<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>MariMenulis &amp;mdash; reeinshiyu</title>
    <link>https://reeinshiyu.writeas.com/tag:MariMenulis</link>
    <description>Seluruh kisah yang dikhususkan kepada mereka yang berkenan untuk membacanya.</description>
    <pubDate>Thu, 14 May 2026 00:57:01 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Hug.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/hug?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Osaka Sogo × Reader.&#xA;  #IDOLiSH7 Fanfiction.&#xA;&#xA;Batch 9; Day 3 of #MariMenulis 2022. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Genggaman tangan hangat telah disalurkan ke tangannya dingin. &#34;Aku tahu hal ini berat bagimu, [Name]. Karena itu, apapun yang terjadi aku selalu berada sisimu,&#34; ujarnya menenangkan sang dara.&#xA;&#xA;Tangisan terdengar diseisi rumah yang sedang penuh duka itu. Banyak orang berkunjung tuk melayat. Fakta begitu pahit terdengar oleh sang puan, kala dia bekerja.&#xA;&#xA;Dengan segera meminta izin dengan tubuh yang gemetar, bisa kapan saja tumbang. Menjadikan seseorang mencoba ikut mendampinginya, setidaknya orang itu bisa menjadi penenang barang kali sejenak.&#xA;&#xA;Telah berlangsung proses menyedihkan, meskipun demikian waktu tetap menyulitkan untuk diri bangkit menjauh.&#xA;&#xA;Sang tuan, tak ingin membuat daranya semakin merasa terpuruk. Tidak ada hubungannya semua ini dengan pekerjaan, sebab dahulu ia pernah merasakan juga bagaimana rasanya kehilangan itu.&#xA;&#xA;Pelukan diberikan oleh orang tersayang bagi mereka, lelaki tersebut menatap semua itu seolah menjadikan diri nostalgia kembali. Hingga, sebuah suara kecil menyapu indera telinga.&#xA;&#xA;&#34;Osaka-san, bolehkah ..., aku memeluk dirimu?&#34;&#xA;&#xA;Terkejut. Ketika wanita itu berada di hadapannya, meminta sesuatu yang seperti tak akan pernah bisa dibayangkan oleh dia. &#34;Mmn, baiklah.&#34;&#xA;&#xA;Walau hati merasa tidak yakin akan apa yang diperbuatnya. Ia melakukannya. Osaka Sogo itu memeluk [Full Name] dalam dekapannya. ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Osaka Sogo × Reader.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:IDOLiSH7" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">IDOLiSH7</span></a> Fanfiction.</p></blockquote>

<p><em>Batch 9; Day 3 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:MariMenulis" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">MariMenulis</span></a> 2022.</em> </p>

<hr/>

<p>Genggaman tangan hangat telah disalurkan ke tangannya dingin. “Aku tahu hal ini berat bagimu, [Name]. Karena itu, apapun yang terjadi aku selalu berada sisimu,” ujarnya menenangkan sang dara.</p>

<p>Tangisan terdengar diseisi rumah yang sedang penuh duka itu. Banyak orang berkunjung tuk melayat. Fakta begitu pahit terdengar oleh sang puan, kala dia bekerja.</p>

<p>Dengan segera meminta izin dengan tubuh yang gemetar, bisa kapan saja tumbang. Menjadikan seseorang mencoba ikut mendampinginya, setidaknya orang itu bisa menjadi penenang barang kali sejenak.</p>

<p>Telah berlangsung proses menyedihkan, meskipun demikian waktu tetap menyulitkan untuk diri bangkit menjauh.</p>

<p>Sang tuan, tak ingin membuat daranya semakin merasa terpuruk. Tidak ada hubungannya semua ini dengan pekerjaan, sebab dahulu ia pernah merasakan juga bagaimana rasanya kehilangan itu.</p>

<p>Pelukan diberikan oleh orang tersayang bagi mereka, lelaki tersebut menatap semua itu seolah menjadikan diri nostalgia kembali. Hingga, sebuah suara kecil menyapu indera telinga.</p>

<p>“Osaka-<em>san</em>, bolehkah ..., aku memeluk dirimu?”</p>

<p>Terkejut. Ketika wanita itu berada di hadapannya, meminta sesuatu yang seperti tak akan pernah bisa dibayangkan oleh dia. “Mmn, baiklah.”</p>

<p>Walau hati merasa tidak yakin akan apa yang diperbuatnya. Ia melakukannya. Osaka Sogo itu memeluk [Full Name] dalam dekapannya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/hug</guid>
      <pubDate>Mon, 26 Sep 2022 08:17:31 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Late.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/late?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Fushimi Yuzuru × Reader.&#xA;  Batch 9; Day 2 of #MariMenulis 2022.&#xA;&#xA;        written by @faudiaryza (Rein).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives.&#xA;  #EnsembleStars © Happy Elements K.K, David Production. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Dia duduk menunggu sosok yang mengajukan janji kepadanya. Sudah lewat beberapa menit dari jam pertemuan mereka, lantas pemikiran mulai kalut tentang apakah ada musibah yang terjadi?&#xA;&#xA;Segera menepis pemikiran negatif itu, ia mencoba menetralkan napasnya. Selayaknya biasa, dalam kondisi seperti ini diperlukanlah untuk ia tetap tenang.&#xA;&#xA;&#34;Ah, maafkan saya. Apakah saya terlambat?&#34; tutur kata halus itu, menyapu area pendengaran.&#xA;&#xA;Lekas manik fuchsia itu mulai menatap lekat dirinya, sembari mengutarakan senyum tipis disana. Ia berujar, &#34;Tidak masalah. Kalau diperbolehkan bertanya, apakah ada sesuatu kejadian yang menghambat?&#34;&#xA;&#xA;Gadis itu; [Full Name] tertunduk, seraya menganggukinya. Rupanya sesuai tebakan dari lelaki tersebut, Fushimi Yuzuru. Meskipun ia telah mengabari majikannya, tetap saja terbesit rasa khawatir akan hal yang menimpa kedepannya.&#xA;&#xA;Yuzuru berdiri. Mempersilakan [Name] untuk segera duduk di kursi yang ada didepannya. &#34;Duduklah terlebih dahulu,&#34; sahutnya. Walau canggung masih dapat ia rasakan, sudah sepantasnya ia memulai percakapan sekarang.&#xA;&#xA;&#34;Baiklah ..., apakah bisa kita bicarakan sekarang?&#34; tanya [Name], memberanikan diri.&#xA;&#xA;Namun, dering ponsel milik Yuzuru seketika berbunyi. Membuat pemiliknya lekas izin untuk mengangkatnya. Netra milik [Name] sempat menatap, kalau rupanya terdapat nama majikannya dia, Himemiya Tori.&#xA;&#xA;Tentu saja, [Name] mengizinkan. Ini pula juga balasan untuk dirinya yang terlambat. Sekaranglah giliran dia yang merasakan menunggu seseorang itu.&#xA;&#xA;Tak lama setelah percakapan dari ponsel berlangsung. Tidak disangka ada urusan yang membuat mereka harus membatalkan janji. [Name] hanya mengukir senyum simpul, seraya berkata, &#34;Tidak perlu dipermasalahkan. Saya paham pekerjaan Anda sekarang.&#34;&#xA;&#xA;Tidak tahu kenapa, malah terlihat merasa bersalah. &#34;Baiklah, kalau [Last Name]-san merasa tidak masalah. Saya pamit undur diri, permisi.&#34;&#xA;&#xA;Menatap lelaki tersebut dari kejauhan. Napasnya sedikit tercekat. Alhasil, dia pun tidak mengucapkan kalimat perpisahan maupun berjumpa kembali.&#xA;&#xA;Dipikir kembali [Name] memang mengetahui pekerjaan Yuzuru sebagai pelayannya Tori. Tentu saja ia menghargai hal tersebut. Bahkan, ia awalnya merasakan kalau tidak mungkin Tori akan memperbolehkan pelayannya berada jauh dari dirinya.&#xA;&#xA;Yuzuru pun tidak mengatakan apapun mengenai apa yang perlu dilakukannya, selain ia harus segera kembali sebab Tori membutuhkannya. Jujur saja, sedikit tidak biasa. Tetapi, mau apa dikata, [Name] tidak mempunyai hubungan lebih dengan mereka.&#xA;&#xA;Oh, sebentar. Rupanya ini merupakan perpisahan terakhir mereka. Karena, [Name] itu orangnya cukup lemah dan inilah penyebab kenapa ia bisa terlambat tadi.&#xA;&#xA;Napasnya kembali menjadi tidak beraturan, bahkan mungkin dia sedikit demi sedikit sulit bernapas. Padahal, kalau tampak luar ia masih kuat, malangnya tidak demikian.&#xA;&#xA;[Name] pula, seketika pingsan di tempat tersebut. Ia telah bisa dikatakan tidak mampu menyeimbangkan tubuh. Dia sekarang telah berada dikondisi yang paling parah.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Fushimi Yuzuru × Reader.
Batch 9; Day 2 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:MariMenulis" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">MariMenulis</span></a> 2022.</p></blockquote>

