<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>KujiranoKorawaSajouniUtau &amp;mdash; reeinshiyu</title>
    <link>https://reeinshiyu.writeas.com/tag:KujiranoKorawaSajouniUtau</link>
    <description>Seluruh kisah yang dikhususkan kepada mereka yang berkenan untuk membacanya.</description>
    <pubDate>Thu, 14 May 2026 02:17:10 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Holding Hand.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/holding-hand?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Suou × Reader.&#xA;  #KujiranoKorawaSajouniUtau Fanfiction.&#xA;&#xA;Day 25 of #SimpTember 2021. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Ya ampun, [Name]-san!&#34;&#xA;&#xA;Kaget, siapa yang tidak kaget bila ada yang menyerukan nama dan itu adalah namamu? Tentu saja kaget bukan? Semisal tidak kaget juga paling cuma menoleh, iya kan?&#xA;&#xA;Kurang lebih seperti itu yang dialami oleh seorang [Name], pemilik nama yang diserukan pria bersurai hijau muda. Berpegangan tangan guna membuat [Name] kembali berdiri.&#xA;&#xA;Benar dengan tidak elitnya, [Name] terjatuh akibat menyandung pasir. Benar wilayah Paus Lumpur, hanya berada disekitar banyaknya pasir mengelilingi. Memang tak jarang ada pasir yang berada di daratan.&#xA;&#xA;&#34;Ah, Suou-kun ... aku baik-baik saja.&#34;&#xA;&#xA;Berkata demikian, ia memang menerima tangan dari pria tadi, Suou. Mengulas senyum mereka, melempar tatapan setelahnya. Raut khawatir terlihat jelas pada wajah-nya Suou.&#xA;&#xA;Namun, setelah berbicara demikian Suou tersenyum lega. &#34;Suou-kun, tanganmu—&#34; tak sadar tapi, Suou memegang tangannya sedari tadi. Sontak ia melepaskan, bersamaan wajahnya memerah malu.&#xA;&#xA;&#34;Aahh, maafkan aku!&#34;&#xA;&#xA;Terkekeh pelan, terkadang ia pikir Suou memang sungguh baik hati. Dia juga merupakan seorang walikota yang lembut terhadap sesama. Selain itu, tidak menyukai adanya kekerasan. Semua juga cukup mengagumi sosoknya.&#xA;&#xA;&#34;Tidak masalah, tapi Suou-kun ... bagaimana dirimu bisa tahu, kalau aku tersandung tadi?&#34; tanya [Name].&#xA;&#xA;Ia pikir tak ada orang tadinya. Tapi kenapa tiba-tiba ada sosok Suou disini? Dirinya langsung bingung, apakah ringisan-nya terlalu nyaring tuk didengar seseorang ataukah Suou sekedar lewat?&#xA;&#xA;&#34;Kebetulan aku lewat sini, dan mendengar suaramu.&#34;&#xA;&#xA;Oh, tepat sasaran.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Suou × Reader.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:KujiranoKorawaSajouniUtau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">KujiranoKorawaSajouniUtau</span></a> Fanfiction.</p></blockquote>

<p><em>Day 25 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</em> </p>

<hr/>

<p>“Ya ampun, [Name]-<em>san</em>!”</p>

<p>Kaget, siapa yang tidak kaget bila ada yang menyerukan nama dan itu adalah namamu? Tentu saja kaget bukan? Semisal tidak kaget juga paling cuma menoleh, iya kan?</p>

<p>Kurang lebih seperti itu yang dialami oleh seorang [Name], pemilik nama yang diserukan pria bersurai hijau muda. Berpegangan tangan guna membuat [Name] kembali berdiri.</p>

<p>Benar dengan tidak elitnya, [Name] terjatuh akibat menyandung pasir. Benar wilayah Paus Lumpur, hanya berada disekitar banyaknya pasir mengelilingi. Memang tak jarang ada pasir yang berada di daratan.</p>

<p>“Ah, Suou-<em>kun</em> ... aku baik-baik saja.”</p>

<p>Berkata demikian, ia memang menerima tangan dari pria tadi, Suou. Mengulas senyum mereka, melempar tatapan setelahnya. Raut khawatir terlihat jelas pada wajah-nya Suou.</p>

<p>Namun, setelah berbicara demikian Suou tersenyum lega. “Suou-<em>kun</em>, tanganmu—” tak sadar tapi, Suou memegang tangannya sedari tadi. Sontak ia melepaskan, bersamaan wajahnya memerah malu.</p>

<p>“<em>Aahh</em>, maafkan aku!”</p>

<p>Terkekeh pelan, terkadang ia pikir Suou memang sungguh baik hati. Dia juga merupakan seorang walikota yang lembut terhadap sesama. Selain itu, tidak menyukai adanya kekerasan. Semua juga cukup mengagumi sosoknya.</p>

