<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>meijitokyorenka &amp;mdash; reeinshiyu</title>
    <link>https://reeinshiyu.writeas.com/tag:meijitokyorenka</link>
    <description>Seluruh kisah yang dikhususkan kepada mereka yang berkenan untuk membacanya.</description>
    <pubDate>Thu, 14 May 2026 01:50:34 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Lukisan Hidup.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/lukisan-hidup?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Hishida Shunso × Chikei Naoko.&#xA;  #FaureYume; #ShuNao.&#xA;&#xA;   When alive, the painting begins to look alive.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #MeijiTokyoRenka © Broccoli, TMS Entertainment, LOVE&amp;ARTS, MAGES. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Naoko sedari tadi menggerutu. Sudah beberapa kali ia berkata, &#34;Kau tak pernah sadar ya, itu lukisanmu bergerak terus.&#34;&#xA;&#xA;   Sang empu yang mendengar hanya mengabaikan. Mana ada lukisan yang hidup, ia cukup percaya itu. Bisa saja hal tersebut merupakan halusinasi semata?&#xA;&#xA;   Naoko pada akhirnya menjauh dari dia. Ya, memang benar kalau semenjak bertemu ya mereka, Naoko sudah terbiasa untuk menjaga jarak, ketika apapun terjadi.&#xA;&#xA;   Karena, dia sering kali merasakan saat diri berdekatan dengan laki-laki, ada sensasi yang membuat diri terganggu.&#xA;&#xA;   &#34;Dia tidak mengerti,&#34; gumam lelaki tersebut.&#xA;&#xA;   Kembali, laki-laki itu; Hishida Shunso, berkutat dengan lukisan miliknya. Meskipun ada keraguan tuk bisa menyelesaikan secepatnya. Ia akan berusaha.&#xA;&#xA;   &#34;Shunso-san, apa yang terjadi? Mengapa Naoko-san tiba-tiba mengomel seperti itu?&#34;&#xA;&#xA;   Seorang wanita lain datang menghampirinya. &#34;Entahlah, aku saja tidak mengerti pemikiran dirinya.&#34;&#xA;&#xA;   Ayazuki Mei, wanita itu hanya menghela napas. Tidak mendapatkan jawaban yang bagus, seolah dia sia-sia saja bertanya akan hal ini.&#xA;&#xA;   Tetapi, Mei tidak ambil pusing. Ia langsung mengucapkan permisi, setelah itu. Dengan alasan akan menyusul Naoko. Ya, setidaknya padamkan kekesalan Naoko dahulu, pikirnya.&#xA;&#xA;   &#34;Perempuan seperti mereka memang aneh, ya.&#34;&#xA;&#xA;   Shunso berucap demikian. Jujur saja, kalau perkataan Naoko memanglah kenyataan. Ia pernah melukis figur yang benar-benar hidup, namun setelahnya menghilang dan ditemukan oleh Mei yang bisa melihat sesuatu yang lain itu.&#xA;&#xA;   Rasanya, tidak tenang kalau ia perlu memikirkannya kembali. Kehidupan memang akan berjalan sesuai takdirnya. Kalau saja ada yang paham makna lukisannya. Mungkin dia akan bahgia.&#xA;&#xA;   Hanya saja, mungkin tiada orang seperti itu, selain dirinya.&#xA;&#xA;   End.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Hishida Shunso × Chikei Naoko.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:ShuNao" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">ShuNao</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>When alive, the painting begins to look alive.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:MeijiTokyoRenka" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">MeijiTokyoRenka</span></a> © Broccoli, TMS Entertainment, LOVE&amp;ARTS, MAGES. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   Naoko sedari tadi menggerutu. Sudah beberapa kali ia berkata, <em>“Kau tak pernah sadar ya, itu lukisanmu bergerak terus.”</em></p>

<p>   Sang empu yang mendengar hanya mengabaikan. Mana ada lukisan yang hidup, ia cukup percaya itu. Bisa saja hal tersebut merupakan halusinasi semata?</p>

<p>   Naoko pada akhirnya menjauh dari dia. Ya, memang benar kalau semenjak bertemu ya mereka, Naoko sudah terbiasa untuk menjaga jarak, ketika apapun terjadi.</p>

<p>   Karena, dia sering kali merasakan saat diri berdekatan dengan laki-laki, ada sensasi yang membuat diri terganggu.</p>

<p>   “Dia tidak mengerti,” gumam lelaki tersebut.</p>

<p>   Kembali, laki-laki itu; Hishida Shunso, berkutat dengan lukisan miliknya. Meskipun ada keraguan tuk bisa menyelesaikan secepatnya. Ia akan berusaha.</p>

<p>   “Shunso-<em>san</em>, apa yang terjadi? Mengapa Naoko-san tiba-tiba mengomel seperti itu?”</p>