<p>        <em>written by <a href="https://twitter.com/faudiaryza" rel="nofollow">@faudiaryza</a> (Rein).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:EnsembleStars" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">EnsembleStars</span></a> © Happy Elements K.K, David Production. </p></blockquote>

<hr/>

<p>Dia duduk menunggu sosok yang mengajukan janji kepadanya. Sudah lewat beberapa menit dari jam pertemuan mereka, lantas pemikiran mulai kalut tentang apakah ada musibah yang terjadi?</p>

<p>Segera menepis pemikiran negatif itu, ia mencoba menetralkan napasnya. Selayaknya biasa, dalam kondisi seperti ini diperlukanlah untuk ia tetap tenang.</p>

<p>“Ah, maafkan saya. Apakah saya terlambat?” tutur kata halus itu, menyapu area pendengaran.</p>

<p>Lekas manik fuchsia itu mulai menatap lekat dirinya, sembari mengutarakan senyum tipis disana. Ia berujar, “Tidak masalah. Kalau diperbolehkan bertanya, apakah ada sesuatu kejadian yang menghambat?”</p>

<p>Gadis itu; [Full Name] tertunduk, seraya menganggukinya. Rupanya sesuai tebakan dari lelaki tersebut, Fushimi Yuzuru. Meskipun ia telah mengabari majikannya, tetap saja terbesit rasa khawatir akan hal yang menimpa kedepannya.</p>

<p>Yuzuru berdiri. Mempersilakan [Name] untuk segera duduk di kursi yang ada didepannya. “Duduklah terlebih dahulu,” sahutnya. Walau canggung masih dapat ia rasakan, sudah sepantasnya ia memulai percakapan sekarang.</p>

<p>“Baiklah ..., apakah bisa kita bicarakan sekarang?” tanya [Name], memberanikan diri.</p>

<p>Namun, dering ponsel milik Yuzuru seketika berbunyi. Membuat pemiliknya lekas izin untuk mengangkatnya. Netra milik [Name] sempat menatap, kalau rupanya terdapat nama majikannya dia, Himemiya Tori.</p>

<p>Tentu saja, [Name] mengizinkan. Ini pula juga balasan untuk dirinya yang terlambat. Sekaranglah giliran dia yang merasakan menunggu seseorang itu.</p>

<p>Tak lama setelah percakapan dari ponsel berlangsung. Tidak disangka ada urusan yang membuat mereka harus membatalkan janji. [Name] hanya mengukir senyum simpul, seraya berkata, “Tidak perlu dipermasalahkan. Saya paham pekerjaan Anda sekarang.”</p>

<p>Tidak tahu kenapa, malah terlihat merasa bersalah. “Baiklah, kalau [Last Name]-<em>san</em> merasa tidak masalah. Saya pamit undur diri, permisi.”</p>

<p>Menatap lelaki tersebut dari kejauhan. Napasnya sedikit tercekat. Alhasil, dia pun tidak mengucapkan kalimat perpisahan maupun berjumpa kembali.</p>

<p>Dipikir kembali [Name] memang mengetahui pekerjaan Yuzuru sebagai pelayannya Tori. Tentu saja ia menghargai hal tersebut. Bahkan, ia awalnya merasakan kalau tidak mungkin Tori akan memperbolehkan pelayannya berada jauh dari dirinya.</p>

<p>Yuzuru pun tidak mengatakan apapun mengenai apa yang perlu dilakukannya, selain ia harus segera kembali sebab Tori membutuhkannya. Jujur saja, sedikit tidak biasa. Tetapi, mau apa dikata, [Name] tidak mempunyai hubungan lebih dengan mereka.</p>

<p>Oh, sebentar. Rupanya ini merupakan perpisahan terakhir mereka. Karena, [Name] itu orangnya cukup lemah dan inilah penyebab kenapa ia bisa terlambat tadi.</p>

<p>Napasnya kembali menjadi tidak beraturan, bahkan mungkin dia sedikit demi sedikit sulit bernapas. Padahal, kalau tampak luar ia masih kuat, malangnya tidak demikian.</p>

<p>[Name] pula, seketika pingsan di tempat tersebut. Ia telah bisa dikatakan tidak mampu menyeimbangkan tubuh. Dia sekarang telah berada dikondisi yang paling parah.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/late</guid>
      <pubDate>Sun, 25 Sep 2022 08:10:03 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Insomnia.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/insomnia?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Tsukigami Kaito × Reader.&#xA;  #StarMyu Fanfiction.&#xA;&#xA;Batch 9; Day 1 of #MariMenulis 2022. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Ini jam tiga pagi.&#34;&#xA;&#xA;Tak mampu berkata apa lagi, setelah fakta yang keluar dari lantunan mulut dia. &#34;Mungkinkah kau sekarang tidak bisa tertidur?&#34; Tsukigami Kaito kini menatapnya.&#xA;&#xA;Masih tanpa sepatah kata, ia mengangguki hal tersebut. &#34;Ya ampun? Kau tahu, besok masih ada kegiatan sekolah.&#34;&#xA;&#xA;Membuang wajah, topik itu hal yang paling ingin dijauhinya. Kaito menghela napas panjang karena dia. &#34;[Last Name], bisakah kau tidak melakukan hal itu sekali saja?&#34;&#xA;&#xA;Kalau dipikir kembali, rupanya ia telah melakukan hal seperti ini setiap kali. Entah apa yang menyebabkan dia tidak bisa tertidur hari ini juga.&#xA;&#xA;Tetapi, Kaito juga masih terjaga. Lantaran, ada apa dengan dirinya atau dia juga sama seperti ia?&#xA;&#xA;&#34;Aku baru selesai mengerjakan pekerjaanku, setelah ini barulah aku akan tidur. Aku tahu kau sedang menerka-nerka, apakah aku juga tidak bisa tidur sepertimu.&#34;&#xA;&#xA;Tersentak kaget. [Full Name] sedari tadi tak banyak berbicara, hanya reaksi-reaksi kecil yang diperlihatkan.&#xA;&#xA;Namun, pada akhirnya ia mengutarakan kalimat, &#34;Oh? Maaf, karena telah mengganggu waktu tidurmu. Jadi, selamat malam, Tsukigami-san.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Tsukigami Kaito × Reader.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:StarMyu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">StarMyu</span></a> Fanfiction.</p></blockquote>

