil langkah untuk keluar dari gedung itu.&#xA;&#xA;   &#34;Dia akan baik-baik saja?&#34; tanya Izumi pada Shu. &#34;Jika, dia tidak baik-baik saja, kau yang akan kuhajar.&#34; Shu menyahut.&#xA;&#xA;   &#34;Ehh ...,&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Fauraza termenung di area taman. Mungkin, sekarang acara pertunangannya sudah dimulai. Hari ulang tahun paling buruk yang pernah dialami Fauraza. Tiada orang yang mengucapkan tentang ulang tahunnya. Uh, apakah ia terlalu berharap sekarang?&#xA;&#xA;   &#34;Fauraza-chan!&#34; Suara yang tidak asing. Izumi? Fauraza menoleh mendapati laki laki itu dengan teman yang lain, bersama seorang wanita cantik dan laki-laki disampingnya yang tidak dikenali Fauraza.&#xA;&#xA;   &#34;Kenapa kalian kesini menyusulku? Bukankah acara pertunangannya akan dimulai? Aku hanya mencari udara malam disini.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Pertunangannya sudah selesai.&#34;&#xA;&#xA;   Sekarang Fauraza berdiri dari tempatnya dan tersenyum, &#34;Wah, selamat ya!&#34; ucap Fauraza. Wanita itu malah mendekati Fauraza, &#34;Pertunanganku dengan pria itu sudah selesai.&#34; Wanita itu menunjuk laki laki disampingnya, mirip seperti Rui.&#xA;&#xA;   &#34;Perkenalkan, namaku Masahiko Mio, dan di tunanganku Hans Fansisco.&#34; Fauraza tidak langsung mengerti, kalau sepertinya ia telah bersedih atas kebohongan teman-temannya. Bahkan, reaksi Izumi secara mendadak memeluknya.&#xA;&#xA;   &#34;Selamat ulang tahun, Fauraza.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ugh, teganya kalian! Air mataku sia-sia saja, akhirnya,&#34; ucap Fauraza sarkas.&#xA;&#xA;   &#34;Maaf,&#34; Izumi memakaikan sebuah cincin yang telah dibelinya bersama Mio kemarin, dijari manis Fauraza, dan gadis itu tersenyum. Ketika lengah, ia menginjak kaki Izumi dengan sangat keras hingga membuat sang empunya kaki mengaduh kesakitan.&#xA;&#xA;   &#34;Oh, itu balasan dariku karna perbuatanmu, kau masih harus membayar yang lainnya.&#34; Fauraza berkata.&#xA;&#xA;   &#34;Namun, terima kasih juga, sebab kalian masih ingat hari ulang tahunku,&#34; Fauraza tersenyum tulus.&#xA;&#xA;   Ia menatap teman temannya yang lain dengan senyuman licik dan tatapan tajam, &#34;Tunggu pembalasan dariku kalian semua,&#34; Fauraza mengatakan. Apapun itu, sepertinya Fauraza sedang memikirkan balasan yang setimpal untuk perbuatan mereka.&#xA;&#xA;   &#39;Ya, sudah aku duga. Hari ulang tahun yang cukup berkesan.&#39; Fauraza terkadang memikirkan, kalau bisa saja dikemudian hari. Kalau dia dengan Izumi bisa saja tidak memiliki hubungan yang pasti.&#xA;&#xA;   End.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;  Note!&#xA;  Writing by Ayudia/Akari.&#xA;  @geminiintegra on Wattpad.&#xA;&#xA;  Kaneko Ayane belongs to Jiro.&#xA;  Hayashi Akari, Masahiko Mio, Hans Fansisco belongs to Ayudia/Akari.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Toraishi Izumi × Hizamara Fauraza.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:IzuRaza" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">IzuRaza</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>Is it necessary to switch to another?</em>
        <em>written by <a href="https://www.wattpad.com/user/gemini_integra" rel="nofollow">@gemini_integra</a> (Ayudia/Akari).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:StarMyu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">StarMyu</span></a> © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   “Huh!” Fauraza berjalan kesal ke arah asrama, entah kenapa yang terjadi tadi membuat dirinya kesal.</p>

<hr/>

<p>   <em>Fauraza berjalan santai di kota dengan senyum bahagia yang merekah diwajahnya. Tentu, besok adalah hari yang sangat spesial untuknya, dan Fauraza beharap akan ada hal spesial yang menantinya.</em></p>

<p>   <em>Ditengah keramaian Fauraza melihat seseorang yang sangat familiar baginya. Itu adalah seorang lelaki bersurai hitam dengan warna merah dibeberapa bagian. Ia rupanya berjalan dengan wanita cantik bersurai coklat. Akibat, rasa penasaran Fauraza pun mengikuti mereka berdua.</em></p>

<p>   <em>Toraishi Izumi merupakan lelaki yang diikuti oleh Fauraza, kini berjalan ke arah toko aksesoris. Fauraza mengintip dari luar, dilihatnya bahwa Izumi sedang memilihkan beberapa aksesoris bersama gadis bersurai coklat itu.</em></p>

<p>   <em>Sesekali mereka tertawa bersama. Izumi memakaikan kalung pada gadis itu. Kemudian membelai lembut pipinya, Izumi mendekatkan wajahnya pada sang gadis kemudian ....</em></p>

<p>   <em>&#39;Brak!&#39;</em></p>

<p>   <em>Fauraza tanpa sengaja menjatuhkan vas bunga yang ada disana hingga pecah dan membuat sang pemilik toko tergesa gesa melihat keluar.</em></p>

<p>   <em>“Bagaimana ini?! Vas ini mahal!”</em></p>

<p>   <em>“Maafkan saya tuan, saya akan menggantinya.” Fauraza membungkukkan badannya, kemudian memberikan sedikit uang kepada sang pemilik. Bersyukur saat itu ia membawa uang lebih, kalau tidak malah lebih sial dirinya.</em></p>

<p>   <em>“Lain kali kalau jalan hati hati, mata dipakai buat melihat!” Fauraza hanya menanggapinya dengan tersenyum.</em></p>

<p>   <em>&#39;Mata memang dipakai buat melihat, bukan untuk berjalan.&#39; dalam hati Fauraza merutuki sang penjaga toko, sebisa mungkin menahan kesal. Lagi pula memang kesalahan dia juga.</em></p>

<p>   <em>Fauraza menoleh sekilas, rupanya Izumi terusik dan ternyata melihat Fauraza. Meski akhirnya tatapan mereka sempat bertemu, langsung saja Fauraza membungkukkan badan sekali lagi pada sang pemilik toko, dan bergegas untuk pergi.</em></p>

<p>   <em>&#39;Ah, menyebalkan! Kenapa sih, harus ketahuan?&#39;</em></p>

<hr/>

<p>   Fauraza masuk ke kamar dengan kesal. Dia merebahkan dirinya ke kasur dengan kasar kemudian mengeluarkan headphone dan mengerasakan <em>volume</em>-nya. Tidak memperdulikan apa yang akan terjadi nantinya.</p>

<p>   Setidaknya, musik bisa sedikit mengurangi rasa kesalnya untuk saat ini. Akari yang sedang membaca buku di meja belajar miliknya, mengernyit heran saat melihat tingkah Fauraza yang berbeda dari biasanya.</p>

<p>   <em>&#39;Pasti sedang ada masalah.&#39;</em> Dengan cepat Akari menggeleng pelan, menyangkal pikirannya dan ingin bertanya langsung pada Fauraza, namun dia urungkan. Dia mengetahui kalau sepertinya saat ini Fauraza butuh watu untuk menenangkan diri.</p>

<p>   Akari kembali fokus pada buku yang tadi ia baca. Tanpa sengaja Akari menatap kalender  didepannya, netra akari membulat.</p>

<p>   <em>&#39;Ini kan!&#39;</em> Akari menyunggingkan senyum tipis, seketika dia menoleh pada Fauraza yang masih tidak berkutik. <em>Sepertinya dia tertidur? Baiklah, akan ku lakukan.&#39;</em></p>

<hr/>

<p>   Fauraza terbangun dari tidurnya, dia ketiduran. Namun,<em>headphone</em>-nya sudah tidak ada. Fauraza melihat jam, tak terasa sudah menjelang senja. Netranya melihat ke sekeliling dia mencari-cari keberadaan Akari namun tidak ada. Berpikiran, tidak biasanya Akari keluar dijam seperti ini.</p>

<p>   “Mungkin dia sedang ada urusan ....”</p>

<p>   Fauraza merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, kemudian berjalan ke arah jendela.</p>

<p>   Fauraza menatap matahari yang mulai tenggelam dengan tatapan sendu. Pikirannya kembali melayang ketika ia mengingat kejadian tadi pagi.</p>

