<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>idolish7 &amp;mdash; reeinshiyu</title>
    <link>https://reeinshiyu.writeas.com/tag:idolish7</link>
    <description>Seluruh kisah yang dikhususkan kepada mereka yang berkenan untuk membacanya.</description>
    <pubDate>Thu, 14 May 2026 01:39:54 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Hug.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/hug?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Osaka Sogo × Reader.&#xA;  #IDOLiSH7 Fanfiction.&#xA;&#xA;Batch 9; Day 3 of #MariMenulis 2022. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Genggaman tangan hangat telah disalurkan ke tangannya dingin. &#34;Aku tahu hal ini berat bagimu, [Name]. Karena itu, apapun yang terjadi aku selalu berada sisimu,&#34; ujarnya menenangkan sang dara.&#xA;&#xA;Tangisan terdengar diseisi rumah yang sedang penuh duka itu. Banyak orang berkunjung tuk melayat. Fakta begitu pahit terdengar oleh sang puan, kala dia bekerja.&#xA;&#xA;Dengan segera meminta izin dengan tubuh yang gemetar, bisa kapan saja tumbang. Menjadikan seseorang mencoba ikut mendampinginya, setidaknya orang itu bisa menjadi penenang barang kali sejenak.&#xA;&#xA;Telah berlangsung proses menyedihkan, meskipun demikian waktu tetap menyulitkan untuk diri bangkit menjauh.&#xA;&#xA;Sang tuan, tak ingin membuat daranya semakin merasa terpuruk. Tidak ada hubungannya semua ini dengan pekerjaan, sebab dahulu ia pernah merasakan juga bagaimana rasanya kehilangan itu.&#xA;&#xA;Pelukan diberikan oleh orang tersayang bagi mereka, lelaki tersebut menatap semua itu seolah menjadikan diri nostalgia kembali. Hingga, sebuah suara kecil menyapu indera telinga.&#xA;&#xA;&#34;Osaka-san, bolehkah ..., aku memeluk dirimu?&#34;&#xA;&#xA;Terkejut. Ketika wanita itu berada di hadapannya, meminta sesuatu yang seperti tak akan pernah bisa dibayangkan oleh dia. &#34;Mmn, baiklah.&#34;&#xA;&#xA;Walau hati merasa tidak yakin akan apa yang diperbuatnya. Ia melakukannya. Osaka Sogo itu memeluk [Full Name] dalam dekapannya. ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Osaka Sogo × Reader.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:IDOLiSH7" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">IDOLiSH7</span></a> Fanfiction.</p></blockquote>

<p><em>Batch 9; Day 3 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:MariMenulis" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">MariMenulis</span></a> 2022.</em> </p>

<hr/>

<p>Genggaman tangan hangat telah disalurkan ke tangannya dingin. “Aku tahu hal ini berat bagimu, [Name]. Karena itu, apapun yang terjadi aku selalu berada sisimu,” ujarnya menenangkan sang dara.</p>

<p>Tangisan terdengar diseisi rumah yang sedang penuh duka itu. Banyak orang berkunjung tuk melayat. Fakta begitu pahit terdengar oleh sang puan, kala dia bekerja.</p>

<p>Dengan segera meminta izin dengan tubuh yang gemetar, bisa kapan saja tumbang. Menjadikan seseorang mencoba ikut mendampinginya, setidaknya orang itu bisa menjadi penenang barang kali sejenak.</p>

<p>Telah berlangsung proses menyedihkan, meskipun demikian waktu tetap menyulitkan untuk diri bangkit menjauh.</p>

<p>Sang tuan, tak ingin membuat daranya semakin merasa terpuruk. Tidak ada hubungannya semua ini dengan pekerjaan, sebab dahulu ia pernah merasakan juga bagaimana rasanya kehilangan itu.</p>

<p>Pelukan diberikan oleh orang tersayang bagi mereka, lelaki tersebut menatap semua itu seolah menjadikan diri nostalgia kembali. Hingga, sebuah suara kecil menyapu indera telinga.</p>

<p>“Osaka-<em>san</em>, bolehkah ..., aku memeluk dirimu?”</p>

<p>Terkejut. Ketika wanita itu berada di hadapannya, meminta sesuatu yang seperti tak akan pernah bisa dibayangkan oleh dia. “Mmn, baiklah.”</p>

<p>Walau hati merasa tidak yakin akan apa yang diperbuatnya. Ia melakukannya. Osaka Sogo itu memeluk [Full Name] dalam dekapannya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/hug</guid>
      <pubDate>Mon, 26 Sep 2022 08:17:31 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Puding.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/puding?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Yotsuba Tamaki × Hasegawa Izumi.&#xA;  #FaureYume; #MakiZu.&#xA;&#xA;   Indicates that your attention is on you.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #IDOLiSH7 © Bandai Namco Entertainment Inc., TROYCA. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   &#34;Hah. Sudah aku katakan, padahal. Izurin keras kepala, sih!&#34; tegurnya.&#xA;&#xA;   Benar juga, kesalahan ini adalah karena dirinya sendiri yang tak mau mendengarkan. Meskipun demikian, ia memang suka berkutat terhadap pekerjaan yang seperti itu. &#34;Hm, aku baik-baik saja.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Tidak! Kau tidak terlihat baik-baik saja. Untung saja, aku datang kemari.&#34; Tamaki meralat ucapan Izumi, yang kerap dia panggil sebagai Izurin.&#xA;&#xA;   Izumi tak dapat menjawab, bahkan jika ingin mengatakan maaf saja, diri sudah merasa ragu. Karena dia sedikit paham, kalau intonasi nada bicara Tamaki saat ini sudah mulai berbeda, menandakan dirinya bisa saja sedang kesal.&#xA;&#xA;   Tamaki mulai duduk disamping Izumi yang masih tak berbicara. Lantas, ia menyerahkan sesuatu. &#34;Aku menemukan puding ini, di lemari es. Izurin sangat suka puding, bukan?&#34; sahutnya, seperti mulai kembali seperti sedia kala.&#xA;&#xA;   Ya, setidaknya untuk saat ini. &#34;Mm, iya.&#34; Izumi sedikit heran sejujurnya, biasa Tamaki tidak begitu mau berbagi puding yang menjadi salah satu makanan penutup kesukaannya.&#xA;&#xA;   &#34;Maaf untuk sebelumnya. Lalu, apa tidak apa aku menerimanya?&#34; Dengan hati-hati Izumi bertanya.&#xA;&#xA;   Tidak ada jawaban langsung, melainkan Tamaki yang berpikir dahulu untuk mengatakan sesuatu. &#34;Oh, iya aku perbolehkan. Tapi, ada syaratnya.&#34; Sejenak, perkataan itu mengundang wanita itu menjadi sedikit penasaran.&#xA;&#xA;   &#34;Syaratnya?&#34; Izumi mengulangi tanya dan diangguki oleh Tamaki.&#xA;&#xA;   &#34;Kalau Izurin mau mendengar perkataanku seperti tadi.&#34; Ah, benar saja tebakan Izumi. Walau dengan sedikit ragu dia mulai menyetujuinya.&#xA;&#xA;   &#34;Oke, bagus!&#34; Tamaki mengukir senyum pada wajahnya.&#xA;&#xA;   Izumi juga sudah mendapatkan jatah untuk puding yang dibelinya sendiri, setidaknya. Akhirnya, mereka berdua menikmati puding bersama-sama.&#xA;&#xA;   End.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Yotsuba Tamaki × Hasegawa Izumi.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:MakiZu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">MakiZu</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>Indicates that your attention is on you.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:IDOLiSH7" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">IDOLiSH7</span></a> © Bandai Namco Entertainment Inc., TROYCA. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   “Hah. Sudah aku katakan, padahal. Izurin keras kepala, sih!” tegurnya.</p>

<p>   Benar juga, kesalahan ini adalah karena dirinya sendiri yang tak mau mendengarkan. Meskipun demikian, ia memang suka berkutat terhadap pekerjaan yang seperti itu. “Hm, aku baik-baik saja.”</p>

<p>   “Tidak! Kau tidak terlihat baik-baik saja. Untung saja, aku datang kemari.” Tamaki meralat ucapan Izumi, yang kerap dia panggil sebagai Izurin.</p>