<p>   Seorang wanita lain datang menghampirinya. “Entahlah, aku saja tidak mengerti pemikiran dirinya.”</p>

<p>   Ayazuki Mei, wanita itu hanya menghela napas. Tidak mendapatkan jawaban yang bagus, seolah dia sia-sia saja bertanya akan hal ini.</p>

<p>   Tetapi, Mei tidak ambil pusing. Ia langsung mengucapkan permisi, setelah itu. Dengan alasan akan menyusul Naoko. Ya, setidaknya padamkan kekesalan Naoko dahulu, pikirnya.</p>

<p>   “Perempuan seperti mereka memang aneh, ya.”</p>

<p>   Shunso berucap demikian. Jujur saja, kalau perkataan Naoko memanglah kenyataan. Ia pernah melukis figur yang benar-benar hidup, namun setelahnya menghilang dan ditemukan oleh Mei yang bisa melihat sesuatu yang lain itu.</p>

<p>   Rasanya, tidak tenang kalau ia perlu memikirkannya kembali. Kehidupan memang akan berjalan sesuai takdirnya. Kalau saja ada yang paham makna lukisannya. Mungkin dia akan bahgia.</p>

<p>   <em>Hanya saja, mungkin tiada orang seperti itu, selain dirinya.</em></p>

<p>   <strong>End.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/lukisan-hidup</guid>
      <pubDate>Sat, 15 Oct 2022 05:14:47 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Morning Routine.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/morning-routine?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Ougai Mori × Reader.&#xA;  #MeijiTokyoRenka Fanfiction.&#xA;&#xA;Day 20 of #SimpTember 2021. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Ougai-san! Berhenti lah tampak seperti orang terpuruk,&#34;&#xA;&#xA;Aneh sekali, tak biasanya. Gadis itu mulai tak lagi terpikat oleh ia. Seperti yang dikatakan pada [Name] berupa kalimat sebelumnya tersebut. Rutinitas pagi hari yang mulai tak lagi teratur.&#xA;&#xA;&#34;... [Name]?&#34;&#xA;&#xA;Menghela napas kasar bagaimana bisa ia tertidur lelap hingga seperti ini, dilihatnya penampakan dari jendela sudah menunjukan menjelang siang hari.&#xA;&#xA;&#34;Kau terlihat menakutkan dengan ekspresi seperti itu, astaga! Segeralah mandi sana,&#34; pintanya langsung membantu sosok pria disana tuk bisa berdiri.&#xA;&#xA;&#34;Kalau kau memaksanya seperti itu, rutinitasnya malah akan parah. Padahal kau sendiri yang akan menjadi pengurusnya sementara waktu—&#34;&#xA;&#xA;Ucapan sosok lelaki bersurai lumut terpotong akibat erangan kecil keluar dari mulut Ougai. Rasa kantuk menyerangnya seharian. Ia ingin beristirahat namun berasa tak diperbolehkan.&#xA;&#xA;&#34;Shunso, apa maksudmu?&#34;&#xA;&#xA;Tentu saja sebelum akhirnya, seperti ini. Mau merutuki dirinya, [Name] mencoba memberi kode-kode terhadap Shunso. Sayang tidak di perhatikan walau aslinya ia melihat hal itu.&#xA;&#xA;&#34;Ya, ya. Aku lupa memberitahumu Ougai-san. Kalau [Name] ternyata mau mengurus segala macam rutinitas pagimu, biar dikata ia punya pekerjaan sendiri disini katanya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku tak berbicara demikian!&#34;&#xA;&#xA;Terkekeh pelan akan perdebatan yang tak berlangsung lama, ia mengulas senyum kecil. Tanganpun menari ria mengacak-acak surai milik [Name]. &#34;Apapun untuk Tupai Kecil-ku.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Ougai Mori × Reader.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:MeijiTokyoRenka" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">MeijiTokyoRenka</span></a> Fanfiction.</p></blockquote>

<p><em>Day 20 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</em> </p>

<hr/>

<p>“Ougai-<em>san</em>! Berhenti lah tampak seperti orang terpuruk,”</p>

<p>Aneh sekali, tak biasanya. Gadis itu mulai tak lagi terpikat oleh ia. Seperti yang dikatakan pada [Name] berupa kalimat sebelumnya tersebut. Rutinitas pagi hari yang mulai tak lagi teratur.</p>

<p>”... [Name]?”</p>

<p>Menghela napas kasar bagaimana bisa ia tertidur lelap hingga seperti ini, dilihatnya penampakan dari jendela sudah menunjukan menjelang siang hari.</p>

<p>“Kau terlihat menakutkan dengan ekspresi seperti itu, astaga! Segeralah mandi sana,” pintanya langsung membantu sosok pria disana tuk bisa berdiri.</p>

<p>“Kalau kau memaksanya seperti itu, rutinitasnya malah akan parah. Padahal kau sendiri yang akan menjadi pengurusnya sementara waktu—”</p>