<p><em>Batch 9; Day 1 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:MariMenulis" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">MariMenulis</span></a> 2022.</em> </p>

<hr/>

<p>“Ini jam tiga pagi.”</p>

<p>Tak mampu berkata apa lagi, setelah fakta yang keluar dari lantunan mulut dia. “Mungkinkah kau sekarang tidak bisa tertidur?” Tsukigami Kaito kini menatapnya.</p>

<p>Masih tanpa sepatah kata, ia mengangguki hal tersebut. “Ya ampun? Kau tahu, besok masih ada kegiatan sekolah.”</p>

<p>Membuang wajah, topik itu hal yang paling ingin dijauhinya. Kaito menghela napas panjang karena dia. “[Last Name], bisakah kau tidak melakukan hal itu sekali saja?”</p>

<p>Kalau dipikir kembali, rupanya ia telah melakukan hal seperti ini setiap kali. Entah apa yang menyebabkan dia tidak bisa tertidur hari ini juga.</p>

<p>Tetapi, Kaito juga masih terjaga. Lantaran, ada apa dengan dirinya atau dia juga sama seperti ia?</p>

<p>“Aku baru selesai mengerjakan pekerjaanku, setelah ini barulah aku akan tidur. Aku tahu kau sedang menerka-nerka, apakah aku juga tidak bisa tidur sepertimu.”</p>

<p>Tersentak kaget. [Full Name] sedari tadi tak banyak berbicara, hanya reaksi-reaksi kecil yang diperlihatkan.</p>

<p>Namun, pada akhirnya ia mengutarakan kalimat, “Oh? Maaf, karena telah mengganggu waktu tidurmu. Jadi, selamat malam, Tsukigami-<em>san</em>.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/insomnia</guid>
      <pubDate>Sun, 25 Sep 2022 01:39:16 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Memasak.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/memasak?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Original Fiction.&#xA;&#xA;Batch 8; Day 7 of #MariMenulis 2022. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Rutinitas harian dari si kembar Hizafa. Mereka mulai menyiapkan hari dengan memasak makanan. Namun, berhubung hari libur rupanya belum ada satupun yang bersedia memasak makanan.&#xA;&#xA;Katanya sih, terlalu awal. Bukankah, awal itu cukup bagus? Hah, baiklah. Mereka masih ingin bergelut dalam selimut saking nyamannya.&#xA;&#xA;Memang benar, melepas lelah setelah beraktivitas penuh menjadikan tubuh cukup pegal. Tetapi kondisi tubuh pun harus tetap dijaga. Oleh karena itu, mereka biasa memutuskan siapa yang akan memasak makanan. Ya, secara bergilir.&#xA;&#xA;Kebetulan juga, jika mereka berdua pandai memasak. Terlebih memasak makanan untuk saudarinya sendiri. Sudah menjadi keterampilan baru. Meskipun demikian, tak selalu masakan dibuat sendiri-sendiri.&#xA;&#xA;Pada akhirnya, saat ini mereka mulai memutuskan untuk memasak bersama di dalam sebuah apartemen yang mereka biayai dengan hasil kerja keras sendiri.&#xA;&#xA;Setelah kejadian di masa lalu. Mereka tak ingin ada pekerjaan yang bisa memisahkan mereka kembali. Sang kakak tak mau dipisahkan oleh adiknya.&#xA;&#xA;Meskipun telah lama kejadian itu, terkadang sang adik masih merasa enggan terhadap dirinya. Hal ini cukup membuat merasa sakit mendalam pada diri.&#xA;&#xA;Karena dulu masih sangat muda, tak mungkin untuk melawan orang tua, menentang orang tua. Bahkan, sekarang pun tetap saja. Ada rasa yang tak pantas untuk melakukan itu semua.&#xA;&#xA;Hingga, fakta seorang Rain dipegang tangannya oleh Rein. Ketika hendak memotong sebuah bahan masakan, hampir mengenai tangannya. &#34;Jangan melamun.&#34;&#xA;&#xA;Ala kadar kata pengingat begitu. Tetapi Rain merasa senang. Ia paham bahwa kembarannya ini cukup sulit mengekspresikan sesuatu, bahkan seperti tadi.&#xA;&#xA;&#34;Oh, iya gak sadar. Maaf, ayo kita lanjutkan.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Original Fiction.</p></blockquote>

<p><em>Batch 8; Day 7 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:MariMenulis" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">MariMenulis</span></a> 2022.</em> </p>

<hr/>

<p>Rutinitas harian dari si kembar Hizafa. Mereka mulai menyiapkan hari dengan memasak makanan. Namun, berhubung hari libur rupanya belum ada satupun yang bersedia memasak makanan.</p>

<p>Katanya sih, <em>terlalu awal.</em> Bukankah, awal itu cukup bagus? Hah, baiklah. Mereka masih ingin bergelut dalam selimut saking nyamannya.</p>

<p>Memang benar, melepas lelah setelah beraktivitas penuh menjadikan tubuh cukup pegal. Tetapi kondisi tubuh pun harus tetap dijaga. Oleh karena itu, mereka biasa memutuskan siapa yang akan memasak makanan. Ya, secara bergilir.</p>

<p>Kebetulan juga, jika mereka berdua pandai memasak. Terlebih memasak makanan untuk saudarinya sendiri. Sudah menjadi keterampilan baru. Meskipun demikian, tak selalu masakan dibuat sendiri-sendiri.</p>

<p>Pada akhirnya, saat ini mereka mulai memutuskan untuk memasak bersama di dalam sebuah apartemen yang mereka biayai dengan hasil kerja keras sendiri.</p>

<p>Setelah kejadian di masa lalu. Mereka tak ingin ada pekerjaan yang bisa memisahkan mereka kembali. Sang kakak tak mau dipisahkan oleh adiknya.</p>

<p>Meskipun telah lama kejadian itu, terkadang sang adik masih merasa enggan terhadap dirinya. Hal ini cukup membuat merasa sakit mendalam pada diri.</p>

<p>Karena dulu masih sangat muda, tak mungkin untuk melawan orang tua, menentang orang tua. Bahkan, sekarang pun tetap saja. Ada rasa yang tak pantas untuk melakukan itu semua.</p>

<p>Hingga, fakta seorang Rain dipegang tangannya oleh Rein. Ketika hendak memotong sebuah bahan masakan, hampir mengenai tangannya. “Jangan melamun.”</p>

<p>Ala kadar kata pengingat begitu. Tetapi Rain merasa senang. Ia paham bahwa kembarannya ini cukup sulit mengekspresikan sesuatu, bahkan seperti tadi.</p>

