<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>hokurein &amp;mdash; reeinshiyu</title>
    <link>https://reeinshiyu.writeas.com/tag:hokurein</link>
    <description>Seluruh kisah yang dikhususkan kepada mereka yang berkenan untuk membacanya.</description>
    <pubDate>Thu, 14 May 2026 01:47:46 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Sekadar Bertemu</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/sekadar-bertemu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Hidaka Hokuto × Hizafa Rein.&#xA;  #FaureYume; #HokuRein.&#xA;&#xA;   If only, his wish would be granted through that opportunity.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #EnsembleStars © Happy Elements K.K, David Production. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Itu telah terjadi beberapa bulan yang lalu. Di mana ia mendapati sebuah pemberitahuan kalau unitnya akan mengadakan penampilan kembali.&#xA;&#xA;   Latihan yang dilakukan terasa padat seiring berjalannya waktu, tak bisa dipungkiri kalau mereka perlu menampilkan sesuatu yang akan membuat orang terkagum berkat performa yang dilakukan.&#xA;&#xA;   &#34;Huh~ aku ingin istirahat!&#34; Berkat ucapan dari pemuda surai oranye, ia jadi bisa mengatur kembali pernapasan. Ia mengambil langkah menjeda kegiatan.&#xA;&#xA;   Sementara kedua temannya menyetujui hal tersebut. &#34;Benar juga lebih baik istirahat terlebih dahulu.&#34; Lelaki berkacamata itu mulai mengelap keringat yang membasahi pelipisnya.&#xA;&#xA;   Hingga suara lainnya mengalihkan perhatian mereka, &#34;Ah, minumanku sepertinya habis. Aku ingin membelinya, ada yang ingin menitip sekalian?&#34; tanyanya.&#xA;&#xA;   &#34;Aku mau! Titip minuman dingin ya, Sally~&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ya. Bagaimana Hokuto sama Makoto, ingin titip juga?&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ah, tidak perlu. Air minumku masih ada, tetapi milik Yuuki sepertinya sudah habis.&#34;&#xA;&#xA;   Menggaruk pipinya tidak gatal. &#34;Sepertinya boleh juga, ah, aku mau membeli sesuatu juga. Isara-kun, aku ikut juga, ya.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ya, tentu.&#34;&#xA;&#xA;   Pada akhirnya mereka berdua pergi bersama. Menyisakan kedua orang disana. Lelaki yang dipanggil Hokuto tadi terlihat melamun. Tidak seperti biasanya.&#xA;&#xA;   &#34;Hokke!&#34;&#xA;&#xA;   Ia tersentak. Suara yang tidak asing menguar ketelinga miliknya. &#34;Ada apa, Akehoshi?&#34; tanyanya seperti biasa.&#xA;&#xA;   &#34;Hmph, sedari tadi aku panggil dirimu melamun. Coba ceritakan padaku, apa yang kau pikirkan?&#34;&#xA;&#xA;   Akehoshi menyadari bahwa gerak-gerik Hokuto tidak seperti apa yang biasa lihat. Sedikit suram, mungkin? Ah, tidak-tidak.&#xA;&#xA;   &#34;Tidak ada.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Bohong sekali. Dari ekspresimu saja, aku melihat kalau ada yang tidak beres.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Bukan hal yang penting.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Aku tidak percaya.&#34;&#xA;&#xA;   Hidaka Hokuto, itulah namanya. Mulai menghela napas panjang. Entah apa yang membuat teman satu unitnya, Trickstar. Bisa menjadi sepenasaran ini terhadap masalah dirinya.&#xA;&#xA;   &#34;Urusannya dengan Klub Teater.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Lalu?&#34; Baiklah, sekarang Akehoshi Subaru itu semakin penasaran. Bagaimana pun juga, sekarang Hokuto menjadi ketua dari klub tersebut.&#xA;&#xA;   &#34;Akan ada pementasan dalam waktu dekat, jadi—&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Kami kembali.&#34;&#xA;&#xA;   Perkataan Hokuto terpotong. Mendapati kedua temannya yang telah kembali dari berbelanja. &#34;Kalian hanya membeli minuman, terus mengapa jadi sebanyak ini?&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ah, itu karena kita belum makan. Kita sudah berada disini setelah kegiatan sekolah berakhir, jadi perlu mengisi tenaga lagi.&#34;&#xA;&#xA;   Kalau dipikir kembali, mereka berlatih dan mengulangi gerakan tanpa melihat waktu. Selagi ada kesempatan untuk menjeda kegiatan, inilah waktu yang bagus untuk mengisi tenaga.&#xA;&#xA;   &#34;Ya. Kalian semua terlalu bersemangat, sampai melupakan waktu makan,&#34; sahut Yuuki Makoto, si pemuda bersurai kuning dengan kacamata bertengger dihidungnya.&#xA;&#xA;   &#34;Hehe~&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Kalau begitu, ayo makan!&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Selamat makan.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Suasananya entah mengapa menjadi canggung. Padahal, sewaktu tiba ia tak merasakan hal seperti ini. Isara Mao, telah dihujani pertanyaan oleh Subaru. Tentang Hokuto dan klubnya. Sesuai apa yang Subaru duga, Mao mengetahui kegiatan tersebut.