<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>faurestory &amp;mdash; reeinshiyu</title>
    <link>https://reeinshiyu.writeas.com/tag:faurestory</link>
    <description>Seluruh kisah yang dikhususkan kepada mereka yang berkenan untuk membacanya.</description>
    <pubDate>Thu, 14 May 2026 01:42:06 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Kebahagiaan Kini</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/kebahagiaan-kini?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Kazuhiko Arata × Hizamara Fauraza &amp; Kaitosawa Shuu.&#xA;  #FaureOCs; #AraFau.&#xA;&#xA;   When the time comes, the memory will be perfect.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #OriFictArchives.&#xA;  #FaureStory; Travel Chain Universe. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Dalam hitungan hari, sepupu jauhnya akan bertambah usia. Tak mengira, sosok yang dahulunya keras kepala, akan menjadi wanita dewasa. Ya, tidak bisa dibilang dewasa juga, karena belum mencapai usia dua puluh tahun.&#xA;&#xA;Benar, remaja perempuan itu belum beranjak menuju usia dua puluh tahun, melainkan dibawahnya. Akan tetapi, sudah beberapa kali dia menemukan hal-hal unik yang menyapa penglihatan miliknya. Tidak disangka, bahwa ia akan benar-benar melakukan saran dari tunangannya itu.&#xA;&#xA;Rasanya seperti komedi, tetapi begitulah kepribadian sang sepupu jauh. &#34;Kasihan juga, tunangannya.&#34; Pemuda bersurai merah muda yang tampak nakal ini, tidak sepenuhnya dikatakan nakal. Karena kepribadiannya sebatas ramah dan begitulah dia yang terbuka dengan banyak orang.&#xA;&#xA;Dia mendapatkan berita itu dari sepupu jauhnya, lebih tepatnya si kakak dari remaja perempuan yang sebentar lagi akan bertambah usianya. Agak tidak terduga, menurutnya. Meskipun itu baru saja terjadi dalam sepuluh hari atau mungkin lebih?&#xA;&#xA;Bisa-bisanya, dia lebih memproritaskan hubungan dengan pelayan seperti itu. Sejujurnya, dia sendiri tak berhak mengatur kehidupan sepupu jauhnya. Akan tetapi, miris rasanya ketika dia membayangkan posisi tunangannya yang harus mengutarakan saran untuk membantu menyiapkan kejutan tersebut.&#xA;&#xA;Hanya saja, ketika kejutan itu tertuju kepada dirinya. Apakah sepupunya itu pernah mengatakan tanggal berapa dia akan bertambah usia? Lagi pula, remaja perempuan satu ini terkadang suka melupakan hal yang paling penting. Dia tidak akan ambil pusing terhadap semua ini.&#xA;&#xA;&#34;Menurutmu, haruskah kita melibatkan tunangannya itu?&#34; tanya sosok pemuda bersurai hijau kebiru-biruan.&#xA;&#xA;&#34;Itu tidak menarik, kau tahu? Bisa saja, Fauraza langsung menyuruh dirinya, untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada dia. Sebagai seorang kakak, pasti ada yang kau ketahui setidaknya beberapa perilaku dari adikmu itu.&#34;&#xA;&#xA;Helaan napas berat terdengar. Pemuda bersurai merah muda mengukir senyuman. &#34;Biarkan sepasang kekasih itu, memainkan permainan mereka sendiri.&#34; Ya, pemuda ini akan menikmatinya. Seperti orang yang berada dibalik layar dan mengamati jalan ceritanya yang ini berlangsung. Sebab, sudah ada rencana yang terbesit dipikirannya dan pemuda di hadapannya mengetahui hal tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Sepertinya, dirimu sudah merencanakan sesuatu.&#34; Lantas, hal ini dibenarkan oleh pemuda bersurai merah muda itu dengan senyuman khasnya.&#xA;&#xA;&#34;Tentu saja, meskipun tidak begitu menarik.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Semua yang dirimu katakan adalah kebohongan. Lagi pula, tidak mungkin kau bisa tersenyum lebar seperti itu, jika sesuatu yang sedang direncanakan justru tidak menarik.&#34;&#xA;&#xA;Mengusap wajahnya, tidak menduganya. Kebiasaan khasnya semenjak mereka berada dalam satu kelas yang sama, menjadi teman tanpa mengetahui latar belakang. Kalau dipikir, mereka baru mengetahui jika mereka terhubung sebagai sepupu jauh itu sewaktu SMP. Jujur saja agak menyedihkan.&#xA;&#xA;&#34;Ketebak sekali, ya.&#34; Pemuda di hadapannya mulai memutar bola mata malas. Ia melirik ke arah lain, sampai akhirnya mendapati sosok yang mereka bicarakan sebelumnya.&#xA;&#xA;Saat ini, mereka berada dalam lingkup di mana mereka berkuliah. Akan tetapi, karena jurusan mereka berbeda, susah untuk bisa bertemu. Jika bertemu pun, sewaktu makan siang saja selebihnya kalau sedang mempunyai kegiatan di luar kampus.&#xA;&#xA;Sosok yang menjadi bincangan hangat diantara mereka, membuat pria bersurai merah muda mulai melirik ke arah mana pemuda di hadapannya ini menatap. &#34;Ah, panjang umur juga tunangannya Fauraza. Baru saja dibicarakan ternyata bisa muncul juga anaknya. Seingatku, dia adalah teman Shika. Tapi, mengapa penampilannya sangat mirip dengan dirinya?&#34; Pemuda itu bertanya-tanya.&#xA;&#xA;&#34;Jika kau sepenasaran itu terhadapnya, langsung tanyakan saja kepada orangnya,&#34; celetuk pemuda bersurai hijau kebiru-biruan itu.&#xA;&#xA;&#34;Aduh, itu agak merepotkan. Tapi, sebelumnya aku pernah bertanya mengenai hal itu. Dia menjawab, kalau dia ingin saja,&#34; gerutunya membalas pertanyaan dia sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Kalian berdua telah mengenal satu sama lain? Lalu, mengapa kau malah memanggilnya tunangan Fauraza terus-menerus?&#34; tanya pemuda itu lagi, yang sedari tadi berusaha mendapatkan jawaban dari perkataannya.&#xA;&#xA;&#34;Ah mengenai hal itu, bagaimana ya aku menjelaskannya. Jadi, dia adalah salah satu anggota dari klub Karate. Kau tahu sendiri, aku dulu pernah mengikuti klub Karate, meskipun tidak bertahan lama karena terlalu sibuk mengurus trainee waktu itu,&#34; jelasnya menjeda sejenak.&#xA;&#xA;&#34;Hm, berarti kau tidak terlalu mengenali dirinya atau malah sebaliknya?&#34; Pemuda ini menyimpulkan demikian.&#xA;&#xA;&#34;Jawabannya ada di opsi pertama, ialah alasanku memanggil dirinya seperti itu.&#34; Figur di hadapannya menggelengkan kepala, tidak sanggup mengatakan alasan apapun lagi. Terlalu banyak informasi yang mereka lakukan, meskipun tidak terlalu berguna.&#xA;&#xA;&#34;Kukira kau mengenalnya.&#34;&#xA;&#xA;Menatap tidak percaya, lebih tepatnya terkejut. Pada akhirnya ia tetap membalas, &#34;Astaga. Bahkan, saat aku ramah dan terbuka kepada banyak orang sekalipun, belum tentu anaknya akan menerima orang baru di dalam lingkungan pertemanan yang mereka miliki.&#34; Pemuda itu mengatakannya sembari mengingatkan kepada diri yang mana, terkadang terlalu banyak berbaur dengan banyak orang sampai tidak bisa membedakan mana yang menerima ataupun tidak nyaman terhadap dirinya.&#xA;&#xA;&#34;Siapa yang tahu—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Halo, Kaitosawa-senpai juga Hizamara-senpai. Sudah lama tidak berjumpa dengan kalian,&#34; sapa seseorang membuat perhatian mereka teralihkan. Terlihat seorang laki-laki dengan rambut dan mata yang senada warnanya. Setelah diperhatikan dengan lekat sekalipun, sesuai apa yang dikatakan oleh salah satu orang yang bercakap panjang lebar itu.&#xA;&#xA;&#34;Halo, untuk dirimu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah, lama tidak berjumpa denganmu juga, Arata. Tidak perlu seformal itu denganku,&#34; tegur pemuda bersurai hijau kebiru-biruan. Ia menolak panggilan formal yang ditujukan kepadanya, apabila seseorang ini telah menjadi bagian penting dalam hidup salah satu saudaranya. Rasanya, ia seperti membatasi diri dengan sosok yang mana tahu dikemudian hari bisa menjalin suatu hubungan yang lebih besar dibandingkan saat ini, bukan?&#xA;&#xA;&#34;Baiklah kalau begitu,&#34; balas lelaki tersebut. Mengangguk pelan, menyetujui hal yang sama, supaya tidak terlalu formal diawal pertemuan dan perkenalan mereka. Hanya saja, sekarang fokus pemuda yang diajak oleh seorang Arata berbicara teralihkan kepada pemilik netra kuning. &#34;Omong-omong, Shuu. Kau tidak berniat untuk menipuku, &#39;kan?&#34; tanyanya dengan nada yang agak berbeda.&#xA;&#xA;&#34;Sudah aku katakan, itulah kenyataannya.&#34;&#xA;&#xA;Pembahasan mereka sedikit berbeda. Salahnya juga yang tiba-tiba menyapa, tanpa memberikan masukan untuk berbicara barang kali hanya berapa kalimat sederhana. &#34;Oh iya, Arata. Aku ingin bertanya tentang Fauraza. Bagaimana dirinya yang sekarang? Apakah dia masih merepotkanmu sewaktu awal pertunangan kalian?&#34; Kini giliran dia lagi yang mengutarakan pertanyaan kepada sosok yang sedari tadi mereka bicarakan.&#xA;&#xA;Hizamara Ryutatsu, selaku kakak tertua dari Hizamara Fauraza, yang sekarang tunangannya ini sedang dilontarkan banyak pertanyaan. Tidak begitu banyak, tetapi cukup membuat dirinya harus menjawab sejujurnya.&#xA;&#xA;&#34;Dia tidak seperti itu, kok. Hanya saja, akhir-akhir ini dia sering memikirkan terlalu banyak entah apa saja itu, dan itu membuatnya melupakan beberapa hal penting.&#34; Kazuhiko Arata, itulah namanya. Sering disebutkan sebagai Arata karena namanya lebih mudah diucapkan kebanyakan orang. Meskipun, mereka yang tidak akrab saja memanggilnya dengan namanya langsung. Tetapi, dia tidak begitu mempermasalahkan panggilannya.&#xA;&#xA;Dia menunjukkan reaksi seperti orang yang sedang berpikir sekarang. Sementara untuk kedua orang yang dirinya sapa tadi saling menatap satu sama lain. Sudah tidak diragukan lagi. Ryutatsu tidak sanggup untuk membalas jawaban dari Arata. Sehingga, pemuda di sampingnya menggantikan. &#34;Mohon dimaklumi perilakunya yang seperti itu, ya. Oh, satu hal lagi. Semisal Fauraza melakukan hal yang menyimpang atau nekat begitu, tolong beritahu kami atau tegur saja dirinya,&#34; celetuk lelaki itu kepada Arata.&#xA;&#xA;&#34;Shuu memang benar, pasti akan ada kalanya dia melakukan sesuatu dengan nekat. Jika menurutmu itu adalah hal yang terbaik, kau bisa mendukungnya. Namun, apabila itu berbanding terbalik, sebagai kakaknya aku ingin meminta tolong kepadamu agar lebih banyak membimbing dia.&#34; Ryutatsu menyempurnakan apa yang telah dikatakan oleh Kaitosawa Shuu baru saja.&#xA;&#xA;&#34;Eh? Apa itu tidak masalah?&#34; Sejujurnya, untuk melakukan hal seperti itu saja, Arata sangat ragu. Alhasil, ia jarang sekali memberikan peringatan kepada sang tunangan.&#xA;&#xA;&#34;Sesekali ditegur pun tidak masalah.&#34; Arata mengangguk tanda menyetujuinya.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Telah lama waktu dimakan oleh hari. Seolah tidak seperti biasanya, entah mengapa Arata merasa menjadi akan ada sesuatu yang mungkin bisa terjadi kepadanya dengan segera. Sewaktu pertemuan itu, Arata diberikan suatu informasi tentang hari spesial sang tunangan. Sejujurnya, dia sendiri agak terkejut.&#xA;&#xA;Karena, Fauraza sebagai tunangannya saja tidak pernah memberitahukan hal itu kepada dirinya. Sementara Fauraza menyuruh agar dirinya mengatakan kapan dia bertambah usia. Rasanya sangat tidak adil. Sejenak, Arata terpikirkan sesuatu. Apakah mungkin jika seseorang yang sedang berulang tahun, malah memberikan kejutan kepada pasangannya? Sedikit tidak masuk akal, tetapi mungkin saja bisa terjadi, bukan?&#xA;&#xA;Lagi pula, kalau dia bertanya kepada Fauraza mengenai hari spesialnya. Apakah dia bisa memberikan sesuatu yang berkesan sebagai hadiah kepadanya? Untuk seorang Hizamara Fauraza yang kehidupannya terjamin, berbanding terbalik dengan dirinya. Bahkan, sebab Fauraza jugalah keduanya menjadi tunangan. Walau perasaan gundahnya diawal mendapatkan kabar tercipta dengan jelas, serta perkataan beruntun dari Fauraza langsung membuat diri kewalahan.&#xA;&#xA;Arata terlalu banyak melamun sedari tadi, hingga dirinya tidak sadar bahwa saat ini sudah ada figur indah tunangannya yang meraih tangannya yang bebas, tiada pegangan apapun. &#34;Kak Arata!&#34; panggil sosok perempuan yang sangat cantik, dan ternyata inilah wujud dari si tuan putri, ialah tunangannya.&#xA;&#xA;&#34;Kak Arata sedang memikirkan apa? Kelihatannya serius sekali,&#34; tutur Hizamara Fauraza, itulah nama yang sungguh indah dari tunangannya sekarang ini.&#xA;&#xA;&#34;Bukan hal penting, kok.&#34;&#xA;&#xA;Menghela napas panjang. Seperti sudah menjadi kebiasaan bagi dirinya yang merasa tidak kuasa untuk mengatakan beberapa kata sekalipun. &#34;Lalu, dengan Fauraza sendiri? Akhir-akhir ini, aku perhatikan kalau dirimu terlalu memaksakan diri. Tidak baik untuk kesehatan, tahu.&#34; Arata mengungkapkan perhatian dari perilaku yang disedang lakukan sekarang. Ia mengelus pelan surai ungu bercampur putih itu, sembari tersenyum.&#xA;&#xA;&#34;Ah, oh?&#34; Fauraza tersentak. Meskipun ini bukanlah pertama kali untuk dia yang disentuh pada bagian rambut dan kepalanya, entah mengapa perasaannya lebih cepat timbul sehingga membuat detak jantungnya bekerja lebih cepat. Langsung ia membalas, &#34;Supaya aku bisa lebih luang diwaktu libur, makanya aku fokuskan kegiatan pada harinya. Maafkan aku, Kak Arata.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Berarti, pada waktu libur aku akan pastikan bahwa dirimu benar-benar beristirahat, seperti apa yang dirimu inginkan.&#34;&#xA;&#xA;Fauraza menggelengkan kepalanya pelan. &#34;Bukan untuk menikmati waktu libur dengan beristirahat. Aku ingin menghabiskan waktu bersama Kak Arata, karena sudah lama aku tidak jalan-jalan bersama Kak Arata, hehe.&#34; Hal ini membuat Arata mendadak bingung. Ia mengira bahwa Fauraza akan istirahat, ternyata ia meluangkan waktu hanya untuk berjalan berdua bersama dirinya. Ah, tunggu, hanya berdua?&#xA;&#xA;Padahal, hal yang paling Arata ketahui ialah Fauraza yang selalu bersama dengan pelayannya. Menurut Arata sendiri, pelayannya yang sudah lama mengurusnya lebih mengetahui apa saja yang Fauraza inginkan dan apa yang dirinya sukai. Tidak seperti dirinya yang baru memiliki hubungan dengan Fauraza yang bahkan belum genap satu tahun.&#xA;&#xA;&#34;Kira-kira, hari ini Kak Arata ada waktu luang?&#34; tanya Fauraza, mengalihkan atensi dari Arata yang kembali terdiam dalam pemikirannya.&#xA;&#xA;&#34;Hari ini?&#34; Arata sejenak bergumam, ia merogoh ponsel pintar miliknya. Menatap lekat sesuatu di ponselnya. &#34;Aku punya waktu luang,&#34; jawab Arata kemudian. Arata telah menyadari, karena sempat melihat sekilas tanggal pada hari ini. Ya, semoga saja dia tidak terlambat, bukan?&#xA;&#xA;2 Oktober. Itu adalah hari di mana Fauraza bertambah usia, dan pada hari itulah Fauraza yang mengajaknya. Ah, kalau dipikir seharusnya orang yang memberikan kejutan yang akan mengajaknya. Tetapi, ini malah orang yang sedang berulang tahun. Tidakkah ini terasa aneh?&#xA;&#xA;&#34;Asik! Aku punya tempat yang bagus dan pemandangannya cantik, nanti kita kesana bersama Kak Shuu, oke?&#34; ujar Fauraza.&#xA;&#xA;Tunggu, apa? Haruskah ada satu orang yang perlu berada disekitar Fauraza, disaat dia sedang bersama dengan dirinya? Arata tidak tahu mengapa perasaannya sering kali berubah seperti ini. Hanya saja, ia seperti berada dalam perputaran yang hanya mereka saja yang mengetahui kejadian itu. Lagi pula, Arata hanya mengetahui hubungan keduanya sebagai sepupu jauh. Dan, untuk selain itu sepertinya tidak ada yang bisa ia ketahui.&#xA;&#xA;&#34;Oh, Kaitosawa-senpai? Boleh saja. Kira-kira berangkatnya pukul berapa? Aku perlu izin dahulu sama keluargaku, takutnya malah mereka yang melarangku.&#34; Arata menjadi kikuk dan merasa tidak enak. Padahal, remaja zaman sekarang sering kali bepergian keluar untuk menikmati hari sebagai masa muda. Bahkan, jika mereka sudah dewasa pasti mereka akan lebih memilih beristirahat dan tidak terlalu banyak beraktivitas di luar. Sehingga, hanya mendapati aktivitas di mana jika saja ada yang mengajak.&#xA;&#xA;Fauraza terdiam sebentar. Ternyata, ia melupakan sesuatu yang terpenting. Mengingat dirinya yang telah lama tinggal berpisah dengan orang tua, membuatnya bebas untuk bepergian tanpa izin. Paling-paling meminta izin dengan Ryutatsu saja ataupun meminta izin kepada Shuu. Namun, entah mengapa ketika dirinya mendengarkan ucapan dari Arata, ia teringat kenangan lama di mana dirinya tinggal bersama kedua orang tuanya. Sebenarnya, Ryutatsu juga tinggal sendiri seperti dirinya. Akan tetapi, karena ditemani oleh pelayan, dia tidak akan sendiri di dalam rumah sebesar itu.&#xA;&#xA;&#34;Semoga diizinkan, ya. Oh, iya perjalanannya dimulai siang ini karena mungkin agak memakan waktu karena kita juga menggunakan kendaraan mobil. Kak Arata ada riwayat mabuk perjalanan tidak?&#34; tanya Fauraza lagi.&#xA;&#xA;&#34;Ah, aku tidak ada riwayat mabuk perjalanan, kok. Lagi pula waktu pertama kali dijemput dengan pelayanmu itu, untuk menghadiri acara keluarga kita. Dia mengantar kami sekeluarga menggunakan mobil, bukan?&#34; balas Arata yang mana dia juga hanyut dalam memori masa lalu.&#xA;&#xA;&#34;Oh, iya! Aku lupa, hehe.&#34; Fauraza mengatakan hal itu, tanpa mengetahuinya kalau Arata tetap menatap dirinya sembari menampilkan senyuman tipis pada wajah.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Yaaho~&#34;&#xA;&#xA;Sapaan telah terdengar. Kini waktunya bagi mereka untuk bisa berjalan bersama, meskipun cuacanya cerah. Tetapi beruntung saja karena mereka menggunakan mobil yang mana atap di dalamnya tertutup. Meskipun ada juga yang bisa terbuka, syukur saja ini lebih baik untuk melindungi mereka.