<p>“Oh, iya gak sadar. Maaf, ayo kita lanjutkan.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/memasak</guid>
      <pubDate>Sun, 21 Aug 2022 16:52:20 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Liburan.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/liburan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Original Fiction.&#xA;&#xA;Batch 8; Day 6 of #MariMenulis 2022. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Pekan ini, kebetulan sekali ketiga saudara keluarga Hizamara sedang bepergian untuk liburan. Meskipun tanpa kedua orang tua, mereka tetap menikmatinya.&#xA;&#xA;Sebab, yang mula kedua orang tuanya bisa, akibat panggilan pekerjaan secara mendadak membuat kecewa. Dikira akan ada momen untuk ketiganya, tetapi bagaimanapun juga tak sepantasnya untuk mengeluh.&#xA;&#xA;Kala itu, mereka masih ditemani oleh dua pelayan. Menurut alasan si anak tengah, biar kelihatan ramai. Padahal, tanpa pelayan sudah kelihatan sekali ramainya.&#xA;&#xA;&#34;Ehem!&#34;&#xA;&#xA;Batuk yang dibuat, hanya untuk menambahkan kesan cool, selain membuat orang menatap ke arahnya. &#34;Jadi, ayo bahas tentang liburannya.&#34;&#xA;&#xA;Belum apa-apa, sudah begini saja. Sang kakak tertua, Ryutatsu mulai menghela napasnya, dikala melihat sang adik.&#xA;&#xA;&#34;Ryutatsu-niisan, kita liburannya ke mana?&#34; tanya si bungsu, menyentuh ujung pakaian milik Ryutatsu saat itu.&#xA;&#xA;&#34;Liburan ya, liburan aja. Kok dibuat ribet sih, kaliannya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Fauraza, diam dulu.&#34; Lantas Fauraza memalingkan wajahnya, cuek. Sang bungsu pun tak mau kalah, &#34;Aku kan nanya Ryutatsu-niisan! Kenapa malah Fauraza-neesan, sih?&#34;&#xA;&#xA;Mereka—pelayan—yang telah bekerja di Keluarga Hizamara ini, pasti tidak akan asing mengenai kejadian seperti sekarang.&#xA;&#xA;&#34;Kalau begitu, Ryufa ingin liburan ke mana?&#34; tanya Ryutatsu, seraya mengelus surainya lembut.&#xA;&#xA;&#34;Ehm, aku belum kepikiran ....&#34;&#xA;&#xA;&#34;Huh? Lalu, Kak Ryu sendiri, mau liburannya mau ke mana?&#34;&#xA;&#xA;Ryutatsu menoleh kala Fauraza menyeletuk. &#34;Teater, sih. Tetapi, kan kalian berdua juga ikutan. Pasti, Ryufa yang nanti langsung bosan,&#34; jelasnya.&#xA;&#xA;&#34;Ide bagus! Oh, aku kepikiran sesuatu, kalau pameran gimana? Pameran apa aja bebas, sih. Tapi apa itu juga termasuk liburan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Anggap saja jalan-jalan.&#34;&#xA;&#xA;Oh, bukan. Itu bukanlah ketiganya, melainkan salah seorang pelayan mereka yang menyeletuk. Spontan sadar apa yang dikatakan, ia segera meminta maaf atas kelalaiannya dan malah menyela percakapan.&#xA;&#xA;Namun, masukan tersebut diterima oleh Ryutatsu. Sesuai katanya bukan ide yang buruk. Kedengaran hal ini seperti kemenangan bagi Fauraza sekarang. Tapi, Ryufa sebagai yang paling bungsu pun tak merasa bahwa ia menang atau kalah.&#xA;&#xA;Selagi bisa menikmati liburan bersama, kenapa tidak?]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Original Fiction.</p></blockquote>

<p><em>Batch 8; Day 6 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:MariMenulis" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">MariMenulis</span></a> 2022.</em> </p>

<hr/>

<p>Pekan ini, kebetulan sekali ketiga saudara keluarga Hizamara sedang bepergian untuk liburan. Meskipun tanpa kedua orang tua, mereka tetap menikmatinya.</p>

<p>Sebab, yang mula kedua orang tuanya bisa, akibat panggilan pekerjaan secara mendadak membuat kecewa. Dikira akan ada momen untuk ketiganya, tetapi bagaimanapun juga tak sepantasnya untuk mengeluh.</p>

<p>Kala itu, mereka masih ditemani oleh dua pelayan. Menurut alasan si anak tengah, biar kelihatan ramai. Padahal, tanpa pelayan sudah kelihatan sekali ramainya.</p>

<p>“Ehem!”</p>

<p>Batuk yang dibuat, hanya untuk menambahkan kesan <em>cool</em>, selain membuat orang menatap ke arahnya. “Jadi, ayo bahas tentang liburannya.”</p>

<p>Belum apa-apa, sudah begini saja. Sang kakak tertua, Ryutatsu mulai menghela napasnya, dikala melihat sang adik.</p>

<p>“Ryutatsu-<em>niisan</em>, kita liburannya ke mana?” tanya si bungsu, menyentuh ujung pakaian milik Ryutatsu saat itu.</p>

<p>“Liburan ya, liburan aja. Kok dibuat ribet sih, kaliannya.”</p>

<p>“Fauraza, diam dulu.” Lantas Fauraza memalingkan wajahnya, cuek. Sang bungsu pun tak mau kalah, “Aku kan nanya Ryutatsu-<em>niisan</em>! Kenapa malah Fauraza-<em>neesan</em>, sih?”</p>

<p>Mereka—pelayan—yang telah bekerja di Keluarga Hizamara ini, pasti tidak akan asing mengenai kejadian seperti sekarang.</p>

<p>“Kalau begitu, Ryufa ingin liburan ke mana?” tanya Ryutatsu, seraya mengelus surainya lembut.</p>

<p>“Ehm, aku belum kepikiran ....”</p>

<p>“Huh? Lalu, Kak Ryu sendiri, mau liburannya mau ke mana?”</p>

<p>Ryutatsu menoleh kala Fauraza menyeletuk. “Teater, sih. Tetapi, kan kalian berdua juga ikutan. Pasti, Ryufa yang nanti langsung bosan,” jelasnya.</p>

<p>“Ide bagus! Oh, aku kepikiran sesuatu, kalau pameran gimana? Pameran apa aja bebas, sih. Tapi apa itu juga termasuk liburan?”</p>

<p>“Anggap saja jalan-jalan.”</p>

<p>Oh, bukan. Itu bukanlah ketiganya, melainkan salah seorang pelayan mereka yang menyeletuk. Spontan sadar apa yang dikatakan, ia segera meminta maaf atas kelalaiannya dan malah menyela percakapan.</p>

<p>Namun, masukan tersebut diterima oleh Ryutatsu. Sesuai katanya bukan ide yang buruk. Kedengaran hal ini seperti kemenangan bagi Fauraza sekarang. Tapi, Ryufa sebagai yang paling bungsu pun tak merasa bahwa ia menang atau kalah.</p>