<p>   Izumi tak dapat menjawab, bahkan jika ingin mengatakan maaf saja, diri sudah merasa ragu. Karena dia sedikit paham, kalau intonasi nada bicara Tamaki saat ini sudah mulai berbeda, menandakan dirinya bisa saja sedang kesal.</p>

<p>   Tamaki mulai duduk disamping Izumi yang masih tak berbicara. Lantas, ia menyerahkan sesuatu. “Aku menemukan puding ini, di lemari es. Izurin sangat suka puding, bukan?” sahutnya, seperti mulai kembali seperti sedia kala.</p>

<p>   Ya, setidaknya untuk saat ini. “Mm, iya.” Izumi sedikit heran sejujurnya, biasa Tamaki tidak begitu mau berbagi puding yang menjadi salah satu makanan penutup kesukaannya.</p>

<p>   “Maaf untuk sebelumnya. Lalu, apa tidak apa aku menerimanya?” Dengan hati-hati Izumi bertanya.</p>

<p>   Tidak ada jawaban langsung, melainkan Tamaki yang berpikir dahulu untuk mengatakan sesuatu. “Oh, iya aku perbolehkan. Tapi, ada syaratnya.” Sejenak, perkataan itu mengundang wanita itu menjadi sedikit penasaran.</p>

<p>   “Syaratnya?” Izumi mengulangi tanya dan diangguki oleh Tamaki.</p>

<p>   “Kalau Izurin mau mendengar perkataanku seperti tadi.” Ah, benar saja tebakan Izumi. Walau dengan sedikit ragu dia mulai menyetujuinya.</p>

<p>   “Oke, bagus!” Tamaki mengukir senyum pada wajahnya.</p>

<p>   Izumi juga sudah mendapatkan jatah untuk puding yang dibelinya sendiri, setidaknya. Akhirnya, mereka berdua menikmati puding bersama-sama.</p>

<p>   <strong>End.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/puding</guid>
      <pubDate>Sat, 17 Sep 2022 23:48:28 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Stay Overnight.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/stay-overnight?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Kujo Tenn × Reader.&#xA;  #IDOLiSH7 Fanfiction.&#xA;&#xA;Day 30 of #SimpTember 2021. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;....&#34;&#xA;&#xA;Terdiam, tak bisa berkata-kata. Apa maksudnya itu?&#xA;&#xA;&#34;Menginap saja malam ini disini.&#34;&#xA;&#xA;Masih tak berbicara, bagaimana bisa ia mempercayai-nya semudah itu?&#xA;&#xA;Dia akui, ini memang sudah larut. Toh, karena ia membantu dirinya, yang saat ini berada dihadapan. Dikarenakan tak ingin membuat repot yang lain, maka nya gadis tersebut turun tangan.&#xA;&#xA;&#34;Apa tak masalah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Untuk apa aku berkata seperti tadi, kalau tak boleh?&#34;&#xA;&#xA;Malah bertanya balik, membuat sang gadis ber-sweetdrop-ria. Terkadang ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari seseorang dihadapan, karena perkataannya yang sedikit, oh sebentar itu cukup sulit dituliskan dengan kata-kata.&#xA;&#xA;&#34;Baiklah, aku ikuti kata-katamu.&#34;&#xA;&#xA;Mengikuti ia dari belakang yang sudah mulai memasuki rumah, ah sungguh kesan mewah itu membuat gadis tersebut berpikir keluarga dia itu cukup ternama.&#xA;&#xA;&#34;Oh, sudah pulang. Teman Nii-san?&#34;&#xA;&#xA;Seorang anak gadis datang menyambut. Melihat adanya gadis yang bernama [Full Name] mengekori, dibelakang &#39;Nii-san&#39;-nya itu, Kujo Tenn, dan bertanya.&#xA;&#xA;&#34;Ah, kebetulan Aya. Iya, dia teman ku dia membantuku tadi, karena sudah larut sekali aku membiarkan dia menginap, masalah kamar tak apa-apa &#39;kan ia bersama denganmu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh? Apa Kujou-san tidak mempermasalahkannya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dia tidak pulang hari ini, entah apa yang dia lakukan. Tapi, aku sudah mengabarinya,&#34; jelas Tenn. Mengangguk mengerti, Aya mendekati keduanya.&#xA;&#xA;&#34;Tidak apa-apa &#39;kan?&#34;&#xA;&#xA;Memastikan bahwa gadis yang dibawa masuk oleh Tenn tidak mempermasalahkan hal ini, makanya ia bertanya.&#xA;&#xA;&#34;Eh, err ... kalau tidak memberatkan kalian.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sudah malam, kalau kau mau pergi jalan kaki atau naik taksi silakan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nii-san, apa dia benar-benar teman-mu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya, yang cukup merepotkan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;... Hei! Apa-apaan?! Kalau tak boleh bilang saja, aku pergi sekarang.&#34;&#xA;&#xA;Benar, baru saja ingin mengambil langkah pergi. Tangan gadis tersebut sudah dipegangi.&#xA;&#xA;&#34;Sudah malam, orang penakut sepertimu mana mungkin berani. Menetaplah disini.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Kujo Tenn × Reader.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:IDOLiSH7" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">IDOLiSH7</span></a> Fanfiction.</p></blockquote>

<p><em>Day 30 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</em> </p>

<hr/>

<p>”....”</p>

<p>Terdiam, tak bisa berkata-kata. Apa maksudnya itu?</p>

<p>“Menginap saja malam ini disini.”</p>

<p>Masih tak berbicara, bagaimana bisa ia mempercayai-nya semudah itu?</p>

<p>Dia akui, ini memang sudah larut. Toh, karena ia membantu dirinya, yang saat ini berada dihadapan. Dikarenakan tak ingin membuat repot yang lain, maka nya gadis tersebut turun tangan.</p>

<p>“Apa tak masalah?”</p>

<p>“Untuk apa aku berkata seperti tadi, kalau tak boleh?”</p>

<p>Malah bertanya balik, membuat sang gadis ber-sweetdrop-ria. Terkadang ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari seseorang dihadapan, karena perkataannya yang sedikit, oh sebentar itu cukup sulit dituliskan dengan kata-kata.</p>

<p>“Baiklah, aku ikuti kata-katamu.”</p>

<p>Mengikuti ia dari belakang yang sudah mulai memasuki rumah, ah sungguh kesan mewah itu membuat gadis tersebut berpikir keluarga dia itu cukup ternama.</p>

<p>“Oh, sudah pulang. Teman <em>Nii-san</em>?”</p>

<p>Seorang anak gadis datang menyambut. Melihat adanya gadis yang bernama [Full Name] mengekori, dibelakang &#39;<em>Nii-san</em>&#39;-nya itu, Kujo Tenn, dan bertanya.</p>

<p>“Ah, kebetulan Aya. Iya, dia teman ku dia membantuku tadi, karena sudah larut sekali aku membiarkan dia menginap, masalah kamar tak apa-apa &#39;kan ia bersama denganmu?”</p>

<p>“Eh? Apa Kujou-<em>san</em> tidak mempermasalahkannya?”</p>

<p>“Dia tidak pulang hari ini, entah apa yang dia lakukan. Tapi, aku sudah mengabarinya,” jelas Tenn. Mengangguk mengerti, Aya mendekati keduanya.</p>

<p>“Tidak apa-apa &#39;kan?”</p>

<p>Memastikan bahwa gadis yang dibawa masuk oleh Tenn tidak mempermasalahkan hal ini, makanya ia bertanya.</p>

<p>“Eh, err ... kalau tidak memberatkan kalian.”</p>

<p>“Sudah malam, kalau kau mau pergi jalan kaki atau naik taksi silakan.”</p>

<p>“<em>Nii-san</em>, apa dia benar-benar teman-mu?”</p>

<p>“Ya, yang cukup merepotkan.”</p>

<p>”... Hei! Apa-apaan?! Kalau tak boleh bilang saja, aku pergi sekarang.”</p>

<p>Benar, baru saja ingin mengambil langkah pergi. Tangan gadis tersebut sudah dipegangi.</p>