&#xA;&#xA;&#34;Ah, halo Kaitosawa-senpai!&#34; Arata balik menyapa dirinya juga.&#xA;&#xA;&#34;Maaf, kalau aku nimbrung kencan kalian, ya~ Kakaknya Fauraza itu memang ada-ada saja,&#34; gerutu pemuda bersurai merah muda itu, yang entah kenapa ia merasa kesal karena bisa terseret dalam permainan yang mana itu dari dirinya sendiri.&#xA;&#xA;Sesungguhnya, Shuu hanya berdalih dengan alasan seperti itu. Karena faktanya, ia telah merencanakan hal itu dengan Ryutatsu untuk membuat hubungan kedua tunangan ini tidak akan lebih jauh dari kata akrab. Ya, semoga saja pada hari ulang tahunnya Fauraza ini, mereka bisa lebih akrab dan membuka diri. Lalu, bagaimana dengan Shuu? Dia hanya akan mengamati dan kemudian memberikan laporan kepada Ryutatsu setelahnya.&#xA;&#xA;Ryutatsu melakukan itu untuk membatasi pergerakan Fauraza yang akhir-akhir ini, terlalu banyak beraktivitas di luar lingkungan kampus. Sehingga, tidak ada yang bisa mengawasi dirinya. Selain itu, meskipun Arata merupakan tunangannya, mereka bahkan belum seakrab itu untuk sekadar bergandengan tangan. Hanya, Fauraza yang selalu berusaha memulai untuk bisa mendekati dirinya.&#xA;&#xA;&#34;Tidak masalah, Senpai.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Baiklah, kalau begitu aku punya ide untukmu.&#34;&#xA;&#xA;Suatu ide dibisikkan kepadanya, melupakan Fauraza yang sedang berbincang dengan Keluarga Kazuhiko akhirnya telah kembali. Fauraza sendiri tidak akan mengganggu percakapan mereka yang mungkin penting, sampai harus berbisik seperti itu. Membuatnya menegur karena mungkin, takut teralu lama berleha-leha. Tidak seperti Fauraza yang biasanya.&#xA;&#xA;&#34;Kak Shuu, Kak Arata! Ayo, kita berangkat, aku sudah selesai.&#34;&#xA;&#xA;Shuu yang telah menyadari keberadaan Fauraza hanya mendiamkan diri tadi, dengan ucapan yang sedang dia rencanakan untuk para kekasih yang berada dalam bimbingannya ini. Ia kembali menoleh ke arah Fauraza yang ternyata telah berada di dekat mobil yang Shuu bawa. &#34;Seperti yang aku katakan, begitu saja kejutannya. Selebihnya, tergantung apa yang akan kalian lakukan. Ah, sebentar dirimu tidak memiliki alergi terhadap serbuk sari dalam bunga, kan? Fauraza memang tidak ada, tapi takutnya malah dirimu yang mengalaminya.&#34;&#xA;&#xA;Arata menggeleng pelan, &#34;Baiklah, aku akan berusaha. Lalu, untuk pertanyaan itu, aku tidak memiliki alergi terhadap bunga, Senpai.&#34; Ia mengatakan demikian, karena memang dia hampir tidak diketahui memiliki riwayat ataupun alergi terhadap sesuatu.&#xA;&#xA;&#34;Baguslah, ayo kita menyusul.&#34; Arata dan Shuu, menyusul ke dalam mobil yang agak jauh dari halaman rumah Arata. Sekalian bisa putar balik, kalau kata Fauraza. Alhasil, mereka menempuh menuju mobil dengan berjalan kaki.&#xA;&#xA;&#34;Kalian berdua sudah siap?&#34; Shuu yang akan menyetir mobil tersebut. Dengan penghuninya adalah Arata dan Fauraza yang duduk dibelakang. Kalau melihatnya, mungkin orang-orang akan beranggapan kalau dirinya adalah sopir. Akan tetapi, saat ini hanya itu peran baginya.&#xA;&#xA;Mereka berdua menikmati perjalanan yang agak jauh, yang mana tidak seperti bisanya. Dalam perjalanan itu, Arata mengingat kembali apa saja yang Shuu katakan tadi mengenai kejutan yang ternyata sepenuhnya direncanakan oleh dirinya. Tetapi, berdalih bahwa semua itu karena dia yang disuruh oleh Ryutatsu untuk menjaga Fauraza.&#xA;&#xA;&#34;Tujuan kita kali ini adalah taman bunga. Tempat itu sebenarnya adalah tempat favorit dari orang tuaku, yang entah mengapa bisa menurun kepadaku juga. Lalu, di sana biasanya akan ada orang yang memberikan karangan bunga. Kalau bisa, dapatkan saja karangan bunga Aster Kuning dan peran untukmu menggunakan karangan itu ke atas kepala Fauraza.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nanti aku akan memberikannya kepadamu, kalau memang aku bisa mendapatkannya. Untuk artinya, dirimu bisa mencari di situs online, bukan? Ya, lakukan saja itu selama dalam perjalanan. Aku yakin, itu bisa mengekspresikan kepribadiannya,&#34; ujar Shuu disaat berbisik dengan dirinya. Hingga saat itulah, Fauraza hadir dan menegur mereka berdua untuk segera berangkat.&#xA;&#xA;Kembali ke masa sekarang, sesuai apa yang Shuu katakan tadi. Ia mulai sibuk mencari suatu makna dari bunga yang dikatakan oleh dirinya. Meskipun Fauraza agak penasaran dengan apa yang Arata lakukan, ia berusaha tidak mengusik Arata secara berlebihan. Sudah cukup dirinya yang di masa lalu terlalu memaksakan kehendaknya.&#xA;&#xA;Masa lalu yang mana membuatnya bisa berubah, berkat omongan dari Ryutatsu. Ia telah mengutarakan permintaan maaf kepada Arata, tentang apa yang dia lakukan supaya mereka bisa bertunangan.&#xA;&#xA;Meskipun begitu, itulah pertama kalinya Fauraza menggunakan panggilan &#39;Kak&#39; di depan nama Arata, yang bahkan sebelum itu dirinya memanggil tanpa sufiks tersebut.&#xA;&#xA;Arata yang telah mengetahui apa makna dari balik bunga yang dikatakan oleh Shuu. Ia mengukir senyum tipis. Ternyata, makna dari suatu bunga bisa begitu banyak yang sesuai. Ia melirik Fauraza yang entah kenapa, ekspresinya tidak seperti mereka yang diawal. Seperti memancarkan ekspresi sedih, membuat Arata menepuk pelan bahu dari Fauraza seraya memanggil, &#34;Fauraza.&#34;&#xA;&#xA;Fauraza sendiri tidak begitu mengamati suasana saat ini. Sehingga, ia bisa terkejut seperti itu. &#34;Ah, maafkan aku. Ada apa, Kak Arata?&#34; tanya Fauraza berusaha mengekspresikan dirinya dengan baik, seperti apa yang dia lakukan sebelum mereka berangkat bersama.&#xA;&#xA;Sementara Shuu, sesuai apa yang dia lakukan bersikap seolah-olah dia hanya sebagai sopir untuk sepasang kekasih ini, dan akan melaporkan kejadian ini kepada sang Kakak dari Fauraza itu sendiri. &#34;Fauraza terlihat seperti ingin menangis, apa terjadi sesuatu?&#34; tanya Arata berusaha mengutarakannya dengan nada pelan.&#xA;&#xA;Fauraza benar-benar dibuat terkejut bukan main. Ternyata, Arata menyadari itu semua. &#34;Ah, tidak kok. Aku tidak ada masalah,&#34; sahut Fauraza yang sepertinya menyembunyikan masa lalu.&#xA;&#xA;&#34;Anak itu berbohong, kau tahu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kak Shuu!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Baiklah, abaikan saja itu tadi. Kebetulan kita akan segera sampai,&#34; ucap Shuu yang pada akhirnya mengalihkan pembicaraan mereka, yang  mana takut berujung kisah yang memilukan di hari spesialnya Fauraza yang entah menyadarinya atau tidak, bahwa dirinya akan menjadi korban dari rencananya Shuu.&#xA;&#xA;Hingga, pemandangan itu tampak sangat luas. Dari luarnya saja sudah membuat mereka semua terpukau. &#34;Wow, Kak Shuu pemandangannya indah sekali!&#34; seru Fauraza yang mana mungkin terlalu bersemangat.&#xA;&#xA;Pada akhirnya, mereka telah sampai dan memutuskan untuk turun terlebih dahulu. Sementra untuk Shuu, akan menyusul karena dua mencari tempat untuk memarkirkan mobil yang dia gunakan selama mentantar mereka berdua.&#xA;&#xA;Angin berembus menyejukan tubuh. Padahal, langin masih cerah, belum menuju senja. Akan tetapi, suasananya mendukung sekali. Bahkan, lokasi yang mereka pijaki ini terdiri dari banyaknya hamparan bunga, sampai akhirnya mereka agak takut kalau tidak sengaja menginjak bunganya.&#xA;&#xA;Sembari menunggu Shuu, Fauraza bersama Arata memutuskan untuk membelikan tiket masuk untuk mereka semua. Kemudian, Shuu memasuki tempat itu dan mulai menjelajahi lokasi menyegarkan pemandangan mata bersama-sama.&#xA;&#xA;Shuu menyarankan agar mereka berdua berpisah. Di mana Arata dan Fauraza akan bersenang-senang bersama, sementara dirinya akan mengambil beberapa foto untuk dibagikan kepada Fauraza. Ya, Fauraza sudah berpesan kepada dirinya. Mengingat Shuu juga mahir dalam mengambil gambar yang bagus, sehingga Fauraza mempercayainya.&#xA;&#xA;Shuu sendiri mengabadikan gambar di mana Fauraza bisa bersenang-senang dengan Arata. Menurutnya, untuk apalagi dirinya harus mengawasi mereka berdua, lagu pula keduanya tidak akan bersikap aneh-aneh. Asalkan mereka bisa menjaga diri masing-masing saja, sudah lebih baik.&#xA;&#xA;Saat itu juga, Shuu mendapati seorang yang memang membagikan karangan bunga. Walau sebenarnya ada juga yang berkenan mengajarkan mereka untuk merangkai karangan bunga. Ya, tidak butuh waktu lama, ia mendapatkan tiga rangkaian karangan bunga itu. Kalau ditanya untuk siapa saja, tentu saja untuk mereka bertiga. Lalu, siapa yang akan memakaikannya? Itu akan dia serahkan kepada Fauraza.&#xA;&#xA;&#34;Seharusnya tadi aku meminta ID Line milik dia.&#34; Shuu bergumam pelan dan dia merutukinya. Namun, saat itu dia melihat Arata ternyata berhadapan dengan keberadaan dia saat itu, sementara Fauraza membelakangi dirinya. Ia mulai mendekati mereka. Tetapi tidak terlalu dekat, sampai akhirnya Arata melihat sosok itu dan memutuskan untuk pergi sejenak menemui Shuu.&#xA;&#xA;&#34;Fauraza, sepertinya Kaitosawa-senpai sedang memanggilku. Aku pergi sebentar dan nanti aku akan kembali, tidak apa-apa kan?&#34; tanya Arata yang mana membuat dahi Fauraza berkerut.&#xA;&#xA;&#34;Tunggu, memanggil? Kok, aku tidak kedengaran. Ah, tunggu. Kak Arata tetap memanggilnya seperti itu, berarti belum memiliki ID Line milik Kak Shuu, ya?&#34; Arata terdiam, takut apa yang direncanakan oleh Shuu dibalik semua ini akan gagal.&#xA;&#xA;Sehingga, Arata menganggukinya pelan. &#34;Tadi, dia melambaikan tangan kepadaku, siapa tahu dirinya ingin memanggilku, hanya saja takut tidak nyaman untuk mengganggu kegiatan yang sedang Fauraza lakukan dalam menikmati keindahan bunga yang ada.&#34; Fauraza tidak percaya bahwa Arata akan menjelaskan hal ini, supaya Fauraza tidak salah paham. Padahal, ia sudah mengetahui gerak-gerik Shuu yang semenjak awal sudah berbeda menurut dirinya.&#xA;&#xA;&#34;Lalu, untuk ID Line, itu memang benar. Kami tidak begitu akrab, hingga saling menukar ID Line, jadinya itu merumitkan untuk Kaitosawa-senpai yang akan memanggil diriku, begitu?&#34; Arata memberikan reaksi dirinya seperti orang yang sedang menyimpulkan sesuatu.&#xA;&#xA;Semua yang Arata tampilkan, sungguh membuat Fauraza mengundang tawanya. &#34;Baiklah, silakan bertemu dengan Kak Shuu. Tetapi, jangan lupa kembali, ya!&#34; Fauraza memutuskan untuk kembali kepada aktivitasnya. Ia memang gemar mengamati banyaknya bunga yang tumbuh di daerah itu.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Di samping itu, Arata telah menyusul ke arah Shuu. Yang mana mungkin telah menimbulkan pemikiran aneh, sehingga Shuu hanya mengatakan sedikit, &#34;Pasangkan ini kepada dirinya dan katakan apa yang ingin dirimu katakan untuknya.&#34; Shuu telah menyerahkan satu rangkaian karangan bunga Aster Kuning. Menurut Arata, itu tampak indah. Dan bahkan, mungkin lebih mirip warnanya dengan netra milik Shuu saat itu. Sama-sama berwarna kuning.&#xA;&#xA;Arata kembali mendekati Fauraza yang sibuk dengan kegiatannya, ia pun memakaikan karangan bunga tersebut. Hal itu sukses membuat dirinya terpaku karena kaget. Fauraza tidak menduga, bahwa seorang Arata bisa melakukan seperti ini. Tetapi, dengan cepat Fauraza menyimpulkan bisa saja semua ini karena Shuu. Mengingat sedari tadi Arata berada dekat dengan Shuu. Ia tidak terlalu mengekang dirinya.&#xA;&#xA;&#34;Selamat ulang tahun, Fauraza.&#34;&#xA;&#xA;Fauraza memang terkejut, tetapi karena memikirkan apa yang telah terjadi saat itupun, ia langsung mengumbar tawa dengan kepalanya telah ada rangkaian bunga yang dimaksud oleh Shuu saat tadi.&#xA;&#xA;&#34;Ah, ternyata Kak Arata sudah mengetahuinya. Terima kasih banyak!&#34; umbarnya senang.&#xA;&#xA;&#34;Terima kasih juga untukmu. Apabila aku pikirkan, kebahagiaan kini telah banyak yang dirimu sumbangkan kepadaku. Tunggu, itu terlalu menyedihkan. Bagaimana jika dengan dirimu yang sudah memberikan banyak kebahagiaan kepadaku sekarang? Meskipun, aku sendiri tidak pernah mengetahui hari spesialmu sebelum akhirnya diberitahukan. Sepertinya, agak tidak adil untukku,&#34; jelasnya Arata panjang lebar.&#xA;&#xA;Fauraza benar-benar bahagia, ia tidak menduga bahwa seorang Arata bisa berkata demikian. Meskipun pada bagian akhirnya cukup menyindir bagi Fauraza yang mana menyembunyikan hari ulang tahunnya, bahkan kepada tunangannya sendiri. Tentu saja, hal itu sangat tidak adil bagi Arata.&#xA;&#xA;&#34;Tentu saja, jika aku berbahagia maka Kak Arata harus bahagia juga! Lalu, tentang itu, hehe. Maafkan aku, tetapi Kak Arata mengetahui ulang tahunku dari siapa?&#34; Hal ini sedikit membuat Fauraza penasaran, ia menebak bahwa itu dikatakan oleh Shuu, akan tetapi tebakan hanyalah tebakan. Bisa saja dirinya yang salah.&#xA;&#xA;&#34;Ah, itu diberitahukan oleh kakakmu. Belum lama ini, mungkin lusa kemarin?&#34; Arata sedang mengungkit kisah di mana pertemuan mereka waktu itu.&#xA;&#xA;&#34;Apa dirimu sudah diberitahukan oleh Fauraza mengenai ulang tahunnya, yang tidak lama lagi?&#34; Saat itu bukanlah Ryutatsu yang mengatakan, melainkan Shuu yang mengucapkannya.&#xA;&#xA;Ketika dirinya mulai menggelengkan kepala, sahutan datang dari Ryutatsu, &#34;Lusa nanti, tanggal 2 Oktober itu adalah hari ulang tahunnya.&#34;&#xA;&#xA;Rasanya saat itu Arata benar-benar tidak tahu harus bersikap apa dengan waktu yang hanya dua hari sampai akhirnya, tibalah saat ini berkat adanya bantuan dari Shuu yang telah merencanakan sesuatu dari awal.&#xA;&#xA;&#34;Oh, begitu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Halo, kalian. Oh, sepertinya sudah selesai? Omong-omong ini untuk dirimu Fauraza, kau bebas memberikannya kepada siapapun. Atau mungkin, kau akan memberikannya kepada Arata,&#34; ujar Shuu setengah bercanda. Ia memang sangat menyarankan agar Fauraza memberikan sesuatu yang dia serahkan kepadanya untuk Arata, agar mereka terlihat seperti couple.&#xA;&#xA;&#34;Kak Shuu, kebiasaan! Terima kasih untuk semua ini, dan lalu siapa yang memasangkan karangan bunga itu diatas kepala Kak Shuu?&#34; Fauraza menyadari suatu perbedaan yang mana, Shuu juga telah menggunakan karangan bunga diatas kepalanya. Akan tetapi, siapa orang yang memakaikan karangan bunga itu kepada dirinya?&#xA;&#xA;Shuu sebenarnya ingin tertawa ketika mengingatnya, &#34;Ada seseorang yang memasangkannya kepadaku, dikala aku mengamati kalian dari jauh. Sepertinya dia menganggap aku sedang patah hati, mungkin?&#34; guraunya bercanda, meskipun fakta bahwa dia mengamati dan ada orang yang memasangkan karangan bunga itu adalah benar.&#xA;&#xA;&#34;Woah, tidak kusangka. Ternyata, ada orang baik yang memasangkannya untuk Kak Shuu.&#34; Fauraza juga ikutan bercanda dengan nada yang mungkin menurut Arata itu adalah sindiran.&#xA;&#xA;Arata memang tidak mengerti hubungan mereka berdua, sampai tidak masalah dengan sindir-menyindir seperti itu. Alangkah baiknya, ketika Arata juga menyadari fakta bahwa Fauraza kini mmasangkan karangan bunga yang diberikan oleh Shuu diatas kepalanya. Posisi mereka saat ini sedang duduk di antara rangkaian bunga yang bertaburan diatas rumput yang halus ini.&#xA;&#xA;&#34;Baiklah, terima kasih untuk semua ini, khususnya kepada kalian berdua. Senang sekali rasanya, aku jadi terlibat dalam permainan kalian sekarang. Lalu, untuk Kak Shuu sendiri, syukur saja ada orang yang mau memasangkannya. Jadi, aku kan hanya memasangkan untuk Kak Arata.&#34;&#xA;&#xA;Fauraza mengatakan hal itu, membuat Arata tertegun. Ia tidak menyangka terdapat hal positif dari balik kejadian ini. Meskipun interaksi yang keduanya jalin terlihat lebih dekat daripada keluarganya sendiri, membuatnya merasakan sedih.&#xA;&#xA;&#34;Sudah cukup menyindirku, ya.&#34;&#xA;&#xA;Keduanya mengutarakan tawa yang tidak bisa terbendung, bahkan hal itu menularkan tawa kepada seorang Kazuhiko Arata. Jujur saja, inilah kebahagiaan yang ingin dirinya peroleh semenjak bertunangan dengan Fauraza.&#xA;&#xA;Terima kasih untukmu, yang sudah memberikan kebahagiaan seperti ini kepadaku. Meskipun, pada dasarnya dirimulah yang berulang tahun dan bukan diriku. Untuk semua dukungan ataupun saran, dirimu berikan kepadaku itu sangat berkesan bagiku. Tidak cukup sampai sana, karena terlalu banyak usaha yang dirimu lakukan, hanya demi seorang seperti aku.&#xA;&#xA;Terima kasih telah ingin menerimaku sebagai tunanganmu.&#xA;&#xA;End.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Kazuhiko Arata × Hizamara Fauraza &amp; Kaitosawa Shuu.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureOCs" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureOCs</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:AraFau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">AraFau</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>When the time comes, the memory will be perfect.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:OriFictArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">OriFictArchives</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureStory" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureStory</span></a>; Travel Chain Universe. </p></blockquote>