<p>   <em>&#39;Apakah dia juga tidak ingat? Ah,  sudahlah! Lagipula, aku juga harus membayar perbuatannya.&#39;</em> Fauraza tersenyum miring. Ia sepertinya terpikirkan suatu ide untuk membalas Izumi nanti.</p>

<hr/>

<p>   “Jadi?” Suara itu berasal dari Tengenji. Kini, mereka semua berkumpul disebuah taman. Akari, Ayane, bersama anggota Tim Hiiragi dan Tim Ootori sedang berunding mengenai kejutan yang akan mereka berikan untuk Fauraza, pada hari ulang tahunnya. Benar saja, besok adalah hari ulang tahun Fauraza. Mereka berencana untuk membuat kejutan yang sangat spesial untuk gadis itu.</p>

<p>   “Aku ingin memberinya kejutan yang spesial, yang membuatnya tidak akan melupakan hari ini,” ucap Akari lembut. Izumi tersenyum pahit.</p>

<p>   “Sebenarnya, aku sudah membeli cincin ini untuknya ..., tapi sepertinya akan sulit untuk menemuinya.” Reaksi Izumi sedikit berbeda dari biasa. Akari mengerti, tingkah aneh Fauraza tadi pasti ada hubungannya dengan Izumi.</p>

<p>   “Kamu habis bertengkar dengan Fauraza-<em>chan</em>? Dia terlihat sangat marah tadi,” tanya Akari, memastikan apakah perkiraannya benar atau salah. Izumi menggaruk lehernya yang tidak gatal. Yang benar saja!</p>

<p>   Izumi menatap semua temannya, yang kini menatapnya sedikit mengintimidasi. Sungguh, Izumi merasa seperti tersangka dalam sebuah kasus. Izumi menghela napasnya pelan.</p>

<p>   “Jadi, sebenarnya tadi pagi ...,”</p>

<hr/>

<p>   <em>Izumi kini berada di depan taman, ia sedang menunggu seseorang. “Toraishi-kun!” Seorang gadis bersurai coklat panjang berlari mendekati Izumi dengan melambaikan tangannya.</em></p>

<p>    <em>“Hai, teman lama!” Izumi tersenyum. Gadis itu, melihat penampilan pria dihadapannya kemudian tersenyum meremehkan.</em></p>

<p>   <em>“Kau tidak jauh berbeda dari dulu ya, Tora. Apakah kau masih suka bergonta ganti pacar? Tetapi, kau masih takut pada ibumu,” ucap gadis itu sedikit menggodanya, Izumi langsung membuang muka.</em></p>

<p>   <em>“Terserah! Aku memanggilmu kesini untuk menemaniku berbelanja aksesoris. Kau adalah ahlinya, bukan?” Gadis itu tersenyum.</em></p>

<p>   <em>“Wah~ untuk pacarmu lagi? Sudah berapa hari?” Izumi menatap tajam gadis didepannya. Dari dulu, gadis ini memang tidak pernah menyaring perkataannya saat berbicara, “Dia bukan wanita sembarangan, asal kau tahu. Kali ini aku ingin serius dengannya.</em></p>

<p>   <em>Dia tertawa puas. “Toraishi Izumi yang aku kenal, sudah besar ternyata.”</em></p>

<p>   <em>Saat berbelanja disebuah toko, Izumi dan gadis itu memilih milih perhiasan yang kira kira cocok untuk Fauraza, sesekali mereka bercanda dan tertawa. Izumi memasangkan kalung dileher gadis cantik tersebut, tuk melihat apakah nanti akan cocok, jika dipakai untuk Fauraza nantinya.</em></p>

<p>   <em>“Ekspresi saat kau memakaikan kalung ini pada kekasihmu nanti, coba belai pipinya dengan lembut,” instruksi dari wanita itu. Izumi menggerakkan tangannya untuk membelai pipi gadis dihadapannya.</em></p>

<p>   “Seperti ini?” tanya Izumi, gadis itu tersenyum, jujur saja ia segera memperagakan. Hanya saja, secara tiba-tiba mata gadis itu terkena debu, “Ah, mataku kemasukan debu.”</p>

<p>   “Biar kutiup.” Izumi mendekatkan wajahnya pada gadis itu untuk meniup matanya yang kemasukan debu, tetapi kala itu pula ia mendengar suara benda jatuh dari luar dan dia melihatnya. Terlihat Fauraza yang sedang berbicara dengan sang pemilik toko.</p>

<p>   <em>&#39;Apa yang dilakukan Fauraza-chan disini?&#39; Mata Izumi dan Fauraza bertemu. Tapi, gadis itu malah menatapnya dengan tatapan tajam, dan berakhir dia pergi.</em></p>

<p>   <em>&#39;Astaga, ayolah! Jangan bilang dia mengikutiku dan salah paham dengan kejadian tadi ...,</em></p>

<p>   <em>“Tora, ada apa?”</em></p>

<p>   <em>“Gadis itu tadi ..., argh. Kurasa, aku akan sulit untuk menemuinya.”</em></p>

<hr/>

<p>   Shu menjitak kepala Izumi keras hingga Izumi mundur kebelakang beberapa langkah. Tunggu ini sedikit <em>déjà vu.</em></p>

<p>   “Hoi!” Izumi menatap tajam Shu, selaku orang yang telah membuat dahinya berdenyut.</p>

<p>   “Itu balasan untukmu,” cakap Shu tenang. Kaito hanya geleng-geleng kepala melihatnya. “Aku cukup mengenal Fauraza, aku yakin dia tidak akan tinggal diam dengan apa yang telah dilihatnya. Jadi, mungkin saja dia akan membalas perbuatan mu, Toraishi.”</p>

<p>   Izumi begidik ngeri saat dia mulai membayangkannya.</p>

<p>   “Astaga, bisakah kalian hentikan pertikaian tidak penting kalian?!” tegur Ayane membuat semua orang yang ada disana menoleh padanya.</p>

<p>   “Aku menemukan ide, hadiah yang akan kita berikan pada Fauraza-chan.” Ayane tersenyum, ia menatap Izumi dengan tatapan yang tak dapat diartikan, “Kau akan berperan penting dalam misi kali ini Toraishi-<em>san</em>.” Izumi tidak bisa mencerna apa yang akan dilakukan oleh Ayane saat ini. Berharap saja kalau bukan hal macam-macam.</p>

<hr/>

<p>   Fauraza baru saja selesai mandi, hari sudah hampir malam. Cuma di kamarnya masih terasa cukup sepi. Dia merebahkan dirinya di atas kasur dengan bermain ponsel miliknya. Disana tertera tanggal yang menunjukkan bahwa besok ia berulang tahun.</p>

<p>   <em>&#39;Agak sedih sebenarnya.&#39;</em> Fauraza mengecek aplikasi <em>chat</em> miliknya, melihat ucapan selamat ulang tahun dari teman temannya tahun lalu.</p>

<p>   “Selamat ulang tahun, Fauraza! Semoga kamu menemukan masa depan yang indah untukmu.” Salah satu chat dari teman masa lalu Fauraza membuatnya sedikit tersenyum.</p>

<p>   “Selamat ulang tahun ya, Fauraza-<em>chan</em>, aku mendoakan yang terbaik untukmu.” Ucapan teman-temannya waktu itu, juga terus terngiang di telinga Fauraza.</p>

<p>   “Tahun depan, aku akan memberikan hadiah yang sangat spesial Fauraza-<em>chan</em>, pasti!” Ucapan Izumi waktu itu juga terngiang ngiang dikepalanya, Fauraza tersenyum. “Dasar, menyebalkan.”</p>

<p>   Fauraza mendengar suara ketukan pintu, ia menoleh dan mendapati Akari yang masuk ke kamar diikuti Ayane di belakangnya.</p>

<p>   “Fauraza-<em>chan, konbawa~</em>” sapa Akari ramah, diikuti Ayane tersenyum pada Fauraza. “Kalian dari mana?” tanya Fauraza, sejujurnya ia penasaran, mengapa kedua temannya ini bisa pulang sampai larut malam.</p>

<p>   “Kami dari kafe, maaf karena tidak mengajakmu tadi. Melihat kamu tertidur, aku jadi tidak tega untuk membangunkan,” ucap Akari dengan ekspresi bersalah, Fauraza mengambil napas panjang, kemudian mengulas senyum.</p>

<p>   “Tidak masalah, santai saja!” Ayane mendekati Fauraza dengan air muka khawatir, itu membuat Fauraza sedikit bingung.</p>

<p>   “Fauraza-<em>chan</em>, ada yang ingin kuberitahukan kepadamu,” ucap Ayane, tetapi Akari segera memegang lengan Ayane, dan merubah raut wajahnya menjadi khawatir. “Kau tidak akan memberitahu Fauraza-<em>chan</em> tentang hal ini kan, Ayane-<em>chan</em>?”</p>

