<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>fanfictionarchives &amp;mdash; reeinshiyu</title>
    <link>https://reeinshiyu.writeas.com/tag:fanfictionarchives</link>
    <description>Seluruh kisah yang dikhususkan kepada mereka yang berkenan untuk membacanya.</description>
    <pubDate>Thu, 14 May 2026 01:48:52 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Harmoni Setiap Kehidupan</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/harmoni-setiap-kehidupan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Tsukigami Kaito × Hizamara Fauraza.&#xA;  #FaureYume; #KaiFau.&#xA;&#xA;   .&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #StarMyu © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Bunga sakura tampak menari di atas kanvas luas yang terbentang di penjuru negeri, kanvas yang warnanya berubah dari biru cerah siang hari hingga merah jingga saat senja menjelang. Langit, dalam segala perubahannya, selalu menawarkan pemandangan yang memikat, sanggup mengalihkan atensi para astrophile.&#xA;Awan-awan pun ikut bergerak, menyisipkan nuansa putih yang menawan. Mereka menghadirkan suasana yang berbeda setiap waktu, memberi sentuhan siluet dan rupa yang memancing imajinasi.&#xA;&#xA;Netra berwarna biru lembut selalu terlihat bersinar, bagaikan kelopak nemophila yang mekar di bawah sinar mentari ketika musim semi tiba. Warna yang jarang ditemui, terlihat tenang, dan hampir rapuh. Tatapan itu selalu memberikan jeda waktu untuk orang-orang &#xA;yang melihat sepasang warna mata miliknya.&#xA;&#xA;Sang wanita dengan rambut ungu lembut tampak menanti kedatangan seseorang yang paling dinantikannya. Beberapa kali, sepasang mata beralih antara layar ponsel dan ke arah tepi jalan, tempat yang paling sering dilalui oleh banyak orang. Setiap kali bayangan sosok indah yang dinantinya muncul di antara orang-orang yang berlalu-lalang, harapannya seolah menguat.&#xA;&#xA;Dari kejauhan, ia mendapati figur indah yang paling dinantikannya. Sudah berapa tahun berlalu sejak mereka tak lagi sering bertemu, tepatnya semenjak memasuki tahun terakhir masa sekolah. Meski begitu, keduanya tetap saling bertukar sapa, walau hanya menyita sebagian kecil dari waktu yang mereka miliki.&#xA;&#xA;Tepat ketika tatapan mereka bertemu, keheningan yang tak terbatas menyelimuti. Tak satu pun kata terucap, hanya embusan angin yang lewat, membawa kesejukan yang menambah sunyi di antara mereka. Senyuman terlukis pada bibir milik sang gadis, sepasang matanya menyiratkan penuh kebahagiaan. Pertemuan pertama mereka, setelah berbagai kesibukan menghalangi keduanya berjumpa lagi. &#xA;&#xA;&#34;Maaf, aku terlambat.&#34;&#xA;&#xA;Perkataan itu keluar dari mulut pemuda di hadapannya. Lelaki itu memulai percakapan terlebih dahulu, sementara sang gadis tak bisa menyembunyikan rasa terkejut atas kata-kata yang baru saja terlontar.&#xA;&#xA;&#34;Tidak, aku sendiri baru saja tiba.&#34; &#xA;&#xA;Bohong. Gadis itu sudah menunggu selama satu jam penuh, sebelum janji untuk mereka bertemu lagi. Padahal, biasa yang sering terlambat itu perempuan, karena terlalu lama untuk berdandan, &#39;kan? Namun kali ini tampaknya berbeda, tak ada yang terlambat dari waktu yang telah ditentukan. Mereka bahkan datang lebih awal, sekitar tiga puluh menit sebelum waktu pertemuan yang dijanjikan.&#xA;&#xA;&#34;Ah, begitu?&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Tsukigami Kaito × Hizamara Fauraza.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:KaiFau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">KaiFau</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:StarMyu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">StarMyu</span></a> © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. </p></blockquote>

<hr/>

<p>Bunga sakura tampak menari di atas kanvas luas yang terbentang di penjuru negeri, kanvas yang warnanya berubah dari biru cerah siang hari hingga merah jingga saat senja menjelang. Langit, dalam segala perubahannya, selalu menawarkan pemandangan yang memikat, sanggup mengalihkan atensi para <em>astrophile</em>.
Awan-awan pun ikut bergerak, menyisipkan nuansa putih yang menawan. Mereka menghadirkan suasana yang berbeda setiap waktu, memberi sentuhan siluet dan rupa yang memancing imajinasi.</p>

<p>Netra berwarna biru lembut selalu terlihat bersinar, bagaikan kelopak nemophila yang mekar di bawah sinar mentari ketika musim semi tiba. Warna yang jarang ditemui, terlihat tenang, dan hampir rapuh. Tatapan itu selalu memberikan jeda waktu untuk orang-orang
yang melihat sepasang warna mata miliknya.</p>

<p>Sang wanita dengan rambut ungu lembut tampak menanti kedatangan seseorang yang paling dinantikannya. Beberapa kali, sepasang mata beralih antara layar ponsel dan ke arah tepi jalan, tempat yang paling sering dilalui oleh banyak orang. Setiap kali bayangan sosok indah yang dinantinya muncul di antara orang-orang yang berlalu-lalang, harapannya seolah menguat.</p>

<p>Dari kejauhan, ia mendapati figur indah yang paling dinantikannya. Sudah berapa tahun berlalu sejak mereka tak lagi sering bertemu, tepatnya semenjak memasuki tahun terakhir masa sekolah. Meski begitu, keduanya tetap saling bertukar sapa, walau hanya menyita sebagian kecil dari waktu yang mereka miliki.</p>

<p>Tepat ketika tatapan mereka bertemu, keheningan yang tak terbatas menyelimuti. Tak satu pun kata terucap, hanya embusan angin yang lewat, membawa kesejukan yang menambah sunyi di antara mereka. Senyuman terlukis pada bibir milik sang gadis, sepasang matanya menyiratkan penuh kebahagiaan. Pertemuan pertama mereka, setelah berbagai kesibukan menghalangi keduanya berjumpa lagi.</p>

<p>“Maaf, aku terlambat.”</p>

<p>Perkataan itu keluar dari mulut pemuda di hadapannya. Lelaki itu memulai percakapan terlebih dahulu, sementara sang gadis tak bisa menyembunyikan rasa terkejut atas kata-kata yang baru saja terlontar.</p>

<p>“Tidak, aku sendiri baru saja tiba.”</p>

<p>Bohong. Gadis itu sudah menunggu selama satu jam penuh, sebelum janji untuk mereka bertemu lagi. <em>Padahal, biasa yang sering terlambat itu perempuan, karena terlalu lama untuk berdandan, &#39;kan?</em> Namun kali ini tampaknya berbeda, tak ada yang terlambat dari waktu yang telah ditentukan. Mereka bahkan datang lebih awal, sekitar tiga puluh menit sebelum waktu pertemuan yang dijanjikan.</p>