<p>“Sudah malam, orang penakut sepertimu mana mungkin berani. Menetaplah disini.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/stay-overnight</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 11:46:20 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Cooking.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/cooking?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Izumi Mitsuki × Reader.&#xA;  #IDOLiSH7 Fanfiction.&#xA;&#xA;Day 28 of #SimpTember 2021. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Oi, [Name]. Jangan malas-malasan, bantu aku sini. Atau kau tak mau makan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Astaga, Mitsu! Iya-iya aku bantu.&#34;&#xA;&#xA;Sosok lelaki yang menyuruh-nya itu, panggil saja Izumi Mitsuki. Beberapa orang mengenalinya sebagai Mitsuki.&#xA;&#xA;Lantas, untuk dia yang menjawab adalah [Name] entah disebutkan ia kesal, ataupun lelah disuruh. Tak ada yang bisa memahami, kecuali dia sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Cepat bantu sini, jangan main ponsel terus!&#34;&#xA;&#xA;Menunjuk ke arah sesuatu yang akan siap segera dilakukan sebuah kegiatan, yakni yang mereka lakukan adalah memasak.&#xA;&#xA;&#34;Aku salah apa main ponsel? Toh, aku juga belajar.&#34;&#xA;&#xA;Sebelum sesuatu mendarat di atas kepala, [Name] dengan siap menghindari serangan dadakan. Ya, itu memang sering terjadi.&#xA;&#xA;&#34;Halah, kalau belajar mana senyam-senyum mirip orang gila, ya. Sekarang coba masak sesuatu, biar kedepannya tidak merepotkan aku.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maaf, tidak baik loh, mengatakan Istri sendiri orang gila.&#34;&#xA;&#xA;Oh, benar. Keduanya adalah pasangan suami istri. Aslinya mereka akur, namun karena sesuatu yang berhubungan dengan belakang, mau tak mau selalu berhadapan dengan keributan sekilas.&#xA;&#xA;&#34;Bukan menyindir, cuma mengingatkan. Heh, itu yang benar motongnya! Jangan asal-asalan, begini coba ....&#34;&#xA;&#xA;Tangan dipegang oleh Mitsuki, dengan kepala ia berada di samping kiri guna bisa melihat sesuatu yang dipegang.&#xA;&#xA;Dengan mengarahkan pegangan tangan [Name]. Mulai memotong sayuran dengan lebih tenang, tidak ribut lagi yang terdengar.&#xA;&#xA;&#34;Pelan-pelan, jangan buru-buru. Yang makan nantinya juga kamu. Makanya, biasakan. Biar aku melakukan live dengan yang lainnya bisa tenang, kalau menginap di dorm.&#34;&#xA;&#xA;Tak ada lagi yang didengar dari percakapan malam, antara kedua insan ini.&#xA;&#xA;&#34;Oke, kalau begitu aku ikutan ke sana saja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yah, tidak bisa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;Tentu saja pertanyaan ini ditanyakan membuat Mitsuki berhenti memegang tangan [Name], memotong bahan-bahan sayuran disana.&#xA;&#xA;&#34;Banyak laki-lakinya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh, Mitsu takut aku oleng, ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Baik, malam ini kamu tidak perlu makan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kok gitu?!&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Izumi Mitsuki × Reader.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:IDOLiSH7" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">IDOLiSH7</span></a> Fanfiction.</p></blockquote>

<p><em>Day 28 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</em> </p>

<hr/>

<p>“Oi, [Name]. Jangan malas-malasan, bantu aku sini. Atau kau tak mau makan?”</p>

<p>“Astaga, Mitsu! Iya-iya aku bantu.”</p>

<p>Sosok lelaki yang menyuruh-nya itu, panggil saja Izumi Mitsuki. Beberapa orang mengenalinya sebagai Mitsuki.</p>

<p>Lantas, untuk dia yang menjawab adalah [Name] entah disebutkan ia kesal, ataupun lelah disuruh. Tak ada yang bisa memahami, kecuali dia sendiri.</p>

<p>“Cepat bantu sini, jangan main <em>ponsel</em> terus!”</p>

<p>Menunjuk ke arah sesuatu yang akan siap segera dilakukan sebuah kegiatan, yakni yang mereka lakukan adalah memasak.</p>

<p>“Aku salah apa main <em>ponsel</em>? <em>Toh</em>, aku juga belajar.”</p>

<p>Sebelum sesuatu mendarat di atas kepala, [Name] dengan siap menghindari serangan dadakan. Ya, itu memang sering terjadi.</p>

<p>“<em>Halah</em>, kalau belajar mana senyam-senyum mirip orang gila, ya. Sekarang coba masak sesuatu, biar kedepannya tidak merepotkan aku.”</p>

<p>“Maaf, tidak baik loh, mengatakan Istri sendiri orang gila.”</p>

<p>Oh, benar. Keduanya adalah pasangan suami istri. Aslinya mereka akur, namun karena sesuatu yang berhubungan dengan belakang, mau tak mau selalu berhadapan dengan keributan sekilas.</p>

<p>“Bukan menyindir, cuma mengingatkan. Heh, itu yang benar motongnya! Jangan asal-asalan, begini coba ....”</p>

<p>Tangan dipegang oleh Mitsuki, dengan kepala ia berada di samping kiri guna bisa melihat sesuatu yang dipegang.</p>

<p>Dengan mengarahkan pegangan tangan [Name]. Mulai memotong sayuran dengan lebih tenang, tidak ribut lagi yang terdengar.</p>

<p>“Pelan-pelan, jangan buru-buru. Yang makan nantinya juga kamu. Makanya, biasakan. Biar aku melakukan <em>live</em> dengan yang lainnya bisa tenang, kalau menginap di <em>dorm</em>.”</p>

<p>Tak ada lagi yang didengar dari percakapan malam, antara kedua insan ini.</p>

<p>“Oke, kalau begitu aku ikutan ke sana saja.”</p>

<p>“Yah, tidak bisa.”</p>

<p>“Kenapa?”</p>

<p>Tentu saja pertanyaan ini ditanyakan membuat Mitsuki berhenti memegang tangan [Name], memotong bahan-bahan sayuran disana.</p>

