<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>reeinshiyu</title>
    <link>https://reeinshiyu.writeas.com/</link>
    <description>Seluruh kisah yang dikhususkan kepada mereka yang berkenan untuk membacanya.</description>
    <pubDate>Thu, 14 May 2026 00:10:01 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Harmoni Setiap Kehidupan</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/harmoni-setiap-kehidupan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Tsukigami Kaito × Hizamara Fauraza.&#xA;  #FaureYume; #KaiFau.&#xA;&#xA;   .&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #StarMyu © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Bunga sakura tampak menari di atas kanvas luas yang terbentang di penjuru negeri, kanvas yang warnanya berubah dari biru cerah siang hari hingga merah jingga saat senja menjelang. Langit, dalam segala perubahannya, selalu menawarkan pemandangan yang memikat, sanggup mengalihkan atensi para astrophile.&#xA;Awan-awan pun ikut bergerak, menyisipkan nuansa putih yang menawan. Mereka menghadirkan suasana yang berbeda setiap waktu, memberi sentuhan siluet dan rupa yang memancing imajinasi.&#xA;&#xA;Netra berwarna biru lembut selalu terlihat bersinar, bagaikan kelopak nemophila yang mekar di bawah sinar mentari ketika musim semi tiba. Warna yang jarang ditemui, terlihat tenang, dan hampir rapuh. Tatapan itu selalu memberikan jeda waktu untuk orang-orang &#xA;yang melihat sepasang warna mata miliknya.&#xA;&#xA;Sang wanita dengan rambut ungu lembut tampak menanti kedatangan seseorang yang paling dinantikannya. Beberapa kali, sepasang mata beralih antara layar ponsel dan ke arah tepi jalan, tempat yang paling sering dilalui oleh banyak orang. Setiap kali bayangan sosok indah yang dinantinya muncul di antara orang-orang yang berlalu-lalang, harapannya seolah menguat.&#xA;&#xA;Dari kejauhan, ia mendapati figur indah yang paling dinantikannya. Sudah berapa tahun berlalu sejak mereka tak lagi sering bertemu, tepatnya semenjak memasuki tahun terakhir masa sekolah. Meski begitu, keduanya tetap saling bertukar sapa, walau hanya menyita sebagian kecil dari waktu yang mereka miliki.&#xA;&#xA;Tepat ketika tatapan mereka bertemu, keheningan yang tak terbatas menyelimuti. Tak satu pun kata terucap, hanya embusan angin yang lewat, membawa kesejukan yang menambah sunyi di antara mereka. Senyuman terlukis pada bibir milik sang gadis, sepasang matanya menyiratkan penuh kebahagiaan. Pertemuan pertama mereka, setelah berbagai kesibukan menghalangi keduanya berjumpa lagi. &#xA;&#xA;&#34;Maaf, aku terlambat.&#34;&#xA;&#xA;Perkataan itu keluar dari mulut pemuda di hadapannya. Lelaki itu memulai percakapan terlebih dahulu, sementara sang gadis tak bisa menyembunyikan rasa terkejut atas kata-kata yang baru saja terlontar.&#xA;&#xA;&#34;Tidak, aku sendiri baru saja tiba.&#34; &#xA;&#xA;Bohong. Gadis itu sudah menunggu selama satu jam penuh, sebelum janji untuk mereka bertemu lagi. Padahal, biasa yang sering terlambat itu perempuan, karena terlalu lama untuk berdandan, &#39;kan? Namun kali ini tampaknya berbeda, tak ada yang terlambat dari waktu yang telah ditentukan. Mereka bahkan datang lebih awal, sekitar tiga puluh menit sebelum waktu pertemuan yang dijanjikan.&#xA;&#xA;&#34;Ah, begitu?&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Tsukigami Kaito × Hizamara Fauraza.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:KaiFau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">KaiFau</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:StarMyu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">StarMyu</span></a> © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. </p></blockquote>

<hr/>

<p>Bunga sakura tampak menari di atas kanvas luas yang terbentang di penjuru negeri, kanvas yang warnanya berubah dari biru cerah siang hari hingga merah jingga saat senja menjelang. Langit, dalam segala perubahannya, selalu menawarkan pemandangan yang memikat, sanggup mengalihkan atensi para <em>astrophile</em>.
Awan-awan pun ikut bergerak, menyisipkan nuansa putih yang menawan. Mereka menghadirkan suasana yang berbeda setiap waktu, memberi sentuhan siluet dan rupa yang memancing imajinasi.</p>

<p>Netra berwarna biru lembut selalu terlihat bersinar, bagaikan kelopak nemophila yang mekar di bawah sinar mentari ketika musim semi tiba. Warna yang jarang ditemui, terlihat tenang, dan hampir rapuh. Tatapan itu selalu memberikan jeda waktu untuk orang-orang
yang melihat sepasang warna mata miliknya.</p>

