<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>ocstober2022 &amp;mdash; reeinshiyu</title>
    <link>https://reeinshiyu.writeas.com/tag:ocstober2022</link>
    <description>Seluruh kisah yang dikhususkan kepada mereka yang berkenan untuk membacanya.</description>
    <pubDate>Thu, 14 May 2026 01:50:19 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Melampaui Masa.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/melampaui-masa?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Original Fiction.&#xA;  Day 13 of #OCstober2022.&#xA;&#xA;As you would normally expect. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Siapa?&#34; tanyanya pelan.&#xA;&#xA;&#34;Seseorang yang membawamu kemari.&#34;&#xA;&#xA;Gadis itu melamun memikirkannya. Hari itu, seolah bukan kali pertama pertemuan mereka. Hanyut dalam pemikiran pribadi, ia tampak memikirkan kejadian yang belum lama.&#xA;&#xA;Ya, walaupun kejadian itu asalnya dari mimpi. Ia masih bisa merasakan jari-jemari hangat mengusap air matanya, entah berpikir itu nyata ataupun mungkin sekadar rekayasa.&#xA;&#xA;Pemikirannya sibuk demi memikirkan itu saja. Dia melupakan fakta, kalau ia seharusnya malu dengan situasi itu. Hanya tidak tahu mengapa, penampilan dia terlihat samar-samar.&#xA;&#xA;Percayalah, Hizafa Rein benar-benar sedang ada dalam kondisi yang waras. Namun, sekarang ia menepuk-nepuk wajahnya menyadarkan diri kembali kehidupan nyata.&#xA;&#xA;Kenangan masa lalunya tak begitu tragis, namun sering dikatakan ironis. Ya, anggap saja semuanya baik-baik saja. Rein berkutat dengan buku yang dibawanya. Ia mendapati benda tersebut meja di mana, ia berbaring.&#xA;&#xA;Tetapi, tiada seseorang pun di sana. Kalau dikatakan mendengar nama, tidak juga. Lagi pula, Rein bukanlah orang yang mudah mengingat wajah. Iya bisa dengan mudah melupakannya.&#xA;&#xA;Cukup parah ketimbang Hizamara Fauraza; teman dekatnya, kalau tidak salah. Ia tidak begitu yakin, apakah orang berada seperti Fauraza itu menganggapnya sebagai teman atau bukan? Dia membuang jauh pemikiran demikian.&#xA;&#xA;&#34;Hizafa Rein, hei? Perhatikan jalanmu.&#34;&#xA;&#xA;Sebuah tangan menarik pergelangan tangannya. Kebiasaan melamun yang sangat buruk! Mereka mulai bertatapan, namun sekarang ia tidak percaya dengan apa yang menjadi atensi iris mata miliknya.&#xA;&#xA;Netra yang sama, gaya bicara yang sama, penampilan yang sama. Tetapi satu yang berbeda, figur itu tampak lebih tua. Bersama seseorang yang entah asing atau mungkin tidak? Ia tak ingin mengingatnya, jikalau bisa.&#xA;&#xA;Tidak ingin mengingatnya, kenapa? Ia seketika membatin. Ada apa dengan kata hatinya sekarang, yang tak sesuai dengan pernyataan jiwa raga diri.&#xA;&#xA;&#34;Lihat, tiada yang berbeda dari dulu hingga sekarang. Terkadang dirimu masih suka ceroboh, Rein.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Huh, apa maksudnya?&#34; Merasa tidak terima, Rein mulai menegur. Ia menepis kenyataan kalau sekarang mungkin saja ia sudah bersikap tidak sopan dengan yang lebih tua.&#xA;&#xA;Kurva membentuk pola pada wajah, tetapi kenapa semua itu menjadi tawa terumbar? Ah, jangan katakan kalau mereka hanya akan menertawakan Rein sekarang.&#xA;&#xA;&#34;Apa yang lucu—&#34;&#xA;&#xA;Hidung miliknya dijepit oleh tangan pemuda disamping wanita yang mungkin bisa dikatakan mirip dengannya.&#xA;&#xA;&#34;Kamu memang lucu, ya. Setelah aku coba bangunkan, tidak bangun-bangun. Namun, malah berkeliling di masa depan.&#34;&#xA;&#xA;Menyentak tangan pemuda itu. Ia merasa geram terhadapnya. &#34;Sakit tahu,&#34; jeda Rein sejenak sebelum akhirnya berucap kembali, &#34;Lalu, apa maksudnya itu? Aku itu sudah bangun, buktinya aku sudah disini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Shika, kau ini. Jangan berbicara seperti itu!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Wah, apakah seorang Rein bisa malu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ugh, kau itu, ya!?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Fufu~ jangan seperti ini ya, di masa depan, kalau bisa.&#34;&#xA;&#xA;Rein mengernyitkan alis, ia benar-benar tak menerima jawabannya. Katakanlah bawa diri sedikit kurang peka, tapi memang pada dasarnya demikianlah ia.&#xA;&#xA;Perutnya terasa sakit sekarang, sungguh tak mendukung kondisi. Akan tetapi saat itu jugalah, ia menyadari sesuatu, sewaktu ia membuka matanya.&#xA;&#xA;Sosok yang sama, gaya bicara yang sama, dengan iris mata yang sama, hadir di hadapannya.&#xA;&#xA;&#34;Aduh, yang benar saja. Rein sungguh melewati masa itu, ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Huft, kalau begitu bagaimana selanjutnya? Ingin berubah atau tetap berjalan sesuai dengan apa yang terjadi sekarang? Oh, jangan lupa pikirkan risikonya juga, ya?&#34;&#xA;&#xA;Rein penasaran, lantas ia mendekat figur indah tersebut. Dengan posisi yang tidak lebih dari beberapa senti itu, Rein mulai berujar sesuatu.&#xA;&#xA;&#34;Kau itu ...,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hm, aku kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tsukihiko Yoshikazu, &#39;kan? Sekaligus, orang dalam mimpi itu?&#34;&#xA;&#xA;Tiada balasan. Namun, senyuman tersirat pada ekspresi wajah laki-laki itu. Beberapa detik setelahnya, Rein menyadari bahwa sangat tidak pantas berada dalam kondisi seperti itu.&#xA;&#xA;&#34;Benar, kok. Tiada jawaban yang salah. Oh, lalu yang tadi bersamaku itu, sosokmu ketika dewasa nanti, lho. Cantik, ya?&#34;&#xA;&#xA;Usai mengatakan itu, bantal ditujukan oleh Rein kepada laki-laki yang berada tidak jauh di hadapannya. Tentu saja tidak kena, karena beruntung laki-laki tersebut mendapatkan bantalnya sebelum mengenai wajah indah milik dia.&#xA;&#xA;&#34;Kau benar-benar menyebalkan, seperti dulu!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oya? Kupikir Rein lupa. Tidak kusangka, teman masa kecilku ingat itu. Padahal dulu sering sekali melupakannya~&#34;&#xA;&#xA;&#34;Baik, aku akan lupakan, sesuai keinginanmu.&#34;&#xA;&#xA;Tangan langsung menyentuh pergelangan milik dia. &#34;Jangan begitu, aku tidak mau lagi dilupakan. Rasanya ada bagian diriku yang menghilang, tau.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hah, sekitar sepuluh tahun saja. Tidak lebih,&#34; gumamnya.&#xA;&#xA;Kembali usil, tangan milik Yoshikazu menarik kedua pipi Rein. Ia merasa gemas dengannya. &#34;Itu sangat lama, Rein-ku sayang.&#34;&#xA;&#xA;Rein segera menyingkirkan tangan milik Yoshikazu. &#34;Apa sayang-sayang? Sayangi dulu keluargamu sana, terutama Shiyu-san,&#34; sinisnya.&#xA;&#xA;&#34;Aduh, kejamnya. Padahal Rein tahu, kalau hubunganku dengan Nee-san tidak baik.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh, iya. Maaf lupa.&#34;&#xA;&#xA;Hingga sebuah pintu menyatakan seseorang gadis yang mirip dengannya, &#34;Rein!&#34; Dia berteriak, kemudian menghambur ke pelukan sosok yang ia sebut namanya.&#xA;&#xA;Yoshikazu? Dia sudah menyingkir dari tempat itu. Beranggapan, sesi keluarga tak boleh dihalangi oleh dia yang tiada sangkut pautnya.&#xA;&#xA;&#34;Kak, jangan erat-erat dong.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah, maaf kelepasan. Soalnya, Rein menghilang dari pandanganku, huh. Lalu, dia yang tadi bersamamu itu ....&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Original Fiction.
<em>Day 13 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:OCstober2022" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">OCstober2022</span></a>.</em></p></blockquote>

