<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>WritingRaffle &amp;mdash; reeinshiyu</title>
    <link>https://reeinshiyu.writeas.com/tag:WritingRaffle</link>
    <description>Seluruh kisah yang dikhususkan kepada mereka yang berkenan untuk membacanya.</description>
    <pubDate>Thu, 14 May 2026 01:08:14 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Buka Bersama.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/buka-bersama-ft?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Switch; Sakasaki Natsume, Aoba Tsumugi, and Harukawa Sora.&#xA;&#xA;   Long-awaited fellowship.&#xA;        written by @faudiaryza (Rein).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #WritingRaffle Result.&#xA;  #EnsembleStars © Happy Elements K.K, David Production. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Ruangan tersembunyi di perpustakaan seketika ramai, didatangi oleh seorang adik kelas yang selalu tampak riang.&#xA;&#xA;Dengan rambut yang sedikit berwarna hijau pada kuning yang lembut memanggil-manggil sang kakak kelas. &#34;Guru!&#34; Dia adalah Harukawa Sora.&#xA;&#xA;Menoleh sewaktu mendapati suara yang mencoba memanggil dia. Karena di sana sedang tak ada seseorang lagi selain mereka berdua.&#xA;&#xA;Ada seseorang lagi sih, namun bukan di dalam ruangan tersebut melainkan di perpustakaan tempat sebelumnya Sora pijaki.&#xA;&#xA;&#34;Sora ada aPA?&#34; tanyanya, seraya menghentikan aktivitas, sebelum itu. Kini, dia menatap ke arah lelaki muda yang memanggilnya sebagai guru tadi.&#xA;&#xA;&#34;Hihi~ Sora mengundang Guru untuk ikut buka bersama nanti malam, mau tidak?&#34; ajak Sora tampak bersemangat.&#xA;&#xA;Sejenak memikirkan, kemudian mengukir senyum pada wajah. Memberikan kesan yang sedikit misterius, hanya sekedar tuk menerima.&#xA;&#xA;&#34;Tentu saJA, Sora juga yang menawarkannYA.&#34;&#xA;&#xA;Mendengar jawaban yang sangat dinantikan, membuat Sora merasa senang. Mungkin lebih tepatnya sangat senang?&#xA;&#xA;&#34;Asik~ nanti kita berkumpul di rumah Sora saja!&#34; katanya.&#xA;&#xA;Sang guru atau mungkin kakak kelasnya juga, yakni Sakasaki Natsume. Mulai menghela napas, ketika melihat kelakuan yang sungguh menarik pada netra emasnya.&#xA;&#xA;&#34;Baiklah kalau begiTU.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Saat ini hampir menjelang sore, Sora bersama Natsume memutuskan untuk mencari makanan untuk berbuka bersama nanti.&#xA;&#xA;Mengingat rupanya, Natsume telah diberi suatu informasi dari Sora, yang sedikit membuat dia cukup tidak menyukainya.&#xA;&#xA;Yah, benar. Kakak kelas yang ia tidak sukai, rupanya diajak oleh Sora juga. Aoba Tsumugi, itulah namanya. Namun, karena hal itu terjadi di hadapan Sora, ia seolah menahan rasa kesalnya.&#xA;&#xA;Tetapi, yang dilihat Sora hanyalah keakuran antara anggota unit mereka, Switch. Tampak benar-benar seperti keluarga. Bahkan, Sora mengatakan bahwa mereka tampak bersenang-senang sekarang.&#xA;&#xA;Namun, untuk sekarang Tsumugi tak sedang bersama mereka dikarenakan ia sepertinya akan terlambat untuk tiba.