<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>EnsembleStars &amp;mdash; reeinshiyu</title>
    <link>https://reeinshiyu.writeas.com/tag:EnsembleStars</link>
    <description>Seluruh kisah yang dikhususkan kepada mereka yang berkenan untuk membacanya.</description>
    <pubDate>Thu, 14 May 2026 00:53:19 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Sekadar Bertemu</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/sekadar-bertemu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Hidaka Hokuto × Hizafa Rein.&#xA;  #FaureYume; #HokuRein.&#xA;&#xA;   If only, his wish would be granted through that opportunity.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #EnsembleStars © Happy Elements K.K, David Production. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Itu telah terjadi beberapa bulan yang lalu. Di mana ia mendapati sebuah pemberitahuan kalau unitnya akan mengadakan penampilan kembali.&#xA;&#xA;   Latihan yang dilakukan terasa padat seiring berjalannya waktu, tak bisa dipungkiri kalau mereka perlu menampilkan sesuatu yang akan membuat orang terkagum berkat performa yang dilakukan.&#xA;&#xA;   &#34;Huh~ aku ingin istirahat!&#34; Berkat ucapan dari pemuda surai oranye, ia jadi bisa mengatur kembali pernapasan. Ia mengambil langkah menjeda kegiatan.&#xA;&#xA;   Sementara kedua temannya menyetujui hal tersebut. &#34;Benar juga lebih baik istirahat terlebih dahulu.&#34; Lelaki berkacamata itu mulai mengelap keringat yang membasahi pelipisnya.&#xA;&#xA;   Hingga suara lainnya mengalihkan perhatian mereka, &#34;Ah, minumanku sepertinya habis. Aku ingin membelinya, ada yang ingin menitip sekalian?&#34; tanyanya.&#xA;&#xA;   &#34;Aku mau! Titip minuman dingin ya, Sally~&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ya. Bagaimana Hokuto sama Makoto, ingin titip juga?&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ah, tidak perlu. Air minumku masih ada, tetapi milik Yuuki sepertinya sudah habis.&#34;&#xA;&#xA;   Menggaruk pipinya tidak gatal. &#34;Sepertinya boleh juga, ah, aku mau membeli sesuatu juga. Isara-kun, aku ikut juga, ya.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ya, tentu.&#34;&#xA;&#xA;   Pada akhirnya mereka berdua pergi bersama. Menyisakan kedua orang disana. Lelaki yang dipanggil Hokuto tadi terlihat melamun. Tidak seperti biasanya.&#xA;&#xA;   &#34;Hokke!&#34;&#xA;&#xA;   Ia tersentak. Suara yang tidak asing menguar ketelinga miliknya. &#34;Ada apa, Akehoshi?&#34; tanyanya seperti biasa.&#xA;&#xA;   &#34;Hmph, sedari tadi aku panggil dirimu melamun. Coba ceritakan padaku, apa yang kau pikirkan?&#34;&#xA;&#xA;   Akehoshi menyadari bahwa gerak-gerik Hokuto tidak seperti apa yang biasa lihat. Sedikit suram, mungkin? Ah, tidak-tidak.&#xA;&#xA;   &#34;Tidak ada.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Bohong sekali. Dari ekspresimu saja, aku melihat kalau ada yang tidak beres.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Bukan hal yang penting.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Aku tidak percaya.&#34;&#xA;&#xA;   Hidaka Hokuto, itulah namanya. Mulai menghela napas panjang. Entah apa yang membuat teman satu unitnya, Trickstar. Bisa menjadi sepenasaran ini terhadap masalah dirinya.&#xA;&#xA;   &#34;Urusannya dengan Klub Teater.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Lalu?&#34; Baiklah, sekarang Akehoshi Subaru itu semakin penasaran. Bagaimana pun juga, sekarang Hokuto menjadi ketua dari klub tersebut.&#xA;&#xA;   &#34;Akan ada pementasan dalam waktu dekat, jadi—&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Kami kembali.&#34;&#xA;&#xA;   Perkataan Hokuto terpotong. Mendapati kedua temannya yang telah kembali dari berbelanja. &#34;Kalian hanya membeli minuman, terus mengapa jadi sebanyak ini?&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ah, itu karena kita belum makan. Kita sudah berada disini setelah kegiatan sekolah berakhir, jadi perlu mengisi tenaga lagi.&#34;&#xA;&#xA;   Kalau dipikir kembali, mereka berlatih dan mengulangi gerakan tanpa melihat waktu. Selagi ada kesempatan untuk menjeda kegiatan, inilah waktu yang bagus untuk mengisi tenaga.&#xA;&#xA;   &#34;Ya. Kalian semua terlalu bersemangat, sampai melupakan waktu makan,&#34; sahut Yuuki Makoto, si pemuda bersurai kuning dengan kacamata bertengger dihidungnya.&#xA;&#xA;   &#34;Hehe~&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Kalau begitu, ayo makan!&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Selamat makan.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Suasananya entah mengapa menjadi canggung. Padahal, sewaktu tiba ia tak merasakan hal seperti ini. Isara Mao, telah dihujani pertanyaan oleh Subaru. Tentang Hokuto dan klubnya. Sesuai apa yang Subaru duga, Mao mengetahui kegiatan tersebut.&#xA;&#xA;   Mao melirik Hokuto sekilas. Entah mengapa ia menjadi tidak tenang sekarang. &#34;Akehoshi-kun, tenanglah. Hidaka-kun pasti memiliki alasan tersendiri kenapa tidak memberitahukannya,&#34; ucapnya mencoba menengahi pembicaraan.&#xA;&#xA;   &#34;Tetapi, kalau tidak begitu ... Hokke akan terus menutupinya,&#34; katanya.&#xA;&#xA;   &#34;Hei, aku tak seperti itu.&#34;&#xA;&#xA;   Mao mendapati perdebatan kembali.  Ia mulai batuk pelan, berusaha mengarahkan atensi mereka menatap kepada dirinya.&#xA;&#xA;   &#34;Baiklah, berhubung Hokuto juga sudah mengatakannya tadi dengan Subaru. Aku akan mengatakan sedikit saja. Klub Teater akan mengadakan penampilan, sehari sebelum Trickstar mengadakan penampilan. Peran Hokuto juga tidak begitu banyak, karena dia juga berada di kelas akhir seperti kita. Adik kelas kitalah yang nanti akan melakukannya, tetapi dia tetap berusaha untuk ikut tampil disana.&#34;&#xA;&#xA;   Mendengar pernyataan tersebut membuat Makoto merasa khawatir. &#34;Hidaka-kun, jangan terlalu memaksakan diri,&#34; ujarnya.&#xA;&#xA;   &#34;Hokke selalu saja begitu~!&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Aku tidak memaksakan diri. Malah, yang sering kali memaksakan diri itu Isara.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ehh? Kenapa jadi aku juga?&#34; Isara entah mengapa tidak terima kalau ia ikut terlibat. Meskipun begitu ia memang terlibat banyak organisasi sekolah.&#xA;&#xA;   &#34;Kalian berdua sama saja, sering kali memaksakan diri. Tolong ingat dengan kesehatan kalian, karena kita perlu tampil bersama sebagai Trickstar, bukan?&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ya, itu benar.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   &#34;Sangat melelahkan~&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ya, hari ini cukup padat dari dugaan.&#34;&#xA;&#xA;   Mereka saling bertukar pendapat satu sama lain. Hingga mereka mulai memutuskan untuk berpisah dan kembali ke dorm masing-masing.&#xA;&#xA;   Akan tetapi, sebelum Hokuto memutuskan kembali ia mengunjungi suatu toko. Dikala ia menghadapi hari-hari yang berat, makanan kesukaannya akan menjadi penyemangat.&#xA;&#xA;   Berhubung hari belum terlalu larut, walau begitu senja mulai tercipta dilangit. Menandakan bahwa gelap akan merampas semua cahayanya, kendati akan bertabur oleh bintang nanti.&#xA;&#xA;   Perasaannya yang terasa lega, setelah mendengarkan perkataan hangat teman satu unitnya. Entah mengapa membuat ia berjalan dengan senyum tercipta.&#xA;&#xA;   &#34;Persediaan konpeito yang ada di dorm sebentar lagi habis, aku harus membeli beberapa.&#34;&#xA;&#xA;   Benar makanan kesukaannya adalah konpeito. Ialah permen tradisional yang dahulunya diberikan oleh sang Nenek, ketika ia merasa sedih. Seiring pertumbuhannya menjadi remaja, ia semakin menyukainya.&#xA;&#xA;   Ditambah bentuk yang akan segera menarik perhatian, bentuk bintang dan berwarna-warni serta memiliki rasa manis. Terkadang hal itu, mengingatkannya pada masa lalu.&#xA;&#xA;   Setelah mendapatkannya, ia berpapasan tanpa bertukar sapa dengan seseorang yang memang asing terhadapnya. Tidak biasa.&#xA;&#xA;   Namun, berkat hal itu ia sedikit lega. Karena tiada yang mengenali dirinya yang memiliki karir sebagai Idola. Namun, kalau saja ia mengetahuinya itulah pertemuan yang menjadikan dirinya seperti di masa depan nanti.&#xA;&#xA;   Figur indah itu terlihat seperti orang yang telah dewasa. Ah, mungkin saja demikian, benar? Tinggi badan bukanlah menjadi salah satu alasannya. Mengingat orang itu tidak begitu tinggi. Seorang perempuan dengan rambut abu-abu yang tergerai.&#xA;&#xA;   Entah mengapa ia menjadi bisa mengingatnya. Padahal mereka, hanya sekadar bertemu sekilas. Belum tentu dikesempatan yang lain, akan kembali bertemu, benar?&#xA;&#xA;   Ya, belum tentu ada kesempatan.&#xA;&#xA;   To Be Continued.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Hidaka Hokuto × Hizafa Rein.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:HokuRein" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">HokuRein</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>If only, his wish would be granted through that opportunity.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:EnsembleStars" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">EnsembleStars</span></a> © Happy Elements K.K, David Production. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   Itu telah terjadi beberapa bulan yang lalu. Di mana ia mendapati sebuah pemberitahuan kalau unitnya akan mengadakan penampilan kembali.</p>

<p>   Latihan yang dilakukan terasa padat seiring berjalannya waktu, tak bisa dipungkiri kalau mereka perlu menampilkan sesuatu yang akan membuat orang terkagum berkat performa yang dilakukan.</p>

<p>   “Huh~ aku ingin istirahat!” Berkat ucapan dari pemuda surai oranye, ia jadi bisa mengatur kembali pernapasan. Ia mengambil langkah menjeda kegiatan.</p>

<p>   Sementara kedua temannya menyetujui hal tersebut. “Benar juga lebih baik istirahat terlebih dahulu.” Lelaki berkacamata itu mulai mengelap keringat yang membasahi pelipisnya.</p>

<p>   Hingga suara lainnya mengalihkan perhatian mereka, “Ah, minumanku sepertinya habis. Aku ingin membelinya, ada yang ingin menitip sekalian?” tanyanya.</p>

<p>   “Aku mau! Titip minuman dingin ya, <em>Sally~</em>“</p>

<p>   “Ya. Bagaimana Hokuto sama Makoto, ingin titip juga?”</p>

<p>   “Ah, tidak perlu. Air minumku masih ada, tetapi milik Yuuki sepertinya sudah habis.”</p>

<p>   Menggaruk pipinya tidak gatal. “Sepertinya boleh juga, ah, aku mau membeli sesuatu juga. Isara-<em>kun</em>, aku ikut juga, ya.”</p>

<p>   “Ya, tentu.”</p>

<p>   Pada akhirnya mereka berdua pergi bersama. Menyisakan kedua orang disana. Lelaki yang dipanggil Hokuto tadi terlihat melamun. Tidak seperti biasanya.</p>

<p>   “<em>Hokke</em>!”</p>

<p>   Ia tersentak. Suara yang tidak asing menguar ketelinga miliknya. “Ada apa, Akehoshi?” tanyanya seperti biasa.</p>

<p>   “Hmph, sedari tadi aku panggil dirimu melamun. Coba ceritakan padaku, apa yang kau pikirkan?”</p>

<p>   Akehoshi menyadari bahwa gerak-gerik Hokuto tidak seperti apa yang biasa lihat. Sedikit suram, mungkin? Ah, tidak-tidak.</p>

<p>   “Tidak ada.”</p>

<p>   “Bohong sekali. Dari ekspresimu saja, aku melihat kalau ada yang tidak beres.”</p>

<p>   “Bukan hal yang penting.”</p>

<p>   “Aku tidak percaya.”</p>

<p>   Hidaka Hokuto, itulah namanya. Mulai menghela napas panjang. Entah apa yang membuat teman satu unitnya, Trickstar. Bisa menjadi sepenasaran ini terhadap masalah dirinya.</p>

<p>   “Urusannya dengan Klub Teater.”</p>

<p>   “Lalu?” Baiklah, sekarang Akehoshi Subaru itu semakin penasaran. Bagaimana pun juga, sekarang Hokuto menjadi ketua dari klub tersebut.</p>

<p>   “Akan ada pementasan dalam waktu dekat, jadi—”</p>

<p>   “Kami kembali.”</p>

<p>   Perkataan Hokuto terpotong. Mendapati kedua temannya yang telah kembali dari berbelanja. “Kalian hanya membeli minuman, terus mengapa jadi sebanyak ini?”</p>

<p>   “Ah, itu karena kita belum makan. Kita sudah berada disini setelah kegiatan sekolah berakhir, jadi perlu mengisi tenaga lagi.”</p>

<p>   Kalau dipikir kembali, mereka berlatih dan mengulangi gerakan tanpa melihat waktu. Selagi ada kesempatan untuk menjeda kegiatan, inilah waktu yang bagus untuk mengisi tenaga.</p>

<p>   “Ya. Kalian semua terlalu bersemangat, sampai melupakan waktu makan,” sahut Yuuki Makoto, si pemuda bersurai kuning dengan kacamata bertengger dihidungnya.</p>

<p>   “Hehe~”</p>

<p>   “Kalau begitu, ayo makan!”</p>

<p>   “Selamat makan.”</p>

<hr/>

<p>   Suasananya entah mengapa menjadi canggung. Padahal, sewaktu tiba ia tak merasakan hal seperti ini. Isara Mao, telah dihujani pertanyaan oleh Subaru. Tentang Hokuto dan klubnya. Sesuai apa yang Subaru duga, Mao mengetahui kegiatan tersebut.</p>