<p>“Banyak laki-lakinya.”</p>

<p>“Oh, Mitsu takut aku <em>oleng</em>, ya?”</p>

<p>“Baik, malam ini kamu tidak perlu makan.”</p>

<p><em>“Kok gitu?!”</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/cooking</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 11:42:12 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Movie.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/movie?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Rokuya Nagi × Reader.&#xA;  #IDOLiSH7 Fanfiction.&#xA;&#xA;Day 26 of #SimpTember 2021. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;What?!&#34;&#xA;&#xA;Teriakan terjadi di dalam dorm, membuat mreka yang mendengarnya langsung kaget. Seraya menjadikan beberapa diantara mereka bertanya balik, &#34;Ada apa, Nagi?&#34;&#xA;&#xA;Mereka berada di ruang tengah, jadi untuk masalah ini tampak meminta jawaban. Baru saja pemuda bersurai kuning itu mendapatkan suatu pemberitahuan dari notifikasi, &#34;Magical Cocona tayang bertepatan dengan kita live!&#34;&#xA;&#xA;Hal tersebut membuat yang memahami hal itu, hanya menggeleng-gelengkan kepala. Syukuri, mereka tak kaget berlebihan. Kalau berlebihan pertarungan yang ada. Tapi tidak untuk saat ini, mungkin.&#xA;&#xA;&#34;Yah setelah live, kau akan tetap menontonnya. Jadi kenapa kau malah khawatir seperti itu, Nagi?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yamato, you don&#39;t understand it.&#34;&#xA;&#xA;Mendesah pelan, tidak habis pikir. Bagaimana salah satu member yang menjadi anggota unit maupun subunitnya, malah seperti ini?&#xA;&#xA;Ia akui, memang faktanya Rokuya Nagi adalah salah satu orang yang paling menggemari seri Magical Cocona. Bahkan kamar menjadi taruhan, tuk otaku seperti dirinya.&#xA;&#xA;&#34;Mmn, bagaimana jika Nagi-kun fokus saja dulu dengan live-nya, nanti dipikirkan lagi cara bisa melihatnya.&#34;&#xA;&#xA;Mengeluh, ia tidak tahu akan seperti itu. Kenapa jam tayang keduanya terlalu berdekatan? Mengangguk lemah, tidak dapat memikirkan sesuatu ide. Hal tersebut Sogo yang menjadi pengalihan topik kali ini.&#xA;&#xA;&#34;Nagi, tenanglah sedikit! Kau akan punya banyak waktu setelah live. Jadi pergunakanlah waktumu itu nanti, dengan menontonnya, huh?&#34;&#xA;&#xA;Mitsuki yang terlihat kesal dengan Nagi, ia melancarkan perkataannya. Memberi ketenangan sesaat pada kecemasan sosok lelaki yang sungguh menjadi budak cinta-nya anime.&#xA;&#xA;Iya, Magical Cocona yang ia maksud adalah episode anime terbaru-nya.&#xA;&#xA;Tapi itu adalah kejadian sebelum live mereka terjadi. Disini yang ingin terjadi adalah di mana Nagi mendebatkan tentang Magical Cocona setelah live diatas panggung.&#xA;&#xA;Tentu hal tersebut tak akan ia lupa &#39;kan.&#xA;&#xA;Sekarang ia telah selesai mengantri di suatu bioskop. Karena, bioskop yang menampilkan siaran episode anime kesukaannya itu.&#xA;&#xA;Tidak juga ramai, tidak juga sepi. Lumayan banyak anak-anak maupun gadis. Tenang dan sunyi hingga akhirnya pecah menjadi kesenangan berarti.&#xA;&#xA;&#34;Loh, Na-kun nonton juga?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh! [Name]~ of course.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sudah berapa bulan semenjak itu? Aku lupa, tapi episode yang itu benar-benar membuatku menggila, astaga!&#34; ucap langsung dari [Name]. Hal tersebut membuat Nagi yang merespon cukup senang.&#xA;&#xA;Sudah lama ia bertemu dengan penyuka Magical Cocona seperti ia. Itu terjadi sewaktu keduanya berada pada kursi yang bersebelahan di dalam bioskop.&#xA;&#xA;&#34;Yes, aku paling menyukai eposide itu~&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bagaimana karirmu, bisa dijalani dengan baik bukan? Tenang saja, aku selalu mendukung kalian.&#34;&#xA;&#xA;Perlu diketahui, hubungan keduanya masih tetap Idola dan Penggemarnya. Hanya karena mereka memiliki kesukaan yang sama, maka dari itulah menjadi dekat.&#xA;&#xA;&#34;Nothing to worry~ hubunganku dengan mereka baik-baik saja. Thank you, karena sudah mendukung, [Name].&#34;&#xA;&#xA;&#34;Wow, senang mendengarnya.&#34;&#xA;&#xA;Ponsel milik Nagi memberikan notifikasi pesan. Hal tersebut dari sang Manager, Tsumugi. Mau tak mau ia harus menyelesaikan topik pembicaraan kali ini.&#xA;&#xA;&#34;Oh sorry! Aku akan segera pergi sekarang, see you.&#34;&#xA;&#xA;Menatap punggung Nagi yang mulai menghilang, sebuah kalimat pun akhirnya dilontarkan,&#xA;&#xA;&#34;See you.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Rokuya Nagi × Reader.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:IDOLiSH7" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">IDOLiSH7</span></a> Fanfiction.</p></blockquote>

<p><em>Day 26 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</em> </p>

<hr/>

<p><em>“What?!”</em></p>

<p>Teriakan terjadi di dalam dorm, membuat mreka yang mendengarnya langsung kaget. Seraya menjadikan beberapa diantara mereka bertanya balik, “Ada apa, Nagi?”</p>

<p>Mereka berada di ruang tengah, jadi untuk masalah ini tampak meminta jawaban. Baru saja pemuda bersurai kuning itu mendapatkan suatu pemberitahuan dari notifikasi, <em>“Magical Cocona</em> tayang bertepatan dengan kita <em>live!”</em></p>

<p>Hal tersebut membuat yang memahami hal itu, hanya menggeleng-gelengkan kepala. Syukuri, mereka tak kaget berlebihan. Kalau berlebihan pertarungan yang ada. Tapi tidak untuk saat ini, mungkin.</p>

<p>“Yah setelah <em>live</em>, kau akan tetap menontonnya. Jadi kenapa kau malah khawatir seperti itu, Nagi?”</p>

<p>“Yamato, <em>you don&#39;t understand it</em>.”</p>

<p>Mendesah pelan, tidak habis pikir. Bagaimana salah satu member yang menjadi anggota unit maupun <em>subunit</em>nya, malah seperti ini?</p>

<p>Ia akui, memang faktanya Rokuya Nagi adalah salah satu orang yang paling menggemari seri <em>Magical Cocona</em>. Bahkan kamar menjadi taruhan, tuk <em>otaku</em> seperti dirinya.</p>

<p>“<em>Mmn</em>, bagaimana jika Nagi-<em>kun</em> fokus saja dulu dengan <em>live</em>-nya, nanti dipikirkan lagi cara bisa melihatnya.”</p>

<p>Mengeluh, ia tidak tahu akan seperti itu. Kenapa jam tayang keduanya terlalu berdekatan? Mengangguk lemah, tidak dapat memikirkan sesuatu ide. Hal tersebut Sogo yang menjadi pengalihan topik kali ini.</p>

<p>“Nagi, tenanglah sedikit! Kau akan punya banyak waktu setelah <em>live</em>. Jadi pergunakanlah waktumu itu nanti, dengan menontonnya, <em>huh</em>?”</p>

<p>Mitsuki yang terlihat kesal dengan Nagi, ia melancarkan perkataannya. Memberi ketenangan sesaat pada kecemasan sosok lelaki yang sungguh menjadi budak cinta-nya anime.</p>

<p>Iya, <em>Magical Cocona</em> yang ia maksud adalah episode <em>anime</em> terbaru-nya.</p>

<p>Tapi itu adalah kejadian sebelum live mereka terjadi. Disini yang ingin terjadi adalah di mana Nagi mendebatkan tentang <em>Magical Cocona</em> setelah <em>live</em> diatas panggung.</p>

<p>Tentu hal tersebut tak akan ia lupa &#39;kan.</p>

<p>Sekarang ia telah selesai mengantri di suatu bioskop. Karena, bioskop yang menampilkan siaran episode <em>anime</em> kesukaannya itu.</p>

<p>Tidak juga ramai, tidak juga sepi. Lumayan banyak anak-anak maupun gadis. Tenang dan sunyi hingga akhirnya pecah menjadi kesenangan berarti.</p>

<p>“Loh, Na-<em>kun</em> nonton juga?”</p>

<p>“<em>Oh</em>! [Name]~ <em>of course.”</em></p>

<p>“Sudah berapa bulan semenjak itu? Aku lupa, tapi episode yang itu benar-benar membuatku menggila, astaga!” ucap langsung dari [Name]. Hal tersebut membuat Nagi yang merespon cukup senang.</p>

<p>Sudah lama ia bertemu dengan penyuka <em>Magical Cocona</em> seperti ia. Itu terjadi sewaktu keduanya berada pada kursi yang bersebelahan di dalam bioskop.</p>

<p>“<em>Yes</em>, aku paling menyukai eposide itu~”</p>

<p>“Bagaimana karirmu, bisa dijalani dengan baik bukan? Tenang saja, aku selalu mendukung kalian.”</p>

<p>Perlu diketahui, hubungan keduanya masih tetap Idola dan Penggemarnya. Hanya karena mereka memiliki kesukaan yang sama, maka dari itulah menjadi dekat.</p>

<p>“<em>Nothing to worry~</em> hubunganku dengan mereka baik-baik saja. <em>Thank you,</em> karena sudah mendukung, [Name].”</p>

<p>“<em>Wow</em>, senang mendengarnya.”</p>

<p>Ponsel milik Nagi memberikan notifikasi pesan. Hal tersebut dari sang <em>Manager</em>, Tsumugi. Mau tak mau ia harus menyelesaikan topik pembicaraan kali ini.</p>

<p>“<em>Oh sorry!</em> Aku akan segera pergi sekarang, <em>see you.”</em></p>

<p>Menatap punggung Nagi yang mulai menghilang, sebuah kalimat pun akhirnya dilontarkan,</p>