&#xA;&#xA;Yang Sora ingat, ada sedikit pekerjaan yang harus dilakukan. Padahal Sora ingin membantu, tetapi berakhir tidak jadi karena sedikit hasutan dari Natsume, dan tolakan halus dari Tsumugi sendiri.&#xA;&#xA;Natsume ingin menghabiskan waktunya bersama Sora kali ini. Meskipun sebelumnya sudah menghabiskan banyak waktu. Inilah kesan yang cukup menyenangkan.&#xA;&#xA;Setelah berkutat dengan banyaknya orang yang berjualan makanan untuk menu berbuka. Natsume menyeletuk, &#34;Omong-omoNG, Sora apa hanya itu saJA?&#34;&#xA;&#xA;Tak yakin dengan menu yang diambil Sora, sekiranya agak sedikit. Sora dengan cepat membalas, &#34;Hehe~ tidak masalah, Guru! Sora juga sudah menyiapkan sesuatu di rumah Sora.&#34;&#xA;&#xA;Mendengar balasan atas pertanyaan dirinya, Natsume seakan tertarik dengan sesuatu yang Sora persiapkan. Namun, disatu sisi Natsume merasa khawatir tentang hal ini.&#xA;&#xA;Sora cenderung tak mampu berada dalam keramaian akibat sinestesianya. Tetapi, sebelumnya Sora bilang tidak masalah. Sepertinya harus segera menyelesaikan kunjungan kali ini memang.&#xA;&#xA;&#34;Baiklah, aku akan menantikan sesuatu iTU.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Setelah terbebas dalam perjalanan yang melelahkan, hingga bertemu dengan Tsumugi juga secara kebetulan.&#xA;&#xA;Sora menyambut kedatangannya dengan meriah. &#34;Kakak, tidak apa-apa kan? Masih sanggup kan?&#34;&#xA;&#xA;Diserang dengan pertanyaan yang dikiranya cukup bertubi-tubi, karena mengkhawatirkan kondisi Tsumugi.&#xA;&#xA;Tsumugi malah sedikit kesulitan untuk menjawabnya. &#34;Ahaha, tidak apa-apa kok. Aku masih sanggup, tenang saja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;MakanYA, jangan memaksakan diri kalau merasa tidak mamPU.&#34;&#xA;&#xA;Sora tertawa pelan, ia sepertinya percaya akan hal ini. Dia juga merasa bahwa warna yang semula ia rasakan terlihat berbeda sekarang.&#xA;&#xA;Meskipun tak terasa bahwa malampun hampir memperlihatkan keanggunannya. Sora jadi mengingat kejadian tadi di perpustakaan.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Setelah ia mengatakan untuk mengajak Natsume pergi buka bersama dengannya. Pintu diketuk memperdengarkan suara yang tidak asing.&#xA;&#xA;&#34;Permisi Natsume, boleh aku masuk?&#34; tanya seseorang itu dari balik pintu.&#xA;&#xA;Sora melirik ke arah Natsume, hanya mendapati anggukan pelan. Meski sejujurnya itu terasa berat dilakukan. Seperti, membuat waktunya dengan Sora menghilang secara tiba-tiba.&#xA;&#xA;Pintu akhirnya terbuka, mendapati sosok Tsumugi, sang kakak kelas mereka disana. &#34;Ah, ada Sora juga,&#34; ujarnya.&#xA;&#xA;&#34;Ada keperluan apa kemari, KAK?&#34; tegur Natsume tidak ingin basa-basi.&#xA;&#xA;Mencerminkan dirinya, bisa membuat seolah menjadi orang yang dingin. Sora juga ikut penasaran dengan kedatangan kakak kelasnya ini. Namun, untuk kali ini ia akan menyimak terlebih dahulu.&#xA;&#xA;&#34;Oh, iya. Ruangannya nanti apa Natsume yang akan mengunci?&#34; tanya Tsumugi akhirnya.&#xA;&#xA;Mengernyitkan alis, kenapa ia harus repot-repot melakukannya? Tetapi karena ada Sora, Natsume tak mengatakan hal itu. Kemudian membalasnya hanya dengan satu kata, &#34;IYA.