<p>“Ah, begitu?”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/harmoni-setiap-kehidupan</guid>
      <pubDate>Sat, 24 May 2025 14:24:25 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Samidare [五月雨]</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/samidare-wu-yue-yu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Satsuki Aoi × Yukihime Aoi.&#xA;  #FaureTrade; #TsukiHime.&#xA;&#xA;   A simple moment, but so memorable. The story of the prince and his beloved princess.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #Tsukiuta. The Animation © TSUKINO TALENT PRODUCTION. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Semula mentari bersembunyi di balik awan-awan yang kini mulai menari menjauhinya. Tepat pada saat itulah sang mentari muncul dan menunjukkan jati dirinya, mengirimkan cahaya keemasan yang perlahan menyapu permukaan gedung-gedung tinggi. Beberapa perumahan yang memiliki jendela kaca kini memantulkan sinarnya dengan gemilang, seolah menyambut pagi yang baru dengan kilauan yang hangat. Tidak hanya memantulkan sinarnya, tetapi juga menelusup di antara celah pepohonan, menciptakan pola-pola cahaya di trotoar yang mulai ramai oleh langkah kaki yang tergesa-gesa. Telihat saat ini jalanan telah dipenuhi oleh para penduduk kota yang sudah mulai menjalankan aktivitasnya sehari-hari. &#xA;&#xA;Di beberapa area, terdapat kedai-kedai kopi mulai dipenuhi pelanggan yang mengantre dengan wajah masih mengantuk, sementara aroma roti panggang dan kopi hangat menyebar di udara, memberi semangat baru bagi mereka yang bersiap menghadapi hari. Tidak jauh dari kedai kopi yang menjadi langganan orang dewasa yang mampu mengembalikan semangat pagi hari tadi, terdapat sebuah toko bunga yang dikelola oleh seorang wanita muda. Setiap pagi, wanita itu selalu sibuk akan aktivitas kesehariannya dalam mengurus beberapa tanaman hidup yang menghiasi halaman toko bunga yang telah lama dia bangun, dengan menyisihkan uang dari hasilnya bekerja paruh waktu.&#xA;&#xA;Pemilik toko bunga itu bernama Yukihime Aoi atau biasanya lebih akrab disapa Hime, oleh orang-orang terdekatnya. Semenjak SMA dulu, Hime telah menyisihkan sebagian uang yang dihasilkan dari pekerjaan paruh waktunya. Tidak berselang lama, sampai akhirnya ia menyelesaikan jenjang pendidikannya. Terkadang, disela-sela aktivitas kesehariannya sebagai florist, dirinya juga merupakan seorang penggemar dari idola dari grup ternama, yaitu Six Gravity. Sudah lama dia menjalani kehidupannya sebagai penggemar, kerap kali membuat dirinya ingin selalu menghadiri beberapa acara Six Gravity. Hingga tibalah masa di mana keduanya mulai menjalin keterikatan sebagai pasangan, mereka menyatakan bahwa mereka berpacaran. &#xA;&#xA;Figur indah yang merupakan seorang idola yang sering dipuji sebab ketampanannya yang luar biasa, kini telah menjadi pasangan dari seorang wanita yang luar biasa pula akan kecantikannya. Satsuki Aoi adalah nama dari sang idola tersebut. Sebuah kebetulan kedua nama depan mereka sama. Alhasil, si wanita itu tetap dipanggil sebagai Hime. Takutnya, kalau dia disapa sebagai Aoi juga, yang ada mereka berdua menolehkan kepalanya. Walau tetap ada kemungkinan, Hime sendiri merasa terpanggil, karena mau bagaimanapun Aoi juga namanya, sementara Hime adalah penggalan kata dari nama marga kepunyaan miliknya, yang kini telah menjadi sebutan akrab untuknya.&#xA;&#xA;Awalnya, saat Hime mulai berpacaran dengan Aoi, ia sempat berpikir bahwa itu sedikit mustahil. Sadar bahwa pekerjaan kekasihnya itu merupakan seorang idola, rasanya agak kurang pantas ketika ada orang yang mengenalnya, entah itu penggemar ataupun orang yang memang tidak asing dengan perawakannya. Sebab itu, Hime sering mampir ke asrama Six Gravity sebulan sekali, untuk berjumpa dengan kekasih tercintanya, Aoi. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di dalam asrama, lantaran mereka sadar bahwa hal itu tidak bisa sering mereka lakukan, tanpa adanya penyamaran tertentu. Biasanya, Hime sering menyamarkan dirinya dengan berpenampilan seperti laki-laki, supaya Aoi bisa bebas tanpa harus menggunakan masker. Hanya saja, jika hal itu tidak dilakukan saat dalam jangka waktu yang mendadak, Hime masih bisa mempersiapkan dirinya.&#xA;&#xA;Tangannya mengusap keringat, tanda telah berakhirnya kegiatan dalam mengurus tanaman yang menghias halaman di depan toko bunganya. Hime mengambil napas panjang, “Akhirnya selesai juga!” serunya tampak bahagia.&#xA;&#xA;Kesehariannya dalam mengurus tanaman telah ia selesaikan, ternyata hal itu tidak terlalu memakan waktu yang lama. Kini halaman depan tokonya telah dipenuhi oleh bunga hidup dalam pot yang sudah tertata rapi, sehingga bisa menciptakan suasana segar di pagi hari yang mana cuacanya juga cukup mendukung, serta menenangkan bagi siapapun yang melewati tokonya. “Nah, kalau seperti ini jadinya lebih enak dipandang,” ujarnya entah kepada siapa.&#xA;&#xA;Sedari tadi, mata birunya terus memperhatikan tanaman hidup yang dia urus sebelumnya. Rambut hitamnya terikat rapi berbentuk ekor kuda sedikit lebih tinggi sangat memudahkan dirinya dalam beraktivitas mengurus tanaman itu. Ia selalu memastikan agar setiap bunga yang berada di luar tokonya ini telah mendapatkan sinar matahari yang cukup, supaya nantinya mereka bisa dapat tumbuh dengan sangat cantik. &#xA;&#xA;Pagi ini, Hime telah menyelesaikan aktivitasnya di luar toko, yang berarti sekarang ia perlu menuntaskan aktivitas di dalam toko miliknya. Hime bergumam pelan, “Lalu sekarang bagian dalam tokonya pula, kira-kira bisa terselesaikan tidak, ya?” &#xA;&#xA;Lonceng berbunyi ketika ia memasuki tokonya sendiri, ada aroma bunga yang selalu tercium lembut setiap kali ia masuk ke dalam tokonya. Saat hari sibuk, Hime menghabiskan waktunya untuk merangkai buket bunga kepada pelanggan yang memesan buket bunganya, entah itu hanya sekadar penghias meja, untuk hadiah ulang tahun, atau mungkin sebuah pernikahan. Tentunya, jika ada sebuah kejadian atau acara tertentu yang membuatnya perlu mengirimkan buket bunga sedikit lebih mewah, seperti untuk pernikahan tadi, ia sudah memberitahukan agar dipesan jauh-jauh hari. Pada dasarnya, Hime juga membutuhkan sedikit lebih banyak waktu untuknya bekerja dalam merangkai buket bunga dan akhirnya ia bisa menghasilkan karya buket bunga yang terbaik.&#xA;&#xA;Tangan Hime sibuk mencari lembaran kertas yang mana ia tuliskan catatan pemesanan buket bunga dari beberapa pembelinya. “Sebuah buket bunga untuk kelulusan pacarnya, ya? Romantisnya anak-anak zaman sekarang ini,” kata Hime sedikit tertawa kecil. Ia benar-benar dibuat gemas karena catatan yang dibacanya sekarang ini.&#xA;&#xA;Kebetulan pula suasana hatinya saat ini sedang berada dalam perasaan yang sangat baik. Rasanya tidak akan pernah luntur senyuman yang sedari tadi pagi ia lukiskan pada kurva indah bibirnya. Seperti biasa, sebelum Hime memulai aktivitasnya setiap pagi untuk membuka toko bunga, tidak lupa untuk menyempatkan diri memberikan kabar atau sekadar menyemangati sang terkasih. &#xA;&#xA;Sebelumnya, ia pernah melupakan untuk bertukar sapa dengan sang kekasih, sehingga kenangan itu membuatnya kembali teringat akan mimik wajah yang biasanya menunjukkan senyuman luar biasa menawan, justru menyiratkan rasa cemas dan khawatir pada waktu itu. Takutnya, Aoi nanti akan mengkhawatirkannya lagi dan akhirnya malah mengganggu konsentrasi pekerjaan sang terkasih. Padahal menurutnya, sang pangeran itu adalah orang yang profesional dalam bekerja. &#xA;&#xA;Akan tetapi, pangerannya itu tetaplah seorang manusia yang bisa merasakan berbagai macam perasaan, apalagi pekerjaannya sebagai idola yang terkadang membuat lebih sibuk, tidak heran untuk beberapa kali ia sempat kehilangan fokus sebab pikirannya yang berlebihan. Ada sebuah alasan mengapa kekasihnya sering kali dipanggil sebagai pangeran, terutama di kalangan penggemar. &#xA;&#xA;Rahasia umum keluarga Satsuki adalah para lelakinya yang tumbuh di keluarga tersebut, terlahir dengan ketampanan luar biasa. Bahkan, tidak heran pula kalau seperti ada kilatan cahaya yang menyinari pada saat senyuman terlukis pada bibir mereka. Namun, bukan berarti hanya ada pangeran. Kekasihnya Aoi ialah Hime, yang namanya juga—meskipun itu merupakan nama marganya—memiliki makna seorang putri. Benar-benar seperti takdir, sang putri untuk si pangeran tampan, dan si pangeran untuk sang tuan putri yang cantik jelita. Selain itu, hal yang paling lucunya, kedua nama depan mereka sama-sama Aoi. Inilah alasan mengapa orang-orang disekitar Hime, memanggilnya dengan nama marganya. Terlebih, kekasihnya pula turut serta memanggil dengan nama itu. &#xA;&#xA;Dengan cermat, Hime akhirnya mengetik beberapa kalimat pada ponselnya. Namun, tidak berselang waktu yang lama, Hime sedikit dikagetkan oleh respons dari kekasihnya. Tertulis balasan dari Aoi di ponselnya, ternyata Aoi mengajak dirinya untuk pergi berkencan nanti sore, selain membalas ucapan selamat pagi dari Hime, dan ia juga mengatakan terima kasih kepadanya, karena ia telah memberitahu kabarnya. &#xA;&#xA;“Eh, apa? Aoi-kun mengajak berkencan di luar? Astaga, tiba-tiba sekali….” Hime benar-benar terkejut. Hime awalnya menduga jika hari ini Aoi akan sibuk seharian ini, karena latihannya sebagai idola cukup menghabiskan banyak waktu. &#xA;&#xA;Maka dari itu, dengan segera Hime membalas pesan sang terkasih, dirinya akan berusaha mempersiapkan penampilannya untuk menyamar sebagai laki-laki dengan pakaian yang memang sudah tersimpan rapi di lemarinya. Aoi sudah mengetahui kebiasaan Hime seperti itu, setiap kali mereka memutuskan untuk berkencan di luar ruangan. &#xA;&#xA;Awalnya, Aoi tidak ingin membuat Hime merasa harus direpotkan untuk menyamar sebagai laki-laki, pada saat mereka berkencan di luar nantinya. “Padahal hal seperti itu tidak masalah bagiku,” gumamnya. &#xA;&#xA;Percayalah, Hime lebih tidak ingin membuat Aoi kerepotan, walaupun itu sekadar menggunakan masker. Ia juga ingin menatap lebih lama wajahnya yang tampan, tanpa harus ditutupi oleh masker.&#xA;&#xA;Sekarang ini, Hime tengah tenggelam dalam kesibukannya merawat tanaman yang tertata rapi di dalam toko bunga miliknya. Meski begitu, bukan berarti hanya bagian luar saja yang dipenuhi bunga. Justru, di dalam toko terdapat lebih banyak bunga yang tersusun rapi di rak kayu bertingkat, yang memiliki warna cokelat alami dengan permukaan halus akibat lapisan pernis tipis. Beberapa rak menempel pada dinding, sementara yang lain berdiri sendiri, menopang berbagai pot kecil berisi tanaman hias. Rak-rak ini sudah dirancang oleh Hime sejak awal, tidak hanya untuk menampung koleksi bunganya, tetapi juga agar pelanggan bisa dengan mudah melihat dan memilih bunga yang mereka sukai. Hal ini sudah direncanakan dengan baik oleh Hime, bahkan sebelum toko bunga ini ada.&#xA;&#xA;Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela besar di bagian depan toko bunga, membiaskan warna-warna lembut dari kelopak yang tertata rapi di rak. Hal itu menandakan bahwa udaranya terasa lebih hangat dibandingkan sejuknya pada saat pagi tadi, sebelum sang mentari menunjukkan cahaya kehangatan terkhusus untuk semua makhluk hidup yang membutuhkannya. &#xA;&#xA;Suara gunting beradu dengan batang, plastik pembungkus itu terdengar berdesir halus saat dilipat, dan dentingan kecil vas kaca yang saling bersentuhan mengisi keheningan. Hime mulai menata ulang stok bunga segar, sesekali dirinya memeriksa daun-daun yang mulai layu dan memilah mana yang masih layak dijual.&#xA;&#xA;Suara asing menyapu indra pendengarannya, saat kepala Hime menoleh ke arah jendela ternyata ia melihat rintik-rintik hujan telah turun. Senyuman yang semula merekah menjadi sedikit kurang berkesan tuk dipandang. Mata sebiru lautan membentak itu, sejenak menatap fenomena air hujan yang turun ke tanah, serta menari dengan bebas di trotoar.&#xA;&#xA;“Ya ampun, ternyata turun hujan. Perasaan saat tadi aku lihat langitnya masih terlihat cerah,” kata Hime, masih memperhatikan hujan dari balik jendela toko bunganya. Sungguh aneh ketika hujan turun tanpa peringatan, seolah dunia ingin memberikan kejutan kecil di tengah kesibukan kota yang padat. &#xA;&#xA;Sejenak, Hime berpikir hujannya akan berhenti dalam beberapa waktu kemudian. Kendati langit masih tampak cerah, hujan tetap membasahi jalanan. Hime melihat ke arah langit-langit dan bertanya pada dirinya sendiri, “Apa itu hujan panas? Seingatku, pernah juga ada fenomena hujan pada saat musim panas.”&#xA;&#xA;Hime sendiri tidak mau mengambil risiko untuk melihat ke luar, takutnya kalau hujan yang sedang turun itu memang hujan panas  yang mana merupakan suatu fenomena meteorologi, turunnya hujan pada saat matahari sedang bersinar. Sehingga ia memutuskan hanya mendengarkan suara bulir-bulir hujan dari dalam toko bunga miliknya. Hime menghela napas pelan. Kalau ini memang hujan panas, seharusnya tidak akan berlangsung lama. &#xA;&#xA;Udaranya sedikit lebih dingin sewaktu hujan itu mulai membasahi trotoar, Hime kembali melanjutkan aktivitasnya untuk merangkai buket bunga yang dipesan seseorang.  Dia tadi sempat melamun lama sesekali menatap hujan turun dari balik jendela tokonya, kini jari-jari yang sedari tadi tanpa sadar telah selesai menggulung pita dari bunga yang ia rangkai sebelum ini. Suasana hujan yang mendayu membuat Hime sedikit hanyut dalam pikirannya sendiri, hingga waktu terasa berjalan lebih cepat daripada sebelum dia beraktivitas tadi.&#xA;&#xA;Angin membawa sisa hujan yang turun sejak pagi, saat matahari masih bersinar. Kini langit mulai memperlihatkan warna senja yang menenangkan, sementara jalanan tetap basah tersapu angin. Langit yang kelabu itu masih dihiasi oleh ritme gerimis yang berjatuhan di atas dedaunan. Entah mengapa, udara terasa lebih segar setelah hujan reda, meskipun musim panas telah tiba. &#xA;&#xA;“Aku jadi teringat sama Aoi-kun,” katanya pelan. Hujan yang muncul di awal musim panas, justru mengingatkannya pada figur indah nan menawan yang mana sudah akrab di benak Hime. Dari balik jendela, sepasang mata biru milik si jelita itu menatap keluar, memperhatikan langit yang perlahan berubah—kelabu yang semula suram kini mulai berganti dengan semburat jingga dan merah muda.&#xA;&#xA;Sudah berjam-jam lamanya, Hime akhirnya duduk lebih santai di sebuah kursi kayu yang berada di samping jendela. Ia mengambil napas panjang setelah menghabiskan banyak waktunya untuk merangkai buket bunga pesanan dari seseorang. Sejenak, Hime mengambil air minum yang semula ia telah sajikan di atas meja. Kini air minum tersebut sudah masuk ke tenggorokannya. Rasanya seperti dia hidup kembali. Sedari tadi, Hime memang selalu fokus pada pekerjaannya, tetapi ia berusaha mengistirahatkan tubuhnya dan mengisi tenaganya barang sekadar makan sepiring nasi untuk bisa mengganjal perutnya.&#xA;&#xA;Sekarang ini dilihatnya jarum jam yang sudah menunjukkan jam setengah tiga, itu artinya janji tuk bertemu sang pujaan hatinya tidak lama lagi. Sebenarnya Hime tidak tahu pasti mereka harus bertemu kapan, tetapi yang pasti dia berusaha bersiap lebih dahulu sebelum waktunya tiba. Lekas dirinya masuk ke dalam kamarnya, Hime mulai mengganti gaun sederhana yang biasa dipakai olehnya, kini menjadi sebuah kemeja berwarna krem dan dengan lapisan sweater hitam yang menghiasinya, serta sebuah celana yang mungkin kelihatannya lebih cocok digunakan jika dia adalah seorang pria. Akan tetapi, karena Hime adalah seorang wanita, justru sedikit sulit untuk mengakalinya. Hime sempat mengakalinya dengan menggunakan ikat pinggang supaya lebih pas saat dipakai dan merapikan penampilannya rambutnya dengan menggunakan wig berwarna merah.&#xA;&#xA;Saat Hime bersiap memasang wig merahnya, tiba-tiba lonceng pintu toko berbunyi—tanda bahwa seorang telah masuk ke toko bunganya. “Tunggu sebentar!” Hime berseru dari dalam toko, kemudian akhirnya ia memutuskan untuk keluar, melihat siapa orang yang datang pada saat itu juga.&#xA;&#xA;Penampilannya memang belum sepenuhnya sempurna; masih ada bagian rambut aslinya yang belum tersembunyi dengan baik. Namun, rasa penasaran mengalahkan kehati-hatiannya, sebab dirinya malah terburu-buru melihat siapa yang datang, ia bahkan lupa memakai kacamata yang biasanya digunakan saat ia menyamar sebagai laki-laki. Sejujurnya ia agak takut kalau ternyata orang yang datang ke toko bunganya itu salah satu pelanggannya, ada terbesit perasaan tidak pantas menyamar, jika dirinya berada di depan pelanggan.&#xA;&#xA;Namun, ternyata orang yang datang itu adalah orang yang sedari tadi ia tunggu. Matanya melebar kaget—ini benar-benar di luar perkiraan, apalagi figur indah itu membawa sebuah payung bersamanya. Hime berdiri terpaku di tempatnya, melihat kekasihnya itu telah berdiri di ambang pintu toko bunganya, sembari menutup payung yang dibawanya.&#xA;&#xA;Sebuah senyuman terlukis di wajah pria bersurai pirang dengan mata sejernih langit cerah. Sepertinya, ia datang lebih awal dari waktu yang telah mereka sepakati. “Ah, apakah aku datang terlalu cepat?” tanyanya dengan suara lembut.&#xA;&#xA;Suara sang terkasih membuat Hime tersadar dari keterkejutannya. Ia segera menggeleng pelan. “Tidak, aku hanya sedikit terkejut melihat Aoi-kun langsung kemari sambil membawa payung. Dirimu tidak nekat saat turun hujan tadi, ‘kan?” tanyanya penasaran.&#xA;&#xA;Aoi terkekeh pelan, mengangkat sedikit payung yang masih tergenggam di tangannya. Dia kemudian membalas, “Tidak, tentu saja tidak. Aku membawa payung hanya untuk berjaga-jaga.”&#xA;&#xA;Hime menghela napas lega, tetapi tetap menatapnya penuh selidik. “Syukurlah kalau begitu. Jangan sampai Aoi-kun kehujanan, nanti bisa masuk angin.”&#xA;&#xA;Aoi mulai melukis senyuman di bibirnya. Hime memang sering kali memperhatikannya dengan baik, hal itu juga yang selalu membuat dirinya merasa bahagia. “Kau selalu mengkhawatirkanku, ya?” Sesungguhnya, perkataan sederhana seperti ini sudah sukses membuat rona merah muncul diwajah milik Hime. &#xA;&#xA;“Sepertinya, Hime-chan masih belum siap, ya?” tanya Aoi, entah mengapa Hime malah merasa Aoi sedang mempermainkannya. Padahal, seharusnya Aoi bisa melihat dengan jelas kalau wig yang Hime sedang pakai saat ini belum terlihat rapi sama sekali.&#xA;&#xA;Hime mulai menggerutu, “Aoi-kun, kelihatannya sengaja sekali bicara seperti itu.” Dia menunjukkan reaksi tidak suka, rasanya ia dia ingin memalingkan wajah sekarang juga. Akan tetapi, pada detik yang sama pula, Aoi ternyata sudah berada didekatnya. Dengan telaten, Aoi membenarkan wig yang sempat Hime pasang sebelumnya. Hime merasa kalau Aoi tampaknya terbiasa mengurus hal seperti ini. Beberapa menit diperlukan Aoi untuk membantu menyembunyikan rambut aslinya Hime. Sungguh, Hime pun awalnya tidak menduga, kalau Aoi tadi tiba-tiba saja membantu untuk mengatur rambut aslinya, supaya bersembunyi di balik wig berwarna merah itu.&#xA;&#xA;Aoi kini mulai bertanya kepada Hime, “Hime-chan, apakah sekarang sudah lebih nyaman digunakan?” Hime mendongak sedikit melihat kepala Aoi, tadinya mata Hime menatap ke arah sisi kanan dan kiri bagian wignya, memastikan juga apakah rambutnya sudah tersimpan rapi dibalik wig miliknya itu.&#xA;&#xA;“Sudah lebih baik daripada tadi, terima kasih Aoi-kun! Aku ke dalam sebentar untuk memasang lensa kontak dulu, ya.” Hime berterima kasih kepada Aoi, karena telah membantunya merapikan rambut, beserta wig yang digunakan&#xA;&#xA;Aoi menganggukkan kepalanya pelan, kemudian mengatakan, “Kalau begitu aku duduk disini dan menunggumu, ya.” Hime sebenarnya tidak ingin membuat Aoi menunggu, tetapi Aoi sempat berkata bahwa tidak masalah baginya untuk menunggu sejenak, lagipula jamnya baru saja mengarah pada jam tiga kurang sepuluh menit.&#xA;&#xA;Hime juga tidak memakan waktu yang lama untuk menggunakan lensa kontak, serta menggunakan kacamatanya yang biasa digunakan. Walaupun nanti ia akan merasa sedikit kelelahan saat melihat, tetapi tidak masalah, ia masih sanggup menahannya dalam beberapa jam kedepan.&#xA;&#xA;“Aoi-kun, maaf membuatmu menunggu lama!” Hime mengatakan itu kepada Aoi dan meskipun tadinya memakan waktu berapa puluh menit, kencan yang mereka tunggu-tunggu hari ini bisa segera terlaksanakan.&#xA;&#xA;Aoi memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal, sementara Hime menutup sebentar toko bunga miliknya—menandakan bahwa saat ini, toko bunga milik Hime tidak sedang menerima pelanggan terlebih dahulu.&#xA;&#xA;Keduanya bersiap pergi ke suatu tempat yang sudah Aoi rencanakan, selain itu dia berpesan kepada Hime untuk berjaga-jaga membawa payung juga, takut terjadi hujan. Biarpun sekarang kondisinya masih terlihat bulir-bulir air berjatuhan tidak merata, langitnya sudah terlihat sedikit lebih terang. Hime juga menyetujui untuk membawa payung sendiri-sendiri, bukan karena dia tidak mau sepayung berdua sama Aoi. Akan tetapi, karena sekarang ini posisinya ia menyamar sebagai laki-laki, tidak mungkin baginya untuk sepayung berdua, meskipun tingginya tetap masih lebih tinggi Aoi.&#xA;&#xA;Lonceng kembali berbunyi, saat keduanya keluar dari toko bunga dan membuka payung mereka masing-masing. Terlihat bahwa gerimisnya masih turun, walaupun hanya terdengar seperti suara rintik halus di atas payung mereka. Hal ini menciptakan suasana tenang dengan lantunan irama dari hujan yang tak kunjung reda, padahal langit sudah hampir seutuhnya kembali cerah.&#xA;&#xA;Jalanan masih basah karena hujan sedari tadi pagi, serta aroma tanah setelah hujan mulai terasa berterbangan di udara. Mereka berjalan berdampingan dan mengobrol santai, tentang apa saja yang mereka lakukan hari ini, sampai tidak terasa bahwa sampailah mereka di sebuah kedai terdekat. &#xA;&#xA;Mereka berdua memilih tempat duduk di dekat jendela, sembari menikmati waktu berdua dan melihat sisa hujan di luar. Sebuah menu telah disajikan kepada mereka, keduanya duduk bersebelahan sembari melihat menu itu.&#xA;&#xA;“Hime-chan, mau mencoba kakigōri, tidak?” tanya Aoi kepada Hime.&#xA;&#xA;Hime menatap ke arah Aoi, sedikit bertanya-tanya terlihat jelas dari ekspresi wajahnya. “Kakigōri itu apa?” Sejujurnya, Hime baru saja tahu tentang hal itu. &#xA;&#xA;“Dessert, kok. Katanya seperti es serut yang dibumbui sama sirup dan pemanis, ataupun susu kental manis,” jelas Aoi. Hanya saja, perkataan Aoi membuat tanda tanya besar sekaligus rasa penasaran Hime terlihat.&#xA;&#xA;“Apakah ada yang merekomendasikan itu kepadamu, Aoi-kun?” Tatapan Hime penuh selidik. Jarang sekali bagi Hime mendengar rekomendasi makanan penutup dari Aoi.&#xA;&#xA;Aoi tersenyum canggung lantas ia berkata, “Ah, seorang penggemar yang menyarankannya. Lalu, kebetulan juga, aku belum pernah coba. Jadi sekalian saja, aku mencobanya bersama dirimu.”&#xA;&#xA;Awalnya Hime menaikan alisnya, tetapi kalimat terakhir dari Aoi membuat dia mendengkus. “Ya, baiklah. Aku akan mencobanya bersamamu,” balas Hime sambil tersenyum kecil. Tentu saja, Hime akan menerima hal itu dengan senang hati. Kapan lagi Aoi akan memberikan sebuah rekomendasi kepadanya.&#xA;&#xA;Pesanan sudah dibuat, yang artinya mereka sekarang perlu menunggu. Kemudian, keduanya kembali membicarakan banyak hal yang semula tertunda saat mereka berada di jalan tadi. “Aoi-kun, aku mau cerita sesuatu! Jadi, sewaktu aku mengurus pesanan buket bunga di tokoku, ternyata ada orang yang memesan buket bunga untuk kelulusan pacarnya,” ujar Hime dengan mata berbinar-binar, tanda bahwa ia sangat antusias kala menceritakannya.&#xA;&#xA;Sedari tadi Aoi fokus menatap Hime, seraya mendengarkan Hime. Hanya saja, atensi dari Aoi terpaku kepada Hime. Entah dia mendengarkan atau tidak, tetapi Aoi sempat berkata, “Andai saja saat kelulusan dulu, aku juga bisa mengirimkan Hime-chan sebuah buket bunga. Pasti kelihatannya sangat romantis juga, ‘kan?” &#xA;&#xA;Bukan main, Hime merasa wajahnya memerah. Entah kenapa pembicaraannya malah berakhir begitu saja. Sampai akhirnya perhatian mereka teralihkan kepada kakigōri yang sebelumnya mereka pesan. “Aoi-kun, sekarang kita makan saja dulu. Pesanannya sudah datang,” ujar Hime yang terdengar sangat gugup. Dia benar-benar tidak bisa menetralkan detak jantungnya setelah mendengar perkataan Aoi seperti itu.&#xA;&#xA;“Baiklah, selamat menikmati makanannya.”&#xA;&#xA;Rasanya ada kepuasan tersendiri bagi Aoi, ketika dia bisa membahagiakan Hime walaupun beberapa menit saja. Senyuman itu tidak akan pernah luntur dari bibirnya. Mereka berdua memotret dessert yang telah tersaji di meja mereka. Anggaplah ini sebagai salah satu kenang-kenangan yang bisa mereka lakukan saat berada di luar asrama. Selang waktu beberapa puluh menit lamanya, aktivitas mereka telah selesai di kedai itu. &#xA;&#xA;Awalnya Hime tidak berpikir, jika Aoi akan membawanya pergi ke suatu tempat. Kini di tempat di mana Hime dan Aoi berpijak terlihat sebuah tempat di mana pohon sakura ternyata masih menyisakan beberapa kelopaknya yang indah. Kelopak sakura yang tersisa di ranting-ranting basah seolah enggan jatuh, memilih tetap bertahan di tengah hujan musim ini yang terus turun mengguyur sejak pagi. &#xA;&#xA;Hime menatap takjub ke arah beberapa pohon sakura—ternyata kelopak-kelopak indah itu masih bertahan. Penasaran, ia pun bertanya, “Sebentar, kenapa bunga sakuranya masih mekar? Padahal sekarang sudah memasuki musim panas.”&#xA;&#xA;Aoi tersenyum kecil menatap ke arah Hime, “Hime-chan, tahu tentang samidare?” tanyanya balik.. &#xA;&#xA;Hime menoleh ke arah Aoi, dan mengangguk pelan. “Samidare itu hujan panjang di awal musim panas, bukan?” tanya Hime kepada Aoi. Ia mencoba memastikan jawabannya.&#xA;&#xA;“Benar sekali.” Aoi mengangguk, kemudian ia melanjutkan, “Hujan yang berkepanjangan itu membawa efek yang tidak biasa pada pohon sakura, sehingga membuat kelopaknya tetap mekar lebih lama daripada seharusnya.”&#xA;&#xA;Percakapan mereka lagi-lagi menghanyutkan suasana, tanpa terasa langit mulai cerah kembali, tetapi tetesan air masih jatuh dari daun dan kelopak sakura yang tersisa.  &#xA;&#xA;Keduanya menikmati momen itu bersama. Saat berdiri di bawah pohon sakura, Aoi sedikit iseng dan menggoyangkan dahan pohonnya, membuat air berjatuhan ke arah Hime. Refleks bergeser dari tempat tersebut, dengan ekspresi kesal ia menatap sang kekasih. &#xA;&#xA;Hime mulai menggerutu, “Kenapa Aoi-kun hari ini benar-benar iseng, sih?!” &#xA;&#xA;Aoi lekas dibuat tertawa, kebahagiaan sederhana yang dia inginkan seperti ini bersama sang terkasih. Ia kemudian menjawab sambil tersenyum, “Aku ‘kan nggak sengaja.” &#xA;&#xA;Sekilas dilihatnya kelopak bunga sakura jatuh di atas rambut Hime. Saat itu juga, Aoi mengulurkan tangannya, tetapi bukannya langsung mengambil kelopak itu, dia malah membenarkan rambut palsu milik Hime. Serius, penyamaran seperti ini juga pun tidak akan berguna jika ia tetap saja berhadapan dengan Aoi. Perlakuan tersebut menjadikan suasana lebih lembut dan penuh perhatian dari kekasih. Keduanya saling menatap lekat masing-masing. &#xA; &#xA;Mereka masih berdiri dan berdiam sejenak, seraya mendengar suara tetesan air dan angin yang berembus pelan, menikmati waktu yang terasa hanya milik mereka berdua. Setelah puas menikmati momen di bawah sakura, mereka melanjutkan perjalanan pulang dengan langkah lebih lambat. &#xA;&#xA;Kedua tangan mereka tetap saling bergandengan selama perjalanan pulang, tanpa banyak kata yang perlu diucapkan. Kejadian hari ini menjadi momen yang paling berkesan bagi keduanya—saling memahami satu sama lain melalui kenangan sederhana. Mereka membiarkan langkah tetap selaras, ditemani suara rintik hujan yang masih tersisa. Meski tanpa kata, genggaman tangan mereka sudah cukup untuk menyampaikan segalanya.&#xA;&#xA;End.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;  Note!&#xA;  Yukihime Aoi belongs to @aeternamare for Writing/Merch Trade.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Satsuki Aoi × Yukihime Aoi.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureTrade" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureTrade</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:TsukiHime" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">TsukiHime</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>A simple moment, but so memorable. The story of the prince and his beloved princess.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Tsukiuta" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Tsukiuta</span></a>. The Animation © TSUKINO TALENT PRODUCTION. </p></blockquote>

<hr/>

<p>Semula mentari bersembunyi di balik awan-awan yang kini mulai menari menjauhinya. Tepat pada saat itulah sang mentari muncul dan menunjukkan jati dirinya, mengirimkan cahaya keemasan yang perlahan menyapu permukaan gedung-gedung tinggi. Beberapa perumahan yang memiliki jendela kaca kini memantulkan sinarnya dengan gemilang, seolah menyambut pagi yang baru dengan kilauan yang hangat. Tidak hanya memantulkan sinarnya, tetapi juga menelusup di antara celah pepohonan, menciptakan pola-pola cahaya di trotoar yang mulai ramai oleh langkah kaki yang tergesa-gesa. Telihat saat ini jalanan telah dipenuhi oleh para penduduk kota yang sudah mulai menjalankan aktivitasnya sehari-hari.</p>

<p>Di beberapa area, terdapat kedai-kedai kopi mulai dipenuhi pelanggan yang mengantre dengan wajah masih mengantuk, sementara aroma roti panggang dan kopi hangat menyebar di udara, memberi semangat baru bagi mereka yang bersiap menghadapi hari. Tidak jauh dari kedai kopi yang menjadi langganan orang dewasa yang mampu mengembalikan semangat pagi hari tadi, terdapat sebuah toko bunga yang dikelola oleh seorang wanita muda. Setiap pagi, wanita itu selalu sibuk akan aktivitas kesehariannya dalam mengurus beberapa tanaman hidup yang menghiasi halaman toko bunga yang telah lama dia bangun, dengan menyisihkan uang dari hasilnya bekerja paruh waktu.</p>

<p>Pemilik toko bunga itu bernama Yukihime Aoi atau biasanya lebih akrab disapa Hime, oleh orang-orang terdekatnya. Semenjak SMA dulu, Hime telah menyisihkan sebagian uang yang dihasilkan dari pekerjaan paruh waktunya. Tidak berselang lama, sampai akhirnya ia menyelesaikan jenjang pendidikannya. Terkadang, disela-sela aktivitas kesehariannya sebagai florist, dirinya juga merupakan seorang penggemar dari idola dari grup ternama, yaitu Six Gravity. Sudah lama dia menjalani kehidupannya sebagai penggemar, kerap kali membuat dirinya ingin selalu menghadiri beberapa acara Six Gravity. Hingga tibalah masa di mana keduanya mulai menjalin keterikatan sebagai pasangan, mereka menyatakan bahwa mereka berpacaran.</p>