<p>“<em>See you</em>.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/movie</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 11:38:02 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Meet Again.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/meet-again?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Nanase Riku × Reader.&#xA;  #IDOLiSH7 Fanfiction.&#xA;&#xA;Day 6 of #SimpTember 2021. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Karena suatu alasan Sogo dan Riku perlu berpergian untuk belanja, akibat yang lain memiliki jadwal cukup padat. Tapi dengan berbagai alasan diucapkan, Sogo membiarkan Riku untuk ikut pergi dengannya.&#xA;&#xA;Walau terkadang sering berbicara tapi, untuk masalah berpergian kerap kali Sogo khawatir dengan penyakitnya yang tiba-tiba kambuh. Dia berusaha untuk tidak memberatkan Riku, agar semua yang ia khawatirkan tak terjadi.&#xA;&#xA;Sesekali dipaksa untuk beristirahat, memang agak keras kepala tetapi ancaman khas Sogo bagi Riku sendiri, mau tak mau dia mengikutinya.&#xA;&#xA;Apalagi semua hal itu berbanding terbalik dengan Iori, ketika sibuk merawat dirinya bila dikeadaan seperti ini.&#xA;&#xA;Bahkan jika Iori mengetahui hal ini, mungkin ceramah akan ada terdengar. Tentu saja dalam hal mengingatkan, itu adalah salah satu bentuk khawatir seorang Iori.&#xA;&#xA;&#34;Apa sudah lebih baikan sekarang, Riku-kun?&#34;&#xA;&#xA;Keduanya berhenti di mana ada sebuah kursi panjang, disekitar mall. Tidak begitu ramai, syukurlah seperti itu. Bila tidak kerumunan semacam semut bertemu gula, akan ada.&#xA;&#xA;&#34;Um, aku tidak apa-apa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Riku-san?&#34;&#xA;&#xA;Sedikit samar namun pasti ada yang memanggil dirinya tapi, keduanya bersyukur akibat sebuah bunyi berbunyi nyaring. Mendapati sosok yang tidak asing, dilihatnya seorang gadis seumurannya dihadapan.&#xA;&#xA;&#34;Ah, apa aku menganggu?&#34;&#xA;&#xA;Sogo mungkin akan cukup kaget bila tak diberitahu oleh Riku sendiri. Benar, gadis tersebut adalah [Full Name], salah seorang teman Riku sewaktu di rumah sakit.&#xA;&#xA;&#34;Err, kita bertemu lagi, ya [Name]-san. Ngomong-ngomong, bagaimana dirimu bisa mengenaliku?&#34;&#xA;&#xA;Terlihat berpikir [Name] hanya mengulas senyum kecil. Ia bahkan tidak mengenalinya, bila tidak mengingat-ingat.&#xA;&#xA;&#34;Rambutmu berbeda dari yang lain, walau begitu aku masih ragu tadi. Sudah lama semenjak itu masalahnya,&#34; jelas [Name] sedikit tidak yakin.&#xA;&#xA;Rasa cemas bila salah memanggil nama orang, menjadi salah satu dari kondisinya saat ini. &#34;Ahh, seperti itu. Ternyata khas sekali ya, seperti dulu. Eum, apakah [Name]-san sendiri masih sering ke sana?&#34;&#xA;&#xA;Anggukan pelan sebagai jawaban. Sogo ternyata cukup mengkhawatirkan, tapi sepertinya terurungkan. Karena dikatakan oleh Riku sendiri bahwa dia sama sekali tidak mengenali IDOLiSH7.&#xA;&#xA;&#34;Walau aku mengenali Riku-san, sayangnya aku tidak begitu mengenali IDOLiSH7. Terlalu banyak waktu terbuang untuk berhadapan dengan obat-obatan, jadi aku tidak benar-benar tahu.&#34;&#xA;&#xA;Itulah jawaban, setelah dikatakan Riku bahwa [Name] memang kurang mengenali mereka sebagai IDOLiSH7. Tapi karena hal itu keduanya cukup bersyukur.&#xA;&#xA;Selain tidak berhadapan dengan para penggemar, akan sulit bila melepaskan diri jikalau sudah berada dalam kerumunan.&#xA;&#xA;&#34;Ah, mungkin ini tidak sopan kurasa. Sepertinya aku perlu memperkenalkan diri, benar? Silakan panggil saja [Name].&#34;&#xA;&#xA;Terkesan terlambat tapi tetap memperkenalkan diri. &#34;Tidak masalah aku bisa memahami hal itu,&#34; celetuk Sogo yang sedari tadi membiarkan percakapan terjadi antara Riku dan [Name] berlangsung tanpa hambatan.&#xA;&#xA;&#34;Terima kasih ... untuk itu. Oh, bagaimana dengan perkembangan mu dengan IDOLiSH7? Kuharap Riku-san tidak memaksakan diri sendiri, ya.&#34;&#xA;&#xA;Sekedar mengingatkan pada dasarnya, [Name] merupakan teman satu ruangan dengan Riku sewaktu di rumah sakit. Walau akhirnya pisah kamar untuk beberapa alasan.&#xA;&#xA;Tetapi, [Name] tahu bagaimana sifat Riku sedari dulu. Terlalu semangat, bahkan sedari dulu sering kali memuji-muji dan mengatakan hal-hal menyangkut sang kakak, sewaktu diajak bicara pertama kali dengan [Name]. &#xA;&#xA;&#34;Aku akan mencoba menyisihkan waktu, untuk bisa menonton penampilanmu,&#34; lanjut [Name].&#xA;&#xA;&#34;Eh, apakah itu tidak apa-apa bagi kondisimu? Sebentar, apakah [Name]-san sudah keluar dari sana?&#34;&#xA;&#xA;Berupa gelengan pelan yang kedua orang dihadapan dapat. &#34;Sayangnya tidak. Aku memaksakan diri untuk hal ini, hehe. Tapi itu tidak perlu dikhawatirkan, [Name] ini bukanlah [Name] yang dulu Riku-san kenali.&#34;&#xA;&#xA;Selain nekat, kenyataan selalu membenarkan apa yang ingin dilakukan. Sogo tidak mempercayai hal itu, sebelumnya. Bagaimana bisa ada gadis yang cukup keras kepala? Terlebih nekat masalah seperti ini.&#xA;&#xA;&#34;Ahaha, baiklah. Sudahi percakapan kali ini, ya. Aku khawatir nantinya tidak bisa belanja kebutuhan,&#34; sahut Riku mencoba menyudahi percakapan yang ternyata sudah berlangsung lama dari apa yang dipikirkan. Anggukan kecil terjadi pada Sogo.&#xA;&#xA;&#34;Berharap dirimu tidak—kalian berdua tidak memaksakan diri, itu yang lebih patut dikatakan.&#34; Sogo meralat perkataannya sendiri, hanya diberikan senyum terkesan pasrah.&#xA;&#xA;&#34;Kalau begitu maaf menganggu waktu kalian, sampai bertemu lagi.&#34;&#xA;&#xA;Perpisahan terjadi, pertemuan akan datang. Tidak mungkin lama, tidak dalam waktu dekat, tapi tentu saja kelak akan tiba.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Nanase Riku × Reader.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:IDOLiSH7" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">IDOLiSH7</span></a> Fanfiction.</p></blockquote>

<p><em>Day 6 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</em> </p>

<hr/>

<p>Karena suatu alasan Sogo dan Riku perlu berpergian untuk belanja, akibat yang lain memiliki jadwal cukup padat. Tapi dengan berbagai alasan diucapkan, Sogo membiarkan Riku untuk ikut pergi dengannya.</p>

<p>Walau terkadang sering berbicara tapi, untuk masalah berpergian kerap kali Sogo khawatir dengan penyakitnya yang tiba-tiba kambuh. Dia berusaha untuk tidak memberatkan Riku, agar semua yang ia khawatirkan tak terjadi.</p>

<p>Sesekali dipaksa untuk beristirahat, memang agak keras kepala tetapi ancaman khas Sogo bagi Riku sendiri, mau tak mau dia mengikutinya.</p>

<p>Apalagi semua hal itu berbanding terbalik dengan Iori, ketika sibuk merawat dirinya bila dikeadaan seperti ini.</p>

<p>Bahkan jika Iori mengetahui hal ini, mungkin ceramah akan ada terdengar. Tentu saja dalam hal mengingatkan, itu adalah salah satu bentuk khawatir seorang Iori.</p>

<p>“Apa sudah lebih baikan sekarang, Riku-<em>kun</em>?”</p>

<p>Keduanya berhenti di mana ada sebuah kursi panjang, disekitar mall. Tidak begitu ramai, syukurlah seperti itu. Bila tidak kerumunan semacam semut bertemu gula, akan ada.</p>

<p>“Um, aku tidak apa-apa.”</p>

<p>“Riku-<em>san</em>?”</p>

<p>Sedikit samar namun pasti ada yang memanggil dirinya tapi, keduanya bersyukur akibat sebuah bunyi berbunyi nyaring. Mendapati sosok yang tidak asing, dilihatnya seorang gadis seumurannya dihadapan.</p>