&#xA;&#xA;   Mao melirik Hokuto sekilas. Entah mengapa ia menjadi tidak tenang sekarang. &#34;Akehoshi-kun, tenanglah. Hidaka-kun pasti memiliki alasan tersendiri kenapa tidak memberitahukannya,&#34; ucapnya mencoba menengahi pembicaraan.&#xA;&#xA;   &#34;Tetapi, kalau tidak begitu ... Hokke akan terus menutupinya,&#34; katanya.&#xA;&#xA;   &#34;Hei, aku tak seperti itu.&#34;&#xA;&#xA;   Mao mendapati perdebatan kembali.  Ia mulai batuk pelan, berusaha mengarahkan atensi mereka menatap kepada dirinya.&#xA;&#xA;   &#34;Baiklah, berhubung Hokuto juga sudah mengatakannya tadi dengan Subaru. Aku akan mengatakan sedikit saja. Klub Teater akan mengadakan penampilan, sehari sebelum Trickstar mengadakan penampilan. Peran Hokuto juga tidak begitu banyak, karena dia juga berada di kelas akhir seperti kita. Adik kelas kitalah yang nanti akan melakukannya, tetapi dia tetap berusaha untuk ikut tampil disana.&#34;&#xA;&#xA;   Mendengar pernyataan tersebut membuat Makoto merasa khawatir. &#34;Hidaka-kun, jangan terlalu memaksakan diri,&#34; ujarnya.&#xA;&#xA;   &#34;Hokke selalu saja begitu~!&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Aku tidak memaksakan diri. Malah, yang sering kali memaksakan diri itu Isara.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ehh? Kenapa jadi aku juga?&#34; Isara entah mengapa tidak terima kalau ia ikut terlibat. Meskipun begitu ia memang terlibat banyak organisasi sekolah.&#xA;&#xA;   &#34;Kalian berdua sama saja, sering kali memaksakan diri. Tolong ingat dengan kesehatan kalian, karena kita perlu tampil bersama sebagai Trickstar, bukan?&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ya, itu benar.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   &#34;Sangat melelahkan~&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ya, hari ini cukup padat dari dugaan.&#34;&#xA;&#xA;   Mereka saling bertukar pendapat satu sama lain. Hingga mereka mulai memutuskan untuk berpisah dan kembali ke dorm masing-masing.&#xA;&#xA;   Akan tetapi, sebelum Hokuto memutuskan kembali ia mengunjungi suatu toko. Dikala ia menghadapi hari-hari yang berat, makanan kesukaannya akan menjadi penyemangat.&#xA;&#xA;   Berhubung hari belum terlalu larut, walau begitu senja mulai tercipta dilangit. Menandakan bahwa gelap akan merampas semua cahayanya, kendati akan bertabur oleh bintang nanti.&#xA;&#xA;   Perasaannya yang terasa lega, setelah mendengarkan perkataan hangat teman satu unitnya. Entah mengapa membuat ia berjalan dengan senyum tercipta.&#xA;&#xA;   &#34;Persediaan konpeito yang ada di dorm sebentar lagi habis, aku harus membeli beberapa.&#34;&#xA;&#xA;   Benar makanan kesukaannya adalah konpeito. Ialah permen tradisional yang dahulunya diberikan oleh sang Nenek, ketika ia merasa sedih. Seiring pertumbuhannya menjadi remaja, ia semakin menyukainya.&#xA;&#xA;   Ditambah bentuk yang akan segera menarik perhatian, bentuk bintang dan berwarna-warni serta memiliki rasa manis. Terkadang hal itu, mengingatkannya pada masa lalu.&#xA;&#xA;   Setelah mendapatkannya, ia berpapasan tanpa bertukar sapa dengan seseorang yang memang asing terhadapnya. Tidak biasa.&#xA;&#xA;   Namun, berkat hal itu ia sedikit lega. Karena tiada yang mengenali dirinya yang memiliki karir sebagai Idola. Namun, kalau saja ia mengetahuinya itulah pertemuan yang menjadikan dirinya seperti di masa depan nanti.&#xA;&#xA;   Figur indah itu terlihat seperti orang yang telah dewasa. Ah, mungkin saja demikian, benar? Tinggi badan bukanlah menjadi salah satu alasannya. Mengingat orang itu tidak begitu tinggi. Seorang perempuan dengan rambut abu-abu yang tergerai.&#xA;&#xA;   Entah mengapa ia menjadi bisa mengingatnya. Padahal mereka, hanya sekadar bertemu sekilas. Belum tentu dikesempatan yang lain, akan kembali bertemu, benar?&#xA;&#xA;   Ya, belum tentu ada kesempatan.&#xA;&#xA;   To Be Continued.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Hidaka Hokuto × Hizafa Rein.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:HokuRein" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">HokuRein</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>If only, his wish would be granted through that opportunity.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:EnsembleStars" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">EnsembleStars</span></a> © Happy Elements K.K, David Production. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   Itu telah terjadi beberapa bulan yang lalu. Di mana ia mendapati sebuah pemberitahuan kalau unitnya akan mengadakan penampilan kembali.</p>