<p>Figur indah yang merupakan seorang idola yang sering dipuji sebab ketampanannya yang luar biasa, kini telah menjadi pasangan dari seorang wanita yang luar biasa pula akan kecantikannya. Satsuki Aoi adalah nama dari sang idola tersebut. Sebuah kebetulan kedua nama depan mereka sama. Alhasil, si wanita itu tetap dipanggil sebagai Hime. Takutnya, kalau dia disapa sebagai Aoi juga, yang ada mereka berdua menolehkan kepalanya. Walau tetap ada kemungkinan, Hime sendiri merasa terpanggil, karena mau bagaimanapun Aoi juga namanya, sementara Hime adalah penggalan kata dari nama marga kepunyaan miliknya, yang kini telah menjadi sebutan akrab untuknya.</p>

<p>Awalnya, saat Hime mulai berpacaran dengan Aoi, ia sempat berpikir bahwa itu sedikit mustahil. Sadar bahwa pekerjaan kekasihnya itu merupakan seorang idola, rasanya agak kurang pantas ketika ada orang yang mengenalnya, entah itu penggemar ataupun orang yang memang tidak asing dengan perawakannya. Sebab itu, Hime sering mampir ke asrama Six Gravity sebulan sekali, untuk berjumpa dengan kekasih tercintanya, Aoi. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di dalam asrama, lantaran mereka sadar bahwa hal itu tidak bisa sering mereka lakukan, tanpa adanya penyamaran tertentu. Biasanya, Hime sering menyamarkan dirinya dengan berpenampilan seperti laki-laki, supaya Aoi bisa bebas tanpa harus menggunakan masker. Hanya saja, jika hal itu tidak dilakukan saat dalam jangka waktu yang mendadak, Hime masih bisa mempersiapkan dirinya.</p>

<p>Tangannya mengusap keringat, tanda telah berakhirnya kegiatan dalam mengurus tanaman yang menghias halaman di depan toko bunganya. Hime mengambil napas panjang, “Akhirnya selesai juga!” serunya tampak bahagia.</p>

<p>Kesehariannya dalam mengurus tanaman telah ia selesaikan, ternyata hal itu tidak terlalu memakan waktu yang lama. Kini halaman depan tokonya telah dipenuhi oleh bunga hidup dalam pot yang sudah tertata rapi, sehingga bisa menciptakan suasana segar di pagi hari yang mana cuacanya juga cukup mendukung, serta menenangkan bagi siapapun yang melewati tokonya. “Nah, kalau seperti ini jadinya lebih enak dipandang,” ujarnya entah kepada siapa.</p>

<p>Sedari tadi, mata birunya terus memperhatikan tanaman hidup yang dia urus sebelumnya. Rambut hitamnya terikat rapi berbentuk ekor kuda sedikit lebih tinggi sangat memudahkan dirinya dalam beraktivitas mengurus tanaman itu. Ia selalu memastikan agar setiap bunga yang berada di luar tokonya ini telah mendapatkan sinar matahari yang cukup, supaya nantinya mereka bisa dapat tumbuh dengan sangat cantik.</p>

<p>Pagi ini, Hime telah menyelesaikan aktivitasnya di luar toko, yang berarti sekarang ia perlu menuntaskan aktivitas di dalam toko miliknya. Hime bergumam pelan, “Lalu sekarang bagian dalam tokonya pula, kira-kira bisa terselesaikan tidak, ya?”</p>

<p>Lonceng berbunyi ketika ia memasuki tokonya sendiri, ada aroma bunga yang selalu tercium lembut setiap kali ia masuk ke dalam tokonya. Saat hari sibuk, Hime menghabiskan waktunya untuk merangkai buket bunga kepada pelanggan yang memesan buket bunganya, entah itu hanya sekadar penghias meja, untuk hadiah ulang tahun, atau mungkin sebuah pernikahan. Tentunya, jika ada sebuah kejadian atau acara tertentu yang membuatnya perlu mengirimkan buket bunga sedikit lebih mewah, seperti untuk pernikahan tadi, ia sudah memberitahukan agar dipesan jauh-jauh hari. Pada dasarnya, Hime juga membutuhkan sedikit lebih banyak waktu untuknya bekerja dalam merangkai buket bunga dan akhirnya ia bisa menghasilkan karya buket bunga yang terbaik.</p>

<p>Tangan Hime sibuk mencari lembaran kertas yang mana ia tuliskan catatan pemesanan buket bunga dari beberapa pembelinya. “Sebuah buket bunga untuk kelulusan pacarnya, ya? Romantisnya anak-anak zaman sekarang ini,” kata Hime sedikit tertawa kecil. Ia benar-benar dibuat gemas karena catatan yang dibacanya sekarang ini.</p>

<p>Kebetulan pula suasana hatinya saat ini sedang berada dalam perasaan yang sangat baik. Rasanya tidak akan pernah luntur senyuman yang sedari tadi pagi ia lukiskan pada kurva indah bibirnya. Seperti biasa, sebelum Hime memulai aktivitasnya setiap pagi untuk membuka toko bunga, tidak lupa untuk menyempatkan diri memberikan kabar atau sekadar menyemangati sang terkasih.</p>

<p>Sebelumnya, ia pernah melupakan untuk bertukar sapa dengan sang kekasih, sehingga kenangan itu membuatnya kembali teringat akan mimik wajah yang biasanya menunjukkan senyuman luar biasa menawan, justru menyiratkan rasa cemas dan khawatir pada waktu itu. Takutnya, Aoi nanti akan mengkhawatirkannya lagi dan akhirnya malah mengganggu konsentrasi pekerjaan sang terkasih. Padahal menurutnya, sang pangeran itu adalah orang yang profesional dalam bekerja.</p>

<p>Akan tetapi, pangerannya itu tetaplah seorang manusia yang bisa merasakan berbagai macam perasaan, apalagi pekerjaannya sebagai idola yang terkadang membuat lebih sibuk, tidak heran untuk beberapa kali ia sempat kehilangan fokus sebab pikirannya yang berlebihan. Ada sebuah alasan mengapa kekasihnya sering kali dipanggil sebagai pangeran, terutama di kalangan penggemar.</p>

<p>Rahasia umum keluarga Satsuki adalah para lelakinya yang tumbuh di keluarga tersebut, terlahir dengan ketampanan luar biasa. Bahkan, tidak heran pula kalau seperti ada kilatan cahaya yang menyinari pada saat senyuman terlukis pada bibir mereka. Namun, bukan berarti hanya ada pangeran. Kekasihnya Aoi ialah Hime, yang namanya juga—meskipun itu merupakan nama marganya—memiliki makna seorang putri. Benar-benar seperti takdir, sang putri untuk si pangeran tampan, dan si pangeran untuk sang tuan putri yang cantik jelita. Selain itu, hal yang paling lucunya, kedua nama depan mereka sama-sama Aoi. Inilah alasan mengapa orang-orang disekitar Hime, memanggilnya dengan nama marganya. Terlebih, kekasihnya pula turut serta memanggil dengan nama itu.</p>

<p>Dengan cermat, Hime akhirnya mengetik beberapa kalimat pada ponselnya. Namun, tidak berselang waktu yang lama, Hime sedikit dikagetkan oleh respons dari kekasihnya. Tertulis balasan dari Aoi di ponselnya, ternyata Aoi mengajak dirinya untuk pergi berkencan nanti sore, selain membalas ucapan selamat pagi dari Hime, dan ia juga mengatakan terima kasih kepadanya, karena ia telah memberitahu kabarnya.</p>

<p>“Eh, apa? Aoi-kun mengajak berkencan di luar? Astaga, tiba-tiba sekali….” Hime benar-benar terkejut. Hime awalnya menduga jika hari ini Aoi akan sibuk seharian ini, karena latihannya sebagai idola cukup menghabiskan banyak waktu.</p>

<p>Maka dari itu, dengan segera Hime membalas pesan sang terkasih, dirinya akan berusaha mempersiapkan penampilannya untuk menyamar sebagai laki-laki dengan pakaian yang memang sudah tersimpan rapi di lemarinya. Aoi sudah mengetahui kebiasaan Hime seperti itu, setiap kali mereka memutuskan untuk berkencan di luar ruangan.</p>

<p>Awalnya, Aoi tidak ingin membuat Hime merasa harus direpotkan untuk menyamar sebagai laki-laki, pada saat mereka berkencan di luar nantinya. “Padahal hal seperti itu tidak masalah bagiku,” gumamnya.</p>

<p>Percayalah, Hime lebih tidak ingin membuat Aoi kerepotan, walaupun itu sekadar menggunakan masker. Ia juga ingin menatap lebih lama wajahnya yang tampan, tanpa harus ditutupi oleh masker.</p>

<p>Sekarang ini, Hime tengah tenggelam dalam kesibukannya merawat tanaman yang tertata rapi di dalam toko bunga miliknya. Meski begitu, bukan berarti hanya bagian luar saja yang dipenuhi bunga. Justru, di dalam toko terdapat lebih banyak bunga yang tersusun rapi di rak kayu bertingkat, yang memiliki warna cokelat alami dengan permukaan halus akibat lapisan pernis tipis. Beberapa rak menempel pada dinding, sementara yang lain berdiri sendiri, menopang berbagai pot kecil berisi tanaman hias. Rak-rak ini sudah dirancang oleh Hime sejak awal, tidak hanya untuk menampung koleksi bunganya, tetapi juga agar pelanggan bisa dengan mudah melihat dan memilih bunga yang mereka sukai. Hal ini sudah direncanakan dengan baik oleh Hime, bahkan sebelum toko bunga ini ada.</p>

<p>Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela besar di bagian depan toko bunga, membiaskan warna-warna lembut dari kelopak yang tertata rapi di rak. Hal itu menandakan bahwa udaranya terasa lebih hangat dibandingkan sejuknya pada saat pagi tadi, sebelum sang mentari menunjukkan cahaya kehangatan terkhusus untuk semua makhluk hidup yang membutuhkannya.</p>

<p>Suara gunting beradu dengan batang, plastik pembungkus itu terdengar berdesir halus saat dilipat, dan dentingan kecil vas kaca yang saling bersentuhan mengisi keheningan. Hime mulai menata ulang stok bunga segar, sesekali dirinya memeriksa daun-daun yang mulai layu dan memilah mana yang masih layak dijual.</p>

<p>Suara asing menyapu indra pendengarannya, saat kepala Hime menoleh ke arah jendela ternyata ia melihat rintik-rintik hujan telah turun. Senyuman yang semula merekah menjadi sedikit kurang berkesan tuk dipandang. Mata sebiru lautan membentak itu, sejenak menatap fenomena air hujan yang turun ke tanah, serta menari dengan bebas di trotoar.</p>

<p>“Ya ampun, ternyata turun hujan. Perasaan saat tadi aku lihat langitnya masih terlihat cerah,” kata Hime, masih memperhatikan hujan dari balik jendela toko bunganya. Sungguh aneh ketika hujan turun tanpa peringatan, seolah dunia ingin memberikan kejutan kecil di tengah kesibukan kota yang padat.</p>

<p>Sejenak, Hime berpikir hujannya akan berhenti dalam beberapa waktu kemudian. Kendati langit masih tampak cerah, hujan tetap membasahi jalanan. Hime melihat ke arah langit-langit dan bertanya pada dirinya sendiri, “Apa itu hujan panas? Seingatku, pernah juga ada fenomena hujan pada saat musim panas.”</p>

<p>Hime sendiri tidak mau mengambil risiko untuk melihat ke luar, takutnya kalau hujan yang sedang turun itu memang hujan panas  yang mana merupakan suatu fenomena meteorologi, turunnya hujan pada saat matahari sedang bersinar. Sehingga ia memutuskan hanya mendengarkan suara bulir-bulir hujan dari dalam toko bunga miliknya. Hime menghela napas pelan. Kalau ini memang hujan panas, seharusnya tidak akan berlangsung lama.</p>

<p>Udaranya sedikit lebih dingin sewaktu hujan itu mulai membasahi trotoar, Hime kembali melanjutkan aktivitasnya untuk merangkai buket bunga yang dipesan seseorang.  Dia tadi sempat melamun lama sesekali menatap hujan turun dari balik jendela tokonya, kini jari-jari yang sedari tadi tanpa sadar telah selesai menggulung pita dari bunga yang ia rangkai sebelum ini. Suasana hujan yang mendayu membuat Hime sedikit hanyut dalam pikirannya sendiri, hingga waktu terasa berjalan lebih cepat daripada sebelum dia beraktivitas tadi.</p>

<p>Angin membawa sisa hujan yang turun sejak pagi, saat matahari masih bersinar. Kini langit mulai memperlihatkan warna senja yang menenangkan, sementara jalanan tetap basah tersapu angin. Langit yang kelabu itu masih dihiasi oleh ritme gerimis yang berjatuhan di atas dedaunan. Entah mengapa, udara terasa lebih segar setelah hujan reda, meskipun musim panas telah tiba.</p>

<p>“Aku jadi teringat sama Aoi-kun,” katanya pelan. Hujan yang muncul di awal musim panas, justru mengingatkannya pada figur indah nan menawan yang mana sudah akrab di benak Hime. Dari balik jendela, sepasang mata biru milik si jelita itu menatap keluar, memperhatikan langit yang perlahan berubah—kelabu yang semula suram kini mulai berganti dengan semburat jingga dan merah muda.</p>

<p>Sudah berjam-jam lamanya, Hime akhirnya duduk lebih santai di sebuah kursi kayu yang berada di samping jendela. Ia mengambil napas panjang setelah menghabiskan banyak waktunya untuk merangkai buket bunga pesanan dari seseorang. Sejenak, Hime mengambil air minum yang semula ia telah sajikan di atas meja. Kini air minum tersebut sudah masuk ke tenggorokannya. Rasanya seperti dia hidup kembali. Sedari tadi, Hime memang selalu fokus pada pekerjaannya, tetapi ia berusaha mengistirahatkan tubuhnya dan mengisi tenaganya barang sekadar makan sepiring nasi untuk bisa mengganjal perutnya.</p>

<p>Sekarang ini dilihatnya jarum jam yang sudah menunjukkan jam setengah tiga, itu artinya janji tuk bertemu sang pujaan hatinya tidak lama lagi. Sebenarnya Hime tidak tahu pasti mereka harus bertemu kapan, tetapi yang pasti dia berusaha bersiap lebih dahulu sebelum waktunya tiba. Lekas dirinya masuk ke dalam kamarnya, Hime mulai mengganti gaun sederhana yang biasa dipakai olehnya, kini menjadi sebuah kemeja berwarna krem dan dengan lapisan sweater hitam yang menghiasinya, serta sebuah celana yang mungkin kelihatannya lebih cocok digunakan jika dia adalah seorang pria. Akan tetapi, karena Hime adalah seorang wanita, justru sedikit sulit untuk mengakalinya. Hime sempat mengakalinya dengan menggunakan ikat pinggang supaya lebih pas saat dipakai dan merapikan penampilannya rambutnya dengan menggunakan wig berwarna merah.</p>

<p>Saat Hime bersiap memasang wig merahnya, tiba-tiba lonceng pintu toko berbunyi—tanda bahwa seorang telah masuk ke toko bunganya. “Tunggu sebentar!” Hime berseru dari dalam toko, kemudian akhirnya ia memutuskan untuk keluar, melihat siapa orang yang datang pada saat itu juga.</p>

<p>Penampilannya memang belum sepenuhnya sempurna; masih ada bagian rambut aslinya yang belum tersembunyi dengan baik. Namun, rasa penasaran mengalahkan kehati-hatiannya, sebab dirinya malah terburu-buru melihat siapa yang datang, ia bahkan lupa memakai kacamata yang biasanya digunakan saat ia menyamar sebagai laki-laki. Sejujurnya ia agak takut kalau ternyata orang yang datang ke toko bunganya itu salah satu pelanggannya, ada terbesit perasaan tidak pantas menyamar, jika dirinya berada di depan pelanggan.</p>

<p>Namun, ternyata orang yang datang itu adalah orang yang sedari tadi ia tunggu. Matanya melebar kaget—ini benar-benar di luar perkiraan, apalagi figur indah itu membawa sebuah payung bersamanya. Hime berdiri terpaku di tempatnya, melihat kekasihnya itu telah berdiri di ambang pintu toko bunganya, sembari menutup payung yang dibawanya.</p>

<p>Sebuah senyuman terlukis di wajah pria bersurai pirang dengan mata sejernih langit cerah. Sepertinya, ia datang lebih awal dari waktu yang telah mereka sepakati. “Ah, apakah aku datang terlalu cepat?” tanyanya dengan suara lembut.</p>

<p>Suara sang terkasih membuat Hime tersadar dari keterkejutannya. Ia segera menggeleng pelan. “Tidak, aku hanya sedikit terkejut melihat Aoi-kun langsung kemari sambil membawa payung. Dirimu tidak nekat saat turun hujan tadi, ‘kan?” tanyanya penasaran.</p>

<p>Aoi terkekeh pelan, mengangkat sedikit payung yang masih tergenggam di tangannya. Dia kemudian membalas, “Tidak, tentu saja tidak. Aku membawa payung hanya untuk berjaga-jaga.”</p>

<p>Hime menghela napas lega, tetapi tetap menatapnya penuh selidik. “Syukurlah kalau begitu. Jangan sampai Aoi-kun kehujanan, nanti bisa masuk angin.”</p>

<p>Aoi mulai melukis senyuman di bibirnya. Hime memang sering kali memperhatikannya dengan baik, hal itu juga yang selalu membuat dirinya merasa bahagia. “Kau selalu mengkhawatirkanku, ya?” Sesungguhnya, perkataan sederhana seperti ini sudah sukses membuat rona merah muncul diwajah milik Hime.</p>

<p>“Sepertinya, Hime-chan masih belum siap, ya?” tanya Aoi, entah mengapa Hime malah merasa Aoi sedang mempermainkannya. Padahal, seharusnya Aoi bisa melihat dengan jelas kalau wig yang Hime sedang pakai saat ini belum terlihat rapi sama sekali.</p>

<p>Hime mulai menggerutu, “Aoi-kun, kelihatannya sengaja sekali bicara seperti itu.” Dia menunjukkan reaksi tidak suka, rasanya ia dia ingin memalingkan wajah sekarang juga. Akan tetapi, pada detik yang sama pula, Aoi ternyata sudah berada didekatnya. Dengan telaten, Aoi membenarkan wig yang sempat Hime pasang sebelumnya. Hime merasa kalau Aoi tampaknya terbiasa mengurus hal seperti ini. Beberapa menit diperlukan Aoi untuk membantu menyembunyikan rambut aslinya Hime. Sungguh, Hime pun awalnya tidak menduga, kalau Aoi tadi tiba-tiba saja membantu untuk mengatur rambut aslinya, supaya bersembunyi di balik wig berwarna merah itu.</p>

<p>Aoi kini mulai bertanya kepada Hime, “Hime-chan, apakah sekarang sudah lebih nyaman digunakan?” Hime mendongak sedikit melihat kepala Aoi, tadinya mata Hime menatap ke arah sisi kanan dan kiri bagian wignya, memastikan juga apakah rambutnya sudah tersimpan rapi dibalik wig miliknya itu.</p>

<p>“Sudah lebih baik daripada tadi, terima kasih Aoi-kun! Aku ke dalam sebentar untuk memasang lensa kontak dulu, ya.” Hime berterima kasih kepada Aoi, karena telah membantunya merapikan rambut, beserta wig yang digunakan</p>

<p>Aoi menganggukkan kepalanya pelan, kemudian mengatakan, “Kalau begitu aku duduk disini dan menunggumu, ya.” Hime sebenarnya tidak ingin membuat Aoi menunggu, tetapi Aoi sempat berkata bahwa tidak masalah baginya untuk menunggu sejenak, lagipula jamnya baru saja mengarah pada jam tiga kurang sepuluh menit.</p>

<p>Hime juga tidak memakan waktu yang lama untuk menggunakan lensa kontak, serta menggunakan kacamatanya yang biasa digunakan. Walaupun nanti ia akan merasa sedikit kelelahan saat melihat, tetapi tidak masalah, ia masih sanggup menahannya dalam beberapa jam kedepan.</p>

<p>“Aoi-kun, maaf membuatmu menunggu lama!” Hime mengatakan itu kepada Aoi dan meskipun tadinya memakan waktu berapa puluh menit, kencan yang mereka tunggu-tunggu hari ini bisa segera terlaksanakan.</p>

<p>Aoi memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal, sementara Hime menutup sebentar toko bunga miliknya—menandakan bahwa saat ini, toko bunga milik Hime tidak sedang menerima pelanggan terlebih dahulu.</p>

<p>Keduanya bersiap pergi ke suatu tempat yang sudah Aoi rencanakan, selain itu dia berpesan kepada Hime untuk berjaga-jaga membawa payung juga, takut terjadi hujan. Biarpun sekarang kondisinya masih terlihat bulir-bulir air berjatuhan tidak merata, langitnya sudah terlihat sedikit lebih terang. Hime juga menyetujui untuk membawa payung sendiri-sendiri, bukan karena dia tidak mau sepayung berdua sama Aoi. Akan tetapi, karena sekarang ini posisinya ia menyamar sebagai laki-laki, tidak mungkin baginya untuk sepayung berdua, meskipun tingginya tetap masih lebih tinggi Aoi.</p>

<p>Lonceng kembali berbunyi, saat keduanya keluar dari toko bunga dan membuka payung mereka masing-masing. Terlihat bahwa gerimisnya masih turun, walaupun hanya terdengar seperti suara rintik halus di atas payung mereka. Hal ini menciptakan suasana tenang dengan lantunan irama dari hujan yang tak kunjung reda, padahal langit sudah hampir seutuhnya kembali cerah.</p>