<hr/>

<p>Dalam hitungan hari, sepupu jauhnya akan bertambah usia. Tak mengira, sosok yang dahulunya keras kepala, akan menjadi wanita dewasa. Ya, tidak bisa dibilang dewasa juga, karena belum mencapai usia dua puluh tahun.</p>

<p>Benar, remaja perempuan itu belum beranjak menuju usia dua puluh tahun, melainkan dibawahnya. Akan tetapi, sudah beberapa kali dia menemukan hal-hal unik yang menyapa penglihatan miliknya. Tidak disangka, bahwa ia akan benar-benar melakukan saran dari tunangannya itu.</p>

<p>Rasanya seperti komedi, tetapi begitulah kepribadian sang sepupu jauh. “Kasihan juga, tunangannya.” Pemuda bersurai merah muda yang tampak nakal ini, tidak sepenuhnya dikatakan nakal. Karena kepribadiannya sebatas ramah dan begitulah dia yang terbuka dengan banyak orang.</p>

<p>Dia mendapatkan berita itu dari sepupu jauhnya, lebih tepatnya si kakak dari remaja perempuan yang sebentar lagi akan bertambah usianya. Agak tidak terduga, menurutnya. Meskipun itu baru saja terjadi dalam sepuluh hari atau mungkin lebih?</p>

<p>Bisa-bisanya, dia lebih memproritaskan hubungan dengan pelayan seperti itu. Sejujurnya, dia sendiri tak berhak mengatur kehidupan sepupu jauhnya. Akan tetapi, miris rasanya ketika dia membayangkan posisi tunangannya yang harus mengutarakan saran untuk membantu menyiapkan kejutan tersebut.</p>

<p>Hanya saja, ketika kejutan itu tertuju kepada dirinya. Apakah sepupunya itu pernah mengatakan tanggal berapa dia akan bertambah usia? Lagi pula, remaja perempuan satu ini terkadang suka melupakan hal yang paling penting. Dia tidak akan ambil pusing terhadap semua ini.</p>

<p>“Menurutmu, haruskah kita melibatkan tunangannya itu?” tanya sosok pemuda bersurai hijau kebiru-biruan.</p>

<p>“Itu tidak menarik, kau tahu? Bisa saja, Fauraza langsung menyuruh dirinya, untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada dia. Sebagai seorang kakak, pasti ada yang kau ketahui setidaknya beberapa perilaku dari adikmu itu.”</p>

<p>Helaan napas berat terdengar. Pemuda bersurai merah muda mengukir senyuman. “Biarkan sepasang kekasih itu, memainkan permainan mereka sendiri.” Ya, pemuda ini akan menikmatinya. Seperti orang yang berada dibalik layar dan mengamati jalan ceritanya yang ini berlangsung. Sebab, sudah ada rencana yang terbesit dipikirannya dan pemuda di hadapannya mengetahui hal tersebut.</p>

<p>“Sepertinya, dirimu sudah merencanakan sesuatu.” Lantas, hal ini dibenarkan oleh pemuda bersurai merah muda itu dengan senyuman khasnya.</p>

<p>“Tentu saja, meskipun tidak begitu menarik.”</p>

<p>“Semua yang dirimu katakan adalah kebohongan. Lagi pula, tidak mungkin kau bisa tersenyum lebar seperti itu, jika sesuatu yang sedang direncanakan justru tidak menarik.”</p>

<p>Mengusap wajahnya, tidak menduganya. Kebiasaan khasnya semenjak mereka berada dalam satu kelas yang sama, menjadi teman tanpa mengetahui latar belakang. Kalau dipikir, mereka baru mengetahui jika mereka terhubung sebagai sepupu jauh itu sewaktu SMP. Jujur saja agak menyedihkan.</p>

<p>“Ketebak sekali, ya.” Pemuda di hadapannya mulai memutar bola mata malas. Ia melirik ke arah lain, sampai akhirnya mendapati sosok yang mereka bicarakan sebelumnya.</p>

<p>Saat ini, mereka berada dalam lingkup di mana mereka berkuliah. Akan tetapi, karena jurusan mereka berbeda, susah untuk bisa bertemu. Jika bertemu pun, sewaktu makan siang saja selebihnya kalau sedang mempunyai kegiatan di luar kampus.</p>

<p>Sosok yang menjadi bincangan hangat diantara mereka, membuat pria bersurai merah muda mulai melirik ke arah mana pemuda di hadapannya ini menatap. “Ah, panjang umur juga tunangannya Fauraza. Baru saja dibicarakan ternyata bisa muncul juga anaknya. Seingatku, dia adalah teman Shika. Tapi, mengapa penampilannya sangat mirip dengan dirinya?” Pemuda itu bertanya-tanya.</p>

<p>“Jika kau sepenasaran itu terhadapnya, langsung tanyakan saja kepada orangnya,” celetuk pemuda bersurai hijau kebiru-biruan itu.</p>

<p>“Aduh, itu agak merepotkan. Tapi, sebelumnya aku pernah bertanya mengenai hal itu. Dia menjawab, <em>kalau dia ingin saja</em>,” gerutunya membalas pertanyaan dia sendiri.</p>

<p>“Kalian berdua telah mengenal satu sama lain? Lalu, mengapa kau malah memanggilnya tunangan Fauraza terus-menerus?” tanya pemuda itu lagi, yang sedari tadi berusaha mendapatkan jawaban dari perkataannya.</p>

<p>“Ah mengenai hal itu, bagaimana ya aku menjelaskannya. Jadi, dia adalah salah satu anggota dari klub Karate. Kau tahu sendiri, aku dulu pernah mengikuti klub Karate, meskipun tidak bertahan lama karena terlalu sibuk mengurus <em>trainee</em> waktu itu,” jelasnya menjeda sejenak.</p>

<p>“Hm, berarti kau tidak terlalu mengenali dirinya atau malah sebaliknya?” Pemuda ini menyimpulkan demikian.</p>

<p>“Jawabannya ada di opsi pertama, ialah alasanku memanggil dirinya seperti itu.” Figur di hadapannya menggelengkan kepala, tidak sanggup mengatakan alasan apapun lagi. Terlalu banyak informasi yang mereka lakukan, meskipun tidak terlalu berguna.</p>

<p>“Kukira kau mengenalnya.”</p>

<p>Menatap tidak percaya, <em>lebih tepatnya terkejut.</em> Pada akhirnya ia tetap membalas, “Astaga. Bahkan, saat aku ramah dan terbuka kepada banyak orang sekalipun, belum tentu anaknya akan menerima orang baru di dalam lingkungan pertemanan yang mereka miliki.” Pemuda itu mengatakannya sembari mengingatkan kepada diri yang mana, terkadang terlalu banyak berbaur dengan banyak orang sampai tidak bisa membedakan mana yang menerima ataupun tidak nyaman terhadap dirinya.</p>

<p>“Siapa yang tahu—”</p>

<p>“Halo, Kaitosawa-<em>senpai</em> juga Hizamara-<em>senpai.</em> Sudah lama tidak berjumpa dengan kalian,” sapa seseorang membuat perhatian mereka teralihkan. Terlihat seorang laki-laki dengan rambut dan mata yang senada warnanya. Setelah diperhatikan dengan lekat sekalipun, sesuai apa yang dikatakan oleh salah satu orang yang bercakap panjang lebar itu.</p>

<p>“Halo, untuk dirimu.”</p>

<p>“Ah, lama tidak berjumpa denganmu juga, Arata. Tidak perlu seformal itu denganku,” tegur pemuda bersurai hijau kebiru-biruan. Ia menolak panggilan formal yang ditujukan kepadanya, apabila seseorang ini telah menjadi bagian penting dalam hidup salah satu saudaranya. Rasanya, ia seperti membatasi diri dengan sosok yang mana tahu dikemudian hari bisa menjalin suatu hubungan yang lebih besar dibandingkan saat ini, bukan?</p>

<p>“Baiklah kalau begitu,” balas lelaki tersebut. Mengangguk pelan, menyetujui hal yang sama, supaya tidak terlalu formal diawal pertemuan dan perkenalan mereka. Hanya saja, sekarang fokus pemuda yang diajak oleh seorang Arata berbicara teralihkan kepada pemilik netra kuning. “Omong-omong, Shuu. Kau tidak berniat untuk menipuku, &#39;kan?” tanyanya dengan nada yang agak berbeda.</p>

<p>“Sudah aku katakan, itulah kenyataannya.”</p>

<p>Pembahasan mereka sedikit berbeda. Salahnya juga yang tiba-tiba menyapa, tanpa memberikan masukan untuk berbicara barang kali hanya berapa kalimat sederhana. “Oh iya, Arata. Aku ingin bertanya tentang Fauraza. Bagaimana dirinya yang sekarang? Apakah dia masih merepotkanmu sewaktu awal pertunangan kalian?” Kini giliran dia lagi yang mengutarakan pertanyaan kepada sosok yang sedari tadi mereka bicarakan.</p>

<p>Hizamara Ryutatsu, selaku kakak tertua dari Hizamara Fauraza, yang sekarang tunangannya ini sedang dilontarkan banyak pertanyaan. Tidak begitu banyak, tetapi cukup membuat dirinya harus menjawab sejujurnya.</p>

<p>“Dia tidak seperti itu, kok. Hanya saja, akhir-akhir ini dia sering memikirkan terlalu banyak entah apa saja itu, dan itu membuatnya melupakan beberapa hal penting.” Kazuhiko Arata, itulah namanya. Sering disebutkan sebagai Arata karena namanya lebih mudah diucapkan kebanyakan orang. Meskipun, mereka yang tidak akrab saja memanggilnya dengan namanya langsung. Tetapi, dia tidak begitu mempermasalahkan panggilannya.</p>

<p>Dia menunjukkan reaksi seperti orang yang sedang berpikir sekarang. Sementara untuk kedua orang yang dirinya sapa tadi saling menatap satu sama lain. <em>Sudah tidak diragukan lagi.</em> Ryutatsu tidak sanggup untuk membalas jawaban dari Arata. Sehingga, pemuda di sampingnya menggantikan. “Mohon dimaklumi perilakunya yang seperti itu, ya. Oh, satu hal lagi. Semisal Fauraza melakukan hal yang menyimpang atau nekat begitu, tolong beritahu kami atau tegur saja dirinya,” celetuk lelaki itu kepada Arata.</p>

<p>“Shuu memang benar, pasti akan ada kalanya dia melakukan sesuatu dengan nekat. Jika menurutmu itu adalah hal yang terbaik, kau bisa mendukungnya. Namun, apabila itu berbanding terbalik, sebagai kakaknya aku ingin meminta tolong kepadamu agar lebih banyak membimbing dia.” Ryutatsu menyempurnakan apa yang telah dikatakan oleh Kaitosawa Shuu baru saja.</p>

<p>“Eh? Apa itu tidak masalah?” Sejujurnya, untuk melakukan hal seperti itu saja, Arata sangat ragu. Alhasil, ia jarang sekali memberikan peringatan kepada sang tunangan.</p>

<p>“Sesekali ditegur pun tidak masalah.” Arata mengangguk tanda menyetujuinya.</p>

<hr/>

<p>Telah lama waktu dimakan oleh hari. Seolah tidak seperti biasanya, entah mengapa Arata merasa menjadi akan ada sesuatu yang mungkin bisa terjadi kepadanya dengan segera. Sewaktu pertemuan itu, Arata diberikan suatu informasi tentang hari spesial sang tunangan. Sejujurnya, dia sendiri agak terkejut.</p>

<p>Karena, Fauraza sebagai tunangannya saja tidak pernah memberitahukan hal itu kepada dirinya. Sementara Fauraza menyuruh agar dirinya mengatakan kapan dia bertambah usia. Rasanya sangat tidak adil. Sejenak, Arata terpikirkan sesuatu. Apakah mungkin jika seseorang yang sedang berulang tahun, malah memberikan kejutan kepada pasangannya? Sedikit tidak masuk akal, tetapi mungkin saja bisa terjadi, bukan?</p>

<p>Lagi pula, kalau dia bertanya kepada Fauraza mengenai hari spesialnya. Apakah dia bisa memberikan sesuatu yang berkesan sebagai hadiah kepadanya? Untuk seorang Hizamara Fauraza yang kehidupannya terjamin, berbanding terbalik dengan dirinya. Bahkan, sebab Fauraza jugalah keduanya menjadi tunangan. Walau perasaan gundahnya diawal mendapatkan kabar tercipta dengan jelas, serta perkataan beruntun dari Fauraza langsung membuat diri kewalahan.</p>

<p>Arata terlalu banyak melamun sedari tadi, hingga dirinya tidak sadar bahwa saat ini sudah ada figur indah tunangannya yang meraih tangannya yang bebas, tiada pegangan apapun. “Kak Arata!” panggil sosok perempuan yang sangat cantik, dan ternyata inilah wujud dari si tuan putri, ialah tunangannya.</p>

<p>“Kak Arata sedang memikirkan apa? Kelihatannya serius sekali,” tutur Hizamara Fauraza, itulah nama yang sungguh indah dari tunangannya sekarang ini.</p>

<p>“Bukan hal penting, kok.”</p>

<p>Menghela napas panjang. Seperti sudah menjadi kebiasaan bagi dirinya yang merasa tidak kuasa untuk mengatakan beberapa kata sekalipun. “Lalu, dengan Fauraza sendiri? Akhir-akhir ini, aku perhatikan kalau dirimu terlalu memaksakan diri. Tidak baik untuk kesehatan, tahu.” Arata mengungkapkan perhatian dari perilaku yang disedang lakukan sekarang. Ia mengelus pelan surai ungu bercampur putih itu, sembari tersenyum.</p>

<p>“Ah, oh?” Fauraza tersentak. Meskipun ini bukanlah pertama kali untuk dia yang disentuh pada bagian rambut dan kepalanya, entah mengapa perasaannya lebih cepat timbul sehingga membuat detak jantungnya bekerja lebih cepat. Langsung ia membalas, “Supaya aku bisa lebih luang diwaktu libur, makanya aku fokuskan kegiatan pada harinya. Maafkan aku, Kak Arata.”</p>

<p>“Berarti, pada waktu libur aku akan pastikan bahwa dirimu benar-benar beristirahat, seperti apa yang dirimu inginkan.”</p>

<p>Fauraza menggelengkan kepalanya pelan. “Bukan untuk menikmati waktu libur dengan beristirahat. Aku ingin menghabiskan waktu bersama Kak Arata, karena sudah lama aku tidak jalan-jalan bersama Kak Arata, hehe.” Hal ini membuat Arata mendadak bingung. Ia mengira bahwa Fauraza akan istirahat, ternyata ia meluangkan waktu hanya untuk berjalan berdua bersama dirinya. <em>Ah, tunggu, hanya berdua?</em></p>

<p>Padahal, hal yang paling Arata ketahui ialah Fauraza yang selalu bersama dengan pelayannya. Menurut Arata sendiri, pelayannya yang sudah lama mengurusnya lebih mengetahui apa saja yang Fauraza inginkan dan apa yang dirinya sukai. Tidak seperti dirinya yang baru memiliki hubungan dengan Fauraza yang bahkan belum genap satu tahun.</p>

<p>“Kira-kira, hari ini Kak Arata ada waktu luang?” tanya Fauraza, mengalihkan atensi dari Arata yang kembali terdiam dalam pemikirannya.</p>

<p>“Hari ini?” Arata sejenak bergumam, ia merogoh ponsel pintar miliknya. Menatap lekat sesuatu di ponselnya. “Aku punya waktu luang,” jawab Arata kemudian. Arata telah menyadari, karena sempat melihat sekilas tanggal pada hari ini. Ya, semoga saja dia tidak terlambat, bukan?</p>

<p>2 Oktober. Itu adalah hari di mana Fauraza bertambah usia, dan pada hari itulah Fauraza yang mengajaknya. Ah, kalau dipikir seharusnya orang yang memberikan kejutan yang akan mengajaknya. Tetapi, ini malah orang yang sedang berulang tahun. Tidakkah ini terasa aneh?</p>

<p>“Asik! Aku punya tempat yang bagus dan pemandangannya cantik, nanti kita kesana bersama Kak Shuu, oke?” ujar Fauraza.</p>

<p><em>Tunggu, apa?</em> Haruskah ada satu orang yang perlu berada disekitar Fauraza, disaat dia sedang bersama dengan dirinya? Arata tidak tahu mengapa perasaannya sering kali berubah seperti ini. Hanya saja, ia seperti berada dalam perputaran yang hanya mereka saja yang mengetahui kejadian itu. Lagi pula, Arata hanya mengetahui hubungan keduanya sebagai sepupu jauh. Dan, untuk selain itu sepertinya tidak ada yang bisa ia ketahui.</p>

<p>“Oh, Kaitosawa-<em>senpai</em>? Boleh saja. Kira-kira berangkatnya pukul berapa? Aku perlu izin dahulu sama keluargaku, takutnya malah mereka yang melarangku.” Arata menjadi kikuk dan merasa tidak enak. Padahal, remaja zaman sekarang sering kali bepergian keluar untuk menikmati hari sebagai masa muda. Bahkan, jika mereka sudah dewasa pasti mereka akan lebih memilih beristirahat dan tidak terlalu banyak beraktivitas di luar. Sehingga, hanya mendapati aktivitas di mana jika saja ada yang mengajak.</p>

<p>Fauraza terdiam sebentar. Ternyata, ia melupakan sesuatu yang terpenting. Mengingat dirinya yang telah lama tinggal berpisah dengan orang tua, membuatnya bebas untuk bepergian tanpa izin. Paling-paling meminta izin dengan Ryutatsu saja ataupun meminta izin kepada Shuu. Namun, entah mengapa ketika dirinya mendengarkan ucapan dari Arata, ia teringat kenangan lama di mana dirinya tinggal bersama kedua orang tuanya. Sebenarnya, Ryutatsu juga tinggal sendiri seperti dirinya. Akan tetapi, karena ditemani oleh pelayan, dia tidak akan sendiri di dalam rumah sebesar itu.</p>

<p>“Semoga diizinkan, ya. Oh, iya perjalanannya dimulai siang ini karena mungkin agak memakan waktu karena kita juga menggunakan kendaraan mobil. Kak Arata ada riwayat mabuk perjalanan tidak?” tanya Fauraza lagi.</p>