&#34;&#xA;&#xA;Tsumugi menganggukinya. Lalu menatap ke arah Sora. Dia mulai mengatakan, &#34;Um, maafkan aku Sora. Sepertinya nanti aku akan terlambat untuk tiba, karena ada pekerjaan yang harus aku lakukan.&#34;&#xA;&#xA;Sora sedikit khawatir, &#34;Eh? Kalau begitu, Sora bisa membantu!&#34; ucapnya segera.&#xA;&#xA;Pada saat yang sama Natsume merasa topik pembicaraan ini tidak asing. &#34;Sora mengajakmu juga ya, KAK?&#34; tanya Natsume kembali.&#xA;&#xA;Tsumugi dihadapkan oleh dua kalimat beruntun. &#34;Tidak apa-apa, Sora. Aku bisa melakukannya sendiri. Jangan khawatir!&#34;&#xA;&#xA;Menjeda sebentar sebelum akhirnya kembali melanjutkan, &#34;Oh, benar. Aku diajak Sora juga, Natsume.&#34; Perlahan Tsumugi menjawabnya dengan sedikit hati-hati.&#xA;&#xA;&#34;Oya? Sora tidak mengatakannya. Sora juga tak perlu repot-rePOT, karena pasti jawabannya akan begiTU. Benarkan, KAK?&#34; tegur Natsume secara halus, menjadikan sesuatu tersendiri bagi Tsumugi secara ganda.&#xA;&#xA;Sora pada akhirnya mengutarakan maaf, ia juga manusia bisa menjadi lupa dan Natsume tak mempermasalahkan. Tetapi, untuk kalimat kedua entah kenapa Sora meresponnya dengan sedikit tawa.&#xA;&#xA;&#34;Baiklah, Kakak jangan memaksakan diri ya! Sora khawatir soalnya,&#34; jawab Sora lagi.&#xA;&#xA;Tsumugi merasa semakin tidak enak, kemudian mengiyakan saja. Ia yakin tak akan membuat Sora khawatir, dan mungkin juga Natsume?&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Mengingat kejadian lalu, membuat Sora tak terasa bahwa akhirnya telah sampai ke tempat tujuan mereka.&#xA;&#xA;Sebentar lagi menunjukan waktu berbuka. Mereka mulai mempersiapkannya bersama-sama, sebelum tiba akhirnya.&#xA;&#xA;Sora memperlihatkan sesuatu yang tadinya ia katakan pada Natsume. Berupa hidangan makanan yang merupakan kesukaan dari Tsumugi maupun Natsume, dan dirinya.&#xA;&#xA;Betapa menyenangkan mengadakan buka bersama dengan orang terdekat selain keluarga. Tetapi, jika dikatakan mereka bertiga sudah selayaknya keluarga dengan gaya tersendiri.&#xA;&#xA;Namun, dikarenakan ada suatu kejadian yang rupanya Natsume ingin menjahili Tsumugi.&#xA;&#xA;Menyebabkan Tsumugi hampir terpeleset jika tak ditolong oleh Sora, ketika membawa piring bekas makanan yang dimakan oleh mereka bertiga.&#xA;&#xA;Bahkan Sora pun mengatakan kembali. &#34;Kakak jangan memaksakan diri, kalau kelelahan.&#34; Sora benar-benar tak menyadarinya, meski hal tersebut seolah jelas diperlihatkan hanya untuk Tsumugi.&#xA;&#xA;&#34;Iya, baiklah Sora. Tapi, aku tak ingin merepotkan lagi, jadi lepaskan saja aku masih sanggup untuk berdiri, kok.&#34;&#xA;&#xA;Ah, benar juga. Posisinya, Tsumugi masih ditolong oleh Sora. Pada akhirnya, Sora melepaskan dan Tsumugi mengimbangkan kembali tubuhnya untuk membawa piring tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Baru begitu saJA, sudah merepotkan oraNG.&#34;&#xA;&#xA;— Fin.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Switch; Sakasaki Natsume, Aoba Tsumugi, and Harukawa Sora.</p></blockquote>