<p>Jalanan masih basah karena hujan sedari tadi pagi, serta aroma tanah setelah hujan mulai terasa berterbangan di udara. Mereka berjalan berdampingan dan mengobrol santai, tentang apa saja yang mereka lakukan hari ini, sampai tidak terasa bahwa sampailah mereka di sebuah kedai terdekat.</p>

<p>Mereka berdua memilih tempat duduk di dekat jendela, sembari menikmati waktu berdua dan melihat sisa hujan di luar. Sebuah menu telah disajikan kepada mereka, keduanya duduk bersebelahan sembari melihat menu itu.</p>

<p>“Hime-chan, mau mencoba kakigōri, tidak?” tanya Aoi kepada Hime.</p>

<p>Hime menatap ke arah Aoi, sedikit bertanya-tanya terlihat jelas dari ekspresi wajahnya. “Kakigōri itu apa?” Sejujurnya, Hime baru saja tahu tentang hal itu.</p>

<p>“Dessert, kok. Katanya seperti es serut yang dibumbui sama sirup dan pemanis, ataupun susu kental manis,” jelas Aoi. Hanya saja, perkataan Aoi membuat tanda tanya besar sekaligus rasa penasaran Hime terlihat.</p>

<p>“Apakah ada yang merekomendasikan itu kepadamu, Aoi-kun?” Tatapan Hime penuh selidik. Jarang sekali bagi Hime mendengar rekomendasi makanan penutup dari Aoi.</p>

<p>Aoi tersenyum canggung lantas ia berkata, “Ah, seorang penggemar yang menyarankannya. Lalu, kebetulan juga, aku belum pernah coba. Jadi sekalian saja, aku mencobanya bersama dirimu.”</p>

<p>Awalnya Hime menaikan alisnya, tetapi kalimat terakhir dari Aoi membuat dia mendengkus. “Ya, baiklah. Aku akan mencobanya bersamamu,” balas Hime sambil tersenyum kecil. Tentu saja, Hime akan menerima hal itu dengan senang hati. Kapan lagi Aoi akan memberikan sebuah rekomendasi kepadanya.</p>

<p>Pesanan sudah dibuat, yang artinya mereka sekarang perlu menunggu. Kemudian, keduanya kembali membicarakan banyak hal yang semula tertunda saat mereka berada di jalan tadi. “Aoi-kun, aku mau cerita sesuatu! Jadi, sewaktu aku mengurus pesanan buket bunga di tokoku, ternyata ada orang yang memesan buket bunga untuk kelulusan pacarnya,” ujar Hime dengan mata berbinar-binar, tanda bahwa ia sangat antusias kala menceritakannya.</p>

<p>Sedari tadi Aoi fokus menatap Hime, seraya mendengarkan Hime. Hanya saja, atensi dari Aoi terpaku kepada Hime. Entah dia mendengarkan atau tidak, tetapi Aoi sempat berkata, “Andai saja saat kelulusan dulu, aku juga bisa mengirimkan Hime-chan sebuah buket bunga. Pasti kelihatannya sangat romantis juga, ‘kan?”</p>

<p>Bukan main, Hime merasa wajahnya memerah. Entah kenapa pembicaraannya malah berakhir begitu saja. Sampai akhirnya perhatian mereka teralihkan kepada kakigōri yang sebelumnya mereka pesan. “Aoi-kun, sekarang kita makan saja dulu. Pesanannya sudah datang,” ujar Hime yang terdengar sangat gugup. Dia benar-benar tidak bisa menetralkan detak jantungnya setelah mendengar perkataan Aoi seperti itu.</p>

<p>“Baiklah, selamat menikmati makanannya.”</p>

<p>Rasanya ada kepuasan tersendiri bagi Aoi, ketika dia bisa membahagiakan Hime walaupun beberapa menit saja. Senyuman itu tidak akan pernah luntur dari bibirnya. Mereka berdua memotret dessert yang telah tersaji di meja mereka. Anggaplah ini sebagai salah satu kenang-kenangan yang bisa mereka lakukan saat berada di luar asrama. Selang waktu beberapa puluh menit lamanya, aktivitas mereka telah selesai di kedai itu.</p>

<p>Awalnya Hime tidak berpikir, jika Aoi akan membawanya pergi ke suatu tempat. Kini di tempat di mana Hime dan Aoi berpijak terlihat sebuah tempat di mana pohon sakura ternyata masih menyisakan beberapa kelopaknya yang indah. Kelopak sakura yang tersisa di ranting-ranting basah seolah enggan jatuh, memilih tetap bertahan di tengah hujan musim ini yang terus turun mengguyur sejak pagi.</p>

<p>Hime menatap takjub ke arah beberapa pohon sakura—ternyata kelopak-kelopak indah itu masih bertahan. Penasaran, ia pun bertanya, “Sebentar, kenapa bunga sakuranya masih mekar? Padahal sekarang sudah memasuki musim panas.”</p>

<p>Aoi tersenyum kecil menatap ke arah Hime, “Hime-chan, tahu tentang samidare?” tanyanya balik..</p>

<p>Hime menoleh ke arah Aoi, dan mengangguk pelan. “Samidare itu hujan panjang di awal musim panas, bukan?” tanya Hime kepada Aoi. Ia mencoba memastikan jawabannya.</p>

<p>“Benar sekali.” Aoi mengangguk, kemudian ia melanjutkan, “Hujan yang berkepanjangan itu membawa efek yang tidak biasa pada pohon sakura, sehingga membuat kelopaknya tetap mekar lebih lama daripada seharusnya.”</p>

<p>Percakapan mereka lagi-lagi menghanyutkan suasana, tanpa terasa langit mulai cerah kembali, tetapi tetesan air masih jatuh dari daun dan kelopak sakura yang tersisa.</p>

<p>Keduanya menikmati momen itu bersama. Saat berdiri di bawah pohon sakura, Aoi sedikit iseng dan menggoyangkan dahan pohonnya, membuat air berjatuhan ke arah Hime. Refleks bergeser dari tempat tersebut, dengan ekspresi kesal ia menatap sang kekasih.</p>

<p>Hime mulai menggerutu, “Kenapa Aoi-kun hari ini benar-benar iseng, sih?!”</p>

<p>Aoi lekas dibuat tertawa, kebahagiaan sederhana yang dia inginkan seperti ini bersama sang terkasih. Ia kemudian menjawab sambil tersenyum, “Aku ‘kan nggak sengaja.”</p>

<p>Sekilas dilihatnya kelopak bunga sakura jatuh di atas rambut Hime. Saat itu juga, Aoi mengulurkan tangannya, tetapi bukannya langsung mengambil kelopak itu, dia malah membenarkan rambut palsu milik Hime. Serius, penyamaran seperti ini juga pun tidak akan berguna jika ia tetap saja berhadapan dengan Aoi. Perlakuan tersebut menjadikan suasana lebih lembut dan penuh perhatian dari kekasih. Keduanya saling menatap lekat masing-masing.</p>

<p>Mereka masih berdiri dan berdiam sejenak, seraya mendengar suara tetesan air dan angin yang berembus pelan, menikmati waktu yang terasa hanya milik mereka berdua. Setelah puas menikmati momen di bawah sakura, mereka melanjutkan perjalanan pulang dengan langkah lebih lambat.</p>

<p>Kedua tangan mereka tetap saling bergandengan selama perjalanan pulang, tanpa banyak kata yang perlu diucapkan. Kejadian hari ini menjadi momen yang paling berkesan bagi keduanya—saling memahami satu sama lain melalui kenangan sederhana. Mereka membiarkan langkah tetap selaras, ditemani suara rintik hujan yang masih tersisa. Meski tanpa kata, genggaman tangan mereka sudah cukup untuk menyampaikan segalanya.</p>

<p><strong>End.</strong></p>

<hr/>

<blockquote><p>Note!
Yukihime Aoi belongs to <a href="https://twitter.com/aeternamare" rel="nofollow">@aeternamare</a> for Writing/Merch Trade.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/samidare-wu-yue-yu</guid>
      <pubDate>Sun, 20 Apr 2025 00:59:25 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Alunan Kata, Melodi Rasa</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/alunan-kata-melodi-rasa?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Nanamegi Nanaki x Nakahara Kurumi.&#xA;  #FaureGift; #NanaKuru.&#xA;&#xA;   When poetry shows happiness for the beloved.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #18Trip © Liber Entertainment, Pony Canyon. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Seorang gadis berwarna rambut pink lembut dilihat oleh mata, menyerupai kelopak bunga sakura yang tertiup angin, sebab dirinya yang sedari tadi duduk di dekat jendela ruangan tersebut. Ekspresi wajahnya terlihat mengerut, ia merasa agak kesulitan untuk menyelesaikan sesuatu yang kini berada di kertas miliknya. Sudah berapa jam yang lalu tangannya selalu menari di atas kertas, tetapi wajah itu justru memancarkan rasa kurang puas terhadap hasil karyanya. &#xA;&#xA;Nada petikan senar gitar mengisi keheningan, membentuk melodi yang terasa akrab baginya. Gadis itu mendongak, sehingga matanya bertemu  dengan mata sang pemuda yang senyuman tidak jauh berada di hadapannya saat ini. “Ah, Nanamegi-senpai! Maaf aku tidak memperhatikan dirimu datang kemari,” ujar gadis itu terlihat agak menyesal.&#xA;&#xA;Lelaki itu, Nanamegi Nanaki menggelengkan kepalanya pelan, terlihat helaian rambut cokelat miliknya yang sedikit bergelombang ikut bergerak seiring dia bergerak. Dengan nada lembut, ia kemudian bertanya kepada sosok gadis yang tak jauh berada di hadapannya, “Tidak masalah. Kelihatannya Nakahara-san sedang sibuk membuat sesuatu. Apa aku justru mengganggumu?”&#xA;&#xA;“Nanamegi-senpai tidak mengganggu, kok! Sepertinya, mungkin aku terlalu fokus sama pekerjaanku sendiri sampai tidak memperhatikan,” sahut gadis bersurai merah muda itu, dengan cepat menentang pertanyaan bahwa dirinya seakan-akan terasa terganggu. Padahal, kalau tidak ada yang menyadarkan dirinya yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya itu, mungkin dia bisa saja berada di tempat itu seharian.&#xA;&#xA;“Hm, baiklah kalau begitu.” Nanaki hanya tersenyum tipis saat mendengar itu. Namun, perhatiannya segera beralih ke kertas-kertas yang berserakan di sekitar gadis itu. Rasa penasaran akhirnya menguasainya, hingga ia bertanya, “Sebenarnya, apa yang sedang Nakahara-san lakukan sejak tadi?” &#xA;&#xA;Gadis itu, Nakahara Kurumi, yang masih menatap lelaki di hadapannya, mulai menjelaskan, “Ah, ini tugas membuat puisi. Hanya saja, menurutku larik di bait terakhirnya terasa tidak teratur.” Ia memperlihatkannya kepada Nanaki, sementara Nanaki mulai mengambil posisi duduk ternyaman di samping Kurumi.&#xA;&#xA;“Aku izin coba lihat sebentar, ya.” Perkataan itu sukses membuat Kurumi meneguk saliva. Saat ini, di mata Kurumi, kakak kelas yang duduk di sampingnya lebih terlihat sebagai ketua klub. Pancaran aura karismatiknya sungguh luar biasa, menurut Kurumi.&#xA;&#xA;Nanaki menatap kertas-kertas berisi puisi itu sejenak, lalu mengangkat alisnya. Ekspresinya menunjukkan ketertarikan saat melihat larik-larik yang dirangkai dengan begitu hati-hati oleh Kurumi. Ia mulai tersenyum kecil, lalu berkata “Nakahara-san, bagaimana kalau dirimu mencoba mengubah ritmenya sedikit? Mungkin dengan menyesuaikan panjang lariknya, puisimu akan terdengar lebih mengalir.”&#xA;&#xA;Mendengarkan hal itu, Kurumi diam sejenak. Ia tidak kepikiran sampai ke situ. “Lagi pula, puisi itu seperti musik, &#39;kan? Terkadang, kita perlu sedikit improvisasi supaya nadanya terdengar pas.” Nanaki melanjutkan ucapannya tadi, lagi-lagi mengalihkan atensi Kurumi.&#xA;&#xA;“Itu benar! Nanamegi-senpai keren sekali sewaktu bicara seperti itu, jadi fokusku tadi agak teralihkan.” Kurumi melukis senyum lebar dan mungkin lebih terkesan jahil terhadap kakak kelasnya sendiri. Padahal, Nanaki sudah membantunya untuk mengatasi kesulitannya dalam membuat sebuah puisi.&#xA;&#xA;Wajah Nanaki mulai merona, alasan mengapa ia sering kali mudah jatuh cinta, bisa saja karena ia selalu digoda oleh orang-orang terdekatnya, sama seperti sekarang ini. “Nakahara-san, bagaimana kalau aku coba membantu dirimu dengan menggunakan nada-nada dari permainan gitarku?” tawar Nanaki, berusaha mengalihkan perhatian terhadap apa yang dikatakan oleh Kurumi tentang dirinya.&#xA;&#xA;Kurumi menatap lekat kakak kelasnya itu, sejujurnya ada perasaan tidak berkenan baginya untuk merepotkan kakak kelasnya yang satu ini. Kurumi mencoba memastikan sekali lagi, “Eh, Nanamegi-senpai mau bermain gitar untuk membantuku? Bukankah, itu justru menambah pekerjaan untukmu?”&#xA;&#xA;Nanaki mulai menunjukkan senyum tipis pada wajahnya. “Sekarang ini aku sedang tidak punya pekerjaan, kok. Jadi, tidak ada masalah kalau sekadar memainkan gitar.”&#xA;&#xA;Pemuda itu tampaknya memiliki keinginan sendiri untuk bisa membantu Kurumi akan pekerjaannya. Setidaknya, untuk kali ini dia ingin membiarkan Kurumi mendengarkan alunan nada yang dibuat dari puisinya sendiri. &#xA;&#xA;Nanaki melanjutkan perkataannya seraya berkata, “Jadi, bagaimana kalau aku menghabiskan hari ini bersama Nakahara-san sambil membantumu menyelesaikan tugasmu? Siapa tahu, saat aku mencoba memainkan gitar nanti, Nakahara-san bisa mendapatkan bayangan nada-nada yang cocok untuk puisimu.” Nanaki kembali berdiri sambil memegang gitarnya saat mengatakan kalimat tersebut. &#xA;&#xA;Rambut cokelat lembut yang agak bergelombang itu, sebenarnya bisa melihat keraguan dari figur indah di hadapannya ini memiliki warna senada antara rambut dan matanya. Walaupun menurut Nanaki, tidak ada hal yang perlu dipermasalahkan tentang ini. Ia akan terlihat senang, jika dirinya bisa membantu adik kelasnya yang satu ini.&#xA;&#xA;Kurumi mulai berdiri, sepertinya sekarang ia sudah memikirkan penawaran dari Nanaki dengan baik. Kurumi kemudian berkata, “Baiklah, kalau begitu mohon bantuannya, Nanamegi-senpai!” Kurumi membungkuk bersamaan saat ia mengatakan hal tersebut kepada Nanaki yang berada di hadapannya.&#xA;&#xA;Canggung. Nanaki tidak bisa beradaptasi dengan perilaku Kurumi yang seperti ini. “Tentu saja, aku akan coba mulai memainkan gitar milikku, ya.” Pada akhirnya, ia mulai mengalihkan perhatian Kurumi lagi dengan mulai memainkan gitarnya, setelah berkata seperti itu.&#xA;&#xA;Kurumi mendengarkan nada-nada yang mengalun dari gitar Nanaki. Melodinya sederhana, tetapi terdengar sangat lembut, seolah-olah bisa merangkai perasaan yang tersembunyi di balik setiap larik puisinya. Entah bagaimana, alunan itu terasa pas—seakan menggambarkan isi puisinya tanpa perlu banyak kata.&#xA;&#xA;Saat mengingat kembali, ia menyadari betapa hebatnya kakak kelasnya ini. Walaupun Nanaki hanya membaca puisinya sekilas, ia sudah mampu menemukan alunan nada yang sempurna untuk menjadikannya musikalisasi. Sungguh, Kurumi ingin segera memuji Nanaki, tetapi ia menahan diri. Ia memilih untuk tetap diam, membiarkan kakak kelasnya itu memainkan gitarnya hingga selesai. Baru setelahnya, ia akan meluapkan kekagumannya tanpa henti.&#xA;&#xA;Beberapa menit berlalu, akhirnya permainan gitar Nanaki telah selesai. Belum ada beberapa detik Nanaki menyandarkan gitar di sampingnya dan meregangkan bahu. Ia penasaran dengan pendapat Kurumi, makanya ia pun bertanya, “Bagaimana—”&#xA;&#xA;“Keren! Luar biasa! Sangat sempurna!” Kurumi berseru dengan penuh antusias, tanpa sadar memotong ucapan dari Nanaki. “Menurutku, Nanamegi-senpai keren sekali! Nada-nada yang  dimainkan terasa begitu selaras, nyaris seperti cerminan dari puisiku sendiri.”  &#xA;&#xA;Ia menatap Nanaki dengan kagum, masih tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Bagaimana bisa Nanamegi-senpai melakukan itu hanya dalam beberapa menit setelah membaca puisinya?!” tanya Kurumi, mungkin seharian ini dia akan terus meluapkan kekagumannya.&#xA;&#xA;Nanaki tampak terkejut karena ada banyak perkataan yang dikatakan oleh Kurumi dalam satu waktu, meskipun tidak dalam satu tarikan napas. “Kebetulan diksi yang Nakahara-san pergunakan pada puisi itu, berupa kosakata sederhana yang masih bisa aku pahami, kurang lebih seperti itu.”&#xA;&#xA;Kurumi mendengar jawaban dari Nanaki. Itu benar-benar diluar dugaan. Namun, memang benar kosakata yang Kurumi pergunakan terbilang cukup sederhana. Sebab, Kurumi sendiri tidak mungkin akan membuat puisi yang dia sendiri tidak tahu arti kosakatanya. Biar bagaimanapun, dia tidak akan melakukan hal nekat untuk sesuatu seperti ini.&#xA;&#xA;“Oh, benar juga, sih …” gumam Kurumi. &#xA;&#xA;Nanaki sebenarnya ingin memilih kosakata yang cocok untuk mengungkapkan kalimatnya, tetapi kalimat tersebut yang malah tersampaikan kepada Kurumi. “Ah, maafkan aku kalau itu menyinggung dirimu,” sahut Nanaki, dia merasa bersalah.&#xA;&#xA;“Ah, Nanamegi-senpai tidak perlu meminta maaf!” Kurumi tersenyum kecil sambil menggaruk pelan pipinya yang sebenarnya tidak gatal. &#xA;&#xA;Ia kembali melanjutkan, “Aku memang masih kurang ahli dalam memilih kosakata yang indah untuk puisi. Tapi, tenang saja! Selama aku memahami maknanya, dan dengan bantuan Nanamegi-senpai, sekarang aku bisa melanjutkan puisiku.”  &#xA;&#xA;Kurumi menatapnya dengan penuh rasa terima kasih sebelum akhirnya berkata dengan tulus, “Terima kasih banyak atas bantuannya, Nanamegi-senpai!” &#xA;&#xA;Sekilas senyuman terbit diwajah Nanaki. Ia merasa senang, ketika keahliannya dalam bermain musik seperti ini ternyata bisa membantu pekerjaan orang lain, walaupun sekadar memberikan bayangan dengan alunan nada-nadanya. “Kalau Nakahara-san sudah termotivasi begini, aku tak punya alasan untuk tidak menantikan hasilnya. Lagi pula, aku juga senang bisa membantu,” tuturnya terdengar lembut.&#xA;&#xA;Kurumi mengangguk penuh semangat dengan senyum yang lebar terlukis pada wajahnya. “Pastinya! Aku akan menyelesaikan puisinya sebaik mungkin!” &#xA;&#xA;Mereka saling bertukar tatapan sesaat sebelum tawa kecil meluncur di antara mereka. Tak ada yang perlu diucapkan lebih jauh—musik dan puisi sudah berbicara lebih banyak dari kata-kata. &#xA;&#xA;Angin mulai bertiup dari jendela tepat di sampingnya Kurumi duduk tadi. Mulai memperlihatkan langit yang tadinya cerah kini telah berubah menjadi semburat jingga keemasan, menyapu cakrawala dengan warna lembut yang menenangkan, sekaligus menemani keduanya menghabiskan waktu seharian ini bersama-sama.&#xA;&#xA;End.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;  Note!&#xA;  Nakahara Kurumi belongs to @dearnanaki from Twitter for Writing Gift.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Nanamegi Nanaki x Nakahara Kurumi.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureGift" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureGift</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:NanaKuru" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">NanaKuru</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>When poetry shows happiness for the beloved.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:18Trip" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">18Trip</span></a> © Liber Entertainment, Pony Canyon. </p></blockquote>

<hr/>

<p>Seorang gadis berwarna rambut pink lembut dilihat oleh mata, menyerupai kelopak bunga sakura yang tertiup angin, sebab dirinya yang sedari tadi duduk di dekat jendela ruangan tersebut. Ekspresi wajahnya terlihat mengerut, ia merasa agak kesulitan untuk menyelesaikan sesuatu yang kini berada di kertas miliknya. Sudah berapa jam yang lalu tangannya selalu menari di atas kertas, tetapi wajah itu justru memancarkan rasa kurang puas terhadap hasil karyanya.</p>