<p>   Mao melirik Hokuto sekilas. Entah mengapa ia menjadi tidak tenang sekarang. “Akehoshi-<em>kun</em>, tenanglah. Hidaka-<em>kun</em> pasti memiliki alasan tersendiri kenapa tidak memberitahukannya,” ucapnya mencoba menengahi pembicaraan.</p>

<p>   “Tetapi, kalau tidak begitu ... Hokke akan terus menutupinya,” katanya.</p>

<p>   “Hei, aku tak seperti itu.”</p>

<p>   Mao mendapati perdebatan kembali.  Ia mulai batuk pelan, berusaha mengarahkan atensi mereka menatap kepada dirinya.</p>

<p>   “Baiklah, berhubung Hokuto juga sudah mengatakannya tadi dengan Subaru. Aku akan mengatakan sedikit saja. Klub Teater akan mengadakan penampilan, sehari sebelum Trickstar mengadakan penampilan. Peran Hokuto juga tidak begitu banyak, karena dia juga berada di kelas akhir seperti kita. Adik kelas kitalah yang nanti akan melakukannya, tetapi dia tetap berusaha untuk ikut tampil disana.”</p>

<p>   Mendengar pernyataan tersebut membuat Makoto merasa khawatir. “Hidaka-<em>kun</em>, jangan terlalu memaksakan diri,” ujarnya.</p>

<p>   “<em>Hokke</em> selalu saja begitu~!”</p>

<p>   “Aku tidak memaksakan diri. Malah, yang sering kali memaksakan diri itu Isara.”</p>

<p>   “Ehh? Kenapa jadi aku juga?” Isara entah mengapa tidak terima kalau ia ikut terlibat. Meskipun begitu ia memang terlibat banyak organisasi sekolah.</p>

<p>   “Kalian berdua sama saja, sering kali memaksakan diri. Tolong ingat dengan kesehatan kalian, karena kita perlu tampil bersama sebagai Trickstar, bukan?”</p>

<p>   “Ya, itu benar.”</p>

<hr/>

<p>   “Sangat melelahkan~”</p>

<p>   “Ya, hari ini cukup padat dari dugaan.”</p>

<p>   Mereka saling bertukar pendapat satu sama lain. Hingga mereka mulai memutuskan untuk berpisah dan kembali ke <em>dorm</em> masing-masing.</p>

<p>   Akan tetapi, sebelum Hokuto memutuskan kembali ia mengunjungi suatu toko. Dikala ia menghadapi hari-hari yang berat, makanan kesukaannya akan menjadi penyemangat.</p>

<p>   Berhubung hari belum terlalu larut, walau begitu senja mulai tercipta dilangit. Menandakan bahwa gelap akan merampas semua cahayanya, kendati akan bertabur oleh bintang nanti.</p>

<p>   Perasaannya yang terasa lega, setelah mendengarkan perkataan hangat teman satu unitnya. Entah mengapa membuat ia berjalan dengan senyum tercipta.</p>

<p>   “Persediaan <em>konpeito</em> yang ada di <em>dorm</em> sebentar lagi habis, aku harus membeli beberapa.”</p>

<p>   Benar makanan kesukaannya adalah <em>konpeito</em>. Ialah permen tradisional yang dahulunya diberikan oleh sang Nenek, ketika ia merasa sedih. Seiring pertumbuhannya menjadi remaja, ia semakin menyukainya.</p>

<p>   Ditambah bentuk yang akan segera menarik perhatian, bentuk bintang dan berwarna-warni serta memiliki rasa manis. Terkadang hal itu, mengingatkannya pada masa lalu.</p>

<p>   Setelah mendapatkannya, ia berpapasan tanpa bertukar sapa dengan seseorang yang memang asing terhadapnya. Tidak biasa.</p>

<p>   Namun, berkat hal itu ia sedikit lega. Karena tiada yang mengenali dirinya yang memiliki karir sebagai Idola. Namun, kalau saja ia mengetahuinya itulah pertemuan yang menjadikan dirinya seperti di masa depan nanti.</p>

<p>   Figur indah itu terlihat seperti orang yang telah dewasa. Ah, mungkin saja demikian, benar? Tinggi badan bukanlah menjadi salah satu alasannya. Mengingat orang itu tidak begitu tinggi. Seorang perempuan dengan rambut abu-abu yang tergerai.</p>

<p>   Entah mengapa ia menjadi bisa mengingatnya. Padahal mereka, hanya sekadar bertemu sekilas. Belum tentu dikesempatan yang lain, akan kembali bertemu, benar?</p>

<p>   <em>Ya, belum tentu ada kesempatan.</em></p>

<p>   <strong>To Be Continued.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/sekadar-bertemu</guid>
      <pubDate>Mon, 19 Dec 2022 23:29:00 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Belajar Sekarang atau Aku Pergi Sendiri?</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/belajar-sekarang-atau-aku-pergi-sendiri?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Sazanami Jun × Nikishima Kumiko.&#xA;  #FaureTrade; #JunKumi.&#xA;&#xA;   Spending time together is more fun, even if the conditions are not supportive.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #EnsembleStars © Happy Elements K.K, David Production. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Meracau tidak jelas, itulah yang dilakukan sang gadis dengan helaian rambut biru muda, sembari memalingkan wajah dari laki-laki yang berada di sampingnya itu.&#xA;&#xA;   &#34;Hei, jangan mengambek seperti itu dikala belajar,&#34; celetuknya, berusaha membuat si gadis melanjutkan belajar.&#xA;&#xA;   Nikishima Kumiko namanya, ditemani oleh Sazanami Jun. Tak disangka kalau ia akan terlibat dalam kondisi seperti ini. Mendengar pernyataan dari si lelaki, ia mengutarakan sesuatu, &#34;Aku sudah bilang padamu kalau tidak suka belajar, Jun-kun!&#34;&#xA;&#xA;   Jun mulai terlihat kesal sekarang, bukan pertama kalinya Kumiko bersikap seperti itu padanya. Tentu saja berkat hal yang tak sesuai keinginan Kumiko sendiri, yang menjadikan ia perlu berhadapan dengan apa yang sekarang terjadi.&#xA;&#xA;   &#34;Huh? Baiklah, kerjakan sendiri dan aku akan pergi sekarang.&#34; Jun mengambil posisi untuk berdiri dari kursi, namun langkah kakinya langsung tertahan. Saat Jun menoleh sejenak, ternyata ujung pakaiannya ditarik oleh Kumiko yang sedang merengut kesal.&#xA;&#xA;   &#34;Jun-kun kok begitu sih?! Katanya tadi mau menunggu aku dulu,&#34; desaknya.&#xA;&#xA;   Jun yang dilontari kata-kata tersebut tersentak, akan tetapi segera meralat ucapannya Kumiko, &#34;Hanya saja, kau belum menyelesaikan tugasmu yang satu itu.&#34; Ia menunjuk ke arah buku-buku yang ada di hadapan Kumiko sedari tadi.&#xA;&#xA;   &#34;Itu bisa kukerjakan nanti, kok!&#34;&#xA;&#xA;   Jun menatap Kumiko dengan air muka tidak percaya. Bahkan mimik wajah yang dibuat oleh Kumiko saat ini malah tampak memelas. Kemudian, Jun mengatur dirinya untuk mengatakan apa yang ingin dikatakan. &#34;Nanti kapan memangnya?&#34; &#xA;&#xA;   Jun malah bertanya padanya. Kendati Kumiko langsung merespons, ia malah bergumam tidak jelas. &#34;Erm ..., nanti malam?&#34; tutur Kumiko tidak yakin, mulai melirik kesana-kemari.&#xA;&#xA;   Tepat beberapa detik ucapan yang dikeluarkan oleh Kumiko terdengar masuk ke telinganya Jun, ia mulai mengacak-acak rambut biru muda miliknya. &#34;Tidak baik untukmu mengerjakan tugas hingga larut!&#34; sanggah Jun.&#xA;&#xA;   &#34;Ugh ....&#34; Kumiko tidak tahan, sebab perkataan Jun ada benarnya juga. Tidak baik mengerjakan tugas hingga larut, walau dia akan tetap mengerjakannya meskipun mengeluh pada bagian-bagian tertentu terlebih dahulu.&#xA;&#xA;   &#34;Lalu, inginmu sekarang bagaimana? Selesaikan tugas terlebih dahulu atau pergi sekarang, tetapi aku tidak akan berjanji kalau akan menemanimu untuk mengerjakan tugas itu. Pilih yang mana?&#34; tawar Jun, kembali mengatur posisi duduknya, dengan senyuman yang mungkin lebih mirip seringaian?&#xA;&#xA;   Walaupun sulit, Kumiko perlu memilih salah satu. Awalnya ia ingin pergi sekarang bersama Jun. Akan tetapi, ketika mendengarkan perkataan lanjutan dari Jun tidak berjanji akan menemaninya, itu membuat diri mengurungkan niat untuk memilih opsi tersebut. &#xA;&#xA;   Kumiko ingin menghabiskan hari ini bersama dengan Jun setidaknya, meski dibantai tugas yang tak pernah memiliki hari libur. Lagi pula, ia sedikit bersyukur bisa bertemu dengan Jun di lokasi seperti ini. Secara tidak sengaja, berakhir ia harus berhadapan dengan tugas miliknya.&#xA;&#xA;   &#34;Euh, aku memilih selesaikan tugas terlebih dahulu saja,&#34; ucapnya.&#xA;&#xA;   Jun pun mulai menampilkan senyum puas setelahnya. &#34;Oke, karena kau sudah menentukan, mulailah untuk bisa fokus.&#34; Kumiko kembali mengeluh, ketika mendengarkan hal yang sama untuk kedua kalinya. Ia merasa tidak nyaman, meskipun begitu dia mencoba untuk mengerjakannya sebisa mungkin.&#xA;&#xA;   Ada satu jam telah berlalu Kumiko berhasil menyelesaikan tugas miliknya. Tentu saja, hal tersebut diselingi oleh dengan ucapan pembenaran dari Jun, yang menemukan kesalahan dibeberapa jawaban tugas Kumiko.&#xA;&#xA;   Sungguh, Kumiko bersyukur dengan adanya Jun berada disisinya sekarang. Ia cukup terbantu dengan penjelasan yang diberikan. Walau Jun sendiri kurang bisa dikatakan sebagai orang yang bisa mengajari, mungkin ia lebih mirip seseorang yang akan membantu disaat kesulitan.&#xA;&#xA;   &#34;Kau melakukannya dengan baik, Kumiko.&#34; Jun mulai mengacak helaian rambut miliknya, ketika Kumiko menatap dia berharap kalau ia berhasil melakukan sesuai dengan pembenaran yang diucapkan tadi. &#xA;&#xA;   Kumiko merasa senang sekarang, entah mengapa setelah berhasil berhadapan dengan suatu hal yang tak bisa dilakukan olehnya, ia merasakan panas pada wajahnya. Ah, tampak pada wajah ... ternyata ia merona malu. Ia mulai menunduk.&#xA;&#xA;   &#34;Untuk orang seperti dirimu, kurasa kau cukup pintar.&#34;&#xA;&#xA;   Oh? Kumiko mendongak dan alisnya mengerut, menandakan diri tidak suka. Izinkan Kumiko untuk menarik kata-kata dalam hati yang ia katakan sebelumnya, sebab telah jatuh dalam perkataan hangat yang benar saja ditujukan pada dia seorang. Mulai mengambil atensi ke arah lain, Kumiko segera membereskan barang bawaannya.&#xA;&#xA;   Jun mulai beranjak untuk berdiri dari kursinya, &#34;Sudah dibereskan semua? Jangan sampai ada yang tertinggal, lho.&#34; Mendengar ia berkata demikian, Kumiko merengut kesal kembali. Tidak adakah sehari saja ucapan Jun bukan terkesan untuk menyindirnya?&#xA;&#xA;   &#34;Ish! Jun-kun jangan terus menerus menyindirku.&#34; Kumiko merasa tidak terima dengan perkataan yang dilontarkan oleh Jun. Padahal belum ada lima menit setelah ia mengatakan hal sebelumnya. &#xA;&#xA;   Jun terlihat menyeringai dan sepertinya ia akan menggoda Kumiko sekarang. &#34;Heh~ Padahal aku tidak sedang menyindir. Karena aku tahu kau sering ceroboh, makanya aku mengingatkan dirimu.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Jun-kun menyebalkan!&#34;&#xA;&#xA;   Tidak terduga, karena Jun tertawa. Ah, lebih tepatnya tertawa setelah menyindir Kumiko. &#34;Jadi, kau masih ingin pergi tidak, Kumiko?&#34; tanyanya seolah melupakan apa yang terjadi baru saja.&#xA;&#xA;   Kumiko telah menyelesaikan mengemasi bawaannya itu. Ia mulai bertanya balik, &#34;Pergi ke mana?&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Tempat biasa, ke arcade game. Mau tidak?&#34; tawar Jun mulai mengungkapkan.&#xA;&#xA;   Kumiko tersenyum sumringah, ketika mendengar tujuan tempat yang akan mereka kunjungi. Ia mulai berseru, &#34;Tentu saja, aku mau!&#34;&#xA;&#xA;   Namun, ketika ia berseru tadi, beberapa pandangan mulai menatap ke arahnya. &#34;Oi. Jangan bilang kau lupa, kalau saat ini kita masih berada di perpustakaan?&#34; sahut Jun.&#xA;&#xA;   &#34;Ah, aku lupa ....&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Dasar ceroboh.&#34;&#xA;&#xA;   End.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;  Note!&#xA;  Nikishima Kumiko belongs to @NikishimaKumiko for Art/Writing Trade.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Sazanami Jun × Nikishima Kumiko.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureTrade" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureTrade</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:JunKumi" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">JunKumi</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>Spending time together is more fun, even if the conditions are not supportive.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:EnsembleStars" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">EnsembleStars</span></a> © Happy Elements K.K, David Production. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   Meracau tidak jelas, itulah yang dilakukan sang gadis dengan helaian rambut biru muda, sembari memalingkan wajah dari laki-laki yang berada di sampingnya itu.</p>

<p>   “Hei, jangan mengambek seperti itu dikala belajar,” celetuknya, berusaha membuat si gadis melanjutkan belajar.</p>

<p>   Nikishima Kumiko namanya, ditemani oleh Sazanami Jun. Tak disangka kalau ia akan terlibat dalam kondisi seperti ini. Mendengar pernyataan dari si lelaki, ia mengutarakan sesuatu, “Aku sudah bilang padamu kalau tidak suka belajar, Jun-<em>kun</em>!”</p>