<p>“Tidak masalah, tapi Suou-<em>kun</em> ... bagaimana dirimu bisa tahu, kalau aku tersandung tadi?” tanya [Name].</p>

<p>Ia pikir tak ada orang tadinya. Tapi kenapa tiba-tiba ada sosok Suou disini? Dirinya langsung bingung, apakah ringisan-nya terlalu nyaring tuk didengar seseorang ataukah Suou sekedar lewat?</p>

<p>“Kebetulan aku lewat sini, dan mendengar suaramu.”</p>

<p><em>Oh, tepat sasaran.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/holding-hand</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 11:35:00 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Flowers.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/flowers?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Liontari × Reader.&#xA;  #KujiranoKorawaSajouniUtau Fanfiction.&#xA;&#xA;Day 16 of #SimpTember 2021. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Hee~ kau tidak mau menerimanya?&#34;&#xA;&#xA;Dengan tatapan seperti itu, tak mungkin [Name] bisa menolak. Bahkan jika ia bisa menolak, sayang tak seindah apa perbuatan nekat yang telah lama dilakukan.&#xA;&#xA;Tak mau bila terjadi apa-apa lagi, terlebih tubuhnya sendiri. Takut-takut berbicara, padahal ia tak juga lebih tua. Mereka hanya memiliki umur yang tak jauh, bisa dibilang selisih tepatnya.&#xA;&#xA;&#34;Ba-baiklah. Aku akan terima,&#34; ucap [Name].&#xA;&#xA;Sejujurnya ingin sekali menolak hal tersebut. Tapi naas sudah aset berharga miliknya, bila ia tak mau. Dia masih ingin tetap hidup walau bagaimana pun caranya, ia akan lakukan.&#xA;&#xA;&#34;Kau berbohong? Bilang saja, kalau kau sama seperti mereka. Menjadi &#39;manusia&#39; pemilih itu tak seindah yang dipikirkan lho,&#34; bisiknya entah kapan, telah berada didekat telinga, keberadaan ia.&#xA;&#xA;Tersentak kaget, ia mulai mengambil langkah menjauh. &#34;Aku tau itu, tapi aku akan tetap menerimanya kalau kau sudah memaksa seperti ini ....&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh ya, apakah aku memaksamu? Aku tidak tahu~&#34;&#xA;&#xA;Tidak menjawab, sungguh ingin dia mengambil kata-kata tersebut. Tak mau menjadi lebih terpuruk maka dikatakan lah seperti itu.&#xA;&#xA;&#34;Apa kau emosi~? Ahaha, aku benar-benar tak mengerti. Bagaimana bisa orang sepertimu bisa hidup dengan kondisi seperti itu, hm?&#34;&#xA;&#xA;Padahal berada didalam jangkauan beberapa puluh senti, tapi sosok ia mendekat hingga jarak diantara mereka hanya beberapa senti.&#xA;&#xA;&#34;Apakah kau mengira aku suka padamu, tadinya? Kau salah besar~ [Name].&#34;&#xA;&#xA;Tidak tahan dengan semua hal ini, dia memotong ucapan sosok dihadapan. Emosi telah mengambil alih dirinya sekian waktu, entah sedari kapan.&#xA;&#xA;&#34;Karena kau memberikannya seperti itu, Liontari. Lagipula sepertinya kau sepertinya tak sadar bahwa, bunga yang kau ambil sama persis warnanya dengan rambutmu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hm? Aku sadar, kok. Karena itu agar kau bisa mengingatku kapanpun dan di mana pun.&#34;&#xA;&#xA;Benar, itu adalah bunga berwarna merah muda disetiap helai kelopaknya. Seperti warna surai milik Liontari sendiri. Menenangkan diri dengan jawaban seperti itu.&#xA;&#xA;&#34;Aku mengerti, kalau Liontari mengkhawatirkan ku begitu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Entahlah.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Liontari × Reader.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:KujiranoKorawaSajouniUtau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">KujiranoKorawaSajouniUtau</span></a> Fanfiction.</p></blockquote>

<p><em>Day 16 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</em> </p>

<hr/>

<p>“Hee~ kau tidak mau menerimanya?”</p>

<p>Dengan tatapan seperti itu, tak mungkin [Name] bisa menolak. Bahkan jika ia bisa menolak, sayang tak seindah apa perbuatan nekat yang telah lama dilakukan.</p>

<p>Tak mau bila terjadi apa-apa lagi, terlebih tubuhnya sendiri. Takut-takut berbicara, padahal ia tak juga lebih tua. Mereka hanya memiliki umur yang tak jauh, bisa dibilang selisih tepatnya.</p>