<p>   Latihan yang dilakukan terasa padat seiring berjalannya waktu, tak bisa dipungkiri kalau mereka perlu menampilkan sesuatu yang akan membuat orang terkagum berkat performa yang dilakukan.</p>

<p>   “Huh~ aku ingin istirahat!” Berkat ucapan dari pemuda surai oranye, ia jadi bisa mengatur kembali pernapasan. Ia mengambil langkah menjeda kegiatan.</p>

<p>   Sementara kedua temannya menyetujui hal tersebut. “Benar juga lebih baik istirahat terlebih dahulu.” Lelaki berkacamata itu mulai mengelap keringat yang membasahi pelipisnya.</p>

<p>   Hingga suara lainnya mengalihkan perhatian mereka, “Ah, minumanku sepertinya habis. Aku ingin membelinya, ada yang ingin menitip sekalian?” tanyanya.</p>

<p>   “Aku mau! Titip minuman dingin ya, <em>Sally~</em>“</p>

<p>   “Ya. Bagaimana Hokuto sama Makoto, ingin titip juga?”</p>

<p>   “Ah, tidak perlu. Air minumku masih ada, tetapi milik Yuuki sepertinya sudah habis.”</p>

<p>   Menggaruk pipinya tidak gatal. “Sepertinya boleh juga, ah, aku mau membeli sesuatu juga. Isara-<em>kun</em>, aku ikut juga, ya.”</p>

<p>   “Ya, tentu.”</p>

<p>   Pada akhirnya mereka berdua pergi bersama. Menyisakan kedua orang disana. Lelaki yang dipanggil Hokuto tadi terlihat melamun. Tidak seperti biasanya.</p>

<p>   “<em>Hokke</em>!”</p>

<p>   Ia tersentak. Suara yang tidak asing menguar ketelinga miliknya. “Ada apa, Akehoshi?” tanyanya seperti biasa.</p>

<p>   “Hmph, sedari tadi aku panggil dirimu melamun. Coba ceritakan padaku, apa yang kau pikirkan?”</p>

<p>   Akehoshi menyadari bahwa gerak-gerik Hokuto tidak seperti apa yang biasa lihat. Sedikit suram, mungkin? Ah, tidak-tidak.</p>

<p>   “Tidak ada.”</p>

<p>   “Bohong sekali. Dari ekspresimu saja, aku melihat kalau ada yang tidak beres.”</p>

<p>   “Bukan hal yang penting.”</p>

<p>   “Aku tidak percaya.”</p>

<p>   Hidaka Hokuto, itulah namanya. Mulai menghela napas panjang. Entah apa yang membuat teman satu unitnya, Trickstar. Bisa menjadi sepenasaran ini terhadap masalah dirinya.</p>

<p>   “Urusannya dengan Klub Teater.”</p>

<p>   “Lalu?” Baiklah, sekarang Akehoshi Subaru itu semakin penasaran. Bagaimana pun juga, sekarang Hokuto menjadi ketua dari klub tersebut.</p>

<p>   “Akan ada pementasan dalam waktu dekat, jadi—”</p>

<p>   “Kami kembali.”</p>

<p>   Perkataan Hokuto terpotong. Mendapati kedua temannya yang telah kembali dari berbelanja. “Kalian hanya membeli minuman, terus mengapa jadi sebanyak ini?”</p>

<p>   “Ah, itu karena kita belum makan. Kita sudah berada disini setelah kegiatan sekolah berakhir, jadi perlu mengisi tenaga lagi.”</p>

<p>   Kalau dipikir kembali, mereka berlatih dan mengulangi gerakan tanpa melihat waktu. Selagi ada kesempatan untuk menjeda kegiatan, inilah waktu yang bagus untuk mengisi tenaga.</p>

<p>   “Ya. Kalian semua terlalu bersemangat, sampai melupakan waktu makan,” sahut Yuuki Makoto, si pemuda bersurai kuning dengan kacamata bertengger dihidungnya.</p>

<p>   “Hehe~”</p>

<p>   “Kalau begitu, ayo makan!”</p>

<p>   “Selamat makan.”</p>

<hr/>

<p>   Suasananya entah mengapa menjadi canggung. Padahal, sewaktu tiba ia tak merasakan hal seperti ini. Isara Mao, telah dihujani pertanyaan oleh Subaru. Tentang Hokuto dan klubnya. Sesuai apa yang Subaru duga, Mao mengetahui kegiatan tersebut.</p>

<p>   Mao melirik Hokuto sekilas. Entah mengapa ia menjadi tidak tenang sekarang. “Akehoshi-<em>kun</em>, tenanglah. Hidaka-<em>kun</em> pasti memiliki alasan tersendiri kenapa tidak memberitahukannya,” ucapnya mencoba menengahi pembicaraan.</p>

<p>   “Tetapi, kalau tidak begitu ... Hokke akan terus menutupinya,” katanya.</p>

<p>   “Hei, aku tak seperti itu.”</p>

<p>   Mao mendapati perdebatan kembali.  Ia mulai batuk pelan, berusaha mengarahkan atensi mereka menatap kepada dirinya.</p>

<p>   “Baiklah, berhubung Hokuto juga sudah mengatakannya tadi dengan Subaru. Aku akan mengatakan sedikit saja. Klub Teater akan mengadakan penampilan, sehari sebelum Trickstar mengadakan penampilan. Peran Hokuto juga tidak begitu banyak, karena dia juga berada di kelas akhir seperti kita. Adik kelas kitalah yang nanti akan melakukannya, tetapi dia tetap berusaha untuk ikut tampil disana.”</p>

<p>   Mendengar pernyataan tersebut membuat Makoto merasa khawatir. “Hidaka-<em>kun</em>, jangan terlalu memaksakan diri,” ujarnya.</p>

<p>   “<em>Hokke</em> selalu saja begitu~!”</p>

<p>   “Aku tidak memaksakan diri. Malah, yang sering kali memaksakan diri itu Isara.”</p>