<p>   Jun mulai terlihat kesal sekarang, bukan pertama kalinya Kumiko bersikap seperti itu padanya. Tentu saja berkat hal yang tak sesuai keinginan Kumiko sendiri, yang menjadikan ia perlu berhadapan dengan apa yang sekarang terjadi.</p>

<p>   “Huh? Baiklah, kerjakan sendiri dan aku akan pergi sekarang.” Jun mengambil posisi untuk berdiri dari kursi, namun langkah kakinya langsung tertahan. Saat Jun menoleh sejenak, ternyata ujung pakaiannya ditarik oleh Kumiko yang sedang merengut kesal.</p>

<p>   “Jun-<em>kun</em> kok begitu sih?! Katanya tadi mau menunggu aku dulu,” desaknya.</p>

<p>   Jun yang dilontari kata-kata tersebut tersentak, akan tetapi segera meralat ucapannya Kumiko, “Hanya saja, kau belum menyelesaikan tugasmu yang satu itu.” Ia menunjuk ke arah buku-buku yang ada di hadapan Kumiko sedari tadi.</p>

<p>   “Itu bisa kukerjakan nanti, kok!”</p>

<p>   Jun menatap Kumiko dengan air muka tidak percaya. Bahkan mimik wajah yang dibuat oleh Kumiko saat ini malah tampak memelas. Kemudian, Jun mengatur dirinya untuk mengatakan apa yang ingin dikatakan. “Nanti kapan memangnya?”</p>

<p>   Jun malah bertanya padanya. Kendati Kumiko langsung merespons, ia malah bergumam tidak jelas. “Erm ..., nanti malam?” tutur Kumiko tidak yakin, mulai melirik kesana-kemari.</p>

<p>   Tepat beberapa detik ucapan yang dikeluarkan oleh Kumiko terdengar masuk ke telinganya Jun, ia mulai mengacak-acak rambut biru muda miliknya. “Tidak baik untukmu mengerjakan tugas hingga larut!” sanggah Jun.</p>

<p>   “Ugh ....” Kumiko tidak tahan, sebab perkataan Jun ada benarnya juga. Tidak baik mengerjakan tugas hingga larut, walau dia akan tetap mengerjakannya meskipun mengeluh pada bagian-bagian tertentu terlebih dahulu.</p>

<p>   “Lalu, inginmu sekarang bagaimana? Selesaikan tugas terlebih dahulu atau pergi sekarang, tetapi aku tidak akan berjanji kalau akan menemanimu untuk mengerjakan tugas itu. Pilih yang mana?” tawar Jun, kembali mengatur posisi duduknya, dengan senyuman yang mungkin lebih mirip seringaian?</p>

<p>   Walaupun sulit, Kumiko perlu memilih salah satu. Awalnya ia ingin pergi sekarang bersama Jun. Akan tetapi, ketika mendengarkan perkataan lanjutan dari Jun tidak berjanji akan menemaninya, itu membuat diri mengurungkan niat untuk memilih opsi tersebut.</p>

<p>   Kumiko ingin menghabiskan hari ini bersama dengan Jun setidaknya, meski dibantai tugas yang tak pernah memiliki hari libur. Lagi pula, ia sedikit bersyukur bisa bertemu dengan Jun di lokasi seperti ini. Secara tidak sengaja, berakhir ia harus berhadapan dengan tugas miliknya.</p>

<p>   “Euh, aku memilih selesaikan tugas terlebih dahulu saja,” ucapnya.</p>

<p>   Jun pun mulai menampilkan senyum puas setelahnya. “Oke, karena kau sudah menentukan, mulailah untuk bisa fokus.” Kumiko kembali mengeluh, ketika mendengarkan hal yang sama untuk kedua kalinya. Ia merasa tidak nyaman, meskipun begitu dia mencoba untuk mengerjakannya sebisa mungkin.</p>

<p>   Ada satu jam telah berlalu Kumiko berhasil menyelesaikan tugas miliknya. Tentu saja, hal tersebut diselingi oleh dengan ucapan pembenaran dari Jun, yang menemukan kesalahan dibeberapa jawaban tugas Kumiko.</p>

<p>   Sungguh, Kumiko bersyukur dengan adanya Jun berada disisinya sekarang. Ia cukup terbantu dengan penjelasan yang diberikan. Walau Jun sendiri kurang bisa dikatakan sebagai orang yang bisa mengajari, mungkin ia lebih mirip seseorang yang akan membantu disaat kesulitan.</p>

<p>   “Kau melakukannya dengan baik, Kumiko.” Jun mulai mengacak helaian rambut miliknya, ketika Kumiko menatap dia berharap kalau ia berhasil melakukan sesuai dengan pembenaran yang diucapkan tadi.</p>

<p>   Kumiko merasa senang sekarang, entah mengapa setelah berhasil berhadapan dengan suatu hal yang tak bisa dilakukan olehnya, ia merasakan panas pada wajahnya. Ah, tampak pada wajah ... ternyata ia merona malu. Ia mulai menunduk.</p>

<p>   “Untuk orang seperti dirimu, kurasa kau cukup pintar.”</p>

<p>   Oh? Kumiko mendongak dan alisnya mengerut, menandakan diri tidak suka. Izinkan Kumiko untuk menarik kata-kata dalam hati yang ia katakan sebelumnya, sebab telah jatuh dalam perkataan hangat yang benar saja ditujukan pada dia seorang. Mulai mengambil atensi ke arah lain, Kumiko segera membereskan barang bawaannya.</p>

<p>   Jun mulai beranjak untuk berdiri dari kursinya, “Sudah dibereskan semua? Jangan sampai ada yang tertinggal, lho.” Mendengar ia berkata demikian, Kumiko merengut kesal kembali. Tidak adakah sehari saja ucapan Jun bukan terkesan untuk menyindirnya?</p>

<p>   “Ish! Jun-<em>kun</em> jangan terus menerus menyindirku.” Kumiko merasa tidak terima dengan perkataan yang dilontarkan oleh Jun. Padahal belum ada lima menit setelah ia mengatakan hal sebelumnya.</p>

<p>   Jun terlihat menyeringai dan sepertinya ia akan menggoda Kumiko sekarang. “Heh~ Padahal aku tidak sedang menyindir. Karena aku tahu kau sering ceroboh, makanya aku mengingatkan dirimu.”</p>

<p>   “Jun-<em>kun</em> menyebalkan!”</p>

<p>   Tidak terduga, karena Jun tertawa. Ah, lebih tepatnya tertawa setelah menyindir Kumiko. “Jadi, kau masih ingin pergi tidak, Kumiko?” tanyanya seolah melupakan apa yang terjadi baru saja.</p>

<p>   Kumiko telah menyelesaikan mengemasi bawaannya itu. Ia mulai bertanya balik, “Pergi ke mana?”</p>

<p>   “Tempat biasa, ke <em>arcade game</em>. Mau tidak?” tawar Jun mulai mengungkapkan.</p>

<p>   Kumiko tersenyum sumringah, ketika mendengar tujuan tempat yang akan mereka kunjungi. Ia mulai berseru, “Tentu saja, aku mau!”</p>

<p>   Namun, ketika ia berseru tadi, beberapa pandangan mulai menatap ke arahnya. “Oi. Jangan bilang kau lupa, kalau saat ini kita masih berada di perpustakaan?” sahut Jun.</p>

<p>   “Ah, aku lupa ....”</p>

<p>   “Dasar ceroboh.”</p>

<p>   <strong>End.</strong></p>

<hr/>

<blockquote><p>Note!
Nikishima Kumiko belongs to <a href="https://twitter.com/NikishimaKumiko" rel="nofollow">@NikishimaKumiko</a> for Art/Writing Trade.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/belajar-sekarang-atau-aku-pergi-sendiri</guid>
      <pubDate>Fri, 25 Nov 2022 08:01:44 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Berpisah.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/berpisah?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Hidaka Hokuto × Hizafa Rein.&#xA;  #FaureYume; #HokuRein.&#xA;&#xA;   Let&#39;s go back to the past, where we never knew each other.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #EnsembleStars © Happy Elements K.K, David Production. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Larut malam itu, terjadi rintik-rintik hujan. Sebagai kenalan, ia mengantarkan seorang wanita, karena disuruh oleh seseorang wanita lainnya.&#xA;&#xA;   Ya, meskipun wanita itu dengan kesan menyuruh-nyuruh, dia tak bisa membiarkan seorang wanita, yang berada di hadapannya kini tuk pulang sendiri.&#xA;&#xA;   Benar saja, dengan alasan menghindari suatu hal yang tak mengenakan. Namun, dia; Hidaka Hokuto, melupakan suatu tanggungjawabnya sebagai Idola.&#xA;&#xA;   Ia tak seharusnya berduaan dengan seseorang dilarut malam bersama dengan wanita. Apalagi zamannya sudah modern, netizen yang melihat bisa saja akan ada berita buruk.&#xA;&#xA;   Ia mengantar Rein, wanita tersebut. Nama panjangnya Hizafa Rein, tetapi lebih akrab disapa sebagai Rein.&#xA;&#xA;   Awalnya, Rein menolak keras, karena dia tinggal di sebuah rumah bersama kakak kembarannya. Ia beralasan tak mau repot-repot harus menjelaskan, mengapa Hokuto harus mengantarnya, pasalnya sang kakak masih bisa menjemput dirinya.&#xA;&#xA;   Ya. Itu akan terjadi kalau Rein, bukanlah seseorang yang susah menerima bantuan. Dia tak mau merepotkan siapapun, selagi dirinya masih mampu tuk melakukan semuanya sendiri.&#xA;&#xA;   Akan tetapi, kejadian tersebut telah berlangsung satu jam yang lalu. Jadi, tiada alasan lagi. Hokuto kini mengantarkan Rein selamat ke rumahnya sendiri. Dengan dihujani berbagai pertanyaan dari kembaran Rein, ia harus mengatakan semua itu.&#xA;&#xA;   &#34;Kak, sudahlah. Fauraza tadinya juga memaksaku, jangan memaksa dia untuk mengobrol panjang lagi. Dia sekarang tampak lelah.&#34;&#xA;&#xA;   Rain; kembarannya, sekarang menatap Rein dengan tanda tanya besar. Mengapa ia perlu menghentikan pembicaraan? Pikirnya.&#xA;&#xA;   Hanya saja ia urungkan, setelah mengingat kembali perkataan sebelumnya, yang membahas pekerjaan. Alhasil, ia membatalkan pertanyaan panjang itu.&#xA;&#xA;   &#34;Terkadang, dirimu itu harus lebih tegas, Rein. Meskipun status Fau-san itu lebih tinggi dari kita, setidaknya ia tahu batasan memaksa itu seperti apa. Ah, sudahlah.&#34;&#xA;&#xA;   Rain mengusap kasar wajahnya. Ia kemudian menatap Hokuto disana, seolah tahu pembahasan selanjutnya. Dia tak sengaja mendengar pembahasan antara Hizafa bersaudara di hadapannya sekarang.&#xA;&#xA;   &#34;Omong-omong, apa kau ingin menginap disini atau ingin pulang? Ya, mungkin aku tidak akan menyiapkan lebih, karena fasilitas di rumah ini sangat terbatas.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Kakak, jangan bertindak begitu.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ah, ... iya. Aku pulang saja—&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Hoku, tidak apa-apa. Ini sudah larut, jangan paksakan dirimu. Bicara saja kepada orang tuamu, kalau dirimu akan menginap. Tetapi, maaf kalau nanti akan tidur dilantai.&#34;&#xA;&#xA;   Rein dengan segera mengatakan hal tersebut tanpa pikir panjang.&#xA;&#xA;   &#34;Apa? Aku cukup yakin, saat ini aku sedang bersama Rein, tetapi ... sudahlah. Aku tidak akan mengoceh lagi. Anggap saja rumah sendiri.&#34;&#xA;&#xA;   Rain lekas meninggalkan keduanya. Murung, itulah air muka yang dipergunakan oleh Rein. Ia tahu batasannya. Ia sangat mengerti, kalau saat ini dia sedang panik sampai-sampai tak bisa berpikir jernih seperti kakaknya. Ah, lagi-lagi Rein iri dengan kakaknya.&#xA;&#xA;   Hokuto mengalihkan pandangannya sesaat mendapatkan panggilan dari seseorang. Oh, ternyata itu adalah Ayahnya, Hidaka Seiya. Wajar saja, seorang Ayah sangat cemas apabila anak semata wayangnya ini belumlah pulang.&#xA;&#xA;   Hokuto mulai mengangkatnya, dia bukanlah orang yang akan membiarkan panggilan tersebut didiamkan saja.&#xA;&#xA;  &#34;Hocchan! Kenapa belum pulang? Apakah ada sesuatu yang harus dikerjakan hingga larut malam seperti ini?&#34;&#xA;&#xA;   Pertanyaan beruntun dari sang Ayah. Dengan ragu-ragu ia akan menjawabnya, tetapi Rein sekarang menyadari dirinya bahwa ia akan mengungkapkan sesuatu. Hokuto sedikit ragu dengan hal ini. Tetapi ia mulai memberikannya kepada Rein.&#xA;&#xA;  &#34;Maafkan saya sebelumnya, Pak. Saat ini saya yang berbicara adalah Hizafa Rein, mungkin terdengar asing. Tetapi saya meminta izin dahulu, kalau anak Bapak akan menginap di rumah saya.&#34;&#xA;&#xA;   Rein menjeda sesaat dan kembali melanjutkannya.&#xA;&#xA;  &#34;Soalnya, Hokuto juga sudah kelihatan lelah. Saya tidak enak memaksakan dirinya untuk pulang, apalagi Bapak harus menjemput dirinya. Tadinya dia mengantarkan saya, karena sudah larut dan juga sedang terjadi hujan.&#34;&#xA;&#xA;   Terdengar kalimat ragu dari sudut pandang Hokuto, tetapi Rein mengatakan hal jujur.&#xA;&#xA;  &#34;Tentu saja, Kakak saya bersedia. Mungkin besok pagi, Hokuto akan kembali beraktivitas seperti biasanya kalau dia tidak merasakan rasa lelah.&#34;&#xA;&#xA;   Belum ada jawaban. Ayahnya Hokuto mungkin kaget, ketika seseorang laki-laki yang akan dihubunginya malah seseorang perempuan menjawabnya. Sampai akhirnya,&#xA;&#xA;  &#34;Baiklah, kalau Nak Rein berkata demikian. Terima kasih sudah menjaga anak Bapak. Titip salam ya, untuk Hocchan.&#34;&#xA;&#xA;   Ya. Seharusnya itu respons yang postif.&#xA;&#xA;   &#34;Ayahmu, titip salam. Lalu, untuk tidur. Apa Hoku bisa tidur di lantai? Disana ada karpet, mungkin akan melindungi dari dingin, setidaknya. Kalau di kursi yang ada bahu dan kaki akan terasa pegal juga akan merasa sakit. Disana juga sudah terdapat selimut maupun bantal. Biasanya kami mengenakan itu, ketika masih merasakan hawa dingin dipagi hari.&#34;&#xA;&#xA;   Rein yang biasa menjelaskan seadaanya, kini berkata sangat panjang. Hal tersebut cukup diluar dugaan Hokuto. Ia mengira, Rein tidak akan berkata sepanjang itu. Sepertinya ia salah.&#xA;&#xA;   Seolah apa yang dilihatnya saat ini bukanlah Rein. Terasa seperti déjà vu atau mungkin tidak? Entahlah.&#xA;&#xA;   &#34;Tidak apa-apa, itu sudah sangat cukup. Terima kasih, Rein.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Hokuto bangun lebih awal. Ia tak ingin merepotkan Rein beserta Kakaknya itu. Terlebih, dia sepertinya enggan berhadapan dengan Rain untuk sekarang. Tidak menghiraukan apakah ia dengan benar istirahatnya, atau tidak.&#xA;&#xA;   Hanya saja, ternyata Rein lebih bangun lebih awal. Hokuto awalnya sedikit heran dari ekspresinya seolah meminta Rein menjelaskan, mengapa dirinya bisa terbangun malam seperti itu.&#xA;&#xA;   Rein hanya berkata, &#34;Ah ... Entahlah. Itu sudah menjadi kebiasaan,&#34; sahutnya.&#xA;&#xA;   &#34;Itu cukup buruk untuk kesehatan.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Aku tahu. Tidak perlu diingatkan,&#34; desis Rein. Ia tak mau ada seseorang membahas tentang kesehatan. Apalagi ia merupakan orang yang sangat tidak bisa berhadapan dengan kesehatan itu pula.&#xA;&#xA;   Ya, kisahnya Rein tidak pernah memperhatikan kesehatannya sendiri, itulah salah satu dari berbagai alasan yang dipunya.&#xA;&#xA;   Keduanya kembali canggung. Hokuto mengambil kegiatan untuk mengemasi barang yang akan dibawa, untuk kembali pulang ke rumah miliknya.&#xA;&#xA;   Rein seketika mengatakan sesuatu, yang membuat Hokuto sedikit merasakan kehilangan. Seolah, perkataan Rein itu kembali membuat dirinya menyelami masa lalu di mana ia mengabaikan perkataan Akehoshi Subaru, sebagai salah satu teman satu unitnya.&#xA;&#xA;   &#34;Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari, kalau kita sebetulnya tidak bisa bersama. Akan ada kalanya, netizen mengumbar fakta-fakta yang akan menjatuhkan dikemudian hari. Aku mungkin bisa saja sedih, tetapi teman-temanmu, juga dirimu, Hokuto, pastilah akan lebih sedih.&#34;&#xA;&#xA;   Itu baru awalan. Tetapi sudah kepikiran. Hokuto telah mengucapkan kata pisah untuk Rein, dan lekas kembali ke rumahnya. Padahal, masih saja di jalan tak disangka ada banyak halang rintangan.&#xA;&#xA;   Hokuto menghela napas frustrasi. Tak bisa disangka, Ayahnya kembali menghubungi pagi-pagi buta ini. Mengabarkan telah terjadi suatu berita, tentang Hokuto.&#xA;&#xA;   Apakah benar, hal ini yang dimaksud dari balik perkataan Rein tadi?&#xA;&#xA;   &#34;Kalau saja, kita tidak mengenal satu sama lain. Mungkin saja, Hokuto sekarang sudah sangat sukses. Ya, tentu saja. Meskipun tiada status apapun diantara kita, selain Idola dan penggemar. Sepertinya tidak buruk, kalau hanya sekadar itu saja, bukan?&#34;&#xA;&#xA;   Hokuto sekarang yang tidak bisa berpikir dengan jernih. Ayahnya langsung menjemput dia di lokasi terakhir Hokuto berpijak. Tidak sulit untuk menemukan Hokuto, karena ada sistem yang menunjukkan lokasi. Ya, Ayahnya cukup tertolong berkat hal tersebut.&#xA;&#xA;   Padahal belum lama ini, Ayahnya harus mengurus pekerjaan tour idola lainnya. Tetapi, tak disangka akan ada kejadian seperti ini pula. Biar bagaimana pun juga, sekarang adalah hari yang tak bisa diungkapkan oleh sekadar tulisan semata.&#xA;&#xA;   Hanya sekadar Idola dan penggemar? Apa itu artinya sebelum terjadi hal tadi ... Lebih dari sekadar?&#xA;&#xA;   Hokuto larut dalam pemikirannya. Ia hanya melamun dalam sepanjang perjalanan.&#xA;&#xA;   To Be Continued.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Hidaka Hokuto × Hizafa Rein.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:HokuRein" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">HokuRein</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>Let&#39;s go back to the past, where we never knew each other.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:EnsembleStars" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">EnsembleStars</span></a> © Happy Elements K.K, David Production. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   Larut malam itu, terjadi rintik-rintik hujan. Sebagai kenalan, ia mengantarkan seorang wanita, karena disuruh oleh seseorang wanita lainnya.</p>