<p>“Ah, apa aku menganggu?”</p>

<p>Sogo mungkin akan cukup kaget bila tak diberitahu oleh Riku sendiri. Benar, gadis tersebut adalah [Full Name], salah seorang teman Riku sewaktu di rumah sakit.</p>

<p>“Err, kita bertemu lagi, ya [Name]-<em>san</em>. Ngomong-ngomong, bagaimana dirimu bisa mengenaliku?”</p>

<p>Terlihat berpikir [Name] hanya mengulas senyum kecil. Ia bahkan tidak mengenalinya, bila tidak mengingat-ingat.</p>

<p>“Rambutmu berbeda dari yang lain, walau begitu aku masih ragu tadi. Sudah lama semenjak itu masalahnya,” jelas [Name] sedikit tidak yakin.</p>

<p>Rasa cemas bila salah memanggil nama orang, menjadi salah satu dari kondisinya saat ini. “<em>Ahh</em>, seperti itu. Ternyata khas sekali ya, seperti dulu. <em>Eum</em>, apakah [Name]-<em>san</em> sendiri masih sering ke sana?”</p>

<p>Anggukan pelan sebagai jawaban. Sogo ternyata cukup mengkhawatirkan, tapi sepertinya terurungkan. Karena dikatakan oleh Riku sendiri bahwa dia sama sekali tidak mengenali IDOLiSH7.</p>

<p>“Walau aku mengenali Riku-<em>san</em>, sayangnya aku tidak begitu mengenali IDOLiSH7. Terlalu banyak waktu terbuang untuk berhadapan dengan obat-obatan, jadi aku tidak benar-benar tahu.”</p>

<p>Itulah jawaban, setelah dikatakan Riku bahwa [Name] memang kurang mengenali mereka sebagai IDOLiSH7. Tapi karena hal itu keduanya cukup bersyukur.</p>

<p>Selain tidak berhadapan dengan para penggemar, akan sulit bila melepaskan diri jikalau sudah berada dalam kerumunan.</p>

<p>“Ah, mungkin ini tidak sopan kurasa. Sepertinya aku perlu memperkenalkan diri, benar? Silakan panggil saja [Name].”</p>

<p>Terkesan terlambat tapi tetap memperkenalkan diri. “Tidak masalah aku bisa memahami hal itu,” celetuk Sogo yang sedari tadi membiarkan percakapan terjadi antara Riku dan [Name] berlangsung tanpa hambatan.</p>

<p>“Terima kasih ... untuk itu. Oh, bagaimana dengan perkembangan mu dengan IDOLiSH7? Kuharap Riku-<em>san</em> tidak memaksakan diri sendiri, ya.”</p>

<p>Sekedar mengingatkan pada dasarnya, [Name] merupakan teman satu ruangan dengan Riku sewaktu di rumah sakit. Walau akhirnya pisah kamar untuk beberapa alasan.</p>

<p>Tetapi, [Name] tahu bagaimana sifat Riku sedari dulu. Terlalu semangat, bahkan sedari dulu sering kali memuji-muji dan mengatakan hal-hal menyangkut sang kakak, sewaktu diajak bicara pertama kali dengan [Name].</p>

<p>“Aku akan mencoba menyisihkan waktu, untuk bisa menonton penampilanmu,” lanjut [Name].</p>

<p>“Eh, apakah itu tidak apa-apa bagi kondisimu? Sebentar, apakah [Name]-<em>san</em> sudah keluar dari sana?”</p>

<p>Berupa gelengan pelan yang kedua orang dihadapan dapat. “Sayangnya tidak. Aku memaksakan diri untuk hal ini, hehe. Tapi itu tidak perlu dikhawatirkan, [Name] ini bukanlah [Name] yang dulu Riku-<em>san</em> kenali.”</p>

<p>Selain nekat, kenyataan selalu membenarkan apa yang ingin dilakukan. Sogo tidak mempercayai hal itu, sebelumnya. Bagaimana bisa ada gadis yang cukup keras kepala? Terlebih nekat masalah seperti ini.</p>

<p>“Ahaha, baiklah. Sudahi percakapan kali ini, ya. Aku khawatir nantinya tidak bisa belanja kebutuhan,” sahut Riku mencoba menyudahi percakapan yang ternyata sudah berlangsung lama dari apa yang dipikirkan. Anggukan kecil terjadi pada Sogo.</p>

<p>“Berharap dirimu tidak—kalian berdua tidak memaksakan diri, itu yang lebih patut dikatakan.” Sogo meralat perkataannya sendiri, hanya diberikan senyum terkesan pasrah.</p>