<p><em>As you would normally expect.</em> </p>

<hr/>

<p><em>“Siapa?” tanyanya pelan.</em></p>

<p><em>“Seseorang yang membawamu kemari.”</em></p>

<p>Gadis itu melamun memikirkannya. Hari itu, seolah bukan kali pertama pertemuan mereka. Hanyut dalam pemikiran pribadi, ia tampak memikirkan kejadian yang belum lama.</p>

<p>Ya, walaupun kejadian itu asalnya dari mimpi. Ia masih bisa merasakan jari-jemari hangat mengusap air matanya, entah berpikir itu nyata ataupun mungkin sekadar rekayasa.</p>

<p>Pemikirannya sibuk demi memikirkan itu saja. Dia melupakan fakta, kalau ia seharusnya malu dengan situasi itu. Hanya tidak tahu mengapa, penampilan dia terlihat samar-samar.</p>

<p>Percayalah, Hizafa Rein benar-benar sedang ada dalam kondisi yang waras. Namun, sekarang ia menepuk-nepuk wajahnya menyadarkan diri kembali kehidupan nyata.</p>

<p>Kenangan masa lalunya tak begitu tragis, namun sering dikatakan ironis. Ya, anggap saja semuanya baik-baik saja. Rein berkutat dengan buku yang dibawanya. Ia mendapati benda tersebut meja di mana, ia berbaring.</p>

<p>Tetapi, tiada seseorang pun di sana. Kalau dikatakan mendengar nama, tidak juga. Lagi pula, Rein bukanlah orang yang mudah mengingat wajah. Iya bisa dengan mudah melupakannya.</p>

<p>Cukup parah ketimbang Hizamara Fauraza; teman dekatnya, kalau tidak salah. Ia tidak begitu yakin, apakah orang berada seperti Fauraza itu menganggapnya sebagai teman atau bukan? Dia membuang jauh pemikiran demikian.</p>

<p>“Hizafa Rein, hei? Perhatikan jalanmu.”</p>

<p>Sebuah tangan menarik pergelangan tangannya. Kebiasaan melamun yang sangat buruk! Mereka mulai bertatapan, namun sekarang ia tidak percaya dengan apa yang menjadi atensi iris mata miliknya.</p>

<p>Netra yang sama, gaya bicara yang sama, penampilan yang sama. Tetapi satu yang berbeda, figur itu tampak lebih tua. Bersama seseorang yang entah asing atau mungkin tidak? Ia tak ingin mengingatnya, jikalau bisa.</p>

<p><em>Tidak ingin mengingatnya, kenapa?</em> Ia seketika membatin. Ada apa dengan kata hatinya sekarang, yang tak sesuai dengan pernyataan jiwa raga diri.</p>

<p><em>“Lihat, tiada yang berbeda dari dulu hingga sekarang. Terkadang dirimu masih suka ceroboh, Rein.”</em></p>

<p>“Huh, apa maksudnya?” Merasa tidak terima, Rein mulai menegur. Ia menepis kenyataan kalau sekarang mungkin saja ia sudah bersikap tidak sopan dengan yang lebih tua.</p>

<p>Kurva membentuk pola pada wajah, tetapi kenapa semua itu menjadi tawa terumbar? Ah, jangan katakan kalau mereka hanya akan menertawakan Rein sekarang.</p>

<p>“Apa yang lucu—”</p>

<p>Hidung miliknya dijepit oleh tangan pemuda disamping wanita yang mungkin bisa dikatakan mirip dengannya.</p>

<p>“Kamu memang lucu, ya. Setelah aku coba bangunkan, <em>tidak bangun-bangun.</em> Namun, malah <em>berkeliling di masa depan.</em>“</p>

<p>Menyentak tangan pemuda itu. Ia merasa geram terhadapnya. “Sakit tahu,” jeda Rein sejenak sebelum akhirnya berucap kembali, “Lalu, apa maksudnya itu? Aku itu sudah bangun, buktinya aku sudah disini.”</p>

<p><em>“Shika, kau ini. Jangan berbicara seperti itu!”</em></p>

<p><em>“Wah, apakah seorang Rein bisa malu?”</em></p>

<p><em>“Ugh, kau itu, ya!?”</em></p>

<p>“Fufu~ jangan seperti ini ya, di masa depan, <em>kalau bisa.</em>“</p>

<p>Rein mengernyitkan alis, ia benar-benar tak menerima jawabannya. Katakanlah bawa diri sedikit kurang peka, tapi memang pada dasarnya demikianlah ia.</p>