<p>   <em>Long-awaited fellowship.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/faudiaryza" rel="nofollow">@faudiaryza</a> (Rein).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:WritingRaffle" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">WritingRaffle</span></a> Result.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:EnsembleStars" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">EnsembleStars</span></a> © Happy Elements K.K, David Production. </p></blockquote>

<hr/>

<p>Ruangan tersembunyi di perpustakaan seketika ramai, didatangi oleh seorang adik kelas yang selalu tampak riang.</p>

<p>Dengan rambut yang sedikit berwarna hijau pada kuning yang lembut memanggil-manggil sang kakak kelas. “Guru!” Dia adalah Harukawa Sora.</p>

<p>Menoleh sewaktu mendapati suara yang mencoba memanggil dia. Karena di sana sedang tak ada seseorang lagi selain mereka berdua.</p>

<p>Ada seseorang lagi sih, namun bukan di dalam ruangan tersebut melainkan di perpustakaan tempat sebelumnya Sora pijaki.</p>

<p>“Sora ada aPA?” tanyanya, seraya menghentikan aktivitas, sebelum itu. Kini, dia menatap ke arah lelaki muda yang memanggilnya sebagai guru tadi.</p>

<p>“Hihi~ Sora mengundang Guru untuk ikut buka bersama nanti malam, mau tidak?” ajak Sora tampak bersemangat.</p>

<p>Sejenak memikirkan, kemudian mengukir senyum pada wajah. Memberikan kesan yang sedikit misterius, hanya sekedar tuk menerima.</p>

<p>“Tentu saJA, Sora juga yang menawarkannYA.”</p>

<p>Mendengar jawaban yang sangat dinantikan, membuat Sora merasa senang. Mungkin lebih tepatnya sangat senang?</p>

<p>“Asik~ nanti kita berkumpul di rumah Sora saja!” katanya.</p>

<p>Sang guru atau mungkin kakak kelasnya juga, yakni Sakasaki Natsume. Mulai menghela napas, ketika melihat kelakuan yang sungguh menarik pada netra emasnya.</p>

<p>“Baiklah kalau begiTU.”</p>

<hr/>

<p>Saat ini hampir menjelang sore, Sora bersama Natsume memutuskan untuk mencari makanan untuk berbuka bersama nanti.</p>

<p>Mengingat rupanya, Natsume telah diberi suatu informasi dari Sora, yang sedikit membuat dia cukup tidak menyukainya.</p>

<p>Yah, benar. Kakak kelas yang ia tidak sukai, rupanya diajak oleh Sora juga. Aoba Tsumugi, itulah namanya. Namun, karena hal itu terjadi di hadapan Sora, ia seolah menahan rasa kesalnya.</p>

<p>Tetapi, yang dilihat Sora hanyalah keakuran antara anggota unit mereka, Switch. Tampak benar-benar seperti keluarga. Bahkan, Sora mengatakan bahwa mereka tampak bersenang-senang sekarang.</p>

<p>Namun, untuk sekarang Tsumugi tak sedang bersama mereka dikarenakan ia sepertinya akan terlambat untuk tiba.</p>

<p>Yang Sora ingat, ada sedikit pekerjaan yang harus dilakukan. Padahal Sora ingin membantu, tetapi berakhir tidak jadi karena sedikit hasutan dari Natsume, dan tolakan halus dari Tsumugi sendiri.</p>

<p>Natsume ingin menghabiskan waktunya bersama Sora kali ini. Meskipun sebelumnya sudah menghabiskan banyak waktu. Inilah kesan yang cukup menyenangkan.</p>

<p>Setelah berkutat dengan banyaknya orang yang berjualan makanan untuk menu berbuka. Natsume menyeletuk, “Omong-omoNG, Sora apa hanya itu saJA?”</p>

<p>Tak yakin dengan menu yang diambil Sora, sekiranya agak sedikit. Sora dengan cepat membalas, “Hehe~ tidak masalah, Guru! Sora juga sudah menyiapkan sesuatu di rumah Sora.”</p>

<p>Mendengar balasan atas pertanyaan dirinya, Natsume seakan tertarik dengan sesuatu yang Sora persiapkan. Namun, disatu sisi Natsume merasa khawatir tentang hal ini.</p>

<p>Sora cenderung tak mampu berada dalam keramaian akibat sinestesianya. Tetapi, sebelumnya Sora bilang tidak masalah. Sepertinya harus segera menyelesaikan kunjungan kali ini memang.</p>

<p>“Baiklah, aku akan menantikan sesuatu iTU.”</p>

<hr/>

<p>Setelah terbebas dalam perjalanan yang melelahkan, hingga bertemu dengan Tsumugi juga secara kebetulan.</p>

<p>Sora menyambut kedatangannya dengan meriah. “Kakak, tidak apa-apa kan? Masih sanggup kan?”</p>

<p>Diserang dengan pertanyaan yang dikiranya cukup bertubi-tubi, karena mengkhawatirkan kondisi Tsumugi.</p>

<p>Tsumugi malah sedikit kesulitan untuk menjawabnya. “Ahaha, tidak apa-apa kok. Aku masih sanggup, tenang saja.”</p>

<p>“MakanYA, jangan memaksakan diri kalau merasa tidak mamPU.”</p>

<p>Sora tertawa pelan, ia sepertinya percaya akan hal ini. Dia juga merasa bahwa warna yang semula ia rasakan terlihat berbeda sekarang.</p>