<p>“Ah, aku tidak ada riwayat mabuk perjalanan, kok. Lagi pula waktu pertama kali dijemput dengan pelayanmu itu, untuk menghadiri acara keluarga kita. Dia mengantar kami sekeluarga menggunakan mobil, bukan?” balas Arata yang mana dia juga hanyut dalam memori masa lalu.</p>

<p>“Oh, iya! Aku lupa, hehe.” Fauraza mengatakan hal itu, tanpa mengetahuinya kalau Arata tetap menatap dirinya sembari menampilkan senyuman tipis pada wajah.</p>

<hr/>

<p>“<em>Yaaho~</em>“</p>

<p>Sapaan telah terdengar. Kini waktunya bagi mereka untuk bisa berjalan bersama, meskipun cuacanya cerah. Tetapi beruntung saja karena mereka menggunakan mobil yang mana atap di dalamnya tertutup. Meskipun ada juga yang bisa terbuka, syukur saja ini lebih baik untuk melindungi mereka.</p>

<p>“Ah, halo Kaitosawa-<em>senpai!</em>” Arata balik menyapa dirinya juga.</p>

<p>“Maaf, kalau aku nimbrung kencan kalian, ya~ Kakaknya Fauraza itu memang ada-ada saja,” gerutu pemuda bersurai merah muda itu, yang entah kenapa ia merasa kesal karena bisa terseret dalam permainan yang mana itu dari dirinya sendiri.</p>

<p>Sesungguhnya, Shuu hanya berdalih dengan alasan seperti itu. Karena faktanya, ia telah merencanakan hal itu dengan Ryutatsu untuk membuat hubungan kedua tunangan ini tidak akan lebih jauh dari kata akrab. Ya, semoga saja pada hari ulang tahunnya Fauraza ini, mereka bisa lebih akrab dan membuka diri. Lalu, bagaimana dengan Shuu? Dia hanya akan mengamati dan kemudian memberikan laporan kepada Ryutatsu setelahnya.</p>

<p>Ryutatsu melakukan itu untuk membatasi pergerakan Fauraza yang akhir-akhir ini, terlalu banyak beraktivitas di luar lingkungan kampus. Sehingga, tidak ada yang bisa mengawasi dirinya. Selain itu, meskipun Arata merupakan tunangannya, mereka bahkan belum seakrab itu untuk sekadar bergandengan tangan. Hanya, Fauraza yang selalu berusaha memulai untuk bisa mendekati dirinya.</p>

<p>“Tidak masalah, <em>Senpai.</em>“</p>

<p>“Baiklah, kalau begitu aku punya ide untukmu.”</p>

<p>Suatu ide dibisikkan kepadanya, melupakan Fauraza yang sedang berbincang dengan Keluarga Kazuhiko akhirnya telah kembali. Fauraza sendiri tidak akan mengganggu percakapan mereka yang mungkin penting, sampai harus berbisik seperti itu. Membuatnya menegur karena mungkin, takut teralu lama berleha-leha. Tidak seperti Fauraza yang biasanya.</p>

<p>“Kak Shuu, Kak Arata! Ayo, kita berangkat, aku sudah selesai.”</p>

<p>Shuu yang telah menyadari keberadaan Fauraza hanya mendiamkan diri tadi, dengan ucapan yang sedang dia rencanakan untuk para kekasih yang berada dalam bimbingannya ini. Ia kembali menoleh ke arah Fauraza yang ternyata telah berada di dekat mobil yang Shuu bawa. “Seperti yang aku katakan, begitu saja kejutannya. Selebihnya, tergantung apa yang akan kalian lakukan. Ah, sebentar dirimu tidak memiliki alergi terhadap serbuk sari dalam bunga, kan? Fauraza memang tidak ada, tapi takutnya malah dirimu yang mengalaminya.”</p>

<p>Arata menggeleng pelan, “Baiklah, aku akan berusaha. Lalu, untuk pertanyaan itu, aku tidak memiliki alergi terhadap bunga, <em>Senpai.</em>” Ia mengatakan demikian, karena memang dia hampir tidak diketahui memiliki riwayat ataupun alergi terhadap sesuatu.</p>

<p>“Baguslah, ayo kita menyusul.” Arata dan Shuu, menyusul ke dalam mobil yang agak jauh dari halaman rumah Arata. Sekalian bisa putar balik, kalau kata Fauraza. Alhasil, mereka menempuh menuju mobil dengan berjalan kaki.</p>

<p>“Kalian berdua sudah siap?” Shuu yang akan menyetir mobil tersebut. Dengan penghuninya adalah Arata dan Fauraza yang duduk dibelakang. Kalau melihatnya, mungkin orang-orang akan beranggapan kalau dirinya adalah sopir. Akan tetapi, saat ini hanya itu peran baginya.</p>

<p>Mereka berdua menikmati perjalanan yang agak jauh, yang mana tidak seperti bisanya. Dalam perjalanan itu, Arata mengingat kembali apa saja yang Shuu katakan tadi mengenai kejutan yang ternyata sepenuhnya direncanakan oleh dirinya. Tetapi, berdalih bahwa semua itu karena dia yang disuruh oleh Ryutatsu untuk menjaga Fauraza.</p>

<p><em>“Tujuan kita kali ini adalah taman bunga. Tempat itu sebenarnya adalah tempat favorit dari orang tuaku, yang entah mengapa bisa menurun kepadaku juga. Lalu, di sana biasanya akan ada orang yang memberikan karangan bunga. Kalau bisa, dapatkan saja karangan bunga Aster Kuning dan peran untukmu menggunakan karangan itu ke atas kepala Fauraza.”</em></p>

<p><em>“Nanti aku akan memberikannya kepadamu, kalau memang aku bisa mendapatkannya. Untuk artinya, dirimu bisa mencari di situs online, bukan? Ya, lakukan saja itu selama dalam perjalanan. Aku yakin, itu bisa mengekspresikan kepribadiannya,”</em> ujar Shuu disaat berbisik dengan dirinya. Hingga saat itulah, Fauraza hadir dan menegur mereka berdua untuk segera berangkat.</p>

<p>Kembali ke masa sekarang, sesuai apa yang Shuu katakan tadi. Ia mulai sibuk mencari suatu makna dari bunga yang dikatakan oleh dirinya. Meskipun Fauraza agak penasaran dengan apa yang Arata lakukan, ia berusaha tidak mengusik Arata secara berlebihan. Sudah cukup dirinya yang di masa lalu terlalu memaksakan kehendaknya.</p>

<p><em>Masa lalu yang mana membuatnya bisa berubah, berkat omongan dari Ryutatsu. Ia telah mengutarakan permintaan maaf kepada Arata, tentang apa yang dia lakukan supaya mereka bisa bertunangan.</em></p>

<p><em>Meskipun begitu, itulah pertama kalinya Fauraza menggunakan panggilan &#39;Kak&#39; di depan nama Arata, yang bahkan sebelum itu dirinya memanggil tanpa sufiks tersebut.</em></p>

<p>Arata yang telah mengetahui apa makna dari balik bunga yang dikatakan oleh Shuu. Ia mengukir senyum tipis. <em>Ternyata, makna dari suatu bunga bisa begitu banyak yang sesuai.</em> Ia melirik Fauraza yang entah kenapa, ekspresinya tidak seperti mereka yang diawal. Seperti memancarkan ekspresi sedih, membuat Arata menepuk pelan bahu dari Fauraza seraya memanggil, “Fauraza.”</p>

<p>Fauraza sendiri tidak begitu mengamati suasana saat ini. Sehingga, ia bisa terkejut seperti itu. “Ah, maafkan aku. Ada apa, Kak Arata?” tanya Fauraza berusaha mengekspresikan dirinya dengan baik, seperti apa yang dia lakukan sebelum mereka berangkat bersama.</p>

<p>Sementara Shuu, sesuai apa yang dia lakukan bersikap seolah-olah dia hanya sebagai sopir untuk sepasang kekasih ini, dan akan melaporkan kejadian ini kepada sang Kakak dari Fauraza itu sendiri. “Fauraza terlihat seperti ingin menangis, apa terjadi sesuatu?” tanya Arata berusaha mengutarakannya dengan nada pelan.</p>

<p>Fauraza benar-benar dibuat terkejut bukan main. Ternyata, Arata menyadari itu semua. “Ah, tidak kok. Aku tidak ada masalah,” sahut Fauraza yang sepertinya menyembunyikan masa lalu.</p>

<p>“Anak itu berbohong, kau tahu?”</p>

<p>“Eh?”</p>

<p>“Kak Shuu!”</p>

<p>“Baiklah, abaikan saja itu tadi. Kebetulan kita akan segera sampai,” ucap Shuu yang pada akhirnya mengalihkan pembicaraan mereka, yang  mana takut berujung kisah yang memilukan di hari spesialnya Fauraza yang entah menyadarinya atau tidak, bahwa dirinya akan menjadi korban dari rencananya Shuu.</p>

<p>Hingga, pemandangan itu tampak sangat luas. Dari luarnya saja sudah membuat mereka semua terpukau. “Wow, Kak Shuu pemandangannya indah sekali!” seru Fauraza yang mana mungkin terlalu bersemangat.</p>

<p>Pada akhirnya, mereka telah sampai dan memutuskan untuk turun terlebih dahulu. Sementra untuk Shuu, akan menyusul karena dua mencari tempat untuk memarkirkan mobil yang dia gunakan selama mentantar mereka berdua.</p>

<p>Angin berembus menyejukan tubuh. Padahal, langin masih cerah, belum menuju senja. Akan tetapi, suasananya mendukung sekali. Bahkan, lokasi yang mereka pijaki ini terdiri dari banyaknya hamparan bunga, sampai akhirnya mereka agak takut kalau tidak sengaja menginjak bunganya.</p>

<p>Sembari menunggu Shuu, Fauraza bersama Arata memutuskan untuk membelikan tiket masuk untuk mereka semua. Kemudian, Shuu memasuki tempat itu dan mulai menjelajahi lokasi menyegarkan pemandangan mata bersama-sama.</p>

<p>Shuu menyarankan agar mereka berdua berpisah. Di mana Arata dan Fauraza akan bersenang-senang bersama, sementara dirinya akan mengambil beberapa foto untuk dibagikan kepada Fauraza. Ya, Fauraza sudah berpesan kepada dirinya. Mengingat Shuu juga mahir dalam mengambil gambar yang bagus, sehingga Fauraza mempercayainya.</p>

<p>Shuu sendiri mengabadikan gambar di mana Fauraza bisa bersenang-senang dengan Arata. Menurutnya, untuk apalagi dirinya harus mengawasi mereka berdua, lagu pula keduanya tidak akan bersikap aneh-aneh. Asalkan mereka bisa menjaga diri masing-masing saja, sudah lebih baik.</p>

<p>Saat itu juga, Shuu mendapati seorang yang memang membagikan karangan bunga. Walau sebenarnya ada juga yang berkenan mengajarkan mereka untuk merangkai karangan bunga. Ya, tidak butuh waktu lama, ia mendapatkan tiga rangkaian karangan bunga itu. Kalau ditanya untuk siapa saja, tentu saja untuk mereka bertiga. Lalu, siapa yang akan memakaikannya? Itu akan dia serahkan kepada Fauraza.</p>

<p>“Seharusnya tadi aku meminta <em>ID Line</em> milik dia.” Shuu bergumam pelan dan dia merutukinya. Namun, saat itu dia melihat Arata ternyata berhadapan dengan keberadaan dia saat itu, sementara Fauraza membelakangi dirinya. Ia mulai mendekati mereka. Tetapi tidak terlalu dekat, sampai akhirnya Arata melihat sosok itu dan memutuskan untuk pergi sejenak menemui Shuu.</p>

<p>“Fauraza, sepertinya Kaitosawa-<em>senpai</em> sedang memanggilku. Aku pergi sebentar dan nanti aku akan kembali, tidak apa-apa kan?” tanya Arata yang mana membuat dahi Fauraza berkerut.</p>

<p>“Tunggu, memanggil? Kok, aku tidak kedengaran. Ah, tunggu. Kak Arata tetap memanggilnya seperti itu, berarti belum memiliki ID Line milik Kak Shuu, ya?” Arata terdiam, takut apa yang direncanakan oleh Shuu dibalik semua ini akan gagal.</p>

<p>Sehingga, Arata menganggukinya pelan. “Tadi, dia melambaikan tangan kepadaku, siapa tahu dirinya ingin memanggilku, hanya saja takut tidak nyaman untuk mengganggu kegiatan yang sedang Fauraza lakukan dalam menikmati keindahan bunga yang ada.” Fauraza tidak percaya bahwa Arata akan menjelaskan hal ini, supaya Fauraza tidak salah paham. Padahal, ia sudah mengetahui gerak-gerik Shuu yang semenjak awal sudah berbeda menurut dirinya.</p>

<p>“Lalu, untuk <em>ID Line</em>, itu memang benar. Kami tidak begitu akrab, hingga saling menukar <em>ID Line</em>, jadinya itu merumitkan untuk Kaitosawa-<em>senpai</em> yang akan memanggil diriku, begitu?” Arata memberikan reaksi dirinya seperti orang yang sedang menyimpulkan sesuatu.</p>

<p>Semua yang Arata tampilkan, sungguh membuat Fauraza mengundang tawanya. “Baiklah, silakan bertemu dengan Kak Shuu. Tetapi, jangan lupa kembali, ya!” Fauraza memutuskan untuk kembali kepada aktivitasnya. Ia memang gemar mengamati banyaknya bunga yang tumbuh di daerah itu.</p>

<hr/>

<p>Di samping itu, Arata telah menyusul ke arah Shuu. Yang mana mungkin telah menimbulkan pemikiran aneh, sehingga Shuu hanya mengatakan sedikit, “Pasangkan ini kepada dirinya dan katakan apa yang ingin dirimu katakan untuknya.” Shuu telah menyerahkan satu rangkaian karangan bunga Aster Kuning. Menurut Arata, itu tampak indah. Dan bahkan, mungkin lebih mirip warnanya dengan netra milik Shuu saat itu. Sama-sama berwarna kuning.</p>

<p>Arata kembali mendekati Fauraza yang sibuk dengan kegiatannya, ia pun memakaikan karangan bunga tersebut. Hal itu sukses membuat dirinya terpaku karena kaget. Fauraza tidak menduga, bahwa seorang Arata bisa melakukan seperti ini. Tetapi, dengan cepat Fauraza menyimpulkan bisa saja semua ini karena Shuu. Mengingat sedari tadi Arata berada dekat dengan Shuu. Ia tidak terlalu mengekang dirinya.</p>

<p>“Selamat ulang tahun, Fauraza.”</p>

<p>Fauraza memang terkejut, tetapi karena memikirkan apa yang telah terjadi saat itupun, ia langsung mengumbar tawa dengan kepalanya telah ada rangkaian bunga yang dimaksud oleh Shuu saat tadi.</p>

<p>“Ah, ternyata Kak Arata sudah mengetahuinya. Terima kasih banyak!” umbarnya senang.</p>

<p>“Terima kasih juga untukmu. Apabila aku pikirkan, kebahagiaan kini telah banyak yang dirimu sumbangkan kepadaku. Tunggu, itu terlalu menyedihkan. Bagaimana jika dengan dirimu yang sudah memberikan banyak kebahagiaan kepadaku sekarang? Meskipun, aku sendiri tidak pernah mengetahui hari spesialmu sebelum akhirnya diberitahukan. Sepertinya, agak tidak adil untukku,” jelasnya Arata panjang lebar.</p>

<p>Fauraza benar-benar bahagia, ia tidak menduga bahwa seorang Arata bisa berkata demikian. Meskipun pada bagian akhirnya cukup menyindir bagi Fauraza yang mana menyembunyikan hari ulang tahunnya, bahkan kepada tunangannya sendiri. Tentu saja, hal itu sangat tidak adil bagi Arata.</p>

<p>“Tentu saja, jika aku berbahagia maka Kak Arata harus bahagia juga! Lalu, tentang itu, <em>hehe.</em> Maafkan aku, tetapi Kak Arata mengetahui ulang tahunku dari siapa?” Hal ini sedikit membuat Fauraza penasaran, ia menebak bahwa itu dikatakan oleh Shuu, akan tetapi tebakan hanyalah tebakan. Bisa saja dirinya yang salah.</p>

<p>“Ah, itu diberitahukan oleh kakakmu. Belum lama ini, mungkin lusa kemarin?” Arata sedang mengungkit kisah di mana pertemuan mereka waktu itu.</p>

<p><em>“Apa dirimu sudah diberitahukan oleh Fauraza mengenai ulang tahunnya, yang tidak lama lagi?”</em> Saat itu bukanlah Ryutatsu yang mengatakan, melainkan Shuu yang mengucapkannya.</p>

<p>Ketika dirinya mulai menggelengkan kepala, sahutan datang dari Ryutatsu, <em>“Lusa nanti, tanggal 2 Oktober itu adalah hari ulang tahunnya.”</em></p>

<p>Rasanya saat itu Arata benar-benar tidak tahu harus bersikap apa dengan waktu yang hanya dua hari sampai akhirnya, tibalah saat ini berkat adanya bantuan dari Shuu yang telah merencanakan sesuatu dari awal.</p>

<p>“Oh, begitu.”</p>

<p>“Halo, kalian. Oh, sepertinya sudah selesai? Omong-omong ini untuk dirimu Fauraza, kau bebas memberikannya kepada siapapun. Atau mungkin, kau akan memberikannya kepada Arata,” ujar Shuu setengah bercanda. Ia memang sangat menyarankan agar Fauraza memberikan sesuatu yang dia serahkan kepadanya untuk Arata, agar mereka terlihat seperti <em>couple.</em></p>

<p>“Kak Shuu, kebiasaan! Terima kasih untuk semua ini, dan lalu siapa yang memasangkan karangan bunga itu diatas kepala Kak Shuu?” Fauraza menyadari suatu perbedaan yang mana, Shuu juga telah menggunakan karangan bunga diatas kepalanya. <em>Akan tetapi, siapa orang yang memakaikan karangan bunga itu kepada dirinya?</em></p>

<p>Shuu sebenarnya ingin tertawa ketika mengingatnya, “Ada seseorang yang memasangkannya kepadaku, dikala aku mengamati kalian dari jauh. Sepertinya dia menganggap aku sedang patah hati, mungkin?” guraunya bercanda, meskipun fakta bahwa dia mengamati dan ada orang yang memasangkan karangan bunga itu adalah benar.</p>

<p>“Woah, tidak kusangka. Ternyata, ada orang baik yang memasangkannya untuk Kak Shuu.” Fauraza juga ikutan bercanda dengan nada yang mungkin menurut Arata itu adalah sindiran.</p>

<p>Arata memang tidak mengerti hubungan mereka berdua, sampai tidak masalah dengan sindir-menyindir seperti itu. Alangkah baiknya, ketika Arata juga menyadari fakta bahwa Fauraza kini mmasangkan karangan bunga yang diberikan oleh Shuu diatas kepalanya. Posisi mereka saat ini sedang duduk di antara rangkaian bunga yang bertaburan diatas rumput yang halus ini.</p>

<p>“Baiklah, terima kasih untuk semua ini, khususnya kepada kalian berdua. Senang sekali rasanya, aku jadi terlibat dalam permainan kalian sekarang. Lalu, untuk Kak Shuu sendiri, syukur saja ada orang yang mau memasangkannya. Jadi, aku kan hanya memasangkan untuk Kak Arata.”</p>

<p>Fauraza mengatakan hal itu, membuat Arata tertegun. Ia tidak menyangka terdapat hal positif dari balik kejadian ini. Meskipun interaksi yang keduanya jalin terlihat lebih dekat daripada keluarganya sendiri, membuatnya merasakan sedih.</p>