<p>Perutnya terasa sakit sekarang, sungguh tak mendukung kondisi. Akan tetapi saat itu jugalah, ia menyadari sesuatu, sewaktu ia membuka matanya.</p>

<p>Sosok yang sama, gaya bicara yang sama, dengan iris mata yang sama, hadir di hadapannya.</p>

<p>“Aduh, yang benar saja. Rein sungguh <em>melewati masa</em> itu, ya?”</p>

<p>“Ya.”</p>

<p>“Huft, kalau begitu bagaimana selanjutnya? <em>Ingin berubah</em> atau tetap <em>berjalan sesuai</em> dengan apa yang <em>terjadi sekarang</em>? Oh, jangan lupa <em>pikirkan risikonya</em> juga, ya?”</p>

<p>Rein penasaran, lantas ia mendekat figur indah tersebut. Dengan posisi yang tidak lebih dari beberapa senti itu, Rein mulai berujar sesuatu.</p>

<p>“Kau itu ...,”</p>

<p>“Hm, aku kenapa?”</p>

<p>“Tsukihiko Yoshikazu, &#39;kan? Sekaligus, orang dalam mimpi itu?”</p>

<p>Tiada balasan. Namun, senyuman tersirat pada ekspresi wajah laki-laki itu. Beberapa detik setelahnya, Rein menyadari bahwa sangat tidak pantas berada dalam kondisi seperti itu.</p>

<p>“Benar, kok. Tiada jawaban <em>yang salah</em>. Oh, lalu yang tadi bersamaku itu, <em>sosokmu</em> ketika dewasa nanti, lho. Cantik, ya?”</p>

<p>Usai mengatakan itu, bantal ditujukan oleh Rein kepada laki-laki yang berada tidak jauh di hadapannya. Tentu saja tidak kena, karena beruntung laki-laki tersebut mendapatkan bantalnya sebelum mengenai wajah indah milik dia.</p>

<p>“Kau benar-benar menyebalkan, <em>seperti dulu!</em>“</p>

<p>“Oya? Kupikir Rein lupa. Tidak kusangka, <em>teman masa kecilku</em> ingat itu. Padahal dulu sering sekali melupakannya~”</p>

<p>“Baik, aku akan lupakan, sesuai keinginanmu.”</p>

<p>Tangan langsung menyentuh pergelangan milik dia. “Jangan begitu, aku tidak mau lagi dilupakan. Rasanya ada <em>bagian diriku</em> yang <em>menghilang</em>, tau.”</p>

<p>“Hah, sekitar sepuluh tahun saja. Tidak lebih,” gumamnya.</p>

<p>Kembali usil, tangan milik Yoshikazu menarik kedua pipi Rein. Ia merasa gemas dengannya. “Itu sangat lama, Rein-ku sayang.”</p>

<p>Rein segera menyingkirkan tangan milik Yoshikazu. “Apa sayang-sayang? Sayangi dulu keluargamu sana, terutama Shiyu-<em>san</em>,” sinisnya.</p>

<p>“Aduh, kejamnya. Padahal Rein tahu, kalau <em>hubunganku</em> dengan <em>Nee-san</em> tidak baik.”</p>

<p>“Oh, iya. Maaf lupa.”</p>

<p>Hingga sebuah pintu menyatakan seseorang gadis yang mirip dengannya, “Rein!” Dia berteriak, kemudian menghambur ke pelukan sosok yang ia sebut namanya.</p>

<p>Yoshikazu? Dia sudah menyingkir dari tempat itu. Beranggapan, sesi keluarga tak boleh dihalangi oleh dia yang tiada sangkut pautnya.</p>