<p>Ucapan sosok lelaki bersurai lumut terpotong akibat erangan kecil keluar dari mulut Ougai. Rasa kantuk menyerangnya seharian. Ia ingin beristirahat namun berasa tak diperbolehkan.</p>

<p>“Shunso, apa maksudmu?”</p>

<p>Tentu saja sebelum akhirnya, seperti ini. Mau merutuki dirinya, [Name] mencoba memberi kode-kode terhadap Shunso. Sayang tidak di perhatikan walau aslinya ia melihat hal itu.</p>

<p>“Ya, ya. Aku lupa memberitahumu Ougai-<em>san</em>. Kalau [Name] ternyata mau mengurus segala macam rutinitas pagimu, biar dikata ia punya pekerjaan sendiri disini katanya.”</p>

<p>“Aku tak berbicara demikian!”</p>

<p>Terkekeh pelan akan perdebatan yang tak berlangsung lama, ia mengulas senyum kecil. Tanganpun menari ria mengacak-acak surai milik [Name]. “Apapun untuk <em>Tupai Kecil-ku.</em>“</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/morning-routine</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 10:58:55 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Anniversary.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/anniversary?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Yokoyama Taikan × Reader.&#xA;  #MeijiTokyoRenka Fanfiction.&#xA;&#xA;Day 13 of #SimpTember 2021. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Sebagai teman, pasti tiada salahnya merayakan peringatan tahunan bersama bukan? Dalam hal merayakan pertama kali pertemanan diantara keduanya terjalin, benar kurang lebih seperti itu.&#xA;&#xA;Ada tiga orang yang merayakan hal tersebut. Walau memang tidak terkesan meriah, tapi mereka selalu menghabiskan waktu bersama di tempat itu. Di mana mereka, kedua lelaki yang bersama seorang gadis, berada di lokasi tempat belajar melukis.&#xA;&#xA;Tidak salah bila gadis tersebut termasuk pelukis juga, namun sayang ia tak terlalu bisa menggunakan kuas. Terlebih, bila ia memegang kuas merasakan sesuatu yang sedikit aneh. Tapi tak berlaku pada sekedar melihat orang yang dengan lihainya, mempoles kanvas dengan kuas.&#xA;&#xA;&#34;Memangnya ini yang dinamakan memperingati acara tahunan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tentu saja! Tidak lihatkah kau, bahwa ini benar-benar akan membantumu dalam pameran nantinya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Entahlah, aku tidak tahu.&#34;&#xA;&#xA;Mirip sepasang kekasih walau keduanya sekedar teman, tentu saja! Keduanya lelaki, dan dilihat tangan melingkari leher yang satunya. Dengan senyuman tanpa dosa, lelaki yang merangkulnya sembari tertawa renyah.&#xA;&#xA;&#34;Tidak buruk kok, Shunso, Taikan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lihat! [Name] saja bicara sepert itu, masa kau sendiri begini?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hah? Memangnya kenapa? Aku berkata sesuai kenyataannya,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalian berdua ... kenapa selalu bertengkar, sih?&#34;&#xA;&#xA;Mencoba menghalangi perdebatan berlanjut diantara keduanya, [Name] salah satu gadis diantara keduanya mencoba memisahkan percakapan. Menarik napas panjang kasar, sesekali tangan memijat pelipisnya.&#xA;&#xA;&#34;Oh? Kami tak bertengkar! Shunso memang seperti ini,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apa-apaan itu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya ampun, tapi aku punya saran yang bagus buat memperingati acara tahunan kita. Bagaimana dengan menuliskan permohonan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Semakin tak benar.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tidak buruk, ayo coba!&#34;&#xA;&#xA;Menjadi sesuatu sore yang begitu ramai, terlebih dengan suasana sejuk yang dirasakan tak terasa panas seperti biasa. Tangan masih sibuk melukiskan sesuatu dengan kuas.&#xA;&#xA;Itu adalah sesuatu yang mereka sebut dengan rencana kali ini. Tidak, lebih tepatnya tahun ini. Mungkin tahun selanjutnya akan lebih sesuatu? Sungguh sulit dibayangkan bila terjadi, beberapa menit setelahnya.&#xA;&#xA;&#34;Lalu, untuk permohonan kalian berharap apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Selalu bersama.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh?&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Yokoyama Taikan × Reader.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:MeijiTokyoRenka" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">MeijiTokyoRenka</span></a> Fanfiction.</p></blockquote>

<p><em>Day 13 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</em> </p>

<hr/>

<p>Sebagai teman, pasti tiada salahnya merayakan peringatan tahunan bersama bukan? Dalam hal merayakan pertama kali pertemanan diantara keduanya terjalin, benar kurang lebih seperti itu.</p>