<p><em>Selagi bisa menikmati liburan bersama, kenapa tidak?</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/liburan</guid>
      <pubDate>Sun, 21 Aug 2022 16:42:26 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Nasihat.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/nasihat?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Original Fiction.&#xA;&#xA;Batch 8; Day 5 of #MariMenulis 2022. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Sang wanita mulai berkacak pinggang, selayaknya Ibu-ibu yang sedang menasihati sang anak. Menatap lelah dengan keras kepalanya figur dihadapannya ini.&#xA;&#xA;Mengapa bisa seseorang terfokus pada satu aktivitas saja, dan malah tak mengerjakan kegiatan yang lain? Inilah yang seorang Tsukihiko Shiyu herankan.&#xA;&#xA;Dikata ia jenius, bisa melakukan apapun, tidak. Jangan salah, dia dianggap demikian akibat kelihatan selalu menopang buku dalam pelukannya.&#xA;&#xA;Bukan dikira ingin terlihat sebagai kutu buku, apalagi penampilannya yang berkacamata itu menambah kesan khas seorang kutu buku, mungkin saja.&#xA;&#xA;Begini-begini, ia masih punya pekerjaan lain untuk memperoleh kesenangan pribadi. Hanya saja seorang gadis, ya benar. Inilah topik penjabaran kali ini.&#xA;&#xA;Hizafa Rein. Kerap dipanggil sebagai Rein. Seorang gadis yang usianya selisih setahun tahun terhadap dirinya. Terlihat sedang asik bermain game online.&#xA;&#xA;Sejenak Shiyu mulai menghela napasnya panjang. Namun, entah mengapa Rein menyeletuk, &#34;Kenapa menghela napas begitu panjang?&#34;&#xA;&#xA;Hah?&#xA;&#xA;Jujur saja Shiyu kaget. Tanpa melihat, ah, mungkin karena suaranya juga kali, ya? Tetapi, yang benar saja! Ia sudah menasihati Rein untuk tak fokus akan game online yang dimainkan, malah tetap seperti itu.&#xA;&#xA;&#34;Hizafa Rein. Bisa tunda dulu, mainnya? Kamu punya banyak sekali pekerjaan hari ini. Ingat?&#34;&#xA;&#xA;Meneguk ludah, tidak tahu mengapa hawa dari suara milik Shiyu mulai sedikit tegas. Hal ini membuat Rein hanya sedikit menyengir, ketika menatapnya.&#xA;&#xA;&#34;Iya, deh. Sebentar lagi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sekarang, jangan pakai sebentar lagi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Huh, baiklah.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Original Fiction.</p></blockquote>

<p><em>Batch 8; Day 5 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:MariMenulis" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">MariMenulis</span></a> 2022.</em> </p>

<hr/>

<p>Sang wanita mulai berkacak pinggang, selayaknya Ibu-ibu yang sedang menasihati sang anak. Menatap lelah dengan keras kepalanya figur dihadapannya ini.</p>

<p>Mengapa bisa seseorang terfokus pada satu aktivitas saja, dan malah tak mengerjakan kegiatan yang lain? Inilah yang seorang Tsukihiko Shiyu herankan.</p>

<p>Dikata ia jenius, bisa melakukan apapun, tidak. Jangan salah, dia dianggap demikian akibat kelihatan selalu menopang buku dalam pelukannya.</p>

<p>Bukan dikira ingin terlihat sebagai kutu buku, apalagi penampilannya yang berkacamata itu menambah kesan khas seorang kutu buku, mungkin saja.</p>

<p>Begini-begini, ia masih punya pekerjaan lain untuk memperoleh kesenangan pribadi. Hanya saja seorang gadis, ya benar. Inilah topik penjabaran kali ini.</p>

<p>Hizafa Rein. Kerap dipanggil sebagai Rein. Seorang gadis yang usianya selisih setahun tahun terhadap dirinya. Terlihat sedang asik bermain <em>game online</em>.</p>

<p>Sejenak Shiyu mulai menghela napasnya panjang. Namun, entah mengapa Rein menyeletuk, “Kenapa menghela napas begitu panjang?”</p>

<p><em>Hah?</em></p>

<p>Jujur saja Shiyu kaget. Tanpa melihat, ah, mungkin karena suaranya juga kali, ya? Tetapi, yang benar saja! Ia sudah menasihati Rein untuk tak fokus akan <em>game online</em> yang dimainkan, malah tetap seperti itu.</p>

<p>“Hizafa Rein. Bisa tunda dulu, mainnya? Kamu punya <strong>banyak</strong> sekali pekerjaan hari ini. Ingat?”</p>

<p>Meneguk ludah, tidak tahu mengapa hawa dari suara milik Shiyu mulai sedikit tegas. Hal ini membuat Rein hanya sedikit menyengir, ketika menatapnya.</p>

<p>“Iya, deh. Sebentar lagi.”</p>

<p>“Sekarang, jangan pakai <em>sebentar lagi</em>.”</p>

<p>“Huh, baiklah.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/nasihat</guid>
      <pubDate>Sat, 20 Aug 2022 11:54:37 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Pengagum Rahasia.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/pengagum-rahasia?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Original Fiction.&#xA;&#xA;Batch 8; Day 4 of #MariMenulis 2022. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Sosok yang selalu spesial dimata figur cantik, dengan netra merah muda itu. Hanya sepanjang diatas bahu, surai cokelat itu secara sembunyi-sembunyi memperhatikan sosok yang sedikit jauh dihadapan.&#xA;&#xA;Setidaknya, ia tak mau dianggap sebagai penguntit, meskipun berjenis kelamin sama. Tetap saja, tak mungkin. Apalagi sosok yang selalu menyinari matanya itu merupakan seorang kakak kelasnya dahulu.&#xA;&#xA;Saat ini, ia kembali dipertemukan kembali di sebuah kafe. Hingga seseorang menyentuh bahunya, seraya menegur dirinya, &#34;Akiyama-san.&#34;&#xA;&#xA;Ia tersentak bukan main. Rupanya, seorang teman. Segera diri menghela napas panjang, ketika menatap sosok yang menegurnya. &#34;Ada apa?&#34; tanyanya, berusaha menetralkan diri dari keterkejutannya itu.&#xA;&#xA;&#34;Pfft, masih sama seperti dulu? Kenapa sih, anak manisku ini tak mau langsung mendekati sosok yang dikaguminya?&#34; Ia melakukan cubitan ringan pada wajah sang gadis menjadi topik pembicaraan kali ini.&#xA;&#xA;Meskipun setingkat dengan sosok yang diidolakan. Ia kerap merasa iri, tetapi diabaikannya hal itu karena sedikit mendapatkan informasi mengenai kakak kelasnya.&#xA;&#xA;Mulai merasakan sakit pada wajah, segera menangkap tangan seseorang yang mencubit gemas dirinya. &#34;Ihh, Senpai gitu, ya!&#34;&#xA;&#xA;Tampak menggemaskan kala gadis itu—Akiyama Kazumi—mulai menampilkan ekspresi memajukan bibir. &#34;Haha, harus berani dong~ Soalnya tidak seperti dirimu saja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Huh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah, Izumi!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Akh, Senpai kenapa dipanggil, sih!&#34;&#xA;&#xA;Seseorang yang dipanggil mulai menoleh kesana-kemari, ketika menyadari bahwa telah dipanggil. Sementara yang dipanggil sebagai senpai itu, hanya terkekeh pelan saja. &#34;Disini! Aku disini.&#34;&#xA;&#xA;Sedikit bersyukur bahwa kondisi kafe tak begitu ramai, jadi tak butuh suara yang agak keras selayaknya teriak. Iya, hanya biasa saja.&#xA;&#xA;Lantas, saat menemukannya ia bergegas menghampiri. &#34;Astaga, kau sudah terlambat dua puluh menit. Oh, halo? Kenalanmu?&#34; Sadar akan intonasi nadanya tadi, langsung mengubah gaya bicaranya agak sedikit sopan.&#xA;&#xA;&#34;Eh~ masa aku disalahin terus, sih? Hm, aku bicaranya bagaimana ya~&#34;&#xA;&#xA;&#34;Senpai diam, deh.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aha—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Um, sebelumnya maaf menyela. Tetapi, apakah Senpai mengingat diriku? Kita dulunya pernah satu sekolahan.&#34; Kazumi gugup. Ia tak bisa memikirkan apapun lagi selain kalimat yang sekarang ia katakan.&#xA;&#xA;&#34;Ah, aku ingat.&#34; Setelah beberapa menit, tiada yang membuka suara. &#34;Kalau tidak salah kita pernah bertemu di Perpustakaan Sekolah, ya?&#34; tanya wanita tersebut.&#xA;&#xA;Hanya berdua, kalau ditanya satunya ke mana ia pamit untuk pergi lagi ke kamar kecil. Berakhir diomeli oleh perempuan yang merupakan temannya juga, Hasegawa Izumi.&#xA;&#xA;Agak kaget, rupanya masih diingat. &#34;Betul, Senpai! Aku pengagum rahasia senpai!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh? Pengagum Rahasia?&#34;&#xA;&#xA;&#34;AAA, ITU—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit tidak percaya,&#34; tanggapnya. &#34;Soalnya tak bisa jadi rahasia lagi, kan? Karena sudah kamu ungkapkan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Uh, iya ....&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Original Fiction.</p></blockquote>