<p>Nada petikan senar gitar mengisi keheningan, membentuk melodi yang terasa akrab baginya. Gadis itu mendongak, sehingga matanya bertemu  dengan mata sang pemuda yang senyuman tidak jauh berada di hadapannya saat ini. “Ah, Nanamegi-<em>senpai</em>! Maaf aku tidak memperhatikan dirimu datang kemari,” ujar gadis itu terlihat agak menyesal.</p>

<p>Lelaki itu, Nanamegi Nanaki menggelengkan kepalanya pelan, terlihat helaian rambut cokelat miliknya yang sedikit bergelombang ikut bergerak seiring dia bergerak. Dengan nada lembut, ia kemudian bertanya kepada sosok gadis yang tak jauh berada di hadapannya, “Tidak masalah. Kelihatannya Nakahara-<em>san</em> sedang sibuk membuat sesuatu. Apa aku justru mengganggumu?”</p>

<p>“Nanamegi-<em>senpai</em> tidak mengganggu, kok! Sepertinya, mungkin aku terlalu fokus sama pekerjaanku sendiri sampai tidak memperhatikan,” sahut gadis bersurai merah muda itu, dengan cepat menentang pertanyaan bahwa dirinya seakan-akan terasa terganggu. Padahal, kalau tidak ada yang menyadarkan dirinya yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya itu, mungkin dia bisa saja berada di tempat itu seharian.</p>

<p>“Hm, baiklah kalau begitu.” Nanaki hanya tersenyum tipis saat mendengar itu. Namun, perhatiannya segera beralih ke kertas-kertas yang berserakan di sekitar gadis itu. Rasa penasaran akhirnya menguasainya, hingga ia bertanya, “Sebenarnya, apa yang sedang Nakahara-<em>san</em> lakukan sejak tadi?”</p>

<p>Gadis itu, Nakahara Kurumi, yang masih menatap lelaki di hadapannya, mulai menjelaskan, “Ah, ini tugas membuat puisi. Hanya saja, menurutku larik di bait terakhirnya terasa tidak teratur.” Ia memperlihatkannya kepada Nanaki, sementara Nanaki mulai mengambil posisi duduk ternyaman di samping Kurumi.</p>

<p>“Aku izin coba lihat sebentar, ya.” Perkataan itu sukses membuat Kurumi meneguk saliva. Saat ini, di mata Kurumi, kakak kelas yang duduk di sampingnya lebih terlihat sebagai ketua klub. Pancaran aura karismatiknya sungguh luar biasa, menurut Kurumi.</p>

<p>Nanaki menatap kertas-kertas berisi puisi itu sejenak, lalu mengangkat alisnya. Ekspresinya menunjukkan ketertarikan saat melihat larik-larik yang dirangkai dengan begitu hati-hati oleh Kurumi. Ia mulai tersenyum kecil, lalu berkata “Nakahara-<em>san</em>, bagaimana kalau dirimu mencoba mengubah ritmenya sedikit? Mungkin dengan menyesuaikan panjang lariknya, puisimu akan terdengar lebih mengalir.”</p>

<p>Mendengarkan hal itu, Kurumi diam sejenak. Ia tidak kepikiran sampai ke situ. “Lagi pula, puisi itu seperti musik, &#39;kan? Terkadang, kita perlu sedikit improvisasi supaya nadanya terdengar pas.” Nanaki melanjutkan ucapannya tadi, lagi-lagi mengalihkan atensi Kurumi.</p>

<p>“Itu benar! Nanamegi-<em>senpai</em> keren sekali sewaktu bicara seperti itu, jadi fokusku tadi agak teralihkan.” Kurumi melukis senyum lebar dan mungkin lebih terkesan jahil terhadap kakak kelasnya sendiri. Padahal, Nanaki sudah membantunya untuk mengatasi kesulitannya dalam membuat sebuah puisi.</p>

<p>Wajah Nanaki mulai merona, alasan mengapa ia sering kali mudah jatuh cinta, bisa saja karena ia selalu digoda oleh orang-orang terdekatnya, sama seperti sekarang ini. “Nakahara-<em>san</em>, bagaimana kalau aku coba membantu dirimu dengan menggunakan nada-nada dari permainan gitarku?” tawar Nanaki, berusaha mengalihkan perhatian terhadap apa yang dikatakan oleh Kurumi tentang dirinya.</p>

<p>Kurumi menatap lekat kakak kelasnya itu, sejujurnya ada perasaan tidak berkenan baginya untuk merepotkan kakak kelasnya yang satu ini. Kurumi mencoba memastikan sekali lagi, “Eh, Nanamegi-<em>senpai</em> mau bermain gitar untuk membantuku? Bukankah, itu justru menambah pekerjaan untukmu?”</p>

<p>Nanaki mulai menunjukkan senyum tipis pada wajahnya. “Sekarang ini aku sedang tidak punya pekerjaan, kok. Jadi, tidak ada masalah kalau sekadar memainkan gitar.”</p>

<p>Pemuda itu tampaknya memiliki keinginan sendiri untuk bisa membantu Kurumi akan pekerjaannya. Setidaknya, untuk kali ini dia ingin membiarkan Kurumi mendengarkan alunan nada yang dibuat dari puisinya sendiri.</p>

<p>Nanaki melanjutkan perkataannya seraya berkata, “Jadi, bagaimana kalau aku menghabiskan hari ini bersama Nakahara-<em>san</em> sambil membantumu menyelesaikan tugasmu? Siapa tahu, saat aku mencoba memainkan gitar nanti, Nakahara-san bisa mendapatkan bayangan nada-nada yang cocok untuk puisimu.” Nanaki kembali berdiri sambil memegang gitarnya saat mengatakan kalimat tersebut.</p>

<p>Rambut cokelat lembut yang agak bergelombang itu, sebenarnya bisa melihat keraguan dari figur indah di hadapannya ini memiliki warna senada antara rambut dan matanya. Walaupun menurut Nanaki, tidak ada hal yang perlu dipermasalahkan tentang ini. Ia akan terlihat senang, jika dirinya bisa membantu adik kelasnya yang satu ini.</p>

<p>Kurumi mulai berdiri, sepertinya sekarang ia sudah memikirkan penawaran dari Nanaki dengan baik. Kurumi kemudian berkata, “Baiklah, kalau begitu mohon bantuannya, Nanamegi-<em>senpai</em>!” Kurumi membungkuk bersamaan saat ia mengatakan hal tersebut kepada Nanaki yang berada di hadapannya.</p>

<p>Canggung. Nanaki tidak bisa beradaptasi dengan perilaku Kurumi yang seperti ini. “Tentu saja, aku akan coba mulai memainkan gitar milikku, ya.” Pada akhirnya, ia mulai mengalihkan perhatian Kurumi lagi dengan mulai memainkan gitarnya, setelah berkata seperti itu.</p>

<p>Kurumi mendengarkan nada-nada yang mengalun dari gitar Nanaki. Melodinya sederhana, tetapi terdengar sangat lembut, seolah-olah bisa merangkai perasaan yang tersembunyi di balik setiap larik puisinya. Entah bagaimana, alunan itu terasa pas—seakan menggambarkan isi puisinya tanpa perlu banyak kata.</p>

<p>Saat mengingat kembali, ia menyadari betapa hebatnya kakak kelasnya ini. Walaupun Nanaki hanya membaca puisinya sekilas, ia sudah mampu menemukan alunan nada yang sempurna untuk menjadikannya musikalisasi. Sungguh, Kurumi ingin segera memuji Nanaki, tetapi ia menahan diri. Ia memilih untuk tetap diam, membiarkan kakak kelasnya itu memainkan gitarnya hingga selesai. Baru setelahnya, ia akan meluapkan kekagumannya tanpa henti.</p>

<p>Beberapa menit berlalu, akhirnya permainan gitar Nanaki telah selesai. Belum ada beberapa detik Nanaki menyandarkan gitar di sampingnya dan meregangkan bahu. Ia penasaran dengan pendapat Kurumi, makanya ia pun bertanya, “Bagaimana—”</p>

<p>“Keren! Luar biasa! Sangat sempurna!” Kurumi berseru dengan penuh antusias, tanpa sadar memotong ucapan dari Nanaki. “Menurutku, Nanamegi-<em>senpai</em> keren sekali! Nada-nada yang  dimainkan terasa begitu selaras, nyaris seperti cerminan dari puisiku sendiri.”</p>

<p>Ia menatap Nanaki dengan kagum, masih tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Bagaimana bisa Nanamegi-<em>senpai</em> melakukan itu hanya dalam beberapa menit setelah membaca puisinya?!” tanya Kurumi, mungkin seharian ini dia akan terus meluapkan kekagumannya.</p>

<p>Nanaki tampak terkejut karena ada banyak perkataan yang dikatakan oleh Kurumi dalam satu waktu, meskipun tidak dalam satu tarikan napas. “Kebetulan diksi yang Nakahara-<em>san</em> pergunakan pada puisi itu, berupa kosakata sederhana yang masih bisa aku pahami, kurang lebih seperti itu.”</p>

<p>Kurumi mendengar jawaban dari Nanaki. Itu benar-benar diluar dugaan. Namun, memang benar kosakata yang Kurumi pergunakan terbilang cukup sederhana. Sebab, Kurumi sendiri tidak mungkin akan membuat puisi yang dia sendiri tidak tahu arti kosakatanya. Biar bagaimanapun, dia tidak akan melakukan hal nekat untuk sesuatu seperti ini.</p>

<p>“<em>Oh, benar juga, sih</em> …” gumam Kurumi.</p>

<p>Nanaki sebenarnya ingin memilih kosakata yang cocok untuk mengungkapkan kalimatnya, tetapi kalimat tersebut yang malah tersampaikan kepada Kurumi. “Ah, maafkan aku kalau itu menyinggung dirimu,” sahut Nanaki, dia merasa bersalah.</p>

<p>“Ah, Nanamegi-<em>senpai</em> tidak perlu meminta maaf!” Kurumi tersenyum kecil sambil menggaruk pelan pipinya yang sebenarnya tidak gatal.</p>

<p>Ia kembali melanjutkan, “Aku memang masih kurang ahli dalam memilih kosakata yang indah untuk puisi. Tapi, tenang saja! Selama aku memahami maknanya, dan dengan bantuan Nanamegi-<em>senpai</em>, sekarang aku bisa melanjutkan puisiku.”</p>

<p>Kurumi menatapnya dengan penuh rasa terima kasih sebelum akhirnya berkata dengan tulus, “Terima kasih banyak atas bantuannya, Nanamegi-<em>senpai</em>!”</p>

<p>Sekilas senyuman terbit diwajah Nanaki. Ia merasa senang, ketika keahliannya dalam bermain musik seperti ini ternyata bisa membantu pekerjaan orang lain, walaupun sekadar memberikan bayangan dengan alunan nada-nadanya. “Kalau Nakahara-<em>san</em> sudah termotivasi begini, aku tak punya alasan untuk tidak menantikan hasilnya. Lagi pula, aku juga senang bisa membantu,” tuturnya terdengar lembut.</p>

<p>Kurumi mengangguk penuh semangat dengan senyum yang lebar terlukis pada wajahnya. “Pastinya! Aku akan menyelesaikan puisinya sebaik mungkin!”</p>

<p>Mereka saling bertukar tatapan sesaat sebelum tawa kecil meluncur di antara mereka. Tak ada yang perlu diucapkan lebih jauh—musik dan puisi sudah berbicara lebih banyak dari kata-kata.</p>

<p>Angin mulai bertiup dari jendela tepat di sampingnya Kurumi duduk tadi. Mulai memperlihatkan langit yang tadinya cerah kini telah berubah menjadi semburat jingga keemasan, menyapu cakrawala dengan warna lembut yang menenangkan, sekaligus menemani keduanya menghabiskan waktu seharian ini bersama-sama.</p>