<p>Ada tiga orang yang merayakan hal tersebut. Walau memang tidak terkesan meriah, tapi mereka selalu menghabiskan waktu bersama di tempat itu. Di mana mereka, kedua lelaki yang bersama seorang gadis, berada di lokasi tempat belajar melukis.</p>

<p>Tidak salah bila gadis tersebut termasuk pelukis juga, namun sayang ia tak terlalu bisa menggunakan kuas. Terlebih, bila ia memegang kuas merasakan sesuatu yang sedikit aneh. Tapi tak berlaku pada sekedar melihat orang yang dengan lihainya, mempoles kanvas dengan kuas.</p>

<p>“Memangnya ini yang dinamakan memperingati acara tahunan?”</p>

<p>“Tentu saja! Tidak lihatkah kau, bahwa ini benar-benar akan membantumu dalam pameran nantinya?”</p>

<p>“Entahlah, aku tidak tahu.”</p>

<p>Mirip sepasang kekasih walau keduanya sekedar teman, tentu saja! Keduanya lelaki, dan dilihat tangan melingkari leher yang satunya. Dengan senyuman tanpa dosa, lelaki yang merangkulnya sembari tertawa renyah.</p>

<p>“Tidak buruk kok, Shunso, Taikan.”</p>

<p>“Lihat! [Name] saja bicara sepert itu, masa kau sendiri begini?”</p>

<p>“Hah? Memangnya kenapa? Aku berkata sesuai kenyataannya,”</p>

<p>“Kalian berdua ... kenapa selalu bertengkar, sih?”</p>

<p>Mencoba menghalangi perdebatan berlanjut diantara keduanya, [Name] salah satu gadis diantara keduanya mencoba memisahkan percakapan. Menarik napas panjang kasar, sesekali tangan memijat pelipisnya.</p>

<p>“Oh? Kami tak bertengkar! Shunso memang seperti ini,”</p>

<p>“Apa-apaan itu?”</p>

<p>“Ya ampun, tapi aku punya saran yang bagus buat memperingati acara tahunan kita. Bagaimana dengan menuliskan permohonan?”</p>

<p>“Semakin tak benar.”</p>

<p>“Tidak buruk, ayo coba!”</p>

<p>Menjadi sesuatu sore yang begitu ramai, terlebih dengan suasana sejuk yang dirasakan tak terasa panas seperti biasa. Tangan masih sibuk melukiskan sesuatu dengan kuas.</p>

<p>Itu adalah sesuatu yang mereka sebut dengan rencana kali ini. Tidak, lebih tepatnya tahun ini. Mungkin tahun selanjutnya akan lebih sesuatu? Sungguh sulit dibayangkan bila terjadi, beberapa menit setelahnya.</p>

<p>“Lalu, untuk permohonan kalian berharap apa?”</p>

<p>“Selalu bersama.”</p>

<p>“Eh?”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/anniversary</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 10:29:50 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Parent.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/parent?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Yakumo Koizumi × Reader.&#xA;  #MeijiTokyoRenka Fanfiction.&#xA;&#xA;Day 8 of #SimpTember 2021. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Baiklah sekarang, aku akan menjadi orang tuamu, bagaimana?&#34;&#xA;&#xA;Tidak mempercayai hal tersebut, tangan sedari tadi masih mengelus puncak kepala sang anak perempuan dihadapan ia.&#xA;&#xA;Anggukan kecil mengatakan bahwa ia setuju. Sebuah senyuman terlintas pada wajahnya. Sungguh ia sangat bahagia.&#xA;&#xA;&#34;Tapi mengapa, mau menjadi orang tua ku?&#34;&#xA;&#xA;Tidak habis pikir dengan sosok mungil dihadapan, bagaimana bisa anak sekecil dia mengatakan hal tersebut? Dalam pikiran Yakumo berpikir sedikit.&#xA;&#xA;&#34;Karena [Name]-chan mirip Jane,&#34; tutur ia.&#xA;&#xA;Entah mengetahui atau tidak anggukan kecil telah dilakukan oleh dirinya. &#34;Siapa?&#34; Menggemaskan itulah tanggapan bagi diri Yakumo.&#xA;&#xA;&#34;Sahabat masa kecil Ayah.&#34;&#xA;&#xA;[Name] dibuat tertegun sewaktu Yakumo sendiri bilang dirinya Ayah. Senyuman kecil memang tidak luntur, namun ia segera memeluk sosok yang kini telah menjadi Ayah barunya.&#xA;&#xA;&#34;Apakah bisa sahabat masa kecil Ayah menjadi Ibuku juga?&#34;&#xA;&#xA;Dibuat terdiam, tangan meraih bahu anak perempuan yang kini memeluknya. Tidak lagi menapak diatas permukaan tanah.&#xA;&#xA;Yakumo menggendong ia, entah merasa kagum atau tidak. Senyuman merekah dikala itu, menyaksikan sesuatu yang sudah lama tak pernah ia rasakan.&#xA;&#xA;&#34;Tidak bisa, [Name]-chan.&#34;&#xA;&#xA;Tangan jahil mencubit pangkal hidung [Name]. Membuat dia mengerutu disana. Tentu tidak melupakan jawaban tadi.&#xA;&#xA;&#34;Memangnya kenapa?&#34;&#xA;&#xA;Tentu saja jikalau anak kecil sering bertanya. Mereka ingin mengetahui sesuatu yang telah diketahui orang lainnya. Terkadang tapi tak pasti, akan selalu ada anak kecil yang pandai mengatur suasana sekitarnya.&#xA;&#xA;&#34;Dia sudah tiada, dan dia juga sudah mulai tenang di alam sana.&#34;&#xA;&#xA;Pandangan sayu tidak lagi ceria, itu yang hanya bisa [Name] lihat. Dia merasa kaget, karena sudah mengingatkan sesuatu yang sepertinya tidak ingin diingat oleh Ayah barunya.&#xA;&#xA;&#34;Ayah kenapa sedih? Bukannya sekarang sudah ada [Name] disini ....&#34;&#xA;&#xA;Tangan mungil itu meraih wajah sang Ayah, mengelus wajahnya. Membuat Ayah barunya terdiam sesaat. Senyuman tipis terulas, tangan ternyata malah mengacak-acak surai milik dia.&#xA;&#xA;&#34;Terima kasih sudah mau menerima Ayah.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Yakumo Koizumi × Reader.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:MeijiTokyoRenka" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">MeijiTokyoRenka</span></a> Fanfiction.</p></blockquote>