<p>“Ba-baiklah. Aku akan terima,” ucap [Name].</p>

<p>Sejujurnya ingin sekali menolak hal tersebut. Tapi naas sudah aset berharga miliknya, bila ia tak mau. Dia masih ingin tetap hidup walau bagaimana pun caranya, ia akan lakukan.</p>

<p>“Kau berbohong? Bilang saja, kalau kau sama seperti mereka. Menjadi &#39;manusia&#39; pemilih itu tak seindah yang dipikirkan lho,” bisiknya entah kapan, telah berada didekat telinga, keberadaan ia.</p>

<p>Tersentak kaget, ia mulai mengambil langkah menjauh. “Aku tau itu, tapi aku akan tetap menerimanya kalau kau sudah memaksa seperti ini ....”</p>

<p>“Oh ya, apakah aku memaksamu? Aku tidak tahu~”</p>

<p>Tidak menjawab, sungguh ingin dia mengambil kata-kata tersebut. Tak mau menjadi lebih terpuruk maka dikatakan lah seperti itu.</p>

<p>“Apa kau emosi~? Ahaha, aku benar-benar tak mengerti. Bagaimana bisa orang sepertimu bisa hidup dengan kondisi seperti itu, hm?”</p>

<p>Padahal berada didalam jangkauan beberapa puluh senti, tapi sosok ia mendekat hingga jarak diantara mereka hanya beberapa senti.</p>

<p>“Apakah kau mengira aku suka padamu, tadinya? Kau salah besar~ [Name].”</p>

<p>Tidak tahan dengan semua hal ini, dia memotong ucapan sosok dihadapan. Emosi telah mengambil alih dirinya sekian waktu, entah sedari kapan.</p>

<p>“Karena kau memberikannya seperti itu, Liontari. Lagipula sepertinya kau sepertinya tak sadar bahwa, bunga yang kau ambil sama persis warnanya dengan rambutmu.”</p>

<p>“Hm? Aku sadar, kok. Karena itu agar kau bisa mengingatku kapanpun dan di mana pun.”</p>

<p>Benar, itu adalah bunga berwarna merah muda disetiap helai kelopaknya. Seperti warna surai milik Liontari sendiri. Menenangkan diri dengan jawaban seperti itu.</p>

<p>“Aku mengerti, kalau Liontari mengkhawatirkan ku begitu?”</p>

<p>“Entahlah.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/flowers</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 10:50:45 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Winter.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/winter?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Nezu × Reader.&#xA;  #KujiranoKorawaSajouniUtau Fanfiction.&#xA;&#xA;Day 14 of #SimpTember 2021. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Astaga, tubuhmu dingin sekali [Name]!&#34;&#xA;&#xA;Tersentak kaget, sewaktu bahu dipegang oleh lelaki seusia dirinya. Menoleh ke sumber suara ditepisnya pelan menjauhkan tangan, lalu berkata demikian.&#xA;&#xA;&#34;Hm? Tentu itu salah mu,&#34;&#xA;&#xA;Dengan ucapan mengantung ia pun mengambil kesimpulan, memasang mode marah terhadap sosok lelaki tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Kok malah menyalahkan aku? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.&#34;&#xA;&#xA;Dia yang tak mengerti suasana apa yang sedang terjadi disini. Maka, dari itulah ia berkata seperti itu kepada sang gadis. &#xA;&#xA;&#34;Disini terlalu dingin, bodoh!&#34;&#xA;&#xA;Diselingi umpatan kasar, menuduh dengan suara menyeru. Merasa tak terima kini lelaki itu, menghentikan sosok [Name] yang mulai beranjak menjauhi dirinya.&#xA;&#xA;&#34;Berhenti memanggilku seperti itu, hei!&#34;&#xA;&#xA;Menolak hal seperti itu, jujur saja ia memang kesal. Namun, tangannya bergerak mengambil sesuatu dan memakaikan sebuah jubah ke tubuh [Name].&#xA;&#xA;&#34;Lagipula ini musim dingin, wajar saja dingin kau tahu?&#34;&#xA;&#xA;Melanjutkan sesuatu yang terpotong baru saja, ia menjelaskan seperti ia tahu bahwa yang dirasakan antara keduanya.&#xA;&#xA;Dalam percakapan kali ini, Nezu yang merupakan lelaki tersebut. Ia tidak memahami arti musim dingin, pada awalnya. &#xA;&#xA;Namun disebabkan suatu kejadian, ia mengetahui maksud terselubung dari gadis yang berada dihadapannya ini.&#xA;&#xA;&#34;Tunggu, ini kau yang membuatnya? Bagaiman-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kau kalau terus bicara, mau kedinginan? Sudah tau tak tahan dingin. Kenapa nekat?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ck! Iya, iya. Aku salah,&#34; balas [Name] yang sepertinya kesal, jika musti berdebat dengan Nezu.&#xA;&#xA;Secarik kehangatan tercipta, beberapa kali kelopak matanya menerjap pelan, terkadang mengedipkan beberapa kali.&#xA;&#xA;Tidak mempercayai apa yang dilakukan oleh Nezu. Dengan tangannya yang ternyata menepuk-nepuk kepala [Name] lembut, kemudian memasangkan sesuatu.&#xA;&#xA;&#34;Nah, bagaimana sekarang? Sudah lebih baikan? Tidak dingin lagi, bukan?&#34;&#xA;&#xA;Ia ragu, bila sudah berhadapan dengan situasi canggung seperti apa yang terjadi kali ini. Semburat merah tipis di wajah [Name].&#xA;&#xA;&#34;Hm, sudah ... lalu, bagaimana dengan dirimu?&#34;&#xA;&#xA;Hanya tertawa pelan, merasa tak yakin dengan jawaban yang dikeluarkan. Menampilkan deretan gigi putihnya.&#xA;&#xA;&#34;Tentu saja, aku membuatnya lebih! Untukmu dan untukku, ahaha.&#34;&#xA;&#xA;Musim dingin dengan banyaknya ucapan.&#xA;&#xA;Sensasi lembut, suatu seputih salju mulai menghujani kedua pasang insan yang beranjak remaja. Membiarkan keduanya berada dalam keheningan sesaat.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Nezu × Reader.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:KujiranoKorawaSajouniUtau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">KujiranoKorawaSajouniUtau</span></a> Fanfiction.</p></blockquote>

