<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>faureyume &amp;mdash; reeinshiyu</title>
    <link>https://reeinshiyu.writeas.com/tag:faureyume</link>
    <description>Seluruh kisah yang dikhususkan kepada mereka yang berkenan untuk membacanya.</description>
    <pubDate>Thu, 14 May 2026 01:38:26 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Harmoni Setiap Kehidupan</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/harmoni-setiap-kehidupan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Tsukigami Kaito × Hizamara Fauraza.&#xA;  #FaureYume; #KaiFau.&#xA;&#xA;   .&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #StarMyu © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Bunga sakura tampak menari di atas kanvas luas yang terbentang di penjuru negeri, kanvas yang warnanya berubah dari biru cerah siang hari hingga merah jingga saat senja menjelang. Langit, dalam segala perubahannya, selalu menawarkan pemandangan yang memikat, sanggup mengalihkan atensi para astrophile.&#xA;Awan-awan pun ikut bergerak, menyisipkan nuansa putih yang menawan. Mereka menghadirkan suasana yang berbeda setiap waktu, memberi sentuhan siluet dan rupa yang memancing imajinasi.&#xA;&#xA;Netra berwarna biru lembut selalu terlihat bersinar, bagaikan kelopak nemophila yang mekar di bawah sinar mentari ketika musim semi tiba. Warna yang jarang ditemui, terlihat tenang, dan hampir rapuh. Tatapan itu selalu memberikan jeda waktu untuk orang-orang &#xA;yang melihat sepasang warna mata miliknya.&#xA;&#xA;Sang wanita dengan rambut ungu lembut tampak menanti kedatangan seseorang yang paling dinantikannya. Beberapa kali, sepasang mata beralih antara layar ponsel dan ke arah tepi jalan, tempat yang paling sering dilalui oleh banyak orang. Setiap kali bayangan sosok indah yang dinantinya muncul di antara orang-orang yang berlalu-lalang, harapannya seolah menguat.&#xA;&#xA;Dari kejauhan, ia mendapati figur indah yang paling dinantikannya. Sudah berapa tahun berlalu sejak mereka tak lagi sering bertemu, tepatnya semenjak memasuki tahun terakhir masa sekolah. Meski begitu, keduanya tetap saling bertukar sapa, walau hanya menyita sebagian kecil dari waktu yang mereka miliki.&#xA;&#xA;Tepat ketika tatapan mereka bertemu, keheningan yang tak terbatas menyelimuti. Tak satu pun kata terucap, hanya embusan angin yang lewat, membawa kesejukan yang menambah sunyi di antara mereka. Senyuman terlukis pada bibir milik sang gadis, sepasang matanya menyiratkan penuh kebahagiaan. Pertemuan pertama mereka, setelah berbagai kesibukan menghalangi keduanya berjumpa lagi. &#xA;&#xA;&#34;Maaf, aku terlambat.&#34;&#xA;&#xA;Perkataan itu keluar dari mulut pemuda di hadapannya. Lelaki itu memulai percakapan terlebih dahulu, sementara sang gadis tak bisa menyembunyikan rasa terkejut atas kata-kata yang baru saja terlontar.&#xA;&#xA;&#34;Tidak, aku sendiri baru saja tiba.&#34; &#xA;&#xA;Bohong. Gadis itu sudah menunggu selama satu jam penuh, sebelum janji untuk mereka bertemu lagi. Padahal, biasa yang sering terlambat itu perempuan, karena terlalu lama untuk berdandan, &#39;kan? Namun kali ini tampaknya berbeda, tak ada yang terlambat dari waktu yang telah ditentukan. Mereka bahkan datang lebih awal, sekitar tiga puluh menit sebelum waktu pertemuan yang dijanjikan.&#xA;&#xA;&#34;Ah, begitu?&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Tsukigami Kaito × Hizamara Fauraza.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:KaiFau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">KaiFau</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:StarMyu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">StarMyu</span></a> © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. </p></blockquote>

<hr/>

<p>Bunga sakura tampak menari di atas kanvas luas yang terbentang di penjuru negeri, kanvas yang warnanya berubah dari biru cerah siang hari hingga merah jingga saat senja menjelang. Langit, dalam segala perubahannya, selalu menawarkan pemandangan yang memikat, sanggup mengalihkan atensi para <em>astrophile</em>.
Awan-awan pun ikut bergerak, menyisipkan nuansa putih yang menawan. Mereka menghadirkan suasana yang berbeda setiap waktu, memberi sentuhan siluet dan rupa yang memancing imajinasi.</p>

<p>Netra berwarna biru lembut selalu terlihat bersinar, bagaikan kelopak nemophila yang mekar di bawah sinar mentari ketika musim semi tiba. Warna yang jarang ditemui, terlihat tenang, dan hampir rapuh. Tatapan itu selalu memberikan jeda waktu untuk orang-orang
yang melihat sepasang warna mata miliknya.</p>

<p>Sang wanita dengan rambut ungu lembut tampak menanti kedatangan seseorang yang paling dinantikannya. Beberapa kali, sepasang mata beralih antara layar ponsel dan ke arah tepi jalan, tempat yang paling sering dilalui oleh banyak orang. Setiap kali bayangan sosok indah yang dinantinya muncul di antara orang-orang yang berlalu-lalang, harapannya seolah menguat.</p>

<p>Dari kejauhan, ia mendapati figur indah yang paling dinantikannya. Sudah berapa tahun berlalu sejak mereka tak lagi sering bertemu, tepatnya semenjak memasuki tahun terakhir masa sekolah. Meski begitu, keduanya tetap saling bertukar sapa, walau hanya menyita sebagian kecil dari waktu yang mereka miliki.</p>

<p>Tepat ketika tatapan mereka bertemu, keheningan yang tak terbatas menyelimuti. Tak satu pun kata terucap, hanya embusan angin yang lewat, membawa kesejukan yang menambah sunyi di antara mereka. Senyuman terlukis pada bibir milik sang gadis, sepasang matanya menyiratkan penuh kebahagiaan. Pertemuan pertama mereka, setelah berbagai kesibukan menghalangi keduanya berjumpa lagi.</p>

<p>“Maaf, aku terlambat.”</p>

<p>Perkataan itu keluar dari mulut pemuda di hadapannya. Lelaki itu memulai percakapan terlebih dahulu, sementara sang gadis tak bisa menyembunyikan rasa terkejut atas kata-kata yang baru saja terlontar.</p>

<p>“Tidak, aku sendiri baru saja tiba.”</p>

<p>Bohong. Gadis itu sudah menunggu selama satu jam penuh, sebelum janji untuk mereka bertemu lagi. <em>Padahal, biasa yang sering terlambat itu perempuan, karena terlalu lama untuk berdandan, &#39;kan?</em> Namun kali ini tampaknya berbeda, tak ada yang terlambat dari waktu yang telah ditentukan. Mereka bahkan datang lebih awal, sekitar tiga puluh menit sebelum waktu pertemuan yang dijanjikan.</p>

<p>“Ah, begitu?”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/harmoni-setiap-kehidupan</guid>
      <pubDate>Sat, 24 May 2025 14:24:25 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Spring Happiness</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/spring-happiness?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Toraishi Izumi × Hizafa Rein.&#xA;  #FaureYume; #IzuRein.&#xA;&#xA;   Simple happiness of the noblest behavior.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #StarMyu © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Latihan Tim Hiiragi selesai lebih awal pada waktu itu. Padahal, sewaktu Festival Ayanagi mereka bahkan tidak punya waktu untuk sekadar beristirahat. Bertemu dengan Tim Ootori saja hanya beberapa kali, itupun sampai harus diikuti oleh salah seorang leader-nya. Lagi pula, orangnya memang unik juga, sih. Alhasil, anggota Tim Hiiragi tidak heran lagi, kalau orangnya bisa senekat itu.&#xA;&#xA;Meskipun sudah menjelang sore hari, cuacanya masih saja terlihat sangat cerah. Senyuman terlukis pada bibir salah seorang anggota Tim Hiiragi, ia adalah Toraishi Izumi. Netra kelabunya menatap terus ponselnya. Bersyukur semua kegiatan telah berakhir, waktunya ia akan kembali ke asrama dan membersihkan tubuhnya yang penuh keringat, setelah latihan selama beberapa jam.&#xA;&#xA;&#34;Toraishi-kun, mau sampai kapan kau berdiri di situ?&#34; tegur pemuda dengan rambut seindah bunga Sakura, itu adalah Ugawa Akira, teman satu timnya. &#xA;&#xA;Mendengar teguran dari sosok yang familier baginya, sukses mengalihkan atensi pemuda tersebut. &#34;Oh, kalian duluan saja. Aku akan menyusul setelah membalas pesan dari Rein-chan,&#34; ujarnya sembari tersenyum lebar. &#xA;&#xA;&#34;Wah, aku benar-benar tidak mengerti, seorang Rein bisa terpikat sama orang seperti dia.&#34; Sindiran itu secara tidak langsung menyentak keberadaan Toraishi, meskipun ia tahu kalau wataknya Ugawa memanglah demikian.&#xA;&#xA;&#34;Hei, jangan bicara begitu!&#34; tegur Toraishi. Seolah direnggut ketenangannya, dia justru meladeni Ugawa. &#xA;&#xA;&#34;Ya, ya. Lakukan saja sesukamu, aku tidak akan peduli.&#34; Ugawa segera pergi meninggalkan anggota timnya yang lain, tidak mau berurusan lebih banyak dengan Toraishi untuk hari ini. Sepertinya karena latihan kali ini sudah sangat menguras tenaga, jadinya Ugawa tidak memperpanjang perkataannya hingga terjadi pertikaian yang sudah menjadi kebiasaan.&#xA;&#xA;Melihat kepergian Ugawa, ketiga orang lainnya yang tadi menatap Toraishi pun akhirnya memutuskan untuk pergi dahulu. &#34;Toraishi, kami kembali ke asrama duluan, ya.&#34; Itu adalah Tatsumi Rui yang berkata dengan lembut. &#34;Sepertinya, suasana hati Ugawa kurang bagus akhir-akhir ini, jangan terlalu marah padanya, ya?&#34; lanjutnya. Sungguh mulia sekali hatinya, meminta teman satu timnya agar tidak bertengkar dan memaklumi perasaan anggota lain timnya juga. Sungguh leader sejati.&#xA;&#xA;&#34;Ya, tidak masalah~ Nanti, aku akan menyusul.&#34; Syukurnya, suasana hati Toraishi sedang bahagia saat ini. &#xA;&#xA;&#34;Kalau begitu, sampai jumpa nanti, Toraishi-kun,&#34; ujar pemuda dengan rambut cokelat disamping Tatsumi, Sawatari Eigo.&#xA;&#xA;&#34;Toraishi, sampai jumpa nanti!&#34; seru sosok yang berada didekat Tatsumi dan Sawatari. Seorang yang energinya mungkin tidak akan pernah habis. Orang yang selalu ceria dan bahagia. Tanpa ada beban sama sekali.&#xA;&#xA;Melihat kepergian anggota timnya, ia mendengkus kecil. &#34;Ya, sampai nanti,&#34; sahutnya sembari tersenyum. Setidaknya, ia masih akan tersenyum saat temannya pun melontarkan senyum kepada dirinya. Toraishi itu bukanlah pemuda yang irit tersenyum, hanya saja dia membutuhkan waktu-waktu tertentu untuk tersenyum. Terkadang, senyuman Toraishi lebih mirip seperti senyum jahil ketimbang senyum yang tulus. Ia terlalu banyak menggoda seseorang disekitarnya.&#xA;&#xA;Kini ia mengalihkan atensinya lagi ke ponsel yang sedari tadi setia digenggamnya. &#34;Oh apa ini? Rein-chan mengajak aku ketemuan?&#34; Toraishi bertanya-tanya, sejujurnya jarang sekali kalau sosok yang sedari tadi mengirimkan pesan kepadanya itu mengajaknya duluan. Padahal, biasa Toraishi yang lebih sering duluan untuk mengajaknya.&#xA;&#xA;Toraishi membalas pesan sang gadis pujaan hatinya itu. Namun, tak lama kemudian pesan itu dibalas. Sembari menunggu balasannya tadi, Toraishi sempat merapikan tas selempang yang dia bawa, dari asrama ke tempat latihan yang sekarang dipijaki olehnya.&#xA;&#xA;Pesan masuk itu bertuliskan, &#39;Bagaimana kalau hari ini, sepulang sekolah? Apa Izumi sudah punya rencana?&#39; Ia bahkan menulis balasannya dengan cepat. Tentu saja ia tidak akan mengabaikan kesempatan itu.&#xA;&#xA;Setelah itu, Toraishi bergegas untuk segera kembali ke asrama dan membersihkan tubuhnya dengan baik, karena sudah menghabiskan banyak waktu untuk latihan bahkan sepulang sekolah.&#xA;&#xA;Pesan masuk kembali diterima oleh Toraishi yang berbunyi, &#39;Kalau begitu, nanti akan aku kabari lagi. Sekarang aku mau kembali ke asrama dulu.&#39;&#xA;&#xA;Saat Toraishi kembali ke asrama, tak disangka ada salah seorang dari Tim Ootori yang menyambutnya, lebih tepatnya leader mereka.&#xA;&#xA;&#34;Toraishi, selamat ulang tahun!&#34; Betapa terkejutnya dia, padahal belum ada selangkah untuk memasuki asrama. Rasanya seolah dicegat oleh sosok pemuda bersurai cokelat muda dengan mata sehijau pepohonan.&#xA;&#xA;&#34;Wah, Hoshitani! Kau membuatku terkejut. Oh, hari ini ulang tahunku?&#34; Toraishi melirik ponsel yang dia genggam, ternyata disana terpampang jelas bahwa sudah tanggal 12 April. Dia benar-benar tidak sadar. Sepertinya, Toraishi baru saja mengerti apa yang sedang terjadi kali ini.&#xA;&#xA;&#34;Kau benar, terima kasih Hoshitani.&#34; Toraisi menepuk pundaknya sambil menyengir. Pantas saja kelihatannya suasana hati Toraishi bisa sebahagia itu, meskipun ternyata ia tetap melupakan salah satu hari penting dalam hidupnya.&#xA;&#xA;&#34;Ah, maaf membuatmu terkejut. Tadinya aku bertanya kepada Tatsumi, kalau kau ternyata masih berada di ruang latihan. Lalu, belum ada beberapa menit mereka masuk ke kamar, kaupun datang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh, iya. Tadi setelah latihan selesai, Rein-chan mengirimku pesan dan ingin mengajakku pergi setelah pulang sekolah. Makanya, aku baru saja pulang,&#34; jelas Toraishi.&#xA;&#xA;&#34;Ah~ Rein sudah lebih dahulu, ya?&#34; gumam Hoshitani, sepertinya terdengar oleh Toraishi.&#xA;&#xA;&#34;Ya, setidaknya kalau Hoshitani tidak berkata hal itu kepadaku, bisa saja aku justru seperti orang yang melupakan hari kelahirannya sendiri,&#34; balasnya tertawa renyah. Setelah itu ia pun melanjutkannya, &#34;Padahal, Rein-chan bisa mengucapkan selamat padaku yang pertama kali, sayang sekali. Tapi, tidak masalah! Suasana hatiku sekarang sedang dalam kondisi baik~&#34; &#xA;&#xA;Hoshitani awalnya terkejut mendengar jawaban itu, tetapi begitu ia mendengar perkataan terakhirnya, entah kenapa justru merasa lega. &#34;Ya sudah, aku ke dalam dulu. Boleh tolong minggir? Aku mau segera bertemu dengan Rein-chan, haha.&#34; Sungguh, kalau Toraishi tidak mengatakan hal ini, Hoshitani akan terus menerus berada di depan pintu asrama. &#xA;&#xA;&#34;Oh, maaf! Nanti, jangan pulang larut malam, ya~&#34;&#xA;&#xA;Melihat kepergian Toraishi yang hanya melambaikan tangannya saja, menandakan bahwa ia mendengarkan pernyataan itu. Sepertinya, berkat Hoshitani, dia ingin segera bertemu dengan kekasih pujaan hatinya itu.&#xA;&#xA;Sesampainya di kamar milik Toraishi, tidak terlihat keberadaan teman satu kamarnya. Dia tidak memusingkannya juga, ia memutuskan untuk membersihkan diri dan bersiap untuk bertemu dengan sosok yang selalu didambakan olehnya. &#xA;&#xA;Seorang gadis berambut kelabu, dengan iris mata sehijau tanaman yang selalu memberikan oksigen kepada makhluk hidup. Seberharga itulah sosoknya bagi seorang Toraishi Izumi. Gadis itu akrab disapa Rein, nama panjangnya ialah Hizafa Rein.&#xA;&#xA;Tidak lama setelah Toraishi bersiap, ternyata muncul pesan masuk. Awalnya Toraishi mengira itu dari Rein, tetapi sepertinya bukan. Itu adalah pesan dari Kuga Shu, teman masa kecilnya.&#xA;&#xA;Melihat pesannya yang ternyata mengucapkan, &#39;Selamat ulang tahun&#39; membuat Toraishi melukis senyuman. Sepertinya, untuk hari ini dia tidak bisa menemuinya. Ia tidak mempermasalahkan hal itu, karena tahu bahwa Kuga memiliki kerjaan sambilan. Sebenarnya, Rein pun seperti itu. Sehingga dirinya sekarang berpikir, apakah tidak akan menyita waktu sang terkasih untuk bekerja malam harinya? &#xA;&#xA;Toraishi memang tidak tahu pasti, jadwal kerja sambilannya Rein. Ia juga berharap kalau tidak membuat gadis itu justru tidak memiliki jatah istirahat, alhasil ia jarang untuk mengajaknya berkencan.&#xA;&#xA;Pada akhirnya, Toraishi memutuskan untuk bertanya mengenai hal ini dengan Rein. Selang beberapa menit kemudian, pesan masuk muncul diponsel milik Toraishi.&#xA;&#xA;Rein menuliskan balasannya, &#39;Tenang saja~ aku masuk kerjanya sekitar jam tujuh nanti malam.&#39; Toraishi bisa membayangkan betapa santainya Rein saat membaca pesan tersebut. Akan tetapi, Toraishi tetap saja merasa khawatir. Mau bagaimanapun, Rein itu seorang gadis, tidak terlalu bagus keluar malam-malam sekadar untuk bekerja.&#xA;&#xA;Toraishi membalas beberapa kalimat untuk disampaikan kepada Rein. Namun, balasan yang Toraishi dapatkan berupa, &#39;Hei, tenang saja. Sebelum aku bertemu denganmu, aku sudah lebih dahulu bekerja. Aku bisa untuk menjaga diriku sendiri. Omong-omong, aku sudah selesai bersiap. Nanti aku menunggu di depan gerbang Akademi, ya.&#39;&#xA;&#xA;Toraishi rasanya akan melesat saat itu juga, setelah ia membaca balasan dari Rein. Tentu saja, dia tidak lupa menyempatkan diri untuk membalas pesannya terlebih dahulu.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Yo, Izumi,&#34; sapa seorang gadis bersurai ungu dengan sedikit helaian rambutnya berwarna lebih muda, dibandingkan rambut lainnya.&#xA;&#xA;Bukan Rein yang menyapanya, melainkan teman akrab Rein. Sosok yang lebih sering bersama salah seorang dari Tim Ootori. &#34;Heh, sepertinya suasana hatimu bahagia sekali. Rein yang mengajakmu pergi duluan, ya~?&#34; goda gadis tersebut. Sungguh, entah kenapa gadis ini lebih berbakat dalam hal menggoda dirinya.&#xA;&#xA;&#34;Izumi, maaf membuatmu menunggu.&#34; Ya, ini barulah suara yang dia rindukan. Sosok yang akhirnya bertemu setelah percakapan panjang di ponsel mereka masing-masing. &#xA;&#xA;&#34;Tidak masalah~&#34;&#xA;&#xA;&#34;Huh? Ya, baiklah! Sudah sana kalian pergi berkencan segera. Jangan menebar kemesraan di depanku,&#34; gerutu gadis berambut ungu tadi.&#xA;&#xA;Gadis itu, Hizamara Fauraza, mendorong Toraishi dan Rein agar supaya menjauh dari hadapannya. Entah mengapa wajah Rein memanas. Ia tidak mengira kalau ajakannya malah terdengar seperti mengajak berkencan. Sementara itu, Toraishi sendiri tampak mengomeli gadis itu. Dia tidak terima karena tiba-tiba saja didorong agar menjauh dari tempat itu.&#xA;&#xA;Pada akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk pergi dan tak lupa mengucapkan sampai jumpa kepada gadis tersebut. Melihat kepergian mereka berdua, senyuman terulas diwajah mereka. Setelah itu, tangannya mengambil ponsel dan menghubungi seseorang yang dikenal oleh mereka semua.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Dalam perjalanan Toraishi bersama Rein terasa hening. Entah karena tidak bisa memulai topik, atau justru kepikiran tentang perkataan Fauraza yang berkata bahwa saat ini mereka berdua sedang kencan. Rasanya Rein ingin menangis sekolam sekarang. &#xA;&#xA;Belum sempat Toraishi ingin berbicara, terdengar seorang anak kecil tiba-tiba menangis. Atensi mereka berdua teralihkan, awalnya Rein ingin bertanya dengan anak itu, tetapi Toraishi lebih dahulu menenangkan anak kecil tersebut. Melihat hal itu membuat Rein tersenyum kecil. &#xA;&#xA;&#34;Hei, anak jagoan. Jangan menangis seperti itu,&#34; ujar Toraishi sembari jongkok tuk menyejajarkan tingginya dengan anak kecil itu. Anak kecil itu mungkin sekitaran usia tiga atau empat tahun. Toraishi mengelus pelan kepalanya sewaktu ia berkata demikian.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa dirimu menangis? Apa mungkin anak jagoan ini terpisah dengan Ibunya? Tenang saja, ayo kita cari Ibumu bersama-sama!&#34; Anak kecil itu tertawa kecil. &#xA;&#xA;&#34;Um ... Aku terpisah sama Ibuku,&#34; sahutnya pelan. Tetapi, karena Toraishi berada dekat dengannya, sehingga ia bisa mendengar suaranya.&#xA;&#xA;&#34;Tidak apa-apa, sebelum semakin malam, kita bisa ke tempat di mana Ibumu bisa menemukanmu!&#34; &#xA;&#xA;Rein menatap perilaku lembutnya Toraishi pada anak kecil itu. Terlepas dari kebiasaannya yang dahulu, Toraishi memang anak yang lemah lembut terutama kepada wanita dan anak-anak. Rasanya, diantara mereka berdua justru Toraishi yang lebih ahli dalam hal seperti ini.&#xA;&#xA;&#34;Izumi, kita pergi ke tempat petugas yang berjaga disekitar sini,&#34; sahut Rein, sembari membaca aplikasi navigasi yang berada di ponsel miliknya. Setidaknya, Rein masih bisa membantu walaupun sebatas ini saja.&#xA;&#xA;Setelah beberapa menit berlalu akhirnya, tempat yang mereka tuju ditemukan. Ternyata di sana memang sudah ada seorang Ibu yang dari ekspresi wajahnya tampak khawatir. Sampai akhirnya, &#34;Mama!&#34; Mereka berpelukan penuh haru. &#xA;&#xA;Rein yang melihat itu merasa terharu sekali. Meskipun ia sungguh tidak membantu apapun, karena lebih banyak Toraishi yang melakukannya. Akan tetapi, ia justru mendengar Toraishi menangis, walau dengan tangannya menutup matanya itu dan nyaris cukup pelan. Rein tahu, kalau Toraishi memang mudah terpengaruh hal-hal seperti ini. Namun, ia benar-benar tidak pernah menduga kalau Toraishi akan menangis di tempat itu juga. &#xA;&#xA;Rein menepuk bagian punggung Toraishi, menenangkan sosok yang lebih tinggi daripada dirinya. &#34;Jagoan masa menangis,&#34; celetuknya. &#xA;&#xA;Pada akhirnya, Toraishi tidak lagi menangis. Sang Ibu dari anak kecil yang mereka ajak untuk mencari Ibunya tadi, kini mengucapkan beribu terima kasih kepada mereka. Sebuah kisah yang mengharukan. Khususnya, pada hari kelahiran Toraishi Izumi sendiri. Ah, ia jadi membayangkan Ibunya bisa menjadi seseorang yang lebih penyayang.&#xA;&#xA;Melihat kepergian Ibu dan anak kecil itu sembari melambaikan tangannya kepada mereka, justru menjadikan kenangan itu tak terlupakan. &#xA;&#xA;&#34;Ah, Rein-chan. Maafkan aku yang justru tidak memperhatikan dirimu sedari tadi,&#34; ucap Toraishi, terlihat dari raut wajahnya yang tampak menyesal.&#xA;&#xA;Rein hanya tersenyum kecil sembari berkata, &#34;Tidak masalah, lagi pula menolong seorang anak untuk bertemu Ibunya merupakan perilaku yang sangat mulia.&#34; &#xA;&#xA;Mendengar perkataan itu dari Rein, entah kenapa ekspresi wajahnya tak dapat dikondisikan. Perasaannya terlalu banyak dalam satu waktu, ia tak mampu menampung semua ekspresi itu. &#34;Ah ... Begitu, ya. Rein-chan, boleh kita mencari tempat duduk dulu? Kita sudah berjalan hampir beberapa menit,&#34; tawar Toraishi.&#xA;&#xA;Rein sebenarnya memperhatikan ekspresi wajah Toraishi yang berubah terus, rasanya pasti tidak nyaman. Ia menyetujui hal itu, setidaknya mereka gunakan waktu untuk berbicara saja, dibanding menghabiskan banyak tenaga untuk berkeliling tanpa tahu arah.&#xA;&#xA;Mereka berjalan mendekat kesebuah tempat di mana tidak jauh berada pejalan kaki berada yang terkadang berolahraga di sore hari. &#34;Ah, ayo kita duduk di sana, Izumi!&#34; ajak Rein, sembari menunjuk ke arah yang tidak jauh dari mereka.&#xA;&#xA;Tidak menghabiskan banyak waktu akhirnya mereka duduk di sebuah bangku. &#34;Aku akan pergi membeli air minum sebentar, Izumi istirahat saja di sini.&#34;&#xA;&#xA;Baru saja, Rein ingin pergi. Namun, Toraishi tidak ingin membiarkannya pergi. &#34;Tidak lama, kok! Aku akan segera kembali, tenang saja.&#34; Kini adalah saat yang tepat bagi Rein untuk membantu Toraishi beristirahat sejenak.&#xA;&#xA;Rein bisa tahu seberapa padatnya latihan Tim Hiiragi, karena sebelum ini dia mengetahui banyak hal dari Fauraza, teman satu kamarnya di asrama. Awalnya Rein merasa bersalah untuk mengajak Toraishi pergi sepulang sekolah. Tetapi, kerja sambilannya adalah malam hari. Jadi, menurut Rein ia tidak memiliki banyak waktu. &#xA;&#xA;Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Rein tiba dengan membawakan sebotol minuman itu adalah air putih. Ada banyak energi yang mereka pergunakan seharian ini, terutama Toraishi. Dia menerima pemberian itu dari Rein, tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepadanya.&#xA;&#xA;&#34;Maaf, sepertinya hal tadi membuatku memikirkan sesuatu yang agak mustahil,&#34; ujar Toraishi dengan ekspresinya kembali tenang, setelah ia meminum air pemberian dari Rein.&#xA;&#xA;&#34;Mengenai Ibumu, ya? Maafkan aku juga, semisal perkataanku tadi sedikit menyinggung dirimu.&#34; Sungguh, Rein sebenarnya hanya ingin mengungkapkan kata hatinya, tetapi ia melupakan sesuatu yang paling mustahil untuk Toraishi sendiri.&#xA;&#xA;Terlihat Toraishi mengangguk pelan. &#34;Tidak apa-apa, bukan salahnya Rein-chan juga, kok! Aku justru sangat senang, kalau kamu yang mengajak aku pergi jalan duluan~&#34; Akhirnya sebuah senyuman terlukis dibibir Toraishi. Menandakan bahwa ia benar-benar merasa senang, apalagi melihatnya yang tampak bahagia menantikan dirinya, ia bisa mengerti perbedaan senyum Toraishi.&#xA;&#xA;&#34;Ini mungkin waktunya kurang tepat, tapi aku mau mengucapkan sesuatu kepada Izumi,&#34; ujar Rein, sedari tadi mendengar perkataan dari Toraishi ia sembari mengatur ketenangannya. Sementara dia yang mendengar namanya dipanggil tampak gugup, melihat keseriusan dari Rein.&#xA;&#xA;Rein kemudian berbicara, sembari menggenggam kedua tangan Toraishi. &#34;Terima kasih, karena sudah terlahir kedunia ini. Aku merasa beruntung sekali bisa bertemu dengan orang sebaik Izumi. Seseorang yang perhatian sama anak kecil dan wanita, tidak mungkin rela bahkan sekadar melukai mereka. Sederhana, tetapi Izumi sudah melakukan perbuatan yang begitu mulia. Sungguh, aku tidak tahu harus berkata apalagi ketika melihat Ibu dan anak kecil tadi tampak bahagia,&#34; jelas Rein.&#xA;&#xA;Perkataan tersebut menyentuh lubuk hati seorang Toraishi Izumi. Dia mungkin sudah terbawa suasana dan ingin menangis sekarang.&#xA;&#xA;&#34;Izumi, aku berharap dirimu menjadi orang paling bahagia di dunia. Khusus untuk hari ini, hari paling spesial bagimu. Selamat bertambah usia, Izumi. Aku akan selalu memperhatikan dirimu.&#34;&#xA;&#xA;Air mata Toraishi Izumi mungkin sudah menetes sekarang juga. Namun, kala ia ingin menghapusnya, Rein malah memeluknya erat. Tidak membiarkan orang-orang melihat sang jagoan itu menangis. Napasnya Toraishi mungkin menyentuh bagian lehernya, tetapi khusus untuk kali ini. Ia akan biarkan Toraishi meluapkan segala emosinya. Sebab, akan ada kejutan yang lebih spesial yang untuknya.&#xA;&#xA;Kelopak bunga sakura mulai berjatuhan. Suasana senja sudah hampir menggelap, tanda sore akan segera berakhir. Sudah berapa menit mereka habiskan duduk berdua, dengan Rein yang membenamkan Toraishi dalam pelukannya di sana. Ia mengelus pelan punggungnya. &#xA;&#xA;&#39;Musim semi memang akan selalu menjadi kenangan yang sangat berkesan bagi Toraishi Izumi.&#39;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Malam hampir tiba, disaat itulah Toraishi akhirnya memutuskan kembali ke asrama. Ia sudah mengantar Rein ke tempat kerja sambilannya, meskipun agak memakan waktu sedikit jauh dari asrama. Akan tetapi, sekadar membayangkannya saja sudah membuat dia mengkhawatirkannya lagi. &#xA;&#xA;Sebelum mereka saling mengatakan sampai jumpa besok, Rein sempat berkata, &#34;Nanti kakak kembaranku akan menjemput diriku, tenang saja~&#34; Sebenarnya, Toraishi sendiri memang belum pernah bertemu dengan kembaran Rein. Jadi, ia tidak bisa berbicara banyak hal.&#xA;&#xA;Dalam perjalanan Toraishi menuju asrama, ia merasakan sesuatu yang aneh membuat dirinya sedikit merinding. Sebelum itu, dia juga sudah mencuci wajahnya supaya saat kembali ke asrama tidak terlihat kalau ia sempat menangis.&#xA;&#xA;Namun, saat ia menyentuh pintu depan asrama. Terlihat beberapa orang berkata sesuatu yang membuatnya teringat kejadian tadi sore. Ketika, Hoshitani menghadangnya di depan pintu asrama sembari mengatakan, &#34;Toraishi, selamat ulang tahun!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Astaga! Kenapa kalian semua berada di depan pintu?!&#34; gerutu Toraishi, sungguh ia tidak suka dikejutkan untuk kedua kalinya seperti ini. Meskipun mereka semua bermaksud baik dan mungkin ingin merayakan ulang tahunnya. Menurutnya, semua ini terlalu aneh!&#xA;&#xA;&#34;Oh, sudah mulai acaranya? Selamat ulang tahun, sepertinya kau bersenang-senang hari ini,&#34; sahut seseorang datang dari asrama kedua. &#xA;&#xA;Akademi Ayanagi memiliki lebih dari satu asrama, mengingat ada banyak siswa yang bersekolah di tempat ini.&#xA;&#xA;&#34;Kau sangat terlambat, bersalah!&#34;&#xA;&#xA;Sepertinya, ini adalah kejutan yang direncanakan. Namun, Toraishi tidak pernah mengetahui kejutan ini bermula dari siapa. Setidaknya, biarkan dia menikmati hari spesialnya dengan bahagia dan kesenangan.&#xA;&#xA;Musim semi kali ini, membawa kebahagiaan bagi mereka semua. Tidak hanya Toraishi Izumi, seluruh orang yang merayakan turut memperoleh kebahagiaan yang dia berikan dengan keberadaannya itu sendiri. &#xA;&#xA;End.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Toraishi Izumi × Hizafa Rein.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:IzuRein" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">IzuRein</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>Simple happiness of the noblest behavior.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:StarMyu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">StarMyu</span></a> © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. </p></blockquote>