<p><em>Day 8 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</em> </p>

<hr/>

<p>“Baiklah sekarang, aku akan menjadi orang tuamu, bagaimana?”</p>

<p>Tidak mempercayai hal tersebut, tangan sedari tadi masih mengelus puncak kepala sang anak perempuan dihadapan ia.</p>

<p>Anggukan kecil mengatakan bahwa ia setuju. Sebuah senyuman terlintas pada wajahnya. Sungguh ia sangat bahagia.</p>

<p>“Tapi mengapa, mau menjadi orang tua ku?”</p>

<p>Tidak habis pikir dengan sosok mungil dihadapan, bagaimana bisa anak sekecil dia mengatakan hal tersebut? Dalam pikiran Yakumo berpikir sedikit.</p>

<p>“Karena [Name]-<em>chan</em> mirip Jane,” tutur ia.</p>

<p>Entah mengetahui atau tidak anggukan kecil telah dilakukan oleh dirinya. “Siapa?” Menggemaskan itulah tanggapan bagi diri Yakumo.</p>

<p>“Sahabat masa kecil Ayah.”</p>

<p>[Name] dibuat tertegun sewaktu Yakumo sendiri bilang dirinya Ayah. Senyuman kecil memang tidak luntur, namun ia segera memeluk sosok yang kini telah menjadi Ayah barunya.</p>

<p>“Apakah bisa sahabat masa kecil Ayah menjadi Ibuku juga?”</p>

<p>Dibuat terdiam, tangan meraih bahu anak perempuan yang kini memeluknya. Tidak lagi menapak diatas permukaan tanah.</p>

<p>Yakumo menggendong ia, entah merasa kagum atau tidak. Senyuman merekah dikala itu, menyaksikan sesuatu yang sudah lama tak pernah ia rasakan.</p>

<p>“Tidak bisa, [Name]-<em>chan</em>.”</p>

<p>Tangan jahil mencubit pangkal hidung [Name]. Membuat dia mengerutu disana. Tentu tidak melupakan jawaban tadi.</p>

<p>“Memangnya kenapa?”</p>

<p>Tentu saja jikalau anak kecil sering bertanya. Mereka ingin mengetahui sesuatu yang telah diketahui orang lainnya. Terkadang tapi tak pasti, akan selalu ada anak kecil yang pandai mengatur suasana sekitarnya.</p>

<p>“Dia sudah tiada, dan dia juga sudah mulai tenang di alam sana.”</p>

<p>Pandangan sayu tidak lagi ceria, itu yang hanya bisa [Name] lihat. Dia merasa kaget, karena sudah mengingatkan sesuatu yang sepertinya tidak ingin diingat oleh Ayah barunya.</p>

<p>“Ayah kenapa sedih? Bukannya sekarang sudah ada [Name] disini ....”</p>

<p>Tangan mungil itu meraih wajah sang Ayah, mengelus wajahnya. Membuat Ayah barunya terdiam sesaat. Senyuman tipis terulas, tangan ternyata malah mengacak-acak surai milik dia.</p>