<p>   Melihat interaksi mereka yang demikian, semakin membuat dia bingung. “Sudah kewajiban kita untuk memberitahunya, Akari-<em>chan</em>. Aku tidak akan membiarkan hati Fauraza-<em>chan</em> dipermainkan!” ucap Ayane tegas. Dipermainkan, apa maksudnya?</p>

<p>   “Hei. Apa maksud kalian? Aku tidak mengerti.”</p>

<p>   “Toraishi ..., dia ....” Ayane menggantung ucapannya, hal ini membuat Fauraza gemas karena penasaran.</p>

<p>   “Ada apa Ayane? Izumi kenapa?” Ayane menghembuskan nafasnya pelan, “Toraishi ..., dia akan bertunangan.”</p>

<p>   “Oh?”</p>

<hr/>

<p>   “Aku pulang dulu ya, Akari, Fauraza.” Ayane berpamitan pada Akari dan Fauraza. Akari mengangguk sambil tersenyum.</p>

<p>   “Kamu harus kuat! Kami, disini ada buat dukung kamu,” ucap Ayane menyemangati Fauraza, Fauraza tersenyum tipis dan mengangguk.</p>

<p>   “Giliranmu.” Akari mengangguk paham. Ayane membalikkan badan kemudian melambaikan tangannya.</p>

<p>   Fauraza menatap punggung Ayane, hatinya sedikit hancur. Sebetulnya, ia sedikit senang juga. Hanya saja, bukan hal ini yang dia inginkan saat hari ulang tahunnya. Akari menggenggam tangan Fauraza kemudian membawanya masuk kedalam.</p>

<p>   “Fauraza-<em>chan</em>,” Akari memanggil Fauraza pelan. Fauraza hanya menundukkan kepalanya ia bahkan tidak menatap Akari. Sungguh melihat sahabatnya seperti itu meski Akari tidak tega, namun ini adalah rencana mereka semua maka dari itu, ia perlu harus bisa melawan perasaannya sendiri.</p>

<p>   “Tidak apa-apa, mungkin semua ini adalah jalan yang dipilihkan Tuhan untukmu,” ucap Akari lembut, Fauraza tetap menunduk. Akari memeluk Fauraza, gadis itu menangis dalam diam.</p>

<p>   Seolah, baru sekarang ini Akari bisa tahu Fauraza adalah seseorang yang bisa rapuh kapanpun, bagaimanapun dia tetaplah seorang wanita, sungguh Akari merasa sudah keterlaluan memainkan perasaan Fauraza.</p>

<p>   “Menangislah, tidak perlu ditahan, keluarkan semua yang mengganjal dihatimu.” Akari mengusap lembut punggung Fauraza.</p>

<p>   “Akari,” Fauraza memang sedih. Tapi, ia bingung sekali, untuk sekarang harus menangis seperti apa. Menangis terharu atau menangis kecewa? “Kami semua ada disini bersamamu Fauraza-chan, kamu tidak sendiri.”</p>

<p>   <em>&#39;Maafkan aku, Fauraza-chan.&#39;</em></p>

<hr/>

<p>   Izumi berdiri didepan cermin, ia melihat penampilannya sendiri yang memakai jas berwarna hitam dan rapi dengan rambut yang ditata. Sehingga, ia jauh berbeda dari penampilannya sebelumnya. Wanita dibelakangnya cukup puas ketika melihatnya, “Sangat memuaskan!”</p>

<p>   Gadis itu mengacungkan kedua jari jempol, Izumi hanya memalingkan wajah. Ia tidak yakin dengan rencana ini, dan takut melukai perasaan Fauraza. Bagaimana kalau rencananya malah gagal, dan Fauraza membencinya? Ah, ini cukup membuatnya pusing saja.</p>

<p>   “Hei tenanglah, percayakan saja pada teman temanmu.” Izumi menghembuskan nafasnya pelan.</p>

<p>   “Ya, hanya itu yang bisa kulakukan, terima kasih Mio-<em>chan</em>.” Gadis yang dipanggil Mio itu tersenyum dan mengangguk.</p>

<hr/>

<p>   Fauraza duduk diranjang ditemani Akari disampingnya. “Um, Akari. Apakah diriku, akan baik-baik saja dengan ini?” Dia menganggukinya, seraya mengingat kejadian tadi malam.</p>

<p>   <em>“Huh, apa? Kau yakin tidak berbohong kepadaku.” Sejujurnya ia tidak percaya, tetapi ketika ia diberikan bukti undangan oleh Ayane, sedetik kemudian dia terdiam. Meneliti jelas, kalau tidak ada nama Izumi disana.</em></p>

<p>   <em>Rupanya, acara tersebut malah tepat pada hari ulang tahunnya. Kejadian yang tidak sedikit memberikannya restu, malah memberikan banyak ujian. “Izumi mengharapkanmu datang,” ucap Ayane.</em></p>

<p>   <em>“Tetapi, terserah padamu juga, apakah dirimu ingin datang atau tidak.” Menahan dan menahan, ia menggumamkan sesuatu, “</em>Bakazumi,* kenapa dia tidak memberitahuku apapun ...?” Rupanya didengar oleh Akari.*</p>

<hr/>

<p>   “Semua sudah siap?” tanya Yuta. Hari ini adalah hari pertunangan Izumi, rencananya memang bohongan. Sekaligus merupakan ulang tahun Fauraza. Waktu saat ini, sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan acara akan di mulai pukul delapan nanti.</p>

<p>   “Kau cukup tampan untuk ukuran orang biasa,” ucap Tengenji, Izumi tidak menjawab.</p>

<p>   “Lihatlah, banyak sekali wanita yang melihatmu. Apakah sebaiknya kau menikah dengan salah satu dari mereka saja?” ucap Shu, membuat Izumi menatap dia tajam.</p>

<p>   “Halo kalian!” Ayane tiba tiba datang.</p>

<p>   “Apa Akari dan Fauraza sudah datang?” tanya Ayane, semua menggeleng. “Aku bahkan tidak yakin Fauraza-<em>chan</em> ingin datang,” ucap Izumi pelan.</p>

<p>   “Tenanglah, aku percaya pada Akari-<em>chan</em>.”</p>

<p>   “Kau siap Fauraza-<em>chan</em>?” ucap Akari lembut. Segera, Akari dan Fauraza masuk kedalam mobil.</p>

<p>   “Kamu yakin dengan keputusan ini, Fauraza-<em>chan</em>?” tanya Akari, Fauraza mengangguk.</p>

<p>   “Tentu saja, untuk apa aku terpuruk selamanya?” Akari tersenyum dan mengangguk.</p>

<p>   Saat itu, ponsel Akari berbunyi, ia mendapati nama Tatsumi Rui di sana. Akari segera mengangkatnya “Ya, Rui-<em>kun</em>?” Akari memulai, suara Rui terdengar dari sana, Akari tersenyum kemudian mengangguk. “Aku akan segera sampai, um, ya, akan kuusahakan.” Fauraza memandang Akari, “Ada apa?” Akari hanya tersenyum, “Tidak apa-apa.”</p>

<p>   Mereka kini telah sampai di sebuah gedung, gedung itu cukup megah. Banyak sekali orang yang berdatangan dan mereka semua berpakaian sangat elegan. Kaki Fauraza sangat sulit digerakkan seakan menolak untuk masuk, Akari yang mengetahui raut khawatir Fauraza menggandeng tangannya, dan membawa Fauraza masuk kedalam.</p>

<p>   Terdapat banyak orang disambut oleh Rui dan Shu, Akari mendekati Rui dan tersenyum manis dihadapannya begitupula Rui. Ah, sedikit melupakan fakta, kalau keduanya adalah sepasang kekasih. Fauraza hanya tersenyum pada yang lain. “Tidak perlu dipikirkan,” ucap Shu disana.</p>

<p>   Fauraza melihat seorang gadis yang terlihat cukup cantik. Astaga, apakah sekarang ia merasa iri dengannya? Fauraza menggelengkan kepalanya. Tentu saja, Izumi lebih memilih gadis tersebut daripada dirinya, dia jauh lebih cantik daripada Fauraza. Fauraza juga melihat Izumi disana.</p>

<p>   “Hai Izumi,” sapa Fauraza, Izumi menoleh, dia semula terkejut namun kembali seperti biasa. “Hai Fauraza-<em>chan</em>,” sapa Izumi balik. Fauraza tidak begitu heran, namun suasana canggung ini cukup memusingkan dirinya.</p>

<p>   “Selamat ya, tidak kusangka kau telah bertunangan. Lalu, kenapa tidak memberitahuku? Aku kan bisa ikut merayakan atau mungkin memberikan hadiah.”</p>

<p>   “Ah, maaf. Sebenarnya aku ingin mengatakan diwaktu yang tepat, tetapi ....”  Izumi menggaruk lehernya yang tidak gatal. Fauraza tidak tahan. Ia mengambil langkah untuk keluar dari gedung itu.</p>