<hr/>

<p>Latihan Tim Hiiragi selesai lebih awal pada waktu itu. Padahal, sewaktu Festival Ayanagi mereka bahkan tidak punya waktu untuk sekadar beristirahat. Bertemu dengan Tim Ootori saja hanya beberapa kali, itupun sampai harus diikuti oleh salah seorang <em>leader</em>-nya. Lagi pula, orangnya memang unik juga, sih. Alhasil, anggota Tim Hiiragi tidak heran lagi, kalau orangnya bisa senekat itu.</p>

<p>Meskipun sudah menjelang sore hari, cuacanya masih saja terlihat sangat cerah. Senyuman terlukis pada bibir salah seorang anggota Tim Hiiragi, ia adalah Toraishi Izumi. Netra kelabunya menatap terus ponselnya. Bersyukur semua kegiatan telah berakhir, waktunya ia akan kembali ke asrama dan membersihkan tubuhnya yang penuh keringat, setelah latihan selama beberapa jam.</p>

<p>“Toraishi-<em>kun</em>, mau sampai kapan kau berdiri di situ?” tegur pemuda dengan rambut seindah bunga Sakura, itu adalah Ugawa Akira, teman satu timnya.</p>

<p>Mendengar teguran dari sosok yang familier baginya, sukses mengalihkan atensi pemuda tersebut. “Oh, kalian duluan saja. Aku akan menyusul setelah membalas pesan dari Rein-<em>chan</em>,” ujarnya sembari tersenyum lebar.</p>

<p>“Wah, aku benar-benar tidak mengerti, seorang Rein bisa terpikat sama orang seperti dia.” Sindiran itu secara tidak langsung menyentak keberadaan Toraishi, meskipun ia tahu kalau wataknya Ugawa memanglah demikian.</p>

<p>“Hei, jangan bicara begitu!” tegur Toraishi. Seolah direnggut ketenangannya, dia justru meladeni Ugawa.</p>

<p>“Ya, ya. Lakukan saja sesukamu, aku tidak akan peduli.” Ugawa segera pergi meninggalkan anggota timnya yang lain, tidak mau berurusan lebih banyak dengan Toraishi untuk hari ini. Sepertinya karena latihan kali ini sudah sangat menguras tenaga, jadinya Ugawa tidak memperpanjang perkataannya hingga terjadi pertikaian yang sudah menjadi kebiasaan.</p>

<p>Melihat kepergian Ugawa, ketiga orang lainnya yang tadi menatap Toraishi pun akhirnya memutuskan untuk pergi dahulu. “Toraishi, kami kembali ke asrama duluan, ya.” Itu adalah Tatsumi Rui yang berkata dengan lembut. “Sepertinya, suasana hati Ugawa kurang bagus akhir-akhir ini, jangan terlalu marah padanya, ya?” lanjutnya. Sungguh mulia sekali hatinya, meminta teman satu timnya agar tidak bertengkar dan memaklumi perasaan anggota lain timnya juga. Sungguh <em>leader</em> sejati.</p>

<p>“Ya, tidak masalah~ Nanti, aku akan menyusul.” Syukurnya, suasana hati Toraishi sedang bahagia saat ini.</p>

<p>“Kalau begitu, sampai jumpa nanti, Toraishi-<em>kun</em>,” ujar pemuda dengan rambut cokelat disamping Tatsumi, Sawatari Eigo.</p>

<p>“Toraishi, sampai jumpa nanti!” seru sosok yang berada didekat Tatsumi dan Sawatari. Seorang yang energinya mungkin tidak akan pernah habis. Orang yang selalu ceria dan bahagia. Tanpa ada beban sama sekali.</p>

<p>Melihat kepergian anggota timnya, ia mendengkus kecil. “Ya, sampai nanti,” sahutnya sembari tersenyum. Setidaknya, ia masih akan tersenyum saat temannya pun melontarkan senyum kepada dirinya. Toraishi itu bukanlah pemuda yang irit tersenyum, hanya saja dia membutuhkan waktu-waktu tertentu untuk tersenyum. Terkadang, senyuman Toraishi lebih mirip seperti senyum jahil ketimbang senyum yang tulus. Ia terlalu banyak menggoda seseorang disekitarnya.</p>

<p>Kini ia mengalihkan atensinya lagi ke ponsel yang sedari tadi setia digenggamnya. “Oh apa ini? Rein-<em>chan</em> mengajak aku ketemuan?” Toraishi bertanya-tanya, sejujurnya jarang sekali kalau sosok yang sedari tadi mengirimkan pesan kepadanya itu mengajaknya duluan. Padahal, biasa Toraishi yang lebih sering duluan untuk mengajaknya.</p>

<p>Toraishi membalas pesan sang gadis pujaan hatinya itu. Namun, tak lama kemudian pesan itu dibalas. Sembari menunggu balasannya tadi, Toraishi sempat merapikan tas selempang yang dia bawa, dari asrama ke tempat latihan yang sekarang dipijaki olehnya.</p>

<p>Pesan masuk itu bertuliskan, <em>&#39;Bagaimana kalau hari ini, sepulang sekolah? Apa Izumi sudah punya rencana?&#39;</em> Ia bahkan menulis balasannya dengan cepat. Tentu saja ia tidak akan mengabaikan kesempatan itu.</p>

<p>Setelah itu, Toraishi bergegas untuk segera kembali ke asrama dan membersihkan tubuhnya dengan baik, karena sudah menghabiskan banyak waktu untuk latihan bahkan sepulang sekolah.</p>

<p>Pesan masuk kembali diterima oleh Toraishi yang berbunyi, <em>&#39;Kalau begitu, nanti akan aku kabari lagi. Sekarang aku mau kembali ke asrama dulu.&#39;</em></p>

<p>Saat Toraishi kembali ke asrama, tak disangka ada salah seorang dari Tim Ootori yang menyambutnya, lebih tepatnya <em>leader</em> mereka.</p>

<p>“Toraishi, selamat ulang tahun!” Betapa terkejutnya dia, padahal belum ada selangkah untuk memasuki asrama. Rasanya seolah dicegat oleh sosok pemuda bersurai cokelat muda dengan mata sehijau pepohonan.</p>

<p>“Wah, Hoshitani! Kau membuatku terkejut. Oh, hari ini ulang tahunku?” Toraishi melirik ponsel yang dia genggam, ternyata disana terpampang jelas bahwa sudah tanggal 12 April. Dia benar-benar tidak sadar. Sepertinya, Toraishi baru saja mengerti apa yang sedang terjadi kali ini.</p>

<p>“Kau benar, terima kasih Hoshitani.” Toraisi menepuk pundaknya sambil menyengir. Pantas saja kelihatannya suasana hati Toraishi bisa sebahagia itu, meskipun ternyata ia tetap melupakan salah satu hari penting dalam hidupnya.</p>

<p>“Ah, maaf membuatmu terkejut. Tadinya aku bertanya kepada Tatsumi, kalau kau ternyata masih berada di ruang latihan. Lalu, belum ada beberapa menit mereka masuk ke kamar, kaupun datang.”</p>

<p>“Oh, iya. Tadi setelah latihan selesai, Rein-<em>chan</em> mengirimku pesan dan ingin mengajakku pergi setelah pulang sekolah. Makanya, aku baru saja pulang,” jelas Toraishi.</p>

<p>“Ah~ Rein sudah lebih dahulu, ya?” gumam Hoshitani, sepertinya terdengar oleh Toraishi.</p>

<p>“Ya, setidaknya kalau Hoshitani tidak berkata hal itu kepadaku, bisa saja aku justru seperti orang yang melupakan hari kelahirannya sendiri,” balasnya tertawa renyah. Setelah itu ia pun melanjutkannya, “Padahal, Rein-<em>chan</em> bisa mengucapkan selamat padaku yang pertama kali, sayang sekali. Tapi, tidak masalah! Suasana hatiku sekarang sedang dalam kondisi baik~”</p>

<p>Hoshitani awalnya terkejut mendengar jawaban itu, tetapi begitu ia mendengar perkataan terakhirnya, entah kenapa justru merasa lega. “Ya sudah, aku ke dalam dulu. Boleh tolong minggir? Aku mau segera bertemu dengan Rein-<em>chan</em>, haha.” Sungguh, kalau Toraishi tidak mengatakan hal ini, Hoshitani akan terus menerus berada di depan pintu asrama.</p>

<p>“Oh, maaf! Nanti, jangan pulang larut malam, ya~”</p>

<p>Melihat kepergian Toraishi yang hanya melambaikan tangannya saja, menandakan bahwa ia mendengarkan pernyataan itu. Sepertinya, berkat Hoshitani, dia ingin segera bertemu dengan kekasih pujaan hatinya itu.</p>

<p>Sesampainya di kamar milik Toraishi, tidak terlihat keberadaan teman satu kamarnya. Dia tidak memusingkannya juga, ia memutuskan untuk membersihkan diri dan bersiap untuk bertemu dengan sosok yang selalu didambakan olehnya.</p>

<p>Seorang gadis berambut kelabu, dengan iris mata sehijau tanaman yang selalu memberikan oksigen kepada makhluk hidup. Seberharga itulah sosoknya bagi seorang Toraishi Izumi. Gadis itu akrab disapa Rein, nama panjangnya ialah Hizafa Rein.</p>

<p>Tidak lama setelah Toraishi bersiap, ternyata muncul pesan masuk. Awalnya Toraishi mengira itu dari Rein, tetapi sepertinya bukan. Itu adalah pesan dari Kuga Shu, teman masa kecilnya.</p>

<p>Melihat pesannya yang ternyata mengucapkan, <em>&#39;Selamat ulang tahun&#39;</em> membuat Toraishi melukis senyuman. Sepertinya, untuk hari ini dia tidak bisa menemuinya. Ia tidak mempermasalahkan hal itu, karena tahu bahwa Kuga memiliki kerjaan sambilan. Sebenarnya, Rein pun seperti itu. Sehingga dirinya sekarang berpikir, apakah tidak akan menyita waktu sang terkasih untuk bekerja malam harinya?</p>

<p>Toraishi memang tidak tahu pasti, jadwal kerja sambilannya Rein. Ia juga berharap kalau tidak membuat gadis itu justru tidak memiliki jatah istirahat, alhasil ia jarang untuk mengajaknya berkencan.</p>

<p>Pada akhirnya, Toraishi memutuskan untuk bertanya mengenai hal ini dengan Rein. Selang beberapa menit kemudian, pesan masuk muncul diponsel milik Toraishi.</p>

<p>Rein menuliskan balasannya, <em>&#39;Tenang saja~ aku masuk kerjanya sekitar jam tujuh nanti malam.&#39;</em> Toraishi bisa membayangkan betapa santainya Rein saat membaca pesan tersebut. Akan tetapi, Toraishi tetap saja merasa khawatir. Mau bagaimanapun, Rein itu seorang gadis, tidak terlalu bagus keluar malam-malam sekadar untuk bekerja.</p>

<p>Toraishi membalas beberapa kalimat untuk disampaikan kepada Rein. Namun, balasan yang Toraishi dapatkan berupa, <em>&#39;Hei, tenang saja. Sebelum aku bertemu denganmu, aku sudah lebih dahulu bekerja. Aku bisa untuk menjaga diriku sendiri. Omong-omong, aku sudah selesai bersiap. Nanti aku menunggu di depan gerbang Akademi, ya.&#39;</em></p>

<p>Toraishi rasanya akan melesat saat itu juga, setelah ia membaca balasan dari Rein. Tentu saja, dia tidak lupa menyempatkan diri untuk membalas pesannya terlebih dahulu.</p>

<hr/>

<p>“Yo, Izumi,” sapa seorang gadis bersurai ungu dengan sedikit helaian rambutnya berwarna lebih muda, dibandingkan rambut lainnya.</p>

<p>Bukan Rein yang menyapanya, melainkan teman akrab Rein. Sosok yang lebih sering bersama salah seorang dari Tim Ootori. “Heh, sepertinya suasana hatimu bahagia sekali. Rein yang mengajakmu pergi duluan, ya~?” goda gadis tersebut. Sungguh, entah kenapa gadis ini lebih berbakat dalam hal menggoda dirinya.</p>

<p>“Izumi, maaf membuatmu menunggu.” Ya, ini barulah suara yang dia rindukan. Sosok yang akhirnya bertemu setelah percakapan panjang di ponsel mereka masing-masing.</p>

<p>“Tidak masalah~”</p>

<p>“Huh? Ya, baiklah! Sudah sana kalian pergi berkencan segera. Jangan menebar kemesraan di depanku,” gerutu gadis berambut ungu tadi.</p>

<p>Gadis itu, Hizamara Fauraza, mendorong Toraishi dan Rein agar supaya menjauh dari hadapannya. Entah mengapa wajah Rein memanas. Ia tidak mengira kalau ajakannya malah terdengar seperti mengajak berkencan. Sementara itu, Toraishi sendiri tampak mengomeli gadis itu. Dia tidak terima karena tiba-tiba saja didorong agar menjauh dari tempat itu.</p>