<p>   Ya, meskipun wanita itu dengan kesan menyuruh-nyuruh, dia tak bisa membiarkan seorang wanita, yang berada di hadapannya kini tuk pulang sendiri.</p>

<p>   Benar saja, dengan alasan menghindari suatu hal yang tak mengenakan. Namun, dia; Hidaka Hokuto, melupakan suatu tanggungjawabnya sebagai Idola.</p>

<p>   Ia tak seharusnya berduaan dengan seseorang dilarut malam bersama dengan wanita. Apalagi zamannya sudah modern, netizen yang melihat bisa saja akan ada berita buruk.</p>

<p>   Ia mengantar Rein, wanita tersebut. Nama panjangnya Hizafa Rein, tetapi lebih akrab disapa sebagai Rein.</p>

<p>   Awalnya, Rein menolak keras, karena dia tinggal di sebuah rumah bersama kakak kembarannya. Ia beralasan tak mau repot-repot harus menjelaskan, mengapa Hokuto harus mengantarnya, pasalnya sang kakak masih bisa menjemput dirinya.</p>

<p>   Ya. Itu akan terjadi kalau Rein, bukanlah seseorang yang susah menerima bantuan. Dia tak mau merepotkan siapapun, selagi dirinya masih mampu tuk melakukan semuanya sendiri.</p>

<p>   Akan tetapi, kejadian tersebut telah berlangsung satu jam yang lalu. Jadi, tiada alasan lagi. Hokuto kini mengantarkan Rein selamat ke rumahnya sendiri. Dengan dihujani berbagai pertanyaan dari kembaran Rein, ia harus mengatakan semua itu.</p>

<p>   “Kak, sudahlah. Fauraza tadinya juga memaksaku, jangan memaksa dia untuk mengobrol panjang lagi. Dia sekarang tampak lelah.”</p>

<p>   Rain; kembarannya, sekarang menatap Rein dengan tanda tanya besar. Mengapa ia perlu menghentikan pembicaraan? Pikirnya.</p>

<p>   Hanya saja ia urungkan, setelah mengingat kembali perkataan sebelumnya, yang membahas pekerjaan. Alhasil, ia membatalkan pertanyaan panjang itu.</p>

<p>   “Terkadang, dirimu itu harus lebih tegas, Rein. Meskipun status Fau-<em>san</em> itu lebih tinggi dari kita, setidaknya ia tahu batasan memaksa itu seperti apa. Ah, sudahlah.”</p>

<p>   Rain mengusap kasar wajahnya. Ia kemudian menatap Hokuto disana, seolah tahu pembahasan selanjutnya. Dia tak sengaja mendengar pembahasan antara Hizafa bersaudara di hadapannya sekarang.</p>

<p>   “Omong-omong, apa kau ingin menginap disini atau ingin pulang? Ya, mungkin aku tidak akan menyiapkan lebih, karena fasilitas di rumah ini sangat terbatas.”</p>

<p>   “Kakak, jangan bertindak begitu.”</p>

<p>   “Ah, ... iya. Aku pulang saja—”</p>

<p>   “Hoku, tidak apa-apa. Ini sudah larut, jangan paksakan dirimu. Bicara saja kepada orang tuamu, kalau dirimu akan menginap. Tetapi, maaf kalau nanti akan tidur dilantai.”</p>

<p>   Rein dengan segera mengatakan hal tersebut tanpa pikir panjang.</p>

<p>   “Apa? Aku cukup yakin, saat ini aku sedang bersama Rein, tetapi ... sudahlah. Aku tidak akan mengoceh lagi. Anggap saja rumah sendiri.”</p>

<p>   Rain lekas meninggalkan keduanya. Murung, itulah air muka yang dipergunakan oleh Rein. Ia tahu batasannya. Ia sangat mengerti, kalau saat ini dia sedang panik sampai-sampai tak bisa berpikir jernih seperti kakaknya. Ah, lagi-lagi Rein iri dengan kakaknya.</p>

<p>   Hokuto mengalihkan pandangannya sesaat mendapatkan panggilan dari seseorang. Oh, ternyata itu adalah Ayahnya, Hidaka Seiya. Wajar saja, seorang Ayah sangat cemas apabila anak semata wayangnya ini belumlah pulang.</p>

<p>   Hokuto mulai mengangkatnya, dia bukanlah orang yang akan membiarkan panggilan tersebut didiamkan saja.</p>

<blockquote><p>   <em>“Hocchan! Kenapa belum pulang? Apakah ada sesuatu yang harus dikerjakan hingga larut malam seperti ini?”</em></p></blockquote>

<p>   Pertanyaan beruntun dari sang Ayah. Dengan ragu-ragu ia akan menjawabnya, tetapi Rein sekarang menyadari dirinya bahwa ia akan mengungkapkan sesuatu. Hokuto sedikit ragu dengan hal ini. Tetapi ia mulai memberikannya kepada Rein.</p>

<blockquote><p>   <em>“Maafkan saya sebelumnya, Pak. Saat ini saya yang berbicara adalah Hizafa Rein, mungkin terdengar asing. Tetapi saya meminta izin dahulu, kalau anak Bapak akan menginap di rumah saya.”</em></p></blockquote>

<p>   Rein menjeda sesaat dan kembali melanjutkannya.</p>

<blockquote><p>   <em>“Soalnya, Hokuto juga sudah kelihatan lelah. Saya tidak enak memaksakan dirinya untuk pulang, apalagi Bapak harus menjemput dirinya. Tadinya dia mengantarkan saya, karena sudah larut dan juga sedang terjadi hujan.”</em></p></blockquote>

<p>   Terdengar kalimat ragu dari sudut pandang Hokuto, tetapi Rein mengatakan hal jujur.</p>

<blockquote><p>   <em>“Tentu saja, Kakak saya bersedia. Mungkin besok pagi, Hokuto akan kembali beraktivitas seperti biasanya kalau dia tidak merasakan rasa lelah.”</em></p></blockquote>

<p>   Belum ada jawaban. Ayahnya Hokuto mungkin kaget, ketika seseorang laki-laki yang akan dihubunginya malah seseorang perempuan menjawabnya. Sampai akhirnya,</p>

<blockquote><p>   <em>“Baiklah, kalau Nak Rein berkata demikian. Terima kasih sudah menjaga anak Bapak. Titip salam ya, untuk Hocchan.”</em></p></blockquote>

<p>   Ya. Seharusnya itu respons yang postif.</p>

<p>   “Ayahmu, titip salam. Lalu, untuk tidur. Apa Hoku bisa tidur di lantai? Disana ada karpet, mungkin akan melindungi dari dingin, setidaknya. Kalau di kursi yang ada bahu dan kaki akan terasa pegal juga akan merasa sakit. Disana juga sudah terdapat selimut maupun bantal. Biasanya kami mengenakan itu, ketika masih merasakan hawa dingin dipagi hari.”</p>

<p>   Rein yang biasa menjelaskan seadaanya, kini berkata sangat panjang. Hal tersebut cukup diluar dugaan Hokuto. Ia mengira, Rein tidak akan berkata sepanjang itu. Sepertinya ia salah.</p>

<p>   Seolah apa yang dilihatnya saat ini bukanlah Rein. Terasa seperti déjà vu atau mungkin tidak? Entahlah.</p>

<p>   “Tidak apa-apa, itu sudah sangat cukup. Terima kasih, Rein.”</p>

<hr/>

<p>   Hokuto bangun lebih awal. Ia tak ingin merepotkan Rein beserta Kakaknya itu. Terlebih, dia sepertinya enggan berhadapan dengan Rain untuk sekarang. Tidak menghiraukan apakah ia dengan benar istirahatnya, atau tidak.</p>

<p>   Hanya saja, ternyata Rein lebih bangun lebih awal. Hokuto awalnya sedikit heran dari ekspresinya seolah meminta Rein menjelaskan, mengapa dirinya bisa terbangun malam seperti itu.</p>

<p>   Rein hanya berkata, “Ah ... Entahlah. Itu sudah menjadi kebiasaan,” sahutnya.</p>

<p>   “Itu cukup buruk untuk kesehatan.”</p>

<p>   “Aku tahu. Tidak perlu diingatkan,” desis Rein. Ia tak mau ada seseorang membahas tentang kesehatan. Apalagi ia merupakan orang yang sangat tidak bisa berhadapan dengan kesehatan itu pula.</p>

<p>   Ya, kisahnya Rein tidak pernah memperhatikan kesehatannya sendiri, itulah salah satu dari berbagai alasan yang dipunya.</p>

<p>   Keduanya kembali canggung. Hokuto mengambil kegiatan untuk mengemasi barang yang akan dibawa, untuk kembali pulang ke rumah miliknya.</p>

<p>   Rein seketika mengatakan sesuatu, yang membuat Hokuto sedikit merasakan kehilangan. Seolah, perkataan Rein itu kembali membuat dirinya menyelami masa lalu di mana ia mengabaikan perkataan Akehoshi Subaru, sebagai salah satu teman satu unitnya.</p>

<p>   <em>“Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari, kalau kita sebetulnya tidak bisa bersama. Akan ada kalanya, netizen mengumbar fakta-fakta yang akan menjatuhkan dikemudian hari. Aku mungkin bisa saja sedih, tetapi teman-temanmu, juga dirimu, Hokuto, pastilah akan lebih sedih.”</em></p>