<p>   “Dia akan baik-baik saja?” tanya Izumi pada Shu. “Jika, dia tidak baik-baik saja, kau yang akan kuhajar.” Shu menyahut.</p>

<p>   “Ehh ...,”</p>

<hr/>

<p>   Fauraza termenung di area taman. Mungkin, sekarang acara pertunangannya sudah dimulai. Hari ulang tahun paling buruk yang pernah dialami Fauraza. Tiada orang yang mengucapkan tentang ulang tahunnya. Uh, apakah ia terlalu berharap sekarang?</p>

<p>   “Fauraza-<em>chan</em>!” Suara yang tidak asing. Izumi? Fauraza menoleh mendapati laki laki itu dengan teman yang lain, bersama seorang wanita cantik dan laki-laki disampingnya yang tidak dikenali Fauraza.</p>

<p>   “Kenapa kalian kesini menyusulku? Bukankah acara pertunangannya akan dimulai? Aku hanya mencari udara malam disini.”</p>

<p>   “Pertunangannya sudah selesai.”</p>

<p>   Sekarang Fauraza berdiri dari tempatnya dan tersenyum, “Wah, selamat ya!” ucap Fauraza. Wanita itu malah mendekati Fauraza, “Pertunanganku dengan pria itu sudah selesai.” Wanita itu menunjuk laki laki disampingnya, mirip seperti Rui.</p>

<p>   “Perkenalkan, namaku Masahiko Mio, dan di tunanganku Hans Fansisco.” Fauraza tidak langsung mengerti, kalau sepertinya ia telah bersedih atas kebohongan teman-temannya. Bahkan, reaksi Izumi secara mendadak memeluknya.</p>

<p>   “Selamat ulang tahun, Fauraza.”</p>

<p>   “Ugh, teganya kalian! Air mataku sia-sia saja, akhirnya,” ucap Fauraza sarkas.</p>

<p>   “Maaf,” Izumi memakaikan sebuah cincin yang telah dibelinya bersama Mio kemarin, dijari manis Fauraza, dan gadis itu tersenyum. Ketika lengah, ia menginjak kaki Izumi dengan sangat keras hingga membuat sang empunya kaki mengaduh kesakitan.</p>

<p>   “Oh, itu balasan dariku karna perbuatanmu, kau masih harus membayar yang lainnya.” Fauraza berkata.</p>

<p>   “Namun, terima kasih juga, sebab kalian masih ingat hari ulang tahunku,” Fauraza tersenyum tulus.</p>

<p>   Ia menatap teman temannya yang lain dengan senyuman licik dan tatapan tajam, “Tunggu pembalasan dariku kalian semua,” Fauraza mengatakan. Apapun itu, sepertinya Fauraza sedang memikirkan balasan yang setimpal untuk perbuatan mereka.</p>

<p>   <em>&#39;Ya, sudah aku duga. Hari ulang tahun yang cukup berkesan.&#39;</em> Fauraza terkadang memikirkan, kalau bisa saja dikemudian hari. Kalau dia dengan Izumi bisa saja tidak memiliki hubungan yang pasti.</p>

<p>   <strong>End.</strong></p>

<hr/>

<blockquote><p>Note!
Writing by Ayudia/Akari.
<a href="https://www.wattpad.com/user/gemini_integra" rel="nofollow">@gemini_integra</a> on Wattpad.</p>

<p>Kaneko Ayane belongs to <a href="https://www.wattpad.com/user/Jiro_Miy" rel="nofollow">Jiro</a>.
Hayashi Akari, Masahiko Mio, Hans Fansisco belongs to <a href="https://www.wattpad.com/user/gemini_integra" rel="nofollow">Ayudia/Akari</a>.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/kejutan-ulang-tahun</guid>
      <pubDate>Sat, 24 Sep 2022 09:42:48 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Bantuin.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/bantuin?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Toraishi Izumi × Hizafa Rein.&#xA;  #FaureYume; #IzuRein.&#xA;&#xA;   Please stay by my side.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #StarMyu © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Menjelang langit menampilkan sayup-sayup bulan akan cahayanya. Dari balik jendela, terlihat si gadis mulai mengacak-acak surainya kesal.&#xA;&#xA;   Bagaimana diri tidak sedang kesal, kalau-kalau harus berhadapan dengan tugas yang diberikan sebanyak itu?&#xA;&#xA;   Ya, meski tak sebanyak itu pun. Gadis tersebut mulai, memeluk lututnya. Entah karena udaranya, atau memang hawa-hawa dia-nya.&#xA;&#xA;   Manik mata yang telah tertutup itu, membuat suasana rumah semakin terkontaminasi oleh kesenyapan semata.&#xA;&#xA;   Hanya saja, hal tersebut tak berlangsung lama. Gerak sedikit, bila tak ada tangan yang menahan pastilah akan ada bunyi jatuh.&#xA;&#xA;   Perlahan mengambil nyawanya, betapa kaget dia sekarang. &#34;I-Izumi? Ah! Maafkan aku,&#34; ujarnya dengan cepat.&#xA;&#xA;   Ekspresinya sedikit cemas, tapi biarpun begitu pada akhirnya bertanya, &#34;Rein, gapapa? Oh itu ... Aku tidak masalah, kok.&#34;&#xA;&#xA;   Lelaki itu–Toraishi Izumi–mulai bertanya, diakhiri penolakan sekilas. &#34;Em, oke ...? Lalu, Izumi pasti mulai lagi kan.&#34;&#xA;&#xA;   Menatap tajam lelaki surai hitam-merah itu. Namun, hanya dibalas dengan sebuah tawa dari Izumi sendiri.&#xA;&#xA;   Mengalihkan pembicaraan seketika, Rein–gadis itu–mulai berkutat dengan tugas-tugasnya. &#34;Oiya, Izumi bisa bantuin aku, gak?&#34;&#xA;&#xA;   Mengernyitkan alis sedikit bingung, pasalnya jikalau Rein sudah mulai tak ingin membahas. Ia akan dengan cepat akan mengalihkan topik pembicaraan.&#xA;&#xA;   &#34;Bantuin belajar?&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Bukan.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Eh? Lalu bantuin apa?&#34;&#xA;&#xA;   Semula Rein menatap ke arah tugas-tugas, kini kembali menatap Izumi yang ternyata telah duduk disampingnya.&#xA;&#xA;   &#34;Bantuin kayak tadi, biar ga ketiduran.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Hah?&#34; Izumi mengedipkan matanya beberapa kali, mendengar pernyataan yang dilontarkan oleh Rein, gadis yang berada di hadapannya ini.&#xA;&#xA;   End.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Toraishi Izumi × Hizafa Rein.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:IzuRein" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">IzuRein</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>Please stay by my side.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:StarMyu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">StarMyu</span></a> © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   Menjelang langit menampilkan sayup-sayup bulan akan cahayanya. Dari balik jendela, terlihat si gadis mulai mengacak-acak surainya kesal.</p>

<p>   Bagaimana diri tidak sedang kesal, kalau-kalau harus berhadapan dengan tugas yang diberikan sebanyak itu?</p>

<p>   Ya, meski tak sebanyak itu pun. Gadis tersebut mulai, memeluk lututnya. Entah karena udaranya, atau memang hawa-hawa dia-nya.</p>

<p>   Manik mata yang telah tertutup itu, membuat suasana rumah semakin terkontaminasi oleh kesenyapan semata.</p>

<p>   Hanya saja, hal tersebut tak berlangsung lama. Gerak sedikit, bila tak ada tangan yang menahan pastilah akan ada bunyi jatuh.</p>

<p>   Perlahan mengambil nyawanya, betapa kaget dia sekarang. “I-Izumi? Ah! Maafkan aku,” ujarnya dengan cepat.</p>

<p>   Ekspresinya sedikit cemas, tapi biarpun begitu pada akhirnya bertanya, “Rein, gapapa? Oh itu ... Aku tidak masalah, kok.”</p>

<p>   Lelaki itu–Toraishi Izumi–mulai bertanya, diakhiri penolakan sekilas. “Em, oke ...? Lalu, Izumi pasti mulai lagi kan.”</p>

<p>   Menatap tajam lelaki surai hitam-merah itu. Namun, hanya dibalas dengan sebuah tawa dari Izumi sendiri.</p>

<p>   Mengalihkan pembicaraan seketika, Rein–gadis itu–mulai berkutat dengan tugas-tugasnya. “Oiya, Izumi bisa bantuin aku, gak?”</p>

<p>   Mengernyitkan alis sedikit bingung, pasalnya jikalau Rein sudah mulai tak ingin membahas. Ia akan dengan cepat akan mengalihkan topik pembicaraan.</p>

<p>   “Bantuin belajar?”</p>

<p>   “Bukan.”</p>

<p>   “Eh? Lalu bantuin apa?”</p>

<p>   Semula Rein menatap ke arah tugas-tugas, kini kembali menatap Izumi yang ternyata telah duduk disampingnya.</p>