<p>Pada akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk pergi dan tak lupa mengucapkan sampai jumpa kepada gadis tersebut. Melihat kepergian mereka berdua, senyuman terulas diwajah mereka. Setelah itu, tangannya mengambil ponsel dan menghubungi seseorang yang dikenal oleh mereka semua.</p>

<hr/>

<p>Dalam perjalanan Toraishi bersama Rein terasa hening. Entah karena tidak bisa memulai topik, atau justru kepikiran tentang perkataan Fauraza yang berkata bahwa saat ini mereka berdua sedang kencan. Rasanya Rein ingin menangis sekolam sekarang.</p>

<p>Belum sempat Toraishi ingin berbicara, terdengar seorang anak kecil tiba-tiba menangis. Atensi mereka berdua teralihkan, awalnya Rein ingin bertanya dengan anak itu, tetapi Toraishi lebih dahulu menenangkan anak kecil tersebut. Melihat hal itu membuat Rein tersenyum kecil.</p>

<p>“Hei, anak jagoan. Jangan menangis seperti itu,” ujar Toraishi sembari jongkok tuk menyejajarkan tingginya dengan anak kecil itu. Anak kecil itu mungkin sekitaran usia tiga atau empat tahun. Toraishi mengelus pelan kepalanya sewaktu ia berkata demikian.</p>

<p>“Kenapa dirimu menangis? Apa mungkin anak jagoan ini terpisah dengan Ibunya? Tenang saja, ayo kita cari Ibumu bersama-sama!” Anak kecil itu tertawa kecil.</p>

<p>“Um ... Aku terpisah sama Ibuku,” sahutnya pelan. Tetapi, karena Toraishi berada dekat dengannya, sehingga ia bisa mendengar suaranya.</p>

<p>“Tidak apa-apa, sebelum semakin malam, kita bisa ke tempat di mana Ibumu bisa menemukanmu!”</p>

<p>Rein menatap perilaku lembutnya Toraishi pada anak kecil itu. Terlepas dari kebiasaannya yang dahulu, Toraishi memang anak yang lemah lembut terutama kepada wanita dan anak-anak. Rasanya, diantara mereka berdua justru Toraishi yang lebih ahli dalam hal seperti ini.</p>

<p>“Izumi, kita pergi ke tempat petugas yang berjaga disekitar sini,” sahut Rein, sembari membaca aplikasi navigasi yang berada di ponsel miliknya. Setidaknya, Rein masih bisa membantu walaupun sebatas ini saja.</p>

<p>Setelah beberapa menit berlalu akhirnya, tempat yang mereka tuju ditemukan. Ternyata di sana memang sudah ada seorang Ibu yang dari ekspresi wajahnya tampak khawatir. Sampai akhirnya, “Mama!” Mereka berpelukan penuh haru.</p>

<p>Rein yang melihat itu merasa terharu sekali. Meskipun ia sungguh tidak membantu apapun, karena lebih banyak Toraishi yang melakukannya. Akan tetapi, ia justru mendengar Toraishi menangis, walau dengan tangannya menutup matanya itu dan nyaris cukup pelan. Rein tahu, kalau Toraishi memang mudah terpengaruh hal-hal seperti ini. Namun, ia benar-benar tidak pernah menduga kalau Toraishi akan menangis di tempat itu juga.</p>

<p>Rein menepuk bagian punggung Toraishi, menenangkan sosok yang lebih tinggi daripada dirinya. “Jagoan masa menangis,” celetuknya.</p>

<p>Pada akhirnya, Toraishi tidak lagi menangis. Sang Ibu dari anak kecil yang mereka ajak untuk mencari Ibunya tadi, kini mengucapkan beribu terima kasih kepada mereka. Sebuah kisah yang mengharukan. Khususnya, pada hari kelahiran Toraishi Izumi sendiri. <em>Ah, ia jadi membayangkan Ibunya bisa menjadi seseorang yang lebih penyayang.</em></p>

<p>Melihat kepergian Ibu dan anak kecil itu sembari melambaikan tangannya kepada mereka, justru menjadikan kenangan itu tak terlupakan.</p>

<p>“Ah, Rein-<em>chan</em>. Maafkan aku yang justru tidak memperhatikan dirimu sedari tadi,” ucap Toraishi, terlihat dari raut wajahnya yang tampak menyesal.</p>

<p>Rein hanya tersenyum kecil sembari berkata, “Tidak masalah, lagi pula menolong seorang anak untuk bertemu Ibunya merupakan perilaku yang sangat mulia.”</p>

<p>Mendengar perkataan itu dari Rein, entah kenapa ekspresi wajahnya tak dapat dikondisikan. Perasaannya terlalu banyak dalam satu waktu, ia tak mampu menampung semua ekspresi itu. “Ah ... Begitu, ya. Rein-<em>chan</em>, boleh kita mencari tempat duduk dulu? Kita sudah berjalan hampir beberapa menit,” tawar Toraishi.</p>

<p>Rein sebenarnya memperhatikan ekspresi wajah Toraishi yang berubah terus, rasanya pasti tidak nyaman. Ia menyetujui hal itu, setidaknya mereka gunakan waktu untuk berbicara saja, dibanding menghabiskan banyak tenaga untuk berkeliling tanpa tahu arah.</p>

<p>Mereka berjalan mendekat kesebuah tempat di mana tidak jauh berada pejalan kaki berada yang terkadang berolahraga di sore hari. “Ah, ayo kita duduk di sana, Izumi!” ajak Rein, sembari menunjuk ke arah yang tidak jauh dari mereka.</p>

<p>Tidak menghabiskan banyak waktu akhirnya mereka duduk di sebuah bangku. “Aku akan pergi membeli air minum sebentar, Izumi istirahat saja di sini.”</p>

<p>Baru saja, Rein ingin pergi. Namun, Toraishi tidak ingin membiarkannya pergi. “Tidak lama, kok! Aku akan segera kembali, tenang saja.” Kini adalah saat yang tepat bagi Rein untuk membantu Toraishi beristirahat sejenak.</p>

<p>Rein bisa tahu seberapa padatnya latihan Tim Hiiragi, karena sebelum ini dia mengetahui banyak hal dari Fauraza, teman satu kamarnya di asrama. Awalnya Rein merasa bersalah untuk mengajak Toraishi pergi sepulang sekolah. Tetapi, kerja sambilannya adalah malam hari. Jadi, menurut Rein ia tidak memiliki banyak waktu.</p>

<p>Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Rein tiba dengan membawakan sebotol minuman itu adalah air putih. Ada banyak energi yang mereka pergunakan seharian ini, terutama Toraishi. Dia menerima pemberian itu dari Rein, tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepadanya.</p>

<p>“Maaf, sepertinya hal tadi membuatku memikirkan sesuatu yang agak mustahil,” ujar Toraishi dengan ekspresinya kembali tenang, setelah ia meminum air pemberian dari Rein.</p>

<p>“Mengenai Ibumu, ya? Maafkan aku juga, semisal perkataanku tadi sedikit menyinggung dirimu.” Sungguh, Rein sebenarnya hanya ingin mengungkapkan kata hatinya, tetapi ia melupakan sesuatu yang paling mustahil untuk Toraishi sendiri.</p>

<p>Terlihat Toraishi mengangguk pelan. “Tidak apa-apa, bukan salahnya Rein-<em>chan</em> juga, kok! Aku justru sangat senang, kalau kamu yang mengajak aku pergi jalan duluan~” Akhirnya sebuah senyuman terlukis dibibir Toraishi. Menandakan bahwa ia benar-benar merasa senang, apalagi melihatnya yang tampak bahagia menantikan dirinya, ia bisa mengerti perbedaan senyum Toraishi.</p>

<p>“Ini mungkin waktunya kurang tepat, tapi aku mau mengucapkan sesuatu kepada Izumi,” ujar Rein, sedari tadi mendengar perkataan dari Toraishi ia sembari mengatur ketenangannya. Sementara dia yang mendengar namanya dipanggil tampak gugup, melihat keseriusan dari Rein.</p>

<p>Rein kemudian berbicara, sembari menggenggam kedua tangan Toraishi. “Terima kasih, karena sudah terlahir kedunia ini. Aku merasa beruntung sekali bisa bertemu dengan orang sebaik Izumi. Seseorang yang perhatian sama anak kecil dan wanita, tidak mungkin rela bahkan sekadar melukai mereka. Sederhana, tetapi Izumi sudah melakukan perbuatan yang begitu mulia. Sungguh, aku tidak tahu harus berkata apalagi ketika melihat Ibu dan anak kecil tadi tampak bahagia,” jelas Rein.</p>

<p>Perkataan tersebut menyentuh lubuk hati seorang Toraishi Izumi. Dia mungkin sudah terbawa suasana dan ingin menangis sekarang.</p>

<p>“Izumi, aku berharap dirimu menjadi orang paling bahagia di dunia. Khusus untuk hari ini, hari paling spesial bagimu. Selamat bertambah usia, Izumi. Aku akan selalu memperhatikan dirimu.”</p>

<p>Air mata Toraishi Izumi mungkin sudah menetes sekarang juga. Namun, kala ia ingin menghapusnya, Rein malah memeluknya erat. Tidak membiarkan orang-orang melihat sang jagoan itu menangis. Napasnya Toraishi mungkin menyentuh bagian lehernya, tetapi khusus untuk kali ini. Ia akan biarkan Toraishi meluapkan segala emosinya. Sebab, akan ada kejutan yang lebih spesial yang untuknya.</p>

<p>Kelopak bunga sakura mulai berjatuhan. Suasana senja sudah hampir menggelap, tanda sore akan segera berakhir. Sudah berapa menit mereka habiskan duduk berdua, dengan Rein yang membenamkan Toraishi dalam pelukannya di sana. Ia mengelus pelan punggungnya.</p>

<p><em>&#39;Musim semi memang akan selalu menjadi kenangan yang sangat berkesan bagi Toraishi Izumi.&#39;</em></p>

<hr/>

<p>Malam hampir tiba, disaat itulah Toraishi akhirnya memutuskan kembali ke asrama. Ia sudah mengantar Rein ke tempat kerja sambilannya, meskipun agak memakan waktu sedikit jauh dari asrama. Akan tetapi, sekadar membayangkannya saja sudah membuat dia mengkhawatirkannya lagi.</p>

<p>Sebelum mereka saling mengatakan sampai jumpa besok, Rein sempat berkata, “Nanti kakak kembaranku akan menjemput diriku, tenang saja~” Sebenarnya, Toraishi sendiri memang belum pernah bertemu dengan kembaran Rein. Jadi, ia tidak bisa berbicara banyak hal.</p>

<p>Dalam perjalanan Toraishi menuju asrama, ia merasakan sesuatu yang aneh membuat dirinya sedikit merinding. Sebelum itu, dia juga sudah mencuci wajahnya supaya saat kembali ke asrama tidak terlihat kalau ia sempat menangis.</p>

<p>Namun, saat ia menyentuh pintu depan asrama. Terlihat beberapa orang berkata sesuatu yang membuatnya teringat kejadian tadi sore. Ketika, Hoshitani menghadangnya di depan pintu asrama sembari mengatakan, “Toraishi, selamat ulang tahun!”</p>

<p>“Astaga! Kenapa kalian semua berada di depan pintu?!” gerutu Toraishi, sungguh ia tidak suka dikejutkan untuk kedua kalinya seperti ini. Meskipun mereka semua bermaksud baik dan <em>mungkin</em> ingin merayakan ulang tahunnya. <em>Menurutnya, semua ini terlalu aneh!</em></p>

<p>“Oh, sudah mulai acaranya? Selamat ulang tahun, sepertinya kau bersenang-senang hari ini,” sahut seseorang datang dari asrama kedua.</p>

<p>Akademi Ayanagi memiliki lebih dari satu asrama, mengingat ada banyak siswa yang bersekolah di tempat ini.</p>

<p>“Kau sangat terlambat, bersalah!”</p>

<p>Sepertinya, ini adalah kejutan yang direncanakan. Namun, Toraishi tidak pernah mengetahui kejutan ini bermula dari siapa. Setidaknya, biarkan dia menikmati hari spesialnya dengan bahagia dan kesenangan.</p>

<p>Musim semi kali ini, membawa kebahagiaan bagi mereka semua. Tidak hanya Toraishi Izumi, seluruh orang yang merayakan turut memperoleh kebahagiaan yang dia berikan dengan keberadaannya itu sendiri.</p>

<p><strong>End.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/spring-happiness</guid>
      <pubDate>Sat, 12 Apr 2025 11:20:25 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Sekadar Bertemu</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/sekadar-bertemu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Hidaka Hokuto × Hizafa Rein.&#xA;  #FaureYume; #HokuRein.&#xA;&#xA;   If only, his wish would be granted through that opportunity.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #EnsembleStars © Happy Elements K.K, David Production. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Itu telah terjadi beberapa bulan yang lalu. Di mana ia mendapati sebuah pemberitahuan kalau unitnya akan mengadakan penampilan kembali.&#xA;&#xA;   Latihan yang dilakukan terasa padat seiring berjalannya waktu, tak bisa dipungkiri kalau mereka perlu menampilkan sesuatu yang akan membuat orang terkagum berkat performa yang dilakukan.&#xA;&#xA;   &#34;Huh~ aku ingin istirahat!&#34; Berkat ucapan dari pemuda surai oranye, ia jadi bisa mengatur kembali pernapasan. Ia mengambil langkah menjeda kegiatan.&#xA;&#xA;   Sementara kedua temannya menyetujui hal tersebut. &#34;Benar juga lebih baik istirahat terlebih dahulu.&#34; Lelaki berkacamata itu mulai mengelap keringat yang membasahi pelipisnya.&#xA;&#xA;   Hingga suara lainnya mengalihkan perhatian mereka, &#34;Ah, minumanku sepertinya habis. Aku ingin membelinya, ada yang ingin menitip sekalian?&#34; tanyanya.&#xA;&#xA;   &#34;Aku mau! Titip minuman dingin ya, Sally~&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ya. Bagaimana Hokuto sama Makoto, ingin titip juga?&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ah, tidak perlu. Air minumku masih ada, tetapi milik Yuuki sepertinya sudah habis.&#34;&#xA;&#xA;   Menggaruk pipinya tidak gatal. &#34;Sepertinya boleh juga, ah, aku mau membeli sesuatu juga. Isara-kun, aku ikut juga, ya.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ya, tentu.&#34;&#xA;&#xA;   Pada akhirnya mereka berdua pergi bersama. Menyisakan kedua orang disana. Lelaki yang dipanggil Hokuto tadi terlihat melamun. Tidak seperti biasanya.&#xA;&#xA;   &#34;Hokke!&#34;&#xA;&#xA;   Ia tersentak. Suara yang tidak asing menguar ketelinga miliknya. &#34;Ada apa, Akehoshi?&#34; tanyanya seperti biasa.&#xA;&#xA;   &#34;Hmph, sedari tadi aku panggil dirimu melamun. Coba ceritakan padaku, apa yang kau pikirkan?&#34;&#xA;&#xA;   Akehoshi menyadari bahwa gerak-gerik Hokuto tidak seperti apa yang biasa lihat. Sedikit suram, mungkin? Ah, tidak-tidak.&#xA;&#xA;   &#34;Tidak ada.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Bohong sekali. Dari ekspresimu saja, aku melihat kalau ada yang tidak beres.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Bukan hal yang penting.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Aku tidak percaya.&#34;&#xA;&#xA;   Hidaka Hokuto, itulah namanya. Mulai menghela napas panjang. Entah apa yang membuat teman satu unitnya, Trickstar. Bisa menjadi sepenasaran ini terhadap masalah dirinya.&#xA;&#xA;   &#34;Urusannya dengan Klub Teater.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Lalu?&#34; Baiklah, sekarang Akehoshi Subaru itu semakin penasaran. Bagaimana pun juga, sekarang Hokuto menjadi ketua dari klub tersebut.&#xA;&#xA;   &#34;Akan ada pementasan dalam waktu dekat, jadi—&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Kami kembali.&#34;&#xA;&#xA;   Perkataan Hokuto terpotong. Mendapati kedua temannya yang telah kembali dari berbelanja. &#34;Kalian hanya membeli minuman, terus mengapa jadi sebanyak ini?&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ah, itu karena kita belum makan. Kita sudah berada disini setelah kegiatan sekolah berakhir, jadi perlu mengisi tenaga lagi.&#34;&#xA;&#xA;   Kalau dipikir kembali, mereka berlatih dan mengulangi gerakan tanpa melihat waktu. Selagi ada kesempatan untuk menjeda kegiatan, inilah waktu yang bagus untuk mengisi tenaga.&#xA;&#xA;   &#34;Ya. Kalian semua terlalu bersemangat, sampai melupakan waktu makan,&#34; sahut Yuuki Makoto, si pemuda bersurai kuning dengan kacamata bertengger dihidungnya.&#xA;&#xA;   &#34;Hehe~&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Kalau begitu, ayo makan!&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Selamat makan.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Suasananya entah mengapa menjadi canggung. Padahal, sewaktu tiba ia tak merasakan hal seperti ini. Isara Mao, telah dihujani pertanyaan oleh Subaru. Tentang Hokuto dan klubnya. Sesuai apa yang Subaru duga, Mao mengetahui kegiatan tersebut.&#xA;&#xA;   Mao melirik Hokuto sekilas. Entah mengapa ia menjadi tidak tenang sekarang. &#34;Akehoshi-kun, tenanglah. Hidaka-kun pasti memiliki alasan tersendiri kenapa tidak memberitahukannya,&#34; ucapnya mencoba menengahi pembicaraan.&#xA;&#xA;   &#34;Tetapi, kalau tidak begitu ... Hokke akan terus menutupinya,&#34; katanya.&#xA;&#xA;   &#34;Hei, aku tak seperti itu.&#34;&#xA;&#xA;   Mao mendapati perdebatan kembali.  Ia mulai batuk pelan, berusaha mengarahkan atensi mereka menatap kepada dirinya.&#xA;&#xA;   &#34;Baiklah, berhubung Hokuto juga sudah mengatakannya tadi dengan Subaru. Aku akan mengatakan sedikit saja. Klub Teater akan mengadakan penampilan, sehari sebelum Trickstar mengadakan penampilan. Peran Hokuto juga tidak begitu banyak, karena dia juga berada di kelas akhir seperti kita. Adik kelas kitalah yang nanti akan melakukannya, tetapi dia tetap berusaha untuk ikut tampil disana.&#34;&#xA;&#xA;   Mendengar pernyataan tersebut membuat Makoto merasa khawatir. &#34;Hidaka-kun, jangan terlalu memaksakan diri,&#34; ujarnya.&#xA;&#xA;   &#34;Hokke selalu saja begitu~!&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Aku tidak memaksakan diri. Malah, yang sering kali memaksakan diri itu Isara.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ehh? Kenapa jadi aku juga?&#34; Isara entah mengapa tidak terima kalau ia ikut terlibat. Meskipun begitu ia memang terlibat banyak organisasi sekolah.&#xA;&#xA;   &#34;Kalian berdua sama saja, sering kali memaksakan diri. Tolong ingat dengan kesehatan kalian, karena kita perlu tampil bersama sebagai Trickstar, bukan?&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ya, itu benar.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   &#34;Sangat melelahkan~&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ya, hari ini cukup padat dari dugaan.&#34;&#xA;&#xA;   Mereka saling bertukar pendapat satu sama lain. Hingga mereka mulai memutuskan untuk berpisah dan kembali ke dorm masing-masing.&#xA;&#xA;   Akan tetapi, sebelum Hokuto memutuskan kembali ia mengunjungi suatu toko. Dikala ia menghadapi hari-hari yang berat, makanan kesukaannya akan menjadi penyemangat.&#xA;&#xA;   Berhubung hari belum terlalu larut, walau begitu senja mulai tercipta dilangit. Menandakan bahwa gelap akan merampas semua cahayanya, kendati akan bertabur oleh bintang nanti.&#xA;&#xA;   Perasaannya yang terasa lega, setelah mendengarkan perkataan hangat teman satu unitnya. Entah mengapa membuat ia berjalan dengan senyum tercipta.&#xA;&#xA;   &#34;Persediaan konpeito yang ada di dorm sebentar lagi habis, aku harus membeli beberapa.&#34;&#xA;&#xA;   Benar makanan kesukaannya adalah konpeito. Ialah permen tradisional yang dahulunya diberikan oleh sang Nenek, ketika ia merasa sedih. Seiring pertumbuhannya menjadi remaja, ia semakin menyukainya.&#xA;&#xA;   Ditambah bentuk yang akan segera menarik perhatian, bentuk bintang dan berwarna-warni serta memiliki rasa manis. Terkadang hal itu, mengingatkannya pada masa lalu.&#xA;&#xA;   Setelah mendapatkannya, ia berpapasan tanpa bertukar sapa dengan seseorang yang memang asing terhadapnya. Tidak biasa.&#xA;&#xA;   Namun, berkat hal itu ia sedikit lega. Karena tiada yang mengenali dirinya yang memiliki karir sebagai Idola. Namun, kalau saja ia mengetahuinya itulah pertemuan yang menjadikan dirinya seperti di masa depan nanti.&#xA;&#xA;   Figur indah itu terlihat seperti orang yang telah dewasa. Ah, mungkin saja demikian, benar? Tinggi badan bukanlah menjadi salah satu alasannya. Mengingat orang itu tidak begitu tinggi. Seorang perempuan dengan rambut abu-abu yang tergerai.&#xA;&#xA;   Entah mengapa ia menjadi bisa mengingatnya. Padahal mereka, hanya sekadar bertemu sekilas. Belum tentu dikesempatan yang lain, akan kembali bertemu, benar?&#xA;&#xA;   Ya, belum tentu ada kesempatan.&#xA;&#xA;   To Be Continued.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Hidaka Hokuto × Hizafa Rein.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:HokuRein" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">HokuRein</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>If only, his wish would be granted through that opportunity.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:EnsembleStars" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">EnsembleStars</span></a> © Happy Elements K.K, David Production. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   Itu telah terjadi beberapa bulan yang lalu. Di mana ia mendapati sebuah pemberitahuan kalau unitnya akan mengadakan penampilan kembali.</p>

<p>   Latihan yang dilakukan terasa padat seiring berjalannya waktu, tak bisa dipungkiri kalau mereka perlu menampilkan sesuatu yang akan membuat orang terkagum berkat performa yang dilakukan.</p>

<p>   “Huh~ aku ingin istirahat!” Berkat ucapan dari pemuda surai oranye, ia jadi bisa mengatur kembali pernapasan. Ia mengambil langkah menjeda kegiatan.</p>

<p>   Sementara kedua temannya menyetujui hal tersebut. “Benar juga lebih baik istirahat terlebih dahulu.” Lelaki berkacamata itu mulai mengelap keringat yang membasahi pelipisnya.</p>

<p>   Hingga suara lainnya mengalihkan perhatian mereka, “Ah, minumanku sepertinya habis. Aku ingin membelinya, ada yang ingin menitip sekalian?” tanyanya.</p>