<p>Meskipun tak terasa bahwa malampun hampir memperlihatkan keanggunannya. Sora jadi mengingat kejadian tadi di perpustakaan.</p>

<hr/>

<p><em>Setelah ia mengatakan untuk mengajak Natsume pergi buka bersama dengannya. Pintu diketuk memperdengarkan suara yang tidak asing.</em></p>

<p><em>“Permisi Natsume, boleh aku masuk?” tanya seseorang itu dari balik pintu.</em></p>

<p><em>Sora melirik ke arah Natsume, hanya mendapati anggukan pelan. Meski sejujurnya itu terasa berat dilakukan. Seperti, membuat waktunya dengan Sora menghilang secara tiba-tiba.</em></p>

<p><em>Pintu akhirnya terbuka, mendapati sosok Tsumugi, sang kakak kelas mereka disana. “Ah, ada Sora juga,” ujarnya.</em></p>

<p><em>“Ada keperluan apa kemari, KAK?” tegur Natsume tidak ingin basa-basi.</em></p>

<p><em>Mencerminkan dirinya, bisa membuat seolah menjadi orang yang dingin. Sora juga ikut penasaran dengan kedatangan kakak kelasnya ini. Namun, untuk kali ini ia akan menyimak terlebih dahulu.</em></p>

<p><em>“Oh, iya. Ruangannya nanti apa Natsume yang akan mengunci?” tanya Tsumugi akhirnya.</em></p>

<p><em>Mengernyitkan alis, kenapa ia harus repot-repot melakukannya? Tetapi karena ada Sora, Natsume tak mengatakan hal itu. Kemudian membalasnya hanya dengan satu kata, “IYA.”</em></p>

<p><em>Tsumugi menganggukinya. Lalu menatap ke arah Sora. Dia mulai mengatakan, “Um, maafkan aku Sora. Sepertinya nanti aku akan terlambat untuk tiba, karena ada pekerjaan yang harus aku lakukan.”</em></p>

<p><em>Sora sedikit khawatir, “Eh? Kalau begitu, Sora bisa membantu!” ucapnya segera.</em></p>

<p><em>Pada saat yang sama Natsume merasa topik pembicaraan ini tidak asing. “Sora mengajakmu juga ya, KAK?” tanya Natsume kembali.</em></p>

<p><em>Tsumugi dihadapkan oleh dua kalimat beruntun. “Tidak apa-apa, Sora. Aku bisa melakukannya sendiri. Jangan khawatir!”</em></p>

<p><em>Menjeda sebentar sebelum akhirnya kembali melanjutkan, “Oh, benar. Aku diajak Sora juga, Natsume.” Perlahan Tsumugi menjawabnya dengan sedikit hati-hati.</em></p>

<p><em>“Oya? Sora tidak mengatakannya. Sora juga tak perlu repot-rePOT, karena pasti jawabannya akan begiTU. Benarkan, KAK?” tegur Natsume secara halus, menjadikan sesuatu tersendiri bagi Tsumugi secara ganda.</em></p>

<p><em>Sora pada akhirnya mengutarakan maaf, ia juga manusia bisa menjadi lupa dan Natsume tak mempermasalahkan. Tetapi, untuk kalimat kedua entah kenapa Sora meresponnya dengan sedikit tawa.</em></p>

<p><em>“Baiklah, Kakak jangan memaksakan diri ya! Sora khawatir soalnya,” jawab Sora lagi.</em></p>

<p><em>Tsumugi merasa semakin tidak enak, kemudian mengiyakan saja. Ia yakin tak akan membuat Sora khawatir, dan mungkin juga Natsume?</em></p>

<hr/>

<p>Mengingat kejadian lalu, membuat Sora tak terasa bahwa akhirnya telah sampai ke tempat tujuan mereka.</p>

<p>Sebentar lagi menunjukan waktu berbuka. Mereka mulai mempersiapkannya bersama-sama, sebelum tiba akhirnya.</p>

<p>Sora memperlihatkan sesuatu yang tadinya ia katakan pada Natsume. Berupa hidangan makanan yang merupakan kesukaan dari Tsumugi maupun Natsume, dan dirinya.</p>

<p>Betapa menyenangkan mengadakan buka bersama dengan orang terdekat selain keluarga. Tetapi, jika dikatakan mereka bertiga sudah selayaknya keluarga dengan gaya tersendiri.</p>