<p>“Terima kasih sudah mau menerima Ayah.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/parent</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 09:51:07 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Art.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/art?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Hishida Shunso × Reader.&#xA;  #MeijiTokyoRenka Fanfiction.&#xA;&#xA;Day 7 of #SimpTember 2021. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Seni adalah sesuatu yang selalu menarik perhatian [Name], dihadapkan dengan sosok yang menyukai seni namun sayang hilangnya minat bagi diri. Tidak mengerti mengapa berhenti ditengah jalan.&#xA;&#xA;&#34;Tidak perlu sempurna bila ingin dilirik orang.&#34;&#xA;&#xA;Itulah yang selalu dikatakan sebagai jawaban setiap kali [Name] bertanya, mengapa ia sudah kehilangan minat akan seni. Jujur saja [Name] sangat ingin memajang seni lukis milik dirinya.&#xA;&#xA;Sayang, dibagian tengah terdapat sesuatu yang tak bisa ia gambar. Berniat membantu, dikatakan ternyata yang berada didalam gambar adalah seekor roh.&#xA;&#xA;Roh dari kucing hitam. Seperti apa yang dikatakan Ougai sendiri, jikalau Tamayori pasti akan mudah untuk mencarinya. [Name] tidak memiliki bakat spesial seperti itu.&#xA;&#xA;Sering kali Shunso melihat kepergian [Name] sewaktu malam, entah apa yang dilakukan membuat dia sedikit penasaran dimalam itu.&#xA;&#xA;&#34;Huh. Apa yang sedang kau lakukan diluar malam-malam seperti ini?&#34;&#xA;&#xA;Tiada raut senang ataupun sedih, Shunso memiliki ekspresinya tersendiri. Cukup sulit membedakan mimik wajahnya, bila tidak peka.&#xA;&#xA;&#34;Ah, Ougai-san bilang kalau roh biasanya muncul di malam hari ... jadi aku ingin mencari kucing hitam Shunso, tidak boleh?&#34;&#xA;&#xA;Dengan kekehan pelan, tangan menggaruk-garuk pipi tak gatal. Benar-benar keras kepala, pikir Shunso.&#xA;&#xA;&#34;Keras kepala sekali,&#34; menghela napas kasar kembali melanjutkan ucapan terjeda sebelumnya, &#34;Memangnya, kalau sudah ketemu apa yang akan kau lakukan?&#34;&#xA;&#xA;Terdiam sesaat memikirkan kata-katanya. Sebenarnya, apa yang ia lakukan setiap malam? Bahkan dia sendiri terkadang bingung, apa yang selalu Shunso lakukan bila tidak sedang melukis?&#xA;&#xA;&#34;Membuatmu menyelesaikan lukisan itu,&#34; balas [Name], entah kenapa sekarang dalam kondisi tiba-tiba ia malah memikirkan tentang lukisan yang kosong dibagian tengahnya.&#xA;&#xA;Shunso terdiam. Mengapa gadis dihadapan ia begitu beresikeras, hingga seperti ini? Tapi yang ada semburat merah tipis dipipinya. Ia suka itu, ternyata ada yang benar-benar memerhatikan dirinya yang seperti ini.&#xA;&#xA;Rasa bahagia datang sesaat entah mengapa kepada dirinya, yang baru-baru ini dilanda kecemasan dan kekhawatiran maupun cemburu bersamaan. Dia masih ada seseorang yang akan bersamanya.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa kau melakukannya hingga ke sana?&#34;&#xA;&#xA;Memikirkan segala alasan, nyatanya pertanyaan itu lah yang ia keluarkan. Bagaikan diterpa oleh angin, suara [Name] malah terdengar samar-samar sewaktu menjawab pertanyaan yang diajukan.&#xA;&#xA;&#34;... itu karena aku tidak ingin ....&#34;&#xA;&#xA;Rasa ingin mencaci maki angin, tapi angin ternyata tak mau kalah menghalau perasaan kedua insan berbeda jenis kelamin ini. Di saat yang bersamaan hawa yang tidak asing, memicu sudut matanya segera menoleh ke asal di mana ia samar-samar merasakan sesuatu.&#xA;&#xA;&#34;Oh! Kucing hitam. Shunso, ketemu!&#34;&#xA;&#xA;Tidak bisa berkata-kata lebih, Shunso mencoba mengapai walau tidak lagi bisa. Hanya sekedar menatap dibarengi oleh kata-kata khasnya. Menggoda sesuatu yang ia anggap menarik perhatiannya.&#xA;&#xA;&#34;Apakah Shunso tidak mendengarnya tadi? Kalau begitu, aku akan mengatakannya lagi. Sebab aku ....&#34;&#xA;&#xA;Tentu saja [Name] meraih disamping Shunso menyamakan tinggi, berbisik dengan suara pelan. Sedikit terkejut, tapi Shunso mengulas senyum kecil akibat itu.&#xA;&#xA;Seni yang dirimu buat, selalu membawa kilauan tersendiri bagiku.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Hishida Shunso × Reader.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:MeijiTokyoRenka" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">MeijiTokyoRenka</span></a> Fanfiction.</p></blockquote>