<p>   “Ehh? Kenapa jadi aku juga?” Isara entah mengapa tidak terima kalau ia ikut terlibat. Meskipun begitu ia memang terlibat banyak organisasi sekolah.</p>

<p>   “Kalian berdua sama saja, sering kali memaksakan diri. Tolong ingat dengan kesehatan kalian, karena kita perlu tampil bersama sebagai Trickstar, bukan?”</p>

<p>   “Ya, itu benar.”</p>

<hr/>

<p>   “Sangat melelahkan~”</p>

<p>   “Ya, hari ini cukup padat dari dugaan.”</p>

<p>   Mereka saling bertukar pendapat satu sama lain. Hingga mereka mulai memutuskan untuk berpisah dan kembali ke <em>dorm</em> masing-masing.</p>

<p>   Akan tetapi, sebelum Hokuto memutuskan kembali ia mengunjungi suatu toko. Dikala ia menghadapi hari-hari yang berat, makanan kesukaannya akan menjadi penyemangat.</p>

<p>   Berhubung hari belum terlalu larut, walau begitu senja mulai tercipta dilangit. Menandakan bahwa gelap akan merampas semua cahayanya, kendati akan bertabur oleh bintang nanti.</p>

<p>   Perasaannya yang terasa lega, setelah mendengarkan perkataan hangat teman satu unitnya. Entah mengapa membuat ia berjalan dengan senyum tercipta.</p>

<p>   “Persediaan <em>konpeito</em> yang ada di <em>dorm</em> sebentar lagi habis, aku harus membeli beberapa.”</p>

<p>   Benar makanan kesukaannya adalah <em>konpeito</em>. Ialah permen tradisional yang dahulunya diberikan oleh sang Nenek, ketika ia merasa sedih. Seiring pertumbuhannya menjadi remaja, ia semakin menyukainya.</p>

<p>   Ditambah bentuk yang akan segera menarik perhatian, bentuk bintang dan berwarna-warni serta memiliki rasa manis. Terkadang hal itu, mengingatkannya pada masa lalu.</p>

<p>   Setelah mendapatkannya, ia berpapasan tanpa bertukar sapa dengan seseorang yang memang asing terhadapnya. Tidak biasa.</p>

<p>   Namun, berkat hal itu ia sedikit lega. Karena tiada yang mengenali dirinya yang memiliki karir sebagai Idola. Namun, kalau saja ia mengetahuinya itulah pertemuan yang menjadikan dirinya seperti di masa depan nanti.</p>

<p>   Figur indah itu terlihat seperti orang yang telah dewasa. Ah, mungkin saja demikian, benar? Tinggi badan bukanlah menjadi salah satu alasannya. Mengingat orang itu tidak begitu tinggi. Seorang perempuan dengan rambut abu-abu yang tergerai.</p>

<p>   Entah mengapa ia menjadi bisa mengingatnya. Padahal mereka, hanya sekadar bertemu sekilas. Belum tentu dikesempatan yang lain, akan kembali bertemu, benar?</p>