<p>Namun, dikarenakan ada suatu kejadian yang rupanya Natsume ingin menjahili Tsumugi.</p>

<p>Menyebabkan Tsumugi hampir terpeleset jika tak ditolong oleh Sora, ketika membawa piring bekas makanan yang dimakan oleh mereka bertiga.</p>

<p>Bahkan Sora pun mengatakan kembali. “Kakak jangan memaksakan diri, kalau kelelahan.” Sora benar-benar tak menyadarinya, meski hal tersebut seolah jelas diperlihatkan hanya untuk Tsumugi.</p>

<p>“Iya, baiklah Sora. Tapi, aku tak ingin merepotkan lagi, jadi lepaskan saja aku masih sanggup untuk berdiri, kok.”</p>

<p>Ah, benar juga. Posisinya, Tsumugi masih ditolong oleh Sora. Pada akhirnya, Sora melepaskan dan Tsumugi mengimbangkan kembali tubuhnya untuk membawa piring tersebut.</p>

<p>“Baru begitu saJA, sudah merepotkan oraNG.”</p>

<p><strong>— Fin.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/buka-bersama-ft</guid>
      <pubDate>Wed, 27 Apr 2022 13:25:29 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Kissing?</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/writing-raffle?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Sakuma Rei x Hakaze Kaoru.&#xA;&#xA;   Kiss someone&#xA;        written by @faudiaryza (Rein).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #WritingRaffle Result.&#xA;  #EnsembleStars © Happy Elements K.K, David Production. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Apakah bisa aku melakukannya lagi, hari ini?&#xA;&#xA;Langit malam, telah menampilkan cahaya rembulan diatas kepala sana. Tak terhitung berada pada detik ke berapa, sang lelaki itu menengadah kepala, menatap penampakan langit yang cukup menawan. &#xA;&#xA;&#34;Kaoru-kun,&#34; ujar seseorang mulai membuyarkan lamunannya.&#xA;&#xA;Mulai menoleh ke sumber suara, saling menatap membuat netra terfokus pada satu arah. Lantas, teralihkan oleh tangan yang mulai mengusap leher belakang, seraya mengambil posisi memiringkan kepala. &#34;Sakuma-san?&#34; sahutnya dengan suara pelan.&#xA;&#xA;&#34;Tentu saja, ini adalah wagahai. Kaoru-kun sekarang terlihat berbeda, apa telah terjadi sesuatu?&#34; Mulai menghampiri, langkah kali mendekati sang pemilik surai blonde tersebut.&#xA;&#xA;Dilihatnya wajah yang merasa tidak yakin untuk mengumbar, sejenak menoleh ke arah depan. Seraya berkata, &#34;Tidak apa-apa, kalau Kaoru-kun masih belum bisa mengatakannya. Wagahai akan menunggu hari itu tiba.&#34;&#xA;&#xA;Pada akhirnya, Kaoru dibuat terdiam tanpa bisa mengucap sepatah katapun. Bahkan tak diduga saat ini, detak jantungnya mulai bekerja dengan cepat. Meski demikian, senyuman khas bersama seringaian tak lepas pada ekspresi wajah dengan panggilan Sakuma itu.&#xA;&#xA;Memikirkannya saja, Kaoru perlu berpikir sekarang. Bagaimana bisa temannya itu mengatakan sesuatu seperti itu? Hal ini diluar kendali dirinya, tapi dibaliknya mungkin sedikit menginginkan hal itu.&#xA;&#xA;Wajahnya langsung memerah tipis di sana, membuat pemuda marga Sakuma itu seketika sadar. Mungkin saja pesona miliknya bisa membuat sang pacar menjadi seperti ini. Timbullah suatu ide dalam otaknya, &#34;Kaoru-kun, apa dirimu malu?&#34; ujar pemuda itu.&#xA;&#xA;Lekas menatap si Sakuma, mendelik tak percaya. &#34;Ha-hah? Aku ... ma-malu kenapa?&#34; Baiklah, seperti yang dilihat oleh Sakuma saat ini, ternyata lelaki yang ia panggil sebagai Kaoru itu, mulai terlihat kesal.&#xA;&#xA;Tapi, dia hanya tertawa dengan suara khasnya. Mungkin saja menurut dia hal tersebut terlihat lucu. Menghela napas panjang kasar lalu berkata, &#34;Ini tentang hal itu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh?&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Suatu hari yang telah berlalu, teman yang bisa dibilang cukup dekat dengan dirinya. Mulai datang menghampiri sang lelaki yang berkutat terhadap barang bawaan miliknya.&#xA;&#xA;&#34;Oi, Hakaze!&#34; sapa pemilik surai cokelat, sambil merangkul leher milik pemuda yang dipanggil Hakaze itu.&#xA;&#xA;Melirik ke sumber suara berasal, dia mulai mengatur napasnya. &#34;Morisawa-kun, kau mengagetkanku.&#34; Namun, tak ada balasaan meminta maaf. Hanya terdengar suara tawa yang sangat khas oleh pemuda tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Seperti biasa, kalian berisik sekali.&#34;&#xA;&#xA;Seseorang menyahut secara tiba-tiba, tanpa diduga dia juga merupakan teman yang cukup dekat dengan Hakaze. &#34;Ahaha, itu bukanlah aku, Sena-kun~♪ Tetapi yang berisik itu, Morisawa-kun.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hah?&#34; Lelaki yang dia panggil Sena itu, menatap tidak percaya.&#xA;&#xA;Tetapi, disaat itu pula, ketika tangan Hakaze mulai mengemasi barang bawaannya. Seketika dibuat bungkam dengan teriakan dalam hati, atas perkataan Morisawa.&#xA;&#xA;&#34;Apakah Sakuma pernah menciummu?&#34; Ucapan tanpa dosa dilayangkan. Entah kenapa, Sena langsung turun tangan mencermahi. Tapi terlalu merepotkan, mengingat tiada seorang yang mendengar ataupun berada di ruangan kelas ini, selain mereka.&#xA;&#xA;Pada akhirnya, hal itulah yang memenuhi pemikiran Hakaze. Meski Morisawa sendiri bilang tak perlu dipikirkan. Tidak bisa seperti itu, mengingat hubungan Hakaze dan Sakuma sedikit rumit?&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Kaoru menjelaskan hal yang telah berlalu, dia malu sendiri mengatakannya. Bahkan, Sakuma disana tak percaya. Ternyata temannya Kaoru pun bisa berkata seperti itu. Pada akhirnya, mereka pun jadi berdiri dalam keheningan malam kala itu.&#xA;&#xA;Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, untuk terakhir kalinya. Malah semakin larut akan pemikiran, dari perkataan Morisawa itu. Dengan wajah sedikit memerah, keduanya tak mampu menatap satu sama lain.&#xA;&#xA;&#34;Gagal lagi berarti, ya?&#34;&#xA;&#xA;— Fin.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Sakuma Rei x Hakaze Kaoru.</p></blockquote>