<p>   Itu baru awalan. Tetapi sudah kepikiran. Hokuto telah mengucapkan kata pisah untuk Rein, dan lekas kembali ke rumahnya. Padahal, masih saja di jalan tak disangka ada banyak halang rintangan.</p>

<p>   Hokuto menghela napas frustrasi. Tak bisa disangka, Ayahnya kembali menghubungi pagi-pagi buta ini. Mengabarkan telah terjadi suatu berita, tentang Hokuto.</p>

<p>   Apakah benar, hal ini yang dimaksud dari balik perkataan Rein tadi?</p>

<p>   <em>“Kalau saja, kita tidak mengenal satu sama lain. Mungkin saja, Hokuto sekarang sudah sangat sukses. Ya, tentu saja. Meskipun tiada status apapun diantara kita, selain Idola dan penggemar. Sepertinya tidak buruk, kalau hanya sekadar itu saja, bukan?”</em></p>

<p>   Hokuto sekarang yang tidak bisa berpikir dengan jernih. Ayahnya langsung menjemput dia di lokasi terakhir Hokuto berpijak. Tidak sulit untuk menemukan Hokuto, karena ada sistem yang menunjukkan lokasi. Ya, Ayahnya cukup tertolong berkat hal tersebut.</p>

<p>   Padahal belum lama ini, Ayahnya harus mengurus pekerjaan <em>tour</em> idola lainnya. Tetapi, tak disangka akan ada kejadian seperti ini pula. Biar bagaimana pun juga, sekarang adalah hari yang tak bisa diungkapkan oleh sekadar tulisan semata.</p>

<p>   <em>Hanya sekadar Idola dan penggemar? Apa itu artinya sebelum terjadi hal tadi ... Lebih dari sekadar?</em></p>

<p>   Hokuto larut dalam pemikirannya. Ia hanya melamun dalam sepanjang perjalanan.</p>

<p>   <strong>To Be Continued.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/berpisah</guid>
      <pubDate>Sat, 15 Oct 2022 12:36:29 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Late.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/late?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Fushimi Yuzuru × Reader.&#xA;  Batch 9; Day 2 of #MariMenulis 2022.&#xA;&#xA;        written by @faudiaryza (Rein).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives.&#xA;  #EnsembleStars © Happy Elements K.K, David Production. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Dia duduk menunggu sosok yang mengajukan janji kepadanya. Sudah lewat beberapa menit dari jam pertemuan mereka, lantas pemikiran mulai kalut tentang apakah ada musibah yang terjadi?&#xA;&#xA;Segera menepis pemikiran negatif itu, ia mencoba menetralkan napasnya. Selayaknya biasa, dalam kondisi seperti ini diperlukanlah untuk ia tetap tenang.&#xA;&#xA;&#34;Ah, maafkan saya. Apakah saya terlambat?&#34; tutur kata halus itu, menyapu area pendengaran.&#xA;&#xA;Lekas manik fuchsia itu mulai menatap lekat dirinya, sembari mengutarakan senyum tipis disana. Ia berujar, &#34;Tidak masalah. Kalau diperbolehkan bertanya, apakah ada sesuatu kejadian yang menghambat?&#34;&#xA;&#xA;Gadis itu; [Full Name] tertunduk, seraya menganggukinya. Rupanya sesuai tebakan dari lelaki tersebut, Fushimi Yuzuru. Meskipun ia telah mengabari majikannya, tetap saja terbesit rasa khawatir akan hal yang menimpa kedepannya.&#xA;&#xA;Yuzuru berdiri. Mempersilakan [Name] untuk segera duduk di kursi yang ada didepannya. &#34;Duduklah terlebih dahulu,&#34; sahutnya. Walau canggung masih dapat ia rasakan, sudah sepantasnya ia memulai percakapan sekarang.&#xA;&#xA;&#34;Baiklah ..., apakah bisa kita bicarakan sekarang?&#34; tanya [Name], memberanikan diri.&#xA;&#xA;Namun, dering ponsel milik Yuzuru seketika berbunyi. Membuat pemiliknya lekas izin untuk mengangkatnya. Netra milik [Name] sempat menatap, kalau rupanya terdapat nama majikannya dia, Himemiya Tori.&#xA;&#xA;Tentu saja, [Name] mengizinkan. Ini pula juga balasan untuk dirinya yang terlambat. Sekaranglah giliran dia yang merasakan menunggu seseorang itu.&#xA;&#xA;Tak lama setelah percakapan dari ponsel berlangsung. Tidak disangka ada urusan yang membuat mereka harus membatalkan janji. [Name] hanya mengukir senyum simpul, seraya berkata, &#34;Tidak perlu dipermasalahkan. Saya paham pekerjaan Anda sekarang.&#34;&#xA;&#xA;Tidak tahu kenapa, malah terlihat merasa bersalah. &#34;Baiklah, kalau [Last Name]-san merasa tidak masalah. Saya pamit undur diri, permisi.&#34;&#xA;&#xA;Menatap lelaki tersebut dari kejauhan. Napasnya sedikit tercekat. Alhasil, dia pun tidak mengucapkan kalimat perpisahan maupun berjumpa kembali.&#xA;&#xA;Dipikir kembali [Name] memang mengetahui pekerjaan Yuzuru sebagai pelayannya Tori. Tentu saja ia menghargai hal tersebut. Bahkan, ia awalnya merasakan kalau tidak mungkin Tori akan memperbolehkan pelayannya berada jauh dari dirinya.&#xA;&#xA;Yuzuru pun tidak mengatakan apapun mengenai apa yang perlu dilakukannya, selain ia harus segera kembali sebab Tori membutuhkannya. Jujur saja, sedikit tidak biasa. Tetapi, mau apa dikata, [Name] tidak mempunyai hubungan lebih dengan mereka.&#xA;&#xA;Oh, sebentar. Rupanya ini merupakan perpisahan terakhir mereka. Karena, [Name] itu orangnya cukup lemah dan inilah penyebab kenapa ia bisa terlambat tadi.&#xA;&#xA;Napasnya kembali menjadi tidak beraturan, bahkan mungkin dia sedikit demi sedikit sulit bernapas. Padahal, kalau tampak luar ia masih kuat, malangnya tidak demikian.&#xA;&#xA;[Name] pula, seketika pingsan di tempat tersebut. Ia telah bisa dikatakan tidak mampu menyeimbangkan tubuh. Dia sekarang telah berada dikondisi yang paling parah.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Fushimi Yuzuru × Reader.
Batch 9; Day 2 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:MariMenulis" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">MariMenulis</span></a> 2022.</p></blockquote>

<p>        <em>written by <a href="https://twitter.com/faudiaryza" rel="nofollow">@faudiaryza</a> (Rein).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:EnsembleStars" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">EnsembleStars</span></a> © Happy Elements K.K, David Production. </p></blockquote>

<hr/>

<p>Dia duduk menunggu sosok yang mengajukan janji kepadanya. Sudah lewat beberapa menit dari jam pertemuan mereka, lantas pemikiran mulai kalut tentang apakah ada musibah yang terjadi?</p>

<p>Segera menepis pemikiran negatif itu, ia mencoba menetralkan napasnya. Selayaknya biasa, dalam kondisi seperti ini diperlukanlah untuk ia tetap tenang.</p>

<p>“Ah, maafkan saya. Apakah saya terlambat?” tutur kata halus itu, menyapu area pendengaran.</p>

<p>Lekas manik fuchsia itu mulai menatap lekat dirinya, sembari mengutarakan senyum tipis disana. Ia berujar, “Tidak masalah. Kalau diperbolehkan bertanya, apakah ada sesuatu kejadian yang menghambat?”</p>

<p>Gadis itu; [Full Name] tertunduk, seraya menganggukinya. Rupanya sesuai tebakan dari lelaki tersebut, Fushimi Yuzuru. Meskipun ia telah mengabari majikannya, tetap saja terbesit rasa khawatir akan hal yang menimpa kedepannya.</p>

<p>Yuzuru berdiri. Mempersilakan [Name] untuk segera duduk di kursi yang ada didepannya. “Duduklah terlebih dahulu,” sahutnya. Walau canggung masih dapat ia rasakan, sudah sepantasnya ia memulai percakapan sekarang.</p>

<p>“Baiklah ..., apakah bisa kita bicarakan sekarang?” tanya [Name], memberanikan diri.</p>

<p>Namun, dering ponsel milik Yuzuru seketika berbunyi. Membuat pemiliknya lekas izin untuk mengangkatnya. Netra milik [Name] sempat menatap, kalau rupanya terdapat nama majikannya dia, Himemiya Tori.</p>

<p>Tentu saja, [Name] mengizinkan. Ini pula juga balasan untuk dirinya yang terlambat. Sekaranglah giliran dia yang merasakan menunggu seseorang itu.</p>

<p>Tak lama setelah percakapan dari ponsel berlangsung. Tidak disangka ada urusan yang membuat mereka harus membatalkan janji. [Name] hanya mengukir senyum simpul, seraya berkata, “Tidak perlu dipermasalahkan. Saya paham pekerjaan Anda sekarang.”</p>

<p>Tidak tahu kenapa, malah terlihat merasa bersalah. “Baiklah, kalau [Last Name]-<em>san</em> merasa tidak masalah. Saya pamit undur diri, permisi.”</p>

<p>Menatap lelaki tersebut dari kejauhan. Napasnya sedikit tercekat. Alhasil, dia pun tidak mengucapkan kalimat perpisahan maupun berjumpa kembali.</p>

<p>Dipikir kembali [Name] memang mengetahui pekerjaan Yuzuru sebagai pelayannya Tori. Tentu saja ia menghargai hal tersebut. Bahkan, ia awalnya merasakan kalau tidak mungkin Tori akan memperbolehkan pelayannya berada jauh dari dirinya.</p>

<p>Yuzuru pun tidak mengatakan apapun mengenai apa yang perlu dilakukannya, selain ia harus segera kembali sebab Tori membutuhkannya. Jujur saja, sedikit tidak biasa. Tetapi, mau apa dikata, [Name] tidak mempunyai hubungan lebih dengan mereka.</p>

<p>Oh, sebentar. Rupanya ini merupakan perpisahan terakhir mereka. Karena, [Name] itu orangnya cukup lemah dan inilah penyebab kenapa ia bisa terlambat tadi.</p>

<p>Napasnya kembali menjadi tidak beraturan, bahkan mungkin dia sedikit demi sedikit sulit bernapas. Padahal, kalau tampak luar ia masih kuat, malangnya tidak demikian.</p>

<p>[Name] pula, seketika pingsan di tempat tersebut. Ia telah bisa dikatakan tidak mampu menyeimbangkan tubuh. Dia sekarang telah berada dikondisi yang paling parah.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/late</guid>
      <pubDate>Sun, 25 Sep 2022 08:10:03 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Melody.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/melody?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Hibiki Wataru × Readers.&#xA;  Week 1; Day 1 of #OverflowingFragments 2022.&#xA;&#xA;        written by @faudiaryza (Rein).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives.&#xA;  #EnsembleStars © Happy Elements K.K, David Production. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Berkatmu, aku selalu bisa mendengarkan melodi terindah.&#34;&#xA;&#xA;Bertanya dalam diam, bisakah ia menerima hal itu? Biasa tak ada yang mengomentarinya seperti itu. Hal inilah, yang membuat diri sedikit kaget.&#xA;&#xA;Melukis senyum tipis, entah darimana memunculkan bunga mawar. Seketika itupula, bunga mawar mulai berjatuhan di atas kepala sang figur yang membuatnya seperti ini.&#xA;&#xA;&#34;Ohoho, tentu saja~ terima kasih untuk kalimat pujian itu ♪&#34; sahutnya, mulai membalas.&#xA;&#xA;&#34;Eh? Ah, iya ... Sama-sama, sudah sewajarnya, bukan? Mengingat, aku juga merupakan salah satu fans dirimu, Hibiki-san.&#34;&#xA;&#xA;Entah kenapa, langsung ada penampilan mendadak diliputi atraksi yang memukau mata sang fans.&#xA;&#xA;&#34;Amazing~!&#34;&#xA;&#xA;Lihat, bagaimana meski hanya sekedar suara mampu membuat fans-nya ini, menampilkan ekspresi wajah bahagia?&#xA;&#xA;Lagipula, di tempat yang seperti ini–gang sempit–bagaimana bisa? Sejenak berpikir, meski sang gadis itu setia menunggu.&#xA;&#xA;&#34;Ah, iya ... Namaku [Full Name], silakan panggil aku [Name].&#34;&#xA;&#xA;Padahal tidak ada yang bertanya, tetapi dia? Dipujilah dirinya. Sangat jarang, melihat sosok yang mempunyai keberanian untuk memperkenalkan namanya.&#xA;&#xA;Ingatlah, kalau mereka merupakan Idola dan salah seorang fans. Elusan ringan di kepala, langsung membuat si gadis itu mendongak kaget.&#xA;&#xA;Dia sedari tadi, menunduk. Soalnya ia terlalu malu, untuk bisa menatap dengan wajahnya yang sudah memerah sekali seperti itu.&#xA;&#xA;Mengundang tawa dari sosok lelaki itu. &#34;Ahaha~ [Last Name]-san, perlu dirimu ketahui, kalau melodi tak hanya dari sebuah lagu saja, lo.&#34;&#xA;&#xA;Kebingungan, dia masih tidak dapat mencerna hal ini. &#34;Eh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Namun, Hibiki Wataru-mu ini, akan sangat senang ketika dirimu mendengarkan lagu-lagunya~!&#34;&#xA;&#xA;— Fin.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Hibiki Wataru × Readers.
Week 1; Day 1 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:OverflowingFragments" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">OverflowingFragments</span></a> 2022.</p></blockquote>

<p>        <em>written by <a href="https://twitter.com/faudiaryza" rel="nofollow">@faudiaryza</a> (Rein).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:EnsembleStars" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">EnsembleStars</span></a> © Happy Elements K.K, David Production. </p></blockquote>

<hr/>

<p><em>“Berkatmu, aku selalu bisa mendengarkan melodi terindah.”</em></p>

<p>Bertanya dalam diam, bisakah ia menerima hal itu? Biasa tak ada yang mengomentarinya seperti itu. Hal inilah, yang membuat diri sedikit kaget.</p>

<p>Melukis senyum tipis, entah darimana memunculkan bunga mawar. Seketika itupula, bunga mawar mulai berjatuhan di atas kepala sang figur yang membuatnya seperti ini.</p>

<p>“Ohoho, tentu saja~ terima kasih untuk kalimat pujian itu ♪” sahutnya, mulai membalas.</p>