<p>“Kak, jangan erat-erat dong.”</p>

<p>“Ah, maaf kelepasan. Soalnya, Rein menghilang dari pandanganku, huh. Lalu, dia yang tadi bersamamu itu ....”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/melampaui-masa</guid>
      <pubDate>Sun, 30 Oct 2022 06:01:06 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Kenangan Masa Lalu.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/kenangan-masa-lalu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Original Fiction.&#xA;  Day 12 of #OCstober2022.&#xA;&#xA;Engraved in the soul, not necessarily remembered in the heart. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Bagaimana kalau dirimu bisa kembali ke masa lalu? Apakah ada kemungkinan baru untuk dirimu, mengubah masa lalu?&#xA;&#xA;Kisah seorang wanita, yang baru saja menyadari bahwa adanya keadaan disekitar kelihatan aneh. Sedikit lebih terlihat pepohonan. Ah! Jangan bilang ....&#xA;&#xA;Suasana yang tidak asing menyeruak masuk kedalam diri. Tak mampu dengan semua ini, lamunan pun membuyar secara sadar.&#xA;&#xA;Kewaspadaannya menurun. Ia tidak bisa kembali, seolah dunia ini menghadirkan dirinya dalam wujud lain. Tidak mengapa, seseorang dihadapannya itu cukup mirip dengan satu orang.&#xA;&#xA;Dia menyentuh ujung pakaian yang dikenakan sang wanita. Meski hanya sekadar menoleh sejenak. Ia telah menyadari sesuatu. Untuk sekian ini, kehangatkan akan memeluk tubuh ini.&#xA;&#xA;Seperti, rasa bebas tanpa gangguan apapun. Mengambil posisi yang bagus untuk menatap seorang anak kecil yang menarik pakaiannya.&#xA;&#xA;&#34;Eh, seorang anak kecil?&#34; gumamnya pelan, mengambil posisi untuk menunduk menyeimbangkan tinggi dengan seorang anak dihadapannya.&#xA;&#xA;&#34;Aku bukan anak kecil lagi, tetapi siapa Kakak?&#34;&#xA;&#xA;Suara manis, ah, tidak. Suara lucu nan menggemaskan itu keluar dari mulut anak tersebut. Ialah anak perempuan, yang kini memperhatikan dirinya.&#xA;&#xA;Lantas diri tergagap. &#34;Ah, itu ...,&#34; ucapannya terjeda sekaligus terpotong oleh seseorang yang menyahuti.&#xA;&#xA;&#34;Rein, ada apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh, Ayah sudah pulang? Aku disini, bersama Kakak yang sangat cantik.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Seorang kakak cantik?&#34; Suara tersebut menyahut. Langkah kaki pun menjadi terdengar.&#xA;&#xA;Dengan berbisik perempuan itu mengatakan, &#34;Em, itu tidaklah benar. Menurutku, kamu yang lebih cantik.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Wah, terima kasih atas pujiannya.&#34;&#xA;&#xA;Malu. Anak perempuan itu menunduk malu. Ia senang dipuji seperti itu, terkadang ia menginginkannya beberapa hari lalu.&#xA;&#xA;&#34;Oh, selamat siang—&#34;&#xA;&#xA;Perkataan itu berhenti. Entah mengapa, keduanya terlihat kaget. Dalam pandangan wanita itu, ada apa? Mengapa mereka kaget? Ah, tak disangka olehnya. Ia sungguh menangis.&#xA;&#xA;Tidak mengerti apa yang terjadi sekarang, ia seolah melihat masa kecilnya dahulu. Bersama sosok Ayah yang sudah lama bersamanya selama di negara itu.&#xA;&#xA;Ia rindu, tetapi ia lebih rindu dengan keluarganya berkumpul. Kala itu, ia; anak perempuan tersebut masih bisa bercanda ria karena kedatangan wanita dari masa depan di depan rumahnya, yang tak lain adalah dirinya dikemudian hari.&#xA;&#xA;Sulit mengatakan kalau ia harus melewati ini semua. Sampai gerakan tangan terulur mengusap sudut matanya. Ah? Tunggu, dia masih berada di lokasi itu dengan sosok di masa kecilnya.&#xA;&#xA;&#34;Kakak tidak apa-apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah, maaf ya, sudah membuat dirimu terkejut.&#34;&#xA;&#xA;Sejujurnya mungkin si Ayah akan merasa heran. Bawasannya, Rein; anak perempuan kecil itu mengutarakan kalimat dengan Bahasa Jepang dan bukanlah Bahasa Indonesia.&#xA;&#xA;Memikirkannya saja, mungkin ia mengira kalau wanita ini mengerti Bahasa Jepang. Namun, sedikit tidak begitu asing bagi dirinya sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Hum~ wajar saja Kak Rein menangis. Kakak &#39;kan akhirnya bisa bertemu dengan Ayah lagi, di masa lalu.&#34;&#xA;&#xA;Astaga, Rein benar-benar tidak percaya. Ya, dia wanita itu tidak percaya kalau anak perempuan tersebut mengetahuinya adalah dia; anak kecil itu di masa depan.&#xA;&#xA;&#34;Baiklah, rupanya seperti itu. Aku bisa mengerti, dan jagalah dirimu baik-baik dengan Rain, anakku.&#34;&#xA;&#xA;Meski mulai terdengar samar-samar. Tak kuasa, tangisan kembali hadir. Sungguh, Rein tak mampu menahannya. Padahal, biasa ia bisa melakukan hal itu. Tetapi, sekarang gagal. Ia telah menangisi semua itu.&#xA;&#xA;Sampai akhirnya , suara yang asing menyadarkan dia. &#34;Hizafa Rein, tolong bangun, ya?&#34; Netra hijau milik Rein melihatnya samar-samar, &#34;Siapa?&#34; ujarnya pelan.&#xA;&#xA;&#34;Seseorang yang membawamu kemari.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Original Fiction.
<em>Day 12 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:OCstober2022" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">OCstober2022</span></a>.</em></p></blockquote>

<p><em>Engraved in the soul, not necessarily remembered in the heart.</em> </p>

<hr/>

<p>Bagaimana kalau dirimu bisa kembali ke masa lalu? Apakah ada kemungkinan baru untuk dirimu, mengubah masa lalu?</p>

<p>Kisah seorang wanita, yang baru saja menyadari bahwa adanya keadaan disekitar kelihatan aneh. Sedikit lebih terlihat pepohonan. Ah! Jangan bilang ....</p>

<p>Suasana yang tidak asing menyeruak masuk kedalam diri. Tak mampu dengan semua ini, lamunan pun membuyar secara sadar.</p>

<p>Kewaspadaannya menurun. Ia tidak bisa kembali, seolah dunia ini menghadirkan dirinya dalam wujud lain. Tidak mengapa, seseorang dihadapannya itu cukup mirip dengan satu orang.</p>

<p>Dia menyentuh ujung pakaian yang dikenakan sang wanita. Meski hanya sekadar menoleh sejenak. Ia telah menyadari sesuatu. Untuk sekian ini, kehangatkan akan memeluk tubuh ini.</p>

<p>Seperti, rasa bebas tanpa gangguan apapun. Mengambil posisi yang bagus untuk menatap seorang anak kecil yang menarik pakaiannya.</p>

<p>“Eh, seorang anak kecil?” gumamnya pelan, mengambil posisi untuk menunduk menyeimbangkan tinggi dengan seorang anak dihadapannya.</p>

<p>“Aku bukan anak kecil lagi, tetapi siapa Kakak?”</p>

<p>Suara manis, ah, tidak. Suara lucu nan menggemaskan itu keluar dari mulut anak tersebut. Ialah anak perempuan, yang kini memperhatikan dirinya.</p>

<p>Lantas diri tergagap. “Ah, itu ...,” ucapannya terjeda sekaligus terpotong oleh seseorang yang menyahuti.</p>

<p>“Rein, ada apa?”</p>

<p>“Oh, Ayah sudah pulang? Aku disini, bersama Kakak yang sangat cantik.”</p>

<p>“Seorang kakak cantik?” Suara tersebut menyahut. Langkah kaki pun menjadi terdengar.</p>

<p>Dengan berbisik perempuan itu mengatakan, “Em, itu tidaklah benar. Menurutku, kamu yang lebih cantik.”</p>

<p>“Wah, terima kasih atas pujiannya.”</p>

<p>Malu. Anak perempuan itu menunduk malu. Ia senang dipuji seperti itu, terkadang ia menginginkannya beberapa hari lalu.</p>

<p>“Oh, selamat siang—”</p>

<p>Perkataan itu berhenti. Entah mengapa, keduanya terlihat kaget. Dalam pandangan wanita itu, ada apa? Mengapa mereka kaget? Ah, tak disangka olehnya. Ia sungguh menangis.</p>

<p>Tidak mengerti apa yang terjadi sekarang, ia seolah melihat masa kecilnya dahulu. Bersama sosok Ayah yang sudah lama bersamanya selama di negara itu.</p>

<p>Ia rindu, tetapi ia lebih rindu dengan keluarganya berkumpul. Kala itu, ia; anak perempuan tersebut masih bisa bercanda ria karena kedatangan wanita dari masa depan di depan rumahnya, yang tak lain adalah dirinya dikemudian hari.</p>