<p><strong>End.</strong></p>

<hr/>

<blockquote><p>Note!
Nakahara Kurumi belongs to <a href="https://twitter.com/dearnanaki" rel="nofollow">@dearnanaki</a> from Twitter for Writing Gift.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/alunan-kata-melodi-rasa</guid>
      <pubDate>Sun, 20 Apr 2025 00:46:53 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Spring Happiness</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/spring-happiness?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Toraishi Izumi × Hizafa Rein.&#xA;  #FaureYume; #IzuRein.&#xA;&#xA;   Simple happiness of the noblest behavior.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #StarMyu © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Latihan Tim Hiiragi selesai lebih awal pada waktu itu. Padahal, sewaktu Festival Ayanagi mereka bahkan tidak punya waktu untuk sekadar beristirahat. Bertemu dengan Tim Ootori saja hanya beberapa kali, itupun sampai harus diikuti oleh salah seorang leader-nya. Lagi pula, orangnya memang unik juga, sih. Alhasil, anggota Tim Hiiragi tidak heran lagi, kalau orangnya bisa senekat itu.&#xA;&#xA;Meskipun sudah menjelang sore hari, cuacanya masih saja terlihat sangat cerah. Senyuman terlukis pada bibir salah seorang anggota Tim Hiiragi, ia adalah Toraishi Izumi. Netra kelabunya menatap terus ponselnya. Bersyukur semua kegiatan telah berakhir, waktunya ia akan kembali ke asrama dan membersihkan tubuhnya yang penuh keringat, setelah latihan selama beberapa jam.&#xA;&#xA;&#34;Toraishi-kun, mau sampai kapan kau berdiri di situ?&#34; tegur pemuda dengan rambut seindah bunga Sakura, itu adalah Ugawa Akira, teman satu timnya. &#xA;&#xA;Mendengar teguran dari sosok yang familier baginya, sukses mengalihkan atensi pemuda tersebut. &#34;Oh, kalian duluan saja. Aku akan menyusul setelah membalas pesan dari Rein-chan,&#34; ujarnya sembari tersenyum lebar. &#xA;&#xA;&#34;Wah, aku benar-benar tidak mengerti, seorang Rein bisa terpikat sama orang seperti dia.&#34; Sindiran itu secara tidak langsung menyentak keberadaan Toraishi, meskipun ia tahu kalau wataknya Ugawa memanglah demikian.&#xA;&#xA;&#34;Hei, jangan bicara begitu!&#34; tegur Toraishi. Seolah direnggut ketenangannya, dia justru meladeni Ugawa. &#xA;&#xA;&#34;Ya, ya. Lakukan saja sesukamu, aku tidak akan peduli.&#34; Ugawa segera pergi meninggalkan anggota timnya yang lain, tidak mau berurusan lebih banyak dengan Toraishi untuk hari ini. Sepertinya karena latihan kali ini sudah sangat menguras tenaga, jadinya Ugawa tidak memperpanjang perkataannya hingga terjadi pertikaian yang sudah menjadi kebiasaan.&#xA;&#xA;Melihat kepergian Ugawa, ketiga orang lainnya yang tadi menatap Toraishi pun akhirnya memutuskan untuk pergi dahulu. &#34;Toraishi, kami kembali ke asrama duluan, ya.&#34; Itu adalah Tatsumi Rui yang berkata dengan lembut. &#34;Sepertinya, suasana hati Ugawa kurang bagus akhir-akhir ini, jangan terlalu marah padanya, ya?&#34; lanjutnya. Sungguh mulia sekali hatinya, meminta teman satu timnya agar tidak bertengkar dan memaklumi perasaan anggota lain timnya juga. Sungguh leader sejati.&#xA;&#xA;&#34;Ya, tidak masalah~ Nanti, aku akan menyusul.&#34; Syukurnya, suasana hati Toraishi sedang bahagia saat ini. &#xA;&#xA;&#34;Kalau begitu, sampai jumpa nanti, Toraishi-kun,&#34; ujar pemuda dengan rambut cokelat disamping Tatsumi, Sawatari Eigo.&#xA;&#xA;&#34;Toraishi, sampai jumpa nanti!&#34; seru sosok yang berada didekat Tatsumi dan Sawatari. Seorang yang energinya mungkin tidak akan pernah habis. Orang yang selalu ceria dan bahagia. Tanpa ada beban sama sekali.&#xA;&#xA;Melihat kepergian anggota timnya, ia mendengkus kecil. &#34;Ya, sampai nanti,&#34; sahutnya sembari tersenyum. Setidaknya, ia masih akan tersenyum saat temannya pun melontarkan senyum kepada dirinya. Toraishi itu bukanlah pemuda yang irit tersenyum, hanya saja dia membutuhkan waktu-waktu tertentu untuk tersenyum. Terkadang, senyuman Toraishi lebih mirip seperti senyum jahil ketimbang senyum yang tulus. Ia terlalu banyak menggoda seseorang disekitarnya.&#xA;&#xA;Kini ia mengalihkan atensinya lagi ke ponsel yang sedari tadi setia digenggamnya. &#34;Oh apa ini? Rein-chan mengajak aku ketemuan?&#34; Toraishi bertanya-tanya, sejujurnya jarang sekali kalau sosok yang sedari tadi mengirimkan pesan kepadanya itu mengajaknya duluan. Padahal, biasa Toraishi yang lebih sering duluan untuk mengajaknya.&#xA;&#xA;Toraishi membalas pesan sang gadis pujaan hatinya itu. Namun, tak lama kemudian pesan itu dibalas. Sembari menunggu balasannya tadi, Toraishi sempat merapikan tas selempang yang dia bawa, dari asrama ke tempat latihan yang sekarang dipijaki olehnya.&#xA;&#xA;Pesan masuk itu bertuliskan, &#39;Bagaimana kalau hari ini, sepulang sekolah? Apa Izumi sudah punya rencana?&#39; Ia bahkan menulis balasannya dengan cepat. Tentu saja ia tidak akan mengabaikan kesempatan itu.&#xA;&#xA;Setelah itu, Toraishi bergegas untuk segera kembali ke asrama dan membersihkan tubuhnya dengan baik, karena sudah menghabiskan banyak waktu untuk latihan bahkan sepulang sekolah.&#xA;&#xA;Pesan masuk kembali diterima oleh Toraishi yang berbunyi, &#39;Kalau begitu, nanti akan aku kabari lagi. Sekarang aku mau kembali ke asrama dulu.&#39;&#xA;&#xA;Saat Toraishi kembali ke asrama, tak disangka ada salah seorang dari Tim Ootori yang menyambutnya, lebih tepatnya leader mereka.&#xA;&#xA;&#34;Toraishi, selamat ulang tahun!&#34; Betapa terkejutnya dia, padahal belum ada selangkah untuk memasuki asrama. Rasanya seolah dicegat oleh sosok pemuda bersurai cokelat muda dengan mata sehijau pepohonan.&#xA;&#xA;&#34;Wah, Hoshitani! Kau membuatku terkejut. Oh, hari ini ulang tahunku?&#34; Toraishi melirik ponsel yang dia genggam, ternyata disana terpampang jelas bahwa sudah tanggal 12 April. Dia benar-benar tidak sadar. Sepertinya, Toraishi baru saja mengerti apa yang sedang terjadi kali ini.&#xA;&#xA;&#34;Kau benar, terima kasih Hoshitani.&#34; Toraisi menepuk pundaknya sambil menyengir. Pantas saja kelihatannya suasana hati Toraishi bisa sebahagia itu, meskipun ternyata ia tetap melupakan salah satu hari penting dalam hidupnya.&#xA;&#xA;&#34;Ah, maaf membuatmu terkejut. Tadinya aku bertanya kepada Tatsumi, kalau kau ternyata masih berada di ruang latihan. Lalu, belum ada beberapa menit mereka masuk ke kamar, kaupun datang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh, iya. Tadi setelah latihan selesai, Rein-chan mengirimku pesan dan ingin mengajakku pergi setelah pulang sekolah. Makanya, aku baru saja pulang,&#34; jelas Toraishi.&#xA;&#xA;&#34;Ah~ Rein sudah lebih dahulu, ya?&#34; gumam Hoshitani, sepertinya terdengar oleh Toraishi.&#xA;&#xA;&#34;Ya, setidaknya kalau Hoshitani tidak berkata hal itu kepadaku, bisa saja aku justru seperti orang yang melupakan hari kelahirannya sendiri,&#34; balasnya tertawa renyah. Setelah itu ia pun melanjutkannya, &#34;Padahal, Rein-chan bisa mengucapkan selamat padaku yang pertama kali, sayang sekali. Tapi, tidak masalah! Suasana hatiku sekarang sedang dalam kondisi baik~&#34; &#xA;&#xA;Hoshitani awalnya terkejut mendengar jawaban itu, tetapi begitu ia mendengar perkataan terakhirnya, entah kenapa justru merasa lega. &#34;Ya sudah, aku ke dalam dulu. Boleh tolong minggir? Aku mau segera bertemu dengan Rein-chan, haha.&#34; Sungguh, kalau Toraishi tidak mengatakan hal ini, Hoshitani akan terus menerus berada di depan pintu asrama. &#xA;&#xA;&#34;Oh, maaf! Nanti, jangan pulang larut malam, ya~&#34;&#xA;&#xA;Melihat kepergian Toraishi yang hanya melambaikan tangannya saja, menandakan bahwa ia mendengarkan pernyataan itu. Sepertinya, berkat Hoshitani, dia ingin segera bertemu dengan kekasih pujaan hatinya itu.&#xA;&#xA;Sesampainya di kamar milik Toraishi, tidak terlihat keberadaan teman satu kamarnya. Dia tidak memusingkannya juga, ia memutuskan untuk membersihkan diri dan bersiap untuk bertemu dengan sosok yang selalu didambakan olehnya. &#xA;&#xA;Seorang gadis berambut kelabu, dengan iris mata sehijau tanaman yang selalu memberikan oksigen kepada makhluk hidup. Seberharga itulah sosoknya bagi seorang Toraishi Izumi. Gadis itu akrab disapa Rein, nama panjangnya ialah Hizafa Rein.&#xA;&#xA;Tidak lama setelah Toraishi bersiap, ternyata muncul pesan masuk. Awalnya Toraishi mengira itu dari Rein, tetapi sepertinya bukan. Itu adalah pesan dari Kuga Shu, teman masa kecilnya.&#xA;&#xA;Melihat pesannya yang ternyata mengucapkan, &#39;Selamat ulang tahun&#39; membuat Toraishi melukis senyuman. Sepertinya, untuk hari ini dia tidak bisa menemuinya. Ia tidak mempermasalahkan hal itu, karena tahu bahwa Kuga memiliki kerjaan sambilan. Sebenarnya, Rein pun seperti itu. Sehingga dirinya sekarang berpikir, apakah tidak akan menyita waktu sang terkasih untuk bekerja malam harinya? &#xA;&#xA;Toraishi memang tidak tahu pasti, jadwal kerja sambilannya Rein. Ia juga berharap kalau tidak membuat gadis itu justru tidak memiliki jatah istirahat, alhasil ia jarang untuk mengajaknya berkencan.&#xA;&#xA;Pada akhirnya, Toraishi memutuskan untuk bertanya mengenai hal ini dengan Rein. Selang beberapa menit kemudian, pesan masuk muncul diponsel milik Toraishi.&#xA;&#xA;Rein menuliskan balasannya, &#39;Tenang saja~ aku masuk kerjanya sekitar jam tujuh nanti malam.&#39; Toraishi bisa membayangkan betapa santainya Rein saat membaca pesan tersebut. Akan tetapi, Toraishi tetap saja merasa khawatir. Mau bagaimanapun, Rein itu seorang gadis, tidak terlalu bagus keluar malam-malam sekadar untuk bekerja.&#xA;&#xA;Toraishi membalas beberapa kalimat untuk disampaikan kepada Rein. Namun, balasan yang Toraishi dapatkan berupa, &#39;Hei, tenang saja. Sebelum aku bertemu denganmu, aku sudah lebih dahulu bekerja. Aku bisa untuk menjaga diriku sendiri. Omong-omong, aku sudah selesai bersiap. Nanti aku menunggu di depan gerbang Akademi, ya.&#39;&#xA;&#xA;Toraishi rasanya akan melesat saat itu juga, setelah ia membaca balasan dari Rein. Tentu saja, dia tidak lupa menyempatkan diri untuk membalas pesannya terlebih dahulu.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Yo, Izumi,&#34; sapa seorang gadis bersurai ungu dengan sedikit helaian rambutnya berwarna lebih muda, dibandingkan rambut lainnya.&#xA;&#xA;Bukan Rein yang menyapanya, melainkan teman akrab Rein. Sosok yang lebih sering bersama salah seorang dari Tim Ootori. &#34;Heh, sepertinya suasana hatimu bahagia sekali. Rein yang mengajakmu pergi duluan, ya~?&#34; goda gadis tersebut. Sungguh, entah kenapa gadis ini lebih berbakat dalam hal menggoda dirinya.&#xA;&#xA;&#34;Izumi, maaf membuatmu menunggu.&#34; Ya, ini barulah suara yang dia rindukan. Sosok yang akhirnya bertemu setelah percakapan panjang di ponsel mereka masing-masing. &#xA;&#xA;&#34;Tidak masalah~&#34;&#xA;&#xA;&#34;Huh? Ya, baiklah! Sudah sana kalian pergi berkencan segera. Jangan menebar kemesraan di depanku,&#34; gerutu gadis berambut ungu tadi.&#xA;&#xA;Gadis itu, Hizamara Fauraza, mendorong Toraishi dan Rein agar supaya menjauh dari hadapannya. Entah mengapa wajah Rein memanas. Ia tidak mengira kalau ajakannya malah terdengar seperti mengajak berkencan. Sementara itu, Toraishi sendiri tampak mengomeli gadis itu. Dia tidak terima karena tiba-tiba saja didorong agar menjauh dari tempat itu.&#xA;&#xA;Pada akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk pergi dan tak lupa mengucapkan sampai jumpa kepada gadis tersebut. Melihat kepergian mereka berdua, senyuman terulas diwajah mereka. Setelah itu, tangannya mengambil ponsel dan menghubungi seseorang yang dikenal oleh mereka semua.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Dalam perjalanan Toraishi bersama Rein terasa hening. Entah karena tidak bisa memulai topik, atau justru kepikiran tentang perkataan Fauraza yang berkata bahwa saat ini mereka berdua sedang kencan. Rasanya Rein ingin menangis sekolam sekarang. &#xA;&#xA;Belum sempat Toraishi ingin berbicara, terdengar seorang anak kecil tiba-tiba menangis. Atensi mereka berdua teralihkan, awalnya Rein ingin bertanya dengan anak itu, tetapi Toraishi lebih dahulu menenangkan anak kecil tersebut. Melihat hal itu membuat Rein tersenyum kecil. &#xA;&#xA;&#34;Hei, anak jagoan. Jangan menangis seperti itu,&#34; ujar Toraishi sembari jongkok tuk menyejajarkan tingginya dengan anak kecil itu. Anak kecil itu mungkin sekitaran usia tiga atau empat tahun. Toraishi mengelus pelan kepalanya sewaktu ia berkata demikian.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa dirimu menangis? Apa mungkin anak jagoan ini terpisah dengan Ibunya? Tenang saja, ayo kita cari Ibumu bersama-sama!&#34; Anak kecil itu tertawa kecil. &#xA;&#xA;&#34;Um ... Aku terpisah sama Ibuku,&#34; sahutnya pelan. Tetapi, karena Toraishi berada dekat dengannya, sehingga ia bisa mendengar suaranya.&#xA;&#xA;&#34;Tidak apa-apa, sebelum semakin malam, kita bisa ke tempat di mana Ibumu bisa menemukanmu!&#34; &#xA;&#xA;Rein menatap perilaku lembutnya Toraishi pada anak kecil itu. Terlepas dari kebiasaannya yang dahulu, Toraishi memang anak yang lemah lembut terutama kepada wanita dan anak-anak. Rasanya, diantara mereka berdua justru Toraishi yang lebih ahli dalam hal seperti ini.&#xA;&#xA;&#34;Izumi, kita pergi ke tempat petugas yang berjaga disekitar sini,&#34; sahut Rein, sembari membaca aplikasi navigasi yang berada di ponsel miliknya. Setidaknya, Rein masih bisa membantu walaupun sebatas ini saja.&#xA;&#xA;Setelah beberapa menit berlalu akhirnya, tempat yang mereka tuju ditemukan. Ternyata di sana memang sudah ada seorang Ibu yang dari ekspresi wajahnya tampak khawatir. Sampai akhirnya, &#34;Mama!&#34; Mereka berpelukan penuh haru. &#xA;&#xA;Rein yang melihat itu merasa terharu sekali. Meskipun ia sungguh tidak membantu apapun, karena lebih banyak Toraishi yang melakukannya. Akan tetapi, ia justru mendengar Toraishi menangis, walau dengan tangannya menutup matanya itu dan nyaris cukup pelan. Rein tahu, kalau Toraishi memang mudah terpengaruh hal-hal seperti ini. Namun, ia benar-benar tidak pernah menduga kalau Toraishi akan menangis di tempat itu juga. &#xA;&#xA;Rein menepuk bagian punggung Toraishi, menenangkan sosok yang lebih tinggi daripada dirinya. &#34;Jagoan masa menangis,&#34; celetuknya. &#xA;&#xA;Pada akhirnya, Toraishi tidak lagi menangis. Sang Ibu dari anak kecil yang mereka ajak untuk mencari Ibunya tadi, kini mengucapkan beribu terima kasih kepada mereka. Sebuah kisah yang mengharukan. Khususnya, pada hari kelahiran Toraishi Izumi sendiri. Ah, ia jadi membayangkan Ibunya bisa menjadi seseorang yang lebih penyayang.&#xA;&#xA;Melihat kepergian Ibu dan anak kecil itu sembari melambaikan tangannya kepada mereka, justru menjadikan kenangan itu tak terlupakan. &#xA;&#xA;&#34;Ah, Rein-chan. Maafkan aku yang justru tidak memperhatikan dirimu sedari tadi,&#34; ucap Toraishi, terlihat dari raut wajahnya yang tampak menyesal.&#xA;&#xA;Rein hanya tersenyum kecil sembari berkata, &#34;Tidak masalah, lagi pula menolong seorang anak untuk bertemu Ibunya merupakan perilaku yang sangat mulia.&#34; &#xA;&#xA;Mendengar perkataan itu dari Rein, entah kenapa ekspresi wajahnya tak dapat dikondisikan. Perasaannya terlalu banyak dalam satu waktu, ia tak mampu menampung semua ekspresi itu. &#34;Ah ... Begitu, ya. Rein-chan, boleh kita mencari tempat duduk dulu? Kita sudah berjalan hampir beberapa menit,&#34; tawar Toraishi.&#xA;&#xA;Rein sebenarnya memperhatikan ekspresi wajah Toraishi yang berubah terus, rasanya pasti tidak nyaman. Ia menyetujui hal itu, setidaknya mereka gunakan waktu untuk berbicara saja, dibanding menghabiskan banyak tenaga untuk berkeliling tanpa tahu arah.&#xA;&#xA;Mereka berjalan mendekat kesebuah tempat di mana tidak jauh berada pejalan kaki berada yang terkadang berolahraga di sore hari. &#34;Ah, ayo kita duduk di sana, Izumi!&#34; ajak Rein, sembari menunjuk ke arah yang tidak jauh dari mereka.&#xA;&#xA;Tidak menghabiskan banyak waktu akhirnya mereka duduk di sebuah bangku. &#34;Aku akan pergi membeli air minum sebentar, Izumi istirahat saja di sini.&#34;&#xA;&#xA;Baru saja, Rein ingin pergi. Namun, Toraishi tidak ingin membiarkannya pergi. &#34;Tidak lama, kok! Aku akan segera kembali, tenang saja.&#34; Kini adalah saat yang tepat bagi Rein untuk membantu Toraishi beristirahat sejenak.&#xA;&#xA;Rein bisa tahu seberapa padatnya latihan Tim Hiiragi, karena sebelum ini dia mengetahui banyak hal dari Fauraza, teman satu kamarnya di asrama. Awalnya Rein merasa bersalah untuk mengajak Toraishi pergi sepulang sekolah. Tetapi, kerja sambilannya adalah malam hari. Jadi, menurut Rein ia tidak memiliki banyak waktu. &#xA;&#xA;Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Rein tiba dengan membawakan sebotol minuman itu adalah air putih. Ada banyak energi yang mereka pergunakan seharian ini, terutama Toraishi. Dia menerima pemberian itu dari Rein, tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepadanya.&#xA;&#xA;&#34;Maaf, sepertinya hal tadi membuatku memikirkan sesuatu yang agak mustahil,&#34; ujar Toraishi dengan ekspresinya kembali tenang, setelah ia meminum air pemberian dari Rein.&#xA;&#xA;&#34;Mengenai Ibumu, ya? Maafkan aku juga, semisal perkataanku tadi sedikit menyinggung dirimu.&#34; Sungguh, Rein sebenarnya hanya ingin mengungkapkan kata hatinya, tetapi ia melupakan sesuatu yang paling mustahil untuk Toraishi sendiri.&#xA;&#xA;Terlihat Toraishi mengangguk pelan. &#34;Tidak apa-apa, bukan salahnya Rein-chan juga, kok! Aku justru sangat senang, kalau kamu yang mengajak aku pergi jalan duluan~&#34; Akhirnya sebuah senyuman terlukis dibibir Toraishi. Menandakan bahwa ia benar-benar merasa senang, apalagi melihatnya yang tampak bahagia menantikan dirinya, ia bisa mengerti perbedaan senyum Toraishi.&#xA;&#xA;&#34;Ini mungkin waktunya kurang tepat, tapi aku mau mengucapkan sesuatu kepada Izumi,&#34; ujar Rein, sedari tadi mendengar perkataan dari Toraishi ia sembari mengatur ketenangannya. Sementara dia yang mendengar namanya dipanggil tampak gugup, melihat keseriusan dari Rein.&#xA;&#xA;Rein kemudian berbicara, sembari menggenggam kedua tangan Toraishi. &#34;Terima kasih, karena sudah terlahir kedunia ini. Aku merasa beruntung sekali bisa bertemu dengan orang sebaik Izumi. Seseorang yang perhatian sama anak kecil dan wanita, tidak mungkin rela bahkan sekadar melukai mereka. Sederhana, tetapi Izumi sudah melakukan perbuatan yang begitu mulia. Sungguh, aku tidak tahu harus berkata apalagi ketika melihat Ibu dan anak kecil tadi tampak bahagia,&#34; jelas Rein.&#xA;&#xA;Perkataan tersebut menyentuh lubuk hati seorang Toraishi Izumi. Dia mungkin sudah terbawa suasana dan ingin menangis sekarang.&#xA;&#xA;&#34;Izumi, aku berharap dirimu menjadi orang paling bahagia di dunia. Khusus untuk hari ini, hari paling spesial bagimu. Selamat bertambah usia, Izumi. Aku akan selalu memperhatikan dirimu.&#34;&#xA;&#xA;Air mata Toraishi Izumi mungkin sudah menetes sekarang juga. Namun, kala ia ingin menghapusnya, Rein malah memeluknya erat. Tidak membiarkan orang-orang melihat sang jagoan itu menangis. Napasnya Toraishi mungkin menyentuh bagian lehernya, tetapi khusus untuk kali ini. Ia akan biarkan Toraishi meluapkan segala emosinya. Sebab, akan ada kejutan yang lebih spesial yang untuknya.&#xA;&#xA;Kelopak bunga sakura mulai berjatuhan. Suasana senja sudah hampir menggelap, tanda sore akan segera berakhir. Sudah berapa menit mereka habiskan duduk berdua, dengan Rein yang membenamkan Toraishi dalam pelukannya di sana. Ia mengelus pelan punggungnya. &#xA;&#xA;&#39;Musim semi memang akan selalu menjadi kenangan yang sangat berkesan bagi Toraishi Izumi.&#39;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Malam hampir tiba, disaat itulah Toraishi akhirnya memutuskan kembali ke asrama. Ia sudah mengantar Rein ke tempat kerja sambilannya, meskipun agak memakan waktu sedikit jauh dari asrama. Akan tetapi, sekadar membayangkannya saja sudah membuat dia mengkhawatirkannya lagi. &#xA;&#xA;Sebelum mereka saling mengatakan sampai jumpa besok, Rein sempat berkata, &#34;Nanti kakak kembaranku akan menjemput diriku, tenang saja~&#34; Sebenarnya, Toraishi sendiri memang belum pernah bertemu dengan kembaran Rein. Jadi, ia tidak bisa berbicara banyak hal.&#xA;&#xA;Dalam perjalanan Toraishi menuju asrama, ia merasakan sesuatu yang aneh membuat dirinya sedikit merinding. Sebelum itu, dia juga sudah mencuci wajahnya supaya saat kembali ke asrama tidak terlihat kalau ia sempat menangis.&#xA;&#xA;Namun, saat ia menyentuh pintu depan asrama. Terlihat beberapa orang berkata sesuatu yang membuatnya teringat kejadian tadi sore. Ketika, Hoshitani menghadangnya di depan pintu asrama sembari mengatakan, &#34;Toraishi, selamat ulang tahun!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Astaga! Kenapa kalian semua berada di depan pintu?!&#34; gerutu Toraishi, sungguh ia tidak suka dikejutkan untuk kedua kalinya seperti ini. Meskipun mereka semua bermaksud baik dan mungkin ingin merayakan ulang tahunnya. Menurutnya, semua ini terlalu aneh!&#xA;&#xA;&#34;Oh, sudah mulai acaranya? Selamat ulang tahun, sepertinya kau bersenang-senang hari ini,&#34; sahut seseorang datang dari asrama kedua. &#xA;&#xA;Akademi Ayanagi memiliki lebih dari satu asrama, mengingat ada banyak siswa yang bersekolah di tempat ini.&#xA;&#xA;&#34;Kau sangat terlambat, bersalah!&#34;&#xA;&#xA;Sepertinya, ini adalah kejutan yang direncanakan. Namun, Toraishi tidak pernah mengetahui kejutan ini bermula dari siapa. Setidaknya, biarkan dia menikmati hari spesialnya dengan bahagia dan kesenangan.&#xA;&#xA;Musim semi kali ini, membawa kebahagiaan bagi mereka semua. Tidak hanya Toraishi Izumi, seluruh orang yang merayakan turut memperoleh kebahagiaan yang dia berikan dengan keberadaannya itu sendiri. &#xA;&#xA;End.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Toraishi Izumi × Hizafa Rein.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:IzuRein" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">IzuRein</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>Simple happiness of the noblest behavior.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:StarMyu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">StarMyu</span></a> © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. </p></blockquote>

<hr/>

<p>Latihan Tim Hiiragi selesai lebih awal pada waktu itu. Padahal, sewaktu Festival Ayanagi mereka bahkan tidak punya waktu untuk sekadar beristirahat. Bertemu dengan Tim Ootori saja hanya beberapa kali, itupun sampai harus diikuti oleh salah seorang <em>leader</em>-nya. Lagi pula, orangnya memang unik juga, sih. Alhasil, anggota Tim Hiiragi tidak heran lagi, kalau orangnya bisa senekat itu.</p>

<p>Meskipun sudah menjelang sore hari, cuacanya masih saja terlihat sangat cerah. Senyuman terlukis pada bibir salah seorang anggota Tim Hiiragi, ia adalah Toraishi Izumi. Netra kelabunya menatap terus ponselnya. Bersyukur semua kegiatan telah berakhir, waktunya ia akan kembali ke asrama dan membersihkan tubuhnya yang penuh keringat, setelah latihan selama beberapa jam.</p>

<p>“Toraishi-<em>kun</em>, mau sampai kapan kau berdiri di situ?” tegur pemuda dengan rambut seindah bunga Sakura, itu adalah Ugawa Akira, teman satu timnya.</p>

<p>Mendengar teguran dari sosok yang familier baginya, sukses mengalihkan atensi pemuda tersebut. “Oh, kalian duluan saja. Aku akan menyusul setelah membalas pesan dari Rein-<em>chan</em>,” ujarnya sembari tersenyum lebar.</p>

<p>“Wah, aku benar-benar tidak mengerti, seorang Rein bisa terpikat sama orang seperti dia.” Sindiran itu secara tidak langsung menyentak keberadaan Toraishi, meskipun ia tahu kalau wataknya Ugawa memanglah demikian.</p>

<p>“Hei, jangan bicara begitu!” tegur Toraishi. Seolah direnggut ketenangannya, dia justru meladeni Ugawa.</p>

<p>“Ya, ya. Lakukan saja sesukamu, aku tidak akan peduli.” Ugawa segera pergi meninggalkan anggota timnya yang lain, tidak mau berurusan lebih banyak dengan Toraishi untuk hari ini. Sepertinya karena latihan kali ini sudah sangat menguras tenaga, jadinya Ugawa tidak memperpanjang perkataannya hingga terjadi pertikaian yang sudah menjadi kebiasaan.</p>

<p>Melihat kepergian Ugawa, ketiga orang lainnya yang tadi menatap Toraishi pun akhirnya memutuskan untuk pergi dahulu. “Toraishi, kami kembali ke asrama duluan, ya.” Itu adalah Tatsumi Rui yang berkata dengan lembut. “Sepertinya, suasana hati Ugawa kurang bagus akhir-akhir ini, jangan terlalu marah padanya, ya?” lanjutnya. Sungguh mulia sekali hatinya, meminta teman satu timnya agar tidak bertengkar dan memaklumi perasaan anggota lain timnya juga. Sungguh <em>leader</em> sejati.</p>

<p>“Ya, tidak masalah~ Nanti, aku akan menyusul.” Syukurnya, suasana hati Toraishi sedang bahagia saat ini.</p>

<p>“Kalau begitu, sampai jumpa nanti, Toraishi-<em>kun</em>,” ujar pemuda dengan rambut cokelat disamping Tatsumi, Sawatari Eigo.</p>

<p>“Toraishi, sampai jumpa nanti!” seru sosok yang berada didekat Tatsumi dan Sawatari. Seorang yang energinya mungkin tidak akan pernah habis. Orang yang selalu ceria dan bahagia. Tanpa ada beban sama sekali.</p>

<p>Melihat kepergian anggota timnya, ia mendengkus kecil. “Ya, sampai nanti,” sahutnya sembari tersenyum. Setidaknya, ia masih akan tersenyum saat temannya pun melontarkan senyum kepada dirinya. Toraishi itu bukanlah pemuda yang irit tersenyum, hanya saja dia membutuhkan waktu-waktu tertentu untuk tersenyum. Terkadang, senyuman Toraishi lebih mirip seperti senyum jahil ketimbang senyum yang tulus. Ia terlalu banyak menggoda seseorang disekitarnya.</p>

<p>Kini ia mengalihkan atensinya lagi ke ponsel yang sedari tadi setia digenggamnya. “Oh apa ini? Rein-<em>chan</em> mengajak aku ketemuan?” Toraishi bertanya-tanya, sejujurnya jarang sekali kalau sosok yang sedari tadi mengirimkan pesan kepadanya itu mengajaknya duluan. Padahal, biasa Toraishi yang lebih sering duluan untuk mengajaknya.</p>