<p><em>Day 14 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</em> </p>

<hr/>

<p>“Astaga, tubuhmu dingin sekali [Name]!”</p>

<p>Tersentak kaget, sewaktu bahu dipegang oleh lelaki seusia dirinya. Menoleh ke sumber suara ditepisnya pelan menjauhkan tangan, lalu berkata demikian.</p>

<p>“Hm? Tentu itu salah mu,”</p>

<p>Dengan ucapan mengantung ia pun mengambil kesimpulan, memasang mode marah terhadap sosok lelaki tersebut.</p>

<p>“Kok malah menyalahkan aku? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”</p>

<p>Dia yang tak mengerti suasana apa yang sedang terjadi disini. Maka, dari itulah ia berkata seperti itu kepada sang gadis.</p>

<p>“Disini terlalu dingin, bodoh!”</p>

<p>Diselingi umpatan kasar, menuduh dengan suara menyeru. Merasa tak terima kini lelaki itu, menghentikan sosok [Name] yang mulai beranjak menjauhi dirinya.</p>

<p>“Berhenti memanggilku seperti itu, hei!”</p>

<p>Menolak hal seperti itu, jujur saja ia memang kesal. Namun, tangannya bergerak mengambil sesuatu dan memakaikan sebuah jubah ke tubuh [Name].</p>

<p>“Lagipula ini musim dingin, wajar saja dingin kau tahu?”</p>

<p>Melanjutkan sesuatu yang terpotong baru saja, ia menjelaskan seperti ia tahu bahwa yang dirasakan antara keduanya.</p>

<p>Dalam percakapan kali ini, Nezu yang merupakan lelaki tersebut. Ia tidak memahami arti musim dingin, pada awalnya.</p>

<p>Namun disebabkan suatu kejadian, ia mengetahui maksud terselubung dari gadis yang berada dihadapannya ini.</p>

<p>“Tunggu, ini kau yang membuatnya? Bagaiman-”</p>

<p>“Kau kalau terus bicara, mau kedinginan? Sudah tau tak tahan dingin. Kenapa nekat?”</p>

<p>“Ck! Iya, iya. Aku salah,” balas [Name] yang sepertinya kesal, jika musti berdebat dengan Nezu.</p>

<p>Secarik kehangatan tercipta, beberapa kali kelopak matanya menerjap pelan, terkadang mengedipkan beberapa kali.</p>

<p>Tidak mempercayai apa yang dilakukan oleh Nezu. Dengan tangannya yang ternyata menepuk-nepuk kepala [Name] lembut, kemudian memasangkan sesuatu.</p>

<p>“Nah, bagaimana sekarang? Sudah lebih baikan? Tidak dingin lagi, bukan?”</p>

<p>Ia ragu, bila sudah berhadapan dengan situasi canggung seperti apa yang terjadi kali ini. Semburat merah tipis di wajah [Name].</p>