<p>Sulit mengatakan kalau ia harus melewati ini semua. Sampai gerakan tangan terulur mengusap sudut matanya. Ah? Tunggu, dia masih berada di lokasi itu dengan sosok di masa kecilnya.</p>

<p>“Kakak tidak apa-apa?”</p>

<p>“Ah, maaf ya, sudah membuat dirimu terkejut.”</p>

<p>Sejujurnya mungkin si Ayah akan merasa heran. Bawasannya, Rein; anak perempuan kecil itu mengutarakan kalimat dengan Bahasa Jepang dan bukanlah Bahasa Indonesia.</p>

<p>Memikirkannya saja, mungkin ia mengira kalau wanita ini mengerti Bahasa Jepang. Namun, sedikit tidak begitu asing bagi dirinya sendiri.</p>

<p><em>“Hum~ wajar saja Kak Rein menangis. Kakak &#39;kan akhirnya bisa bertemu dengan Ayah lagi, di masa lalu.”</em></p>

<p>Astaga, Rein benar-benar tidak percaya. Ya, dia wanita itu tidak percaya kalau anak perempuan tersebut mengetahuinya adalah dia; anak kecil itu di masa depan.</p>

<p><em>“Baiklah, rupanya seperti itu. Aku bisa mengerti, dan jagalah dirimu baik-baik dengan Rain, anakku.”</em></p>

<p>Meski mulai terdengar samar-samar. Tak kuasa, tangisan kembali hadir. Sungguh, Rein tak mampu menahannya. Padahal, biasa ia bisa melakukan hal itu. Tetapi, sekarang gagal. Ia telah menangisi semua itu.</p>

<p>Sampai akhirnya , suara yang asing menyadarkan dia. “Hizafa Rein, tolong bangun, ya?” Netra hijau milik Rein melihatnya samar-samar, “Siapa?” ujarnya pelan.</p>

<p>“Seseorang yang membawamu kemari.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/kenangan-masa-lalu</guid>
      <pubDate>Sun, 23 Oct 2022 09:06:59 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Hate Servant Family.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/hate-servant-family?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Orginal Fiction.&#xA;  Day 9 of #OCstober2022.&#xA;&#xA;For him to hate is not right. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Bilamana kejadian tersebut telah tersampai ketelinga majikannya saat ini. Sungguh, dia sangat membencinya.&#xA;&#xA;Beberapa pelayan, telah menyinggung tentang kehidupan seorang pelayan yang tiba-tiba menjadi seorang kepala pelayan, padahal belum lama hadir ke kediaman majikan kecil mereka.&#xA;&#xA;Berat rasanya, tuk menjelaskan. Hal itu malah menambah trauma untuk pelayan barunya. Dia mencoba bertanya, meskipun enggan ia tetap harus mengetahui apa penyebabnya.&#xA;&#xA;Bagaimana pun juga, majikan kecil itu cukup peka, kalau seseorang menatapnya sedikit berbeda. Ya, berbeda kalau dirinya sudah beranjak dewasa nanti, entah apakah ia masih akan peka terhadap sekitar, tiada yang mengetahuinya.&#xA;&#xA;Pelayan baru itu; Reinou. Meski itu bukanlah nama asli, tetapi nama baru dari sang majikan. Ia tidak mempermasalahkannya. Malah sebaliknya, ia cukup menyukai nama tersebut.&#xA;&#xA;Padahal ia baru saja satu bulan memasuki Akademi khusus itu. Tetapi, malah dirinya yang dipilih, ketimbang orang lain yang mungkin cukup handal.&#xA;&#xA;Perbandingan usia terpaut tiga tahun. Saat itu, dia memasuki usia lima belas, sementara majikan kecilnya berusia dua belas tahun.&#xA;&#xA;Kalau dipikir kembali, pelayan tersebut; Reinou itu pernah melewati beberapa tahun untuk tidak bersekolah, karena pemicu traumanya masih terasa.&#xA;&#xA;Alasan mengapa majikan kecilnya selalu memperhatikan dia, adalah karena hal ini. Hizamara Fauraza itu mengkhawatirkan dirinya, sebagai salah satu pelayan dan mungkin saja sahabatnya.&#xA;&#xA;Untuk usia sekitaran itu, Fauraza belum memiliki teman seusianya. Selain itu, kakaknya pula tidak begitu meliriknya karena harus memperjuangkan nilai-nilainya.&#xA;&#xA;Hanya Fauraza yang bisa dikatakan lebih dekat dengan keluarga barunya, seperti pelayan. Dikata kaya, tidak juga. Namun hal itu berupa keharusan. Ya, harus demikian. Tetapi, lupakan saja itu.&#xA;&#xA;&#34;Reinou ... Apakah kau pernah membenci mereka?&#34;&#xA;&#xA;Pelayannya tersentak. Untuk anak usia muda, majikannya bisa dengan mudah mengatakan benci. Meski dengan keraguan, untuk memastikan. Reinou pada akhirnya menggelengkan kepala. Tidak sanggup, dia tidak akan pernah merasa pantas kalau harus membenci keluarganya.&#xA;&#xA;&#34;Saya ... Tidak akan pernah bisa melakukan hal seperti itu, Nona.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mengapa? Apa alasannya? Bukankah mereka telah membuat Reinou, jadi seperti sekarang?&#34;&#xA;&#xA;Pertanyaan beruntun keluar dari majikannya. Rasa perih tertahan dalam hati mungilnya. Dia benar-benar tidak sanggup. Mengapa juga ada pelayan lain mengumbar asal-usul kehidupan dirinya? Berpikir pula, apakah tiada privasi antar pelayan ataupun pelayan dan majikannya?&#xA;&#xA;Reinou berucap yakin, &#34;Karena mereka adalah keluarga pertama saya, Nona. Sebelum akhirnya saya diusir dan diadopsi kembali,&#34; jelasnya.&#xA;&#xA;Dia yang masih berusia muda itu, menangis. Semakin berada di tempat ini, ia jadi merindukan keluarganya. Meski tak pernah kepikiran, jawaban seperti apa yang dikatakan oleh Reinou saat itu.&#xA;&#xA;&#34;Kalau begitu, aku akan membenci mereka untukmu.&#34;&#xA;&#xA;Reinou merasa kebingungan. Pelayan di kediaman pun tak ingin ambil pusing, mereka seolah membiarkan urusan tersebut diatasi oleh dirinya seorang. Apakah itu aturan di kediaman ini? Ia tidak mengetahuinya secara pasti.&#xA;&#xA;Dengan ragu, Reinou mencoba mengusap air mata yang mengalir diwajah majikannya. Akibat sudah memasuki usia itu, Fauraza ikut memahami dan mengerti betapa sulitnya kehidupan yang dialami oleh Reinou seorang diri.&#xA;&#xA;&#34;Tetapi, Nona ... membenci itu adalah hal yang tidak dibenarkan.&#34;&#xA;&#xA;Fauraza mendekap kedalam pelukan Reinou, tanpa permisi. Ia menyembunyikan rasa malunya. &#34;Aku tahu, tapi aku ingin melakukan hal itu untuk Reinou.&#34;&#xA;&#xA;Reinou yang tersentak, dia hanya bisa menatap kelakuan majikan kecilnya ini. Perbandingan tinggi tidaklah begitu jauh, jadi Reinou masih bisa mengelus kepalanya Fauraza, setelah mendapatkan persetujuan dari sang empu.&#xA;&#xA;Momen yang sangat mengharukan, hanya sekedar tuk membenci seorang keluarga pelayan. ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Orginal Fiction.
<em>Day 9 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:OCstober2022" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">OCstober2022</span></a>.</em></p></blockquote>