<p>Toraishi membalas pesan sang gadis pujaan hatinya itu. Namun, tak lama kemudian pesan itu dibalas. Sembari menunggu balasannya tadi, Toraishi sempat merapikan tas selempang yang dia bawa, dari asrama ke tempat latihan yang sekarang dipijaki olehnya.</p>

<p>Pesan masuk itu bertuliskan, <em>&#39;Bagaimana kalau hari ini, sepulang sekolah? Apa Izumi sudah punya rencana?&#39;</em> Ia bahkan menulis balasannya dengan cepat. Tentu saja ia tidak akan mengabaikan kesempatan itu.</p>

<p>Setelah itu, Toraishi bergegas untuk segera kembali ke asrama dan membersihkan tubuhnya dengan baik, karena sudah menghabiskan banyak waktu untuk latihan bahkan sepulang sekolah.</p>

<p>Pesan masuk kembali diterima oleh Toraishi yang berbunyi, <em>&#39;Kalau begitu, nanti akan aku kabari lagi. Sekarang aku mau kembali ke asrama dulu.&#39;</em></p>

<p>Saat Toraishi kembali ke asrama, tak disangka ada salah seorang dari Tim Ootori yang menyambutnya, lebih tepatnya <em>leader</em> mereka.</p>

<p>“Toraishi, selamat ulang tahun!” Betapa terkejutnya dia, padahal belum ada selangkah untuk memasuki asrama. Rasanya seolah dicegat oleh sosok pemuda bersurai cokelat muda dengan mata sehijau pepohonan.</p>

<p>“Wah, Hoshitani! Kau membuatku terkejut. Oh, hari ini ulang tahunku?” Toraishi melirik ponsel yang dia genggam, ternyata disana terpampang jelas bahwa sudah tanggal 12 April. Dia benar-benar tidak sadar. Sepertinya, Toraishi baru saja mengerti apa yang sedang terjadi kali ini.</p>

<p>“Kau benar, terima kasih Hoshitani.” Toraisi menepuk pundaknya sambil menyengir. Pantas saja kelihatannya suasana hati Toraishi bisa sebahagia itu, meskipun ternyata ia tetap melupakan salah satu hari penting dalam hidupnya.</p>

<p>“Ah, maaf membuatmu terkejut. Tadinya aku bertanya kepada Tatsumi, kalau kau ternyata masih berada di ruang latihan. Lalu, belum ada beberapa menit mereka masuk ke kamar, kaupun datang.”</p>

<p>“Oh, iya. Tadi setelah latihan selesai, Rein-<em>chan</em> mengirimku pesan dan ingin mengajakku pergi setelah pulang sekolah. Makanya, aku baru saja pulang,” jelas Toraishi.</p>

<p>“Ah~ Rein sudah lebih dahulu, ya?” gumam Hoshitani, sepertinya terdengar oleh Toraishi.</p>

<p>“Ya, setidaknya kalau Hoshitani tidak berkata hal itu kepadaku, bisa saja aku justru seperti orang yang melupakan hari kelahirannya sendiri,” balasnya tertawa renyah. Setelah itu ia pun melanjutkannya, “Padahal, Rein-<em>chan</em> bisa mengucapkan selamat padaku yang pertama kali, sayang sekali. Tapi, tidak masalah! Suasana hatiku sekarang sedang dalam kondisi baik~”</p>

<p>Hoshitani awalnya terkejut mendengar jawaban itu, tetapi begitu ia mendengar perkataan terakhirnya, entah kenapa justru merasa lega. “Ya sudah, aku ke dalam dulu. Boleh tolong minggir? Aku mau segera bertemu dengan Rein-<em>chan</em>, haha.” Sungguh, kalau Toraishi tidak mengatakan hal ini, Hoshitani akan terus menerus berada di depan pintu asrama.</p>

<p>“Oh, maaf! Nanti, jangan pulang larut malam, ya~”</p>

<p>Melihat kepergian Toraishi yang hanya melambaikan tangannya saja, menandakan bahwa ia mendengarkan pernyataan itu. Sepertinya, berkat Hoshitani, dia ingin segera bertemu dengan kekasih pujaan hatinya itu.</p>

<p>Sesampainya di kamar milik Toraishi, tidak terlihat keberadaan teman satu kamarnya. Dia tidak memusingkannya juga, ia memutuskan untuk membersihkan diri dan bersiap untuk bertemu dengan sosok yang selalu didambakan olehnya.</p>

<p>Seorang gadis berambut kelabu, dengan iris mata sehijau tanaman yang selalu memberikan oksigen kepada makhluk hidup. Seberharga itulah sosoknya bagi seorang Toraishi Izumi. Gadis itu akrab disapa Rein, nama panjangnya ialah Hizafa Rein.</p>

<p>Tidak lama setelah Toraishi bersiap, ternyata muncul pesan masuk. Awalnya Toraishi mengira itu dari Rein, tetapi sepertinya bukan. Itu adalah pesan dari Kuga Shu, teman masa kecilnya.</p>

<p>Melihat pesannya yang ternyata mengucapkan, <em>&#39;Selamat ulang tahun&#39;</em> membuat Toraishi melukis senyuman. Sepertinya, untuk hari ini dia tidak bisa menemuinya. Ia tidak mempermasalahkan hal itu, karena tahu bahwa Kuga memiliki kerjaan sambilan. Sebenarnya, Rein pun seperti itu. Sehingga dirinya sekarang berpikir, apakah tidak akan menyita waktu sang terkasih untuk bekerja malam harinya?</p>

<p>Toraishi memang tidak tahu pasti, jadwal kerja sambilannya Rein. Ia juga berharap kalau tidak membuat gadis itu justru tidak memiliki jatah istirahat, alhasil ia jarang untuk mengajaknya berkencan.</p>

<p>Pada akhirnya, Toraishi memutuskan untuk bertanya mengenai hal ini dengan Rein. Selang beberapa menit kemudian, pesan masuk muncul diponsel milik Toraishi.</p>

<p>Rein menuliskan balasannya, <em>&#39;Tenang saja~ aku masuk kerjanya sekitar jam tujuh nanti malam.&#39;</em> Toraishi bisa membayangkan betapa santainya Rein saat membaca pesan tersebut. Akan tetapi, Toraishi tetap saja merasa khawatir. Mau bagaimanapun, Rein itu seorang gadis, tidak terlalu bagus keluar malam-malam sekadar untuk bekerja.</p>

<p>Toraishi membalas beberapa kalimat untuk disampaikan kepada Rein. Namun, balasan yang Toraishi dapatkan berupa, <em>&#39;Hei, tenang saja. Sebelum aku bertemu denganmu, aku sudah lebih dahulu bekerja. Aku bisa untuk menjaga diriku sendiri. Omong-omong, aku sudah selesai bersiap. Nanti aku menunggu di depan gerbang Akademi, ya.&#39;</em></p>

<p>Toraishi rasanya akan melesat saat itu juga, setelah ia membaca balasan dari Rein. Tentu saja, dia tidak lupa menyempatkan diri untuk membalas pesannya terlebih dahulu.</p>

<hr/>

<p>“Yo, Izumi,” sapa seorang gadis bersurai ungu dengan sedikit helaian rambutnya berwarna lebih muda, dibandingkan rambut lainnya.</p>

<p>Bukan Rein yang menyapanya, melainkan teman akrab Rein. Sosok yang lebih sering bersama salah seorang dari Tim Ootori. “Heh, sepertinya suasana hatimu bahagia sekali. Rein yang mengajakmu pergi duluan, ya~?” goda gadis tersebut. Sungguh, entah kenapa gadis ini lebih berbakat dalam hal menggoda dirinya.</p>

<p>“Izumi, maaf membuatmu menunggu.” Ya, ini barulah suara yang dia rindukan. Sosok yang akhirnya bertemu setelah percakapan panjang di ponsel mereka masing-masing.</p>

<p>“Tidak masalah~”</p>

<p>“Huh? Ya, baiklah! Sudah sana kalian pergi berkencan segera. Jangan menebar kemesraan di depanku,” gerutu gadis berambut ungu tadi.</p>

<p>Gadis itu, Hizamara Fauraza, mendorong Toraishi dan Rein agar supaya menjauh dari hadapannya. Entah mengapa wajah Rein memanas. Ia tidak mengira kalau ajakannya malah terdengar seperti mengajak berkencan. Sementara itu, Toraishi sendiri tampak mengomeli gadis itu. Dia tidak terima karena tiba-tiba saja didorong agar menjauh dari tempat itu.</p>

<p>Pada akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk pergi dan tak lupa mengucapkan sampai jumpa kepada gadis tersebut. Melihat kepergian mereka berdua, senyuman terulas diwajah mereka. Setelah itu, tangannya mengambil ponsel dan menghubungi seseorang yang dikenal oleh mereka semua.</p>

<hr/>

<p>Dalam perjalanan Toraishi bersama Rein terasa hening. Entah karena tidak bisa memulai topik, atau justru kepikiran tentang perkataan Fauraza yang berkata bahwa saat ini mereka berdua sedang kencan. Rasanya Rein ingin menangis sekolam sekarang.</p>

<p>Belum sempat Toraishi ingin berbicara, terdengar seorang anak kecil tiba-tiba menangis. Atensi mereka berdua teralihkan, awalnya Rein ingin bertanya dengan anak itu, tetapi Toraishi lebih dahulu menenangkan anak kecil tersebut. Melihat hal itu membuat Rein tersenyum kecil.</p>

<p>“Hei, anak jagoan. Jangan menangis seperti itu,” ujar Toraishi sembari jongkok tuk menyejajarkan tingginya dengan anak kecil itu. Anak kecil itu mungkin sekitaran usia tiga atau empat tahun. Toraishi mengelus pelan kepalanya sewaktu ia berkata demikian.</p>

<p>“Kenapa dirimu menangis? Apa mungkin anak jagoan ini terpisah dengan Ibunya? Tenang saja, ayo kita cari Ibumu bersama-sama!” Anak kecil itu tertawa kecil.</p>

<p>“Um ... Aku terpisah sama Ibuku,” sahutnya pelan. Tetapi, karena Toraishi berada dekat dengannya, sehingga ia bisa mendengar suaranya.</p>

<p>“Tidak apa-apa, sebelum semakin malam, kita bisa ke tempat di mana Ibumu bisa menemukanmu!”</p>

<p>Rein menatap perilaku lembutnya Toraishi pada anak kecil itu. Terlepas dari kebiasaannya yang dahulu, Toraishi memang anak yang lemah lembut terutama kepada wanita dan anak-anak. Rasanya, diantara mereka berdua justru Toraishi yang lebih ahli dalam hal seperti ini.</p>

<p>“Izumi, kita pergi ke tempat petugas yang berjaga disekitar sini,” sahut Rein, sembari membaca aplikasi navigasi yang berada di ponsel miliknya. Setidaknya, Rein masih bisa membantu walaupun sebatas ini saja.</p>

<p>Setelah beberapa menit berlalu akhirnya, tempat yang mereka tuju ditemukan. Ternyata di sana memang sudah ada seorang Ibu yang dari ekspresi wajahnya tampak khawatir. Sampai akhirnya, “Mama!” Mereka berpelukan penuh haru.</p>

<p>Rein yang melihat itu merasa terharu sekali. Meskipun ia sungguh tidak membantu apapun, karena lebih banyak Toraishi yang melakukannya. Akan tetapi, ia justru mendengar Toraishi menangis, walau dengan tangannya menutup matanya itu dan nyaris cukup pelan. Rein tahu, kalau Toraishi memang mudah terpengaruh hal-hal seperti ini. Namun, ia benar-benar tidak pernah menduga kalau Toraishi akan menangis di tempat itu juga.</p>

<p>Rein menepuk bagian punggung Toraishi, menenangkan sosok yang lebih tinggi daripada dirinya. “Jagoan masa menangis,” celetuknya.</p>

<p>Pada akhirnya, Toraishi tidak lagi menangis. Sang Ibu dari anak kecil yang mereka ajak untuk mencari Ibunya tadi, kini mengucapkan beribu terima kasih kepada mereka. Sebuah kisah yang mengharukan. Khususnya, pada hari kelahiran Toraishi Izumi sendiri. <em>Ah, ia jadi membayangkan Ibunya bisa menjadi seseorang yang lebih penyayang.</em></p>

<p>Melihat kepergian Ibu dan anak kecil itu sembari melambaikan tangannya kepada mereka, justru menjadikan kenangan itu tak terlupakan.</p>

<p>“Ah, Rein-<em>chan</em>. Maafkan aku yang justru tidak memperhatikan dirimu sedari tadi,” ucap Toraishi, terlihat dari raut wajahnya yang tampak menyesal.</p>

<p>Rein hanya tersenyum kecil sembari berkata, “Tidak masalah, lagi pula menolong seorang anak untuk bertemu Ibunya merupakan perilaku yang sangat mulia.”</p>

<p>Mendengar perkataan itu dari Rein, entah kenapa ekspresi wajahnya tak dapat dikondisikan. Perasaannya terlalu banyak dalam satu waktu, ia tak mampu menampung semua ekspresi itu. “Ah ... Begitu, ya. Rein-<em>chan</em>, boleh kita mencari tempat duduk dulu? Kita sudah berjalan hampir beberapa menit,” tawar Toraishi.</p>

<p>Rein sebenarnya memperhatikan ekspresi wajah Toraishi yang berubah terus, rasanya pasti tidak nyaman. Ia menyetujui hal itu, setidaknya mereka gunakan waktu untuk berbicara saja, dibanding menghabiskan banyak tenaga untuk berkeliling tanpa tahu arah.</p>

<p>Mereka berjalan mendekat kesebuah tempat di mana tidak jauh berada pejalan kaki berada yang terkadang berolahraga di sore hari. “Ah, ayo kita duduk di sana, Izumi!” ajak Rein, sembari menunjuk ke arah yang tidak jauh dari mereka.</p>

<p>Tidak menghabiskan banyak waktu akhirnya mereka duduk di sebuah bangku. “Aku akan pergi membeli air minum sebentar, Izumi istirahat saja di sini.”</p>

<p>Baru saja, Rein ingin pergi. Namun, Toraishi tidak ingin membiarkannya pergi. “Tidak lama, kok! Aku akan segera kembali, tenang saja.” Kini adalah saat yang tepat bagi Rein untuk membantu Toraishi beristirahat sejenak.</p>

<p>Rein bisa tahu seberapa padatnya latihan Tim Hiiragi, karena sebelum ini dia mengetahui banyak hal dari Fauraza, teman satu kamarnya di asrama. Awalnya Rein merasa bersalah untuk mengajak Toraishi pergi sepulang sekolah. Tetapi, kerja sambilannya adalah malam hari. Jadi, menurut Rein ia tidak memiliki banyak waktu.</p>

<p>Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Rein tiba dengan membawakan sebotol minuman itu adalah air putih. Ada banyak energi yang mereka pergunakan seharian ini, terutama Toraishi. Dia menerima pemberian itu dari Rein, tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepadanya.</p>

<p>“Maaf, sepertinya hal tadi membuatku memikirkan sesuatu yang agak mustahil,” ujar Toraishi dengan ekspresinya kembali tenang, setelah ia meminum air pemberian dari Rein.</p>

<p>“Mengenai Ibumu, ya? Maafkan aku juga, semisal perkataanku tadi sedikit menyinggung dirimu.” Sungguh, Rein sebenarnya hanya ingin mengungkapkan kata hatinya, tetapi ia melupakan sesuatu yang paling mustahil untuk Toraishi sendiri.</p>

<p>Terlihat Toraishi mengangguk pelan. “Tidak apa-apa, bukan salahnya Rein-<em>chan</em> juga, kok! Aku justru sangat senang, kalau kamu yang mengajak aku pergi jalan duluan~” Akhirnya sebuah senyuman terlukis dibibir Toraishi. Menandakan bahwa ia benar-benar merasa senang, apalagi melihatnya yang tampak bahagia menantikan dirinya, ia bisa mengerti perbedaan senyum Toraishi.</p>

<p>“Ini mungkin waktunya kurang tepat, tapi aku mau mengucapkan sesuatu kepada Izumi,” ujar Rein, sedari tadi mendengar perkataan dari Toraishi ia sembari mengatur ketenangannya. Sementara dia yang mendengar namanya dipanggil tampak gugup, melihat keseriusan dari Rein.</p>

<p>Rein kemudian berbicara, sembari menggenggam kedua tangan Toraishi. “Terima kasih, karena sudah terlahir kedunia ini. Aku merasa beruntung sekali bisa bertemu dengan orang sebaik Izumi. Seseorang yang perhatian sama anak kecil dan wanita, tidak mungkin rela bahkan sekadar melukai mereka. Sederhana, tetapi Izumi sudah melakukan perbuatan yang begitu mulia. Sungguh, aku tidak tahu harus berkata apalagi ketika melihat Ibu dan anak kecil tadi tampak bahagia,” jelas Rein.</p>

<p>Perkataan tersebut menyentuh lubuk hati seorang Toraishi Izumi. Dia mungkin sudah terbawa suasana dan ingin menangis sekarang.</p>

<p>“Izumi, aku berharap dirimu menjadi orang paling bahagia di dunia. Khusus untuk hari ini, hari paling spesial bagimu. Selamat bertambah usia, Izumi. Aku akan selalu memperhatikan dirimu.”</p>

<p>Air mata Toraishi Izumi mungkin sudah menetes sekarang juga. Namun, kala ia ingin menghapusnya, Rein malah memeluknya erat. Tidak membiarkan orang-orang melihat sang jagoan itu menangis. Napasnya Toraishi mungkin menyentuh bagian lehernya, tetapi khusus untuk kali ini. Ia akan biarkan Toraishi meluapkan segala emosinya. Sebab, akan ada kejutan yang lebih spesial yang untuknya.</p>

<p>Kelopak bunga sakura mulai berjatuhan. Suasana senja sudah hampir menggelap, tanda sore akan segera berakhir. Sudah berapa menit mereka habiskan duduk berdua, dengan Rein yang membenamkan Toraishi dalam pelukannya di sana. Ia mengelus pelan punggungnya.</p>

<p><em>&#39;Musim semi memang akan selalu menjadi kenangan yang sangat berkesan bagi Toraishi Izumi.&#39;</em></p>

<hr/>

<p>Malam hampir tiba, disaat itulah Toraishi akhirnya memutuskan kembali ke asrama. Ia sudah mengantar Rein ke tempat kerja sambilannya, meskipun agak memakan waktu sedikit jauh dari asrama. Akan tetapi, sekadar membayangkannya saja sudah membuat dia mengkhawatirkannya lagi.</p>

<p>Sebelum mereka saling mengatakan sampai jumpa besok, Rein sempat berkata, “Nanti kakak kembaranku akan menjemput diriku, tenang saja~” Sebenarnya, Toraishi sendiri memang belum pernah bertemu dengan kembaran Rein. Jadi, ia tidak bisa berbicara banyak hal.</p>

<p>Dalam perjalanan Toraishi menuju asrama, ia merasakan sesuatu yang aneh membuat dirinya sedikit merinding. Sebelum itu, dia juga sudah mencuci wajahnya supaya saat kembali ke asrama tidak terlihat kalau ia sempat menangis.</p>

<p>Namun, saat ia menyentuh pintu depan asrama. Terlihat beberapa orang berkata sesuatu yang membuatnya teringat kejadian tadi sore. Ketika, Hoshitani menghadangnya di depan pintu asrama sembari mengatakan, “Toraishi, selamat ulang tahun!”</p>

<p>“Astaga! Kenapa kalian semua berada di depan pintu?!” gerutu Toraishi, sungguh ia tidak suka dikejutkan untuk kedua kalinya seperti ini. Meskipun mereka semua bermaksud baik dan <em>mungkin</em> ingin merayakan ulang tahunnya. <em>Menurutnya, semua ini terlalu aneh!</em></p>

<p>“Oh, sudah mulai acaranya? Selamat ulang tahun, sepertinya kau bersenang-senang hari ini,” sahut seseorang datang dari asrama kedua.</p>

<p>Akademi Ayanagi memiliki lebih dari satu asrama, mengingat ada banyak siswa yang bersekolah di tempat ini.</p>

<p>“Kau sangat terlambat, bersalah!”</p>

<p>Sepertinya, ini adalah kejutan yang direncanakan. Namun, Toraishi tidak pernah mengetahui kejutan ini bermula dari siapa. Setidaknya, biarkan dia menikmati hari spesialnya dengan bahagia dan kesenangan.</p>

<p>Musim semi kali ini, membawa kebahagiaan bagi mereka semua. Tidak hanya Toraishi Izumi, seluruh orang yang merayakan turut memperoleh kebahagiaan yang dia berikan dengan keberadaannya itu sendiri.</p>