<p>   “Bantuin kayak tadi, biar ga ketiduran.”</p>

<p>   “Hah?” Izumi mengedipkan matanya beberapa kali, mendengar pernyataan yang dilontarkan oleh Rein, gadis yang berada di hadapannya ini.</p>

<p>   <strong>End.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/bantuin</guid>
      <pubDate>Tue, 28 Jun 2022 13:14:29 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Duet Singing.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/duet-singing?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Inumine Seishiro × Reader.&#xA;  #StarMyu Fanfiction.&#xA;&#xA;Day 29 of #SimpTember 2021. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Ayo lakukan, [Name]-san~!&#34;&#xA;&#xA;Seperti biasa, selalu ceria ia mengatakan hal tersebut. Biar bagaimana pun, seraya bernyanyi selalu menjadi khas tersendiri bagi dirinya.&#xA;&#xA;&#34;Mana aku bisa ....&#34;&#xA;&#xA;Bernama [Name], ia mulai menggerutu tak mau. Tiada keyakinan yang mau berpihak pada sosok-nya. Setiap kali diajak, menolak adalah yang selalu dilakukan.&#xA;&#xA;&#34;Nilai akan menjadi taruhannya, lho~&#34;&#xA;&#xA;Mendesah panjang, kendati temannya begini, ia tetap saja selalu berbakat dalam bidang musik. Terkecuali untuk hal lain, dikatakan bahwa ia cukup lemah, alias tak mengerti.&#xA;&#xA;&#34;Huh, astaga. Sedikit menyebalkan,&#34; balasnya tak terima.&#xA;&#xA;&#34;Oh~♪ [Name], janganlah~ kau bersedih.&#34;&#xA;&#xA;Bila tak didengar, pasti mengira bahwa adalah suatu kalimat dukungan. Pada dasarnya itu adalah sebuah lagu yang ia buat sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Kalau begitu, mau nanyi bersama denganku?&#34; tawar ia lagi, membuat [Name] mengernyit bingung karenanya.&#xA;&#xA;&#34;Harus sekali ya, memaksa?&#34; tegur [Name], kenapa seseorang dari teman tim satu timnya—yang dimaksud adalah tim sosok yang dihadapannya sekarang—malah ia yang mengajarinya?&#xA;&#xA;Tiada jawaban, sebelum akhirnya lelaki tersebut berbicara lagi, &#34;Lagipula ini demi nilaimu, bukan? Lalu, Ugawa maupun Sawatari mempercayakanku untuk bersamamu, kalau tak mau aku akan pergi–&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan kabur lagi dong!&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Inumine Seishiro × Reader.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:StarMyu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">StarMyu</span></a> Fanfiction.</p></blockquote>

<p><em>Day 29 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</em> </p>

<hr/>

<p>“Ayo lakukan, [Name]-<em>san</em>~!”</p>

<p>Seperti biasa, selalu ceria ia mengatakan hal tersebut. Biar bagaimana pun, seraya bernyanyi selalu menjadi khas tersendiri bagi dirinya.</p>

<p>“Mana aku bisa ....”</p>

<p>Bernama [Name], ia mulai menggerutu tak mau. Tiada keyakinan yang mau berpihak pada sosok-nya. Setiap kali diajak, menolak adalah yang selalu dilakukan.</p>

<p>“Nilai akan menjadi taruhannya, lho~”</p>

<p>Mendesah panjang, kendati temannya begini, ia tetap saja selalu berbakat dalam bidang musik. Terkecuali untuk hal lain, dikatakan bahwa ia cukup lemah, alias tak mengerti.</p>

<p>“<em>Huh</em>, astaga. Sedikit menyebalkan,” balasnya tak terima.</p>

<p>“<em>Oh</em>~♪ [Name], janganlah~ kau bersedih.”</p>

<p>Bila tak didengar, pasti mengira bahwa adalah suatu kalimat dukungan. Pada dasarnya itu adalah sebuah lagu yang ia buat sendiri.</p>

<p>“Kalau begitu, mau nanyi bersama denganku?” tawar ia lagi, membuat [Name] mengernyit bingung karenanya.</p>

<p>“Harus sekali ya, memaksa?” tegur [Name], kenapa seseorang dari teman tim satu timnya—yang dimaksud adalah tim sosok yang dihadapannya sekarang—malah ia yang mengajarinya?</p>

<p>Tiada jawaban, sebelum akhirnya lelaki tersebut berbicara lagi, “Lagipula ini demi nilaimu, bukan? Lalu, Ugawa maupun Sawatari mempercayakanku untuk bersamamu, kalau tak mau aku akan pergi–”</p>

<p>“Jangan kabur lagi dong!”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/duet-singing</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 11:44:10 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Coffe.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/coffe?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Toraishi Izumi × Reader.&#xA;  #StarMyu Fanfiction.&#xA;&#xA;Day 21 of #SimpTember 2021. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Astaga, [Name]-chan!&#34;&#xA;&#xA;Menatap dari ekor mata mendapati sosok sang kekasih. Dengan tatapan biasa saja, ia malah kembali fokus pada tangan yang memegang ponsel. Belum lagi digoyangkan beberapa kali, tak mau menatap kemudian.&#xA;&#xA;Mendecak, ia tak mau diganggu. Raut kesal terlihat disana. Namun yang ia lihat berupa mimik khawatir, benar dia tahu bahwa figur dihadapan mengkhawatirkan dirinya.&#xA;&#xA;&#34;Jangan berteriak seperti itu, menyebalkan.&#34;&#xA;&#xA;Dengan suara terdengar lirih, tangan mengelus rambut [Name]. Untuk saat ini, sosok tersebut berada disampingnya. Telah duduk berada didekat ia. &#34;Astaga. Sudah berapa lama kamu seperti ini?&#34;&#xA;&#xA;Tiada jawaban terdengar sebelum akhirnya, gadis tersebut kembali merampas secangkir kopi yang biasa menjadi teman dikala seperti ini. &#34;Sudah semenjak itu,&#34; cicitnya.&#xA;&#xA;Tidak enak merupakan sesuatu yang dialami pria ini. Dia melupakan fakta hubungan ia dengan [Name] belum sampai ke sang Ibu. Bergelar status pasutri, akibat suatu kejadian tak terduga mereka diawal cukup tak bersahabat.&#xA;&#xA;Namun ternyata, inilah akhirnya. Fakta akan mencintai sosok yang telah kian lama pergi. Lagipula gadis itu sudah sendiri, berniat menemani tapi lelaki tersebut cukup was-was bila tak kembali.&#xA;&#xA;&#34;Kamu mulai menyukai ku?&#34;&#xA;&#xA;Baru saja ia menyesap kopi yang dia ambil, membuat tersedak setelahnya ketika mendengar ucapan wujud dihadapan.&#xA;&#xA;&#34;... Entahlah,&#34; gumam [Name].&#xA;&#xA;Dengan tangan sosok lelaki itu, Toraishi Izumi menepuk-nepuk pelan bagian belakang [Name]. Guna bisa membuat lebih baikan.&#xA;&#xA;&#34;[Name]-chan, jangan bilang seperti itu dong! Aku mengkhawatirkan kamu, lho. Oh ya, aku sudah memberitahukan hal ini kepada Ibu. Dia akan datang, mmm malam ini? Ah,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hah?&#34;&#xA;&#xA;Belum selesai menyelesaikan ucapan, [Name] memotong percakapan dari Izumi. &#34;Tidak apa-apa, &#39;kan? Lagian, Ibu juga sudah diberitahu sama Shu. Itu menyebalkan, bahkan tak segan-segan tadi. Eh?&#34;&#xA;&#xA;Tangan menyentuh permukaan wajah milik Izumi, ekspresi kaget tercetak jelas bak printer yang mencetak gambar. &#34;Jadi ini ... bekas perkelahianmu, dengan Ibumu?&#34;&#xA;&#xA;Dia tak lagi menyesap kopi, dan kopi sudah berada ditangan Izumi. &#34;Begitulah,&#34; katanya seraya meminum kopi buatan [Name] yang tersisa. Berujung pukulan mendarat pada kaki.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa kau malah meminumnya?!&#34;&#xA;&#xA;Dengan segala penekanan [Name] berteriak seperti itu. Syukur sedang tidak ada tetangga stay. Bisa bahaya bila terdengar seperti itu, walau sudah tahu hubungan keduanya ini.&#xA;&#xA;&#34;Sudah larut, tidak baik buatmu tuk terjaga. Ayo segera tidur.&#34;&#xA;&#xA;Mengabaikan pemberontakan dari [Name], Izumi menggendong tubuh gadis itu. Menuju ke kamar [Name]. Hanya terdengar decakan kesal yang terpasti dengan jelas.&#xA;&#xA;&#34;Kau kenapa tidur disini? Pergi sana!&#34;&#xA;&#xA;&#34;[Name]-chan, sudah aku bilang. Kita sudah menikah, jadi ini bukanlah masalah.&#34;&#xA;&#xA;Mengecup pelan helai milik [Name], untung saja posisi [Name] sedang membelakangi Izumi. Tidak bisa dibayangkan betapa memerahnya wajah ia sekarang.&#xA;&#xA;Tentu karena bisikan tadi, merasa geli akibat napas menyeruak masuk ke telinga. Sensasi hangat maupun sesuatu yang ia inginkan telah merasuki.&#xA;&#xA;&#34;Tidurlah, kalau tak bisa tidur besok aku akan seperti ini lagi. Masalah kopi aku sengaja,&#34; lirihnya diakhir malah terdengar jelas ditelinga [Name].&#xA;&#xA;Benar, hal itu menjadikan bahwa Izumi telah terhuyung ke dalam dunia mimpi. Sesekali menghirup harum yang berasal dari [Name]. Sebuah senyuman kecil tersedia diwajah.&#xA;&#xA;&#34;Kopi ku ....&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Toraishi Izumi × Reader.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:StarMyu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">StarMyu</span></a> Fanfiction.</p></blockquote>