<p>   <em>Kiss someone</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/faudiaryza" rel="nofollow">@faudiaryza</a> (Rein).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:WritingRaffle" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">WritingRaffle</span></a> Result.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:EnsembleStars" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">EnsembleStars</span></a> © Happy Elements K.K, David Production. </p></blockquote>

<hr/>

<p><em>“Apakah bisa aku melakukannya lagi, hari ini?</em></p>

<p>Langit malam, telah menampilkan cahaya rembulan diatas kepala sana. Tak terhitung berada pada detik ke berapa, sang lelaki itu menengadah kepala, menatap penampakan langit yang cukup menawan.</p>

<p>“Kaoru-kun,” ujar seseorang mulai membuyarkan lamunannya.</p>

<p>Mulai menoleh ke sumber suara, saling menatap membuat netra terfokus pada satu arah. Lantas, teralihkan oleh tangan yang mulai mengusap leher belakang, seraya mengambil posisi memiringkan kepala. “Sakuma-san?” sahutnya dengan suara pelan.</p>

<p>“Tentu saja, ini adalah wagahai. Kaoru-kun sekarang terlihat berbeda, apa telah terjadi sesuatu?” Mulai menghampiri, langkah kali mendekati sang pemilik surai blonde tersebut.</p>

<p>Dilihatnya wajah yang merasa tidak yakin untuk mengumbar, sejenak menoleh ke arah depan. Seraya berkata, “Tidak apa-apa, kalau Kaoru-kun masih belum bisa mengatakannya. Wagahai akan menunggu hari itu tiba.”</p>