<p>“Hm, sudah ... lalu, bagaimana dengan dirimu?”</p>

<p>Hanya tertawa pelan, merasa tak yakin dengan jawaban yang dikeluarkan. Menampilkan deretan gigi putihnya.</p>

<p>“Tentu saja, aku membuatnya lebih! Untukmu dan untukku, ahaha.”</p>

<p>Musim dingin dengan banyaknya ucapan.</p>

<p>Sensasi lembut, suatu seputih salju mulai menghujani kedua pasang insan yang beranjak remaja. Membiarkan keduanya berada dalam keheningan sesaat.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/winter</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 10:34:26 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Photo.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/photo?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Chakuro × Reader.&#xA;  #KujiranoKorawaSajouniUtau Fanfiction.&#xA;&#xA;Day 10 of #SimpTember 2021. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA; Berpikir siapa dan apa yang berada ditangan. Sebuah kertas terlihat terbang, dan dia memungutnya. Memperlihatkan sebuah gambaran, yakni sebuah foto. Namun, dia sama sekali tak tahu apa itu.&#xA;&#xA;&#34;Yo, Chakuro!&#34;&#xA;&#xA;Terdengar sapaan tidak asing baginya, guna melihat ia pun menoleh ke mana ada sosoknya. Dilihatnya seorang gadis, kedatangan menjadikan sudut bibir tertarik, membentu suatu senyuman kecil.&#xA;&#xA;&#34;Um, [Name]. Ada apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tidak ada, aku hanya bosan~ huh? Apa yang kau pegang?&#34;&#xA;&#xA;Manik [Name] mengunci pandangan sesuatu yang dipegang oleh Chakuro. Rambut cokelatnya diterpa oleh angin, menjadikan berantakan semakin menjadi. Walau terasa terbang sedikit, dia tetap memegang sesuatu itu dengan baik.&#xA;&#xA;&#34;Anginnya kuat sekali ....&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sudah biasa, bukan? Ah, ya. Apa kau mengetahui ini, [Name]?&#xA;&#xA;Ternyata gumaman kecil [Name] bisa terdengar, merasa dipanggil oleh lawan bicara, melirik dari ekor mata kemudian seutuhnya dialihkan ke hadapan. &#34;Entahlah. Aku melupakannya, lagipula itu sudah lama semenjak aku berada disini ... jadi, aku lupa sesuatu itu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oi, kalian berdua! Apa kalian melihat foto yang terbang ke arah sini?&#34;&#xA;&#xA;Suatu suara teriakan, menjadikan keduanya menatap siapa yang memanggilnya. Walau hal tersebut bukanlah panggilan sebenarnya. &#34;Eh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Loh? Kalian memegangnya! Kembalikan sini,&#34;&#xA;&#xA;Merampas sesuatu ditangan Chakuro, menjadikan kedua netranya seketika berbinar. &#34;Hei, apakah itu yang disebut foto?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hah? Tidak sopan. Bagaimana kalian bahkan tidak tahu apa itu &#39;foto&#39;, yang benar saja?&#34;&#xA;&#xA;Saling menatap sama lain, tiba-tiba [Name] menepuk tangannya. &#34;Ah aku ingat, jangan bilang itu adalah foto masa kecilmu?&#34;&#xA;&#xA;Mendengar hal tersebut, mendelik ke arah gadis tersebut. Entah mengapa tiba-tiba wajahnya memerah akibat malu. &#34;Ck! Memalukan, dan kau sepertinya tahu?&#34;&#xA;&#xA;Hanya sebuah senyum kecil yang ia lakukan. Chakuro sendiri tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Masih ada banyak pemikiran, tentang foto tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Itu adalah kertas namun, bisa memperlihatkan sebuah gambaran.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hee, lalu bagaimana caranya itu? Apakah dilukis? Atau sesuatu yang lain?&#34;&#xA;&#xA;Memijat pelipisnya sudah lelah dengan beragam pertanyaan. Melirik ke arah [Name]. &#34;Biar dia saja yang jelaskan, sampai jumpa.&#34;&#xA;&#xA;Sudah berbalik meninggalkan keduanya. Kurang ajar! Berbisik dalam hati, [Name] memberikan kata umpatan secara tak langsung.&#xA;&#xA;&#34;[Name] tidak melupakannya?!&#34;&#xA;&#xA;Bahkan bisa ia lihat bagaimana berkilauan, netra hijau tersebut. Secuil senyuman dengan satu mata menutup, dan jari telunjuk menyentuh bibir ranum miliknya. &#34;Tentu saja itu adalah rahasia~&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh, ayolah [Name]!&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Chakuro × Reader.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:KujiranoKorawaSajouniUtau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">KujiranoKorawaSajouniUtau</span></a> Fanfiction.</p></blockquote>