<p><em>Day 21 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</em> </p>

<hr/>

<p>“Astaga, [Name]-<em>chan</em>!”</p>

<p>Menatap dari ekor mata mendapati sosok sang kekasih. Dengan tatapan biasa saja, ia malah kembali fokus pada tangan yang memegang ponsel. Belum lagi digoyangkan beberapa kali, tak mau menatap kemudian.</p>

<p>Mendecak, ia tak mau diganggu. Raut kesal terlihat disana. Namun yang ia lihat berupa mimik khawatir, benar dia tahu bahwa figur dihadapan mengkhawatirkan dirinya.</p>

<p>“Jangan berteriak seperti itu, menyebalkan.”</p>

<p>Dengan suara terdengar lirih, tangan mengelus rambut [Name]. Untuk saat ini, sosok tersebut berada disampingnya. Telah duduk berada didekat ia. “Astaga. Sudah berapa lama kamu seperti ini?”</p>

<p>Tiada jawaban terdengar sebelum akhirnya, gadis tersebut kembali merampas secangkir kopi yang biasa menjadi teman dikala seperti ini. “Sudah semenjak itu,” cicitnya.</p>

<p>Tidak enak merupakan sesuatu yang dialami pria ini. Dia melupakan fakta hubungan ia dengan [Name] belum sampai ke sang Ibu. Bergelar status pasutri, akibat suatu kejadian tak terduga mereka diawal cukup tak bersahabat.</p>

<p>Namun ternyata, inilah akhirnya. Fakta akan mencintai sosok yang telah kian lama pergi. Lagipula gadis itu sudah sendiri, berniat menemani tapi lelaki tersebut cukup was-was bila tak kembali.</p>

<p>“Kamu mulai menyukai ku?”</p>

<p>Baru saja ia menyesap kopi yang dia ambil, membuat tersedak setelahnya ketika mendengar ucapan wujud dihadapan.</p>

<p>”... Entahlah,” gumam [Name].</p>

<p>Dengan tangan sosok lelaki itu, Toraishi Izumi menepuk-nepuk pelan bagian belakang [Name]. Guna bisa membuat lebih baikan.</p>

<p>“[Name]-<em>chan</em>, jangan bilang seperti itu dong! Aku mengkhawatirkan kamu, lho. Oh ya, aku sudah memberitahukan hal ini kepada Ibu. Dia akan datang, <em>mmm</em> malam ini? Ah,”</p>

<p>“Hah?”</p>

<p>Belum selesai menyelesaikan ucapan, [Name] memotong percakapan dari Izumi. “Tidak apa-apa, &#39;kan? Lagian, Ibu juga sudah diberitahu sama Shu. Itu menyebalkan, bahkan tak segan-segan tadi. Eh?”</p>

<p>Tangan menyentuh permukaan wajah milik Izumi, ekspresi kaget tercetak jelas bak printer yang mencetak gambar. “Jadi ini ... bekas perkelahianmu, dengan Ibumu?”</p>

<p>Dia tak lagi menyesap kopi, dan kopi sudah berada ditangan Izumi. “Begitulah,” katanya seraya meminum kopi buatan [Name] yang tersisa. Berujung pukulan mendarat pada kaki.</p>

<p>“Kenapa kau malah meminumnya?!”</p>

<p>Dengan segala penekanan [Name] berteriak seperti itu. Syukur sedang tidak ada tetangga <em>stay</em>. Bisa bahaya bila terdengar seperti itu, walau sudah tahu hubungan keduanya ini.</p>

<p>“Sudah larut, tidak baik buatmu tuk terjaga. Ayo segera tidur.”</p>

<p>Mengabaikan pemberontakan dari [Name], Izumi menggendong tubuh gadis itu. Menuju ke kamar [Name]. Hanya terdengar decakan kesal yang terpasti dengan jelas.</p>

<p>“Kau kenapa tidur disini? Pergi sana!”</p>

<p>“[Name]-<em>chan</em>, sudah aku bilang. Kita sudah menikah, jadi ini bukanlah masalah.”</p>

<p>Mengecup pelan helai milik [Name], untung saja posisi [Name] sedang membelakangi Izumi. Tidak bisa dibayangkan betapa memerahnya wajah ia sekarang.</p>

<p>Tentu karena bisikan tadi, merasa geli akibat napas menyeruak masuk ke telinga. Sensasi hangat maupun sesuatu yang ia inginkan telah merasuki.</p>

<p>“Tidurlah, kalau tak bisa tidur besok aku akan seperti ini lagi. Masalah kopi aku sengaja,” lirihnya diakhir malah terdengar jelas ditelinga [Name].</p>

<p>Benar, hal itu menjadikan bahwa Izumi telah terhuyung ke dalam dunia mimpi. Sesekali menghirup harum yang berasal dari [Name]. Sebuah senyuman kecil tersedia diwajah.</p>

<p>“<em>Kopi ku ....</em>“</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/coffe</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 11:01:37 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Part Time Job.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/part-time-job?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Kuga Shu × Reader.&#xA;  #StarMyu Fanfiction.&#xA;&#xA;Day 19 of #SimpTember 2021. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Tidak masalah kata mereka.&#34;&#xA;&#xA;Balasan seperti itu, membuat lelaki surai ungu hanya mengangguk kecil. Namun tangan berkutat pada gelas-gelas yang dia pergunakan, tuk bisa disajikan suatu minuman.&#xA;&#xA;Bekerja dikondisi seperti ini, kerap kali menjadi kebiasaannya. Tidur merupakan keseringan ia, bila sudah kelewat kelelahan. Tapi, beruntung teman satu tim-nya paham hal tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Bagaimana dengan mereka?&#34;&#xA;&#xA;Butuh waktu beberapa detik tuk bisa, mencerna perkataan maupun pertanyaan yang keluar dari bibir ia. Tingkah tangan memegang dagu, menambah kebingungan singkat dari lelaki tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Oh, mereka sudah menunggu. Kalau sudah selesai kabari aku segera ya!&#34;&#xA;&#xA;Berkata demikian, namun tatapan teralihkan ke sebuah ponsel dipegang. Anggukan kecil sebagai sahutan, dengan cepat sang hawa tersebut menyiapkan diri untuk segera bergegas pergi.&#xA;&#xA;Melupakan sesuatu, membuatnya berbalik arah. &#34;Sampai jumpa,&#34; tutur sang gadis walau sekedar dianguki pelan. Mulai luntur pandangan dari netra gelap ungu milik dia, hanya saja tetap setia menatap kepergiaan itu.&#xA;&#xA;Tapi maniknya mengunci sebuah benda tidak asing bagi penglihatan milik dia. Sebuah gelang tangan milik gadis itu, dia melupakan. Sosok tersebut akui bahwa memang gadis tersebut sering kali lupa untuk masalah sepele.&#xA;&#xA;&#34;Siapa yang sekarang malah terlihat—&#34;&#xA;&#xA;&#34;[Last Name]?&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Kuga Shu × Reader.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:StarMyu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">StarMyu</span></a> Fanfiction.</p></blockquote>

<p><em>Day 19 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</em> </p>

<hr/>

<p>“Tidak masalah kata mereka.”</p>

<p>Balasan seperti itu, membuat lelaki surai ungu hanya mengangguk kecil. Namun tangan berkutat pada gelas-gelas yang dia pergunakan, tuk bisa disajikan suatu minuman.</p>

<p>Bekerja dikondisi seperti ini, kerap kali menjadi kebiasaannya. Tidur merupakan keseringan ia, bila sudah kelewat kelelahan. Tapi, beruntung teman satu tim-nya paham hal tersebut.</p>