<p>“Kalau begitu maaf menganggu waktu kalian, sampai bertemu lagi.”</p>

<p>Perpisahan terjadi, pertemuan akan datang. Tidak mungkin lama, tidak dalam waktu dekat, tapi tentu saja kelak akan tiba.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/meet-again</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 09:46:18 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Candy.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/candy?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Yotsuba Tamaki × Reader.&#xA;  #IDOLiSH7 Fanfiction.&#xA;&#xA;Day 1 of #SimpTember 2021. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Lumer dimulut bersamaan terasa manis disekitar, tidak pernah luntur senyuman mengambang disana. Helai menghiasi di mana mahkota kepala berada tertiup oleh irama khas dari angin.&#xA;&#xA;Menikmati sesuatu dihadapan yang sedari tersenyum, melupakan apa yang telah terjadi. &#xA;&#xA;&#34;Permennya meleleh dimulut,&#34; menutup mulut, dalam sesaat ucapan terlontar.&#xA;&#xA;Menandakan bahwa Ia telah larut dalam dunianya sendiri selalu saja, sudut bibir ikut membentuk senyum. Melupakan segala kejadian hanyut dalam kesukaan, berpikir bagaimana bisa semanis ini. &#xA;&#xA;&#34;[Nickname]!&#34; Panggilan pun tak didengar benar-benar larut dalam dunia sendiri. Tangan menepuk bahu malah sontak kaget, yang diperlihatkan.&#xA;&#xA;Padahal sudah dipanggil maka, jadilah seperti sekarang. Mengatur napas tuk mencoba sedikit lebih tenang. &#xA;&#xA;Manik senada melirik di mana bahu tersentuh. Menangkap keberadaan yang cukup dikenal, jari mengaruk-garuk pipinya tak gatal, &#34;[Nickname] tadi dipanggil tidak mendengarkan.&#34;&#xA;&#xA;Rasa ingin mengutuk diri sendiri tapi tak berkenan, kini memperlihatkan ekspresi membingungkan. &#xA;&#xA;&#34;Err, maaf. Ada apa memangnya, Tamaki-san?&#34; Tidak percaya dengan pertanyaan balik, mau tak mau yang mendengar harus menjawab.&#xA;&#xA;Napas kasar diambil guna menstabilkan pikiran pemilik helai biru muda itu. &#34;Apa kau melupakannya?&#34; &#xA;&#xA;Sebelum menjawab, dia ingin memastikan sekali lagi. Memijit pelan dahi, mencari tahu apa yang telah dilupakan.&#xA;&#xA;Butuh beberapa saat setelah semua yang terjadi mengerti apa yang sudah Ia lupakan. &#34;Padahal [Nickname] sendiri yang memintaku untuk melakukannya bersamamu.&#34; &#xA;&#xA;Terdengar lirih namun yang pasti, ekspresi sedih tertuang pada rautnya. Menganga tak percaya melupakan fakta bahwa, Tamaki sendiri terkadang membuat ucapan yang mendengarnya salah paham.&#xA;&#xA;&#34;Tapi kau sudah melakukan semuanya sendiri, apa kau benar-benar mengajakku?&#34; &#xA;&#xA;Tidak bisa berpikir dengan jernih karena ucapan tersebut, membuat dia terdiam sesaat.&#xA;&#xA;Tangan malah seenaknya bermain diatas kepala Tamaki bahkan, ekspresi kaget bisa terlihat jelas sekarang.&#xA;&#xA;&#34;Ahaha, aku baru ingat kalau mengajak dirimu, Tamaki-san. Aku benar-benar minta maaf ....&#34; Menjauhkan tangan dari kepala, Tamaki memegang tangannya.&#xA;&#xA;&#34;[Nickname] kenapa minta maaf? Lagipula, [Nickname] kalau sudah berhadapan dengan kesukaan, semua pasti dilupakan.&#34; Menusuk tapi kebenaran itu adalah kenyataan. &#xA;&#xA;Tangan masih dipegang oleh Tamaki, dia menggeret [Name] secara tak sadar. &#34;Tamaki-san!&#34; peringat [Name] segera, yang memegang tangan itu menoleh ke arahnya.&#xA;&#xA;Mendengar nama terpanggil, [Name] memberi gerakan ringan pada tangan yang dipegang. Sontak melepaskan dan berkata, &#34;Ah ... maaf.&#34; &#xA;&#xA;Mengelengkan kepala tidak ingin waktu hanya dipergunakan untuk sekedar pemintaan maaf. &#34;Tidak masalah, tapi ... aku akan dibawa ke mana?&#34; tanya [Name] mencoba mengerti dari pergerakan tiba-tiba dirinya. &#xA;&#xA;Tamaki terdiam sesaat dan mulai berujar, &#34;Aku ingin mengajak [Nickname] pergi ke toko permen. Itu kesukaanmu, bukan?&#34;&#xA;&#xA;Menetapkan senyum puas, Tamaki mengatakan seraya mencoba mencari kebenarannya. &#xA;&#xA;Senyuman khas dalam pandangan irisnya, membuat pemilik nama panggilan yang ditanya itu menangguk pelan.&#xA;&#xA;&#34;Permen itu manis sekali! Terutama cokelat, rasanya lumer dalam mulut. Nanti Tamaki-san mau mencobanya juga?&#34; &#xA;&#xA;Netra biru muda Tamaki berbinar. &#34;He, seenak itu ya. Oh! Bagaimana kalau kita kreasikan permen dengan Ousama Pudding?&#34; langung saja menyambar setelah ucapan tadi didengar, &#34;Apa boleh seperti itu?&#34; [Name] mengangguk. &#xA;&#xA;Dia ingin merasakan bagaimana perpaduannya jikalau memang mungkin.&#xA;&#xA;Tanpa sadar sudah berpergian menuju toko di mana tempat yang mereka tuju sebelumnya, sebuah toko permen. &#34;Naa, [Nickname] bagaimana kalau yang ini?&#34; &#xA;&#xA;Tangannya menyodorkan beberapa permen, yang diambil dari tempat tersedia. Lantas memberikannya kepada [Name], sedangkan [Name] yang melihatnya mengangguk kecil.&#xA;&#xA;&#34;Boleh saja, sudah semuanya bukan?&#34; Bertanya memastikan tidak ada yang terlupakan. &#xA;&#xA;Tamaki menangguk semangat, &#34;Kalau [Nickname] bagaimana, sudah?&#34; Bergantian tuk bertanya, dan dibalas kembali oleh anggukan. &#34;Baiklah! Waktunya membeli Ousama Pudding.&#34;&#xA;&#xA;Tak pernah luntur semangat dari rautnya bila, sudah berhubungan dengan surga dunia dia. &#xA;&#xA;Berada di taman keduanya melakukan eksperimen terhadap permen dan Ousama Pudding yang telah dibeli. &#34;Uwah! Enak sekali, [Nickname]. Benar-benar seperti perkataanmu, ini manis.&#34;&#xA;&#xA;Tampak menikmati secara keseluruhan sesaat, tangan [Name] mengusap sedikit wajah Tamaki. &#xA;&#xA;Terdapat noda bekas campuran Ousama Pudding maupun permen. &#34;Ada apa?&#34; Menyadari bahwa sebuah jari mengusap bagian dekat mulut wajahnya.&#xA;&#xA;[Name] memperlihatkan ujung jari bekas usapan noda, yang ternyata berasal dari dirinya. &#xA;&#xA;&#34;Makannya pelan-pelan, mengerti?&#34; Sebelum tangan dialihkan, Tamaki menangkap pergelangan tangan dan memasukan sedikit jari bekas noda tersebut, ke dalam mulut.&#xA;&#xA;Kaget bukan main langsung saja, [Name] menjauhkan tangannya. &#xA;&#xA;&#34;Oh, maaf.&#34; Kembali dimasukan yang sebelumnya berada pada tangan yang lain, itulah permennya.&#xA;&#xA;&#34;Mikki bilang jangan membuang-buang makanan,&#34; jawabnya seakan mengerti maksud tatapan dari [Name], kenapa Ia berbuat seperti itu? &#xA;&#xA;Helaan napas panjang, tidak ada kesalahan juga menjilat tangan bila ada nodanya. Tapi yang seperti ini? Mari abaikan itu dahulu, [Name] mencoba memahami perkataan Tamaki.&#xA;&#xA;&#34;Tapi, jangan menjilat tanganku ..., itu agak bagaimana ya.&#34; &#xA;&#xA;Mengalihkan pandangan dari Tamaki, membuat dahinya mengerut. &#34;Apa [Nickname] marah padaku?&#34; Bingung membalas, menetralkan kondisi saat ini.&#xA;&#xA;Mulai kembali menatap Tamaki dan menggelengkan kepala, &#34;Tidak. Tapi, bagaimana dengan jadwal pemotretanmu sekarang?&#34; &#xA;&#xA;Mengalihkan topik pembicaraan, sepertinya hanya itu solusi yang paling bagus.&#xA;&#xA;&#34;Hm? Kata Sou-chan sekitar jam tiga. Ngomong-ngomong, ini jam berapa [Nickname]?&#34; Tamaki mengalihkan pandangan ke tangannya dimana Ousama Pudding masih tersedia. &#xA;&#xA;&#34;Sudah jam dua, perlu aku antar sekarang? Kebetulan, aku perlu menitipkan sesuatu dengan Sogo-san.&#34;&#xA;&#xA;Tamaki sedikit kaget, &#34;Tidak apa-apa? Tunggu, apakah [Nickname] akan bicara pada Sou-chan aku makan Ousama Pudding berlebihan juga?&#34; &#xA;&#xA;Tamaki menatap [Name] tajam sedangkan yang ditanya, menggelengkan kepala.&#xA;&#xA;&#34;Tidak akan, kok. Bukannya hari itu aku sudah berbicara akan berpergian dengan Tamaki-san juga?&#34; Berbalik tanya, Tamaki mengangguk pelan. &#xA;&#xA;&#34;Benar juga tapi sebelum itu, aku akan menghabiskan Ousama Pudding dulu boleh, &#39;kan?&#34;&#xA;&#xA;[Name] mengangukinya. &#34;Baiklah, aku akan menunggu.&#34; Terlihat sangat menikmati, sebuah senyum kecil tak jelas dilihat namun pasti adanya. &#xA;&#xA;Ketika melihat Tamaki yang memakan itu sepertimelihat diri sendiri. Seolah lupa dengan sekitar dan asik dalam dunia sendiri.&#xA;&#xA;Sesuai kata Tamaki, &#39;kalau sudah berhadapan dengan kesukaan, semua pasti dilupakan, huh? &#xA;&#xA;Sial, manis juga dia.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Yotsuba Tamaki × Reader.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:IDOLiSH7" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">IDOLiSH7</span></a> Fanfiction.</p></blockquote>

<p><em>Day 1 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</em> </p>

<hr/>

<p>Lumer dimulut bersamaan terasa manis disekitar, tidak pernah luntur senyuman mengambang disana. Helai menghiasi di mana mahkota kepala berada tertiup oleh irama khas dari angin.</p>

<p>Menikmati sesuatu dihadapan yang sedari tersenyum, melupakan apa yang telah terjadi.</p>

<p>“Permennya meleleh dimulut,” menutup mulut, dalam sesaat ucapan terlontar.</p>

<p>Menandakan bahwa Ia telah larut dalam dunianya sendiri selalu saja, sudut bibir ikut membentuk senyum. Melupakan segala kejadian hanyut dalam kesukaan, berpikir bagaimana bisa semanis ini.</p>

<p>“[Nickname]!” Panggilan pun tak didengar benar-benar larut dalam dunia sendiri. Tangan menepuk bahu malah sontak kaget, yang diperlihatkan.</p>

<p>Padahal sudah dipanggil maka, jadilah seperti sekarang. Mengatur napas tuk mencoba sedikit lebih tenang.</p>

<p>Manik senada melirik di mana bahu tersentuh. Menangkap keberadaan yang cukup dikenal, jari mengaruk-garuk pipinya tak gatal, “[Nickname] tadi dipanggil tidak mendengarkan.”</p>