<p>   “Aku mau! Titip minuman dingin ya, <em>Sally~</em>“</p>

<p>   “Ya. Bagaimana Hokuto sama Makoto, ingin titip juga?”</p>

<p>   “Ah, tidak perlu. Air minumku masih ada, tetapi milik Yuuki sepertinya sudah habis.”</p>

<p>   Menggaruk pipinya tidak gatal. “Sepertinya boleh juga, ah, aku mau membeli sesuatu juga. Isara-<em>kun</em>, aku ikut juga, ya.”</p>

<p>   “Ya, tentu.”</p>

<p>   Pada akhirnya mereka berdua pergi bersama. Menyisakan kedua orang disana. Lelaki yang dipanggil Hokuto tadi terlihat melamun. Tidak seperti biasanya.</p>

<p>   “<em>Hokke</em>!”</p>

<p>   Ia tersentak. Suara yang tidak asing menguar ketelinga miliknya. “Ada apa, Akehoshi?” tanyanya seperti biasa.</p>

<p>   “Hmph, sedari tadi aku panggil dirimu melamun. Coba ceritakan padaku, apa yang kau pikirkan?”</p>

<p>   Akehoshi menyadari bahwa gerak-gerik Hokuto tidak seperti apa yang biasa lihat. Sedikit suram, mungkin? Ah, tidak-tidak.</p>

<p>   “Tidak ada.”</p>

<p>   “Bohong sekali. Dari ekspresimu saja, aku melihat kalau ada yang tidak beres.”</p>

<p>   “Bukan hal yang penting.”</p>

<p>   “Aku tidak percaya.”</p>

<p>   Hidaka Hokuto, itulah namanya. Mulai menghela napas panjang. Entah apa yang membuat teman satu unitnya, Trickstar. Bisa menjadi sepenasaran ini terhadap masalah dirinya.</p>

<p>   “Urusannya dengan Klub Teater.”</p>

<p>   “Lalu?” Baiklah, sekarang Akehoshi Subaru itu semakin penasaran. Bagaimana pun juga, sekarang Hokuto menjadi ketua dari klub tersebut.</p>

<p>   “Akan ada pementasan dalam waktu dekat, jadi—”</p>

<p>   “Kami kembali.”</p>

<p>   Perkataan Hokuto terpotong. Mendapati kedua temannya yang telah kembali dari berbelanja. “Kalian hanya membeli minuman, terus mengapa jadi sebanyak ini?”</p>

<p>   “Ah, itu karena kita belum makan. Kita sudah berada disini setelah kegiatan sekolah berakhir, jadi perlu mengisi tenaga lagi.”</p>

<p>   Kalau dipikir kembali, mereka berlatih dan mengulangi gerakan tanpa melihat waktu. Selagi ada kesempatan untuk menjeda kegiatan, inilah waktu yang bagus untuk mengisi tenaga.</p>

<p>   “Ya. Kalian semua terlalu bersemangat, sampai melupakan waktu makan,” sahut Yuuki Makoto, si pemuda bersurai kuning dengan kacamata bertengger dihidungnya.</p>

<p>   “Hehe~”</p>

<p>   “Kalau begitu, ayo makan!”</p>

<p>   “Selamat makan.”</p>

<hr/>

<p>   Suasananya entah mengapa menjadi canggung. Padahal, sewaktu tiba ia tak merasakan hal seperti ini. Isara Mao, telah dihujani pertanyaan oleh Subaru. Tentang Hokuto dan klubnya. Sesuai apa yang Subaru duga, Mao mengetahui kegiatan tersebut.</p>

<p>   Mao melirik Hokuto sekilas. Entah mengapa ia menjadi tidak tenang sekarang. “Akehoshi-<em>kun</em>, tenanglah. Hidaka-<em>kun</em> pasti memiliki alasan tersendiri kenapa tidak memberitahukannya,” ucapnya mencoba menengahi pembicaraan.</p>

<p>   “Tetapi, kalau tidak begitu ... Hokke akan terus menutupinya,” katanya.</p>

<p>   “Hei, aku tak seperti itu.”</p>

<p>   Mao mendapati perdebatan kembali.  Ia mulai batuk pelan, berusaha mengarahkan atensi mereka menatap kepada dirinya.</p>

<p>   “Baiklah, berhubung Hokuto juga sudah mengatakannya tadi dengan Subaru. Aku akan mengatakan sedikit saja. Klub Teater akan mengadakan penampilan, sehari sebelum Trickstar mengadakan penampilan. Peran Hokuto juga tidak begitu banyak, karena dia juga berada di kelas akhir seperti kita. Adik kelas kitalah yang nanti akan melakukannya, tetapi dia tetap berusaha untuk ikut tampil disana.”</p>

<p>   Mendengar pernyataan tersebut membuat Makoto merasa khawatir. “Hidaka-<em>kun</em>, jangan terlalu memaksakan diri,” ujarnya.</p>

<p>   “<em>Hokke</em> selalu saja begitu~!”</p>

<p>   “Aku tidak memaksakan diri. Malah, yang sering kali memaksakan diri itu Isara.”</p>

<p>   “Ehh? Kenapa jadi aku juga?” Isara entah mengapa tidak terima kalau ia ikut terlibat. Meskipun begitu ia memang terlibat banyak organisasi sekolah.</p>

<p>   “Kalian berdua sama saja, sering kali memaksakan diri. Tolong ingat dengan kesehatan kalian, karena kita perlu tampil bersama sebagai Trickstar, bukan?”</p>

<p>   “Ya, itu benar.”</p>

<hr/>

<p>   “Sangat melelahkan~”</p>

<p>   “Ya, hari ini cukup padat dari dugaan.”</p>

<p>   Mereka saling bertukar pendapat satu sama lain. Hingga mereka mulai memutuskan untuk berpisah dan kembali ke <em>dorm</em> masing-masing.</p>

<p>   Akan tetapi, sebelum Hokuto memutuskan kembali ia mengunjungi suatu toko. Dikala ia menghadapi hari-hari yang berat, makanan kesukaannya akan menjadi penyemangat.</p>

<p>   Berhubung hari belum terlalu larut, walau begitu senja mulai tercipta dilangit. Menandakan bahwa gelap akan merampas semua cahayanya, kendati akan bertabur oleh bintang nanti.</p>

<p>   Perasaannya yang terasa lega, setelah mendengarkan perkataan hangat teman satu unitnya. Entah mengapa membuat ia berjalan dengan senyum tercipta.</p>

<p>   “Persediaan <em>konpeito</em> yang ada di <em>dorm</em> sebentar lagi habis, aku harus membeli beberapa.”</p>

<p>   Benar makanan kesukaannya adalah <em>konpeito</em>. Ialah permen tradisional yang dahulunya diberikan oleh sang Nenek, ketika ia merasa sedih. Seiring pertumbuhannya menjadi remaja, ia semakin menyukainya.</p>

<p>   Ditambah bentuk yang akan segera menarik perhatian, bentuk bintang dan berwarna-warni serta memiliki rasa manis. Terkadang hal itu, mengingatkannya pada masa lalu.</p>

<p>   Setelah mendapatkannya, ia berpapasan tanpa bertukar sapa dengan seseorang yang memang asing terhadapnya. Tidak biasa.</p>

<p>   Namun, berkat hal itu ia sedikit lega. Karena tiada yang mengenali dirinya yang memiliki karir sebagai Idola. Namun, kalau saja ia mengetahuinya itulah pertemuan yang menjadikan dirinya seperti di masa depan nanti.</p>

<p>   Figur indah itu terlihat seperti orang yang telah dewasa. Ah, mungkin saja demikian, benar? Tinggi badan bukanlah menjadi salah satu alasannya. Mengingat orang itu tidak begitu tinggi. Seorang perempuan dengan rambut abu-abu yang tergerai.</p>

<p>   Entah mengapa ia menjadi bisa mengingatnya. Padahal mereka, hanya sekadar bertemu sekilas. Belum tentu dikesempatan yang lain, akan kembali bertemu, benar?</p>

<p>   <em>Ya, belum tentu ada kesempatan.</em></p>

<p>   <strong>To Be Continued.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/sekadar-bertemu</guid>
      <pubDate>Mon, 19 Dec 2022 23:29:00 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Berpisah.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/berpisah?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Hidaka Hokuto × Hizafa Rein.&#xA;  #FaureYume; #HokuRein.&#xA;&#xA;   Let&#39;s go back to the past, where we never knew each other.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #EnsembleStars © Happy Elements K.K, David Production. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Larut malam itu, terjadi rintik-rintik hujan. Sebagai kenalan, ia mengantarkan seorang wanita, karena disuruh oleh seseorang wanita lainnya.&#xA;&#xA;   Ya, meskipun wanita itu dengan kesan menyuruh-nyuruh, dia tak bisa membiarkan seorang wanita, yang berada di hadapannya kini tuk pulang sendiri.&#xA;&#xA;   Benar saja, dengan alasan menghindari suatu hal yang tak mengenakan. Namun, dia; Hidaka Hokuto, melupakan suatu tanggungjawabnya sebagai Idola.&#xA;&#xA;   Ia tak seharusnya berduaan dengan seseorang dilarut malam bersama dengan wanita. Apalagi zamannya sudah modern, netizen yang melihat bisa saja akan ada berita buruk.&#xA;&#xA;   Ia mengantar Rein, wanita tersebut. Nama panjangnya Hizafa Rein, tetapi lebih akrab disapa sebagai Rein.&#xA;&#xA;   Awalnya, Rein menolak keras, karena dia tinggal di sebuah rumah bersama kakak kembarannya. Ia beralasan tak mau repot-repot harus menjelaskan, mengapa Hokuto harus mengantarnya, pasalnya sang kakak masih bisa menjemput dirinya.&#xA;&#xA;   Ya. Itu akan terjadi kalau Rein, bukanlah seseorang yang susah menerima bantuan. Dia tak mau merepotkan siapapun, selagi dirinya masih mampu tuk melakukan semuanya sendiri.&#xA;&#xA;   Akan tetapi, kejadian tersebut telah berlangsung satu jam yang lalu. Jadi, tiada alasan lagi. Hokuto kini mengantarkan Rein selamat ke rumahnya sendiri. Dengan dihujani berbagai pertanyaan dari kembaran Rein, ia harus mengatakan semua itu.&#xA;&#xA;   &#34;Kak, sudahlah. Fauraza tadinya juga memaksaku, jangan memaksa dia untuk mengobrol panjang lagi. Dia sekarang tampak lelah.&#34;&#xA;&#xA;   Rain; kembarannya, sekarang menatap Rein dengan tanda tanya besar. Mengapa ia perlu menghentikan pembicaraan? Pikirnya.&#xA;&#xA;   Hanya saja ia urungkan, setelah mengingat kembali perkataan sebelumnya, yang membahas pekerjaan. Alhasil, ia membatalkan pertanyaan panjang itu.&#xA;&#xA;   &#34;Terkadang, dirimu itu harus lebih tegas, Rein. Meskipun status Fau-san itu lebih tinggi dari kita, setidaknya ia tahu batasan memaksa itu seperti apa. Ah, sudahlah.&#34;&#xA;&#xA;   Rain mengusap kasar wajahnya. Ia kemudian menatap Hokuto disana, seolah tahu pembahasan selanjutnya. Dia tak sengaja mendengar pembahasan antara Hizafa bersaudara di hadapannya sekarang.&#xA;&#xA;   &#34;Omong-omong, apa kau ingin menginap disini atau ingin pulang? Ya, mungkin aku tidak akan menyiapkan lebih, karena fasilitas di rumah ini sangat terbatas.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Kakak, jangan bertindak begitu.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ah, ... iya. Aku pulang saja—&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Hoku, tidak apa-apa. Ini sudah larut, jangan paksakan dirimu. Bicara saja kepada orang tuamu, kalau dirimu akan menginap. Tetapi, maaf kalau nanti akan tidur dilantai.&#34;&#xA;&#xA;   Rein dengan segera mengatakan hal tersebut tanpa pikir panjang.&#xA;&#xA;   &#34;Apa? Aku cukup yakin, saat ini aku sedang bersama Rein, tetapi ... sudahlah. Aku tidak akan mengoceh lagi. Anggap saja rumah sendiri.&#34;&#xA;&#xA;   Rain lekas meninggalkan keduanya. Murung, itulah air muka yang dipergunakan oleh Rein. Ia tahu batasannya. Ia sangat mengerti, kalau saat ini dia sedang panik sampai-sampai tak bisa berpikir jernih seperti kakaknya. Ah, lagi-lagi Rein iri dengan kakaknya.&#xA;&#xA;   Hokuto mengalihkan pandangannya sesaat mendapatkan panggilan dari seseorang. Oh, ternyata itu adalah Ayahnya, Hidaka Seiya. Wajar saja, seorang Ayah sangat cemas apabila anak semata wayangnya ini belumlah pulang.&#xA;&#xA;   Hokuto mulai mengangkatnya, dia bukanlah orang yang akan membiarkan panggilan tersebut didiamkan saja.&#xA;&#xA;  &#34;Hocchan! Kenapa belum pulang? Apakah ada sesuatu yang harus dikerjakan hingga larut malam seperti ini?&#34;&#xA;&#xA;   Pertanyaan beruntun dari sang Ayah. Dengan ragu-ragu ia akan menjawabnya, tetapi Rein sekarang menyadari dirinya bahwa ia akan mengungkapkan sesuatu. Hokuto sedikit ragu dengan hal ini. Tetapi ia mulai memberikannya kepada Rein.&#xA;&#xA;  &#34;Maafkan saya sebelumnya, Pak. Saat ini saya yang berbicara adalah Hizafa Rein, mungkin terdengar asing. Tetapi saya meminta izin dahulu, kalau anak Bapak akan menginap di rumah saya.&#34;&#xA;&#xA;   Rein menjeda sesaat dan kembali melanjutkannya.&#xA;&#xA;  &#34;Soalnya, Hokuto juga sudah kelihatan lelah. Saya tidak enak memaksakan dirinya untuk pulang, apalagi Bapak harus menjemput dirinya. Tadinya dia mengantarkan saya, karena sudah larut dan juga sedang terjadi hujan.&#34;&#xA;&#xA;   Terdengar kalimat ragu dari sudut pandang Hokuto, tetapi Rein mengatakan hal jujur.&#xA;&#xA;  &#34;Tentu saja, Kakak saya bersedia. Mungkin besok pagi, Hokuto akan kembali beraktivitas seperti biasanya kalau dia tidak merasakan rasa lelah.&#34;&#xA;&#xA;   Belum ada jawaban. Ayahnya Hokuto mungkin kaget, ketika seseorang laki-laki yang akan dihubunginya malah seseorang perempuan menjawabnya. Sampai akhirnya,&#xA;&#xA;  &#34;Baiklah, kalau Nak Rein berkata demikian. Terima kasih sudah menjaga anak Bapak. Titip salam ya, untuk Hocchan.&#34;&#xA;&#xA;   Ya. Seharusnya itu respons yang postif.&#xA;&#xA;   &#34;Ayahmu, titip salam. Lalu, untuk tidur. Apa Hoku bisa tidur di lantai? Disana ada karpet, mungkin akan melindungi dari dingin, setidaknya. Kalau di kursi yang ada bahu dan kaki akan terasa pegal juga akan merasa sakit. Disana juga sudah terdapat selimut maupun bantal. Biasanya kami mengenakan itu, ketika masih merasakan hawa dingin dipagi hari.&#34;&#xA;&#xA;   Rein yang biasa menjelaskan seadaanya, kini berkata sangat panjang. Hal tersebut cukup diluar dugaan Hokuto. Ia mengira, Rein tidak akan berkata sepanjang itu. Sepertinya ia salah.&#xA;&#xA;   Seolah apa yang dilihatnya saat ini bukanlah Rein. Terasa seperti déjà vu atau mungkin tidak? Entahlah.&#xA;&#xA;   &#34;Tidak apa-apa, itu sudah sangat cukup. Terima kasih, Rein.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Hokuto bangun lebih awal. Ia tak ingin merepotkan Rein beserta Kakaknya itu. Terlebih, dia sepertinya enggan berhadapan dengan Rain untuk sekarang. Tidak menghiraukan apakah ia dengan benar istirahatnya, atau tidak.&#xA;&#xA;   Hanya saja, ternyata Rein lebih bangun lebih awal. Hokuto awalnya sedikit heran dari ekspresinya seolah meminta Rein menjelaskan, mengapa dirinya bisa terbangun malam seperti itu.&#xA;&#xA;   Rein hanya berkata, &#34;Ah ... Entahlah. Itu sudah menjadi kebiasaan,&#34; sahutnya.&#xA;&#xA;   &#34;Itu cukup buruk untuk kesehatan.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Aku tahu. Tidak perlu diingatkan,&#34; desis Rein. Ia tak mau ada seseorang membahas tentang kesehatan. Apalagi ia merupakan orang yang sangat tidak bisa berhadapan dengan kesehatan itu pula.&#xA;&#xA;   Ya, kisahnya Rein tidak pernah memperhatikan kesehatannya sendiri, itulah salah satu dari berbagai alasan yang dipunya.&#xA;&#xA;   Keduanya kembali canggung. Hokuto mengambil kegiatan untuk mengemasi barang yang akan dibawa, untuk kembali pulang ke rumah miliknya.&#xA;&#xA;   Rein seketika mengatakan sesuatu, yang membuat Hokuto sedikit merasakan kehilangan. Seolah, perkataan Rein itu kembali membuat dirinya menyelami masa lalu di mana ia mengabaikan perkataan Akehoshi Subaru, sebagai salah satu teman satu unitnya.&#xA;&#xA;   &#34;Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari, kalau kita sebetulnya tidak bisa bersama. Akan ada kalanya, netizen mengumbar fakta-fakta yang akan menjatuhkan dikemudian hari. Aku mungkin bisa saja sedih, tetapi teman-temanmu, juga dirimu, Hokuto, pastilah akan lebih sedih.&#34;&#xA;&#xA;   Itu baru awalan. Tetapi sudah kepikiran. Hokuto telah mengucapkan kata pisah untuk Rein, dan lekas kembali ke rumahnya. Padahal, masih saja di jalan tak disangka ada banyak halang rintangan.&#xA;&#xA;   Hokuto menghela napas frustrasi. Tak bisa disangka, Ayahnya kembali menghubungi pagi-pagi buta ini. Mengabarkan telah terjadi suatu berita, tentang Hokuto.&#xA;&#xA;   Apakah benar, hal ini yang dimaksud dari balik perkataan Rein tadi?&#xA;&#xA;   &#34;Kalau saja, kita tidak mengenal satu sama lain. Mungkin saja, Hokuto sekarang sudah sangat sukses. Ya, tentu saja. Meskipun tiada status apapun diantara kita, selain Idola dan penggemar. Sepertinya tidak buruk, kalau hanya sekadar itu saja, bukan?&#34;&#xA;&#xA;   Hokuto sekarang yang tidak bisa berpikir dengan jernih. Ayahnya langsung menjemput dia di lokasi terakhir Hokuto berpijak. Tidak sulit untuk menemukan Hokuto, karena ada sistem yang menunjukkan lokasi. Ya, Ayahnya cukup tertolong berkat hal tersebut.&#xA;&#xA;   Padahal belum lama ini, Ayahnya harus mengurus pekerjaan tour idola lainnya. Tetapi, tak disangka akan ada kejadian seperti ini pula. Biar bagaimana pun juga, sekarang adalah hari yang tak bisa diungkapkan oleh sekadar tulisan semata.&#xA;&#xA;   Hanya sekadar Idola dan penggemar? Apa itu artinya sebelum terjadi hal tadi ... Lebih dari sekadar?&#xA;&#xA;   Hokuto larut dalam pemikirannya. Ia hanya melamun dalam sepanjang perjalanan.&#xA;&#xA;   To Be Continued.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Hidaka Hokuto × Hizafa Rein.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:HokuRein" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">HokuRein</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>Let&#39;s go back to the past, where we never knew each other.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:EnsembleStars" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">EnsembleStars</span></a> © Happy Elements K.K, David Production. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   Larut malam itu, terjadi rintik-rintik hujan. Sebagai kenalan, ia mengantarkan seorang wanita, karena disuruh oleh seseorang wanita lainnya.</p>

<p>   Ya, meskipun wanita itu dengan kesan menyuruh-nyuruh, dia tak bisa membiarkan seorang wanita, yang berada di hadapannya kini tuk pulang sendiri.</p>

<p>   Benar saja, dengan alasan menghindari suatu hal yang tak mengenakan. Namun, dia; Hidaka Hokuto, melupakan suatu tanggungjawabnya sebagai Idola.</p>

<p>   Ia tak seharusnya berduaan dengan seseorang dilarut malam bersama dengan wanita. Apalagi zamannya sudah modern, netizen yang melihat bisa saja akan ada berita buruk.</p>

<p>   Ia mengantar Rein, wanita tersebut. Nama panjangnya Hizafa Rein, tetapi lebih akrab disapa sebagai Rein.</p>

<p>   Awalnya, Rein menolak keras, karena dia tinggal di sebuah rumah bersama kakak kembarannya. Ia beralasan tak mau repot-repot harus menjelaskan, mengapa Hokuto harus mengantarnya, pasalnya sang kakak masih bisa menjemput dirinya.</p>

<p>   Ya. Itu akan terjadi kalau Rein, bukanlah seseorang yang susah menerima bantuan. Dia tak mau merepotkan siapapun, selagi dirinya masih mampu tuk melakukan semuanya sendiri.</p>

<p>   Akan tetapi, kejadian tersebut telah berlangsung satu jam yang lalu. Jadi, tiada alasan lagi. Hokuto kini mengantarkan Rein selamat ke rumahnya sendiri. Dengan dihujani berbagai pertanyaan dari kembaran Rein, ia harus mengatakan semua itu.</p>

<p>   “Kak, sudahlah. Fauraza tadinya juga memaksaku, jangan memaksa dia untuk mengobrol panjang lagi. Dia sekarang tampak lelah.”</p>

<p>   Rain; kembarannya, sekarang menatap Rein dengan tanda tanya besar. Mengapa ia perlu menghentikan pembicaraan? Pikirnya.</p>

<p>   Hanya saja ia urungkan, setelah mengingat kembali perkataan sebelumnya, yang membahas pekerjaan. Alhasil, ia membatalkan pertanyaan panjang itu.</p>

<p>   “Terkadang, dirimu itu harus lebih tegas, Rein. Meskipun status Fau-<em>san</em> itu lebih tinggi dari kita, setidaknya ia tahu batasan memaksa itu seperti apa. Ah, sudahlah.”</p>

<p>   Rain mengusap kasar wajahnya. Ia kemudian menatap Hokuto disana, seolah tahu pembahasan selanjutnya. Dia tak sengaja mendengar pembahasan antara Hizafa bersaudara di hadapannya sekarang.</p>

<p>   “Omong-omong, apa kau ingin menginap disini atau ingin pulang? Ya, mungkin aku tidak akan menyiapkan lebih, karena fasilitas di rumah ini sangat terbatas.”</p>

<p>   “Kakak, jangan bertindak begitu.”</p>

<p>   “Ah, ... iya. Aku pulang saja—”</p>

<p>   “Hoku, tidak apa-apa. Ini sudah larut, jangan paksakan dirimu. Bicara saja kepada orang tuamu, kalau dirimu akan menginap. Tetapi, maaf kalau nanti akan tidur dilantai.”</p>