<p>   <em>Ya, belum tentu ada kesempatan.</em></p>

<p>   <strong>To Be Continued.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/sekadar-bertemu</guid>
      <pubDate>Mon, 19 Dec 2022 23:29:00 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Berpisah.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/berpisah?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Hidaka Hokuto × Hizafa Rein.&#xA;  #FaureYume; #HokuRein.&#xA;&#xA;   Let&#39;s go back to the past, where we never knew each other.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #EnsembleStars © Happy Elements K.K, David Production. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Larut malam itu, terjadi rintik-rintik hujan. Sebagai kenalan, ia mengantarkan seorang wanita, karena disuruh oleh seseorang wanita lainnya.&#xA;&#xA;   Ya, meskipun wanita itu dengan kesan menyuruh-nyuruh, dia tak bisa membiarkan seorang wanita, yang berada di hadapannya kini tuk pulang sendiri.&#xA;&#xA;   Benar saja, dengan alasan menghindari suatu hal yang tak mengenakan. Namun, dia; Hidaka Hokuto, melupakan suatu tanggungjawabnya sebagai Idola.&#xA;&#xA;   Ia tak seharusnya berduaan dengan seseorang dilarut malam bersama dengan wanita. Apalagi zamannya sudah modern, netizen yang melihat bisa saja akan ada berita buruk.&#xA;&#xA;   Ia mengantar Rein, wanita tersebut. Nama panjangnya Hizafa Rein, tetapi lebih akrab disapa sebagai Rein.&#xA;&#xA;   Awalnya, Rein menolak keras, karena dia tinggal di sebuah rumah bersama kakak kembarannya. Ia beralasan tak mau repot-repot harus menjelaskan, mengapa Hokuto harus mengantarnya, pasalnya sang kakak masih bisa menjemput dirinya.&#xA;&#xA;   Ya. Itu akan terjadi kalau Rein, bukanlah seseorang yang susah menerima bantuan. Dia tak mau merepotkan siapapun, selagi dirinya masih mampu tuk melakukan semuanya sendiri.&#xA;&#xA;   Akan tetapi, kejadian tersebut telah berlangsung satu jam yang lalu. Jadi, tiada alasan lagi. Hokuto kini mengantarkan Rein selamat ke rumahnya sendiri. Dengan dihujani berbagai pertanyaan dari kembaran Rein, ia harus mengatakan semua itu.&#xA;&#xA;   &#34;Kak, sudahlah. Fauraza tadinya juga memaksaku, jangan memaksa dia untuk mengobrol panjang lagi. Dia sekarang tampak lelah.&#34;&#xA;&#xA;   Rain; kembarannya, sekarang menatap Rein dengan tanda tanya besar. Mengapa ia perlu menghentikan pembicaraan? Pikirnya.&#xA;&#xA;   Hanya saja ia urungkan, setelah mengingat kembali perkataan sebelumnya, yang membahas pekerjaan. Alhasil, ia membatalkan pertanyaan panjang itu.&#xA;&#xA;   &#34;Terkadang, dirimu itu harus lebih tegas, Rein. Meskipun status Fau-san itu lebih tinggi dari kita, setidaknya ia tahu batasan memaksa itu seperti apa. Ah, sudahlah.&#34;&#xA;&#xA;   Rain mengusap kasar wajahnya. Ia kemudian menatap Hokuto disana, seolah tahu pembahasan selanjutnya. Dia tak sengaja mendengar pembahasan antara Hizafa bersaudara di hadapannya sekarang.&#xA;&#xA;   &#34;Omong-omong, apa kau ingin menginap disini atau ingin pulang? Ya, mungkin aku tidak akan menyiapkan lebih, karena fasilitas di rumah ini sangat terbatas.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Kakak, jangan bertindak begitu.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ah, ... iya. Aku pulang saja—&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Hoku, tidak apa-apa. Ini sudah larut, jangan paksakan dirimu. Bicara saja kepada orang tuamu, kalau dirimu akan menginap. Tetapi, maaf kalau nanti akan tidur dilantai.&#34;&#xA;&#xA;   Rein dengan segera mengatakan hal tersebut tanpa pikir panjang.&#xA;&#xA;   &#34;Apa? Aku cukup yakin, saat ini aku sedang bersama Rein, tetapi ... sudahlah. Aku tidak akan mengoceh lagi. Anggap saja rumah sendiri.&#34;&#xA;&#xA;   Rain lekas meninggalkan keduanya. Murung, itulah air muka yang dipergunakan oleh Rein. Ia tahu batasannya. Ia sangat mengerti, kalau saat ini dia sedang panik sampai-sampai tak bisa berpikir jernih seperti kakaknya. Ah, lagi-lagi Rein iri dengan kakaknya.&#xA;&#xA;   Hokuto mengalihkan pandangannya sesaat mendapatkan panggilan dari seseorang. Oh, ternyata itu adalah Ayahnya, Hidaka Seiya. Wajar saja, seorang Ayah sangat cemas apabila anak semata wayangnya ini belumlah pulang.&#xA;&#xA;   Hokuto mulai mengangkatnya, dia bukanlah orang yang akan membiarkan panggilan tersebut didiamkan saja.&#xA;&#xA;  &#34;Hocchan! Kenapa belum pulang? Apakah ada sesuatu yang harus dikerjakan hingga larut malam seperti ini?&#34;&#xA;&#xA;   Pertanyaan beruntun dari sang Ayah. Dengan ragu-ragu ia akan menjawabnya, tetapi Rein sekarang menyadari dirinya bahwa ia akan mengungkapkan sesuatu. Hokuto sedikit ragu dengan hal ini. Tetapi ia mulai memberikannya kepada Rein.&#xA;&#xA;  &#34;Maafkan saya sebelumnya, Pak. Saat ini saya yang berbicara adalah Hizafa Rein, mungkin terdengar asing. Tetapi saya meminta izin dahulu, kalau anak Bapak akan menginap di rumah saya.&#34;&#xA;&#xA;   Rein menjeda sesaat dan kembali melanjutkannya.&#xA;&#xA;  &#34;Soalnya, Hokuto juga sudah kelihatan lelah. Saya tidak enak memaksakan dirinya untuk pulang, apalagi Bapak harus menjemput dirinya. Tadinya dia mengantarkan saya, karena sudah larut dan juga sedang terjadi hujan.