<p>Pada akhirnya, Kaoru dibuat terdiam tanpa bisa mengucap sepatah katapun. Bahkan tak diduga saat ini, detak jantungnya mulai bekerja dengan cepat. Meski demikian, senyuman khas bersama seringaian tak lepas pada ekspresi wajah dengan panggilan Sakuma itu.</p>

<p>Memikirkannya saja, Kaoru perlu berpikir sekarang. Bagaimana bisa temannya itu mengatakan sesuatu seperti itu? Hal ini diluar kendali dirinya, tapi dibaliknya mungkin sedikit menginginkan hal itu.</p>

<p>Wajahnya langsung memerah tipis di sana, membuat pemuda marga Sakuma itu seketika sadar. Mungkin saja pesona miliknya bisa membuat sang pacar menjadi seperti ini. Timbullah suatu ide dalam otaknya, “Kaoru-kun, apa dirimu malu?” ujar pemuda itu.</p>

<p>Lekas menatap si Sakuma, mendelik tak percaya. “Ha-hah? Aku ... ma-malu kenapa?” Baiklah, seperti yang dilihat oleh Sakuma saat ini, ternyata lelaki yang ia panggil sebagai Kaoru itu, mulai terlihat kesal.</p>

<p>Tapi, dia hanya tertawa dengan suara khasnya. Mungkin saja menurut dia hal tersebut terlihat lucu. Menghela napas panjang kasar lalu berkata, “Ini tentang hal itu.”</p>

<p>“Eh?”</p>

<hr/>

<p><em>Suatu hari yang telah berlalu, teman yang bisa dibilang cukup dekat dengan dirinya. Mulai datang menghampiri sang lelaki yang berkutat terhadap barang bawaan miliknya.</em></p>

<p><em>“Oi, Hakaze!” sapa pemilik surai cokelat, sambil merangkul leher milik pemuda yang dipanggil Hakaze itu.</em></p>

<p><em>Melirik ke sumber suara berasal, dia mulai mengatur napasnya. “Morisawa-kun, kau mengagetkanku.” Namun, tak ada balasaan meminta maaf. Hanya terdengar suara tawa yang sangat khas oleh pemuda tersebut.</em></p>

<p><em>“Seperti biasa, kalian berisik sekali.”</em></p>

<p><em>Seseorang menyahut secara tiba-tiba, tanpa diduga dia juga merupakan teman yang cukup dekat dengan Hakaze. “Ahaha, itu bukanlah aku, Sena-kun~♪ Tetapi yang berisik itu, Morisawa-kun.”</em></p>

<p><em>“Hah?” Lelaki yang dia panggil Sena itu, menatap tidak percaya.</em></p>

<p><em>Tetapi, disaat itu pula, ketika tangan Hakaze mulai mengemasi barang bawaannya. Seketika dibuat bungkam dengan teriakan dalam hati, atas perkataan Morisawa.</em></p>

<p><em>“Apakah Sakuma pernah menciummu?” Ucapan tanpa dosa dilayangkan. Entah kenapa, Sena langsung turun tangan mencermahi. Tapi terlalu merepotkan, mengingat tiada seorang yang mendengar ataupun berada di ruangan kelas ini, selain mereka.</em></p>

<p><em>Pada akhirnya, hal itulah yang memenuhi pemikiran Hakaze. Meski Morisawa sendiri bilang tak perlu dipikirkan. Tidak bisa seperti itu, mengingat hubungan Hakaze dan Sakuma sedikit rumit?</em></p>

<hr/>

<p>Kaoru menjelaskan hal yang telah berlalu, dia malu sendiri mengatakannya. Bahkan, Sakuma disana tak percaya. Ternyata temannya Kaoru pun bisa berkata seperti itu. Pada akhirnya, mereka pun jadi berdiri dalam keheningan malam kala itu.</p>

<p>Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, untuk terakhir kalinya. Malah semakin larut akan pemikiran, dari perkataan Morisawa itu. Dengan wajah sedikit memerah, keduanya tak mampu menatap satu sama lain.</p>

<p><em>“Gagal lagi berarti, ya?”</em></p>

<p><strong>— Fin.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/writing-raffle</guid>
      <pubDate>Sun, 20 Mar 2022 02:55:31 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>