<p>“Sudah cukup menyindirku, ya.”</p>

<p>Keduanya mengutarakan tawa yang tidak bisa terbendung, bahkan hal itu menularkan tawa kepada seorang Kazuhiko Arata. Jujur saja, inilah kebahagiaan yang ingin dirinya peroleh semenjak bertunangan dengan Fauraza.</p>

<p><em>Terima kasih untukmu, yang sudah memberikan kebahagiaan seperti ini kepadaku. Meskipun, pada dasarnya dirimulah yang berulang tahun dan bukan diriku. Untuk semua dukungan ataupun saran, dirimu berikan kepadaku itu sangat berkesan bagiku. Tidak cukup sampai sana, karena terlalu banyak usaha yang dirimu lakukan, hanya demi seorang seperti aku.</em></p>

<p><em>Terima kasih telah ingin menerimaku sebagai tunanganmu.</em></p>

<p><strong>End.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/kebahagiaan-kini</guid>
      <pubDate>Mon, 02 Oct 2023 22:14:45 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Terima Kasih Telah Bersama</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/terima-kasih-telah-bersama?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Kazuhiko Arata × Hizamara Fauraza &amp; Reinou.&#xA;  #FaureOCs; #AraFau, #NouZa.&#xA;&#xA;   At first they didn&#39;t know each other, in the end thank you for accepting.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #OriFictArchives.&#xA;  #FaureStory; Travel Chain Universe. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Sudah dari beberapa hari yang lalu, kepala Fauraza lebih banyak memikirkan pemikiran lebih dari biasanya. Sejujurnya, menurut orang yang menjadi teman-teman dia ini, tidak begitu mengerti mengapa perubahan manusia terkadang bisa cepat, bisa berjalan lambat.&#xA;&#xA;   Meskipun, pemikirannya kacau ada satu hal yang selalu mengganggu pikiran. Hari bahagia, untuk seseorang yang telah bersamanya hingga sekarang. Kalau mengatakan hal ini, satu hal yang terpikir ialah keluarga ataupun pasangan, akan tetapi tebakan itu adalah kesalahan.&#xA;&#xA;   Sosok yang telah menemaninya, selama orang tua dan saudaranya mulai tinggal dirumah yang berbeda. Sesungguhnya, tiada hubungan khusus dari relasi mereka. Hanya sebatas orang yang telah dipercayai, tetapi bisa berada disisi dirinya.&#xA;&#xA;   Ada sekitar tujuh tahun berlalu, meski untuk mereka belum genap tujuh tahun. Dan, itulah hari bahagia yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Terkadang, solusi ataupun ide yang dia pikirkan untuk merayakan tidaklah berguna, karena terlalu biasa. Fauraza lebih suka sesuatu yang terkesan bermakna dan berharga, walau tidak begitu mewah.&#xA;&#xA;   Fauraza mengingat memori ketika pertama kali bertemu dengannya, hal yang paling menyenangkan untuk dia. Tetapi, tidak begitu menyenangkan setelah mereka bisa lebih dekat. Mungkin, Fauraza selalu beranggapan bahwa hidupnya terlalu baik sampai tidak memiliki kesedihan. Ketika sosok itu datang, dia menceritakan kesedihan, Fauraza merasa bisa rapuh dalam seketika. Setegar apapun seorang manusia, tidak ada yang lebih tegar dari Yang Maha Kuasa.&#xA;&#xA;   Semua begitu menyedihkan, tetapi juga seiring waktu berjalan terdengar menyenangkan. Larangan demi larangan, Hizamara Fauraza tersenyum dikala itu. Tidak pernah menduga, setelah sekian lamanya menjadi orang spesial dalam rumah yang dia tinggali, proses perkembangan diri figur indah itu bisa dilihat dari tahun ke tahun.&#xA;&#xA;   Untuk beberapa kejadian, Fauraza jujur tidak ingin melepaskan kehadiran manusia yang menurutnya berharga bagi dirinya. Bahkan, jika Fauraza ingin jujur, saudara laki-laki dan perempuannya selalu memutar mata malas. Mereka sudah tahu, bagaimana Fauraza bisa dengan mudah menempel dan melekat terus-menerus dengan sosok itu.&#xA;&#xA;   Terkadang, Fauraza merasa bahwa apakah mungkin dia menjadi terkekang, karena terus berada di dalam rumah? Begitu banyak pikiran yang ada di dalam otaknya. Meski begitu, dia ingin sesekali mengajak pemuda itu bisa berjalan sana-sini.&#xA;&#xA;   Ucapan miring pernah ia dengar, disaat ia berjalan berdampingan bersama pemuda itu. Jika dipikir lebih banyak lagi, seorang majikan memang tidak diperbolehkan berjalan berdampingan bersama pelayannya, bukan? Itu terdengar tidak sopan. Namun, semua gambaran itu ditepis oleh Hizamara Fauraza.&#xA;&#xA;   Saudaranya selalu lebih tegas memberi peringatan, bahwa hubungan mereka tidak bisa lebih dari itu. Namun, ada banyak cara sampai akhirnya Fauraza merasa muak tuk mendengarkan pernyataan itu.&#xA;&#xA;   Awal, mereka tidak saling mengenal. Akhir, mereka telah mengenal satu sama lain, dan sekarang telah bersama. Ya, bersama dalam satu rumah. Walaupun dikata mereka hanyalah pelayan, Fauraza mengizinkan mereka untuk mendiami tempat itu.&#xA;&#xA;   Tinggal sendiri tidak lebih baik, daripada tinggal bersama. Ada kalanya, Fauraza menyesal untuk memutuskan rumah yang berbeda dengan keluarganya, tetapi yang namanya keputusan sudah ditetapkan.&#xA;&#xA;   Fauraza mungkin terlalu memanjakan semua pelayannya, sehingga mereka terkadang selalu disuruh untuk memanggil dengan namanya saja. Terdengar agak menyebalkan, bukan?&#xA;&#xA;  Hingga, semua pemikirannya lenyap ketika ada seorang yang menyebut nama lengkap milik dia. &#34;Hizamara Fauraza, apa dirimu mendengarkanku?&#34; tuturnya, mungkin terlalu lembut sampai sang pemilik nama bahkan, tidak bisa mendengarkan panggilan itu akhirnya menoleh.&#xA;&#xA;   &#34;Ah, Kak Arata! Maafkan aku, kenapa Kak Arata berada di sini?&#34; Fauraza melirik ke sekeliling, saat ini tidak begitu banyak orang yang berkunjung ke taman kampus. Orang-orang cenderung menyukai sekumpulan mereka berkumpul dengan sesama mereka. Entah itu derajat, kelompok, jenis kelamin, tergantung dari bagaimana mereka berbaur.&#xA;&#xA;   &#34;Aku melihat dirimu dari kejauhan, melamun sedari tadi takutnya kerasukan.&#34;&#xA;&#xA;   Alis Fauraza mengerut, tidak biasanya orang yang pasangannya memberika  perilaku seperti ini. &#34;Kak Arata diajari siapa bisa seperti itu?&#34; tanya Fauraza, walaupun kesal tetapi ia berusaha menahan diri karena apa yang dikatakan oleh sosok yang  belum ada genap dua tahun menjalin hubungan dengan dirinya.&#xA;&#xA;   &#34;Tidak diajari siapa-siapa, hanya saja Yoshikazu pernah bilang seperti itu, ketika aku melamun dalam waktu lama.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Astaga! Jadi Kak Arata mempraktikannya kepadaku, begitu?&#34; balas Fauraza yang sudah terasa semakin kesal.&#xA;&#xA;   &#34;Ah, sepertinya agak menyinggung dirimu, aku minta maaf.&#34; Kazuhiko Arata memberikan reaksi mengusap leher belakangnya, sejujurnya ia mengira hal seperti itu bisa dikatakan sebagai candaan, tetapi bisa saja tidak.&#xA;&#xA;   Ah, dia lupa akan sesuatu, Tsukihiko Yoshikazu yang dia ujarkan tadi, merupakan sepupu Fauraza sebelah Ibunya, dan dia pernah mengatakan bercanda diakhir. Tetapi, dia tidak mengatakan hal itu, ia sedikit menyesal sepertinya?&#xA;&#xA;   Menghela napas panjang, &#34;Ya, tidak mengapa. Tetapi, sebaiknya jangan begitu lagi, Kak Arata. Oh, tunggu apakah aku harus protect Kak Arata dari Shika? Dia menyebalkan sekali.&#34; Fauraza menggerutu sendiri, setelah melayangkan ucapan kepadanya.&#xA;&#xA;   &#34;Tidak perlu sampai seperti itu, ya.&#34; Arata melirik ke arah Fauraza yang menyuruh dirinya untuk duduk bersamanya di taman kampus saat ini.&#xA;&#xA;   &#34;Baiklah. Ah, kebetulan sekali. Aku ingin bertanya mengenai pendapat Kak Arata, bagaimana cara membuat ulang tahun seseorang bisa berkesan?&#34; tanya Fauraza mulai mengalihkan topik pembicaraan, sebab Arata sepertinya tidak ingin membahas hal tadi.&#xA;&#xA;   Pemuda yang lebih tua satu tahun berada di hadapan melirik bingung. &#34;Ulang tahun siapa?&#34; tanya Arata, yang sepertinya ingin tahu.&#xA;&#xA;   Fauraza melupakan suatu hal. Meskipun dia pernah menceritakan sosok yang sedang berulang tahun ini, dia belum pernah menceritakan tentang hari kelahiran sosok dia. Kalau diceritakan pula, malah ia yang terlihat menyedihkan. Ia telah mengetahui cerita dibalik hari kelahiran figur indah, kini telah menemaninya sedari anak-anak tumbuh menjadi remaja.&#xA;&#xA;   &#34;Aduh, sepertinya aku lupa cerita. Kak Arata tahu Reinou pelayanku, kan?&#34; tutur Fauraza memastikan terlebih dahulu. Arata yang mengetahuinya dari Fauraza sebagai majikan pemilik nama tersebut, sekarang menganggukinya pelan.&#xA;&#xA;   Hingga, Arata sendiri menyadari, apakah mungkin kalau Fauraza sedang membahas tentang ulang tahun Reinou, pelayannya? Namun, ia urungkan pernyataan tersebut.&#xA;&#xA;   &#34;Jadi, ini tentang ulang tahun Reinou, cuma aku bosan kalau sekadar rayakan begitu. Mending sesuatu yang berkesan, daripada yang mewah. Rencananya, aku masih bingung. Antara mengajak jalan bersama terus berikan surat terima kasih untuk selama ini, atau apa.&#34;&#xA;&#xA;   Arata hanya mengulum senyum, dia sendiri sudah menyadari bahwa semenjak pertama kali Reinou diperkenalkan kepadanya, hubungan mereka lebih dekat bahkan melebihi keluarga miliknya sendiri. Rasanya iri, tetapi hubungan mereka hanyalah sebagai tunangan dan belum menikah. Memikirkan hal ini membuatnya menundukan kepala.&#xA;&#xA;   Saat ditanyai oleh Fauraza, mengapa. Arata hanya berdalih mengatakan sesuatu yang jelas-jelas, tidak langsung dipercaya. Namun, Arata terkejut karena Fauraza benar memercayainya.&#xA;&#xA;   &#34;Itu sudah bagus, kok. Kalau tidak salah, dirimu sendiri pernah bilang, jika pernah membelikan pakaian untuk dia. Bagaimana kalau ketika berjalan bersama, suruh saja Reinou gunakan pakaian tersebut?&#34; saran Arata.&#xA;&#xA;   Sebenarnya, Arata tidak banyak menyumbangkan ide. Dia meringis sewaktu mengingat dan membayangkan hal ini. Akan tetapi, untuk seorang Fauraza yang pernah sepupunya kenalkan, seperti inilah seorang Hizamara Fauraza.&#xA;&#xA;   Terbuka dengan banyak orang, berlebihan dalam memperhatikan seseorang. Terkesan seperti mengistimewakan seseorang, padahal mereka sebatas orang yang telah banyak melakukan hal bersama ataupun saling mengenal.&#xA;&#xA;   &#34;Oh iya! Jika dipikir, Reinou selalu menggunakan seragam pelayan. Sepertinya bisa menggunakan pakaian yang pernah dibeli waktu itu. Terima kasih atas sarannya, Kak Arata!&#34; ujar Fauraza dengan ukiran senyum sempurna. Sepertinya, ia sungguh senang dengan ide tersebut.&#xA;&#xA;   &#34;Ya, sama-sama. Semoga berhasil, lalu kalau boleh aku tahu kapan peristiwanya?&#34; tanya Arata lagi.&#xA;&#xA;   &#34;Hari ini, tanggal 20 September.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Eh?&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Tidak seperti Fauraza yang biasa. Bahkan, hal ini diluar dugaan menurut teman-teman yang mengenali dirinya. Meski begitu, Fauraza tetap akan membalas ketika ditanyai sesuatu oleh mereka yang berkepentingan. &#34;Dimulai dari mana ya ...,&#34; gumam Fauraza, yang sedari tadi mulai menuliskan kata-kata yang menurutnya lebih baik didengar.&#xA;&#xA;   Sejenak larut dalam pemikirannya, tetapi ia tetap berusaha fokus dengan pembelajaran. Walau apa yang dijelaskan, terkadang menjadikan dirinya seperti sesuatu yang menyebalkan. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Kondisi yang mencerminkan sosok Fauraza dikala sekarang ini.&#xA;&#xA;   Hanya terdapat beberapa mata kuliah yang dia ikuti, sehingga pulangnya tidak terlalu menjelang senja. Seharusnya ia lebih banyak bersyukur berkat hal ini. Dosen yang menjadi pembimbingnya dalam kegiatan belajar-mengajar, tidak memiliki kesibukan dan langsung mengajar di waktu yang sama setelah istirahat selesai.&#xA;&#xA;   Tidak terasa, jemputan Fauraza telah menunggu. Ah, ternyata Reinou. Fauraza melukis senyuman cerah, meskipun banyak kejadian yang membuat bibir miliknya melengkung terbalik. Ia cemberut, memikirkan banyak hal.&#xA;&#xA;   &#34;Sepertinya Nona Fauraza mengalami hari yang menyenangkan.&#34; Pelayan yang sedari tadi berada dalam pikirannya, yaitu Reinou. Meskipun bukan sebuah nama asli, dibaliknya ada pemikiran sang majikan saat memberinya nama itu. Akhirnya, Reinou mengambil alih percakapan, sembari mengendarai sebuah mobil. Sebelumnya, Reinou telah mendapatkan pelatihan sehingga sangat memungkinkan untuknya mengantar jemput sang majikan.&#xA;&#xA;   Apabila kedua orang tua, atau mungkin saudara laki-laki dari Fauraza tidak menjemputnya, maka sebagai kepala pelayan dia yang harus turun tangan. Kenapa tidak sopir saja?&#xA;&#xA;   Justru karena itu, seorang yang telah dipilih menjadi kepala pelayan tidak hanya akan mengurus keadaan di dalam rumah. Sepenuhnya mungkin terdengar seperti menguasai rumah, jikalau berbuat salah barang kali tidak sengaja maupun disengaja, maka akan berhadapan dengan sosoknya, sebelum akhirnya menemui sang majikan.&#xA;&#xA;   Multitalenta, benar sekali.&#xA;&#xA;   &#34;Hehe, tidak juga. Tetapi tahu tidak tadi, aku ketemu sama Kak Arata, loh! Dia banyak memberiku saran,&#34; sahutnya semangat dalam membalas pernyataan tersebut.&#xA;&#xA;   Reinou tetap mendengarkan, seterusnya ia menjawab, &#34;Sebuah saran? Apakah itu tentang pembelajaran?&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Eits, tidak harus tentang pembelajaran dong. Tapi, Reinou tidak perlu tahu~ Oh, iya. Setelah ini, kau luang? Aku mau jalan-jalan sama dirimu, kalau memang tidak ada kerjaan.&#34;&#xA;&#xA;   Reinou mungkin menduga, karena latar tempat di mana Fauraza bertemu dengan Arata adalah di kampus, ia menyimpulkan bahwa saran yang dimaksud ialah mengenai pembelajaran. Akan tetapi, hal yang Reinou tebak adalah kesalahan.&#xA;&#xA;   &#34;Selain menyiapkan kebutuhan Nona, sepertinya tidak ada kerjaan. Pelayan lain telah mendapat bagiannya, kemudian saya juga sudah melakukan beberapa hal untuk membantu mereka yang berkerja.&#34;&#xA;&#xA;   Ukiran senyuman terlihat sempurna. Tidak perlu diragukan lagi, jika rencana ini akan berhasil. &#34;Oke, setuju ya~ Ah, terus! Reinou sesekali gunakan pakaian yang pernah kita beli waktu itu, ya? Kita kan mau jalan-jalan, masa dirimu tetap pakai seragam pelayan.&#34; Fauraza mengatakan hal itu kepada sosok yang sedari tadi yang mengemudikan mobil.&#xA;&#xA;   &#34;Sesuai apa yang Anda perintahkan.&#34;&#xA;&#xA;   Fauraza tertawa ringan, &#34;Hei, tidak perlu seformal begitu. Namun, aku akan berterima kasih kalau dirimu melakukannya sewaktu kita jalan-jalan nanti, bagaimana?&#34; kekehnya.&#xA;&#xA;   &#34;Nona ingin kita berdua bisa berinteraksi biasa seperti teman, begitu?&#34; celetuk Reinou, yang mungkin terdengar ragu jika benar-benar mengenali kepribadian dirinya.&#xA;&#xA;   Tidak terasa dengan perjalanan yang jauh bisa lekas tiba dalam keadaan penumpangnya yang selamat. &#34;Hati-hati dalam melangkah, Nona.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Astaga, Reinou. Terima kasih,&#34; sambutnya.&#xA;&#xA;   &#34;Tentu saja. Karena ini sudah menjadi kewajiban saya, Nona.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Reinou telah menggunakan pakaian yang pernah keduanya beli. Seraya memastikan, &#34;Anda sudah siap?&#34; &#xA;&#xA;   Fauraza mengangguk semangat. Dari jauh-jauh kesempatan, ia telah menyiapkan sesuatu di dalam sakunya. Ya, seperti apa yang sudah bisa ditebak. Sesuatu yang sedari tadi membuatnya berselisih dengan pemikirannya. Benar, sesuatu itu ialah surat yang nantinya akan ia serahkan kepada Reinou, akan tetapi ia akan menikmati kebersamaan selayaknya teman.&#xA;&#xA;   &#34;Tentu saja, ayo kita pergi.&#34;&#xA;&#xA;   Mereka mulai bepergian, mirip seperti mereka yang menjalin hubungan romantis. Seperti biasa ramainya wilayah di Jepang, dipenuhi manusia yang berjalan kaki ke manapun. Keduanya memutuskan untuk berjalan kaki. Selain membuat mereka merasa sehat, sebab menggerakan seluruh anggota badan.&#xA;&#xA;   &#34;Nona—&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Panggil saja langsung, Fauraza, tidak perlu sufiks tambahan seperti biasanya. Kita yang sedang berada di luar rumah, bukan kita yang sedang berada di dalam rumah, mengerti?&#34; ucap Fauraza, mengutarakan apa yang ingin dia sampaikan.&#xA;&#xA;   &#34;Ah. Baiklah, sekarang kita akan pergi ke mana dulu?&#34; tanya Reinou.&#xA;&#xA;   Karena sang majikan yang mengajak, Reinou bertugas mengikuti dirinya. Dia sendiri tidak begitu mengerti daerah sekitar, mengingat asal dia tidak lahir di tempat saat ini ia berpijak. Meski dia mengetahui, dia tidak mau jika majikannya yang malah tersesat. Walaupun ada bantuan dari aplikasi di Smartphone.&#xA;&#xA;   &#34;Hm, aku tidak kepikiran tempat yang spesifik, sih. Apa Reinou punya saran atau tempat yang mungkin ingin dikunjungi?&#34; balik bertanya, Fauraza menawarkan Reinou mengujarkan saran.&#xA;&#xA;   &#34;Sepertinya tidak ada. Saya belum pernah memikirkan hal itu,&#34; jawab Reinou.&#xA;&#xA;   Fauraza menatap tidak heran, ia seperti sudah menduga tentang apa yang akan Reinou katakan sekarang. &#34;Kalau begitu, mau ke tempat kesukaanku?&#34; ajak Fauraza.&#xA;&#xA;   Reinou tersentak, namun bisa Fauraza lihat dengan jelas. Seolah Reinou memang benar-benar terkejut, tetapi kalau dipikir apakah Fauraza seperti orang yang tidak memiliki tempat kesukaan?&#xA;&#xA;   Terdengar tidak yakin, tegapi Reinou mengatakan, &#34;Apa saya boleh mengetahui tempat itu?&#34; Ia bertanya, memiringkan kepala. Hal ini pula membuat Fauraza tidak bisa menahan tawanya.&#xA;&#xA;   &#34;Tentu saja, tidak mengapa! Lagi pula tempat itu adalah tempat untuk pengunjung umum, jadi semua orang bisa pergi kesana. Lokasinya juga tidak jauh dari sini,&#34; sahut Fauraza.&#xA;&#xA;   &#34;Ternyata seperti itu.&#34;&#xA;&#xA;   Mereka akhirnya memutuskan tempat di mana mereka akan berjalan berdua. Meskipun mereka tidak benar seperti sepasang kekasih, namun bisa lebih dari itu karena memiliki hubungan yang sedekat keluarga. Kendati, Fauraza dan Reinou berusaha mengenal satu sama lain.&#xA;&#xA;   Hingga akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan. Sesuai apa yang Fauraza katakan, tidak jauh dari tempat mereka berpijak. Di mana sepertinya lokasi tersebut merupakan kesukaan Fauraza, sang majikan.&#xA;&#xA;   &#34;Bagaimana dengan tempatnya? Cantik dan elegan, bukan? Meskipun menggunakan biaya masuk, semua hal yang ada di dalamnya tampak menakjubkan.&#34;&#xA;&#xA;   Reinou termenung dalam keheningan. Seolah tidak biasanya, bahkan yang biasa Fauraza akan bersemangat dalam mengungkapkan beribu kata tanpa makna yang jelas, kini dia melakukan sesuatu yang berkebalikan dengan kepribadiannya sekarang. Terdiam memerhatikan polesan keindahan figur Reinou, yang merupakan pelayannya itu.&#xA;&#xA;   Hingga angin mempersembahkan pertunjukan, membuat beberapa kelopak bunga jatuh menyebar di antara para pengunjung. Tetapi, angin yang berpadukan langit senja sangat elok dalam pandangan. Fauraza tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, dan mengambil banyak ragam gambar untuk bisa dia simpan sebagai kenang-kenangan.&#xA;&#xA;   &#34;Omong-omong, Reinou. Berhubung kita sudah berada di lokasi. Aku ingin memberikan sesuatu, walau tidak bisa aku katakan itu adalah sesuatu yang spesial, mungkin.&#34; Fauraza telah berhasil memberanikan diri. Padahal, dirinya yang asli lebih percaya diri dibandingkan apapun.&#xA;&#xA;   Hanya saja, ini tentang Reinou dan semua yang berkaitan dengan pemuda itu selalu bisa membuat pikirannya kacau, serta tidak pernah merasakan ketenangan.&#xA;&#xA;   Reinou menoleh ke arah Fauraza, ia tidak menduga kalau mungkin Fauraza telah menyiapkan banyak hal seperti ini. Ia memang tidak akan bisa menduganya langsung, tetapi setelah mengingat kejadian lampau, sepertinya ia tahu alur pembicaraan ini berlangsung.&#xA;&#xA;   Rencana Fauraza untuk Reinou, tidak akan gagal, bukan?&#xA;&#xA;   &#34;Sesuatu yang Nona berikan itu, selalu spesial dimata saya. Entah apapun itu, seperti apapun rupanya. Dengan senang hati saya menerima pemberian Anda.&#34;&#xA;&#xA;   Ah, perilaku yang biasa mencerminkan dirinya terlihat.&#xA;&#xA;   &#34;Silakan,&#34; ujar Fauraza sembari memberikan sebuah surat yang telah terbungkus dengan sangat apik. Aslinya, sewaktu pulang sekolah, Fauraza sempat mendesain sesuatu, tentang suratnya. Ia tidak ingin kejadian yang seperti ini tidak memiliki makna spesial. Jangankan memiliki makna spesial, ia bahkan mengatakan mungkin tidak terasa spesial.&#xA;&#xA;   Reinou menerimanya. Kemudian, ia membaca dalam hati, tentang surat tersebut.&#xA;&#xA;   Tidak menghabiskan banyak waktu, kelopak mata Reinou tidak bisa menahannya. Rasanya ia bisa menjadi lemah seperkian detik. Sesuatu yang Fauraza katakan, sebagai majikan, sungguh menyentuh hatinya. Walau terbesit pemikiran kalau seorang Hizamara Fauraza baru pertama kali menulis surat untuk seseorang. Maka itu adalah pelayannya sendiri, Reinou. Apakah ini yang di namakan spesial bagi diri sendiri?&#xA;&#xA;   &#34;Selamat ulang tahun, Reinou.&#34;&#xA;&#xA;   Fauraza melempar senyuman kepada Reinou yang berada di hadapannya. Ia tampak menahan tangis dengan surat yang berada pada kedua tangannya yang memegang.&#xA;&#xA;   Berpikir bahwa kalau Reinou terharu dengan kata-katanya yang tidak memiliki artian khusus. Hanya mengatakan apa yang pernah dia lewati selama ini. Rasanya seperti ingin berterima kasih, tetapi diselingi oleh kalimat curhatan yang tidak berguna.&#xA;&#xA;   &#34;Sejujurnya agak menyebalkan, karena aku tidak mengetahui nama aslimu, tetapi aku tetap menyukai apapun namamu. Lalu, jika kau mempercayai diriku, apakah aku boleh mengetahui namamu untuk sekali saja? Namamu ketika dijadikan sebagai anak angkat ataupun nama aslimu disaat kau terlahir,&#34; keluh Fauraza yang mungkin sudah terlalu lama, ingin mendengarnya langsung.&#xA;&#xA;   &#34;Padahal, nama saya tidak ada spesialnya dibandingkan apa yang telah Nona berikan,&#34;  imbuh Reinou.&#xA;&#xA;   Fauraza menggelengkan kepala pelan. &#34;Jangan seperti itu, dibalik nama seorang anak, pasti ada artian tertentu. Meskipun terdengar tidak masuk akal sekalipun, pasti akan ada satu atau dua, atau bisa memiliki makna lebih,&#34; tegur Fauraza.&#xA;&#xA;   &#34;Anda memang benar, kalau begitu saya akan menjawab pertanyaan yang mungkin telah membuat penasaran,&#34; kata Reinou. Ia mengambil napas sejenak. Rasanya seperti menggumbar banyak hal berkaitan dengan sesuatu semacam privasi.&#xA;&#xA;   &#34;Ini adalah sebagai balasan yang sekiranya tidak setimpal dengan apa yang Anda berikan selama ini,&#34; lanjut Reinou dan ternyata ia masih tetap memberikan reaksi yang sama seperti tadi. Fauraza tetap mendengarkan bagaimana Reinou akan memberikan tanggapannya.&#xA;&#xA;   &#34;Perkenalkan kembali, nama asli saya adalah Yasuhiro Akira. Sesuai apa yang Nona katakan, itu adalah nama pemberian dari Ibu kandung saya yang telah tiada.&#34;&#xA;&#xA;   Fauraza hanya bisa tersenyum pahit, ketika mendengar langsung apa yang seharusnya bisa dengan kebahagiaan. Ah, kalau dipikir tidak semua hari lahir seseorang bisa berjalan dengan bahagia.&#xA;&#xA;   &#34;Sepertinya, saya telah mengingat sesuatu. Tentang diri saya, yang berusaha kabur setelah diusir oleh Ayah kandung saya. Dihari yang sama dan pada tanggal yang sama, ketika saat ini. Sudah lama meninggalkan saudara kandung saya dan hingga detik ini pun, saya belum menemukan mereka.&#34;&#xA;&#xA;   Fauraza tidak bisa menahannya. Ia memang tidak lebih tinggi dari Reinou atau bahkan tidak lebih besar darinya. Namun, Fauraza menjadikan dirinya kenyamanan terbesar untuk seorang pelayan seperti dirinya. Fauraza membuat Reinou berada dalam pelukan dirinya.&#xA;&#xA;   &#34;Baiklah, tidak perlu dilanjutkan. Aku menjadi sedih, ketika melihat dirimu yang kuanggap sebagai keluarga merasa sedih. Memang sangat menyedihkan, tetapi semua adalah kehendak takdir. Apabila dirimu tidak kabur, kita berdua tidak akan pernah bertemu. Semua kejadian, memiliki hikmah tersendiri. Jadi, ambil saja sisi positifnya.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Nona, perilaku seperti ini—&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Peluk aku dan pejamkan matamu. Ingatlah waktu ketika dirimu merasa bahagia, ingatlah semua hal yang pernah kita lalui bersama.&#34;&#xA;&#xA;   Untuk dirimu, yang telah bersama selalu. Terima kasih sudah bersama. Karena kita tidak akan tahu kapan berpisah. Nikmatilah hidup sepenuhnya, sempai kita dipisahkan oleh garis takdir. Percayalah jika, sebuah kebahagiaan itu datang dari kebersamaan.&#xA;&#xA;   End.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Kazuhiko Arata × Hizamara Fauraza &amp; Reinou.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureOCs" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureOCs</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:AraFau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">AraFau</span></a>, <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:NouZa" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">NouZa</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>At first they didn&#39;t know each other, in the end thank you for accepting.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:OriFictArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">OriFictArchives</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureStory" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureStory</span></a>; Travel Chain Universe. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   Sudah dari beberapa hari yang lalu, kepala Fauraza lebih banyak memikirkan pemikiran lebih dari biasanya. Sejujurnya, menurut orang yang menjadi teman-teman dia ini, tidak begitu mengerti mengapa perubahan manusia terkadang bisa cepat, bisa berjalan lambat.</p>