<p><strong>End.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/spring-happiness</guid>
      <pubDate>Sat, 12 Apr 2025 11:20:25 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Sekadar Bertemu</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/sekadar-bertemu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Hidaka Hokuto × Hizafa Rein.&#xA;  #FaureYume; #HokuRein.&#xA;&#xA;   If only, his wish would be granted through that opportunity.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #EnsembleStars © Happy Elements K.K, David Production. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Itu telah terjadi beberapa bulan yang lalu. Di mana ia mendapati sebuah pemberitahuan kalau unitnya akan mengadakan penampilan kembali.&#xA;&#xA;   Latihan yang dilakukan terasa padat seiring berjalannya waktu, tak bisa dipungkiri kalau mereka perlu menampilkan sesuatu yang akan membuat orang terkagum berkat performa yang dilakukan.&#xA;&#xA;   &#34;Huh~ aku ingin istirahat!&#34; Berkat ucapan dari pemuda surai oranye, ia jadi bisa mengatur kembali pernapasan. Ia mengambil langkah menjeda kegiatan.&#xA;&#xA;   Sementara kedua temannya menyetujui hal tersebut. &#34;Benar juga lebih baik istirahat terlebih dahulu.&#34; Lelaki berkacamata itu mulai mengelap keringat yang membasahi pelipisnya.&#xA;&#xA;   Hingga suara lainnya mengalihkan perhatian mereka, &#34;Ah, minumanku sepertinya habis. Aku ingin membelinya, ada yang ingin menitip sekalian?&#34; tanyanya.&#xA;&#xA;   &#34;Aku mau! Titip minuman dingin ya, Sally~&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ya. Bagaimana Hokuto sama Makoto, ingin titip juga?&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ah, tidak perlu. Air minumku masih ada, tetapi milik Yuuki sepertinya sudah habis.&#34;&#xA;&#xA;   Menggaruk pipinya tidak gatal. &#34;Sepertinya boleh juga, ah, aku mau membeli sesuatu juga. Isara-kun, aku ikut juga, ya.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ya, tentu.&#34;&#xA;&#xA;   Pada akhirnya mereka berdua pergi bersama. Menyisakan kedua orang disana. Lelaki yang dipanggil Hokuto tadi terlihat melamun. Tidak seperti biasanya.&#xA;&#xA;   &#34;Hokke!&#34;&#xA;&#xA;   Ia tersentak. Suara yang tidak asing menguar ketelinga miliknya. &#34;Ada apa, Akehoshi?&#34; tanyanya seperti biasa.&#xA;&#xA;   &#34;Hmph, sedari tadi aku panggil dirimu melamun. Coba ceritakan padaku, apa yang kau pikirkan?&#34;&#xA;&#xA;   Akehoshi menyadari bahwa gerak-gerik Hokuto tidak seperti apa yang biasa lihat. Sedikit suram, mungkin? Ah, tidak-tidak.&#xA;&#xA;   &#34;Tidak ada.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Bohong sekali. Dari ekspresimu saja, aku melihat kalau ada yang tidak beres.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Bukan hal yang penting.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Aku tidak percaya.&#34;&#xA;&#xA;   Hidaka Hokuto, itulah namanya. Mulai menghela napas panjang. Entah apa yang membuat teman satu unitnya, Trickstar. Bisa menjadi sepenasaran ini terhadap masalah dirinya.&#xA;&#xA;   &#34;Urusannya dengan Klub Teater.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Lalu?&#34; Baiklah, sekarang Akehoshi Subaru itu semakin penasaran. Bagaimana pun juga, sekarang Hokuto menjadi ketua dari klub tersebut.&#xA;&#xA;   &#34;Akan ada pementasan dalam waktu dekat, jadi—&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Kami kembali.&#34;&#xA;&#xA;   Perkataan Hokuto terpotong. Mendapati kedua temannya yang telah kembali dari berbelanja. &#34;Kalian hanya membeli minuman, terus mengapa jadi sebanyak ini?&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ah, itu karena kita belum makan. Kita sudah berada disini setelah kegiatan sekolah berakhir, jadi perlu mengisi tenaga lagi.&#34;&#xA;&#xA;   Kalau dipikir kembali, mereka berlatih dan mengulangi gerakan tanpa melihat waktu. Selagi ada kesempatan untuk menjeda kegiatan, inilah waktu yang bagus untuk mengisi tenaga.&#xA;&#xA;   &#34;Ya. Kalian semua terlalu bersemangat, sampai melupakan waktu makan,&#34; sahut Yuuki Makoto, si pemuda bersurai kuning dengan kacamata bertengger dihidungnya.&#xA;&#xA;   &#34;Hehe~&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Kalau begitu, ayo makan!&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Selamat makan.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Suasananya entah mengapa menjadi canggung. Padahal, sewaktu tiba ia tak merasakan hal seperti ini. Isara Mao, telah dihujani pertanyaan oleh Subaru. Tentang Hokuto dan klubnya. Sesuai apa yang Subaru duga, Mao mengetahui kegiatan tersebut.&#xA;&#xA;   Mao melirik Hokuto sekilas. Entah mengapa ia menjadi tidak tenang sekarang. &#34;Akehoshi-kun, tenanglah. Hidaka-kun pasti memiliki alasan tersendiri kenapa tidak memberitahukannya,&#34; ucapnya mencoba menengahi pembicaraan.&#xA;&#xA;   &#34;Tetapi, kalau tidak begitu ... Hokke akan terus menutupinya,&#34; katanya.&#xA;&#xA;   &#34;Hei, aku tak seperti itu.&#34;&#xA;&#xA;   Mao mendapati perdebatan kembali.  Ia mulai batuk pelan, berusaha mengarahkan atensi mereka menatap kepada dirinya.&#xA;&#xA;   &#34;Baiklah, berhubung Hokuto juga sudah mengatakannya tadi dengan Subaru. Aku akan mengatakan sedikit saja. Klub Teater akan mengadakan penampilan, sehari sebelum Trickstar mengadakan penampilan. Peran Hokuto juga tidak begitu banyak, karena dia juga berada di kelas akhir seperti kita. Adik kelas kitalah yang nanti akan melakukannya, tetapi dia tetap berusaha untuk ikut tampil disana.&#34;&#xA;&#xA;   Mendengar pernyataan tersebut membuat Makoto merasa khawatir. &#34;Hidaka-kun, jangan terlalu memaksakan diri,&#34; ujarnya.&#xA;&#xA;   &#34;Hokke selalu saja begitu~!&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Aku tidak memaksakan diri. Malah, yang sering kali memaksakan diri itu Isara.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ehh? Kenapa jadi aku juga?&#34; Isara entah mengapa tidak terima kalau ia ikut terlibat. Meskipun begitu ia memang terlibat banyak organisasi sekolah.&#xA;&#xA;   &#34;Kalian berdua sama saja, sering kali memaksakan diri. Tolong ingat dengan kesehatan kalian, karena kita perlu tampil bersama sebagai Trickstar, bukan?&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ya, itu benar.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   &#34;Sangat melelahkan~&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ya, hari ini cukup padat dari dugaan.&#34;&#xA;&#xA;   Mereka saling bertukar pendapat satu sama lain. Hingga mereka mulai memutuskan untuk berpisah dan kembali ke dorm masing-masing.&#xA;&#xA;   Akan tetapi, sebelum Hokuto memutuskan kembali ia mengunjungi suatu toko. Dikala ia menghadapi hari-hari yang berat, makanan kesukaannya akan menjadi penyemangat.&#xA;&#xA;   Berhubung hari belum terlalu larut, walau begitu senja mulai tercipta dilangit. Menandakan bahwa gelap akan merampas semua cahayanya, kendati akan bertabur oleh bintang nanti.&#xA;&#xA;   Perasaannya yang terasa lega, setelah mendengarkan perkataan hangat teman satu unitnya. Entah mengapa membuat ia berjalan dengan senyum tercipta.&#xA;&#xA;   &#34;Persediaan konpeito yang ada di dorm sebentar lagi habis, aku harus membeli beberapa.&#34;&#xA;&#xA;   Benar makanan kesukaannya adalah konpeito. Ialah permen tradisional yang dahulunya diberikan oleh sang Nenek, ketika ia merasa sedih. Seiring pertumbuhannya menjadi remaja, ia semakin menyukainya.&#xA;&#xA;   Ditambah bentuk yang akan segera menarik perhatian, bentuk bintang dan berwarna-warni serta memiliki rasa manis. Terkadang hal itu, mengingatkannya pada masa lalu.&#xA;&#xA;   Setelah mendapatkannya, ia berpapasan tanpa bertukar sapa dengan seseorang yang memang asing terhadapnya. Tidak biasa.&#xA;&#xA;   Namun, berkat hal itu ia sedikit lega. Karena tiada yang mengenali dirinya yang memiliki karir sebagai Idola. Namun, kalau saja ia mengetahuinya itulah pertemuan yang menjadikan dirinya seperti di masa depan nanti.&#xA;&#xA;   Figur indah itu terlihat seperti orang yang telah dewasa. Ah, mungkin saja demikian, benar? Tinggi badan bukanlah menjadi salah satu alasannya. Mengingat orang itu tidak begitu tinggi. Seorang perempuan dengan rambut abu-abu yang tergerai.&#xA;&#xA;   Entah mengapa ia menjadi bisa mengingatnya. Padahal mereka, hanya sekadar bertemu sekilas. Belum tentu dikesempatan yang lain, akan kembali bertemu, benar?&#xA;&#xA;   Ya, belum tentu ada kesempatan.&#xA;&#xA;   To Be Continued.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Hidaka Hokuto × Hizafa Rein.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:HokuRein" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">HokuRein</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>If only, his wish would be granted through that opportunity.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:EnsembleStars" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">EnsembleStars</span></a> © Happy Elements K.K, David Production. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   Itu telah terjadi beberapa bulan yang lalu. Di mana ia mendapati sebuah pemberitahuan kalau unitnya akan mengadakan penampilan kembali.</p>

<p>   Latihan yang dilakukan terasa padat seiring berjalannya waktu, tak bisa dipungkiri kalau mereka perlu menampilkan sesuatu yang akan membuat orang terkagum berkat performa yang dilakukan.</p>

<p>   “Huh~ aku ingin istirahat!” Berkat ucapan dari pemuda surai oranye, ia jadi bisa mengatur kembali pernapasan. Ia mengambil langkah menjeda kegiatan.</p>

<p>   Sementara kedua temannya menyetujui hal tersebut. “Benar juga lebih baik istirahat terlebih dahulu.” Lelaki berkacamata itu mulai mengelap keringat yang membasahi pelipisnya.</p>

<p>   Hingga suara lainnya mengalihkan perhatian mereka, “Ah, minumanku sepertinya habis. Aku ingin membelinya, ada yang ingin menitip sekalian?” tanyanya.</p>

<p>   “Aku mau! Titip minuman dingin ya, <em>Sally~</em>“</p>

<p>   “Ya. Bagaimana Hokuto sama Makoto, ingin titip juga?”</p>

<p>   “Ah, tidak perlu. Air minumku masih ada, tetapi milik Yuuki sepertinya sudah habis.”</p>

<p>   Menggaruk pipinya tidak gatal. “Sepertinya boleh juga, ah, aku mau membeli sesuatu juga. Isara-<em>kun</em>, aku ikut juga, ya.”</p>

<p>   “Ya, tentu.”</p>

<p>   Pada akhirnya mereka berdua pergi bersama. Menyisakan kedua orang disana. Lelaki yang dipanggil Hokuto tadi terlihat melamun. Tidak seperti biasanya.</p>

<p>   “<em>Hokke</em>!”</p>

<p>   Ia tersentak. Suara yang tidak asing menguar ketelinga miliknya. “Ada apa, Akehoshi?” tanyanya seperti biasa.</p>

<p>   “Hmph, sedari tadi aku panggil dirimu melamun. Coba ceritakan padaku, apa yang kau pikirkan?”</p>

<p>   Akehoshi menyadari bahwa gerak-gerik Hokuto tidak seperti apa yang biasa lihat. Sedikit suram, mungkin? Ah, tidak-tidak.</p>

<p>   “Tidak ada.”</p>

<p>   “Bohong sekali. Dari ekspresimu saja, aku melihat kalau ada yang tidak beres.”</p>

<p>   “Bukan hal yang penting.”</p>

<p>   “Aku tidak percaya.”</p>

<p>   Hidaka Hokuto, itulah namanya. Mulai menghela napas panjang. Entah apa yang membuat teman satu unitnya, Trickstar. Bisa menjadi sepenasaran ini terhadap masalah dirinya.</p>

<p>   “Urusannya dengan Klub Teater.”</p>

<p>   “Lalu?” Baiklah, sekarang Akehoshi Subaru itu semakin penasaran. Bagaimana pun juga, sekarang Hokuto menjadi ketua dari klub tersebut.</p>

<p>   “Akan ada pementasan dalam waktu dekat, jadi—”</p>

<p>   “Kami kembali.”</p>

<p>   Perkataan Hokuto terpotong. Mendapati kedua temannya yang telah kembali dari berbelanja. “Kalian hanya membeli minuman, terus mengapa jadi sebanyak ini?”</p>

<p>   “Ah, itu karena kita belum makan. Kita sudah berada disini setelah kegiatan sekolah berakhir, jadi perlu mengisi tenaga lagi.”</p>

<p>   Kalau dipikir kembali, mereka berlatih dan mengulangi gerakan tanpa melihat waktu. Selagi ada kesempatan untuk menjeda kegiatan, inilah waktu yang bagus untuk mengisi tenaga.</p>

<p>   “Ya. Kalian semua terlalu bersemangat, sampai melupakan waktu makan,” sahut Yuuki Makoto, si pemuda bersurai kuning dengan kacamata bertengger dihidungnya.</p>

<p>   “Hehe~”</p>

<p>   “Kalau begitu, ayo makan!”</p>

<p>   “Selamat makan.”</p>

<hr/>

<p>   Suasananya entah mengapa menjadi canggung. Padahal, sewaktu tiba ia tak merasakan hal seperti ini. Isara Mao, telah dihujani pertanyaan oleh Subaru. Tentang Hokuto dan klubnya. Sesuai apa yang Subaru duga, Mao mengetahui kegiatan tersebut.</p>

<p>   Mao melirik Hokuto sekilas. Entah mengapa ia menjadi tidak tenang sekarang. “Akehoshi-<em>kun</em>, tenanglah. Hidaka-<em>kun</em> pasti memiliki alasan tersendiri kenapa tidak memberitahukannya,” ucapnya mencoba menengahi pembicaraan.</p>

<p>   “Tetapi, kalau tidak begitu ... Hokke akan terus menutupinya,” katanya.</p>

<p>   “Hei, aku tak seperti itu.”</p>

<p>   Mao mendapati perdebatan kembali.  Ia mulai batuk pelan, berusaha mengarahkan atensi mereka menatap kepada dirinya.</p>

<p>   “Baiklah, berhubung Hokuto juga sudah mengatakannya tadi dengan Subaru. Aku akan mengatakan sedikit saja. Klub Teater akan mengadakan penampilan, sehari sebelum Trickstar mengadakan penampilan. Peran Hokuto juga tidak begitu banyak, karena dia juga berada di kelas akhir seperti kita. Adik kelas kitalah yang nanti akan melakukannya, tetapi dia tetap berusaha untuk ikut tampil disana.”</p>

<p>   Mendengar pernyataan tersebut membuat Makoto merasa khawatir. “Hidaka-<em>kun</em>, jangan terlalu memaksakan diri,” ujarnya.</p>

<p>   “<em>Hokke</em> selalu saja begitu~!”</p>

<p>   “Aku tidak memaksakan diri. Malah, yang sering kali memaksakan diri itu Isara.”</p>

<p>   “Ehh? Kenapa jadi aku juga?” Isara entah mengapa tidak terima kalau ia ikut terlibat. Meskipun begitu ia memang terlibat banyak organisasi sekolah.</p>

<p>   “Kalian berdua sama saja, sering kali memaksakan diri. Tolong ingat dengan kesehatan kalian, karena kita perlu tampil bersama sebagai Trickstar, bukan?”</p>

<p>   “Ya, itu benar.”</p>

<hr/>

<p>   “Sangat melelahkan~”</p>

<p>   “Ya, hari ini cukup padat dari dugaan.”</p>

<p>   Mereka saling bertukar pendapat satu sama lain. Hingga mereka mulai memutuskan untuk berpisah dan kembali ke <em>dorm</em> masing-masing.</p>

<p>   Akan tetapi, sebelum Hokuto memutuskan kembali ia mengunjungi suatu toko. Dikala ia menghadapi hari-hari yang berat, makanan kesukaannya akan menjadi penyemangat.</p>

<p>   Berhubung hari belum terlalu larut, walau begitu senja mulai tercipta dilangit. Menandakan bahwa gelap akan merampas semua cahayanya, kendati akan bertabur oleh bintang nanti.</p>

<p>   Perasaannya yang terasa lega, setelah mendengarkan perkataan hangat teman satu unitnya. Entah mengapa membuat ia berjalan dengan senyum tercipta.</p>

<p>   “Persediaan <em>konpeito</em> yang ada di <em>dorm</em> sebentar lagi habis, aku harus membeli beberapa.”</p>

<p>   Benar makanan kesukaannya adalah <em>konpeito</em>. Ialah permen tradisional yang dahulunya diberikan oleh sang Nenek, ketika ia merasa sedih. Seiring pertumbuhannya menjadi remaja, ia semakin menyukainya.</p>

<p>   Ditambah bentuk yang akan segera menarik perhatian, bentuk bintang dan berwarna-warni serta memiliki rasa manis. Terkadang hal itu, mengingatkannya pada masa lalu.</p>

<p>   Setelah mendapatkannya, ia berpapasan tanpa bertukar sapa dengan seseorang yang memang asing terhadapnya. Tidak biasa.</p>

<p>   Namun, berkat hal itu ia sedikit lega. Karena tiada yang mengenali dirinya yang memiliki karir sebagai Idola. Namun, kalau saja ia mengetahuinya itulah pertemuan yang menjadikan dirinya seperti di masa depan nanti.</p>

<p>   Figur indah itu terlihat seperti orang yang telah dewasa. Ah, mungkin saja demikian, benar? Tinggi badan bukanlah menjadi salah satu alasannya. Mengingat orang itu tidak begitu tinggi. Seorang perempuan dengan rambut abu-abu yang tergerai.</p>

<p>   Entah mengapa ia menjadi bisa mengingatnya. Padahal mereka, hanya sekadar bertemu sekilas. Belum tentu dikesempatan yang lain, akan kembali bertemu, benar?</p>

<p>   <em>Ya, belum tentu ada kesempatan.</em></p>

<p>   <strong>To Be Continued.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/sekadar-bertemu</guid>
      <pubDate>Mon, 19 Dec 2022 23:29:00 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Belajar Sekarang atau Aku Pergi Sendiri?</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/belajar-sekarang-atau-aku-pergi-sendiri?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Sazanami Jun × Nikishima Kumiko.&#xA;  #FaureTrade; #JunKumi.&#xA;&#xA;   Spending time together is more fun, even if the conditions are not supportive.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #EnsembleStars © Happy Elements K.K, David Production. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Meracau tidak jelas, itulah yang dilakukan sang gadis dengan helaian rambut biru muda, sembari memalingkan wajah dari laki-laki yang berada di sampingnya itu.&#xA;&#xA;   &#34;Hei, jangan mengambek seperti itu dikala belajar,&#34; celetuknya, berusaha membuat si gadis melanjutkan belajar.&#xA;&#xA;   Nikishima Kumiko namanya, ditemani oleh Sazanami Jun. Tak disangka kalau ia akan terlibat dalam kondisi seperti ini. Mendengar pernyataan dari si lelaki, ia mengutarakan sesuatu, &#34;Aku sudah bilang padamu kalau tidak suka belajar, Jun-kun!&#34;&#xA;&#xA;   Jun mulai terlihat kesal sekarang, bukan pertama kalinya Kumiko bersikap seperti itu padanya. Tentu saja berkat hal yang tak sesuai keinginan Kumiko sendiri, yang menjadikan ia perlu berhadapan dengan apa yang sekarang terjadi.&#xA;&#xA;   &#34;Huh? Baiklah, kerjakan sendiri dan aku akan pergi sekarang.&#34; Jun mengambil posisi untuk berdiri dari kursi, namun langkah kakinya langsung tertahan. Saat Jun menoleh sejenak, ternyata ujung pakaiannya ditarik oleh Kumiko yang sedang merengut kesal.&#xA;&#xA;   &#34;Jun-kun kok begitu sih?! Katanya tadi mau menunggu aku dulu,&#34; desaknya.&#xA;&#xA;   Jun yang dilontari kata-kata tersebut tersentak, akan tetapi segera meralat ucapannya Kumiko, &#34;Hanya saja, kau belum menyelesaikan tugasmu yang satu itu.&#34; Ia menunjuk ke arah buku-buku yang ada di hadapan Kumiko sedari tadi.&#xA;&#xA;   &#34;Itu bisa kukerjakan nanti, kok!&#34;&#xA;&#xA;   Jun menatap Kumiko dengan air muka tidak percaya. Bahkan mimik wajah yang dibuat oleh Kumiko saat ini malah tampak memelas. Kemudian, Jun mengatur dirinya untuk mengatakan apa yang ingin dikatakan. &#34;Nanti kapan memangnya?&#34; &#xA;&#xA;   Jun malah bertanya padanya. Kendati Kumiko langsung merespons, ia malah bergumam tidak jelas. &#34;Erm ..., nanti malam?&#34; tutur Kumiko tidak yakin, mulai melirik kesana-kemari.&#xA;&#xA;   Tepat beberapa detik ucapan yang dikeluarkan oleh Kumiko terdengar masuk ke telinganya Jun, ia mulai mengacak-acak rambut biru muda miliknya. &#34;Tidak baik untukmu mengerjakan tugas hingga larut!&#34; sanggah Jun.&#xA;&#xA;   &