<p>“Eh? Ah, iya ... Sama-sama, sudah sewajarnya, bukan? Mengingat, aku juga merupakan salah satu <em>fans</em> dirimu, Hibiki-san.”</p>

<p>Entah kenapa, langsung ada penampilan mendadak diliputi atraksi yang memukau mata sang <em>fans</em>.</p>

<p>“<em>Amazing</em>~!”</p>

<p>Lihat, bagaimana meski hanya sekedar suara mampu membuat <em>fans</em>-nya ini, menampilkan ekspresi wajah bahagia?</p>

<p>Lagipula, di tempat yang seperti ini–gang sempit–bagaimana bisa? Sejenak berpikir, meski sang gadis itu setia menunggu.</p>

<p>“Ah, iya ... Namaku [Full Name], silakan panggil aku [Name].”</p>

<p>Padahal tidak ada yang bertanya, tetapi dia? Dipujilah dirinya. Sangat jarang, melihat sosok yang mempunyai keberanian untuk memperkenalkan namanya.</p>

<p>Ingatlah, kalau mereka merupakan Idola dan salah seorang <em>fans</em>. Elusan ringan di kepala, langsung membuat si gadis itu mendongak kaget.</p>

<p>Dia sedari tadi, menunduk. Soalnya ia terlalu malu, untuk bisa menatap dengan wajahnya yang sudah memerah sekali seperti itu.</p>

<p>Mengundang tawa dari sosok lelaki itu. “Ahaha~ [Last Name]-san, perlu dirimu ketahui, kalau melodi tak hanya dari sebuah lagu saja, lo.”</p>

<p>Kebingungan, dia masih tidak dapat mencerna hal ini. “Eh?”</p>

<p>“Namun, Hibiki Wataru-mu ini, akan sangat senang ketika dirimu mendengarkan lagu-lagunya~!”</p>

<p><strong>— Fin.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/melody</guid>
      <pubDate>Tue, 28 Jun 2022 13:05:40 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Cuddle.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/cuddle?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Sakuma Ritsu × Reader.&#xA;  Day 22 of #SimpTember 2021.&#xA;&#xA;        written by @faudiaryza (Rein).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives.&#xA;  #EnsembleStars © Happy Elements K.K, David Production. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Manik semerah darah selalu menghiasi pandangannya. Dilihat figur yang begitu indah dalam manik sang empu. Senyuman terukir membentuk sesuatu yang lumayan menghanyutkan.&#xA;&#xA;Beranjak dari sofa, berjalan tanpa suara mendekati sang gadis yang sedang sibuk dengan peralatan memasak. Tangan kekar milik ia, memeluk pinggang ramping yang terkasih.&#xA;&#xA;Sesekali menghirup aroma khas yang paling disenanginya, selain satu orang itu. &#34;Ritsu, jangan ganggu aku.&#34; Tak menghiraukan perkataan dari sang istri. Sudah sewajarnya bagi pasangan seperti mereka ini.&#xA;&#xA;&#34;Tidak~&#34;&#xA;&#xA;Ucapan lemah terdengar begitu dekat dengan telinga, sesekali bergerak kecil tanda merinding. Bahwasannya tak pernah menolak, bila sudah berada dalam kondisi begini.&#xA;&#xA;&#34;Aku jadi tidak bisa memasak, bila dirimu terus memelukku seperti ini.&#34;&#xA;&#xA;Gerutuan yang mulai sekarang ia sukai, membuatnya mendekatkan bibir ke telinga. &#34;Aku menyukainya.&#34; Dengan gerakan pelan, mencoba membuat sang belahan jiwa menoleh ke arahnya.&#xA;&#xA;Mau tak mau, ketimbang memberontak yang ada bisa terluka. Tangan perempuan itu, tidak lagi memegang pisau. Diletakannya diatas sebuah telenan, guna menyudahi aktivitas-nya sesaat.&#xA;&#xA;Senyuman terukir pada wajah, begitu dia melihat sang suami. Seolah memiliki waktu sendiri tiada yang menganggu aktivitas mereka, didekapnya ia dalam pelukan. Sedikit kaget berakhir membalas.&#xA;&#xA;Tidak sadar bahwa kepala telah berada dibahu milik dia. Tangan pun menjalar menuju surai hitam yang begitu lembut, sewaktu dielus perlahan. Benar, keduanya menikmati waktu-waktu itu.&#xA;&#xA;&#34;Tetaplah seperti ini ... untukku.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Sakuma Ritsu × Reader.
Day 22 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</p></blockquote>

<p>        <em>written by <a href="https://twitter.com/faudiaryza" rel="nofollow">@faudiaryza</a> (Rein).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:EnsembleStars" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">EnsembleStars</span></a> © Happy Elements K.K, David Production. </p></blockquote>

<hr/>

<p>Manik semerah darah selalu menghiasi pandangannya. Dilihat figur yang begitu indah dalam manik sang empu. Senyuman terukir membentuk sesuatu yang lumayan menghanyutkan.</p>

<p>Beranjak dari sofa, berjalan tanpa suara mendekati sang gadis yang sedang sibuk dengan peralatan memasak. Tangan kekar milik ia, memeluk pinggang ramping yang terkasih.</p>

<p>Sesekali menghirup aroma khas yang paling disenanginya, selain satu orang itu. “Ritsu, jangan ganggu aku.” Tak menghiraukan perkataan dari sang istri. Sudah sewajarnya bagi pasangan seperti mereka ini.</p>

<p>“Tidak~”</p>

<p>Ucapan lemah terdengar begitu dekat dengan telinga, sesekali bergerak kecil tanda merinding. Bahwasannya tak pernah menolak, bila sudah berada dalam kondisi begini.</p>

<p>“Aku jadi tidak bisa memasak, bila dirimu terus memelukku seperti ini.”</p>

<p>Gerutuan yang mulai sekarang ia sukai, membuatnya mendekatkan bibir ke telinga. “Aku menyukainya.” Dengan gerakan pelan, mencoba membuat sang belahan jiwa menoleh ke arahnya.</p>

<p>Mau tak mau, ketimbang memberontak yang ada bisa terluka. Tangan perempuan itu, tidak lagi memegang pisau. Diletakannya diatas sebuah telenan, guna menyudahi aktivitas-nya sesaat.</p>

<p>Senyuman terukir pada wajah, begitu dia melihat sang suami. Seolah memiliki waktu sendiri tiada yang menganggu aktivitas mereka, didekapnya ia dalam pelukan. Sedikit kaget berakhir membalas.</p>

<p>Tidak sadar bahwa kepala telah berada dibahu milik dia. Tangan pun menjalar menuju surai hitam yang begitu lembut, sewaktu dielus perlahan. Benar, keduanya menikmati waktu-waktu itu.</p>

<p>“Tetaplah seperti ini ... <em>untukku</em>.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/cuddle</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 11:26:28 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Beach/Sea.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/beach-sea?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Hakaze Kaoru × Reader.&#xA;  Day 18 of #SimpTember 2021.&#xA;&#xA;        written by @faudiaryza (Rein).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives.&#xA;  #EnsembleStars © Happy Elements K.K, David Production. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Manik gelap itu senantiasa menanti kedatangan. Berpikir sudah lama tak pernah berkunjung kemari. Rasa sedih terkadang kian menghantui. Detik-detik berlalu, menguras emosi akan memori.&#xA;&#xA;Jikalau hari itu ia bisa melakukan sesuatu, maka sesuatu itu mungkin saja tak terulangi. Tiada keinginan basa-basi keluar sebagai lapalan mantra. Udara laut dimalam hari, sudah sering kali menusuk kulit.&#xA;&#xA;Tidak terpikir akan adanya bulir bening yang turun, mengucur deras bak air terjun pada wajah. Tepukan tangan pelan pada bahu, guna memanggil sang adam. Namun tak didengarkan sewaktu dipanggil namanya.&#xA;&#xA;Menoleh dari sudut ekor mata, manik gelap itu spontan kaget mengetahui sosok yang dinanti. &#34;Maaf membuat Kaoru-san terkejut,&#34; seutas kalimat dilantunkan pemilik bibir ranum itu.&#xA;&#xA;Memposisikan berada disamping sang adam, Hakaze Kaoru. Sering ia panggil demikian, ibu jari tangan mengusap ujung bulir bening yang mengering. Wajah sembab itu menjadikan saksi kesedihan terdalam, bahkan angin laut tak mau kalah memberikan sensasi menusuk sang insan.&#xA;&#xA;&#34;[Name]-chan, ke mana saja?&#34;&#xA;&#xA;Tanpa persetujuan, pelukan hangat menghantam pemilik nama [Full Name]. Dipanggil seperti itu, menyesuaikan sifat dan kepribadian diri. Dengan tatapan sayu, ia kembali mengatakan sesuatu.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa tak ada kabar semenjak hari itu? Aku pikir—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maafkan aku untuk hal itu, bukannya aku tak ingin memberitahu ... tapi, &#39;mereka&#39; cukup terburu-buru.&#34;&#xA;&#xA;Tangan beranjak dari menepuk-nepuk punggung, ke atas kepala. Mengusap perlahan surai pirang milik dirinya, mencoba menenangkan yang terkasih. &#34;... Ah, bila dipikirkan itu memang tidak salah,&#34;&#xA;&#xA;Tangan sudah tak lagi saling memeluk, lukisan indah akan senyuman tercetak disana. &#34;Tapi, mengapa [Name]-chan mengetahui aku selalu berada disini?&#34; Dengan kata &#39;selalu&#39; sedikit samar, selebihnya biasa saja.&#xA;&#xA;&#34;Hm, kenapa ya?&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Hakaze Kaoru × Reader.
Day 18 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</p></blockquote>

<p>        <em>written by <a href="https://twitter.com/faudiaryza" rel="nofollow">@faudiaryza</a> (Rein).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:EnsembleStars" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">EnsembleStars</span></a> © Happy Elements K.K, David Production. </p></blockquote>

<hr/>

<p>Manik gelap itu senantiasa menanti kedatangan. Berpikir sudah lama tak pernah berkunjung kemari. Rasa sedih terkadang kian menghantui. Detik-detik berlalu, menguras emosi akan memori.</p>

<p>Jikalau hari itu ia bisa melakukan sesuatu, maka sesuatu itu mungkin saja tak terulangi. Tiada keinginan basa-basi keluar sebagai lapalan mantra. Udara laut dimalam hari, sudah sering kali menusuk kulit.</p>

<p>Tidak terpikir akan adanya bulir bening yang turun, mengucur deras bak air terjun pada wajah. Tepukan tangan pelan pada bahu, guna memanggil sang adam. Namun tak didengarkan sewaktu dipanggil namanya.</p>

<p>Menoleh dari sudut ekor mata, manik gelap itu spontan kaget mengetahui sosok yang dinanti. “Maaf membuat Kaoru-<em>san</em> terkejut,” seutas kalimat dilantunkan pemilik bibir ranum itu.</p>

<p>Memposisikan berada disamping sang adam, Hakaze Kaoru. Sering ia panggil demikian, ibu jari tangan mengusap ujung bulir bening yang mengering. Wajah sembab itu menjadikan saksi kesedihan terdalam, bahkan angin laut tak mau kalah memberikan sensasi menusuk sang insan.</p>

<p>“[Name]-<em>chan</em>, ke mana saja?”</p>

<p>Tanpa persetujuan, pelukan hangat menghantam pemilik nama [Full Name]. Dipanggil seperti itu, menyesuaikan sifat dan kepribadian diri. Dengan tatapan sayu, ia kembali mengatakan sesuatu.</p>

<p>“Kenapa tak ada kabar semenjak hari itu? Aku pikir—”</p>

<p>“Maafkan aku untuk hal itu, bukannya aku tak ingin memberitahu ... tapi, &#39;<em>mereka</em>&#39; cukup terburu-buru.”</p>

<p>Tangan beranjak dari menepuk-nepuk punggung, ke atas kepala. Mengusap perlahan surai pirang milik dirinya, mencoba menenangkan yang terkasih. “... Ah, bila dipikirkan itu memang tidak salah,”</p>

<p>Tangan sudah tak lagi saling memeluk, lukisan indah akan senyuman tercetak disana. “Tapi, mengapa [Name]-<em>chan</em> mengetahui aku <em>selalu</em> berada disini?” Dengan kata &#39;selalu&#39; sedikit samar, selebihnya biasa saja.</p>