<p><em>For him to hate is not right.</em> </p>

<hr/>

<p>Bilamana kejadian tersebut telah tersampai ketelinga majikannya saat ini. Sungguh, dia sangat membencinya.</p>

<p>Beberapa pelayan, telah menyinggung tentang kehidupan seorang pelayan yang tiba-tiba menjadi seorang kepala pelayan, padahal belum lama hadir ke kediaman majikan kecil mereka.</p>

<p>Berat rasanya, tuk menjelaskan. Hal itu malah menambah trauma untuk pelayan barunya. Dia mencoba bertanya, meskipun enggan ia tetap harus mengetahui apa penyebabnya.</p>

<p>Bagaimana pun juga, majikan kecil itu cukup peka, kalau seseorang menatapnya sedikit berbeda. Ya, berbeda kalau dirinya sudah beranjak dewasa nanti, entah apakah ia masih akan peka terhadap sekitar, tiada yang mengetahuinya.</p>

<p>Pelayan baru itu; Reinou. Meski itu bukanlah nama asli, tetapi nama baru dari sang majikan. Ia tidak mempermasalahkannya. Malah sebaliknya, ia cukup menyukai nama tersebut.</p>

<p>Padahal ia baru saja satu bulan memasuki Akademi khusus itu. Tetapi, malah dirinya yang dipilih, ketimbang orang lain yang mungkin cukup handal.</p>

<p>Perbandingan usia terpaut tiga tahun. Saat itu, dia memasuki usia lima belas, sementara majikan kecilnya berusia dua belas tahun.</p>

<p>Kalau dipikir kembali, pelayan tersebut; Reinou itu pernah melewati beberapa tahun untuk tidak bersekolah, karena pemicu traumanya masih terasa.</p>

<p>Alasan mengapa majikan kecilnya selalu memperhatikan dia, adalah karena hal ini. Hizamara Fauraza itu mengkhawatirkan dirinya, sebagai salah satu pelayan dan mungkin saja sahabatnya.</p>

<p>Untuk usia sekitaran itu, Fauraza belum memiliki teman seusianya. Selain itu, kakaknya pula tidak begitu meliriknya karena harus memperjuangkan nilai-nilainya.</p>

<p>Hanya Fauraza yang bisa dikatakan lebih dekat dengan keluarga barunya, seperti pelayan. Dikata kaya, tidak juga. Namun hal itu berupa keharusan. Ya, harus demikian. Tetapi, lupakan saja itu.</p>

<p>“Reinou ... Apakah kau pernah membenci mereka?”</p>

<p>Pelayannya tersentak. Untuk anak usia muda, majikannya bisa dengan mudah mengatakan benci. Meski dengan keraguan, untuk memastikan. Reinou pada akhirnya menggelengkan kepala. Tidak sanggup, dia tidak akan pernah merasa pantas kalau harus membenci keluarganya.</p>

<p>“Saya ... Tidak akan pernah bisa melakukan hal seperti itu, Nona.”</p>

<p>“Mengapa? Apa alasannya? Bukankah mereka telah membuat Reinou, jadi seperti sekarang?”</p>

<p>Pertanyaan beruntun keluar dari majikannya. Rasa perih tertahan dalam hati mungilnya. Dia benar-benar tidak sanggup. Mengapa juga ada pelayan lain mengumbar asal-usul kehidupan dirinya? Berpikir pula, apakah tiada privasi antar pelayan ataupun pelayan dan majikannya?</p>

<p>Reinou berucap yakin, “Karena mereka adalah keluarga pertama saya, Nona. Sebelum akhirnya saya diusir dan diadopsi kembali,” jelasnya.</p>

<p>Dia yang masih berusia muda itu, menangis. Semakin berada di tempat ini, ia jadi merindukan keluarganya. Meski tak pernah kepikiran, jawaban seperti apa yang dikatakan oleh Reinou saat itu.</p>

<p>“Kalau begitu, aku akan membenci mereka untukmu.”</p>

<p>Reinou merasa kebingungan. Pelayan di kediaman pun tak ingin ambil pusing, mereka seolah membiarkan urusan tersebut diatasi oleh dirinya seorang. Apakah itu aturan di kediaman ini? Ia tidak mengetahuinya secara pasti.</p>

<p>Dengan ragu, Reinou mencoba mengusap air mata yang mengalir diwajah majikannya. Akibat sudah memasuki usia itu, Fauraza ikut memahami dan mengerti betapa sulitnya kehidupan yang dialami oleh Reinou seorang diri.</p>

<p>“Tetapi, Nona ... membenci itu adalah hal yang tidak dibenarkan.”</p>

<p>Fauraza mendekap kedalam pelukan Reinou, tanpa permisi. Ia menyembunyikan rasa malunya. “Aku tahu, tapi aku ingin melakukan hal itu untuk Reinou.”</p>

<p>Reinou yang tersentak, dia hanya bisa menatap kelakuan majikan kecilnya ini. Perbandingan tinggi tidaklah begitu jauh, jadi Reinou masih bisa mengelus kepalanya Fauraza, setelah mendapatkan persetujuan dari sang empu.</p>