<p>   Rein dengan segera mengatakan hal tersebut tanpa pikir panjang.</p>

<p>   “Apa? Aku cukup yakin, saat ini aku sedang bersama Rein, tetapi ... sudahlah. Aku tidak akan mengoceh lagi. Anggap saja rumah sendiri.”</p>

<p>   Rain lekas meninggalkan keduanya. Murung, itulah air muka yang dipergunakan oleh Rein. Ia tahu batasannya. Ia sangat mengerti, kalau saat ini dia sedang panik sampai-sampai tak bisa berpikir jernih seperti kakaknya. Ah, lagi-lagi Rein iri dengan kakaknya.</p>

<p>   Hokuto mengalihkan pandangannya sesaat mendapatkan panggilan dari seseorang. Oh, ternyata itu adalah Ayahnya, Hidaka Seiya. Wajar saja, seorang Ayah sangat cemas apabila anak semata wayangnya ini belumlah pulang.</p>

<p>   Hokuto mulai mengangkatnya, dia bukanlah orang yang akan membiarkan panggilan tersebut didiamkan saja.</p>

<blockquote><p>   <em>“Hocchan! Kenapa belum pulang? Apakah ada sesuatu yang harus dikerjakan hingga larut malam seperti ini?”</em></p></blockquote>

<p>   Pertanyaan beruntun dari sang Ayah. Dengan ragu-ragu ia akan menjawabnya, tetapi Rein sekarang menyadari dirinya bahwa ia akan mengungkapkan sesuatu. Hokuto sedikit ragu dengan hal ini. Tetapi ia mulai memberikannya kepada Rein.</p>

<blockquote><p>   <em>“Maafkan saya sebelumnya, Pak. Saat ini saya yang berbicara adalah Hizafa Rein, mungkin terdengar asing. Tetapi saya meminta izin dahulu, kalau anak Bapak akan menginap di rumah saya.”</em></p></blockquote>

<p>   Rein menjeda sesaat dan kembali melanjutkannya.</p>

<blockquote><p>   <em>“Soalnya, Hokuto juga sudah kelihatan lelah. Saya tidak enak memaksakan dirinya untuk pulang, apalagi Bapak harus menjemput dirinya. Tadinya dia mengantarkan saya, karena sudah larut dan juga sedang terjadi hujan.”</em></p></blockquote>

<p>   Terdengar kalimat ragu dari sudut pandang Hokuto, tetapi Rein mengatakan hal jujur.</p>

<blockquote><p>   <em>“Tentu saja, Kakak saya bersedia. Mungkin besok pagi, Hokuto akan kembali beraktivitas seperti biasanya kalau dia tidak merasakan rasa lelah.”</em></p></blockquote>

<p>   Belum ada jawaban. Ayahnya Hokuto mungkin kaget, ketika seseorang laki-laki yang akan dihubunginya malah seseorang perempuan menjawabnya. Sampai akhirnya,</p>

<blockquote><p>   <em>“Baiklah, kalau Nak Rein berkata demikian. Terima kasih sudah menjaga anak Bapak. Titip salam ya, untuk Hocchan.”</em></p></blockquote>

<p>   Ya. Seharusnya itu respons yang postif.</p>

<p>   “Ayahmu, titip salam. Lalu, untuk tidur. Apa Hoku bisa tidur di lantai? Disana ada karpet, mungkin akan melindungi dari dingin, setidaknya. Kalau di kursi yang ada bahu dan kaki akan terasa pegal juga akan merasa sakit. Disana juga sudah terdapat selimut maupun bantal. Biasanya kami mengenakan itu, ketika masih merasakan hawa dingin dipagi hari.”</p>

<p>   Rein yang biasa menjelaskan seadaanya, kini berkata sangat panjang. Hal tersebut cukup diluar dugaan Hokuto. Ia mengira, Rein tidak akan berkata sepanjang itu. Sepertinya ia salah.</p>

<p>   Seolah apa yang dilihatnya saat ini bukanlah Rein. Terasa seperti déjà vu atau mungkin tidak? Entahlah.</p>

<p>   “Tidak apa-apa, itu sudah sangat cukup. Terima kasih, Rein.”</p>

<hr/>

<p>   Hokuto bangun lebih awal. Ia tak ingin merepotkan Rein beserta Kakaknya itu. Terlebih, dia sepertinya enggan berhadapan dengan Rain untuk sekarang. Tidak menghiraukan apakah ia dengan benar istirahatnya, atau tidak.</p>

<p>   Hanya saja, ternyata Rein lebih bangun lebih awal. Hokuto awalnya sedikit heran dari ekspresinya seolah meminta Rein menjelaskan, mengapa dirinya bisa terbangun malam seperti itu.</p>

<p>   Rein hanya berkata, “Ah ... Entahlah. Itu sudah menjadi kebiasaan,” sahutnya.</p>

<p>   “Itu cukup buruk untuk kesehatan.”</p>

<p>   “Aku tahu. Tidak perlu diingatkan,” desis Rein. Ia tak mau ada seseorang membahas tentang kesehatan. Apalagi ia merupakan orang yang sangat tidak bisa berhadapan dengan kesehatan itu pula.</p>

<p>   Ya, kisahnya Rein tidak pernah memperhatikan kesehatannya sendiri, itulah salah satu dari berbagai alasan yang dipunya.</p>

<p>   Keduanya kembali canggung. Hokuto mengambil kegiatan untuk mengemasi barang yang akan dibawa, untuk kembali pulang ke rumah miliknya.</p>

<p>   Rein seketika mengatakan sesuatu, yang membuat Hokuto sedikit merasakan kehilangan. Seolah, perkataan Rein itu kembali membuat dirinya menyelami masa lalu di mana ia mengabaikan perkataan Akehoshi Subaru, sebagai salah satu teman satu unitnya.</p>

<p>   <em>“Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari, kalau kita sebetulnya tidak bisa bersama. Akan ada kalanya, netizen mengumbar fakta-fakta yang akan menjatuhkan dikemudian hari. Aku mungkin bisa saja sedih, tetapi teman-temanmu, juga dirimu, Hokuto, pastilah akan lebih sedih.”</em></p>

<p>   Itu baru awalan. Tetapi sudah kepikiran. Hokuto telah mengucapkan kata pisah untuk Rein, dan lekas kembali ke rumahnya. Padahal, masih saja di jalan tak disangka ada banyak halang rintangan.</p>

<p>   Hokuto menghela napas frustrasi. Tak bisa disangka, Ayahnya kembali menghubungi pagi-pagi buta ini. Mengabarkan telah terjadi suatu berita, tentang Hokuto.</p>

<p>   Apakah benar, hal ini yang dimaksud dari balik perkataan Rein tadi?</p>

<p>   <em>“Kalau saja, kita tidak mengenal satu sama lain. Mungkin saja, Hokuto sekarang sudah sangat sukses. Ya, tentu saja. Meskipun tiada status apapun diantara kita, selain Idola dan penggemar. Sepertinya tidak buruk, kalau hanya sekadar itu saja, bukan?”</em></p>

<p>   Hokuto sekarang yang tidak bisa berpikir dengan jernih. Ayahnya langsung menjemput dia di lokasi terakhir Hokuto berpijak. Tidak sulit untuk menemukan Hokuto, karena ada sistem yang menunjukkan lokasi. Ya, Ayahnya cukup tertolong berkat hal tersebut.</p>

<p>   Padahal belum lama ini, Ayahnya harus mengurus pekerjaan <em>tour</em> idola lainnya. Tetapi, tak disangka akan ada kejadian seperti ini pula. Biar bagaimana pun juga, sekarang adalah hari yang tak bisa diungkapkan oleh sekadar tulisan semata.</p>

<p>   <em>Hanya sekadar Idola dan penggemar? Apa itu artinya sebelum terjadi hal tadi ... Lebih dari sekadar?</em></p>

<p>   Hokuto larut dalam pemikirannya. Ia hanya melamun dalam sepanjang perjalanan.</p>

<p>   <strong>To Be Continued.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/berpisah</guid>
      <pubDate>Sat, 15 Oct 2022 12:36:29 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Lukisan Hidup.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/lukisan-hidup?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Hishida Shunso × Chikei Naoko.&#xA;  #FaureYume; #ShuNao.&#xA;&#xA;   When alive, the painting begins to look alive.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #MeijiTokyoRenka © Broccoli, TMS Entertainment, LOVE&amp;ARTS, MAGES. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Naoko sedari tadi menggerutu. Sudah beberapa kali ia berkata, &#34;Kau tak pernah sadar ya, itu lukisanmu bergerak terus.&#34;&#xA;&#xA;   Sang empu yang mendengar hanya mengabaikan. Mana ada lukisan yang hidup, ia cukup percaya itu. Bisa saja hal tersebut merupakan halusinasi semata?&#xA;&#xA;   Naoko pada akhirnya menjauh dari dia. Ya, memang benar kalau semenjak bertemu ya mereka, Naoko sudah terbiasa untuk menjaga jarak, ketika apapun terjadi.&#xA;&#xA;   Karena, dia sering kali merasakan saat diri berdekatan dengan laki-laki, ada sensasi yang membuat diri terganggu.&#xA;&#xA;   &#34;Dia tidak mengerti,&#34; gumam lelaki tersebut.&#xA;&#xA;   Kembali, laki-laki itu; Hishida Shunso, berkutat dengan lukisan miliknya. Meskipun ada keraguan tuk bisa menyelesaikan secepatnya. Ia akan berusaha.&#xA;&#xA;   &#34;Shunso-san, apa yang terjadi? Mengapa Naoko-san tiba-tiba mengomel seperti itu?&#34;&#xA;&#xA;   Seorang wanita lain datang menghampirinya. &#34;Entahlah, aku saja tidak mengerti pemikiran dirinya.&#34;&#xA;&#xA;   Ayazuki Mei, wanita itu hanya menghela napas. Tidak mendapatkan jawaban yang bagus, seolah dia sia-sia saja bertanya akan hal ini.&#xA;&#xA;   Tetapi, Mei tidak ambil pusing. Ia langsung mengucapkan permisi, setelah itu. Dengan alasan akan menyusul Naoko. Ya, setidaknya padamkan kekesalan Naoko dahulu, pikirnya.&#xA;&#xA;   &#34;Perempuan seperti mereka memang aneh, ya.&#34;&#xA;&#xA;   Shunso berucap demikian. Jujur saja, kalau perkataan Naoko memanglah kenyataan. Ia pernah melukis figur yang benar-benar hidup, namun setelahnya menghilang dan ditemukan oleh Mei yang bisa melihat sesuatu yang lain itu.&#xA;&#xA;   Rasanya, tidak tenang kalau ia perlu memikirkannya kembali. Kehidupan memang akan berjalan sesuai takdirnya. Kalau saja ada yang paham makna lukisannya. Mungkin dia akan bahgia.&#xA;&#xA;   Hanya saja, mungkin tiada orang seperti itu, selain dirinya.&#xA;&#xA;   End.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Hishida Shunso × Chikei Naoko.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:ShuNao" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">ShuNao</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>When alive, the painting begins to look alive.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:MeijiTokyoRenka" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">MeijiTokyoRenka</span></a> © Broccoli, TMS Entertainment, LOVE&amp;ARTS, MAGES. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   Naoko sedari tadi menggerutu. Sudah beberapa kali ia berkata, <em>“Kau tak pernah sadar ya, itu lukisanmu bergerak terus.”</em></p>

<p>   Sang empu yang mendengar hanya mengabaikan. Mana ada lukisan yang hidup, ia cukup percaya itu. Bisa saja hal tersebut merupakan halusinasi semata?</p>

<p>   Naoko pada akhirnya menjauh dari dia. Ya, memang benar kalau semenjak bertemu ya mereka, Naoko sudah terbiasa untuk menjaga jarak, ketika apapun terjadi.</p>

<p>   Karena, dia sering kali merasakan saat diri berdekatan dengan laki-laki, ada sensasi yang membuat diri terganggu.</p>

<p>   “Dia tidak mengerti,” gumam lelaki tersebut.</p>

<p>   Kembali, laki-laki itu; Hishida Shunso, berkutat dengan lukisan miliknya. Meskipun ada keraguan tuk bisa menyelesaikan secepatnya. Ia akan berusaha.</p>

<p>   “Shunso-<em>san</em>, apa yang terjadi? Mengapa Naoko-san tiba-tiba mengomel seperti itu?”</p>

<p>   Seorang wanita lain datang menghampirinya. “Entahlah, aku saja tidak mengerti pemikiran dirinya.”</p>

<p>   Ayazuki Mei, wanita itu hanya menghela napas. Tidak mendapatkan jawaban yang bagus, seolah dia sia-sia saja bertanya akan hal ini.</p>

<p>   Tetapi, Mei tidak ambil pusing. Ia langsung mengucapkan permisi, setelah itu. Dengan alasan akan menyusul Naoko. Ya, setidaknya padamkan kekesalan Naoko dahulu, pikirnya.</p>

<p>   “Perempuan seperti mereka memang aneh, ya.”</p>

<p>   Shunso berucap demikian. Jujur saja, kalau perkataan Naoko memanglah kenyataan. Ia pernah melukis figur yang benar-benar hidup, namun setelahnya menghilang dan ditemukan oleh Mei yang bisa melihat sesuatu yang lain itu.</p>

<p>   Rasanya, tidak tenang kalau ia perlu memikirkannya kembali. Kehidupan memang akan berjalan sesuai takdirnya. Kalau saja ada yang paham makna lukisannya. Mungkin dia akan bahgia.</p>