<p>Rasa ingin mengutuk diri sendiri tapi tak berkenan, kini memperlihatkan ekspresi membingungkan.</p>

<p>“Err, maaf. Ada apa memangnya, Tamaki-<em>san</em>?” Tidak percaya dengan pertanyaan balik, mau tak mau yang mendengar harus menjawab.</p>

<p>Napas kasar diambil guna menstabilkan pikiran pemilik helai biru muda itu. “Apa kau melupakannya?”</p>

<p>Sebelum menjawab, dia ingin memastikan sekali lagi. Memijit pelan dahi, mencari tahu apa yang telah dilupakan.</p>

<p>Butuh beberapa saat setelah semua yang terjadi mengerti apa yang sudah Ia lupakan. “Padahal [Nickname] sendiri yang memintaku untuk melakukannya bersamamu.”</p>

<p>Terdengar lirih namun yang pasti, ekspresi sedih tertuang pada rautnya. Menganga tak percaya melupakan fakta bahwa, Tamaki sendiri terkadang membuat ucapan yang mendengarnya salah paham.</p>

<p>“Tapi kau sudah melakukan semuanya sendiri, apa kau benar-benar mengajakku?”</p>

<p>Tidak bisa berpikir dengan jernih karena ucapan tersebut, membuat dia terdiam sesaat.</p>

<p>Tangan malah seenaknya bermain diatas kepala Tamaki bahkan, ekspresi kaget bisa terlihat jelas sekarang.</p>

<p>“Ahaha, aku baru ingat kalau mengajak dirimu, Tamaki-<em>san</em>. Aku benar-benar minta maaf ....” Menjauhkan tangan dari kepala, Tamaki memegang tangannya.</p>

<p>“[Nickname] kenapa minta maaf? Lagipula, [Nickname] kalau sudah berhadapan dengan kesukaan, semua pasti dilupakan.” Menusuk tapi kebenaran itu adalah kenyataan.</p>

<p>Tangan masih dipegang oleh Tamaki, dia menggeret [Name] secara tak sadar. “Tamaki-<em>san</em>!” peringat [Name] segera, yang memegang tangan itu menoleh ke arahnya.</p>

<p>Mendengar nama terpanggil, [Name] memberi gerakan ringan pada tangan yang dipegang. Sontak melepaskan dan berkata, “Ah ... maaf.”</p>

<p>Mengelengkan kepala tidak ingin waktu hanya dipergunakan untuk sekedar pemintaan maaf. “Tidak masalah, tapi ... aku akan dibawa ke mana?” tanya [Name] mencoba mengerti dari pergerakan tiba-tiba dirinya.</p>

<p>Tamaki terdiam sesaat dan mulai berujar, “Aku ingin mengajak [Nickname] pergi ke toko permen. Itu kesukaanmu, bukan?”</p>

<p>Menetapkan senyum puas, Tamaki mengatakan seraya mencoba mencari kebenarannya.</p>

<p>Senyuman khas dalam pandangan irisnya, membuat pemilik nama panggilan yang ditanya itu menangguk pelan.</p>

<p>“Permen itu manis sekali! Terutama cokelat, rasanya lumer dalam mulut. Nanti Tamaki-<em>san</em> mau mencobanya juga?”</p>

<p>Netra biru muda Tamaki berbinar. “He, seenak itu ya. Oh! Bagaimana kalau kita kreasikan permen dengan Ousama Pudding?” langung saja menyambar setelah ucapan tadi didengar, “Apa boleh seperti itu?” [Name] mengangguk.</p>

<p>Dia ingin merasakan bagaimana perpaduannya jikalau memang mungkin.</p>

<p>Tanpa sadar sudah berpergian menuju toko di mana tempat yang mereka tuju sebelumnya, sebuah toko permen. “<em>Naa</em>, [Nickname] bagaimana kalau yang ini?”</p>

<p>Tangannya menyodorkan beberapa permen, yang diambil dari tempat tersedia. Lantas memberikannya kepada [Name], sedangkan [Name] yang melihatnya mengangguk kecil.</p>

<p>“Boleh saja, sudah semuanya bukan?” Bertanya memastikan tidak ada yang terlupakan.</p>

<p>Tamaki menangguk semangat, “Kalau [Nickname] bagaimana, sudah?” Bergantian tuk bertanya, dan dibalas kembali oleh anggukan. “Baiklah! Waktunya membeli <em>Ousama Pudding</em>.”</p>

<p>Tak pernah luntur semangat dari rautnya bila, sudah berhubungan dengan surga dunia dia.</p>

<p>Berada di taman keduanya melakukan eksperimen terhadap permen dan Ousama Pudding yang telah dibeli. “Uwah! Enak sekali, [Nickname]. Benar-benar seperti perkataanmu, ini manis.”</p>

<p>Tampak menikmati secara keseluruhan sesaat, tangan [Name] mengusap sedikit wajah Tamaki.</p>

<p>Terdapat noda bekas campuran Ousama Pudding maupun permen. “Ada apa?” Menyadari bahwa sebuah jari mengusap bagian dekat mulut wajahnya.</p>

<p>[Name] memperlihatkan ujung jari bekas usapan noda, yang ternyata berasal dari dirinya.</p>

<p>“Makannya pelan-pelan, mengerti?” Sebelum tangan dialihkan, Tamaki menangkap pergelangan tangan dan memasukan sedikit jari bekas noda tersebut, ke dalam mulut.</p>

<p>Kaget bukan main langsung saja, [Name] menjauhkan tangannya.</p>

<p>“Oh, maaf.” Kembali dimasukan yang sebelumnya berada pada tangan yang lain, itulah permennya.</p>

<p>“Mikki bilang jangan membuang-buang makanan,” jawabnya seakan mengerti maksud tatapan dari [Name], kenapa Ia berbuat seperti itu?</p>

<p>Helaan napas panjang, tidak ada kesalahan juga menjilat tangan bila ada nodanya. Tapi yang seperti ini? Mari abaikan itu dahulu, [Name] mencoba memahami perkataan Tamaki.</p>

<p>“Tapi, jangan menjilat tanganku ..., itu agak bagaimana ya.”</p>

<p>Mengalihkan pandangan dari Tamaki, membuat dahinya mengerut. “Apa [Nickname] marah padaku?” Bingung membalas, menetralkan kondisi saat ini.</p>

<p>Mulai kembali menatap Tamaki dan menggelengkan kepala, “Tidak. Tapi, bagaimana dengan jadwal pemotretanmu sekarang?”</p>

<p>Mengalihkan topik pembicaraan, sepertinya hanya itu solusi yang paling bagus.</p>

<p>“Hm? Kata Sou-<em>chan</em> sekitar jam tiga. Ngomong-ngomong, ini jam berapa [Nickname]?” Tamaki mengalihkan pandangan ke tangannya dimana <em>Ousama Pudding</em> masih tersedia.</p>

<p>“Sudah jam dua, perlu aku antar sekarang? Kebetulan, aku perlu menitipkan sesuatu dengan Sogo-<em>san</em>.”</p>

<p>Tamaki sedikit kaget, “Tidak apa-apa? Tunggu, apakah [Nickname] akan bicara pada Sou-<em>chan</em> aku makan <em>Ousama Pudding</em> berlebihan juga?”</p>

<p>Tamaki menatap [Name] tajam sedangkan yang ditanya, menggelengkan kepala.</p>

<p>“Tidak akan, kok. Bukannya hari itu aku sudah berbicara akan berpergian dengan Tamaki-<em>san</em> juga?” Berbalik tanya, Tamaki mengangguk pelan.</p>

<p>“Benar juga tapi sebelum itu, aku akan menghabiskan Ousama Pudding dulu boleh, &#39;kan?”</p>

<p>[Name] mengangukinya. “Baiklah, aku akan menunggu.” Terlihat sangat menikmati, sebuah senyum kecil tak jelas dilihat namun pasti adanya.</p>

<p>Ketika melihat Tamaki yang memakan itu sepertimelihat diri sendiri. Seolah lupa dengan sekitar dan asik dalam dunia sendiri.</p>

<p>Sesuai kata Tamaki, &#39;kalau sudah berhadapan dengan kesukaan, semua pasti dilupakan, huh?</p>

<p><em>Sial, manis juga dia.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/candy</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 09:06:35 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>