<p><em>Batch 8; Day 4 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:MariMenulis" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">MariMenulis</span></a> 2022.</em> </p>

<hr/>

<p>Sosok yang selalu spesial dimata figur cantik, dengan netra merah muda itu. Hanya sepanjang diatas bahu, surai cokelat itu secara sembunyi-sembunyi memperhatikan sosok yang sedikit jauh dihadapan.</p>

<p>Setidaknya, ia tak mau dianggap sebagai penguntit, meskipun berjenis kelamin sama. Tetap saja, tak mungkin. Apalagi sosok yang selalu menyinari matanya itu merupakan seorang kakak kelasnya dahulu.</p>

<p>Saat ini, ia kembali dipertemukan kembali di sebuah kafe. Hingga seseorang menyentuh bahunya, seraya menegur dirinya, “Akiyama-<em>san</em>.”</p>

<p>Ia tersentak bukan main. Rupanya, seorang teman. Segera diri menghela napas panjang, ketika menatap sosok yang menegurnya. “Ada apa?” tanyanya, berusaha menetralkan diri dari keterkejutannya itu.</p>

<p>“Pfft, masih sama seperti dulu? Kenapa sih, anak manisku ini tak mau langsung mendekati sosok yang dikaguminya?” Ia melakukan cubitan ringan pada wajah sang gadis menjadi topik pembicaraan kali ini.</p>

<p>Meskipun setingkat dengan sosok yang diidolakan. Ia kerap merasa iri, tetapi diabaikannya hal itu karena sedikit mendapatkan informasi mengenai kakak kelasnya.</p>

<p>Mulai merasakan sakit pada wajah, segera menangkap tangan seseorang yang mencubit gemas dirinya. “Ihh, <em>Senpai</em> gitu, ya!”</p>

<p>Tampak menggemaskan kala gadis itu—Akiyama Kazumi—mulai menampilkan ekspresi memajukan bibir. “Haha, harus berani dong~ Soalnya tidak seperti dirimu saja.”</p>

<p>“Huh?”</p>

<p>“Ah, Izumi!”</p>

<p>“Akh, <em>Senpai</em> kenapa dipanggil, sih!”</p>

<p>Seseorang yang dipanggil mulai menoleh kesana-kemari, ketika menyadari bahwa telah dipanggil. Sementara yang dipanggil sebagai <em>senpai</em> itu, hanya terkekeh pelan saja. “Disini! Aku disini.”</p>

<p>Sedikit bersyukur bahwa kondisi kafe tak begitu ramai, jadi tak butuh suara yang agak keras selayaknya teriak. Iya, hanya biasa saja.</p>

<p>Lantas, saat menemukannya ia bergegas menghampiri. “Astaga, kau sudah terlambat dua puluh menit. Oh, halo? Kenalanmu?” Sadar akan intonasi nadanya tadi, langsung mengubah gaya bicaranya agak sedikit sopan.</p>

<p>“Eh~ masa aku disalahin terus, sih? Hm, aku bicaranya bagaimana ya~”</p>

<p>“<em>Senpai</em> diam, deh.”</p>

<p>“Aha—”</p>

<p>“Um, sebelumnya maaf menyela. Tetapi, apakah <em>Senpai</em> mengingat diriku? Kita dulunya pernah satu sekolahan.” Kazumi gugup. Ia tak bisa memikirkan apapun lagi selain kalimat yang sekarang ia katakan.</p>

<p>“Ah, aku ingat.” Setelah beberapa menit, tiada yang membuka suara. “Kalau tidak salah kita pernah bertemu di Perpustakaan Sekolah, ya?” tanya wanita tersebut.</p>

<p>Hanya berdua, kalau ditanya satunya ke mana ia pamit untuk pergi lagi ke kamar kecil. Berakhir diomeli oleh perempuan yang merupakan temannya juga, Hasegawa Izumi.</p>

<p>Agak kaget, rupanya masih diingat. “Betul, <em>Senpai</em>! Aku pengagum rahasia <em>senpai</em>!”</p>

<p>“Eh? Pengagum Rahasia?”</p>

<p>“AAA, ITU—”</p>

<p>“Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit tidak percaya,” tanggapnya. “Soalnya tak bisa jadi rahasia lagi, kan? Karena sudah kamu ungkapkan.”</p>

<p>“Uh, iya ....”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/pengagum-rahasia</guid>
      <pubDate>Sat, 20 Aug 2022 07:02:05 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Kencan.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/kencan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Original Fiction.&#xA;&#xA;Batch 8; Day 3 of #MariMenulis 2022. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Seraya tersenyum senang, ia menikmati aktivitasnya bersama sosok yang paling ia sayangi selain keluarga.&#xA;&#xA;Figur yang telah beberapa tahun menemaninya sewaktu kecil, kini telah lebih dewasa. Meskipun begitu, selisih usia mereka hanya tiga tahun, tidak lebih.&#xA;&#xA;Mungkin saja efek pertumbuhan laki-laki dan perempuan itu berbeda, ya? Ah, abaikan saja.&#xA;&#xA;Ketika netra birunya menatap figur sang pemuda itu, lekas diri melukis senyum lebar. Sementara yang diberikan senyuman itu, sedikit tersentak.&#xA;&#xA;Berpikir ada sesuatu yang menyenangkan, tetapi apa? Segera menggelengkan kepala, menyatakan bahwa diri tak boleh bersikap seperti itu.&#xA;&#xA;&#34;Nona, kenapa menatap saya seperti itu?&#34; tegurnya. Jujur saja, sedikit ini ia merasa risih.&#xA;&#xA;Kalau diingat kembali ini adalah sebuah kencan, pemuda itu langsung menolak. Dari balik fakta, alasan sang Nona memanglah demikian. Tetapi, ia ingin bersama si pemuda sekarang.&#xA;&#xA;Menolak fakta, jadilah hanya bisa dikatakan sekedar jalan-jalan biasa. Yang menjadikan spesial hanyalah sang Nona, selalu mendekati dan mengulas senyum kepada pelayannya.&#xA;&#xA;&#34;Fauraza.&#34;&#xA;&#xA;Menyadari kalimatnya terdapat kesalahan pengucapan. Ia sedikit mengulas senyum pahit, namun kemudian membenarkannya, &#34;Fauraza-sama, kenapa anda menatap saya seperti itu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tidak apa-apa~ aku hanya ingin melihat saja!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh? Anda sudah melihat saya beberapa kali sedari tadi, itu dikatakan hanya ingin?&#34; tanya si pelayan dengan raut yang heran.&#xA;&#xA;Sedikit terkekeh pelan, saat mendapati sang majikan kebingungan juga. &#34;Aaaa! Lupakan, ayo beli sesuatu,&#34; sentaknya cepat dengan tangan langsung mengait pergelangan tangan milik pelayannya itu. Reinou.&#xA;&#xA;Itukah yang dinamakan sesuatu seperti kencan? Bertemu disatu waktu dengan alasan janji, tetapi sedikit berbeda alias meminta dengan sedikit perintah.&#xA;&#xA;Tidak buruk, bukan?]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Original Fiction.</p></blockquote>