<p>“Hm, kenapa ya?”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/beach-sea</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 10:54:51 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Library.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/library?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Aoba Tsumugi × Reader.&#xA;  Day 12 of #SimpTember 2021.&#xA;&#xA;        written by @faudiaryza (Rein).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives.&#xA;  #EnsembleStars © Happy Elements K.K, David Production. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Derap kaki yang berjalan dalam sunyinya malam, menimbulkan kesan seram. Gadis yang seharusnya pulang saat ini malah berdiam diri, sewaktu melihat penampakan dan itu membuat ia semakin merinding disaat yang bersamaan.&#xA;&#xA;Baru saja meletakan sebuah buku pada rak, tiba-tiba saja lampu ruangan tersebut mati. Berlokasi didalam perpustakaan, malah menambah kesan seram. Benar, ini adalah waktu sebelumnya.&#xA;&#xA;Walau lampu diluar masih memperlihatkan cahayanya, tapi tetap saja sudah termasuk dalam kategori menyeramkan. Bayangan-bayangan terlihat jelas, sewaktu suara mulai terasa mendekati sosok dia.&#xA;&#xA;[Full Name] adalah namanya, seorang gadis yang sering pulang larut. Nyatanya ia lupa mengembalikan buku yang dipinjamnya di perpustakaan. Sudah memakan waktu satu jam untuk mengelilingi perpustakaan.&#xA;&#xA;Mencari yang sesuai untuk label yang menunjukan kategori apa, buku tadi yang telah dikembalikan pada raknya. Tiba-tiba ada sebuah lampu dari balik raknya, menampilkan sosok lelaki. Namun sebelum memperlihatkan diri, [Name] memasang ancang-ancang.&#xA;&#xA;(Gambar 1)&#xA;&#xA;&#34;Uwah!&#34;&#xA;&#xA;[Name] terduduk dilantai perpustakaan, begitu mengetahui ternyata masih ada seseorang di tempat ini. Dengan surai yang lebih gelap ketimbang pakaian yang dikenakan. Lampu telah menyorot ke arah [Name] disana.&#xA;&#xA;&#34;Ahh, apa dirimu baik-baik saja?&#34;&#xA;&#xA;Mendekati sosok [Name], akibat kaget napasnya pun jadi tak stabil. Bahkan detak jantungnya berdetak lebih cepat. Mengatur napas sebelum akhirnya bernapas lebih normal. Netra milik nya melihat tangan terulur.&#xA;&#xA;Tampak jelas bila sosok tersebut mengkhawatirkan dirinya. Barang kali ada sesuatu yang terjadi sewaktu tak sedang seimbang tadinya. Tangan milik [Name] menerima sambutan tersebut. Anggukan kecil sebagai jawaban.&#xA;&#xA;Ia masih larut dalam lamunannya. Tidak habis pikir dengan apa yang sudah dilihat, padahal cukup menyeram baginya yang tak suka dengan kegelapan. &#34;Syukurlah kalau seperti itu, lalu mengapa dirimu berada di perpustakaan selarut ini?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ha-hanya mengembalikan buku,&#34; balas [Name] dengan nada bergetar. Wajar saja masih sedikit syok sebab, kejadian ini tak pernah terjadi di perpustakaan. Tapi, kalau rumahnya sendiri sudah menjadi sesuatu, seperti kebiasaan.&#xA;&#xA;Sambil tersenyum kecil, memahami apa maksud perkataan [Name]. &#34;Apakah boleh kubantu, agar cepat selesai?&#34; Langsung kepala ia gelengkan, mencoba menolak tawaran tersebut.&#xA;&#xA;[Name] tidak ingin merepotkan orang lain, jika sudah menyangkut tanggung jawabnya. &#34;Tidak masalah, kok. Ayo berikan buku ditangan mu satunya lagi, &#34; tuturnya melembut.&#xA;&#xA;Mau tak mau [Name] meng-iya-kan tawaran tersebut. Sebagai tipe gadis yang tidak bisa menolak, kerap sering kali melakukan apapun permintaan yang dia terima. &#34;Baiklah, mm ... siapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ugh, maaf sudah tidak sopan. Perkenalkan namaku Aoba Tsumugi, kalau dirimu?&#34;&#xA;&#xA;Tangan Tsumugi menerima buku yang [Name] berikan. Menggelengkan pelan kepalanya, [Name] mulai memperkenalkan diri, &#34;Salam kenal, Tsumugi-san. Perkenalkan namaku [Full Name], panggil saja [Name]. Terima kasih untuk bantuannya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh?! [Name]-chan?&#34;&#xA;&#xA;Memiringkan kepala tidak mengerti mengapa tiba-tiba Tsumugi menyeru kaget, masih terdiam dalam pemikiran. Ia sering dicap pelupa oleh angkatannya sendiri. Tidak diingatkan, terkadang ia melupakan pekerjaannya.&#xA;&#xA;&#34;Iya, ini aku. Apakah kita pernah bertemu?&#34;&#xA;&#xA;Mencoba mempertanyakan hal ini, dalam lamunan ia. Tapi sepertinya ada yang dilupakan oleh kedua insan berbeda gender disini. Jari-jemari bermain-main disana, pipi menjadi taruhan tuk digaruk walau tak gatal.&#xA;&#xA;&#34;Um, jika aku tidak salah ingat. Siang minggu lalu kita pernah betemu,&#34; jelasnya ternyata juga ikut lupa bahkan tadi kedua manusia itu, bertanya masing-masing pemilik nama juga.&#xA;&#xA;Mencoba mengingat kembali suatu siang minggu lalu, berpikir ingatan [Name] cukup buruk. Tsumugi mengatakan sesuatu sebagai tambahan, &#34;Kita pernah bertemu di sini. Hari itu aku memberikan buku ini, benar?&#34;&#xA;&#xA;Merasa tidak enak, gadis itu masih berkutat dengan pemikirannya. Sesuatu yang terlupakan dan kembali terputar kembali. Siang itu, di mana minggu lalu tepatnya. Ia meminjam buku-buku dari perpustakaan yang sekarang ia pijaki. Berkata sesuai kenyataan dia memang cukup telat mengembalikan buku pinjaman.&#xA;&#xA;(Gambar 2)&#xA;&#xA;&#34;Apakah ini barang yang dirimu cari?&#34;&#xA;&#xA;Keduanya berada di tempat yang sama, tapi nyatanya melupakan hal tersebut bersama. Dikala itu dengan pakaian berbeda, Tsumugi memberikan sebuah buku, beserta label peminjaman kepada [Name].&#xA;&#xA;Akibat terkejar oleh waktu, setelah berpamitan meninggalkan nama masing-masing sebagai perkenalan. Barang kali bisa kembali bertemu, [Name] terburu-buru meninggalkan sosoknya dihari pertama kali mereka ketemu.&#xA;&#xA;Tertawa pelan, ia bahkan melupakan hal itu ternyata. Tsumugi sedari tadi melempar senyum tipis sewaktu melihat [Name] tertawa, setelah mengingat kejadian siang minggu lalu.&#xA;&#xA;&#34;[Name]-chan ternyata melupakan hal itu juga ya,&#34; kata Tsumugi dan hanya dibalas anggukan kecil.&#xA;&#xA;Berada diatas meja, senter yang dibawa Tsumugi mengarah kepada dirinya. Dengan dua buku pada kedua tangannya malah menjadi kesan horor, dan pasti saja karena ini sudah masuk larut malam!&#xA;&#xA;(Gambar 3)&#xA;&#xA;Dengan tatapan iris emasnya sedikit kusam pada malam itu, berasa kata-kata tak lagi bisa terucapkan pada bibir ranumnya. Setelah Tsumugi berkata setelahnya, ia meletakan buku diatas meja.&#xA;&#xA;&#34;Ini tidaklah begitu sulit menemukan raknya, apa [Name]-chan ingin mengetahui letak rak buku ini, bersama ku?&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Aoba Tsumugi × Reader.
Day 12 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</p></blockquote>

<p>        <em>written by <a href="https://twitter.com/faudiaryza" rel="nofollow">@faudiaryza</a> (Rein).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:EnsembleStars" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">EnsembleStars</span></a> © Happy Elements K.K, David Production. </p></blockquote>

<hr/>

<p>Derap kaki yang berjalan dalam sunyinya malam, menimbulkan kesan seram. Gadis yang seharusnya pulang saat ini malah berdiam diri, sewaktu melihat penampakan dan itu membuat ia semakin merinding disaat yang bersamaan.</p>

<p>Baru saja meletakan sebuah buku pada rak, tiba-tiba saja lampu ruangan tersebut mati. Berlokasi didalam perpustakaan, malah menambah kesan seram. Benar, ini adalah waktu sebelumnya.</p>

<p>Walau lampu diluar masih memperlihatkan cahayanya, tapi tetap saja sudah termasuk dalam kategori menyeramkan. Bayangan-bayangan terlihat jelas, sewaktu suara mulai terasa mendekati sosok dia.</p>

<p>[Full Name] adalah namanya, seorang gadis yang sering pulang larut. Nyatanya ia lupa mengembalikan buku yang dipinjamnya di perpustakaan. Sudah memakan waktu satu jam untuk mengelilingi perpustakaan.</p>

<p>Mencari yang sesuai untuk label yang menunjukan kategori apa, buku tadi yang telah dikembalikan pada raknya. Tiba-tiba ada sebuah lampu dari balik raknya, menampilkan sosok lelaki. Namun sebelum memperlihatkan diri, [Name] memasang ancang-ancang.</p>

<p>(Gambar 1)</p>

<p>“Uwah!”</p>

<p>[Name] terduduk dilantai perpustakaan, begitu mengetahui ternyata masih ada seseorang di tempat ini. Dengan surai yang lebih gelap ketimbang pakaian yang dikenakan. Lampu telah menyorot ke arah [Name] disana.</p>

<p>“Ahh, apa dirimu baik-baik saja?”</p>

<p>Mendekati sosok [Name], akibat kaget napasnya pun jadi tak stabil. Bahkan detak jantungnya berdetak lebih cepat. Mengatur napas sebelum akhirnya bernapas lebih normal. Netra milik nya melihat tangan terulur.</p>

<p>Tampak jelas bila sosok tersebut mengkhawatirkan dirinya. Barang kali ada sesuatu yang terjadi sewaktu tak sedang seimbang tadinya. Tangan milik [Name] menerima sambutan tersebut. Anggukan kecil sebagai jawaban.</p>

<p>Ia masih larut dalam lamunannya. Tidak habis pikir dengan apa yang sudah dilihat, padahal cukup menyeram baginya yang tak suka dengan kegelapan. “Syukurlah kalau seperti itu, lalu mengapa dirimu berada di perpustakaan selarut ini?”</p>

<p>“Ha-hanya mengembalikan buku,” balas [Name] dengan nada bergetar. Wajar saja masih sedikit syok sebab, kejadian ini tak pernah terjadi di perpustakaan. Tapi, kalau rumahnya sendiri sudah menjadi sesuatu, seperti kebiasaan.</p>

<p>Sambil tersenyum kecil, memahami apa maksud perkataan [Name]. “Apakah boleh kubantu, agar cepat selesai?” Langsung kepala ia gelengkan, mencoba menolak tawaran tersebut.</p>

<p>[Name] tidak ingin merepotkan orang lain, jika sudah menyangkut tanggung jawabnya. “Tidak masalah, kok. Ayo berikan buku ditangan mu satunya lagi, ” tuturnya melembut.</p>

<p>Mau tak mau [Name] meng-iya-kan tawaran tersebut. Sebagai tipe gadis yang tidak bisa menolak, kerap sering kali melakukan apapun permintaan yang dia terima. “Baiklah, <em>mm</em> ... siapa?”</p>

<p>“Ugh, maaf sudah tidak sopan. Perkenalkan namaku Aoba Tsumugi, kalau dirimu?”</p>

<p>Tangan Tsumugi menerima buku yang [Name] berikan. Menggelengkan pelan kepalanya, [Name] mulai memperkenalkan diri, “Salam kenal, Tsumugi-san. Perkenalkan namaku [Full Name], panggil saja [Name]. Terima kasih untuk bantuannya.”</p>

<p>“Eh?! [Name]-<em>chan</em>?”</p>

<p>Memiringkan kepala tidak mengerti mengapa tiba-tiba Tsumugi menyeru kaget, masih terdiam dalam pemikiran. Ia sering dicap pelupa oleh angkatannya sendiri. Tidak diingatkan, terkadang ia melupakan pekerjaannya.</p>

<p>“Iya, ini aku. Apakah kita pernah bertemu?”</p>

<p>Mencoba mempertanyakan hal ini, dalam lamunan ia. Tapi sepertinya ada yang dilupakan oleh kedua insan berbeda gender disini. Jari-jemari bermain-main disana, pipi menjadi taruhan tuk digaruk walau tak gatal.</p>

<p>“Um, jika aku tidak salah ingat. Siang minggu lalu kita pernah betemu,” jelasnya ternyata juga ikut lupa bahkan tadi kedua manusia itu, bertanya masing-masing pemilik nama juga.</p>

<p>Mencoba mengingat kembali suatu siang minggu lalu, berpikir ingatan [Name] cukup buruk. Tsumugi mengatakan sesuatu sebagai tambahan, “Kita pernah bertemu di sini. Hari itu aku memberikan buku ini, benar?”</p>

<p>Merasa tidak enak, gadis itu masih berkutat dengan pemikirannya. Sesuatu yang terlupakan dan kembali terputar kembali. Siang itu, di mana minggu lalu tepatnya. Ia meminjam buku-buku dari perpustakaan yang sekarang ia pijaki. Berkata sesuai kenyataan dia memang cukup telat mengembalikan buku pinjaman.</p>

<p>(Gambar 2)</p>

<p><em>“Apakah ini barang yang dirimu cari?”</em></p>

<p><em>Keduanya berada di tempat yang sama, tapi nyatanya melupakan hal tersebut bersama. Dikala itu dengan pakaian berbeda, Tsumugi memberikan sebuah buku, beserta label peminjaman kepada [Name].</em></p>

<p><em>Akibat terkejar oleh waktu, setelah berpamitan meninggalkan nama masing-masing sebagai perkenalan. Barang kali bisa kembali bertemu, [Name] terburu-buru meninggalkan sosoknya dihari pertama kali mereka ketemu.</em></p>

<p>Tertawa pelan, ia bahkan melupakan hal itu ternyata. Tsumugi sedari tadi melempar senyum tipis sewaktu melihat [Name] tertawa, setelah mengingat kejadian siang minggu lalu.</p>

<p>“[Name]-<em>chan</em> ternyata melupakan hal itu juga ya,” kata Tsumugi dan hanya dibalas anggukan kecil.</p>

<p>Berada diatas meja, senter yang dibawa Tsumugi mengarah kepada dirinya. Dengan dua buku pada kedua tangannya malah menjadi kesan horor, dan pasti saja karena ini sudah masuk larut malam!</p>

<p>(Gambar 3)</p>

<p>Dengan tatapan iris emasnya sedikit kusam pada malam itu, berasa kata-kata tak lagi bisa terucapkan pada bibir ranumnya. Setelah Tsumugi berkata setelahnya, ia meletakan buku diatas meja.</p>