<p>Momen yang sangat mengharukan, hanya sekedar tuk membenci seorang keluarga pelayan.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/hate-servant-family</guid>
      <pubDate>Sat, 15 Oct 2022 16:21:56 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>With You.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/with-you?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Original Fiction.&#xA;  Day 8 of #OCstober2022.&#xA;&#xA;When I&#39;m with you, I feel like the happiest person. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Jejak langkah kaki mengitari taman, membuat aku merasakan linglung sesaat. Ya, itu adalah aku; seseorang yang sedari tadi mondar-mandir mengitari taman.&#xA;&#xA;   Rasanya, aku tak pernah bersikap seperti ini ketika bersama Fauraza. Mungkinkah tiada yang aneh terhadap diriku? Kata Fauraza pula, Ryutatsu akan berkunjung kemari.&#xA;&#xA;   Astaga ... Aku tak bisa berpikir jernih sekarang. Bagaimana bisa, aku menghadapi Ryu saat ini? Lupakan, kalau tadinya aku tampak bersemangat.&#xA;&#xA;   Ya, siapa yang tidak bersemangat ketika bertemu seorang yang dikagumi? Sekilas, aku mungkin menyukainya. Ah, tidak dia orang favoritku.&#xA;&#xA;   Haha. Tidak mungkin aku berkata seperti itu, bukan? Faktanya aku adalah laki-laki, jadi hal tersebut tidak akan mungkin. Namun menjadi fanboy sepertinya tidak buruk.&#xA;&#xA;   &#34;Shuu?&#34;&#xA;&#xA;   Sial. Aku tak mengira dia akan cepat datang. Langsung kutolehkan kepala menatapnya, dan mengagumi polesan mimik wajah disana. Sangat indah, ya?&#xA;&#xA;   &#34;Ah, iya. Rupanya Facchan benar-benar melakukannya, ya?&#34; ujarku, seraya tersenyum.&#xA;&#xA;   Namun, dia malah menatapku seolah tak menyukai hal tersebut. Astaga, sepertinya aku telah melakukan kesalahan. Tapi, tapi, kalian memang harus lihat wajahnya begitu menggemaskan!&#xA;&#xA;   &#34;Ya, dia melakukannya. Padahal aku sedang sibuk sekarang,&#34; balasnya cuek.&#xA;&#xA;   Aduh, ini masalah besar. Ayolah, pikirkan caranya. Uh, sebentar disana aku melihat bangku, haruskah aku mengajaknya kesana dan menghiburnya? Tidak, kenapa aku harus berpikir dulu.&#xA;&#xA;   Aku tertawa, karenanya menimbulkan reaksi Ryutatsu; kakaknya Fauraza, sekarang terlihat seperti menagih maksud mengapa aku tertawa.&#xA;&#xA;   &#34;Ahaha, kau bisa menolak melakukannya, kok. Aku pun tak memaksa, ah, apakah Fauraza yang memaksa?&#34; tebakku. Semoga hal itu benar.&#xA;&#xA;   Dia hanya berdeham. &#34;Tidak juga,&#34; katanya. Aku mengerjapkan mata beberapa kali. &#34;Aku sekadar ingin, tidak boleh memangnya?&#34; sambungnya, dengan air muka yang tak bisa aku jabarkan.&#xA;&#xA;   &#34;Boleh dong! Kapan lagi aku bisa berduaan sama Ryu-chan, kalau bukan sekarang?&#34; Aku merangkulnya, sehingga dia kaget.&#xA;&#xA;   Dia kelihatan seperti orang yang sedang ingin mengontrol detak jantungnya. Apakah ia sekaget itu? Baiklah, aku harus meminta maaf, nanti.&#xA;&#xA;   &#34;Padahal, kita sudah sangat sering bertemu. Apakah waktunya kurang? Lalu, jangan memanggilku seperti itu. Aku ‘kan sudah mengingatkan,&#34; sahutnya, membuat aku terkekeh.&#xA;&#xA;   Aku menggenggam tangannya menuju ke suatu bangku dan menyebabkan dia sekarang menggerutu, &#34;Shuu! Bicara dulu kalau mau mengajakku kemari, jangan asal tarik.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Tidak apa-apa. Lalu untuk pertanyaan tadi ..., iya, sangat kurang.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Apa maksudmu?&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ya, bisa dirimu pikirkan. Kalau keseharianmu berada didepan tugas dan pekerjaan, kecuali liburan.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Oh, kalau itu ....&#34;&#xA;&#xA;   Ryutatsu tak melanjutkan perkataannya. Membuat diriku berkedut, tidak menyukai respon seperti tadi.&#xA;&#xA;   Segera aku menghela napas. Entah mengapa sekarang aku ingin menenggelamkan diri dibahu Ryutatsu. Tapi, bisa saja ia tak menginginkan hal tersebut. Lantas, aku memalingkan wajah darinya.&#xA;&#xA;   &#34;Aku tidak tahan.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Hei, ada apa?&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Maaf, kalau tadi sedikit ...,&#34; Aku malah menggantung ucapan, karena kalimat setelahnya tak ingin keluar dari mulut ini.&#xA;&#xA;   &#34;Tidak mengapa. Aku mengerti, lagi pula aku telah diberitahukan oleh Fauraza dan Shiyu, mengenai dirimu.&#34;&#xA;&#xA;   Mataku yang terpejam, langsung melototinya. &#34;A-apa?&#34; Aku masih tidak percaya, kalau Shiyu memberitahukannya. Kalau Fauraza, ya, itu seperti dirinya saja.&#xA;&#xA;   &#34;Kau itu orangnya sulit mengucapkan sesuatu kepada orang yang disukai. Ah, lebih tepatnya kepadaku, benar?&#34;&#xA;&#xA;   Serius, katakan padaku sekarang. Apakah dia Hizamara Ryutatsu yang asli? Aku tak bisa percaya, karena dia tak mungkin bersikap seperti itu!&#xA;&#xA;   Seolah merasa aku kalah dan dirinya menang. Dia kemudian menepuk pundakku, &#34;Aku merasa sedikit bahagia, kalau ternyata ada orang disekitarku itu mengagumiku. Termasuk dirimu, meski tak bisa kubayangkan awalnya. Terima kasih banyak,&#34; jelasnya.&#xA;&#xA;   Lidahku merasa kelu. Tetapi kuusahakan tuk membalas, &#34;I-iya.&#34;&#xA;&#xA;   Kalau saja dirimu mengetahuinya. Saat aku bersama denganmu pertama kali, aku merasa bahwa aku adalah orang yang paling bahagia di dunia ini.&#xA;&#xA;   Semisal aku bisa jujur, pasti akan kukatakan bahwa dirimu adalah orang yang pertama kali aku kagumi.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Original Fiction.
<em>Day 8 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:OCstober2022" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">OCstober2022</span></a>.</em></p></blockquote>