<p>   Meskipun, pemikirannya kacau ada satu hal yang selalu mengganggu pikiran. Hari bahagia, untuk seseorang yang telah bersamanya hingga sekarang. Kalau mengatakan hal ini, satu hal yang terpikir ialah keluarga ataupun pasangan, akan tetapi tebakan itu adalah kesalahan.</p>

<p>   Sosok yang telah menemaninya, selama orang tua dan saudaranya mulai tinggal dirumah yang berbeda. Sesungguhnya, tiada hubungan khusus dari relasi mereka. Hanya sebatas orang yang telah dipercayai, tetapi bisa berada disisi dirinya.</p>

<p>   Ada sekitar tujuh tahun berlalu, meski untuk mereka belum genap tujuh tahun. Dan, itulah hari bahagia yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Terkadang, solusi ataupun ide yang dia pikirkan untuk merayakan tidaklah berguna, karena terlalu biasa. Fauraza lebih suka sesuatu yang terkesan bermakna dan berharga, walau tidak begitu mewah.</p>

<p>   Fauraza mengingat memori ketika pertama kali bertemu dengannya, hal yang paling menyenangkan untuk dia. Tetapi, tidak begitu menyenangkan setelah mereka bisa lebih dekat. Mungkin, Fauraza selalu beranggapan bahwa hidupnya terlalu baik sampai tidak memiliki kesedihan. Ketika sosok itu datang, dia menceritakan kesedihan, Fauraza merasa bisa rapuh dalam seketika. Setegar apapun seorang manusia, tidak ada yang lebih tegar dari Yang Maha Kuasa.</p>

<p>   Semua begitu menyedihkan, tetapi juga seiring waktu berjalan terdengar menyenangkan. Larangan demi larangan, Hizamara Fauraza tersenyum dikala itu. Tidak pernah menduga, setelah sekian lamanya menjadi orang spesial dalam rumah yang dia tinggali, proses perkembangan diri figur indah itu bisa dilihat dari tahun ke tahun.</p>

<p>   Untuk beberapa kejadian, Fauraza jujur tidak ingin melepaskan kehadiran manusia yang menurutnya berharga bagi dirinya. Bahkan, jika Fauraza ingin jujur, saudara laki-laki dan perempuannya selalu memutar mata malas. Mereka sudah tahu, bagaimana Fauraza bisa dengan mudah menempel dan melekat terus-menerus dengan sosok itu.</p>

<p>   Terkadang, Fauraza merasa bahwa apakah mungkin dia menjadi terkekang, karena terus berada di dalam rumah? Begitu banyak pikiran yang ada di dalam otaknya. Meski begitu, dia ingin sesekali mengajak pemuda itu bisa berjalan sana-sini.</p>

<p>   Ucapan miring pernah ia dengar, disaat ia berjalan berdampingan bersama pemuda itu. Jika dipikir lebih banyak lagi, seorang majikan memang tidak diperbolehkan berjalan berdampingan bersama pelayannya, bukan? Itu terdengar tidak sopan. Namun, semua gambaran itu ditepis oleh Hizamara Fauraza.</p>

<p>   Saudaranya selalu lebih tegas memberi peringatan, bahwa hubungan mereka tidak bisa lebih dari itu. Namun, ada banyak cara sampai akhirnya Fauraza merasa muak tuk mendengarkan pernyataan itu.</p>

<p>   Awal, mereka tidak saling mengenal. Akhir, mereka telah mengenal satu sama lain, dan sekarang telah bersama. Ya, bersama dalam satu rumah. Walaupun dikata mereka hanyalah pelayan, Fauraza mengizinkan mereka untuk mendiami tempat itu.</p>

<p>   Tinggal sendiri tidak lebih baik, daripada tinggal bersama. Ada kalanya, Fauraza menyesal untuk memutuskan rumah yang berbeda dengan keluarganya, tetapi yang namanya keputusan sudah ditetapkan.</p>

<p>   Fauraza mungkin terlalu memanjakan semua pelayannya, sehingga mereka terkadang selalu disuruh untuk memanggil dengan namanya saja. Terdengar agak menyebalkan, bukan?</p>

<p>  Hingga, semua pemikirannya lenyap ketika ada seorang yang menyebut nama lengkap milik dia. “Hizamara Fauraza, apa dirimu mendengarkanku?” tuturnya, mungkin terlalu lembut sampai sang pemilik nama bahkan, tidak bisa mendengarkan panggilan itu akhirnya menoleh.</p>

<p>   “Ah, Kak Arata! Maafkan aku, kenapa Kak Arata berada di sini?” Fauraza melirik ke sekeliling, saat ini tidak begitu banyak orang yang berkunjung ke taman kampus. Orang-orang cenderung menyukai sekumpulan mereka berkumpul dengan sesama mereka. Entah itu derajat, kelompok, jenis kelamin, tergantung dari bagaimana mereka berbaur.</p>

<p>   “Aku melihat dirimu dari kejauhan, melamun sedari tadi takutnya kerasukan.”</p>

<p>   Alis Fauraza mengerut, tidak biasanya orang yang pasangannya memberika  perilaku seperti ini. “Kak Arata diajari siapa bisa seperti itu?” tanya Fauraza, walaupun kesal tetapi ia berusaha menahan diri karena apa yang dikatakan oleh sosok yang  belum ada genap dua tahun menjalin hubungan dengan dirinya.</p>

<p>   “Tidak diajari siapa-siapa, hanya saja Yoshikazu pernah bilang seperti itu, ketika aku melamun dalam waktu lama.”</p>

<p>   “Astaga! Jadi Kak Arata mempraktikannya kepadaku, begitu?” balas Fauraza yang sudah terasa semakin kesal.</p>

<p>   “Ah, sepertinya agak menyinggung dirimu, aku minta maaf.” Kazuhiko Arata memberikan reaksi mengusap leher belakangnya, sejujurnya ia mengira hal seperti itu bisa dikatakan sebagai candaan, tetapi bisa saja tidak.</p>

<p>   Ah, dia lupa akan sesuatu, Tsukihiko Yoshikazu yang dia ujarkan tadi, merupakan sepupu Fauraza sebelah Ibunya, dan dia pernah mengatakan bercanda diakhir. Tetapi, dia tidak mengatakan hal itu, ia sedikit menyesal sepertinya?</p>

<p>   Menghela napas panjang, “Ya, tidak mengapa. Tetapi, sebaiknya jangan begitu lagi, Kak Arata. Oh, tunggu apakah aku harus <em>protect</em> Kak Arata dari Shika? Dia menyebalkan sekali.” Fauraza menggerutu sendiri, setelah melayangkan ucapan kepadanya.</p>

<p>   “Tidak perlu sampai seperti itu, ya.” Arata melirik ke arah Fauraza yang menyuruh dirinya untuk duduk bersamanya di taman kampus saat ini.</p>

<p>   “Baiklah. Ah, kebetulan sekali. Aku ingin bertanya mengenai pendapat Kak Arata, bagaimana cara membuat ulang tahun seseorang bisa berkesan?” tanya Fauraza mulai mengalihkan topik pembicaraan, sebab Arata sepertinya tidak ingin membahas hal tadi.</p>

<p>   Pemuda yang lebih tua satu tahun berada di hadapan melirik bingung. “Ulang tahun siapa?” tanya Arata, yang sepertinya ingin tahu.</p>

<p>   Fauraza melupakan suatu hal. Meskipun dia pernah menceritakan sosok yang sedang berulang tahun ini, dia belum pernah menceritakan tentang hari kelahiran sosok <em>dia.</em> Kalau diceritakan pula, malah ia yang terlihat menyedihkan. <em>Ia telah mengetahui cerita dibalik hari kelahiran figur indah</em>, kini telah menemaninya sedari anak-anak tumbuh menjadi remaja.</p>

<p>   “Aduh, sepertinya aku lupa cerita. Kak Arata tahu Reinou pelayanku, kan?” tutur Fauraza memastikan terlebih dahulu. Arata yang mengetahuinya dari Fauraza sebagai majikan pemilik nama tersebut, sekarang menganggukinya pelan.</p>

<p>   Hingga, Arata sendiri menyadari, apakah mungkin kalau Fauraza sedang membahas tentang ulang tahun Reinou, pelayannya? Namun, ia urungkan pernyataan tersebut.</p>

<p>   “Jadi, ini tentang ulang tahun Reinou, cuma aku bosan kalau sekadar rayakan begitu. Mending sesuatu yang berkesan, daripada yang mewah. Rencananya, aku masih bingung. Antara mengajak jalan bersama terus berikan surat terima kasih untuk selama ini, atau apa.”</p>

<p>   Arata hanya mengulum senyum, dia sendiri sudah menyadari bahwa semenjak pertama kali Reinou diperkenalkan kepadanya, hubungan mereka lebih dekat bahkan melebihi keluarga miliknya sendiri. Rasanya iri, tetapi hubungan mereka hanyalah sebagai <em>tunangan dan belum menikah.</em> Memikirkan hal ini membuatnya menundukan kepala.</p>

<p>   Saat ditanyai oleh Fauraza, <em>mengapa</em>. Arata hanya berdalih mengatakan sesuatu yang jelas-jelas, tidak langsung dipercaya. Namun, Arata terkejut karena Fauraza benar memercayainya.</p>

<p>   “Itu sudah bagus, kok. Kalau tidak salah, dirimu sendiri pernah bilang, jika pernah membelikan pakaian untuk dia. Bagaimana kalau ketika berjalan bersama, suruh saja Reinou gunakan pakaian tersebut?” saran Arata.</p>