<p>   <em>Hanya saja, mungkin tiada orang seperti itu, selain dirinya.</em></p>

<p>   <strong>End.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/lukisan-hidup</guid>
      <pubDate>Sat, 15 Oct 2022 05:14:47 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Kejutan Ulang Tahun.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/kejutan-ulang-tahun?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Toraishi Izumi × Hizamara Fauraza.&#xA;  #FaureYume; #IzuRaza.&#xA;&#xA;   Is it necessary to switch to another?&#xA;        written by @geminiintegra (Ayudia/Akari).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #StarMyu © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   &#34;Huh!&#34; Fauraza berjalan kesal ke arah asrama, entah kenapa yang terjadi tadi membuat dirinya kesal.&#xA;  &#xA;---&#xA;&#xA;   Fauraza berjalan santai di kota dengan senyum bahagia yang merekah diwajahnya. Tentu, besok adalah hari yang sangat spesial untuknya, dan Fauraza beharap akan ada hal spesial yang menantinya.&#xA;   &#xA;   Ditengah keramaian Fauraza melihat seseorang yang sangat familiar baginya. Itu adalah seorang lelaki bersurai hitam dengan warna merah dibeberapa bagian. Ia rupanya berjalan dengan wanita cantik bersurai coklat. Akibat, rasa penasaran Fauraza pun mengikuti mereka berdua.&#xA;&#xA;   Toraishi Izumi merupakan lelaki yang diikuti oleh Fauraza, kini berjalan ke arah toko aksesoris. Fauraza mengintip dari luar, dilihatnya bahwa Izumi sedang memilihkan beberapa aksesoris bersama gadis bersurai coklat itu.&#xA;&#xA;   Sesekali mereka tertawa bersama. Izumi memakaikan kalung pada gadis itu. Kemudian membelai lembut pipinya, Izumi mendekatkan wajahnya pada sang gadis kemudian ....&#xA;&#xA;   &#39;Brak!&#39;&#xA;&#xA;   Fauraza tanpa sengaja menjatuhkan vas bunga yang ada disana hingga pecah dan membuat sang pemilik toko tergesa gesa melihat keluar.&#xA;&#xA;   &#34;Bagaimana ini?! Vas ini mahal!&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Maafkan saya tuan, saya akan menggantinya.&#34; Fauraza membungkukkan badannya, kemudian memberikan sedikit uang kepada sang pemilik. Bersyukur saat itu ia membawa uang lebih, kalau tidak malah lebih sial dirinya.&#xA;&#xA;   &#34;Lain kali kalau jalan hati hati, mata dipakai buat melihat!&#34; Fauraza hanya menanggapinya dengan tersenyum.&#xA;&#xA;   &#39;Mata memang dipakai buat melihat, bukan untuk berjalan.&#39; dalam hati Fauraza merutuki sang penjaga toko, sebisa mungkin menahan kesal. Lagi pula memang kesalahan dia juga.&#xA;&#xA;   Fauraza menoleh sekilas, rupanya Izumi terusik dan ternyata melihat Fauraza. Meski akhirnya tatapan mereka sempat bertemu, langsung saja Fauraza membungkukkan badan sekali lagi pada sang pemilik toko, dan bergegas untuk pergi.&#xA;&#xA;   &#39;Ah, menyebalkan! Kenapa sih, harus ketahuan?&#39;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Fauraza masuk ke kamar dengan kesal. Dia merebahkan dirinya ke kasur dengan kasar kemudian mengeluarkan headphone dan mengerasakan volume-nya. Tidak memperdulikan apa yang akan terjadi nantinya.&#xA;&#xA;   Setidaknya, musik bisa sedikit mengurangi rasa kesalnya untuk saat ini. Akari yang sedang membaca buku di meja belajar miliknya, mengernyit heran saat melihat tingkah Fauraza yang berbeda dari biasanya.&#xA;&#xA;   &#39;Pasti sedang ada masalah.&#39; Dengan cepat Akari menggeleng pelan, menyangkal pikirannya dan ingin bertanya langsung pada Fauraza, namun dia urungkan. Dia mengetahui kalau sepertinya saat ini Fauraza butuh watu untuk menenangkan diri. &#xA;     &#xA;   Akari kembali fokus pada buku yang tadi ia baca. Tanpa sengaja Akari menatap kalender  didepannya, netra akari membulat.&#xA;&#xA;   &#39;Ini kan!&#39; Akari menyunggingkan senyum tipis, seketika dia menoleh pada Fauraza yang masih tidak berkutik. Sepertinya dia tertidur? Baiklah, akan ku lakukan.&#39;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Fauraza terbangun dari tidurnya, dia ketiduran. Namun,headphone-nya sudah tidak ada. Fauraza melihat jam, tak terasa sudah menjelang senja. Netranya melihat ke sekeliling dia mencari-cari keberadaan Akari namun tidak ada. Berpikiran, tidak biasanya Akari keluar dijam seperti ini.&#xA;&#xA;   &#34;Mungkin dia sedang ada urusan ....&#34;&#xA;&#xA;   Fauraza merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, kemudian berjalan ke arah jendela.&#xA;&#xA;   Fauraza menatap matahari yang mulai tenggelam dengan tatapan sendu. Pikirannya kembali melayang ketika ia mengingat kejadian tadi pagi.&#xA;&#xA;   &#39;Apakah dia juga tidak ingat? Ah,  sudahlah! Lagipula, aku juga harus membayar perbuatannya.&#39; Fauraza tersenyum miring. Ia sepertinya terpikirkan suatu ide untuk membalas Izumi nanti.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   &#34;Jadi?&#34; Suara itu berasal dari Tengenji. Kini, mereka semua berkumpul disebuah taman. Akari, Ayane, bersama anggota Tim Hiiragi dan Tim Ootori sedang berunding mengenai kejutan yang akan mereka berikan untuk Fauraza, pada hari ulang tahunnya. Benar saja, besok adalah hari ulang tahun Fauraza. Mereka berencana untuk membuat kejutan yang sangat spesial untuk gadis itu.&#xA;&#xA;   &#34;Aku ingin memberinya kejutan yang spesial, yang membuatnya tidak akan melupakan hari ini,&#34; ucap Akari lembut. Izumi tersenyum pahit.&#xA;&#xA;   &#34;Sebenarnya, aku sudah membeli cincin ini untuknya ..., tapi sepertinya akan sulit untuk menemuinya.&#34; Reaksi Izumi sedikit berbeda dari biasa. Akari mengerti, tingkah aneh Fauraza tadi pasti ada hubungannya dengan Izumi.&#xA;&#xA;   &#34;Kamu habis bertengkar dengan Fauraza-chan? Dia terlihat sangat marah tadi,&#34; tanya Akari, memastikan apakah perkiraannya benar atau salah. Izumi menggaruk lehernya yang tidak gatal. Yang benar saja!&#xA;&#xA;   Izumi menatap semua temannya, yang kini menatapnya sedikit mengintimidasi. Sungguh, Izumi merasa seperti tersangka dalam sebuah kasus. Izumi menghela napasnya pelan.&#xA;&#xA;   &#34;Jadi, sebenarnya tadi pagi ...,&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Izumi kini berada di depan taman, ia sedang menunggu seseorang. &#34;Toraishi-kun!&#34; Seorang gadis bersurai coklat panjang berlari mendekati Izumi dengan melambaikan tangannya.&#xA;&#xA;    &#34;Hai, teman lama!&#34; Izumi tersenyum. Gadis itu, melihat penampilan pria dihadapannya kemudian tersenyum meremehkan.&#xA;&#xA;   &#34;Kau tidak jauh berbeda dari dulu ya, Tora. Apakah kau masih suka bergonta ganti pacar? Tetapi, kau masih takut pada ibumu,&#34; ucap gadis itu sedikit menggodanya, Izumi langsung membuang muka.&#xA;&#xA;   &#34;Terserah! Aku memanggilmu kesini untuk menemaniku berbelanja aksesoris. Kau adalah ahlinya, bukan?&#34; Gadis itu tersenyum.&#xA;&#xA;   &#34;Wah~ untuk pacarmu lagi? Sudah berapa hari?&#34; Izumi menatap tajam gadis didepannya. Dari dulu, gadis ini memang tidak pernah menyaring perkataannya saat berbicara, &#34;Dia bukan wanita sembarangan, asal kau tahu. Kali ini aku ingin serius dengannya.&#xA;&#xA;   Dia tertawa puas. &#34;Toraishi Izumi yang aku kenal, sudah besar ternyata.&#34;&#xA;&#xA;   Saat berbelanja disebuah toko, Izumi dan gadis itu memilih milih perhiasan yang kira kira cocok untuk Fauraza, sesekali mereka bercanda dan tertawa. Izumi memasangkan kalung dileher gadis cantik tersebut, tuk melihat apakah nanti akan cocok, jika dipakai untuk Fauraza nantinya.&#xA;&#xA;   &#34;Ekspresi saat kau memakaikan kalung ini pada kekasihmu nanti, coba belai pipinya dengan lembut,&#34; instruksi dari wanita itu. Izumi menggerakkan tangannya untuk membelai pipi gadis dihadapannya.&#xA;&#xA;   &#34;Seperti ini?&#34; tanya Izumi, gadis itu tersenyum, jujur saja ia segera memperagakan. Hanya saja, secara tiba-tiba mata gadis itu terkena debu, &#34;Ah, mataku kemasukan debu.&#34;&#xA; &#xA;   &#34;Biar kutiup.&#34; Izumi mendekatkan wajahnya pada gadis itu untuk meniup matanya yang kemasukan debu, tetapi kala itu pula ia mendengar suara benda jatuh dari luar dan dia melihatnya. Terlihat Fauraza yang sedang berbicara dengan sang pemilik toko.&#xA;&#xA;   &#39;Apa yang dilakukan Fauraza-chan disini?&#39; Mata Izumi dan Fauraza bertemu. Tapi, gadis itu malah menatapnya dengan tatapan tajam, dan berakhir dia pergi.&#xA;&#xA;   &#39;Astaga, ayolah! Jangan bilang dia mengikutiku dan salah paham dengan kejadian tadi ...,&#xA;&#xA;   &#34;Tora, ada apa?&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Gadis itu tadi ..., argh. Kurasa, aku akan sulit untuk menemuinya.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Shu menjitak kepala Izumi keras hingga Izumi mundur kebelakang beberapa langkah. Tunggu ini sedikit déjà vu.&#xA;&#xA;   &#34;Hoi!&#34; Izumi menatap tajam Shu, selaku orang yang telah membuat dahinya berdenyut.&#xA;&#xA;   &#34;Itu balasan untukmu,&#34; cakap Shu tenang. Kaito hanya geleng-geleng kepala melihatnya. &#34;Aku cukup mengenal Fauraza, aku yakin dia tidak akan tinggal diam dengan apa yang telah dilihatnya. Jadi, mungkin saja dia akan membalas perbuatan mu, Toraishi.&#34;&#xA;&#xA;   Izumi begidik ngeri saat dia mulai membayangkannya.&#xA;&#xA;   &#34;Astaga, bisakah kalian hentikan pertikaian tidak penting kalian?!&#34; tegur Ayane membuat semua orang yang ada disana menoleh padanya.&#xA;&#xA;   &#34;Aku menemukan ide, hadiah yang akan kita berikan pada Fauraza-chan.&#34; Ayane tersenyum, ia menatap Izumi dengan tatapan yang tak dapat diartikan, &#34;Kau akan berperan penting dalam misi kali ini Toraishi-san.&#34; Izumi tidak bisa mencerna apa yang akan dilakukan oleh Ayane saat ini. Berharap saja kalau bukan hal macam-macam.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Fauraza baru saja selesai mandi, hari sudah hampir malam. Cuma di kamarnya masih terasa cukup sepi. Dia merebahkan dirinya di atas kasur dengan bermain ponsel miliknya. Disana tertera tanggal yang menunjukkan bahwa besok ia berulang tahun.&#xA;&#xA;   &#39;Agak sedih sebenarnya.&#39; Fauraza mengecek aplikasi chat miliknya, melihat ucapan selamat ulang tahun dari teman temannya tahun lalu.&#xA;&#xA;   &#34;Selamat ulang tahun, Fauraza! Semoga kamu menemukan masa depan yang indah untukmu.&#34; Salah satu chat dari teman masa lalu Fauraza membuatnya sedikit tersenyum.&#xA;&#xA;   &#34;Selamat ulang tahun ya, Fauraza-chan, aku mendoakan yang terbaik untukmu.&#34; Ucapan teman-temannya waktu itu, juga terus terngiang di telinga Fauraza.&#xA;&#xA;   &#34;Tahun depan, aku akan memberikan hadiah yang sangat spesial Fauraza-chan, pasti!&#34; Ucapan Izumi waktu itu juga terngiang ngiang dikepalanya, Fauraza tersenyum. &#34;Dasar, menyebalkan.&#34;&#xA;&#xA;   Fauraza mendengar suara ketukan pintu, ia menoleh dan mendapati Akari yang masuk ke kamar diikuti Ayane di belakangnya.&#xA;        &#xA;   &#34;Fauraza-chan, konbawa~&#34; sapa Akari ramah, diikuti Ayane tersenyum pada Fauraza. &#34;Kalian dari mana?&#34; tanya Fauraza, sejujurnya ia penasaran, mengapa kedua temannya ini bisa pulang sampai larut malam.&#xA;&#xA;   &#34;Kami dari kafe, maaf karena tidak mengajakmu tadi. Melihat kamu tertidur, aku jadi tidak tega untuk membangunkan,&#34; ucap Akari dengan ekspresi bersalah, Fauraza mengambil napas panjang, kemudian mengulas senyum.&#xA;&#xA;   &#34;Tidak masalah, santai saja!&#34; Ayane mendekati Fauraza dengan air muka khawatir, itu membuat Fauraza sedikit bingung.&#xA;  &#xA;   &#34;Fauraza-chan, ada yang ingin kuberitahukan kepadamu,&#34; ucap Ayane, tetapi Akari segera memegang lengan Ayane, dan merubah raut wajahnya menjadi khawatir. &#34;Kau tidak akan memberitahu Fauraza-chan tentang hal ini kan, Ayane-chan?&#34;&#xA;&#xA;   Melihat interaksi mereka yang demikian, semakin membuat dia bingung. &#34;Sudah kewajiban kita untuk memberitahunya, Akari-chan. Aku tidak akan membiarkan hati Fauraza-chan dipermainkan!&#34; ucap Ayane tegas. Dipermainkan, apa maksudnya?&#xA;&#xA;   &#34;Hei. Apa maksud kalian? Aku tidak mengerti.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Toraishi ..., dia ....&#34; Ayane menggantung ucapannya, hal ini membuat Fauraza gemas karena penasaran.&#xA;&#xA;   &#34;Ada apa Ayane? Izumi kenapa?&#34; Ayane menghembuskan nafasnya pelan, &#34;Toraishi ..., dia akan bertunangan.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Oh?&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   &#34;Aku pulang dulu ya, Akari, Fauraza.&#34; Ayane berpamitan pada Akari dan Fauraza. Akari mengangguk sambil tersenyum.&#xA;&#xA;   &#34;Kamu harus kuat! Kami, disini ada buat dukung kamu,&#34; ucap Ayane menyemangati Fauraza, Fauraza tersenyum tipis dan mengangguk.&#xA;&#xA;   &#34;Giliranmu.&#34; Akari mengangguk paham. Ayane membalikkan badan kemudian melambaikan tangannya.&#xA;  &#xA;   Fauraza menatap punggung Ayane, hatinya sedikit hancur. Sebetulnya, ia sedikit senang juga. Hanya saja, bukan hal ini yang dia inginkan saat hari ulang tahunnya. Akari menggenggam tangan Fauraza kemudian membawanya masuk kedalam. &#xA;       &#xA;   &#34;Fauraza-chan,&#34; Akari memanggil Fauraza pelan. Fauraza hanya menundukkan kepalanya ia bahkan tidak menatap Akari. Sungguh melihat sahabatnya seperti itu meski Akari tidak tega, namun ini adalah rencana mereka semua maka dari itu, ia perlu harus bisa melawan perasaannya sendiri. &#xA;&#xA;   &#34;Tidak apa-apa, mungkin semua ini adalah jalan yang dipilihkan Tuhan untukmu,&#34; ucap Akari lembut, Fauraza tetap menunduk. Akari memeluk Fauraza, gadis itu menangis dalam diam.&#xA;&#xA;   Seolah, baru sekarang ini Akari bisa tahu Fauraza adalah seseorang yang bisa rapuh kapanpun, bagaimanapun dia tetaplah seorang wanita, sungguh Akari merasa sudah keterlaluan memainkan perasaan Fauraza.&#xA;&#xA;   &#34;Menangislah, tidak perlu ditahan, keluarkan semua yang mengganjal dihatimu.&#34; Akari mengusap lembut punggung Fauraza.&#xA;&#xA;   &#34;Akari,&#34; Fauraza memang sedih. Tapi, ia bingung sekali, untuk sekarang harus menangis seperti apa. Menangis terharu atau menangis kecewa? &#34;Kami semua ada disini bersamamu Fauraza-chan, kamu tidak sendiri.&#34;&#xA;&#xA;   &#39;Maafkan aku, Fauraza-chan.&#39;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Izumi berdiri didepan cermin, ia melihat penampilannya sendiri yang memakai jas berwarna hitam dan rapi dengan rambut yang ditata. Sehingga, ia jauh berbeda dari penampilannya sebelumnya. Wanita dibelakangnya cukup puas ketika melihatnya, &#34;Sangat memuaskan!&#34;&#xA;&#xA;   Gadis itu mengacungkan kedua jari jempol, Izumi hanya memalingkan wajah. Ia tidak yakin dengan rencana ini, dan takut melukai perasaan Fauraza. Bagaimana kalau rencananya malah gagal, dan Fauraza membencinya? Ah, ini cukup membuatnya pusing saja.&#xA;&#xA;   &#34;Hei tenanglah, percayakan saja pada teman temanmu.&#34; Izumi menghembuskan nafasnya pelan.&#xA;&#xA;   &#34;Ya, hanya itu yang bisa kulakukan, terima kasih Mio-chan.&#34; Gadis yang dipanggil Mio itu tersenyum dan mengangguk. &#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Fauraza duduk diranjang ditemani Akari disampingnya. &#34;Um, Akari. Apakah diriku, akan baik-baik saja dengan ini?&#34; Dia menganggukinya, seraya mengingat kejadian tadi malam.&#xA;      &#xA;   &#34;Huh, apa? Kau yakin tidak berbohong kepadaku.&#34; Sejujurnya ia tidak percaya, tetapi ketika ia diberikan bukti undangan oleh Ayane, sedetik kemudian dia terdiam. Meneliti jelas, kalau tidak ada nama Izumi disana.&#xA;&#xA;   Rupanya, acara tersebut malah tepat pada hari ulang tahunnya. Kejadian yang tidak sedikit memberikannya restu, malah memberikan banyak ujian. &#34;Izumi mengharapkanmu datang,&#34; ucap Ayane.&#xA;&#xA;   &#34;Tetapi, terserah padamu juga, apakah dirimu ingin datang atau tidak.&#34; Menahan dan menahan, ia menggumamkan sesuatu, &#34;Bakazumi, kenapa dia tidak memberitahuku apapun ...?&#34; Rupanya didengar oleh Akari.&#xA;&#xA;---&#xA; &#xA;   &#34;Semua sudah siap?&#34; tanya Yuta. Hari ini adalah hari pertunangan Izumi, rencananya memang bohongan. Sekaligus merupakan ulang tahun Fauraza. Waktu saat ini, sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan acara akan di mulai pukul delapan nanti.&#xA;&#xA;   &#34;Kau cukup tampan untuk ukuran orang biasa,&#34; ucap Tengenji, Izumi tidak menjawab. &#xA;&#xA;   &#34;Lihatlah, banyak sekali wanita yang melihatmu. Apakah sebaiknya kau menikah dengan salah satu dari mereka saja?&#34; ucap Shu, membuat Izumi menatap dia tajam.&#xA;    &#xA;   &#34;Halo kalian!&#34; Ayane tiba tiba datang.&#xA;&#xA;   &#34;Apa Akari dan Fauraza sudah datang?&#34; tanya Ayane, semua menggeleng. &#34;Aku bahkan tidak yakin Fauraza-chan ingin datang,&#34; ucap Izumi pelan.&#xA;&#xA;   &#34;Tenanglah, aku percaya pada Akari-chan.&#34;  &#xA;&#xA;   &#34;Kau siap Fauraza-chan?&#34; ucap Akari lembut. Segera, Akari dan Fauraza masuk kedalam mobil.&#xA;&#xA;   &#34;Kamu yakin dengan keputusan ini, Fauraza-chan?&#34; tanya Akari, Fauraza mengangguk.&#xA;&#xA;   &#34;Tentu saja, untuk apa aku terpuruk selamanya?&#34; Akari tersenyum dan mengangguk. &#xA;&#xA;   Saat itu, ponsel Akari berbunyi, ia mendapati nama Tatsumi Rui di sana. Akari segera mengangkatnya &#34;Ya, Rui-kun?&#34; Akari memulai, suara Rui terdengar dari sana, Akari tersenyum kemudian mengangguk. &#34;Aku akan segera sampai, um, ya, akan kuusahakan.&#34; Fauraza memandang Akari, &#34;Ada apa?&#34; Akari hanya tersenyum, &#34;Tidak apa-apa.&#34;&#xA;&#xA;   Mereka kini telah sampai di sebuah gedung, gedung itu cukup megah. Banyak sekali orang yang berdatangan dan mereka semua berpakaian sangat elegan. Kaki Fauraza sangat sulit digerakkan seakan menolak untuk masuk, Akari yang mengetahui raut khawatir Fauraza menggandeng tangannya, dan membawa Fauraza masuk kedalam.&#xA;&#xA;   Terdapat banyak orang disambut oleh Rui dan Shu, Akari mendekati Rui dan tersenyum manis dihadapannya begitupula Rui. Ah, sedikit melupakan fakta, kalau keduanya adalah sepasang kekasih. Fauraza hanya tersenyum pada yang lain. &#34;Tidak perlu dipikirkan,&#34; ucap Shu disana.&#xA;&#xA;   Fauraza melihat seorang gadis yang terlihat cukup cantik. Astaga, apakah sekarang ia merasa iri dengannya? Fauraza menggelengkan kepalanya. Tentu saja, Izumi lebih memilih gadis tersebut daripada dirinya, dia jauh lebih cantik daripada Fauraza. Fauraza juga melihat Izumi disana.&#xA;&#xA;   &#34;Hai Izumi,&#34; sapa Fauraza, Izumi menoleh, dia semula terkejut namun kembali seperti biasa. &#34;Hai Fauraza-chan,&#34; sapa Izumi balik. Fauraza tidak begitu heran, namun suasana canggung ini cukup memusingkan dirinya.&#xA;&#xA;   &#34;Selamat ya, tidak kusangka kau telah bertunangan. Lalu, kenapa tidak memberitahuku? Aku kan bisa ikut merayakan atau mungkin memberikan hadiah.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ah, maaf. Sebenarnya aku ingin mengatakan diwaktu yang tepat, tetapi ....&#34;  Izumi menggaruk lehernya yang tidak gatal. Fauraza tidak tahan. Ia mengambil langkah untuk keluar dari gedung itu.&#xA;&#xA;   &#34;Dia akan baik-baik saja?&#34; tanya Izumi pada Shu. &#34;Jika, dia tidak baik-baik saja, kau yang akan kuhajar.&#34; Shu menyahut.&#xA;&#xA;   &#34;Ehh ...,&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Fauraza termenung di area taman. Mungkin, sekarang acara pertunangannya sudah dimulai. Hari ulang tahun paling buruk yang pernah dialami Fauraza. Tiada orang yang mengucapkan tentang ulang tahunnya. Uh, apakah ia terlalu berharap sekarang?&#xA;&#xA;   &#34;Fauraza-chan!&#34; Suara yang tidak asing. Izumi? Fauraza menoleh mendapati laki laki itu dengan teman yang lain, bersama seorang wanita cantik dan laki-laki disampingnya yang tidak dikenali Fauraza.&#xA;&#xA;   &#34;Kenapa kalian kesini menyusulku? Bukankah acara pertunangannya akan dimulai? Aku hanya mencari udara malam disini.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Pertunangannya sudah selesai.&#34;&#xA;&#xA;   Sekarang Fauraza berdiri dari tempatnya dan tersenyum, &#34;Wah, selamat ya!&#34; ucap Fauraza. Wanita itu malah mendekati Fauraza, &#34;Pertunanganku dengan pria itu sudah selesai.&#34; Wanita itu menunjuk laki laki disampingnya, mirip seperti Rui.&#xA;&#xA;   &#34;Perkenalkan, namaku Masahiko Mio, dan di tunanganku Hans Fansisco.&#34; Fauraza tidak langsung mengerti, kalau sepertinya ia telah bersedih atas kebohongan teman-temannya. Bahkan, reaksi Izumi secara mendadak memeluknya.&#xA;&#xA;   &#34;Selamat ulang tahun, Fauraza.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ugh, teganya kalian! Air mataku sia-sia saja, akhirnya,&#34; ucap Fauraza sarkas.&#xA;&#xA;   &#34;Maaf,&#34; Izumi memakaikan sebuah cincin yang telah dibelinya bersama Mio kemarin, dijari manis Fauraza, dan gadis itu tersenyum. Ketika lengah, ia menginjak kaki Izumi dengan sangat keras hingga membuat sang empunya kaki mengaduh kesakitan.&#xA;&#xA;   &#34;Oh, itu balasan dariku karna perbuatanmu, kau masih harus membayar yang lainnya.&#34; Fauraza berkata.&#xA;&#xA;   &#34;Namun, terima kasih juga, sebab kalian masih ingat hari ulang tahunku,&#34; Fauraza tersenyum tulus.&#xA;&#xA;   Ia menatap teman temannya yang lain dengan senyuman licik dan tatapan tajam, &#34;Tunggu pembalasan dariku kalian semua,&#34; Fauraza mengatakan. Apapun itu, sepertinya Fauraza sedang memikirkan balasan yang setimpal untuk perbuatan mereka.&#xA;&#xA;   &#39;Ya, sudah aku duga. Hari ulang tahun yang cukup berkesan.&#39; Fauraza terkadang memikirkan, kalau bisa saja dikemudian hari. Kalau dia dengan Izumi bisa saja tidak memiliki hubungan yang pasti.&#xA;&#xA;   End.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;  Note!&#xA;  Writing by Ayudia/Akari.&#xA;  @geminiintegra on Wattpad.&#xA;&#xA;  Kaneko Ayane belongs to Jiro.&#xA;  Hayashi Akari, Masahiko Mio, Hans Fansisco belongs to Ayudia/Akari.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Toraishi Izumi × Hizamara Fauraza.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:IzuRaza" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">IzuRaza</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>Is it necessary to switch to another?</em>
        <em>written by <a href="https://www.wattpad.com/user/gemini_integra" rel="nofollow">@gemini_integra</a> (Ayudia/Akari).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:StarMyu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">StarMyu</span></a> © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   “Huh!” Fauraza berjalan kesal ke arah asrama, entah kenapa yang terjadi tadi membuat dirinya kesal.</p>

<hr/>

<p>   <em>Fauraza berjalan santai di kota dengan senyum bahagia yang merekah diwajahnya. Tentu, besok adalah hari yang sangat spesial untuknya, dan Fauraza beharap akan ada hal spesial yang menantinya.</em></p>

<p>   <em>Ditengah keramaian Fauraza melihat seseorang yang sangat familiar baginya. Itu adalah seorang lelaki bersurai hitam dengan warna merah dibeberapa bagian. Ia rupanya berjalan dengan wanita cantik bersurai coklat. Akibat, rasa penasaran Fauraza pun mengikuti mereka berdua.</em></p>

<p>   <em>Toraishi Izumi merupakan lelaki yang diikuti oleh Fauraza, kini berjalan ke arah toko aksesoris. Fauraza mengintip dari luar, dilihatnya bahwa Izumi sedang memilihkan beberapa aksesoris bersama gadis bersurai coklat itu.</em></p>

<p>   <em>Sesekali mereka tertawa bersama. Izumi memakaikan kalung pada gadis itu. Kemudian membelai lembut pipinya, Izumi mendekatkan wajahnya pada sang gadis kemudian ....</em></p>

<p>   <em>&#39;Brak!&#39;</em></p>

<p>   <em>Fauraza tanpa sengaja menjatuhkan vas bunga yang ada disana hingga pecah dan membuat sang pemilik toko tergesa gesa melihat keluar.</em></p>

<p>   <em>“Bagaimana ini?! Vas ini mahal!”</em></p>

<p>   <em>“Maafkan saya tuan, saya akan menggantinya.” Fauraza membungkukkan badannya, kemudian memberikan sedikit uang kepada sang pemilik. Bersyukur saat itu ia membawa uang lebih, kalau tidak malah lebih sial dirinya.</em></p>

<p>   <em>“Lain kali kalau jalan hati hati, mata dipakai buat melihat!” Fauraza hanya menanggapinya dengan tersenyum.</em></p>

<p>   <em>&#39;Mata memang dipakai buat melihat, bukan untuk berjalan.&#39; dalam hati Fauraza merutuki sang penjaga toko, sebisa mungkin menahan kesal. Lagi pula memang kesalahan dia juga.</em></p>

<p>   <em>Fauraza menoleh sekilas, rupanya Izumi terusik dan ternyata melihat Fauraza. Meski akhirnya tatapan mereka sempat bertemu, langsung saja Fauraza membungkukkan badan sekali lagi pada sang pemilik toko, dan bergegas untuk pergi.</em></p>

<p>   <em>&#39;Ah, menyebalkan! Kenapa sih, harus ketahuan?&#39;</em></p>

<hr/>

<p>   Fauraza masuk ke kamar dengan kesal. Dia merebahkan dirinya ke kasur dengan kasar kemudian mengeluarkan headphone dan mengerasakan <em>volume</em>-nya. Tidak memperdulikan apa yang akan terjadi nantinya.</p>

<p>   Setidaknya, musik bisa sedikit mengurangi rasa kesalnya untuk saat ini. Akari yang sedang membaca buku di meja belajar miliknya, mengernyit heran saat melihat tingkah Fauraza yang berbeda dari biasanya.</p>

<p>   <em>&#39;Pasti sedang ada masalah.&#39;</em> Dengan cepat Akari menggeleng pelan, menyangkal pikirannya dan ingin bertanya langsung pada Fauraza, namun dia urungkan. Dia mengetahui kalau sepertinya saat ini Fauraza butuh watu untuk menenangkan diri.</p>

<p>   Akari kembali fokus pada buku yang tadi ia baca. Tanpa sengaja Akari menatap kalender  didepannya, netra akari membulat.</p>

<p>   <em>&#39;Ini kan!&#39;</em> Akari menyunggingkan senyum tipis, seketika dia menoleh pada Fauraza yang masih tidak berkutik. <em>Sepertinya dia tertidur? Baiklah, akan ku lakukan.&#39;</em></p>

<hr/>

<p>   Fauraza terbangun dari tidurnya, dia ketiduran. Namun,<em>headphone</em>-nya sudah tidak ada. Fauraza melihat jam, tak terasa sudah menjelang senja. Netranya melihat ke sekeliling dia mencari-cari keberadaan Akari namun tidak ada. Berpikiran, tidak biasanya Akari keluar dijam seperti ini.</p>

<p>   “Mungkin dia sedang ada urusan ....”</p>

<p>   Fauraza merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, kemudian berjalan ke arah jendela.</p>

<p>   Fauraza menatap matahari yang mulai tenggelam dengan tatapan sendu. Pikirannya kembali melayang ketika ia mengingat kejadian tadi pagi.</p>

<p>   <em>&#39;Apakah dia juga tidak ingat? Ah,  sudahlah! Lagipula, aku juga harus membayar perbuatannya.&#39;</em> Fauraza tersenyum miring. Ia sepertinya terpikirkan suatu ide untuk membalas Izumi nanti.</p>

<hr/>

<p>   “Jadi?” Suara itu berasal dari Tengenji. Kini, mereka semua berkumpul disebuah taman. Akari, Ayane, bersama anggota Tim Hiiragi dan Tim Ootori sedang berunding mengenai kejutan yang akan mereka berikan untuk Fauraza, pada hari ulang tahunnya. Benar saja, besok adalah hari ulang tahun Fauraza. Mereka berencana untuk membuat kejutan yang sangat spesial untuk gadis itu.</p>

<p>   “Aku ingin memberinya kejutan yang spesial, yang membuatnya tidak akan melupakan hari ini,” ucap Akari lembut. Izumi tersenyum pahit.</p>