<p>“Bagaimana dengan mereka?”</p>

<p>Butuh waktu beberapa detik tuk bisa, mencerna perkataan maupun pertanyaan yang keluar dari bibir ia. Tingkah tangan memegang dagu, menambah kebingungan singkat dari lelaki tersebut.</p>

<p>“Oh, mereka sudah menunggu. Kalau sudah selesai kabari aku segera ya!”</p>

<p>Berkata demikian, namun tatapan teralihkan ke sebuah ponsel dipegang. Anggukan kecil sebagai sahutan, dengan cepat sang hawa tersebut menyiapkan diri untuk segera bergegas pergi.</p>

<p>Melupakan sesuatu, membuatnya berbalik arah. “Sampai jumpa,” tutur sang gadis walau sekedar dianguki pelan. Mulai luntur pandangan dari netra gelap ungu milik dia, hanya saja tetap setia menatap kepergiaan itu.</p>

<p>Tapi maniknya mengunci sebuah benda tidak asing bagi penglihatan milik dia. Sebuah gelang tangan milik gadis itu, dia melupakan. Sosok tersebut akui bahwa memang gadis tersebut sering kali lupa untuk masalah sepele.</p>

<p>“Siapa yang sekarang malah terlihat—”</p>

<p>“[Last Name]?”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/part-time-job</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 10:56:58 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Pets.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/pets?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Tengenji Kakeru × Reader.&#xA;  #StarMyu Fanfiction.&#xA;&#xA;Day 15 of #SimpTember 2021. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Bicara tentang peliharaan, sang hawa itu seharusnya telah mengetahui hal ini. Sebab ialah, yang mengalami sesuatu yang tak masuk akal seumuran hidup dia.&#xA;&#xA;Bagaimana bisa, cinta terhalangi oleh seekor hewan peliharaan? Walau ia menggemaskan, selalu dipuja-puji oleh sang kekasih, tak membuang fakta ia juga menyukainya.&#xA;&#xA;Tavian, seekor kucing betina yang merupakan hewan peliharaan sang kekasih, Tengenji Kakeru. Betapa banyak kejadian dimasa lalu, bahkan ia sendiri tak enak mengatakan hal tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Hei, [Name]-chan.&#34;&#xA;&#xA;Tak benar mendengarkan dengan baik, gadis itu masih larut dalam pemikiran sendiri. Dengan tangan yang nyatanya berangan-angan mengelus sosok, yang telah tiada dipangkuan.&#xA;&#xA;Tangan menyentuh bahu, tidak memberikan respon kaget. Hanya terdapat tolehan kecil guna menatap siapa yang menyentuh bahu, membuyarkan lamunan beberapa kali kelopak mata berkedip.&#xA;&#xA;Memperlihatkan sosok yang ia pikirkan, tentu saja dialah sang kekasih. &#34;Ada apa?&#34; Berupa gelengan kecil, ia sama sekali tak menjawab. Pandanganpun beralih mengalihkan dari sosok pria tersebut.&#xA;&#xA;Mendecak lidah, ia kesal. Sungguh jarang bila dia tak didengarkan seperti ini. Mengingat kejadian yang telah berlalu, membuatnya menarik napas kasar. Duduk disamping sang hawa, tangan menepuk-nepuk pelan kepala.&#xA;&#xA;&#34;Tidak perlu dikhawatirkan, itu bukan salahmu.&#34;&#xA;&#xA;Maut telah memisahkan kehangatan antara peliharaan dan sang tuan. Tidak terpikir semuanya akan baik-baik saja, rasa canggung bagi diri telah mengambang jelas setelah hari itu. Teriakan yang tak bisa dipercaya menggema dalam kepala.&#xA;&#xA;Jangankan tertidur lelap, tengah malam pun ia tak bisa menutupkan mata dalam waktu beberapa saja. Hanya meratapi bagaimana tanggapan setelah semua itu terjadi, bukan tidak menginginkan hal tersebut.&#xA;&#xA;Benar, Tavian sudah tak kan pernah kembali, lagi.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Tengenji Kakeru × Reader.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:StarMyu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">StarMyu</span></a> Fanfiction.</p></blockquote>

<p><em>Day 15 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</em> </p>

<hr/>

<p>Bicara tentang peliharaan, sang hawa itu seharusnya telah mengetahui hal ini. Sebab ialah, yang mengalami sesuatu yang tak masuk akal seumuran hidup dia.</p>

<p>Bagaimana bisa, cinta terhalangi oleh seekor hewan peliharaan? Walau ia menggemaskan, selalu dipuja-puji oleh sang kekasih, tak membuang fakta ia juga menyukainya.</p>

<p>Tavian, seekor kucing betina yang merupakan hewan peliharaan sang kekasih, Tengenji Kakeru. Betapa banyak kejadian dimasa lalu, bahkan ia sendiri tak enak mengatakan hal tersebut.</p>

<p>“Hei, [Name]-<em>chan</em>.”</p>

<p>Tak benar mendengarkan dengan baik, gadis itu masih larut dalam pemikiran sendiri. Dengan tangan yang nyatanya berangan-angan mengelus sosok, yang telah tiada dipangkuan.</p>

<p>Tangan menyentuh bahu, tidak memberikan respon kaget. Hanya terdapat tolehan kecil guna menatap siapa yang menyentuh bahu, membuyarkan lamunan beberapa kali kelopak mata berkedip.</p>

<p>Memperlihatkan sosok yang ia pikirkan, tentu saja dialah sang kekasih. “Ada apa?” Berupa gelengan kecil, ia sama sekali tak menjawab. Pandanganpun beralih mengalihkan dari sosok pria tersebut.</p>

<p>Mendecak lidah, ia kesal. Sungguh jarang bila dia tak didengarkan seperti ini. Mengingat kejadian yang telah berlalu, membuatnya menarik napas kasar. Duduk disamping sang hawa, tangan menepuk-nepuk pelan kepala.</p>

<p>“Tidak perlu dikhawatirkan, itu bukan salahmu.”</p>

<p>Maut telah memisahkan kehangatan antara peliharaan dan sang tuan. Tidak terpikir semuanya akan baik-baik saja, rasa canggung bagi diri telah mengambang jelas setelah hari itu. Teriakan yang tak bisa dipercaya menggema dalam kepala.</p>

<p>Jangankan tertidur lelap, tengah malam pun ia tak bisa menutupkan mata dalam waktu beberapa saja. Hanya meratapi bagaimana tanggapan setelah semua itu terjadi, bukan tidak menginginkan hal tersebut.</p>