<p><em>Batch 8; Day 3 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:MariMenulis" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">MariMenulis</span></a> 2022.</em> </p>

<hr/>

<p>Seraya tersenyum senang, ia menikmati aktivitasnya bersama sosok yang paling ia sayangi selain keluarga.</p>

<p>Figur yang telah beberapa tahun menemaninya sewaktu kecil, kini telah lebih dewasa. Meskipun begitu, selisih usia mereka hanya tiga tahun, tidak lebih.</p>

<p>Mungkin saja efek pertumbuhan laki-laki dan perempuan itu berbeda, ya? <em>Ah</em>, abaikan saja.</p>

<p>Ketika netra birunya menatap figur sang pemuda itu, lekas diri melukis senyum lebar. Sementara yang diberikan senyuman itu, sedikit tersentak.</p>

<p>Berpikir ada sesuatu yang menyenangkan, tetapi apa? Segera menggelengkan kepala, menyatakan bahwa diri tak boleh bersikap seperti itu.</p>

<p>“Nona, kenapa menatap saya seperti itu?” tegurnya. Jujur saja, sedikit ini ia merasa risih.</p>

<p>Kalau diingat kembali ini adalah sebuah kencan, pemuda itu langsung menolak. Dari balik fakta, alasan sang Nona memanglah demikian. Tetapi, ia ingin bersama si pemuda sekarang.</p>

<p>Menolak fakta, jadilah hanya bisa dikatakan sekedar jalan-jalan biasa. Yang menjadikan spesial hanyalah sang Nona, selalu mendekati dan mengulas senyum kepada pelayannya.</p>

<p>“Fauraza.”</p>

<p>Menyadari kalimatnya terdapat kesalahan pengucapan. Ia sedikit mengulas senyum pahit, namun kemudian membenarkannya, “Fauraza-<em>sama</em>, kenapa anda menatap saya seperti itu?”</p>

<p>“Tidak apa-apa~ aku hanya ingin melihat saja!”</p>

<p>“Eh? Anda sudah melihat saya beberapa kali sedari tadi, itu dikatakan hanya ingin?” tanya si pelayan dengan raut yang heran.</p>

<p>Sedikit terkekeh pelan, saat mendapati sang majikan kebingungan juga. “Aaaa! Lupakan, ayo beli sesuatu,” sentaknya cepat dengan tangan langsung mengait pergelangan tangan milik pelayannya itu. Reinou.</p>

<p>Itukah yang dinamakan sesuatu seperti kencan? Bertemu disatu waktu dengan alasan janji, tetapi sedikit berbeda alias meminta dengan sedikit perintah.</p>

<p><em>Tidak buruk, bukan?</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/kencan</guid>
      <pubDate>Fri, 19 Aug 2022 06:22:48 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Perpustakaan.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/perpustakaan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Original Fiction.&#xA;&#xA;Batch 8; Day 2 of #MariMenulis 2022. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Dengan manik hijau tenang itu mulai menatap sang tuan. Seolah mengusik ketenangan figur yang ditatap, dahi pemuda tampak mengerut.&#xA;&#xA;&#34;Hizafa-san, sedari tadi mengapa kamu menatap aku begitu?&#34; ungkapnya.&#xA;&#xA;Terkejut kala mendengar ungkapan dari sang tuan. Membuat sang puan, menyengir menumpahkan rasa senang. &#34;Hehe, tidak apa~ aku hanya sedang mengagumi betapa menawannya wajahmu, Mamo-kun!&#34;&#xA;&#xA;Kalimat yang selalu sukses tuk membuat hati terlena. Melupakan fakta, bahwa mereka sedari tadi mengutarakan hal ini dengan bisik-bisik.&#xA;&#xA;Sebab, tempat ini tak memberikan seseorang kenyamanan untuk mengeluh dalam suara yang besar. Benar, lokasinya adalah sebuah Perpustakaan.&#xA;&#xA;Meskipun, sang puan—Hizafa Rain—tak terlalu ingin berada di tempat ini. Berkat sang tuan kekasih jugalah, dia mengikuti hingga kini.&#xA;&#xA;Chikei Mamoru. Ia mulai tak bisa tenang dalam kondisi seperti ini. Bahkan, hanya sekedar untuk menaikan kacamata saja, ia sudah paham sekali bahwa bisa saja wajahnya ini telah memerah sempurna.&#xA;&#xA;Mengapa juga, ia melupakan fakta ini, ya? Seharusnya ia paham sekali, tipikal sosok yang menjadi kekasihnya kini.&#xA;&#xA;Bermaksud sebagai tujuan awal untuk belajar, dan mendapatkan ilmu. Alih-alih mendapatkan hal itu semua. Mamoru malah mendapatkan godaan langsung, untuk sekian kalinya dari Rain.&#xA;&#xA;Sejujurnya, diawal kejadian ini Mamoru hanya melihat kalau Rain bosan. Tapi, bosannya berbeda. Ia menyatakan bahwa dia bosan bukan karena tempat ini banyak bukunya, melainkan bosan akibat Mamoru sendiri lebih asik dengan buku maupun tugasnya.&#xA;&#xA;Jadi, Mamoru sedikit menyimpulkan, apakah Rain cemburu?&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Original Fiction.</p></blockquote>

<p><em>Batch 8; Day 2 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:MariMenulis" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">MariMenulis</span></a> 2022.</em> </p>

<hr/>

<p>Dengan manik hijau tenang itu mulai menatap sang tuan. Seolah mengusik ketenangan figur yang ditatap, dahi pemuda tampak mengerut.</p>

<p>“Hizafa-<em>san</em>, sedari tadi mengapa kamu menatap aku begitu?” ungkapnya.</p>

<p>Terkejut kala mendengar ungkapan dari sang tuan. Membuat sang puan, menyengir menumpahkan rasa senang. “Hehe, tidak apa~ aku hanya sedang mengagumi betapa menawannya wajahmu, Mamo-<em>kun</em>!”</p>

<p>Kalimat yang selalu sukses tuk membuat hati terlena. Melupakan fakta, bahwa mereka sedari tadi mengutarakan hal ini dengan bisik-bisik.</p>

<p>Sebab, tempat ini tak memberikan seseorang kenyamanan untuk mengeluh dalam suara yang besar. Benar, lokasinya adalah sebuah Perpustakaan.</p>

<p>Meskipun, sang puan—Hizafa Rain—tak terlalu ingin berada di tempat ini. Berkat sang tuan kekasih jugalah, dia mengikuti hingga kini.</p>