<p><em>When I&#39;m with you, I feel like the happiest person.</em> </p>

<hr/>

<p>   Jejak langkah kaki mengitari taman, membuat aku merasakan linglung sesaat. Ya, itu adalah aku; seseorang yang sedari tadi mondar-mandir mengitari taman.</p>

<p>   Rasanya, aku tak pernah bersikap seperti ini ketika bersama Fauraza. Mungkinkah tiada yang aneh terhadap diriku? Kata Fauraza pula, Ryutatsu akan berkunjung kemari.</p>

<p>   Astaga ... Aku tak bisa berpikir jernih sekarang. Bagaimana bisa, aku menghadapi Ryu saat ini? Lupakan, kalau tadinya aku tampak bersemangat.</p>

<p>   Ya, siapa yang tidak bersemangat ketika bertemu seorang yang dikagumi? Sekilas, aku mungkin menyukainya. Ah, tidak dia orang favoritku.</p>

<p>   <em>Haha.</em> Tidak mungkin aku berkata seperti itu, bukan? Faktanya aku adalah laki-laki, jadi hal tersebut tidak akan mungkin. Namun menjadi <em>fanboy</em> sepertinya tidak buruk.</p>

<p>   “Shuu?”</p>

<p>   Sial. Aku tak mengira dia akan cepat datang. Langsung kutolehkan kepala menatapnya, dan mengagumi polesan mimik wajah disana. Sangat indah, ya?</p>

<p>   “Ah, iya. Rupanya Fa<em>cchan</em> benar-benar melakukannya, ya?” ujarku, seraya tersenyum.</p>

<p>   Namun, dia malah menatapku seolah tak menyukai hal tersebut. Astaga, sepertinya aku telah melakukan kesalahan. Tapi, tapi, kalian memang harus lihat wajahnya begitu menggemaskan!</p>

<p>   “Ya, dia melakukannya. Padahal aku sedang sibuk sekarang,” balasnya cuek.</p>

<p>   Aduh, ini masalah besar. Ayolah, pikirkan caranya. Uh, sebentar disana aku melihat bangku, haruskah aku mengajaknya kesana dan menghiburnya? Tidak, kenapa aku harus berpikir dulu.</p>

<p>   Aku tertawa, karenanya menimbulkan reaksi Ryutatsu; kakaknya Fauraza, sekarang terlihat seperti menagih maksud mengapa aku tertawa.</p>

<p>   “Ahaha, kau bisa menolak melakukannya, kok. Aku pun tak memaksa, <em>ah</em>, apakah Fauraza yang memaksa?” tebakku. Semoga hal itu benar.</p>

<p>   Dia hanya berdeham. “Tidak juga,” katanya. Aku mengerjapkan mata beberapa kali. “Aku sekadar ingin, tidak boleh memangnya?” sambungnya, dengan air muka yang tak bisa aku jabarkan.</p>

<p>   “Boleh dong! Kapan lagi aku bisa berduaan sama Ryu-<em>chan</em>, kalau bukan sekarang?” Aku merangkulnya, sehingga dia kaget.</p>

<p>   Dia kelihatan seperti orang yang sedang ingin mengontrol detak jantungnya. Apakah ia sekaget itu? Baiklah, aku harus meminta maaf, nanti.</p>

<p>   “Padahal, kita sudah sangat sering bertemu. Apakah waktunya kurang? Lalu, jangan memanggilku seperti itu. Aku ‘kan sudah mengingatkan,” sahutnya, membuat aku terkekeh.</p>

<p>   Aku menggenggam tangannya menuju ke suatu bangku dan menyebabkan dia sekarang menggerutu, “Shuu! Bicara dulu kalau mau mengajakku kemari, jangan asal tarik.”</p>

<p>   “Tidak apa-apa. Lalu untuk pertanyaan tadi ..., iya, sangat kurang.”</p>

<p>   “Apa maksudmu?”</p>

<p>   “Ya, bisa dirimu pikirkan. Kalau keseharianmu berada didepan tugas dan pekerjaan, kecuali liburan.”</p>

<p>   “Oh, kalau itu ....”</p>

<p>   Ryutatsu tak melanjutkan perkataannya. Membuat diriku berkedut, tidak menyukai respon seperti tadi.</p>

<p>   Segera aku menghela napas. Entah mengapa sekarang aku ingin menenggelamkan diri dibahu Ryutatsu. Tapi, bisa saja ia tak menginginkan hal tersebut. Lantas, aku memalingkan wajah darinya.</p>

<p>   “Aku tidak tahan.”</p>

<p>   “Hei, ada apa?”</p>

<p>   “Maaf, kalau tadi sedikit ...,” Aku malah menggantung ucapan, karena kalimat setelahnya tak ingin keluar dari mulut ini.</p>

<p>   “Tidak mengapa. Aku mengerti, lagi pula aku telah diberitahukan oleh Fauraza dan Shiyu, mengenai dirimu.”</p>

<p>   Mataku yang terpejam, langsung melototinya. “A-apa?” Aku masih tidak percaya, kalau Shiyu memberitahukannya. Kalau Fauraza, ya, itu seperti dirinya saja.</p>

<p>   “Kau itu orangnya sulit mengucapkan sesuatu kepada orang yang disukai. Ah, lebih tepatnya kepadaku, benar?”</p>

<p>   Serius, katakan padaku sekarang. Apakah dia Hizamara Ryutatsu yang asli? Aku tak bisa percaya, karena dia tak mungkin bersikap seperti itu!</p>

<p>   Seolah merasa aku kalah dan dirinya menang. Dia kemudian menepuk pundakku, “Aku merasa sedikit bahagia, kalau ternyata ada orang disekitarku itu mengagumiku. Termasuk dirimu, meski tak bisa kubayangkan awalnya. Terima kasih banyak,” jelasnya.</p>

<p>   Lidahku merasa kelu. Tetapi kuusahakan tuk membalas, “I-iya.”</p>

<p>   <em>Kalau saja dirimu mengetahuinya. Saat aku bersama denganmu pertama kali, aku merasa bahwa aku adalah orang yang paling bahagia di dunia ini.</em></p>

<p>   <em>Semisal aku bisa jujur, pasti akan kukatakan bahwa dirimu adalah orang yang pertama kali aku kagumi.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/with-you</guid>
      <pubDate>Sun, 09 Oct 2022 02:27:24 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>