<p><em>Benar, Tavian sudah tak kan pernah kembali, lagi.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/pets</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 10:36:48 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Present.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/present?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Nanjo Koki × Reader.&#xA;  #StarMyu Fanfiction.&#xA;&#xA;Day 9 of #SimpTember 2021. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Tangan tanpa sadar memberikan sesuatu, ingin menyangkal sebelum mulut mengatakan. Namun segalanya sudah tak bisa ia lakukan.&#xA;&#xA;Mengatakan hal tersebut, ingin rasanya ia segera mengubur diri dalam-dalam. Rasa malu bahkan sudah banyak ia rasakan, tapi dikala saat ini terlalu banyak debaran tak sehat.&#xA;&#xA;&#34;Oh, [Name]. Hm~ untuk ku?&#34;&#xA;&#xA;Dengan kepala tertunduk, gadis dipanggil [Name] itu mengangguk kecil. Sungguh malu dirinya saat ini. Tidak bisa mengatakan sesuatu lebih banyak lagi.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa kau malah menunduk? Memberi orang hadiah seharusnya menatap, bukan?&#34;&#xA;&#xA;Merasa ditusuk oleh pisau ilusi, tapi kenyataan memang benar. Sosok surai abu-abu dihadapan terkadang sering mengatakan kebenaran, namun ditanggapi hal lain semacam gurauan semata.&#xA;&#xA;Menjadi misterius dalam benaknya, tidak memberikan kesempatan untuk bernapas dengan tenang setiap kali memikirkan dia.&#xA;&#xA;&#34;Ahh, maaf.&#34;&#xA;&#xA;Wajah sepertinya sudah memerah, namun senyuman semakin mengambang pada wajah dirinya. [Name] akhirnya mendongak menatap sosok dihadapan.&#xA;&#xA;Seseorang yang bisa membuatnya tidak bisa tenang dalam beberapa hari kedepan, selalu sukses mengantarkan diri kepada kekesalan.&#xA;&#xA;&#34;Benar seperti itu, terima kasih.&#34;&#xA;&#xA;Mengherankan mengapa semudah ini? Biasanya berupa komentar menyakitkan, itu yang dikatakan oleh orang-orang ternyata menakut-nakuti.&#xA;&#xA;&#34;Oi, apa kau bilang tadi?&#34;&#xA;&#xA;Seseorang tidak diundang tiba-tiba saja datang. [Name] sendiri terdiam karena sosok yang langsung mendekati lelaki didepannya tadi.&#xA;&#xA;&#34;Hah, apa? Jangan bilang kau cemburu,&#34;&#xA;&#xA;Tidak asing tapi kenapa malah seperti ini? Menyentak kasar tangan yang tidak memegang hadiah dari [Name].&#xA;&#xA;&#34;Bukan tentang dia! Tapi tentang Tuhan-ku, apa ucapan mu tadi?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku tidak mengenalinya, lho.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ck! Aku sungguh benci! Benci, benci, benci. Huh!&#34;&#xA;&#xA;Terdiam akibat bingung, [Name] setia menyaksikan adegan sebelumnya. Hanya terkekeh pelan, sosok dihadapan ini kembali tersenyum seraya mengendikan bahunya.&#xA;&#xA;&#34;Nanjo-san, sebenarnya apa yang tadi kalian bicarakan?&#34;&#xA;&#xA;Tertawa pelan, dalam pikiran Nanjo bagaimana bisa gadis sepertinya ternyata suka ikut campur urusan orang. Entah karena apa pandangan Nanjo sendiri menjadi berbeda.&#xA;&#xA;&#34;Ahaha, maaf. Aku tidak habis pikir denganmu, [Name]. Ternyata kau suka ikut campur urusan orang juga, tapi tidak masalah juga sih. Dia membenciku karena aku tidak mengenal Tuhan-nya yang dia maksud adalah Tsukigami Haruto.&#34;&#xA;&#xA;Terdiam seribu bahasa, kata-katanya selalu saja menusuk. Namun hal itu berakhir menjadi keterkejutan.&#xA;&#xA;&#34;Ti-tidak mengenali Tsukigami Haruto?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh? Sepertinya [Name] mengenalinya. Apa kau akan membenci ku juga?&#34;&#xA;&#xA;Mencoba menenangkan diri, namun tidak bisa. Bagaimana Nanjo yang ia sukai, ternyata ada banyak perkataan menusuk selalu dilontarkan? Sesekali berpikir kenapa ia melakukan hal ini.&#xA;&#xA;&#34;Ti-tidak! Kenapa aku harus membenci Nanjo-san hanya akibat hal seperti itu, huh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah, aku paham. Jangan bilang kau memang menyukaiku makanya, tidak bisa membenci benar?&#34;&#xA;&#xA;Sialan. Mengapa akhirnya malah seperti ini? Sosok yang misterius bagi dia, sudah bisa menebak bagaimana perasaannya.&#xA;&#xA;&#34;Tidak apa-apa, kok. [Name] cukup menarik perhatianku, jadi aku juga suka [Name].&#34;&#xA;&#xA;Berharap bukan sebuah kebohongan. Karena dikatakan oleh beberapa orang, Nanjo adalah seseorang lelaki yang jarang sekali mengungkapkan, alias tak pernah sama sekali mengatakan suka secara terang-terangan.&#xA;&#xA;&#34;Aku tidak menyukaimu dalam urusan cinta, ya. Tapi, aku menyukaimu dalam urusan ikut campur. Dirimu orang yang benar-benar menarik,&#34;&#xA;&#xA;Lihat?! Bagaimana bisa dia mengetahui isi pikirannya? Berpikir bahwa Nanjo adalah cenayang. Tapi sepertinya tidak seperti itu. Mungkin saja ia sangat peka terhadap sesuatu, begitu.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Nanjo Koki × Reader.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:StarMyu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">StarMyu</span></a> Fanfiction.</p></blockquote>

<p><em>Day 9 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</em> </p>

<hr/>

<p>Tangan tanpa sadar memberikan sesuatu, ingin menyangkal sebelum mulut mengatakan. Namun segalanya sudah tak bisa ia lakukan.</p>

<p>Mengatakan hal tersebut, ingin rasanya ia segera mengubur diri dalam-dalam. Rasa malu bahkan sudah banyak ia rasakan, tapi dikala saat ini terlalu banyak debaran tak sehat.</p>

<p>“Oh, [Name]. Hm~ untuk ku?”</p>

<p>Dengan kepala tertunduk, gadis dipanggil [Name] itu mengangguk kecil. Sungguh malu dirinya saat ini. Tidak bisa mengatakan sesuatu lebih banyak lagi.</p>

<p>“Kenapa kau malah menunduk? Memberi orang hadiah seharusnya menatap, bukan?”</p>

<p>Merasa ditusuk oleh pisau ilusi, tapi kenyataan memang benar. Sosok surai abu-abu dihadapan terkadang sering mengatakan kebenaran, namun ditanggapi hal lain semacam gurauan semata.</p>

<p>Menjadi misterius dalam benaknya, tidak memberikan kesempatan untuk bernapas dengan tenang setiap kali memikirkan dia.</p>

<p>“Ahh, maaf.”</p>

<p>Wajah sepertinya sudah memerah, namun senyuman semakin mengambang pada wajah dirinya. [Name] akhirnya mendongak menatap sosok dihadapan.</p>

<p>Seseorang yang bisa membuatnya tidak bisa tenang dalam beberapa hari kedepan, selalu sukses mengantarkan diri kepada kekesalan.</p>

<p>“Benar seperti itu, terima kasih.”</p>

<p>Mengherankan mengapa semudah ini? Biasanya berupa komentar menyakitkan, itu yang dikatakan oleh orang-orang ternyata menakut-nakuti.</p>

<p>“Oi, apa kau bilang tadi?”</p>

<p>Seseorang tidak diundang tiba-tiba saja datang. [Name] sendiri terdiam karena sosok yang langsung mendekati lelaki didepannya tadi.</p>

<p>“Hah, apa? Jangan bilang kau cemburu,”</p>

<p>Tidak asing tapi kenapa malah seperti ini? Menyentak kasar tangan yang tidak memegang hadiah dari [Name].</p>

<p>“Bukan tentang dia! Tapi tentang Tuhan-ku, apa ucapan mu tadi?”</p>

<p>“Aku tidak mengenalinya, lho.”</p>

<p>“Ck! Aku sungguh benci! Benci, benci, benci. Huh!”</p>

<p>Terdiam akibat bingung, [Name] setia menyaksikan adegan sebelumnya. Hanya terkekeh pelan, sosok dihadapan ini kembali tersenyum seraya mengendikan bahunya.</p>

<p>“Nanjo-<em>san</em>, sebenarnya apa yang tadi kalian bicarakan?”</p>

<p>Tertawa pelan, dalam pikiran Nanjo bagaimana bisa gadis sepertinya ternyata suka ikut campur urusan orang. Entah karena apa pandangan Nanjo sendiri menjadi berbeda.</p>

<p>“Ahaha, maaf. Aku tidak habis pikir denganmu, [Name]. Ternyata kau suka ikut campur urusan orang juga, tapi tidak masalah juga sih. Dia membenciku karena aku tidak mengenal Tuhan-nya yang dia maksud adalah Tsukigami Haruto.”</p>

<p>Terdiam seribu bahasa, kata-katanya selalu saja menusuk. Namun hal itu berakhir menjadi keterkejutan.</p>

<p>“Ti-tidak mengenali Tsukigami Haruto?”</p>

<p>“Oh? Sepertinya [Name] mengenalinya. Apa kau akan membenci ku juga?”</p>

<p>Mencoba menenangkan diri, namun tidak bisa. Bagaimana Nanjo yang ia sukai, ternyata ada banyak perkataan menusuk selalu dilontarkan? Sesekali berpikir kenapa ia melakukan hal ini.</p>

<p>“Ti-tidak! Kenapa aku harus membenci Nanjo-<em>san</em> hanya akibat hal seperti itu, <em>huh</em>?”</p>

<p>“Ah, aku paham. Jangan bilang kau memang menyukaiku makanya, tidak bisa membenci benar?”</p>

<p><em>Sialan. Mengapa akhirnya malah seperti ini?</em> Sosok yang misterius bagi dia, sudah bisa menebak bagaimana perasaannya.</p>

<p>“Tidak apa-apa, kok. [Name] cukup menarik perhatianku, jadi aku juga suka [Name].”</p>

<p>Berharap bukan sebuah kebohongan. Karena dikatakan oleh beberapa orang, Nanjo adalah seseorang lelaki yang jarang sekali mengungkapkan, alias tak pernah sama sekali mengatakan suka secara terang-terangan.</p>

<p>“Aku tidak menyukaimu dalam urusan cinta, ya. Tapi, aku menyukaimu dalam urusan ikut campur. Dirimu orang yang benar-benar menarik,”</p>

<p><em>Lihat?! Bagaimana bisa dia mengetahui isi pikirannya?</em> Berpikir bahwa Nanjo adalah cenayang. Tapi sepertinya tidak seperti itu. Mungkin saja ia sangat peka terhadap sesuatu, begitu.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/present</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 09:54:15 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>