&#34;&#xA;&#xA;   Terdengar kalimat ragu dari sudut pandang Hokuto, tetapi Rein mengatakan hal jujur.&#xA;&#xA;  &#34;Tentu saja, Kakak saya bersedia. Mungkin besok pagi, Hokuto akan kembali beraktivitas seperti biasanya kalau dia tidak merasakan rasa lelah.&#34;&#xA;&#xA;   Belum ada jawaban. Ayahnya Hokuto mungkin kaget, ketika seseorang laki-laki yang akan dihubunginya malah seseorang perempuan menjawabnya. Sampai akhirnya,&#xA;&#xA;  &#34;Baiklah, kalau Nak Rein berkata demikian. Terima kasih sudah menjaga anak Bapak. Titip salam ya, untuk Hocchan.&#34;&#xA;&#xA;   Ya. Seharusnya itu respons yang postif.&#xA;&#xA;   &#34;Ayahmu, titip salam. Lalu, untuk tidur. Apa Hoku bisa tidur di lantai? Disana ada karpet, mungkin akan melindungi dari dingin, setidaknya. Kalau di kursi yang ada bahu dan kaki akan terasa pegal juga akan merasa sakit. Disana juga sudah terdapat selimut maupun bantal. Biasanya kami mengenakan itu, ketika masih merasakan hawa dingin dipagi hari.&#34;&#xA;&#xA;   Rein yang biasa menjelaskan seadaanya, kini berkata sangat panjang. Hal tersebut cukup diluar dugaan Hokuto. Ia mengira, Rein tidak akan berkata sepanjang itu. Sepertinya ia salah.&#xA;&#xA;   Seolah apa yang dilihatnya saat ini bukanlah Rein. Terasa seperti déjà vu atau mungkin tidak? Entahlah.&#xA;&#xA;   &#34;Tidak apa-apa, itu sudah sangat cukup. Terima kasih, Rein.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Hokuto bangun lebih awal. Ia tak ingin merepotkan Rein beserta Kakaknya itu. Terlebih, dia sepertinya enggan berhadapan dengan Rain untuk sekarang. Tidak menghiraukan apakah ia dengan benar istirahatnya, atau tidak.&#xA;&#xA;   Hanya saja, ternyata Rein lebih bangun lebih awal. Hokuto awalnya sedikit heran dari ekspresinya seolah meminta Rein menjelaskan, mengapa dirinya bisa terbangun malam seperti itu.&#xA;&#xA;   Rein hanya berkata, &#34;Ah ... Entahlah. Itu sudah menjadi kebiasaan,&#34; sahutnya.&#xA;&#xA;   &#34;Itu cukup buruk untuk kesehatan.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Aku tahu. Tidak perlu diingatkan,&#34; desis Rein. Ia tak mau ada seseorang membahas tentang kesehatan. Apalagi ia merupakan orang yang sangat tidak bisa berhadapan dengan kesehatan itu pula.&#xA;&#xA;   Ya, kisahnya Rein tidak pernah memperhatikan kesehatannya sendiri, itulah salah satu dari berbagai alasan yang dipunya.&#xA;&#xA;   Keduanya kembali canggung. Hokuto mengambil kegiatan untuk mengemasi barang yang akan dibawa, untuk kembali pulang ke rumah miliknya.&#xA;&#xA;   Rein seketika mengatakan sesuatu, yang membuat Hokuto sedikit merasakan kehilangan. Seolah, perkataan Rein itu kembali membuat dirinya menyelami masa lalu di mana ia mengabaikan perkataan Akehoshi Subaru, sebagai salah satu teman satu unitnya.&#xA;&#xA;   &#34;Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari, kalau kita sebetulnya tidak bisa bersama. Akan ada kalanya, netizen mengumbar fakta-fakta yang akan menjatuhkan dikemudian hari. Aku mungkin bisa saja sedih, tetapi teman-temanmu, juga dirimu, Hokuto, pastilah akan lebih sedih.&#34;&#xA;&#xA;   Itu baru awalan. Tetapi sudah kepikiran. Hokuto telah mengucapkan kata pisah untuk Rein, dan lekas kembali ke rumahnya. Padahal, masih saja di jalan tak disangka ada banyak halang rintangan.&#xA;&#xA;   Hokuto menghela napas frustrasi. Tak bisa disangka, Ayahnya kembali menghubungi pagi-pagi buta ini. Mengabarkan telah terjadi suatu berita, tentang Hokuto.&#xA;&#xA;   Apakah benar, hal ini yang dimaksud dari balik perkataan Rein tadi?&#xA;&#xA;   &#34;Kalau saja, kita tidak mengenal satu sama lain. Mungkin saja, Hokuto sekarang sudah sangat sukses. Ya, tentu saja. Meskipun tiada status apapun diantara kita, selain Idola dan penggemar. Sepertinya tidak buruk, kalau hanya sekadar itu saja, bukan?&#34;&#xA;&#xA;   Hokuto sekarang yang tidak bisa berpikir dengan jernih. Ayahnya langsung menjemput dia di lokasi terakhir Hokuto berpijak. Tidak sulit untuk menemukan Hokuto, karena ada sistem yang menunjukkan lokasi. Ya, Ayahnya cukup tertolong berkat hal tersebut.&#xA;&#xA;   Padahal belum lama ini, Ayahnya harus mengurus pekerjaan tour idola lainnya. Tetapi, tak disangka akan ada kejadian seperti ini pula. Biar bagaimana pun juga, sekarang adalah hari yang tak bisa diungkapkan oleh sekadar tulisan semata.&#xA;&#xA;   Hanya sekadar Idola dan penggemar? Apa itu artinya sebelum terjadi hal tadi ... Lebih dari sekadar?&#xA;&#xA;   Hokuto larut dalam pemikirannya. Ia hanya melamun dalam sepanjang perjalanan.&#xA;&#xA;   To Be Continued.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Hidaka Hokuto × Hizafa Rein.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:HokuRein" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">HokuRein</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>Let&#39;s go back to the past, where we never knew each other.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:EnsembleStars" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">EnsembleStars</span></a> © Happy Elements K.K, David Production. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   Larut malam itu, terjadi rintik-rintik hujan. Sebagai kenalan, ia mengantarkan seorang wanita, karena disuruh oleh seseorang wanita lainnya.</p>