<p>   “Sebenarnya, aku sudah membeli cincin ini untuknya ..., tapi sepertinya akan sulit untuk menemuinya.” Reaksi Izumi sedikit berbeda dari biasa. Akari mengerti, tingkah aneh Fauraza tadi pasti ada hubungannya dengan Izumi.</p>

<p>   “Kamu habis bertengkar dengan Fauraza-<em>chan</em>? Dia terlihat sangat marah tadi,” tanya Akari, memastikan apakah perkiraannya benar atau salah. Izumi menggaruk lehernya yang tidak gatal. Yang benar saja!</p>

<p>   Izumi menatap semua temannya, yang kini menatapnya sedikit mengintimidasi. Sungguh, Izumi merasa seperti tersangka dalam sebuah kasus. Izumi menghela napasnya pelan.</p>

<p>   “Jadi, sebenarnya tadi pagi ...,”</p>

<hr/>

<p>   <em>Izumi kini berada di depan taman, ia sedang menunggu seseorang. “Toraishi-kun!” Seorang gadis bersurai coklat panjang berlari mendekati Izumi dengan melambaikan tangannya.</em></p>

<p>    <em>“Hai, teman lama!” Izumi tersenyum. Gadis itu, melihat penampilan pria dihadapannya kemudian tersenyum meremehkan.</em></p>

<p>   <em>“Kau tidak jauh berbeda dari dulu ya, Tora. Apakah kau masih suka bergonta ganti pacar? Tetapi, kau masih takut pada ibumu,” ucap gadis itu sedikit menggodanya, Izumi langsung membuang muka.</em></p>

<p>   <em>“Terserah! Aku memanggilmu kesini untuk menemaniku berbelanja aksesoris. Kau adalah ahlinya, bukan?” Gadis itu tersenyum.</em></p>

<p>   <em>“Wah~ untuk pacarmu lagi? Sudah berapa hari?” Izumi menatap tajam gadis didepannya. Dari dulu, gadis ini memang tidak pernah menyaring perkataannya saat berbicara, “Dia bukan wanita sembarangan, asal kau tahu. Kali ini aku ingin serius dengannya.</em></p>

<p>   <em>Dia tertawa puas. “Toraishi Izumi yang aku kenal, sudah besar ternyata.”</em></p>

<p>   <em>Saat berbelanja disebuah toko, Izumi dan gadis itu memilih milih perhiasan yang kira kira cocok untuk Fauraza, sesekali mereka bercanda dan tertawa. Izumi memasangkan kalung dileher gadis cantik tersebut, tuk melihat apakah nanti akan cocok, jika dipakai untuk Fauraza nantinya.</em></p>

<p>   <em>“Ekspresi saat kau memakaikan kalung ini pada kekasihmu nanti, coba belai pipinya dengan lembut,” instruksi dari wanita itu. Izumi menggerakkan tangannya untuk membelai pipi gadis dihadapannya.</em></p>

<p>   “Seperti ini?” tanya Izumi, gadis itu tersenyum, jujur saja ia segera memperagakan. Hanya saja, secara tiba-tiba mata gadis itu terkena debu, “Ah, mataku kemasukan debu.”</p>

<p>   “Biar kutiup.” Izumi mendekatkan wajahnya pada gadis itu untuk meniup matanya yang kemasukan debu, tetapi kala itu pula ia mendengar suara benda jatuh dari luar dan dia melihatnya. Terlihat Fauraza yang sedang berbicara dengan sang pemilik toko.</p>

<p>   <em>&#39;Apa yang dilakukan Fauraza-chan disini?&#39; Mata Izumi dan Fauraza bertemu. Tapi, gadis itu malah menatapnya dengan tatapan tajam, dan berakhir dia pergi.</em></p>

<p>   <em>&#39;Astaga, ayolah! Jangan bilang dia mengikutiku dan salah paham dengan kejadian tadi ...,</em></p>

<p>   <em>“Tora, ada apa?”</em></p>

<p>   <em>“Gadis itu tadi ..., argh. Kurasa, aku akan sulit untuk menemuinya.”</em></p>

<hr/>

<p>   Shu menjitak kepala Izumi keras hingga Izumi mundur kebelakang beberapa langkah. Tunggu ini sedikit <em>déjà vu.</em></p>

<p>   “Hoi!” Izumi menatap tajam Shu, selaku orang yang telah membuat dahinya berdenyut.</p>

<p>   “Itu balasan untukmu,” cakap Shu tenang. Kaito hanya geleng-geleng kepala melihatnya. “Aku cukup mengenal Fauraza, aku yakin dia tidak akan tinggal diam dengan apa yang telah dilihatnya. Jadi, mungkin saja dia akan membalas perbuatan mu, Toraishi.”</p>

<p>   Izumi begidik ngeri saat dia mulai membayangkannya.</p>

<p>   “Astaga, bisakah kalian hentikan pertikaian tidak penting kalian?!” tegur Ayane membuat semua orang yang ada disana menoleh padanya.</p>

<p>   “Aku menemukan ide, hadiah yang akan kita berikan pada Fauraza-chan.” Ayane tersenyum, ia menatap Izumi dengan tatapan yang tak dapat diartikan, “Kau akan berperan penting dalam misi kali ini Toraishi-<em>san</em>.” Izumi tidak bisa mencerna apa yang akan dilakukan oleh Ayane saat ini. Berharap saja kalau bukan hal macam-macam.</p>

<hr/>

<p>   Fauraza baru saja selesai mandi, hari sudah hampir malam. Cuma di kamarnya masih terasa cukup sepi. Dia merebahkan dirinya di atas kasur dengan bermain ponsel miliknya. Disana tertera tanggal yang menunjukkan bahwa besok ia berulang tahun.</p>

<p>   <em>&#39;Agak sedih sebenarnya.&#39;</em> Fauraza mengecek aplikasi <em>chat</em> miliknya, melihat ucapan selamat ulang tahun dari teman temannya tahun lalu.</p>

<p>   “Selamat ulang tahun, Fauraza! Semoga kamu menemukan masa depan yang indah untukmu.” Salah satu chat dari teman masa lalu Fauraza membuatnya sedikit tersenyum.</p>

<p>   “Selamat ulang tahun ya, Fauraza-<em>chan</em>, aku mendoakan yang terbaik untukmu.” Ucapan teman-temannya waktu itu, juga terus terngiang di telinga Fauraza.</p>

<p>   “Tahun depan, aku akan memberikan hadiah yang sangat spesial Fauraza-<em>chan</em>, pasti!” Ucapan Izumi waktu itu juga terngiang ngiang dikepalanya, Fauraza tersenyum. “Dasar, menyebalkan.”</p>

<p>   Fauraza mendengar suara ketukan pintu, ia menoleh dan mendapati Akari yang masuk ke kamar diikuti Ayane di belakangnya.</p>

<p>   “Fauraza-<em>chan, konbawa~</em>” sapa Akari ramah, diikuti Ayane tersenyum pada Fauraza. “Kalian dari mana?” tanya Fauraza, sejujurnya ia penasaran, mengapa kedua temannya ini bisa pulang sampai larut malam.</p>

<p>   “Kami dari kafe, maaf karena tidak mengajakmu tadi. Melihat kamu tertidur, aku jadi tidak tega untuk membangunkan,” ucap Akari dengan ekspresi bersalah, Fauraza mengambil napas panjang, kemudian mengulas senyum.</p>

<p>   “Tidak masalah, santai saja!” Ayane mendekati Fauraza dengan air muka khawatir, itu membuat Fauraza sedikit bingung.</p>

<p>   “Fauraza-<em>chan</em>, ada yang ingin kuberitahukan kepadamu,” ucap Ayane, tetapi Akari segera memegang lengan Ayane, dan merubah raut wajahnya menjadi khawatir. “Kau tidak akan memberitahu Fauraza-<em>chan</em> tentang hal ini kan, Ayane-<em>chan</em>?”</p>

<p>   Melihat interaksi mereka yang demikian, semakin membuat dia bingung. “Sudah kewajiban kita untuk memberitahunya, Akari-<em>chan</em>. Aku tidak akan membiarkan hati Fauraza-<em>chan</em> dipermainkan!” ucap Ayane tegas. Dipermainkan, apa maksudnya?</p>

<p>   “Hei. Apa maksud kalian? Aku tidak mengerti.”</p>

<p>   “Toraishi ..., dia ....” Ayane menggantung ucapannya, hal ini membuat Fauraza gemas karena penasaran.</p>

<p>   “Ada apa Ayane? Izumi kenapa?” Ayane menghembuskan nafasnya pelan, “Toraishi ..., dia akan bertunangan.”</p>

<p>   “Oh?”</p>

<hr/>

<p>   “Aku pulang dulu ya, Akari, Fauraza.” Ayane berpamitan pada Akari dan Fauraza. Akari mengangguk sambil tersenyum.</p>

<p>   “Kamu harus kuat! Kami, disini ada buat dukung kamu,” ucap Ayane menyemangati Fauraza, Fauraza tersenyum tipis dan mengangguk.</p>

<p>   “Giliranmu.” Akari mengangguk paham. Ayane membalikkan badan kemudian melambaikan tangannya.</p>

<p>   Fauraza menatap punggung Ayane, hatinya sedikit hancur. Sebetulnya, ia sedikit senang juga. Hanya saja, bukan hal ini yang dia inginkan saat hari ulang tahunnya. Akari menggenggam tangan Fauraza kemudian membawanya masuk kedalam.</p>

<p>   “Fauraza-<em>chan</em>,” Akari memanggil Fauraza pelan. Fauraza hanya menundukkan kepalanya ia bahkan tidak menatap Akari. Sungguh melihat sahabatnya seperti itu meski Akari tidak tega, namun ini adalah rencana mereka semua maka dari itu, ia perlu harus bisa melawan perasaannya sendiri.</p>

<p>   “Tidak apa-apa, mungkin semua ini adalah jalan yang dipilihkan Tuhan untukmu,” ucap Akari lembut, Fauraza tetap menunduk. Akari memeluk Fauraza, gadis itu menangis dalam diam.</p>

<p>   Seolah, baru sekarang ini Akari bisa tahu Fauraza adalah seseorang yang bisa rapuh kapanpun, bagaimanapun dia tetaplah seorang wanita, sungguh Akari merasa sudah keterlaluan memainkan perasaan Fauraza.</p>

<p>   “Menangislah, tidak perlu ditahan, keluarkan semua yang mengganjal dihatimu.” Akari mengusap lembut punggung Fauraza.</p>

<p>   “Akari,” Fauraza memang sedih. Tapi, ia bingung sekali, untuk sekarang harus menangis seperti apa. Menangis terharu atau menangis kecewa? “Kami semua ada disini bersamamu Fauraza-chan, kamu tidak sendiri.”</p>

<p>   <em>&#39;Maafkan aku, Fauraza-chan.&#39;</em></p>

<hr/>

<p>   Izumi berdiri didepan cermin, ia melihat penampilannya sendiri yang memakai jas berwarna hitam dan rapi dengan rambut yang ditata. Sehingga, ia jauh berbeda dari penampilannya sebelumnya. Wanita dibelakangnya cukup puas ketika melihatnya, “Sangat memuaskan!”</p>

<p>   Gadis itu mengacungkan kedua jari jempol, Izumi hanya memalingkan wajah. Ia tidak yakin dengan rencana ini, dan takut melukai perasaan Fauraza. Bagaimana kalau rencananya malah gagal, dan Fauraza membencinya? Ah, ini cukup membuatnya pusing saja.</p>

<p>   “Hei tenanglah, percayakan saja pada teman temanmu.” Izumi menghembuskan nafasnya pelan.</p>

<p>   “Ya, hanya itu yang bisa kulakukan, terima kasih Mio-<em>chan</em>.” Gadis yang dipanggil Mio itu tersenyum dan mengangguk.</p>

<hr/>

<p>   Fauraza duduk diranjang ditemani Akari disampingnya. “Um, Akari. Apakah diriku, akan baik-baik saja dengan ini?” Dia menganggukinya, seraya mengingat kejadian tadi malam.</p>

<p>   <em>“Huh, apa? Kau yakin tidak berbohong kepadaku.” Sejujurnya ia tidak percaya, tetapi ketika ia diberikan bukti undangan oleh Ayane, sedetik kemudian dia terdiam. Meneliti jelas, kalau tidak ada nama Izumi disana.</em></p>

<p>   <em>Rupanya, acara tersebut malah tepat pada hari ulang tahunnya. Kejadian yang tidak sedikit memberikannya restu, malah memberikan banyak ujian. “Izumi mengharapkanmu datang,” ucap Ayane.</em></p>

<p>   <em>“Tetapi, terserah padamu juga, apakah dirimu ingin datang atau tidak.” Menahan dan menahan, ia menggumamkan sesuatu, “</em>Bakazumi,* kenapa dia tidak memberitahuku apapun ...?” Rupanya didengar oleh Akari.*</p>

<hr/>

<p>   “Semua sudah siap?” tanya Yuta. Hari ini adalah hari pertunangan Izumi, rencananya memang bohongan. Sekaligus merupakan ulang tahun Fauraza. Waktu saat ini, sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan acara akan di mulai pukul delapan nanti.</p>

<p>   “Kau cukup tampan untuk ukuran orang biasa,” ucap Tengenji, Izumi tidak menjawab.</p>

<p>   “Lihatlah, banyak sekali wanita yang melihatmu. Apakah sebaiknya kau menikah dengan salah satu dari mereka saja?” ucap Shu, membuat Izumi menatap dia tajam.</p>

<p>   “Halo kalian!” Ayane tiba tiba datang.</p>

<p>   “Apa Akari dan Fauraza sudah datang?” tanya Ayane, semua menggeleng. “Aku bahkan tidak yakin Fauraza-<em>chan</em> ingin datang,” ucap Izumi pelan.</p>

<p>   “Tenanglah, aku percaya pada Akari-<em>chan</em>.”</p>

<p>   “Kau siap Fauraza-<em>chan</em>?” ucap Akari lembut. Segera, Akari dan Fauraza masuk kedalam mobil.</p>

<p>   “Kamu yakin dengan keputusan ini, Fauraza-<em>chan</em>?” tanya Akari, Fauraza mengangguk.</p>

<p>   “Tentu saja, untuk apa aku terpuruk selamanya?” Akari tersenyum dan mengangguk.</p>

<p>   Saat itu, ponsel Akari berbunyi, ia mendapati nama Tatsumi Rui di sana. Akari segera mengangkatnya “Ya, Rui-<em>kun</em>?” Akari memulai, suara Rui terdengar dari sana, Akari tersenyum kemudian mengangguk. “Aku akan segera sampai, um, ya, akan kuusahakan.” Fauraza memandang Akari, “Ada apa?” Akari hanya tersenyum, “Tidak apa-apa.”</p>

<p>   Mereka kini telah sampai di sebuah gedung, gedung itu cukup megah. Banyak sekali orang yang berdatangan dan mereka semua berpakaian sangat elegan. Kaki Fauraza sangat sulit digerakkan seakan menolak untuk masuk, Akari yang mengetahui raut khawatir Fauraza menggandeng tangannya, dan membawa Fauraza masuk kedalam.</p>

<p>   Terdapat banyak orang disambut oleh Rui dan Shu, Akari mendekati Rui dan tersenyum manis dihadapannya begitupula Rui. Ah, sedikit melupakan fakta, kalau keduanya adalah sepasang kekasih. Fauraza hanya tersenyum pada yang lain. “Tidak perlu dipikirkan,” ucap Shu disana.</p>

<p>   Fauraza melihat seorang gadis yang terlihat cukup cantik. Astaga, apakah sekarang ia merasa iri dengannya? Fauraza menggelengkan kepalanya. Tentu saja, Izumi lebih memilih gadis tersebut daripada dirinya, dia jauh lebih cantik daripada Fauraza. Fauraza juga melihat Izumi disana.</p>

<p>   “Hai Izumi,” sapa Fauraza, Izumi menoleh, dia semula terkejut namun kembali seperti biasa. “Hai Fauraza-<em>chan</em>,” sapa Izumi balik. Fauraza tidak begitu heran, namun suasana canggung ini cukup memusingkan dirinya.</p>

<p>   “Selamat ya, tidak kusangka kau telah bertunangan. Lalu, kenapa tidak memberitahuku? Aku kan bisa ikut merayakan atau mungkin memberikan hadiah.”</p>

<p>   “Ah, maaf. Sebenarnya aku ingin mengatakan diwaktu yang tepat, tetapi ....”  Izumi menggaruk lehernya yang tidak gatal. Fauraza tidak tahan. Ia mengambil langkah untuk keluar dari gedung itu.</p>

<p>   “Dia akan baik-baik saja?” tanya Izumi pada Shu. “Jika, dia tidak baik-baik saja, kau yang akan kuhajar.” Shu menyahut.</p>

<p>   “Ehh ...,”</p>

<hr/>

<p>   Fauraza termenung di area taman. Mungkin, sekarang acara pertunangannya sudah dimulai. Hari ulang tahun paling buruk yang pernah dialami Fauraza. Tiada orang yang mengucapkan tentang ulang tahunnya. Uh, apakah ia terlalu berharap sekarang?</p>

<p>   “Fauraza-<em>chan</em>!” Suara yang tidak asing. Izumi? Fauraza menoleh mendapati laki laki itu dengan teman yang lain, bersama seorang wanita cantik dan laki-laki disampingnya yang tidak dikenali Fauraza.</p>

<p>   “Kenapa kalian kesini menyusulku? Bukankah acara pertunangannya akan dimulai? Aku hanya mencari udara malam disini.”</p>

<p>   “Pertunangannya sudah selesai.”</p>

<p>   Sekarang Fauraza berdiri dari tempatnya dan tersenyum, “Wah, selamat ya!” ucap Fauraza. Wanita itu malah mendekati Fauraza, “Pertunanganku dengan pria itu sudah selesai.” Wanita itu menunjuk laki laki disampingnya, mirip seperti Rui.</p>

<p>   “Perkenalkan, namaku Masahiko Mio, dan di tunanganku Hans Fansisco.” Fauraza tidak langsung mengerti, kalau sepertinya ia telah bersedih atas kebohongan teman-temannya. Bahkan, reaksi Izumi secara mendadak memeluknya.</p>

<p>   “Selamat ulang tahun, Fauraza.”</p>

<p>   “Ugh, teganya kalian! Air mataku sia-sia saja, akhirnya,” ucap Fauraza sarkas.</p>

<p>   “Maaf,” Izumi memakaikan sebuah cincin yang telah dibelinya bersama Mio kemarin, dijari manis Fauraza, dan gadis itu tersenyum. Ketika lengah, ia menginjak kaki Izumi dengan sangat keras hingga membuat sang empunya kaki mengaduh kesakitan.</p>

<p>   “Oh, itu balasan dariku karna perbuatanmu, kau masih harus membayar yang lainnya.” Fauraza berkata.</p>

<p>   “Namun, terima kasih juga, sebab kalian masih ingat hari ulang tahunku,” Fauraza tersenyum tulus.</p>

<p>   Ia menatap teman temannya yang lain dengan senyuman licik dan tatapan tajam, “Tunggu pembalasan dariku kalian semua,” Fauraza mengatakan. Apapun itu, sepertinya Fauraza sedang memikirkan balasan yang setimpal untuk perbuatan mereka.</p>

<p>   <em>&#39;Ya, sudah aku duga. Hari ulang tahun yang cukup berkesan.&#39;</em> Fauraza terkadang memikirkan, kalau bisa saja dikemudian hari. Kalau dia dengan Izumi bisa saja tidak memiliki hubungan yang pasti.</p>

<p>   <strong>End.</strong></p>

<hr/>

<blockquote><p>Note!
Writing by Ayudia/Akari.
<a href="https://www.wattpad.com/user/gemini_integra" rel="nofollow">@gemini_integra</a> on Wattpad.</p>

<p>Kaneko Ayane belongs to <a href="https://www.wattpad.com/user/Jiro_Miy" rel="nofollow">Jiro</a>.
Hayashi Akari, Masahiko Mio, Hans Fansisco belongs to <a href="https://www.wattpad.com/user/gemini_integra" rel="nofollow">Ayudia/Akari</a>.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/kejutan-ulang-tahun</guid>
      <pubDate>Sat, 24 Sep 2022 09:42:48 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Puding.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/puding?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Yotsuba Tamaki × Hasegawa Izumi.&#xA;  #FaureYume; #MakiZu.&#xA;&#xA;   Indicates that your attention is on you.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #IDOLiSH7 © Bandai Namco Entertainment Inc., TROYCA. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   &#34;Hah. Sudah aku katakan, padahal. Izurin keras kepala, sih!&#34; tegurnya.&#xA;&#xA;   Benar juga, kesalahan ini adalah karena dirinya sendiri yang tak mau mendengarkan. Meskipun demikian, ia memang suka berkutat terhadap pekerjaan yang seperti itu. &#34;Hm, aku baik-baik saja.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Tidak! Kau tidak terlihat baik-baik saja. Untung saja, aku datang kemari.&#34; Tamaki meralat ucapan Izumi, yang kerap dia panggil sebagai Izurin.&#xA;&#xA;   Izumi tak dapat menjawab, bahkan jika ingin mengatakan maaf saja, diri sudah merasa ragu. Karena dia sedikit paham, kalau intonasi nada bicara Tamaki saat ini sudah mulai berbeda, menandakan dirinya bisa saja sedang kesal.&#xA;&#xA;   Tamaki mulai duduk disamping Izumi yang masih tak berbicara. Lantas, ia menyerahkan sesuatu. &#34;Aku menemukan puding ini, di lemari es. Izurin sangat suka puding, bukan?&#34; sahutnya, seperti mulai kembali seperti sedia kala.&#xA;&#xA;   Ya, setidaknya untuk saat ini. &#34;Mm, iya.&#34; Izumi sedikit heran sejujurnya, biasa Tamaki tidak begitu mau berbagi puding yang menjadi salah satu makanan penutup kesukaannya.&#xA;&#xA;   &#34;Maaf untuk sebelumnya. Lalu, apa tidak apa aku menerimanya?&#34; Dengan hati-hati Izumi bertanya.&#xA;&#xA;   Tidak ada jawaban langsung, melainkan Tamaki yang berpikir dahulu untuk mengatakan sesuatu. &#34;Oh, iya aku perbolehkan. Tapi, ada syaratnya.&#34; Sejenak, perkataan itu mengundang wanita itu menjadi sedikit penasaran.&#xA;&#xA;   &#34;Syaratnya?&#34; Izumi mengulangi tanya dan diangguki oleh Tamaki.&#xA;&#xA;   &#34;Kalau Izurin mau mendengar perkataanku seperti tadi.&#34; Ah, benar saja tebakan Izumi. Walau dengan sedikit ragu dia mulai menyetujuinya.&#xA;&#xA;   &#34;Oke, bagus!&#34; Tamaki mengukir senyum pada wajahnya.&#xA;&#xA;   Izumi juga sudah mendapatkan jatah untuk puding yang dibelinya sendiri, setidaknya. Akhirnya, mereka berdua menikmati puding bersama-sama.&#xA;&#xA;   End.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Yotsuba Tamaki × Hasegawa Izumi.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:MakiZu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">MakiZu</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>Indicates that your attention is on you.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:IDOLiSH7" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">IDOLiSH7</span></a> © Bandai Namco Entertainment Inc., TROYCA. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   “Hah. Sudah aku katakan, padahal. Izurin keras kepala, sih!” tegurnya.</p>