<p>   Sebenarnya, Arata tidak banyak menyumbangkan ide. Dia meringis sewaktu mengingat dan membayangkan hal ini. Akan tetapi, untuk seorang Fauraza yang pernah sepupunya kenalkan, seperti inilah seorang Hizamara Fauraza.</p>

<p>   Terbuka dengan banyak orang, berlebihan dalam memperhatikan seseorang. Terkesan seperti mengistimewakan seseorang, padahal mereka sebatas orang yang telah banyak melakukan hal bersama ataupun saling mengenal.</p>

<p>   “Oh iya! Jika dipikir, Reinou selalu menggunakan seragam pelayan. Sepertinya bisa menggunakan pakaian yang pernah dibeli waktu itu. Terima kasih atas sarannya, Kak Arata!” ujar Fauraza dengan ukiran senyum sempurna. Sepertinya, ia sungguh senang dengan ide tersebut.</p>

<p>   “Ya, sama-sama. Semoga berhasil, lalu kalau boleh aku tahu kapan peristiwanya?” tanya Arata lagi.</p>

<p>   “Hari ini, tanggal 20 September.”</p>

<p>   “Eh?”</p>

<hr/>

<p>   Tidak seperti Fauraza yang biasa. Bahkan, hal ini diluar dugaan menurut teman-teman yang mengenali dirinya. Meski begitu, Fauraza tetap akan membalas ketika ditanyai sesuatu oleh mereka yang berkepentingan. “Dimulai dari mana ya ...,” gumam Fauraza, yang sedari tadi mulai menuliskan kata-kata yang menurutnya lebih baik didengar.</p>

<p>   Sejenak larut dalam pemikirannya, tetapi ia tetap berusaha fokus dengan pembelajaran. Walau apa yang dijelaskan, terkadang menjadikan dirinya seperti sesuatu yang menyebalkan. <em>Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.</em> Kondisi yang mencerminkan sosok Fauraza dikala sekarang ini.</p>

<p>   Hanya terdapat beberapa mata kuliah yang dia ikuti, sehingga pulangnya tidak terlalu menjelang senja. Seharusnya ia lebih banyak bersyukur berkat hal ini. Dosen yang menjadi pembimbingnya dalam kegiatan belajar-mengajar, tidak memiliki kesibukan dan langsung mengajar di waktu yang sama setelah istirahat selesai.</p>

<p>   Tidak terasa, jemputan Fauraza telah menunggu. <em>Ah, ternyata Reinou.</em> Fauraza melukis senyuman cerah, meskipun banyak kejadian yang membuat bibir miliknya melengkung terbalik. Ia cemberut, memikirkan banyak hal.</p>

<p>   “Sepertinya Nona Fauraza mengalami hari yang menyenangkan.” Pelayan yang sedari tadi berada dalam pikirannya, yaitu Reinou. Meskipun bukan sebuah nama asli, dibaliknya ada pemikiran sang majikan saat memberinya nama itu. Akhirnya, Reinou mengambil alih percakapan, sembari mengendarai sebuah mobil. Sebelumnya, Reinou telah mendapatkan pelatihan sehingga sangat memungkinkan untuknya mengantar jemput sang majikan.</p>

<p>   Apabila kedua orang tua, atau mungkin saudara laki-laki dari Fauraza tidak menjemputnya, maka sebagai kepala pelayan dia yang harus turun tangan. <em>Kenapa tidak sopir saja?</em></p>

<p>   Justru karena itu, seorang yang telah dipilih menjadi kepala pelayan tidak hanya akan mengurus keadaan di dalam rumah. Sepenuhnya mungkin terdengar seperti menguasai rumah, jikalau berbuat salah barang kali tidak sengaja maupun disengaja, maka akan berhadapan dengan sosoknya, sebelum akhirnya menemui sang majikan.</p>

<p>   Multitalenta, benar sekali.</p>

<p>   “Hehe, tidak juga. Tetapi tahu tidak tadi, aku ketemu sama Kak Arata, loh! Dia banyak memberiku saran,” sahutnya semangat dalam membalas pernyataan tersebut.</p>

<p>   Reinou tetap mendengarkan, seterusnya ia menjawab, “Sebuah saran? Apakah itu tentang pembelajaran?”</p>

<p>   “<em>Eits</em>, tidak harus tentang pembelajaran dong. Tapi, Reinou tidak perlu tahu~ Oh, iya. Setelah ini, kau luang? Aku mau jalan-jalan sama dirimu, kalau memang tidak ada kerjaan.”</p>

<p>   Reinou mungkin menduga, karena latar tempat di mana Fauraza bertemu dengan Arata adalah di kampus, ia menyimpulkan bahwa saran yang dimaksud ialah mengenai pembelajaran. Akan tetapi, hal yang Reinou tebak adalah kesalahan.</p>

<p>   “Selain menyiapkan kebutuhan Nona, sepertinya tidak ada kerjaan. Pelayan lain telah mendapat bagiannya, kemudian saya juga sudah melakukan beberapa hal untuk membantu mereka yang berkerja.”</p>

<p>   Ukiran senyuman terlihat sempurna. Tidak perlu diragukan lagi, jika rencana ini akan berhasil. “Oke, setuju ya~ Ah, terus! Reinou sesekali gunakan pakaian yang pernah kita beli waktu itu, ya? Kita kan mau jalan-jalan, masa dirimu tetap pakai seragam pelayan.” Fauraza mengatakan hal itu kepada sosok yang sedari tadi yang mengemudikan mobil.</p>

<p>   “Sesuai apa yang Anda perintahkan.”</p>

<p>   Fauraza tertawa ringan, “Hei, tidak perlu seformal begitu. Namun, aku akan berterima kasih kalau dirimu melakukannya sewaktu kita jalan-jalan nanti, bagaimana?” kekehnya.</p>

<p>   “Nona ingin kita berdua bisa berinteraksi biasa seperti teman, begitu?” celetuk Reinou, yang mungkin terdengar ragu jika benar-benar mengenali kepribadian dirinya.</p>

<p>   Tidak terasa dengan perjalanan yang jauh bisa lekas tiba dalam keadaan penumpangnya yang selamat. “Hati-hati dalam melangkah, Nona.”</p>

<p>   “Astaga, Reinou. Terima kasih,” sambutnya.</p>

<p>   “Tentu saja. Karena ini sudah menjadi kewajiban saya, Nona.”</p>

<hr/>

<p>   Reinou telah menggunakan pakaian yang pernah keduanya beli. Seraya memastikan, “Anda sudah siap?”</p>

<p>   Fauraza mengangguk semangat. Dari jauh-jauh kesempatan, ia telah menyiapkan sesuatu di dalam sakunya. Ya, seperti apa yang sudah bisa ditebak. Sesuatu yang sedari tadi membuatnya berselisih dengan pemikirannya. Benar, sesuatu itu ialah surat yang nantinya akan ia serahkan kepada Reinou, akan tetapi ia akan menikmati kebersamaan selayaknya teman.</p>

<p>   “Tentu saja, ayo kita pergi.”</p>

<p>   Mereka mulai bepergian, mirip seperti mereka yang menjalin hubungan romantis. Seperti biasa ramainya wilayah di Jepang, dipenuhi manusia yang berjalan kaki ke manapun. Keduanya memutuskan untuk berjalan kaki. Selain membuat mereka merasa sehat, sebab menggerakan seluruh anggota badan.</p>

<p>   “Nona—”</p>

<p>   “Panggil saja langsung, Fauraza, tidak perlu sufiks tambahan seperti biasanya. Kita yang sedang berada di luar rumah, bukan kita yang sedang berada di dalam rumah, mengerti?” ucap Fauraza, mengutarakan apa yang ingin dia sampaikan.</p>

<p>   “<em>Ah</em>. Baiklah, sekarang kita akan pergi ke mana dulu?” tanya Reinou.</p>

<p>   Karena sang majikan yang mengajak, Reinou bertugas mengikuti dirinya. Dia sendiri tidak begitu mengerti daerah sekitar, mengingat asal dia tidak lahir di tempat saat ini ia berpijak. Meski dia mengetahui, dia tidak mau jika majikannya yang malah tersesat. Walaupun ada bantuan dari <em>aplikasi</em> di <em>Smartphone</em>.</p>

<p>   “Hm, aku tidak kepikiran tempat yang spesifik, sih. Apa Reinou punya saran atau tempat yang mungkin ingin dikunjungi?” balik bertanya, Fauraza menawarkan Reinou mengujarkan saran.</p>

<p>   “Sepertinya tidak ada. Saya belum pernah memikirkan hal itu,” jawab Reinou.</p>

<p>   Fauraza menatap tidak heran, ia seperti sudah menduga tentang apa yang akan Reinou katakan sekarang. “Kalau begitu, mau ke tempat kesukaanku?” ajak Fauraza.</p>

<p>   Reinou tersentak, namun bisa Fauraza lihat dengan jelas. Seolah Reinou memang benar-benar terkejut, tetapi kalau dipikir apakah Fauraza seperti orang yang tidak memiliki tempat kesukaan?</p>

<p>   Terdengar tidak yakin, tegapi Reinou mengatakan, “Apa saya boleh mengetahui tempat itu?” Ia bertanya, memiringkan kepala. Hal ini pula membuat Fauraza tidak bisa menahan tawanya.</p>

<p>   “Tentu saja, tidak mengapa! Lagi pula tempat itu adalah tempat untuk pengunjung umum, jadi semua orang bisa pergi kesana. Lokasinya juga tidak jauh dari sini,” sahut Fauraza.</p>

<p>   “Ternyata seperti itu.”</p>

<p>   Mereka akhirnya memutuskan tempat di mana mereka akan berjalan berdua. Meskipun mereka tidak benar seperti sepasang kekasih, namun bisa lebih dari itu karena memiliki hubungan yang sedekat keluarga. Kendati, Fauraza dan Reinou berusaha mengenal satu sama lain.</p>

<p>   Hingga akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan. Sesuai apa yang Fauraza katakan, tidak jauh dari tempat mereka berpijak. Di mana sepertinya lokasi tersebut merupakan kesukaan Fauraza, sang majikan.</p>

<p>   “Bagaimana dengan tempatnya? Cantik dan elegan, bukan? Meskipun menggunakan biaya masuk, semua hal yang ada di dalamnya tampak menakjubkan.”</p>

<p>   Reinou termenung dalam keheningan. Seolah tidak biasanya, bahkan yang biasa Fauraza akan bersemangat dalam mengungkapkan beribu kata tanpa makna yang jelas, kini dia melakukan sesuatu yang berkebalikan dengan kepribadiannya sekarang. Terdiam memerhatikan polesan keindahan figur Reinou, yang merupakan pelayannya itu.</p>

<p>   Hingga angin mempersembahkan pertunjukan, membuat beberapa kelopak bunga jatuh menyebar di antara para pengunjung. Tetapi, angin yang berpadukan langit senja sangat elok dalam pandangan. Fauraza tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, dan mengambil banyak ragam gambar untuk bisa dia simpan sebagai kenang-kenangan.</p>

<p>   “Omong-omong, Reinou. Berhubung kita sudah berada di lokasi. Aku ingin memberikan sesuatu, walau tidak bisa aku katakan itu adalah sesuatu yang spesial, mungkin.” Fauraza telah berhasil memberanikan diri. Padahal, dirinya yang asli lebih percaya diri dibandingkan apapun.</p>

<p>   <em>Hanya saja, ini tentang Reinou dan semua yang berkaitan dengan pemuda itu selalu bisa membuat pikirannya kacau, serta tidak pernah merasakan ketenangan.</em></p>

<p>   Reinou menoleh ke arah Fauraza, ia tidak menduga kalau mungkin Fauraza telah menyiapkan banyak hal seperti ini. Ia memang tidak akan bisa menduganya langsung, tetapi setelah mengingat kejadian lampau, sepertinya ia tahu alur pembicaraan ini berlangsung.</p>

<p>   <em>Rencana Fauraza untuk Reinou, tidak akan gagal, bukan?</em></p>

<p>   “Sesuatu yang Nona berikan itu, selalu spesial dimata saya. Entah apapun itu, seperti apapun rupanya. Dengan senang hati saya menerima pemberian Anda.”</p>

<p>   <em>Ah, perilaku yang biasa mencerminkan dirinya terlihat.</em></p>

<p>   “Silakan,” ujar Fauraza sembari memberikan sebuah surat yang telah terbungkus dengan sangat apik. Aslinya, sewaktu pulang sekolah, Fauraza sempat mendesain sesuatu, tentang suratnya. Ia tidak ingin kejadian yang seperti ini tidak memiliki makna spesial. Jangankan memiliki makna spesial, ia bahkan mengatakan mungkin tidak terasa spesial.</p>

<p>   Reinou menerimanya. Kemudian, ia membaca dalam hati, tentang surat tersebut.</p>

<p>   Tidak menghabiskan banyak waktu, kelopak mata Reinou tidak bisa menahannya. Rasanya ia bisa menjadi lemah seperkian detik. Sesuatu yang Fauraza katakan, sebagai majikan, sungguh menyentuh hatinya. Walau terbesit pemikiran kalau seorang Hizamara Fauraza baru pertama kali menulis surat untuk seseorang. <em>Maka itu adalah pelayannya sendiri, Reinou. Apakah ini yang di namakan spesial bagi diri sendiri?</em></p>

<p>   “Selamat ulang tahun, Reinou.”</p>

<p>   Fauraza melempar senyuman kepada Reinou yang berada di hadapannya. Ia tampak menahan tangis dengan surat yang berada pada kedua tangannya yang memegang.</p>

<p>   Berpikir bahwa kalau Reinou terharu dengan kata-katanya yang tidak memiliki artian khusus. Hanya mengatakan apa yang pernah dia lewati selama ini. Rasanya seperti ingin berterima kasih, tetapi diselingi oleh kalimat curhatan yang tidak berguna.</p>

<p>   “Sejujurnya agak menyebalkan, karena aku tidak mengetahui nama aslimu, tetapi aku tetap menyukai apapun namamu. Lalu, jika kau mempercayai diriku, apakah aku boleh mengetahui namamu untuk sekali saja? Namamu ketika dijadikan sebagai anak angkat ataupun nama aslimu disaat kau terlahir,” keluh Fauraza yang mungkin sudah terlalu lama, ingin mendengarnya langsung.</p>

<p>   “Padahal, nama saya tidak ada spesialnya dibandingkan apa yang telah Nona berikan,”  imbuh Reinou.</p>

<p>   Fauraza menggelengkan kepala pelan. “Jangan seperti itu, dibalik nama seorang anak, pasti ada artian tertentu. Meskipun terdengar tidak masuk akal sekalipun, pasti akan ada satu atau dua, atau bisa memiliki makna lebih,” tegur Fauraza.</p>

<p>   “Anda memang benar, kalau begitu saya akan menjawab pertanyaan yang mungkin telah membuat penasaran,” kata Reinou. Ia mengambil napas sejenak. Rasanya seperti menggumbar banyak hal berkaitan dengan sesuatu semacam privasi.</p>

<p>   “Ini adalah sebagai balasan yang sekiranya tidak setimpal dengan apa yang Anda berikan selama ini,” lanjut Reinou dan ternyata ia masih tetap memberikan reaksi yang sama seperti tadi. Fauraza tetap mendengarkan bagaimana Reinou akan memberikan tanggapannya.</p>

<p>   <em>“Perkenalkan kembali, nama asli saya adalah Yasuhiro Akira. Sesuai apa yang Nona katakan, itu adalah nama pemberian dari Ibu kandung saya yang telah tiada.”</em></p>

<p>   Fauraza hanya bisa tersenyum pahit, ketika mendengar langsung apa yang seharusnya bisa dengan kebahagiaan. Ah, kalau dipikir tidak semua hari lahir seseorang bisa berjalan dengan bahagia.</p>

<p>   <em>“Sepertinya, saya telah mengingat sesuatu. Tentang diri saya, yang berusaha kabur setelah diusir oleh Ayah kandung saya. Dihari yang sama dan pada tanggal yang sama, ketika saat ini. Sudah lama meninggalkan saudara kandung saya dan hingga detik ini pun, saya belum menemukan mereka.”</em></p>

<p>   Fauraza tidak bisa menahannya. Ia memang tidak lebih tinggi dari Reinou atau bahkan tidak lebih besar darinya. Namun, Fauraza menjadikan dirinya kenyamanan terbesar untuk seorang pelayan seperti dirinya. Fauraza membuat Reinou berada dalam pelukan dirinya.</p>

<p>   “Baiklah, tidak perlu dilanjutkan. Aku menjadi sedih, ketika melihat dirimu yang kuanggap sebagai keluarga merasa sedih. Memang sangat menyedihkan, tetapi semua adalah kehendak takdir. <em>Apabila dirimu tidak kabur, kita berdua tidak akan pernah bertemu.</em> Semua kejadian, memiliki hikmah tersendiri. Jadi, ambil saja sisi positifnya.”</p>

<p>   “Nona, perilaku seperti ini—”</p>

<p>   “Peluk aku dan pejamkan matamu. Ingatlah waktu ketika dirimu merasa bahagia, ingatlah semua hal yang pernah kita lalui bersama.”</p>

<p>   <em>Untuk dirimu, yang telah bersama selalu. Terima kasih sudah bersama. Karena kita tidak akan tahu kapan berpisah. Nikmatilah hidup sepenuhnya, sempai kita dipisahkan oleh garis takdir. Percayalah jika, sebuah kebahagiaan itu datang dari kebersamaan.</em></p>