<p>   Ya, meskipun wanita itu dengan kesan menyuruh-nyuruh, dia tak bisa membiarkan seorang wanita, yang berada di hadapannya kini tuk pulang sendiri.</p>

<p>   Benar saja, dengan alasan menghindari suatu hal yang tak mengenakan. Namun, dia; Hidaka Hokuto, melupakan suatu tanggungjawabnya sebagai Idola.</p>

<p>   Ia tak seharusnya berduaan dengan seseorang dilarut malam bersama dengan wanita. Apalagi zamannya sudah modern, netizen yang melihat bisa saja akan ada berita buruk.</p>

<p>   Ia mengantar Rein, wanita tersebut. Nama panjangnya Hizafa Rein, tetapi lebih akrab disapa sebagai Rein.</p>

<p>   Awalnya, Rein menolak keras, karena dia tinggal di sebuah rumah bersama kakak kembarannya. Ia beralasan tak mau repot-repot harus menjelaskan, mengapa Hokuto harus mengantarnya, pasalnya sang kakak masih bisa menjemput dirinya.</p>

<p>   Ya. Itu akan terjadi kalau Rein, bukanlah seseorang yang susah menerima bantuan. Dia tak mau merepotkan siapapun, selagi dirinya masih mampu tuk melakukan semuanya sendiri.</p>

<p>   Akan tetapi, kejadian tersebut telah berlangsung satu jam yang lalu. Jadi, tiada alasan lagi. Hokuto kini mengantarkan Rein selamat ke rumahnya sendiri. Dengan dihujani berbagai pertanyaan dari kembaran Rein, ia harus mengatakan semua itu.</p>

<p>   “Kak, sudahlah. Fauraza tadinya juga memaksaku, jangan memaksa dia untuk mengobrol panjang lagi. Dia sekarang tampak lelah.”</p>

<p>   Rain; kembarannya, sekarang menatap Rein dengan tanda tanya besar. Mengapa ia perlu menghentikan pembicaraan? Pikirnya.</p>

<p>   Hanya saja ia urungkan, setelah mengingat kembali perkataan sebelumnya, yang membahas pekerjaan. Alhasil, ia membatalkan pertanyaan panjang itu.</p>

<p>   “Terkadang, dirimu itu harus lebih tegas, Rein. Meskipun status Fau-<em>san</em> itu lebih tinggi dari kita, setidaknya ia tahu batasan memaksa itu seperti apa. Ah, sudahlah.”</p>

<p>   Rain mengusap kasar wajahnya. Ia kemudian menatap Hokuto disana, seolah tahu pembahasan selanjutnya. Dia tak sengaja mendengar pembahasan antara Hizafa bersaudara di hadapannya sekarang.</p>

<p>   “Omong-omong, apa kau ingin menginap disini atau ingin pulang? Ya, mungkin aku tidak akan menyiapkan lebih, karena fasilitas di rumah ini sangat terbatas.”</p>

<p>   “Kakak, jangan bertindak begitu.”</p>

<p>   “Ah, ... iya. Aku pulang saja—”</p>

<p>   “Hoku, tidak apa-apa. Ini sudah larut, jangan paksakan dirimu. Bicara saja kepada orang tuamu, kalau dirimu akan menginap. Tetapi, maaf kalau nanti akan tidur dilantai.”</p>

<p>   Rein dengan segera mengatakan hal tersebut tanpa pikir panjang.</p>

<p>   “Apa? Aku cukup yakin, saat ini aku sedang bersama Rein, tetapi ... sudahlah. Aku tidak akan mengoceh lagi. Anggap saja rumah sendiri.”</p>

<p>   Rain lekas meninggalkan keduanya. Murung, itulah air muka yang dipergunakan oleh Rein. Ia tahu batasannya. Ia sangat mengerti, kalau saat ini dia sedang panik sampai-sampai tak bisa berpikir jernih seperti kakaknya. Ah, lagi-lagi Rein iri dengan kakaknya.</p>

<p>   Hokuto mengalihkan pandangannya sesaat mendapatkan panggilan dari seseorang. Oh, ternyata itu adalah Ayahnya, Hidaka Seiya. Wajar saja, seorang Ayah sangat cemas apabila anak semata wayangnya ini belumlah pulang.</p>

<p>   Hokuto mulai mengangkatnya, dia bukanlah orang yang akan membiarkan panggilan tersebut didiamkan saja.</p>

<blockquote><p>   <em>“Hocchan! Kenapa belum pulang? Apakah ada sesuatu yang harus dikerjakan hingga larut malam seperti ini?”</em></p></blockquote>

<p>   Pertanyaan beruntun dari sang Ayah. Dengan ragu-ragu ia akan menjawabnya, tetapi Rein sekarang menyadari dirinya bahwa ia akan mengungkapkan sesuatu. Hokuto sedikit ragu dengan hal ini. Tetapi ia mulai memberikannya kepada Rein.</p>

<blockquote><p>   <em>“Maafkan saya sebelumnya, Pak. Saat ini saya yang berbicara adalah Hizafa Rein, mungkin terdengar asing. Tetapi saya meminta izin dahulu, kalau anak Bapak akan menginap di rumah saya.”</em></p></blockquote>

<p>   Rein menjeda sesaat dan kembali melanjutkannya.</p>

<blockquote><p>   <em>“Soalnya, Hokuto juga sudah kelihatan lelah. Saya tidak enak memaksakan dirinya untuk pulang, apalagi Bapak harus menjemput dirinya. Tadinya dia mengantarkan saya, karena sudah larut dan juga sedang terjadi hujan.”</em></p></blockquote>

<p>   Terdengar kalimat ragu dari sudut pandang Hokuto, tetapi Rein mengatakan hal jujur.</p>

<blockquote><p>   <em>“Tentu saja, Kakak saya bersedia. Mungkin besok pagi, Hokuto akan kembali beraktivitas seperti biasanya kalau dia tidak merasakan rasa lelah.”</em></p></blockquote>