<p>   Benar juga, kesalahan ini adalah karena dirinya sendiri yang tak mau mendengarkan. Meskipun demikian, ia memang suka berkutat terhadap pekerjaan yang seperti itu. “Hm, aku baik-baik saja.”</p>

<p>   “Tidak! Kau tidak terlihat baik-baik saja. Untung saja, aku datang kemari.” Tamaki meralat ucapan Izumi, yang kerap dia panggil sebagai Izurin.</p>

<p>   Izumi tak dapat menjawab, bahkan jika ingin mengatakan maaf saja, diri sudah merasa ragu. Karena dia sedikit paham, kalau intonasi nada bicara Tamaki saat ini sudah mulai berbeda, menandakan dirinya bisa saja sedang kesal.</p>

<p>   Tamaki mulai duduk disamping Izumi yang masih tak berbicara. Lantas, ia menyerahkan sesuatu. “Aku menemukan puding ini, di lemari es. Izurin sangat suka puding, bukan?” sahutnya, seperti mulai kembali seperti sedia kala.</p>

<p>   Ya, setidaknya untuk saat ini. “Mm, iya.” Izumi sedikit heran sejujurnya, biasa Tamaki tidak begitu mau berbagi puding yang menjadi salah satu makanan penutup kesukaannya.</p>

<p>   “Maaf untuk sebelumnya. Lalu, apa tidak apa aku menerimanya?” Dengan hati-hati Izumi bertanya.</p>

<p>   Tidak ada jawaban langsung, melainkan Tamaki yang berpikir dahulu untuk mengatakan sesuatu. “Oh, iya aku perbolehkan. Tapi, ada syaratnya.” Sejenak, perkataan itu mengundang wanita itu menjadi sedikit penasaran.</p>

<p>   “Syaratnya?” Izumi mengulangi tanya dan diangguki oleh Tamaki.</p>

<p>   “Kalau Izurin mau mendengar perkataanku seperti tadi.” Ah, benar saja tebakan Izumi. Walau dengan sedikit ragu dia mulai menyetujuinya.</p>

<p>   “Oke, bagus!” Tamaki mengukir senyum pada wajahnya.</p>

<p>   Izumi juga sudah mendapatkan jatah untuk puding yang dibelinya sendiri, setidaknya. Akhirnya, mereka berdua menikmati puding bersama-sama.</p>

<p>   <strong>End.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/puding</guid>
      <pubDate>Sat, 17 Sep 2022 23:48:28 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Bantuin.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/bantuin?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Toraishi Izumi × Hizafa Rein.&#xA;  #FaureYume; #IzuRein.&#xA;&#xA;   Please stay by my side.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #StarMyu © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Menjelang langit menampilkan sayup-sayup bulan akan cahayanya. Dari balik jendela, terlihat si gadis mulai mengacak-acak surainya kesal.&#xA;&#xA;   Bagaimana diri tidak sedang kesal, kalau-kalau harus berhadapan dengan tugas yang diberikan sebanyak itu?&#xA;&#xA;   Ya, meski tak sebanyak itu pun. Gadis tersebut mulai, memeluk lututnya. Entah karena udaranya, atau memang hawa-hawa dia-nya.&#xA;&#xA;   Manik mata yang telah tertutup itu, membuat suasana rumah semakin terkontaminasi oleh kesenyapan semata.&#xA;&#xA;   Hanya saja, hal tersebut tak berlangsung lama. Gerak sedikit, bila tak ada tangan yang menahan pastilah akan ada bunyi jatuh.&#xA;&#xA;   Perlahan mengambil nyawanya, betapa kaget dia sekarang. &#34;I-Izumi? Ah! Maafkan aku,&#34; ujarnya dengan cepat.&#xA;&#xA;   Ekspresinya sedikit cemas, tapi biarpun begitu pada akhirnya bertanya, &#34;Rein, gapapa? Oh itu ... Aku tidak masalah, kok.&#34;&#xA;&#xA;   Lelaki itu–Toraishi Izumi–mulai bertanya, diakhiri penolakan sekilas. &#34;Em, oke ...? Lalu, Izumi pasti mulai lagi kan.&#34;&#xA;&#xA;   Menatap tajam lelaki surai hitam-merah itu. Namun, hanya dibalas dengan sebuah tawa dari Izumi sendiri.&#xA;&#xA;   Mengalihkan pembicaraan seketika, Rein–gadis itu–mulai berkutat dengan tugas-tugasnya. &#34;Oiya, Izumi bisa bantuin aku, gak?&#34;&#xA;&#xA;   Mengernyitkan alis sedikit bingung, pasalnya jikalau Rein sudah mulai tak ingin membahas. Ia akan dengan cepat akan mengalihkan topik pembicaraan.&#xA;&#xA;   &#34;Bantuin belajar?&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Bukan.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Eh? Lalu bantuin apa?&#34;&#xA;&#xA;   Semula Rein menatap ke arah tugas-tugas, kini kembali menatap Izumi yang ternyata telah duduk disampingnya.&#xA;&#xA;   &#34;Bantuin kayak tadi, biar ga ketiduran.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Hah?&#34; Izumi mengedipkan matanya beberapa kali, mendengar pernyataan yang dilontarkan oleh Rein, gadis yang berada di hadapannya ini.&#xA;&#xA;   End.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Toraishi Izumi × Hizafa Rein.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:IzuRein" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">IzuRein</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>Please stay by my side.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:StarMyu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">StarMyu</span></a> © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   Menjelang langit menampilkan sayup-sayup bulan akan cahayanya. Dari balik jendela, terlihat si gadis mulai mengacak-acak surainya kesal.</p>

<p>   Bagaimana diri tidak sedang kesal, kalau-kalau harus berhadapan dengan tugas yang diberikan sebanyak itu?</p>

<p>   Ya, meski tak sebanyak itu pun. Gadis tersebut mulai, memeluk lututnya. Entah karena udaranya, atau memang hawa-hawa dia-nya.</p>

<p>   Manik mata yang telah tertutup itu, membuat suasana rumah semakin terkontaminasi oleh kesenyapan semata.</p>

<p>   Hanya saja, hal tersebut tak berlangsung lama. Gerak sedikit, bila tak ada tangan yang menahan pastilah akan ada bunyi jatuh.</p>

<p>   Perlahan mengambil nyawanya, betapa kaget dia sekarang. “I-Izumi? Ah! Maafkan aku,” ujarnya dengan cepat.</p>

<p>   Ekspresinya sedikit cemas, tapi biarpun begitu pada akhirnya bertanya, “Rein, gapapa? Oh itu ... Aku tidak masalah, kok.”</p>

<p>   Lelaki itu–Toraishi Izumi–mulai bertanya, diakhiri penolakan sekilas. “Em, oke ...? Lalu, Izumi pasti mulai lagi kan.”</p>

<p>   Menatap tajam lelaki surai hitam-merah itu. Namun, hanya dibalas dengan sebuah tawa dari Izumi sendiri.</p>

<p>   Mengalihkan pembicaraan seketika, Rein–gadis itu–mulai berkutat dengan tugas-tugasnya. “Oiya, Izumi bisa bantuin aku, gak?”</p>

<p>   Mengernyitkan alis sedikit bingung, pasalnya jikalau Rein sudah mulai tak ingin membahas. Ia akan dengan cepat akan mengalihkan topik pembicaraan.</p>

<p>   “Bantuin belajar?”</p>

<p>   “Bukan.”</p>

<p>   “Eh? Lalu bantuin apa?”</p>

<p>   Semula Rein menatap ke arah tugas-tugas, kini kembali menatap Izumi yang ternyata telah duduk disampingnya.</p>

<p>   “Bantuin kayak tadi, biar ga ketiduran.”</p>

<p>   “Hah?” Izumi mengedipkan matanya beberapa kali, mendengar pernyataan yang dilontarkan oleh Rein, gadis yang berada di hadapannya ini.</p>

<p>   <strong>End.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/bantuin</guid>
      <pubDate>Tue, 28 Jun 2022 13:14:29 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Protect.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/rein-menatap-kosong-pada-pemandangan-yang-sedang-ia-lihat?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Hakaze Kaoru × Hizafa Rein.&#xA;  #FaureYume; #KaoRein.&#xA;&#xA;   A little pushy, but that&#39;s okay.&#xA;        written by @HimariNa (Naomi/Himari).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #EnsembleStars © Happy Elements K.K, David Production. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Rein menatap kosong pada pemandangan yang sedang ia lihat. Gelak tawa manis dari para gadis sosialita yang sudah pasti terbuat dari perawatan yang mahal.&#xA;&#xA;   Beberapa laki-laki yang tengah asik bermain dan menggoda beberapa gadis. Suara musik yang meramaikan area tersebut.&#xA;&#xA;   &#34;Aku mau pulang,&#34; ucap Rein. Dibanding berada di tempat yang sama sekali tidak cocok dengannya.&#xA;&#xA;   Terutama karena hanya dirinya yang mengenakan pakaian polos, berupa kaos lengan panjang, dan juga celana training yang senada dengan pakaiannya.&#xA;&#xA;   Lagipula Rein sama sekali tidak tertarik dengan pesta seperti ini. Namun disatu sisi ia harus tetap disini karena Kaoru yang terus memaksanya untuk menemaninya datang ke tempat pemotretannya.&#xA;&#xA;   &#34;Rein-chan tunggu disini dulu ya,&#34; ucap Kaoru yang baru saja mengganti pakaiannya dengan setelan pantai berupa celana renang dan hoodie tanpa lengan dengan resleting yang dibuka seluruhnya.&#xA;&#xA;   &#34;Malam-malam pakai pakaian terbuka gitu nggak dingin ya?&#34; gumam Rein sembari menatap punggung Kaoru yang berjalan menuju bar tempat pemotretan berlangsung.&#xA;&#xA;   Sementara para gadis yang tengah berpesta disana berteriak histeris dengan kedatangan Kaoru yang melakukan pemotretan di bar tersebut.&#xA;&#xA;   Rein menatap ke sekitar, tidak tahu harus melakukan apa sembari menunggu Kaoru. Pada akhirnya hanya menatap Kaoru yang tengah berpose meski sedikit tertutup oleh beberapa staff disana.&#xA;&#xA;   &#34;Hai nona, sendirian?&#34; Rein menoleh, sosok asing yang tidak ia kenali menyapanya begitu saja?&#xA;&#xA;   Gadis itu melihat ke sekelilingnya, mungkin saja ada orang lain di dekatnya. Tapi posisinya sendiri cukup jauh dari keramaian dan sorot cahaya.&#xA;&#xA;   &#34;Aku?&#34; tanya Rein menunjuk dirinya sendiri.&#xA;&#xA;   Pria itu terkekeh, kemudian menawarkan minuman kepada Rein yang masih kebingungan, &#34;Tenang saja, ini bukan alkohol,&#34; ucapnya.&#xA;&#xA;   &#34;Tidak, terima kasih,&#34; tolak Rein dengan halus. Lebih tepatnya ia merasa tidak nyaman dengan kehadiran orang asing di dekatnya.&#xA;&#xA;   &#34;Pertama kali datang kesini?&#34;&#xA;&#xA;   Rein hanya mengangguk pelan. Mungkin nyaris tidak terlihat oleh pria itu.&#xA;&#xA;   &#34;Kau terlihat sangat belia untuk pesta pantai yang dipenuhi orang dewasa, apa sedang ada masalah?&#34; tebak pria itu.&#xA;&#xA;   Rein berpikir untuk kabur. Bagaimana pria ini begitu mudah mengatakan hal seperti itu tanpa canggung?&#xA;&#xA;   Sementara Rein sedari tadi melirik ke sekitar dan kembali menatap Kaoru. Berharap Kaoru segera selesai sehingga ia bisa pergi dari sini.&#xA;&#xA;   Meski ia bisa digoda oleh Kaoru. Tapi sungguh, entah kenapa Rein merasa tidak enak dengan hal ini. Apalagi tempat yang sepi dan tak tersorot seperti ini tentu akan mengundang banyak kemungkinan buruk terjadi.&#xA;&#xA;   &#34;Rein-chan~ maaf menunggu lama,&#34;&#xA;&#xA;   &#34;A―&#34;&#xA;&#xA;   Suara mengejutkan datang dari belakang Rein dengan kedua tangan yang kini melingkar pada kedua sisi pinggangnya. Juga mengejutkan pria yang sedari tadi mendekati Rein hingga gadis itu merasa risih.&#xA;&#xA;   &#34;Terima kasih sudah menemani pacarku, tapi itu tidak perlu,&#34; ucap Kaoru pada pria tersebut dengan penegasan pada kata menemani pacarku.&#xA;&#xA;   Merasa tidak baik untuk melakukan perlawanan, pria itu pergi dengan dengusan pelan. Masih cukup terdengar oleh Kaoru.&#xA;&#xA;   &#34;Rein-chan tidak apa-apa kan? Dia tidak menyakitimu kan? Aaah~ Rein-chan seharusnya berada di dekat pemotretan saja tadi,&#34; ucap Kaoru bertubi-tubi sembari membalikkan tubuh Rein agar menghadap padanya.&#xA;&#xA;   &#34;Tidak apa-apa, mau dimanapun tetap tidak nyaman,&#34; lirih Rein. Maniknya melirik ke arah para gadis yang masih menatap para gadis yang memandang Kaoru penuh pujaan.&#xA;&#xA;   &#34;Aa~ Rein-chan cemburu? Tenang saja aku hanya milik Rein-chan,&#34; ucap Kaoru yang langsung mendusel pada pipi Rein. Mengagetkan gadis tersebut.&#xA;&#xA;   &#34;Ka-Kaoru hentikan!&#34; seru Rein kaget sekaligus panik.&#xA;&#xA;   &#34;Habisnya Rein-chan benar-benar manis.&#34;&#xA;&#xA;   End.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;  Note!&#xA;  Writing by Naomi/Himari.&#xA;  @HimariNa on Twitter.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Hakaze Kaoru × Hizafa Rein.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:KaoRein" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">KaoRein</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>A little pushy, but that&#39;s okay.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/HimariNa__" rel="nofollow">@HimariNa__</a> (Naomi/Himari).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:EnsembleStars" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">EnsembleStars</span></a> © Happy Elements K.K, David Production. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   Rein menatap kosong pada pemandangan yang sedang ia lihat. Gelak tawa manis dari para gadis sosialita yang sudah pasti terbuat dari perawatan yang mahal.</p>

<p>   Beberapa laki-laki yang tengah asik bermain dan menggoda beberapa gadis. Suara musik yang meramaikan area tersebut.</p>

<p>   “Aku mau pulang,” ucap Rein. Dibanding berada di tempat yang sama sekali tidak cocok dengannya.</p>

<p>   Terutama karena hanya dirinya yang mengenakan pakaian polos, berupa kaos lengan panjang, dan juga celana training yang senada dengan pakaiannya.</p>

<p>   Lagipula Rein sama sekali tidak tertarik dengan pesta seperti ini. Namun disatu sisi ia harus tetap disini karena Kaoru yang terus memaksanya untuk menemaninya datang ke tempat pemotretannya.</p>

<p>   “Rein-chan tunggu disini dulu ya,” ucap Kaoru yang baru saja mengganti pakaiannya dengan setelan pantai berupa celana renang dan <em>hoodie</em> tanpa lengan dengan resleting yang dibuka seluruhnya.</p>

<p>   “Malam-malam pakai pakaian terbuka gitu nggak dingin ya?” gumam Rein sembari menatap punggung Kaoru yang berjalan menuju bar tempat pemotretan berlangsung.</p>

<p>   Sementara para gadis yang tengah berpesta disana berteriak histeris dengan kedatangan Kaoru yang melakukan pemotretan di bar tersebut.</p>

<p>   Rein menatap ke sekitar, tidak tahu harus melakukan apa sembari menunggu Kaoru. Pada akhirnya hanya menatap Kaoru yang tengah berpose meski sedikit tertutup oleh beberapa staff disana.</p>

<p>   “Hai nona, sendirian?” Rein menoleh, sosok asing yang tidak ia kenali menyapanya begitu saja?</p>

<p>   Gadis itu melihat ke sekelilingnya, mungkin saja ada orang lain di dekatnya. Tapi posisinya sendiri cukup jauh dari keramaian dan sorot cahaya.</p>

<p>   “Aku?” tanya Rein menunjuk dirinya sendiri.</p>

<p>   Pria itu terkekeh, kemudian menawarkan minuman kepada Rein yang masih kebingungan, “Tenang saja, ini bukan alkohol,” ucapnya.</p>

<p>   “Tidak, terima kasih,” tolak Rein dengan halus. Lebih tepatnya ia merasa tidak nyaman dengan kehadiran orang asing di dekatnya.</p>

<p>   “Pertama kali datang kesini?”</p>

<p>   Rein hanya mengangguk pelan. Mungkin nyaris tidak terlihat oleh pria itu.</p>

<p>   “Kau terlihat sangat belia untuk pesta pantai yang dipenuhi orang dewasa, apa sedang ada masalah?” tebak pria itu.</p>

<p>   Rein berpikir untuk kabur. Bagaimana pria ini begitu mudah mengatakan hal seperti itu tanpa canggung?</p>

<p>   Sementara Rein sedari tadi melirik ke sekitar dan kembali menatap Kaoru. Berharap Kaoru segera selesai sehingga ia bisa pergi dari sini.</p>

<p>   Meski ia bisa digoda oleh Kaoru. Tapi sungguh, entah kenapa Rein merasa tidak enak dengan hal ini. Apalagi tempat yang sepi dan tak tersorot seperti ini tentu akan mengundang banyak kemungkinan buruk terjadi.</p>

<p>   “Rein-chan~ maaf menunggu lama,”</p>

<p>   “A―”</p>

<p>   Suara mengejutkan datang dari belakang Rein dengan kedua tangan yang kini melingkar pada kedua sisi pinggangnya. Juga mengejutkan pria yang sedari tadi mendekati Rein hingga gadis itu merasa risih.</p>

<p>   “Terima kasih sudah <strong>menemani pacarku</strong>, tapi itu tidak perlu,” ucap Kaoru pada pria tersebut dengan penegasan pada kata <em>menemani pacarku</em>.</p>

<p>   Merasa tidak baik untuk melakukan perlawanan, pria itu pergi dengan dengusan pelan. Masih cukup terdengar oleh Kaoru.</p>

<p>   “Rein-chan tidak apa-apa kan? Dia tidak menyakitimu kan? Aaah~ Rein-chan seharusnya berada di dekat pemotretan saja tadi,” ucap Kaoru bertubi-tubi sembari membalikkan tubuh Rein agar menghadap padanya.</p>

<p>   “Tidak apa-apa, mau dimanapun tetap tidak nyaman,” lirih Rein. Maniknya melirik ke arah para gadis yang masih menatap para gadis yang memandang Kaoru penuh pujaan.</p>

<p>   “Aa~ Rein-chan cemburu? Tenang saja aku hanya milik Rein-chan,” ucap Kaoru yang langsung mendusel pada pipi Rein. Mengagetkan gadis tersebut.</p>

<p>   “Ka-Kaoru hentikan!” seru Rein kaget sekaligus panik.</p>

<p>   “Habisnya Rein-chan benar-benar manis.”</p>

<p>   <strong>End.</strong></p>

<hr/>

<blockquote><p>Note!
Writing by Naomi/Himari.
<a href="https://twitter.com/HimariNa__" rel="nofollow">@HimariNa__</a> on Twitter.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/rein-menatap-kosong-pada-pemandangan-yang-sedang-ia-lihat</guid>
      <pubDate>Sun, 15 May 2022 11:13:13 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Nona.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/nona?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Ootori Itsuki × Hizafa Rein.&#xA;  #FaureYume; #ItsuRei.&#xA;&#xA;   Moments that make me a little embarrassed, when I hear it again.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #StarMyu © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Sempat terdiam, berakhir tertawa. Semburat tipis kian mulai berkumpul pada wajah. Deretan gigi putihnya sedikit menutup, menyelesaikan tawanya. &#34;Itu sedikit memalukan, Rein.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Aa, maafkan aku.&#34;&#xA;&#xA;   Menunduk serta merasa bersalah, permintaan maaf pun terdengar oleh telinganya. &#34;Tak masalah,&#34; sahut Ootori cepat.&#xA;&#xA;   Sekilas menoleh ke arah Ootori disana, pandangan Rein kembali melihat foto masa kecil, selama festival di sekolah menengah ia dulu. &#34;Tapi, dirimu memang terlihat seperti Nona.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Sangat cantik.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Rein ….&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ah, pantas saja Ootori-san sering dipanggil Nona Ootori. Dirimu benar-benar mirip seperti perempuan, lho!&#34;&#xA;&#xA;   Menutup wajahnya, bahkan ia tak bisa mempercayai fakta yang didengarkan dari Rein. Bagaimana bisa ia dikatakan cantik olehnya? Padahal dia jelas-jelas laki-laki.&#xA;&#xA;   &#34;Baiklah, panggil aku sesukamu saja. Tapi jangan yang mengatakan diriku demikian,&#34; jelas Ootori.&#xA;&#xA;   &#34;Maafkan aku! Aku tak sadar!&#34;&#xA;&#xA;   End.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Ootori Itsuki × Hizafa Rein.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:ItsuRei" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">ItsuRei</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>Moments that make me a little embarrassed, when I hear it again.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:StarMyu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">StarMyu</span></a> © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   Sempat terdiam, berakhir tertawa. Semburat tipis kian mulai berkumpul pada wajah. Deretan gigi putihnya sedikit menutup, menyelesaikan tawanya. “Itu sedikit memalukan, Rein.”</p>

<p>   “Aa, maafkan aku.”</p>

<p>   Menunduk serta merasa bersalah, permintaan maaf pun terdengar oleh telinganya. “Tak masalah,” sahut Ootori cepat.</p>

<p>   Sekilas menoleh ke arah Ootori disana, pandangan Rein kembali melihat foto masa kecil, selama festival di sekolah menengah ia dulu. “Tapi, dirimu memang terlihat seperti Nona.”</p>

<p>   “Sangat cantik.”</p>

<p>   “Rein ….”</p>

<p>   “Ah, pantas saja Ootori-<em>san</em> sering dipanggil Nona Ootori. Dirimu benar-benar mirip seperti perempuan, lho!”</p>

<p>   Menutup wajahnya, bahkan ia tak bisa mempercayai fakta yang didengarkan dari Rein. Bagaimana bisa ia dikatakan cantik olehnya? Padahal dia jelas-jelas laki-laki.</p>

<p>   “Baiklah, panggil aku sesukamu saja. Tapi jangan yang mengatakan diriku demikian,” jelas Ootori.</p>

<p>   “Maafkan aku! Aku tak sadar!”</p>

<p>   <strong>End.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/nona</guid>
      <pubDate>Thu, 14 Apr 2022 15:06:27 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>