<p>“Ini tidaklah begitu sulit menemukan raknya, apa [Name]-<em>chan</em> ingin mengetahui letak rak buku ini, bersama ku?”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/library</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 10:19:49 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Twilight.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/twilight?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Tsukinaga Leo × Reader.&#xA;  Day 3 of #SimpTember 2021.&#xA;&#xA;        written by @faudiaryza (Rein).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives.&#xA;  #EnsembleStars © Happy Elements K.K, David Production. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Terlepas dari pandangan iris sehijau rumput. Rambut setengah pendek malah terlihat menyatu dengan warna langit. Senja begitu menghangatkan, sebelum menjadikan kedinginan menyeruak.&#xA;&#xA;Angin membaca pikiran, mengacak-acak surai oranye milik dirinya. Semakin berantakan mahkota kepala, masih tak memperdulikan hal tersebut. Kertas-kertas yang Ia pegang ternyata ikut berterbangan.&#xA;&#xA;Erangan kesal terdengar. Mencaci maki angin tak berperasaan. Tidak memerhatikan sekeliling dan hanya berusaha menggapai kertas, yang berterbangan tak kendali.&#xA;&#xA;Seseorang mengambil langkah kaki dia terhenti, menyerahkan beberapa kertas tersebut kepadanya. &#34;Oh! Jangan bilang kau ingin mencuri kertasku?! Kembalikan!&#34;&#xA;&#xA;Tanpa aba-aba tuduhan tanpa permintaan terdengar. Ekspresi kaget tak terbendung, rasa ingin menyingkir dari tempat ini. &#34;Hah? Buat apa aku mencuri kertas, kalau di rumah masih ada? Lagipula, aku kebetulan memungutnya, huh.&#34;&#xA;&#xA;Menyerahkan langsung langsung meninggalkan dirinya. Tapi tangan menjalar ke pergelangan, seraya menghentikan derap kaki. Kembali sosok tadi menoleh ke arah dia. &#34;Sebentar siapa namamu?&#34;&#xA;&#xA;Helaan napas berat dikeluarkan, tak habis pikir dengan sosok dihadapan. Bagaimana bisa melupakan teman sekelasnya sendiri? Memikirkan sering bolos, bisa jadi ingatannya sering terlupakan.&#xA;&#xA;Berdasarkan teman satu unit begitulah sosoknya. &#34;[Full Name] dan aku teman sekelasmu. Bisakah untuk tidak melupakan?&#34; tanya seorang gadis yang tingginya hanya memiliki selisih beberapa senti dengan dia.&#xA;&#xA;Keheningan menjadikan pembatas tak ada diantara keduanya mengambil percakapan. Seolah memikirkan, tampak Leo menatap kertas-kertasnya. Berpikir apakah ada yang Ia lupakan?&#xA;&#xA;&#34;Kalau tidak bicara aku pamit. Oh satu hal, ada baiknya menulis di ruangan tertutup bila tak ingin kertasmu, berterbangan.&#34;&#xA;&#xA;Bila tak ingin tulisan pada kertas hilang—&#xA;&#xA;&#34;Wahahaha ☆! Aku tak bisa mendapatkan inspirasi kalau seperti itu,&#34;&#xA;&#xA;—simpanlah, atau pergilah di mana tempat teraman berada.&#xA;&#xA;&#34;Tidak mungkin, setiap aku perhatikan ... dirimu selalu memiliki inspirasi, heh?&#34;&#xA;&#xA;Menolak pernyataan kebohongan, kebenaran yang dikatakan. Tak memperdulikan yang terjadi kendati, skenario diberlangsungkan.&#xA;&#xA;&#34;Lho, [Name] memperhatikanku?&#34;&#xA;&#xA;Tidak ada perkataan yang bisa menjawab pertanyan langsung itu. Rasa ingin memutar ulang segalanya.&#xA;&#xA;&#34;Ternyata [Name] dari kecil selalu perhatian, ya. Ah- aku menemukan inspirasi!&#34;&#xA;&#xA;Tangan berjalan menelusuri kertas yang telah diterima. Terpaku akan kata-kata baru saja terdengar, bagaimana bisa? Terus saja otak mengeluarkan kata yang sama.&#xA;&#xA;&#34;Kalau yang lain terlupakan, kenapa hal itu tidak terlupakan?&#34;&#xA;&#xA;Tangan tidak lagi mencorat-coret lembaran kertas pada atas rerumputan. Netra yang begitu cerah dibandingkan rumput. Walau dengan warna yang sama, tetap saja melirik sekilas.&#xA;&#xA;&#34;Entahlah. Aku ingin mengetahuinya juga ....&#34;&#xA;&#xA;Hari itu adalah di mana pertemuan kedua. Di mana sebelumnya senja selalu menjadi saksi bisu pertemuan.&#xA;&#xA;Benar-benar, huh?]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Tsukinaga Leo × Reader.
Day 3 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</p></blockquote>

<p>        <em>written by <a href="https://twitter.com/faudiaryza" rel="nofollow">@faudiaryza</a> (Rein).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:EnsembleStars" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">EnsembleStars</span></a> © Happy Elements K.K, David Production. </p></blockquote>

<hr/>

<p>Terlepas dari pandangan iris sehijau rumput. Rambut setengah pendek malah terlihat menyatu dengan warna langit. Senja begitu menghangatkan, sebelum menjadikan kedinginan menyeruak.</p>

<p>Angin membaca pikiran, mengacak-acak surai oranye milik dirinya. Semakin berantakan mahkota kepala, masih tak memperdulikan hal tersebut. Kertas-kertas yang Ia pegang ternyata ikut berterbangan.</p>

<p>Erangan kesal terdengar. Mencaci maki angin tak berperasaan. Tidak memerhatikan sekeliling dan hanya berusaha menggapai kertas, yang berterbangan tak kendali.</p>

<p>Seseorang mengambil langkah kaki dia terhenti, menyerahkan beberapa kertas tersebut kepadanya. “Oh! Jangan bilang kau ingin mencuri kertasku?! Kembalikan!”</p>

<p>Tanpa aba-aba tuduhan tanpa permintaan terdengar. Ekspresi kaget tak terbendung, rasa ingin menyingkir dari tempat ini. “Hah? Buat apa aku mencuri kertas, kalau di rumah masih ada? Lagipula, aku kebetulan memungutnya, huh.”</p>

<p>Menyerahkan langsung langsung meninggalkan dirinya. Tapi tangan menjalar ke pergelangan, seraya menghentikan derap kaki. Kembali sosok tadi menoleh ke arah dia. “Sebentar siapa namamu?”</p>

<p>Helaan napas berat dikeluarkan, tak habis pikir dengan sosok dihadapan. Bagaimana bisa melupakan teman sekelasnya sendiri? Memikirkan sering bolos, bisa jadi ingatannya sering terlupakan.</p>

<p>Berdasarkan teman satu unit begitulah sosoknya. “[Full Name] dan aku teman sekelasmu. Bisakah untuk tidak melupakan?” tanya seorang gadis yang tingginya hanya memiliki selisih beberapa senti dengan dia.</p>

<p>Keheningan menjadikan pembatas tak ada diantara keduanya mengambil percakapan. Seolah memikirkan, tampak Leo menatap kertas-kertasnya. Berpikir apakah ada yang Ia lupakan?</p>

<p>“Kalau tidak bicara aku pamit. Oh satu hal, ada baiknya menulis di ruangan tertutup bila tak ingin kertasmu, berterbangan.”</p>

<p><em>Bila tak ingin tulisan pada kertas hilang</em>—</p>

<p>“Wahahaha ☆! Aku tak bisa mendapatkan inspirasi kalau seperti itu,”</p>

<p>—<em>simpanlah, atau pergilah di mana tempat teraman berada.</em></p>

<p>“Tidak mungkin, setiap aku perhatikan ... dirimu selalu memiliki inspirasi, heh?”</p>

<p>Menolak pernyataan kebohongan, kebenaran yang dikatakan. Tak memperdulikan yang terjadi kendati, skenario diberlangsungkan.</p>

<p>“Lho, [Name] memperhatikanku?”</p>

<p>Tidak ada perkataan yang bisa menjawab pertanyan langsung itu. Rasa ingin memutar ulang segalanya.</p>

<p>“Ternyata [Name] dari kecil selalu perhatian, ya. Ah- aku menemukan inspirasi!”</p>

<p>Tangan berjalan menelusuri kertas yang telah diterima. Terpaku akan kata-kata baru saja terdengar, bagaimana bisa? Terus saja otak mengeluarkan kata yang sama.</p>

<p>“Kalau yang lain terlupakan, kenapa hal itu tidak terlupakan?”</p>

<p>Tangan tidak lagi mencorat-coret lembaran kertas pada atas rerumputan. Netra yang begitu cerah dibandingkan rumput. Walau dengan warna yang sama, tetap saja melirik sekilas.</p>

<p>“Entahlah. Aku ingin mengetahuinya juga ....”</p>

<p>Hari itu adalah di mana pertemuan kedua. Di mana sebelumnya senja selalu menjadi saksi bisu pertemuan.</p>

<p><em>Benar-benar, huh?</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/twilight</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 09:23:47 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Shopping.</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/shopping?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Tomoe Hiyori × Reader.&#xA;  Day 2 of #SimpTember 2021.&#xA;&#xA;        written by @faudiaryza (Rein).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives.&#xA;  #EnsembleStars © Happy Elements K.K, David Production. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Mentari mulai menemperdaya langit senja, tak membiarkan suasana hangat berganti menyejukan. Netra ungu membiarkan pandangan menatapnya, mahkota kepala yang tampak tersibak oleh angin tak membuatnya goyah.&#xA;&#xA;&#34;Huh [Name]! Kau lama sekali,&#34; tuduhnya ketika menyadari bahwa ada terdengar suara panggilan, memanggil namanya itu.&#xA;&#xA;Sudah tak heran dengan sifatnya yang begitu [Name] hanya mengulas cengiran. &#34;Habisnya ada latihan tambahan, mau bagaimana lagi &#39;kan? Tunggu, kenapa menungguku?&#34;&#xA;&#xA;Membuang wajah ke sembarang arah, seperti membuang napas kasar. Bagaimana pun juga kesabaran adalah sesuatu yang pastinya. Tapi, keduanya ada waktu sabar tersendiri. &#34;Bolos saja~&#34;&#xA;&#xA;Penolakan keras didapatkan, menggelengkan kepala adalah semisalnya. &#34;Tidak-tidak! Aku tidak ingin semua hasil jerih payahku disia-siakan,&#34; celetuknya membalas jawaban pemuda dihadapan.&#xA;&#xA;&#34;Oh, ayolah aku tidak ingin malam-malam! Sekarang kita pergi belanja tidak nerima penolakan, paham?&#34;&#xA;&#xA;Wajah kaget tertera disana, membuktikan dia tidak ingin tapi- sekarang mengangguk pasrah. &#34;Mau belanja apa memangnya?&#34; tanya [Name] entah kenapa dia sedikit penasaran tentang ini.&#xA;&#xA;&#34;Eh?! Bukanya aku sudah memberi tahukan kepadamu, warui hiyori.&#34; Mengerang kesal kenapa chat pada handphone nya tidak dibaca. Lalu, kok bisa belanja pada akhirnya?&#xA;&#xA;&#34;Mmm, iya iya aku lupa. Hiyori, tidak menunggu lama tadi &#39;kan? Maaf sudah membuat menunggu,&#34;&#xA;&#xA;Tangan menepuk-nepuk bahu miliknya. Tangan itu adalah tangan Tomoe Hiyori sering Ia panggil Hiyori. &#34;Apa-apaan itu? Kau membuatku menunggu sangat~ sangat lama!&#34;&#xA;&#xA;Menggaruk pipi tak gatal, jari berdansa ria disana. &#34;Baiklah aku akan coba nurut belanja kali ini,&#34; tutur [Name]. Tangan menelusuri surai milik [Name] ternyata berakhir mengacak-acak surainya.&#xA;&#xA;&#34;Bagaimana dengan ini? Tampak bagus dengan tubuhmu! Ii hiyori~&#34;&#xA;&#xA;Perhatian, ya ....&#xA;&#xA;Wajah memerah mendengar perkataan Hiyori membuat [Name] sesaat salah bertingkah. &#34;Huh! Perkataannya kenapa seperti itu? Tapi ya, bagus juga sih ....&#34;&#xA;&#xA;Dengan nada bergumam diakhir, Hiyori mengutarakan senyuman lebar pada wajahnya, sewaktu mendengar gumaman tersebut. &#34;Kalau begitu ini saja, ya~ fufu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Loh! Kok sekarang ditinggalkan?!&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Tomoe Hiyori × Reader.
Day 2 of <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:SimpTember" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">SimpTember</span></a> 2021.</p></blockquote>

<p>        <em>written by <a href="https://twitter.com/faudiaryza" rel="nofollow">@faudiaryza</a> (Rein).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:EnsembleStars" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">EnsembleStars</span></a> © Happy Elements K.K, David Production. </p></blockquote>

<hr/>

<p>Mentari mulai menemperdaya langit senja, tak membiarkan suasana hangat berganti menyejukan. Netra ungu membiarkan pandangan menatapnya, mahkota kepala yang tampak tersibak oleh angin tak membuatnya goyah.</p>

<p>“Huh [Name]! Kau lama sekali,” tuduhnya ketika menyadari bahwa ada terdengar suara panggilan, memanggil namanya itu.</p>

<p>Sudah tak heran dengan sifatnya yang begitu [Name] hanya mengulas cengiran. “Habisnya ada latihan tambahan, mau bagaimana lagi &#39;kan? Tunggu, kenapa menungguku?”</p>

<p>Membuang wajah ke sembarang arah, seperti membuang napas kasar. Bagaimana pun juga kesabaran adalah sesuatu yang pastinya. Tapi, keduanya ada waktu sabar tersendiri. “Bolos saja~”</p>

<p>Penolakan keras didapatkan, menggelengkan kepala adalah semisalnya. “Tidak-tidak! Aku tidak ingin semua hasil jerih payahku disia-siakan,” celetuknya membalas jawaban pemuda dihadapan.</p>

<p>“Oh, ayolah aku tidak ingin malam-malam! Sekarang kita pergi belanja tidak nerima penolakan, paham?”</p>

<p>Wajah kaget tertera disana, membuktikan dia tidak ingin tapi- sekarang mengangguk pasrah. “Mau belanja apa memangnya?” tanya [Name] entah kenapa dia sedikit penasaran tentang ini.</p>

<p>“Eh?! Bukanya aku sudah memberi tahukan kepadamu, <em>warui hiyori.</em>” Mengerang kesal kenapa chat pada handphone nya tidak dibaca. Lalu, kok bisa belanja pada akhirnya?</p>

<p>“Mmm, iya iya aku lupa. Hiyori, tidak menunggu lama tadi &#39;kan? Maaf sudah membuat menunggu,”</p>

<p>Tangan menepuk-nepuk bahu miliknya. Tangan itu adalah tangan Tomoe Hiyori sering Ia panggil Hiyori. “Apa-apaan itu? Kau membuatku menunggu sangat~ sangat lama!”</p>

<p>Menggaruk pipi tak gatal, jari berdansa ria disana. “Baiklah aku akan coba nurut belanja kali ini,” tutur [Name]. Tangan menelusuri surai milik [Name] ternyata berakhir mengacak-acak surainya.</p>

<p>“Bagaimana dengan ini? Tampak bagus dengan tubuhmu! <em>Ii hiyori</em>~”</p>

<p><em>Perhatian, ya ....</em></p>

<p>Wajah memerah mendengar perkataan Hiyori membuat [Name] sesaat salah bertingkah. “Huh! Perkataannya kenapa seperti itu? Tapi ya, bagus juga sih ....”</p>

<p>Dengan nada bergumam diakhir, Hiyori mengutarakan senyuman lebar pada wajahnya, sewaktu mendengar gumaman tersebut. “Kalau begitu ini saja, ya~ <em>fufu</em>.”</p>

<p>“Loh! Kok sekarang ditinggalkan?!”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/shopping</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Jun 2022 09:19:11 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>