<p>Chikei Mamoru. Ia mulai tak bisa tenang dalam kondisi seperti ini. Bahkan, hanya sekedar untuk menaikan kacamata saja, ia sudah paham sekali bahwa bisa saja wajahnya ini telah memerah sempurna.</p>

<p>Mengapa juga, ia melupakan fakta ini, ya? Seharusnya ia paham sekali, tipikal sosok yang menjadi kekasihnya kini.</p>

<p>Bermaksud sebagai tujuan awal untuk belajar, dan mendapatkan ilmu. Alih-alih mendapatkan hal itu semua. Mamoru malah mendapatkan godaan langsung, untuk sekian kalinya dari Rain.</p>

<p>Sejujurnya, diawal kejadian ini Mamoru hanya melihat kalau Rain bosan. Tapi, bosannya berbeda. Ia menyatakan bahwa dia bosan bukan karena tempat ini banyak bukunya, melainkan bosan akibat Mamoru sendiri lebih asik dengan buku maupun tugasnya.</p>

<p><em>Jadi, Mamoru sedikit menyimpulkan, apakah Rain cemburu?</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/perpustakaan</guid>
      <pubDate>Wed, 17 Aug 2022 13:55:10 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Kacamata.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/kacamata?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Original Fiction.&#xA;&#xA;Batch 8; Day 1 of #MariMenulis 2022. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Langkah kaki yang terhenti, setelah sebelumnya mengamati keadaan ruangan yang dipijaki. Hingga, menjadikan sosok pemuda surai hijau toska itu mengernyitkan alisnya.&#xA;&#xA;Dilihat sebuah kacamata berada di atas sebuah meja, tanpa penggunanya. Namun, ia mengerti bahwa ada pemiliknya.&#xA;&#xA;Hanya saja, yang menjadi masalahnya disini itu adalah  mengapa kacamata ini, tak berada didalam tempatnya, dan malah dibiarkan tergeletak begitu saja?&#xA;&#xA;&#34;Oh, Ryu! Kau berkunjung?&#34; tegur seseorang. Segera membuat ia berbalik, menatap figur yang jenis kelaminnya seperti dia.&#xA;&#xA;Hizamara Ryutatsu. Itulah namanya, meski lebih akrab dipanggil sebagai Ryu, dengan alasan lebih pendek saja. Dia pun mengangguk pelan, sebagai jawaban.&#xA;&#xA;Netra birunya melirik penampilan lelaki yang baru saja hadir dihadapannya itu. &#34;Kau selalu meletakan sembarangan kacamatamu, ya?&#34; tanya Ryutatsu.&#xA;&#xA;&#34;Ahaha. Tidak begitu, kok! Ryu-chan, marah?&#34; balas lelaki yang bertanya sebelum itu, Kaitosawa Shuu.&#xA;&#xA;Menghela napas panjang, mengapa sahabatnya ini—sebentar, apakah dia ini sahabatnya?&#xA;&#xA;Selalu saja seperti itu, padahal tahu bahwa mata dia itu cukup mengkhawatirkan untuk penglihatannya.&#xA;&#xA;Mulai mengacak-acak rambutnya, ia sedikit kesal mengenai panggilan nama. &#34;Sudah aku katakan, jangan memanggil dengan nama itu, Shuu.&#34;&#xA;&#xA;Shuu mendekatinya dan mulai duduk bersamaan dengan Ryutatsu. Lantas, akibat hal ini Shuu sedikit mengulas senyum.&#xA;&#xA;Ia kepikiran untuk menjahili Ryutatsu, seraya si korban memberikan kacamata yang dilihatnya itu ke dia.&#xA;&#xA;&#34;Sebegitu buruknya ya, panggilan dariku?&#34; Tampak wajah yang dibuat-buat sedih. Ryutatsu paham bahwa itu hanyalah bualan semata.&#xA;&#xA;&#34;Ya. Sangat.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh? Aku hanya panggil dengan sebutan Ryu-chan!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kaitosawa Shuu.&#34;&#xA;&#xA;Setelahnya, Shuu benar-benar tertawa puas. Sambil mengenakan kacamata miliknya. Dari netra kuningnya, ia menatap Ryutatsu yang sudah kelihatan cukup kesal.&#xA;&#xA;&#34;Baiklah-baiklah, terima kasih sudah mengingatkan.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Original Fiction.</p></blockquote>

<p><em>Batch 8; Day 1 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:MariMenulis" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">MariMenulis</span></a> 2022.</em> </p>

<hr/>

<p>Langkah kaki yang terhenti, setelah sebelumnya mengamati keadaan ruangan yang dipijaki. Hingga, menjadikan sosok pemuda surai hijau toska itu mengernyitkan alisnya.</p>

<p>Dilihat sebuah kacamata berada di atas sebuah meja, tanpa penggunanya. Namun, ia mengerti bahwa ada pemiliknya.</p>

<p>Hanya saja, yang menjadi masalahnya disini itu adalah  mengapa kacamata ini, tak berada didalam tempatnya, dan malah dibiarkan tergeletak begitu saja?</p>

<p>“Oh, Ryu! Kau berkunjung?” tegur seseorang. Segera membuat ia berbalik, menatap figur yang jenis kelaminnya seperti dia.</p>

<p>Hizamara Ryutatsu. Itulah namanya, meski lebih akrab dipanggil sebagai Ryu, dengan alasan lebih pendek saja. Dia pun mengangguk pelan, sebagai jawaban.</p>

<p>Netra birunya melirik penampilan lelaki yang baru saja hadir dihadapannya itu. “Kau selalu meletakan sembarangan kacamatamu, ya?” tanya Ryutatsu.</p>

<p>“Ahaha. Tidak begitu, kok! Ryu-<em>chan</em>, marah?” balas lelaki yang bertanya sebelum itu, Kaitosawa Shuu.</p>

<p>Menghela napas panjang, mengapa sahabatnya ini—sebentar, apakah dia ini sahabatnya?</p>

<p>Selalu saja seperti itu, padahal tahu bahwa mata dia itu cukup mengkhawatirkan untuk penglihatannya.</p>

<p>Mulai mengacak-acak rambutnya, ia sedikit kesal mengenai panggilan nama. “Sudah aku katakan, jangan memanggil dengan nama itu, Shuu.”</p>

<p>Shuu mendekatinya dan mulai duduk bersamaan dengan Ryutatsu. Lantas, akibat hal ini Shuu sedikit mengulas senyum.</p>

<p>Ia kepikiran untuk menjahili Ryutatsu, seraya si korban memberikan kacamata yang dilihatnya itu ke dia.</p>

<p>“Sebegitu buruknya ya, panggilan dariku?” Tampak wajah yang dibuat-buat sedih. Ryutatsu paham bahwa itu hanyalah bualan semata.</p>

<p>“Ya. Sangat.”</p>

<p>“Eh? Aku hanya panggil dengan sebutan Ryu-<em>chan</em>!”</p>

<p>“Kaitosawa Shuu.”</p>

<p>Setelahnya, Shuu benar-benar tertawa puas. Sambil mengenakan kacamata miliknya. Dari netra kuningnya, ia menatap Ryutatsu yang sudah kelihatan cukup kesal.</p>

<p>“Baiklah-baiklah, terima kasih sudah mengingatkan.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/kacamata</guid>
      <pubDate>Mon, 15 Aug 2022 19:04:40 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>