<p><em>Day 7 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</em> </p>

<hr/>

<p>Seni adalah sesuatu yang selalu menarik perhatian [Name], dihadapkan dengan sosok yang menyukai seni namun sayang hilangnya minat bagi diri. Tidak mengerti mengapa berhenti ditengah jalan.</p>

<p><em>“Tidak perlu sempurna bila ingin dilirik orang.”</em></p>

<p>Itulah yang selalu dikatakan sebagai jawaban setiap kali [Name] bertanya, mengapa ia sudah kehilangan minat akan seni. Jujur saja [Name] sangat ingin memajang seni lukis milik dirinya.</p>

<p>Sayang, dibagian tengah terdapat sesuatu yang tak bisa ia gambar. Berniat membantu, dikatakan ternyata yang berada didalam gambar adalah seekor roh.</p>

<p>Roh dari kucing hitam. Seperti apa yang dikatakan Ougai sendiri, jikalau Tamayori pasti akan mudah untuk mencarinya. [Name] tidak memiliki bakat spesial seperti itu.</p>

<p>Sering kali Shunso melihat kepergian [Name] sewaktu malam, entah apa yang dilakukan membuat dia sedikit penasaran dimalam itu.</p>

<p>“Huh. Apa yang sedang kau lakukan diluar malam-malam seperti ini?”</p>

<p>Tiada raut senang ataupun sedih, Shunso memiliki ekspresinya tersendiri. Cukup sulit membedakan mimik wajahnya, bila tidak peka.</p>

<p>“Ah, Ougai-san bilang kalau roh biasanya muncul di malam hari ... jadi aku ingin mencari kucing hitam Shunso, tidak boleh?”</p>

<p>Dengan kekehan pelan, tangan menggaruk-garuk pipi tak gatal. Benar-benar keras kepala, pikir Shunso.</p>

<p>“Keras kepala sekali,” menghela napas kasar kembali melanjutkan ucapan terjeda sebelumnya, “Memangnya, kalau sudah ketemu apa yang akan kau lakukan?”</p>

<p>Terdiam sesaat memikirkan kata-katanya. Sebenarnya, apa yang ia lakukan setiap malam? Bahkan dia sendiri terkadang bingung, apa yang selalu Shunso lakukan bila tidak sedang melukis?</p>

<p>“Membuatmu menyelesaikan lukisan itu,” balas [Name], entah kenapa sekarang dalam kondisi tiba-tiba ia malah memikirkan tentang lukisan yang kosong dibagian tengahnya.</p>

<p>Shunso terdiam. Mengapa gadis dihadapan ia begitu beresikeras, hingga seperti ini? Tapi yang ada semburat merah tipis dipipinya. Ia suka itu, ternyata ada yang benar-benar memerhatikan dirinya yang seperti ini.</p>

<p>Rasa bahagia datang sesaat entah mengapa kepada dirinya, yang baru-baru ini dilanda kecemasan dan kekhawatiran maupun cemburu bersamaan. Dia masih ada seseorang yang akan bersamanya.</p>

<p>“Kenapa kau melakukannya hingga ke sana?”</p>

<p>Memikirkan segala alasan, nyatanya pertanyaan itu lah yang ia keluarkan. Bagaikan diterpa oleh angin, suara [Name] malah terdengar samar-samar sewaktu menjawab pertanyaan yang diajukan.</p>

<p>”... itu karena aku tidak ingin ....”</p>

<p>Rasa ingin mencaci maki angin, tapi angin ternyata tak mau kalah menghalau perasaan kedua insan berbeda jenis kelamin ini. Di saat yang bersamaan hawa yang tidak asing, memicu sudut matanya segera menoleh ke asal di mana ia samar-samar merasakan sesuatu.</p>

<p>“Oh! Kucing hitam. Shunso, ketemu!”</p>

<p>Tidak bisa berkata-kata lebih, Shunso mencoba mengapai walau tidak lagi bisa. Hanya sekedar menatap dibarengi oleh kata-kata khasnya. Menggoda sesuatu yang ia anggap menarik perhatiannya.</p>

<p>“Apakah Shunso tidak mendengarnya tadi? Kalau begitu, aku akan mengatakannya lagi. Sebab aku ....”</p>

<p>Tentu saja [Name] meraih disamping Shunso menyamakan tinggi, berbisik dengan suara pelan. Sedikit terkejut, tapi Shunso mengulas senyum kecil akibat itu.</p>