<p><em>Day 10 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</em> </p>

<hr/>

<p> Berpikir siapa dan apa yang berada ditangan. Sebuah kertas terlihat terbang, dan dia memungutnya. Memperlihatkan sebuah gambaran, yakni sebuah foto. Namun, dia sama sekali tak tahu apa itu.</p>

<p>“Yo, Chakuro!”</p>

<p>Terdengar sapaan tidak asing baginya, guna melihat ia pun menoleh ke mana ada sosoknya. Dilihatnya seorang gadis, kedatangan menjadikan sudut bibir tertarik, membentu suatu senyuman kecil.</p>

<p>“Um, [Name]. Ada apa?”</p>

<p>“Tidak ada, aku hanya bosan~ huh? Apa yang kau pegang?”</p>

<p>Manik [Name] mengunci pandangan sesuatu yang dipegang oleh Chakuro. Rambut cokelatnya diterpa oleh angin, menjadikan berantakan semakin menjadi. Walau terasa terbang sedikit, dia tetap memegang sesuatu itu dengan baik.</p>

<p>“Anginnya kuat sekali ....”</p>

<p>“Sudah biasa, bukan? Ah, ya. Apa kau mengetahui ini, [Name]?</p>

<p>Ternyata gumaman kecil [Name] bisa terdengar, merasa dipanggil oleh lawan bicara, melirik dari ekor mata kemudian seutuhnya dialihkan ke hadapan. “Entahlah. Aku melupakannya, lagipula itu sudah lama semenjak aku berada disini ... jadi, aku lupa sesuatu itu.”</p>

<p>“Oi, kalian berdua! Apa kalian melihat foto yang terbang ke arah sini?”</p>

<p>Suatu suara teriakan, menjadikan keduanya menatap siapa yang memanggilnya. Walau hal tersebut bukanlah panggilan sebenarnya. “Eh?”</p>

<p>“Loh? Kalian memegangnya! Kembalikan sini,”</p>

<p>Merampas sesuatu ditangan Chakuro, menjadikan kedua netranya seketika berbinar. “Hei, apakah itu yang disebut foto?”</p>

<p>“Hah? Tidak sopan. Bagaimana kalian bahkan tidak tahu apa itu &#39;foto&#39;, yang benar saja?”</p>

<p>Saling menatap sama lain, tiba-tiba [Name] menepuk tangannya. “Ah aku ingat, jangan bilang itu adalah foto masa kecilmu?”</p>

<p>Mendengar hal tersebut, mendelik ke arah gadis tersebut. Entah mengapa tiba-tiba wajahnya memerah akibat malu. “Ck! Memalukan, dan kau sepertinya tahu?”</p>

<p>Hanya sebuah senyum kecil yang ia lakukan. Chakuro sendiri tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Masih ada banyak pemikiran, tentang foto tersebut.</p>

<p>“Itu adalah kertas namun, bisa memperlihatkan sebuah gambaran.”</p>

<p>“Hee, lalu bagaimana caranya itu? Apakah dilukis? Atau sesuatu yang lain?”</p>

<p>Memijat pelipisnya sudah lelah dengan beragam pertanyaan. Melirik ke arah [Name]. “Biar dia saja yang jelaskan, sampai jumpa.”</p>

<p>Sudah berbalik meninggalkan keduanya. Kurang ajar! Berbisik dalam hati, [Name] memberikan kata umpatan secara tak langsung.</p>

<p>“[Name] tidak melupakannya?!”</p>

<p>Bahkan bisa ia lihat bagaimana berkilauan, netra hijau tersebut. Secuil senyuman dengan satu mata menutup, dan jari telunjuk menyentuh bibir ranum miliknya. “Tentu saja itu adalah rahasia~”</p>