<p>   Belum ada jawaban. Ayahnya Hokuto mungkin kaget, ketika seseorang laki-laki yang akan dihubunginya malah seseorang perempuan menjawabnya. Sampai akhirnya,</p>

<blockquote><p>   <em>“Baiklah, kalau Nak Rein berkata demikian. Terima kasih sudah menjaga anak Bapak. Titip salam ya, untuk Hocchan.”</em></p></blockquote>

<p>   Ya. Seharusnya itu respons yang postif.</p>

<p>   “Ayahmu, titip salam. Lalu, untuk tidur. Apa Hoku bisa tidur di lantai? Disana ada karpet, mungkin akan melindungi dari dingin, setidaknya. Kalau di kursi yang ada bahu dan kaki akan terasa pegal juga akan merasa sakit. Disana juga sudah terdapat selimut maupun bantal. Biasanya kami mengenakan itu, ketika masih merasakan hawa dingin dipagi hari.”</p>

<p>   Rein yang biasa menjelaskan seadaanya, kini berkata sangat panjang. Hal tersebut cukup diluar dugaan Hokuto. Ia mengira, Rein tidak akan berkata sepanjang itu. Sepertinya ia salah.</p>

<p>   Seolah apa yang dilihatnya saat ini bukanlah Rein. Terasa seperti déjà vu atau mungkin tidak? Entahlah.</p>

<p>   “Tidak apa-apa, itu sudah sangat cukup. Terima kasih, Rein.”</p>

<hr/>

<p>   Hokuto bangun lebih awal. Ia tak ingin merepotkan Rein beserta Kakaknya itu. Terlebih, dia sepertinya enggan berhadapan dengan Rain untuk sekarang. Tidak menghiraukan apakah ia dengan benar istirahatnya, atau tidak.</p>

<p>   Hanya saja, ternyata Rein lebih bangun lebih awal. Hokuto awalnya sedikit heran dari ekspresinya seolah meminta Rein menjelaskan, mengapa dirinya bisa terbangun malam seperti itu.</p>

<p>   Rein hanya berkata, “Ah ... Entahlah. Itu sudah menjadi kebiasaan,” sahutnya.</p>

<p>   “Itu cukup buruk untuk kesehatan.”</p>

<p>   “Aku tahu. Tidak perlu diingatkan,” desis Rein. Ia tak mau ada seseorang membahas tentang kesehatan. Apalagi ia merupakan orang yang sangat tidak bisa berhadapan dengan kesehatan itu pula.</p>

<p>   Ya, kisahnya Rein tidak pernah memperhatikan kesehatannya sendiri, itulah salah satu dari berbagai alasan yang dipunya.</p>

<p>   Keduanya kembali canggung. Hokuto mengambil kegiatan untuk mengemasi barang yang akan dibawa, untuk kembali pulang ke rumah miliknya.</p>

<p>   Rein seketika mengatakan sesuatu, yang membuat Hokuto sedikit merasakan kehilangan. Seolah, perkataan Rein itu kembali membuat dirinya menyelami masa lalu di mana ia mengabaikan perkataan Akehoshi Subaru, sebagai salah satu teman satu unitnya.</p>

<p>   <em>“Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari, kalau kita sebetulnya tidak bisa bersama. Akan ada kalanya, netizen mengumbar fakta-fakta yang akan menjatuhkan dikemudian hari. Aku mungkin bisa saja sedih, tetapi teman-temanmu, juga dirimu, Hokuto, pastilah akan lebih sedih.”</em></p>

<p>   Itu baru awalan. Tetapi sudah kepikiran. Hokuto telah mengucapkan kata pisah untuk Rein, dan lekas kembali ke rumahnya. Padahal, masih saja di jalan tak disangka ada banyak halang rintangan.</p>

<p>   Hokuto menghela napas frustrasi. Tak bisa disangka, Ayahnya kembali menghubungi pagi-pagi buta ini. Mengabarkan telah terjadi suatu berita, tentang Hokuto.</p>

<p>   Apakah benar, hal ini yang dimaksud dari balik perkataan Rein tadi?</p>

<p>   <em>“Kalau saja, kita tidak mengenal satu sama lain. Mungkin saja, Hokuto sekarang sudah sangat sukses. Ya, tentu saja. Meskipun tiada status apapun diantara kita, selain Idola dan penggemar. Sepertinya tidak buruk, kalau hanya sekadar itu saja, bukan?”</em></p>

<p>   Hokuto sekarang yang tidak bisa berpikir dengan jernih. Ayahnya langsung menjemput dia di lokasi terakhir Hokuto berpijak. Tidak sulit untuk menemukan Hokuto, karena ada sistem yang menunjukkan lokasi. Ya, Ayahnya cukup tertolong berkat hal tersebut.</p>

<p>   Padahal belum lama ini, Ayahnya harus mengurus pekerjaan <em>tour</em> idola lainnya. Tetapi, tak disangka akan ada kejadian seperti ini pula. Biar bagaimana pun juga, sekarang adalah hari yang tak bisa diungkapkan oleh sekadar tulisan semata.</p>

<p>   <em>Hanya sekadar Idola dan penggemar? Apa itu artinya sebelum terjadi hal tadi ... Lebih dari sekadar?</em></p>

<p>   Hokuto larut dalam pemikirannya. Ia hanya melamun dalam sepanjang perjalanan.</p>

<p>   <strong>To Be Continued.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/berpisah</guid>
      <pubDate>Sat, 15 Oct 2022 12:36:29 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>