<p><em>Seni yang dirimu buat, selalu membawa kilauan tersendiri bagiku.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/art</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 09:48:38 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Festival.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/festival?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Izumi Kyouka × Reader.&#xA;  #MeijiTokyoRenka Fanfiction.&#xA;&#xA;Day 5 of #SimpTember 2021. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Penuh dengan keramaian suasana malam pun terasa lebih ceria. Sayangnya hal itu tidak berlaku pada pasangan ini. Lelaki tunggu, dia malah tampak seperti perempuan.&#xA;&#xA;Tapi kenyataan salah memberikan jenis kelamin. Surai merah panjang seleher, memberikan kesan seperti perempuan. Terlebih netra hijau yang sesekali bisa mengalihkan pandangan.&#xA;&#xA;Seharusnya dia bersama sebuah kelinci, yang selalu berada dipundak ia. Sayang, kelinci itu tak bisa dilihat oleh orang-orang. Kecuali gadis yang sedari tadi ia pegang-pegang.&#xA;&#xA;&#34;Ini ramai, terlalu ramai.&#34;&#xA;&#xA;Tampak menggerutu, gadis bernama [Full Name] hanya bisa terkekeh. Bagaimana bisa ia mengajak sosok lelaki seperti dia? Berada dimalam festival, akan sungguh menyenangkan.&#xA;&#xA;Tapi bukannya bersenang-senang malah ditahan seperti ini. &#34;Kyouka-san, lepaskan aku. Aku tidak bisa berjalan bila kau terus memelukku seperti ini,&#34; tutur [Name], walau dia merasa berat hati berkata seperti itu.&#xA;&#xA;Sontak melepaskan pelukan bisa ia lihat wajah lelaki bernama Izumi Kyouka itu memerah, akibat malu. &#34;Ugh, maaf.&#34; Entah mengapa malah jadi mencicit seperti ini.&#xA;&#xA;Tertawa pelan [Name] memiliki sebuah ide, sebuah senyuman tak pernah luntur. Tangannya menelusuri surai merah milik Kyouka. Masalah tinggi badan tak perlu dipermasalahkan.&#xA;&#xA;Hanya berselisihan sepuluh lebih sentimeter, tak lebih itu sudah bagus katanya. &#34;Bagaimana kalau pegangan tangan saja?&#34; tawar [Name] mulai menjauhkan tangan dari surai milik dirinya.&#xA;&#xA;Tangan dijulurkan kepada Kyouka disana, sewaktu tadi dia menoleh ke arah [Name]. Masih dengan wajah menampilkan warna kemerahan, masih malu. &#34;Baiklah, ayo segera selesaikan apa yang sekarang ingin dilakukan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bagaimana kalau memainkan sesuatu yang menyenangkan?&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Izumi Kyouka × Reader.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:MeijiTokyoRenka" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">MeijiTokyoRenka</span></a> Fanfiction.</p></blockquote>

<p><em>Day 5 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</em> </p>

<hr/>

<p>Penuh dengan keramaian suasana malam pun terasa lebih ceria. Sayangnya hal itu tidak berlaku pada pasangan ini. Lelaki tunggu, dia malah tampak seperti perempuan.</p>

<p>Tapi kenyataan salah memberikan jenis kelamin. Surai merah panjang seleher, memberikan kesan seperti perempuan. Terlebih netra hijau yang sesekali bisa mengalihkan pandangan.</p>

<p>Seharusnya dia bersama sebuah kelinci, yang selalu berada dipundak ia. Sayang, kelinci itu tak bisa dilihat oleh orang-orang. Kecuali gadis yang sedari tadi ia pegang-pegang.</p>

<p>“Ini ramai, terlalu ramai.”</p>

<p>Tampak menggerutu, gadis bernama [Full Name] hanya bisa terkekeh. Bagaimana bisa ia mengajak sosok lelaki seperti dia? Berada dimalam festival, akan sungguh menyenangkan.</p>

<p>Tapi bukannya bersenang-senang malah ditahan seperti ini. “Kyouka-san, lepaskan aku. Aku tidak bisa berjalan bila kau terus memelukku seperti ini,” tutur [Name], walau dia merasa berat hati berkata seperti itu.</p>

<p>Sontak melepaskan pelukan bisa ia lihat wajah lelaki bernama Izumi Kyouka itu memerah, akibat malu. “Ugh, maaf.” Entah mengapa malah jadi mencicit seperti ini.</p>

<p>Tertawa pelan [Name] memiliki sebuah ide, sebuah senyuman tak pernah luntur. Tangannya menelusuri surai merah milik Kyouka. Masalah tinggi badan tak perlu dipermasalahkan.</p>

<p>Hanya berselisihan sepuluh lebih sentimeter, tak lebih itu sudah bagus katanya. “Bagaimana kalau pegangan tangan saja?” tawar [Name] mulai menjauhkan tangan dari surai milik dirinya.</p>

<p>Tangan dijulurkan kepada Kyouka disana, sewaktu tadi dia menoleh ke arah [Name]. Masih dengan wajah menampilkan warna kemerahan, masih malu. “Baiklah, ayo segera selesaikan apa yang sekarang ingin dilakukan.”</p>

<p>“Bagaimana kalau memainkan sesuatu yang menyenangkan?”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/festival</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 09:43:10 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>