<p>“Oh, ayolah [Name]!”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/photo</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 10:07:19 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Smile.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/smile?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Ouni × Reader.&#xA;  #KujiranoKorawaSajouniUtau Fanfiction.&#xA;&#xA;Day 4 of #SimpTember 2021. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Biasa hanya terlihat tanpa ekspresi. Selagi tak penting maka tak akan bicara. Katanya membuang-buang waktu saja, lebih baik aku segera keluar dari tempat ini, begitu.&#xA;&#xA;Wilayah Paus Lumpur di mana para pendosa tersingkirkan, sengaja dikucilkan dari dunia yang lebih luas. Namun nyatanya mereka tak juga seperti apa yang dikira. Semenjak kematian temannya dia. Rasa-rasa tak bisa digapai pun semakin jauh.&#xA;&#xA;Ingin mengembalikan senyuman dirinya, seperti hari itu. [Name] berusaha mencoba mendekati dirinya. Figur indah selalu membuat terpana, sesekali terdiam ketika mengikutinya.&#xA;&#xA;Rambut panjang berwarna ungu tua, dengan kuncir kuda berantakan. Seakan menjadi khas tersendiri bagi penampilannya. Juga netranya yang merupakan campuran warna biru dan ungu, seakan menjadikan sesuatu yang spesial.&#xA;&#xA;Namanya adalah Ouni. [Name] tahu, dia selalu memiliki keinginan yang kuat untuk melihat dunia luar Paus Lumpur. Chakuro yang bergabung dengan dia akhir-akhir ini, menyimpulkan bahwasannya Ouni peduli terhadap teman-temannya.&#xA;&#xA;Hanya saja tak mengerti bagaimana cara melakukannya. Bahkan dia sendiri sering kali tidak mengekspresikan emosi dengan sangat mudah. Itu terjadi hanya ketika dia benar-benar merasakan hal yang dinamakan emosi.&#xA;&#xA;Sahabat Ouni, sudah saling kenal sejak kecil. Nibi merupakan orang yang paling dekat dengan hati Ouni. Ketika Nibi meninggal, Ouni menangis untuk pertama kalinya, dan menyatakan bahwa jika bukan karena dia, dia tidak akan pernah punya alasan untuk hidup.&#xA;&#xA;Benar, sulit memang rasanya melepaskan kepergian. Keadaan seperti itu malah akan membuat dirinya berada dalam kondisi terpuruk. Beragam upaya yang dilakukan oleh [Name].&#xA;&#xA;&#34;Ouni,&#34;&#xA;&#xA;Hanya sebuah sahutan tanpa berbalik. &#34;Ada apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan memaksakan dirimu.&#34;&#xA;&#xA;Tak diduga dia menoleh ke arah [Name]. &#34;Tidak masalah,&#34; ucapnya.&#xA;&#xA;Setelah itu kembali sibuk dengan apa kegiatannya. Tempatnya tidak lagi dipenjara, membuat [Name] merasa sedikit lebih tenang. &#34;Ouni, [Name]?&#34; Menemukan sosok anak lelaki berdiri disana.&#xA;&#xA;Keduanya menoleh mendapati dirimya memanggil mereka. Memiliki surai cokelat pendek berantakan, mata hijau layaknya tumbuhan. &#34;Ada apa Chakuro?&#34; Panggilan itu membuat dia tersadar akan lamunan.&#xA;&#xA;&#34;Sudah waktunya makan, dan kita mendapatkan seorang tamu!&#34;&#xA;&#xA;Benar-benar bersemangat. &#34;Pergilah duluan, aku akan menyusul belakangan.&#34; Kembali kepada kegiatan yang sedari tadi Ia kerjakan. Menatap khawatir, [Name] mengulas senyum kecil.&#xA;&#xA;Tidak buruk, ya.&#xA;&#xA;Chakuro mengangguki kemudian pergi, baru saja ingin keluar. [Name] memegang bahu Ouni, entah bagaimana malah dilirik pada akhirnya. &#34;Apa yang kau lakukan?&#34;&#xA;&#xA;Ujung jari telunjuk menempel pada bibir. &#34;Membuatmu kembali tersenyum,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hah?&#34;&#xA;&#xA;Sebuah gelengan pelan, kedua alis [Name] mengartikan tidak ada masalah. &#34;Apa kau masih mengingat dia?&#34; Terdiam adalah satu kondisi di mana keduanya berada sekarang.&#xA;&#xA;&#34;Ah, maaf aku tidak sopan lagi- aku hanya khawatir,&#34; gumam kecil pada akhiran. Tak menjadi masalah bagi pendengaran Ouni.&#xA;&#xA;Sebuah tangan menepuk kepalanya. &#34;Baik, terima kasih untuk itu. Aku tidak apa-apa,&#34; balasnya.&#xA;&#xA;Rasa seperti bukan dirinya.&#xA;&#xA;&#34;Aku mencoba menahan diri, lagipula masih ada kau dengan yang lain.&#34;&#xA;&#xA;Benar, seperti inilah yang diharapkan.&#xA;&#xA;&#34;Perlu aku bawakan makanan juga?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tidak, nanti aku akan ke sana.&#34;&#xA;&#xA;Hah, memang sulit nyatanya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Ouni × Reader.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:KujiranoKorawaSajouniUtau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">KujiranoKorawaSajouniUtau</span></a> Fanfiction.</p></blockquote>