<p>   <strong>End.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/terima-kasih-telah-bersama</guid>
      <pubDate>Wed, 20 Sep 2023 13:53:48 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>First Meet</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/first-meet?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Kaitosawa Shuu × Inaya Zahira Shafa.&#xA;  #FaureOCs; #ShuuNaya.&#xA;&#xA;   First meeting with the woman.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #OriFictArchives.&#xA;  #FaureStory; Travel Chain Universe. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Bicara tentang sepasang kekasih, pemuda yang dahulunya bisa menjalin interaksi dan selalu dikagumi banyak perempuan, kini merasa tidak ada lagi perempuan yang seperti itu semenjak ia berkuliah.&#xA;&#xA;   Terpikirkan baginya, apakah hanya dia yang belum memiliki kekasih, sementara si adik sudah memiliki pujaan hatinya. Walau belum pernah ia melantunkan bahwa ia menyukai sosok tersebut.&#xA;&#xA;   Sepupu dan kerabatnya, sudah banyak yang menjalin kasih dengan pacar mereka, pengecualian untuk Fauraza, sepupu dari sepupunya. Hubungan mereka bisa dikatakan rumit, tetapi melihat Fauraza yang bisa menjadikan seorang lelaki untuk menjadi tunangan adalah hal yang cukup keren.&#xA;&#xA;   Walau agak memaksakan kehendak, selagi anak itu tahu risikonya, tidak masalah menurut dia. Kalaupun memang Fauraza membutuhkannya perihal cinta, ia setia untuk menolongnya. Meskipun hanya dengan kata-kata yang bisa ia ketahui, sejujurnya tidak mudah baginya untuk memahami wanita.&#xA;&#xA;   Ya, terlebih sudah terjadi kejadian seperti sesuatu yang membuat mereka harus bisa terbuka satu sama lain, serta mereka yang perlu bersikap dewasa dalam mengatasi segala permasalahan dalam percintaan masing-masing.&#xA;&#xA;   Ia tergabung dibeberapa organisasi, karena sedang berada dalam masa cuti akan pekerjaan sampingannya, tetapi dia tetap saja mengikuti kegiatan karena tidak memiliki pekerjaan selain itu. Sesekali memang pemuda itu akan mampir pulang ke rumah orang tuanya dan melepas rindu, hanya saja dengan tugas kuliah yang menyebalkan, membuat ia harus terus berduaan untuk mengurus tugas kuliah.&#xA;&#xA;   Hingga, dalam perjalanan untuk membeli sesuatu, tidak sengaja ia bertabrakan di jalan dengan seorang wanita. Kalau saja pergerakan tangannya tidak cekatan, mungkin wanita tersebut sudah hampir jatuh dengan minuman yang wanita itu pegang.&#xA;&#xA;   &#34;Ah, maafkan saya, Nona.&#34; Ia merangkul bahu dari si dara yang telah ditolong olehnya. Meskipun begitu, karena tidak mendapatkan respons membuatnya merasa canggung dengan momen tersebut.&#xA;&#xA;   Lekas, Kaitosawa Shuu, pemuda itu mulai menyingkirkan tangannya dari bahu wanita tersebut. &#34;Apakah dirimu baik-baik saja?&#34; tanyanya lagi, mulai menyadarkan figur indah dalam tatapan mata.&#xA;&#xA;   Wanita itu baru sadar dengan aksi yang laki-laki di hadapannya ini lakukan. Ia merasa malu, tetapi ia malah menganggap bahwa semua ini karena kecerobohan diri yang mana langkah kakinya tidak melangkah dengan benar.&#xA;&#xA;   &#34;Terima kasih banyak! Aku tidak apa-apa, kok. Santai saja, um, tidak perlu memanggil begitu. Panggil saja aku Inaya,&#34; sahutnya terdengar cukup lembut.&#xA;&#xA;   Shuu merasa lega dengan hal itu. Rasanya ia seperti berada dalam rekaan drama romansa yang mana ketika pertemuan pertama antara perempuan dan laki-laki bertabrakan di jalan. Walau saat ini lebih cenderung di dalam toko, saat ingin berbelanja suatu barang.&#xA;&#xA;   Sebenarnya Shuu tertegun ketika mendapati wanita di hadapannya ini malah memperkenalkan diri, belum lagi nama asing itu mirip seseorang yang mungkin menjadi kekasih dari sepupunya. Ah, itu hanya tebakannya saja. Tidak mungkin apa yang dia tebak adalah kebenarannya, bukan?&#xA;&#xA;   &#34;Inaya-san? Salam kenal. Namaku Kaitosawa Shuu, panggil saja Shuu, tidak apa-apa.&#34; &#xA;&#xA;   Ekspresi bingung mulai tercipta dari balik wajahnya. &#34;Bukankah itu akan terdengar tidak sopan? Ah, maaf. Aku akan memanggil dengan Kaitosawa-san saja, ya?&#34; gumam kecil, hingga akhirnya membalas perkenalan nama dengan menyertai panggilan yang dia sebutkan kepada pemuda itu.&#xA;&#xA;   Shuu yang tidak sengaja mendengar ucapan dari sosok yang dia tolong, kini dia menatap heran, figur wanita di hadapannya ini terlalu kaku menurutnya. Sehingga, Shuu sendiri memanggil dirinya dengan sufiks &#39;-san&#39;.&#xA;&#xA;   &#34;Tentu saja, itu tidak masalah.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Baiklah, kalau begitu. Sampai bertemu lagi, Kaitosawa-san. Aku harus kembali mengerjakan sesuatu yang tertunda. Waktu istirahatku tidak lama lagi akan berakhir,&#34; ujarnya menjelaskan.&#xA;&#xA;   Tidak tahu mengapa, tetapi wanita itu sudah melesat dengan cepat sebelum Shuu mulai membalas penjelasannya. &#34;Sudah pergi dengan cepat. Hm, apa saja yang dibutuhkan, ya? Aku harus bergegas kembali ke Kampus.&#34;&#xA;&#xA;   Shuu mulai mencari sesuatu yang akan dia beli untuk pekerjaan dalam organisasi. Selain itu, ada beberapa anggota yang menitip juga dengan dirinya. Sehingga, mereka pun masih bisa tetap membantu di sana, karena hanya satu orang saja yang pergi keluar untuk membeli barang.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   &#34;Hee?!&#34;&#xA;&#xA;   Shuu terkejut dengan reaksi teman satu organisasinya, beberapa memang pernah berada dalam satu angkatan dan merupakan teman di masa SMP maupun SMA. Hal yang tidak terduga bahwa mereka bisa berada dalam Kampus yang sama, meskipun awalnya mereka merasa heran dengan perubahan Shuu seiring waktunya.&#xA;&#xA;   Dia memang orang yang paling aktif dalam hal membicarakan wanita. Namun, untuk kali ini beberapa temannya menimbulkan ekspresi kaget yang membuat dia merasa heran sekarang.&#xA;&#xA;   &#34;Inaya-senpai, loh! Apa kau tidak mengenalinya, Shuu?&#34; tegur salah satu temannya, yang mulai merangkul bahunya.&#xA;&#xA;   &#34;Sudah begitu, ciri-cirinya sama persis dengan apa yang dikatakan. Kaitosawa-kun, beruntung bisa ketemu sama dirinya,&#34; tutur temannya yang lain.&#xA;&#xA;   &#34;Kalian kenal dengannya?&#34; Shuu mulai bertanya kepada mereka yang mulai banyak berbicara.&#xA;&#xA;   &#34;Tentu saja! Oh, astaga. Aku melupakan sesuatu, Shuu itu jarang berselancar dimedia sosial, sama seperti dulu. Jadi, Inaya-senpai sering kali masuk berita, meskipun bukan hot news seperti selebritas di luar sana. Dengar-dengar, dia itu orang dari Indonesia yang mampu menguasai bahasa Jepang meskipun tidak mahir, sewaktu SMA pernah meraih beasiswa di negara kita, yang pertukaran pelajar. Hanya saja, itu sudah bertahun-tahun lalu lamanya.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Kaitosawa-kun, lebih suka berinteraksi dengan banyak orang, sih,&#34; celetuk temannya yang lain. Ia hanya bisa tersenyum pahit.&#xA;&#xA;   &#34;Hei, justru itu lebih baik. Jadinya tidak selalu fokus dengan ponsel yang sekarang kita miliki,&#34; sahut teman lainnya yang ikut menimbrung sekarang.&#xA;&#xA;   Shuu yang menerima banyak informasi dalam sekaligus membuatnya harus dengan cepat bisa mencerna. Akan tetapi, hal itu membuat dia harus terdiam selama beberapa menit kedepannya.&#xA;&#xA;   Dia tidak menduga. Apa yang semula dia katakan ternyata berkaitan. Figur indah itu bertemu dengannya tadi adalah sosok yang teman-temannya kenali. Curang sekali. Namun, Shuu merasakan kepuasan tersendiri, ketika teman lainnya mengatakan bahwa Shuu memang dominan dalam hal berbaur dengan banyak orang.&#xA;&#xA;   Shuu sendiri tidak merasa kaget mendengarnya. Karena sejujurnya, dalam lingkungan pertemannya sudah ada sepupunya yang memiliki kekasih seorang blasteran Indonesia-Jepang. Selain itu Kakek dan Neneknya Fauraza juga demikian. Sesuatu yang sudah sangat biasa dalam hidupnya. Akan tetapi, mengenai beasiswa mungkin membuatnya merasa termenung.&#xA;&#xA;   Pasti ada banyak tes yang harus dilakukan untuk mendapatkan beasiswa seperti itu. Ada juga yang mirip seperti pertukaran pelajar, tetapi ia tidak begitu mengerti perihal itu, sehingga ia tidak akan berkomentar lebih.&#xA;&#xA;   &#34;Hei, kalian yang di sana. Lebih baik nanti saja berbicaranya setelah selesai. Waktu kita sekarang sangat terbatas,&#34; tegur seseorang yang lebih tinggi tingkatannya di antara mereka, pembimbing mereka sekaligus kakak tingkat mereka semua yang berada disana.&#xA;&#xA;   &#34;Kita lanjutkan saja nanti.&#34;&#xA;&#xA;   Mereka kembali berfokus pada pekerjaan mereka dalam organisasi tersebut. Setidaknya, Shuu sudah banyak membantu mereka membelikan barang yang dibutuhkan, tetapi tidak cukup orang jika hanya menggunakan mereka saja, yang mana artinya semua orang yang menjadi bagian dari organisasi harus berpartisipasi.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   &#34;Shuu, sepertinya aku tidak bisa tinggal di asrama hari ini. Ibuku memintaku untuk pulang ke rumah, kau tidak masalah untuk tidur sendiri, bukan?&#34; ujar seorang yang tadi banyak berbicara dengan dirinya.&#xA;&#xA;   Lokasi saat ini sudah berada di asrama Kampus mereka. Untuk asrama, mereka diperbebaskan untuk tinggal disana ataupun tinggal di rumah. Mengenai biaya sudah tergabung dalam biaya pendaftaran saat kuliah, bagi mereka yang memang membayar pribadi.&#xA;&#xA;   Shuu hanya mengulas senyum. Ia tidak mempermasalahkan hal itu. &#34;Ya, tidak masalah. Ibumu pasti rindu denganmu,&#34; balasnya, seolah mengerti mengapa Ibu dari teman dia ini meminta untuk kembali ke rumahnya. Padahal, seingatnya jarak rumah teman dia cukup jauh untuk bepergian ke Kampus.&#xA;&#xA;   Ia terlihat seperti orang yang sedang berpikir dan mulai menyetujui hal itu, kemudian berkata, &#34;Kalau dipikir, ada benarnya juga! Baiklah, sampai jumpa besok. Titip salam untuk Hiro, ya.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Hati-hati di jalan, Kana-kun. Oh, tentu akan aku sampaikan kepadanya.&#34; Menatap kepergian salah satu temannya itu, diPikirannyamenuju asrama sendiri. Dalam perjalanannya, Shuu termenung sendiri memikirkan tentang kejadian dan informasi yang baru dia terima hari ini.&#xA;&#xA;   Apakah dirinya memang seperti orang yang tidak suka dengan sesuatu dimedia sosial, karena banyak berinteraksi secara langsung? Sekarang ini, apakah ia perlu mengikut perkembangan banyak orang di berbagai media sosial? Sejujurnya, dia tidak begitu ingin menyibukan diri dengan hal itu.&#xA;&#xA;   Pikirannya sekarang ke mana-mana sudah. Hingga akhirnya, dikejutkan oleh temannya yang lain. Biar Shuu tidak mengetahui perkembangan berita di dunia maya, ia tetap bisa memiliki teman di dunia nyata. Setidaknya, dia tidak menggunakan topeng tersembunyi untuk bisa berteman dengan semua orang dan murni kebiasaannya.&#xA;&#xA;   &#34;Kaitosawa-kun!&#34; sapa temannya.&#xA;&#xA;   &#34;Ah, Chi-chan~&#34; Ia tidak lagi berekspresi murung seperti tadi, mulai membalas sapaan temannya dengan senyuman terukir pada wajah.&#xA;&#xA;   &#34;Sato-kun sudah pergi, ya? Maaf tidak ikut mengantar, karena masih ada keperluan.&#34; Shuu mengangguk pelan, menjadikan balasan dari pertanyaan tersebut.&#xA;&#xA;   Setelahnya dia melanjutkan, &#34;Dia ada titip salam kepadamu. Pasti dia memaklumi hal itu, karena dikabarnya begitu mendadak.&#34; Dia mulai merangkul bahu temannya itu.&#xA;&#xA;   &#34;Ehh? Padahal tidak perlu repot-repot sampai titip salam, lho. Aku berterima kasih kepadamu juga Kaitosawa-kun, karena sudah menyampaikannya.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Kembali kasih. Omong-omong, hari ini cukup terasa panjang, ya. Padahal, tidak ada jadwal mata kuliah hari ini, dan hanya seputar orgnisasi.&#34; Shuu kembali ke masa sebelumnya, memikirkan tentang banyak kejadian yang bisa terjadi dalam satu hari ini. Tentang semua hal yang baru bisa Shuu ketahui.&#xA;&#xA;   &#34;Hm, itu benar sekali~ Oh, iya! Kaitosawa-kun jangan dipikirkan, mengenai perkataanku tadi sewaktu kita melakukan kegiatan, ya. Aku tidak bermaksud mengatakan suatu hal yang bersifat negatif,&#34; ujar temannya yang satu ini, secara tiba-tiba menyinggung sesuatu berkenaan dengan kejadian yang telah berlalu saat tadi.&#xA;&#xA;   Shuu tidak mengerti, kenapa temannya yang satu ini malah berkata seperti itu. Ya, meskipun ia malah memikirkan pasal kejadian tadi. &#34;Soalnya, berinteraksi dengan sesama itu adalah kebiasaan yang khas dari Kaitosawa-kun. Jadi, tidak mengapa kalau dirimu tidak mengetahui perihal kejadian yang ada di dunia maya.&#34;&#xA;&#xA;   Pada dasarnya, Shuu tidak bisa mencerna mana yang harus diambil dan ia jadikan pemikiran untuk kedepannya. Menurut dia sendiri, bisa bersosialisasi dengan banyak orang adalah hal yang bagus, ketimbang diam dan menyendiri.&#xA;&#xA;   Tetapi, sekarang ini perkembangan zaman sekarang sudah banyak orang yang fokus dengan dunia maya. Sehingga, setiap kali mereka mendapati kesempatan untuk berbincang akrab, malah disibukkan dengan benda elektronik yang selalu mereka pegang setiap waktunya.&#xA;&#xA;   &#34;Apa tidak jadi masalah, Chi-chan? Diriku sekarang merasa ketinggalan banyak informasi, seperti orang yang tidak mengetahui apapun.&#34; Shuu terdiam dan tidak lagi merangkul temannya itu, Watanabe Chihiro.&#xA;&#xA;   &#34;Haish, jangan berpikir seperti itu! Aku yakin tidak akan ada masalah, dan tetaplah jadi dirimu sebagaimana biasanya, Kaitosawa-kun.&#34; Chihiro mulai menepuk pelan tubuh belakangnya Shuu.&#xA;&#xA;   &#34;Siap, di mengerti.&#34;&#xA;&#xA;   Perkataan tersebut menjadikan suasana diantara mereka menjadi lebih baik, tiada kata suram lagi yang mendominasi pikiran Shuu. Seolah dia sekarang sudah memancarkan energi positif di sekitarnya, ia sekarang bisa tersenyum tipis.&#xA;&#xA;   &#34;Lalu, apakah aku boleh bertanya satu hal kepadamu?&#34; tanya Chihiro, setelah jeda beberapa kemudian mereka memutuskan kembali lanjut berjalan.&#xA;&#xA;   Langkah kaki Shuu terhenti sejenak, ia merasa tidak nyaman kalau dia berbicara sambil berjalan. Alhasil, ia memberhentikan langkah kakinya sendiri, dan mulai mendengarkan apa yang ingin ditanyakan oleh temannya ini. &#34;Boleh, memangnya mau bertanya tentang apa?&#34; Shuu balik bertanya.&#xA;&#xA;   &#34;Mengenai Inaya-senpai, aku merasa kalau saat Sato-kun menjelaskan tentang dirinya, Kaitosawa-kun tidak terlalu kaget.&#34; Chihiro mulai penasaran mulai bertanya demikian.&#xA;&#xA;   Shuu mengusap bagian belakang lehernya. &#34;Ah, itu. Sepupuku dari sebelah keluarga Ayah, Shika, dia memiliki kekasih yang Ayahnya orang Indonesia. Jadi, sesuatu yang seperti itu tidak lagi membuatku terkejut, dan kalau terkejut mungkin bagian pertukaran pelajar dan beasiswa. Menurutku itu cukup keren! Chi-chan tahu, aku sampai bingung harus merespons seperti apa tadi.&#34; Shuu melukis senyum lebar.&#xA;&#xA;   Mendengarkan penjelasan dari Shuu secara seksama membuatnya melantunkan tawanya secara langsung. Tidak menduga kalau pernah ada orang Indonesia yang berada dalam lingkungan temannya ini. &#34;Aku setuju, Inaya-senpai sangat keren bisa mendapatkan beasiswa serta melakukan pertukaran pelajar ke negara kita.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Berarti, dirinya itu sangat pintar, bukan? Sungguh pantas jika berhasil mendapatkan beasiswa seperti itu.&#34;&#xA;&#xA;   Keduanya mengumbar senyum antara satu sama lain. Tak lama kemudian menjadi mengutarakan tawa yang perlahan tetapi pasti, menemani mereka sampai akhirnya tiba di kamar asrama masing-masing. Saat itu, Shuu satu kamar dengan temannya yang tadi harus pulang mengunjungi sang Ibu, Sato Kaname. Namun, sekarang dia hanya sendiri berhubung, sosok itu tidak bersamanya sekarang.&#xA;&#xA;   &#34;Aku semakin penasaran dengan wanita itu.&#34;&#xA;&#xA;   To Be Continued.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Kaitosawa Shuu × Inaya Zahira Shafa.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureOCs" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureOCs</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:ShuuNaya" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">ShuuNaya</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>First meeting with the woman.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:OriFictArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">OriFictArchives</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureStory" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureStory</span></a>; Travel Chain Universe. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   Bicara tentang sepasang kekasih, pemuda yang dahulunya bisa menjalin interaksi dan selalu dikagumi banyak perempuan, kini merasa tidak ada lagi perempuan yang seperti itu semenjak ia berkuliah.</p>

<p>   Terpikirkan baginya, apakah hanya dia yang belum memiliki kekasih, sementara si adik sudah memiliki pujaan hatinya. Walau belum pernah ia melantunkan bahwa ia menyukai sosok tersebut.</p>

<p>   Sepupu dan kerabatnya, sudah banyak yang menjalin kasih dengan pacar mereka, pengecualian untuk Fauraza, sepupu dari sepupunya. Hubungan mereka bisa dikatakan rumit, tetapi melihat Fauraza yang bisa menjadikan seorang lelaki untuk menjadi tunangan adalah hal yang cukup keren.</p>

<p>   Walau agak memaksakan kehendak, selagi anak itu tahu risikonya, tidak masalah menurut dia. Kalaupun memang Fauraza membutuhkannya perihal cinta, ia setia untuk menolongnya. Meskipun hanya dengan kata-kata yang bisa ia ketahui, sejujurnya tidak mudah baginya untuk memahami wanita.</p>

<p>   Ya, terlebih sudah terjadi kejadian seperti sesuatu yang membuat mereka harus bisa terbuka satu sama lain, serta mereka yang perlu bersikap dewasa dalam mengatasi segala permasalahan dalam percintaan masing-masing.</p>

<p>   Ia tergabung dibeberapa organisasi, karena sedang berada dalam masa cuti akan pekerjaan sampingannya, tetapi dia tetap saja mengikuti kegiatan karena tidak memiliki pekerjaan selain itu. Sesekali memang pemuda itu akan mampir pulang ke rumah orang tuanya dan melepas rindu, hanya saja dengan tugas kuliah yang menyebalkan, membuat ia harus terus berduaan untuk mengurus tugas kuliah.</p>

<p>   Hingga, dalam perjalanan untuk membeli sesuatu, tidak sengaja ia bertabrakan di jalan dengan seorang wanita. Kalau saja pergerakan tangannya tidak cekatan, mungkin wanita tersebut sudah hampir jatuh dengan minuman yang wanita itu pegang.</p>

<p>   “Ah, maafkan saya, Nona.” Ia merangkul bahu dari si dara yang telah ditolong olehnya. Meskipun begitu, karena tidak mendapatkan respons membuatnya merasa canggung dengan momen tersebut.</p>

<p>   Lekas, Kaitosawa Shuu, pemuda itu mulai menyingkirkan tangannya dari bahu wanita tersebut. “Apakah dirimu baik-baik saja?” tanyanya lagi, mulai menyadarkan figur indah dalam tatapan mata.</p>

<p>   Wanita itu baru sadar dengan aksi yang laki-laki di hadapannya ini laku