<p><em>Day 4 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</em> </p>

<hr/>

<p>Biasa hanya terlihat tanpa ekspresi. Selagi tak penting maka tak akan bicara. Katanya membuang-buang waktu saja, lebih baik aku segera keluar dari tempat ini, begitu.</p>

<p>Wilayah Paus Lumpur di mana para pendosa tersingkirkan, sengaja dikucilkan dari dunia yang lebih luas. Namun nyatanya mereka tak juga seperti apa yang dikira. Semenjak kematian temannya dia. Rasa-rasa tak bisa digapai pun semakin jauh.</p>

<p>Ingin mengembalikan senyuman dirinya, seperti hari itu. [Name] berusaha mencoba mendekati dirinya. Figur indah selalu membuat terpana, sesekali terdiam ketika mengikutinya.</p>

<p>Rambut panjang berwarna ungu tua, dengan kuncir kuda berantakan. Seakan menjadi khas tersendiri bagi penampilannya. Juga netranya yang merupakan campuran warna biru dan ungu, seakan menjadikan sesuatu yang spesial.</p>

<p>Namanya adalah Ouni. [Name] tahu, dia selalu memiliki keinginan yang kuat untuk melihat dunia luar Paus Lumpur. Chakuro yang bergabung dengan dia akhir-akhir ini, menyimpulkan bahwasannya Ouni peduli terhadap teman-temannya.</p>

<p>Hanya saja tak mengerti bagaimana cara melakukannya. Bahkan dia sendiri sering kali tidak mengekspresikan emosi dengan sangat mudah. Itu terjadi hanya ketika dia benar-benar merasakan hal yang dinamakan emosi.</p>

<p>Sahabat Ouni, sudah saling kenal sejak kecil. Nibi merupakan orang yang paling dekat dengan hati Ouni. Ketika Nibi meninggal, Ouni menangis untuk pertama kalinya, dan menyatakan bahwa jika bukan karena dia, dia tidak akan pernah punya alasan untuk hidup.</p>

<p>Benar, sulit memang rasanya melepaskan kepergian. Keadaan seperti itu malah akan membuat dirinya berada dalam kondisi terpuruk. Beragam upaya yang dilakukan oleh [Name].</p>

<p>“Ouni,”</p>

<p>Hanya sebuah sahutan tanpa berbalik. “Ada apa?”</p>

<p>“Jangan memaksakan dirimu.”</p>

<p>Tak diduga dia menoleh ke arah [Name]. “Tidak masalah,” ucapnya.</p>

<p>Setelah itu kembali sibuk dengan apa kegiatannya. Tempatnya tidak lagi dipenjara, membuat [Name] merasa sedikit lebih tenang. “Ouni, [Name]?” Menemukan sosok anak lelaki berdiri disana.</p>

<p>Keduanya menoleh mendapati dirimya memanggil mereka. Memiliki surai cokelat pendek berantakan, mata hijau layaknya tumbuhan. “Ada apa Chakuro?” Panggilan itu membuat dia tersadar akan lamunan.</p>

<p>“Sudah waktunya makan, dan kita mendapatkan seorang tamu!”</p>

<p>Benar-benar bersemangat. “Pergilah duluan, aku akan menyusul belakangan.” Kembali kepada kegiatan yang sedari tadi Ia kerjakan. Menatap khawatir, [Name] mengulas senyum kecil.</p>

<p>Tidak buruk, ya.</p>

<p>Chakuro mengangguki kemudian pergi, baru saja ingin keluar. [Name] memegang bahu Ouni, entah bagaimana malah dilirik pada akhirnya. “Apa yang kau lakukan?”</p>

<p>Ujung jari telunjuk menempel pada bibir. “Membuatmu kembali tersenyum,”</p>

<p>“Hah?”</p>

<p>Sebuah gelengan pelan, kedua alis [Name] mengartikan tidak ada masalah. “Apa kau masih mengingat dia?” Terdiam adalah satu kondisi di mana keduanya berada sekarang.</p>

<p>“Ah, maaf aku tidak sopan lagi- aku hanya khawatir,” gumam kecil pada akhiran. Tak menjadi masalah bagi pendengaran Ouni.</p>

<p>Sebuah tangan menepuk kepalanya. “Baik, terima kasih untuk itu. Aku tidak apa-apa,” balasnya.</p>

<p><em>Rasa seperti bukan dirinya.</em></p>

<p>“Aku mencoba menahan diri, lagipula masih ada kau dengan yang lain.”</p>

<p><em>Benar, seperti inilah yang diharapkan.</em></p>

<p>“Perlu aku bawakan makanan juga?”</p>

<p>“Tidak, nanti aku akan ke sana.”</p>

<p><em>Hah, memang sulit nyatanya.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/smile</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 09:26:48 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>