<p>Sang wanita dengan rambut ungu lembut tampak menanti kedatangan seseorang yang paling dinantikannya. Beberapa kali, sepasang mata beralih antara layar ponsel dan ke arah tepi jalan, tempat yang paling sering dilalui oleh banyak orang. Setiap kali bayangan sosok indah yang dinantinya muncul di antara orang-orang yang berlalu-lalang, harapannya seolah menguat.</p>

<p>Dari kejauhan, ia mendapati figur indah yang paling dinantikannya. Sudah berapa tahun berlalu sejak mereka tak lagi sering bertemu, tepatnya semenjak memasuki tahun terakhir masa sekolah. Meski begitu, keduanya tetap saling bertukar sapa, walau hanya menyita sebagian kecil dari waktu yang mereka miliki.</p>

<p>Tepat ketika tatapan mereka bertemu, keheningan yang tak terbatas menyelimuti. Tak satu pun kata terucap, hanya embusan angin yang lewat, membawa kesejukan yang menambah sunyi di antara mereka. Senyuman terlukis pada bibir milik sang gadis, sepasang matanya menyiratkan penuh kebahagiaan. Pertemuan pertama mereka, setelah berbagai kesibukan menghalangi keduanya berjumpa lagi.</p>

<p>“Maaf, aku terlambat.”</p>

<p>Perkataan itu keluar dari mulut pemuda di hadapannya. Lelaki itu memulai percakapan terlebih dahulu, sementara sang gadis tak bisa menyembunyikan rasa terkejut atas kata-kata yang baru saja terlontar.</p>

<p>“Tidak, aku sendiri baru saja tiba.”</p>

<p>Bohong. Gadis itu sudah menunggu selama satu jam penuh, sebelum janji untuk mereka bertemu lagi. <em>Padahal, biasa yang sering terlambat itu perempuan, karena terlalu lama untuk berdandan, &#39;kan?</em> Namun kali ini tampaknya berbeda, tak ada yang terlambat dari waktu yang telah ditentukan. Mereka bahkan datang lebih awal, sekitar tiga puluh menit sebelum waktu pertemuan yang dijanjikan.</p>

<p>“Ah, begitu?”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/harmoni-setiap-kehidupan</guid>
      <pubDate>Sat, 24 May 2025 14:24:25 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Samidare [五月雨]</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/samidare-wu-yue-yu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Satsuki Aoi × Yukihime Aoi.&#xA;  #FaureTrade; #TsukiHime.&#xA;&#xA;   A simple moment, but so memorable. The story of the prince and his beloved princess.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #Tsukiuta. The Animation © TSUKINO TALENT PRODUCTION. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Semula mentari bersembunyi di balik awan-awan yang kini mulai menari menjauhinya. Tepat pada saat itulah sang mentari muncul dan menunjukkan jati dirinya, mengirimkan cahaya keemasan yang perlahan menyapu permukaan gedung-gedung tinggi. Beberapa perumahan yang memiliki jendela kaca kini memantulkan sinarnya dengan gemilang, seolah menyambut pagi yang baru dengan kilauan yang hangat. Tidak hanya memantulkan sinarnya, tetapi juga menelusup di antara celah pepohonan, menciptakan pola-pola cahaya di trotoar yang mulai ramai oleh langkah kaki yang tergesa-gesa. Telihat saat ini jalanan telah dipenuhi oleh para penduduk kota yang sudah mulai menjalankan aktivitasnya sehari-hari. &#xA;&#xA;Di beberapa area, terdapat kedai-kedai kopi mulai dipenuhi pelanggan yang mengantre dengan wajah masih mengantuk, sementara aroma roti panggang dan kopi hangat menyebar di udara, memberi semangat baru bagi mereka yang bersiap menghadapi hari. Tidak jauh dari kedai kopi yang menjadi langganan orang dewasa yang mampu mengembalikan semangat pagi hari tadi, terdapat sebuah toko bunga yang dikelola oleh seorang wanita muda. Setiap pagi, wanita itu selalu sibuk akan aktivitas kesehariannya dalam mengurus beberapa tanaman hidup yang menghiasi halaman toko bunga yang telah lama dia bangun, dengan menyisihkan uang dari hasilnya bekerja paruh waktu.&#xA;&#xA;Pemilik toko bunga itu bernama Yukihime Aoi atau biasanya lebih akrab disapa Hime, oleh orang-orang terdekatnya. Semenjak SMA dulu, Hime telah menyisihkan sebagian uang yang dihasilkan dari pekerjaan paruh waktunya. Tidak berselang lama, sampai akhirnya ia menyelesaikan jenjang pendidikannya. Terkadang, disela-sela aktivitas kesehariannya sebagai florist, dirinya juga merupakan seorang penggemar dari idola dari grup ternama, yaitu Six Gravity. Sudah lama dia menjalani kehidupannya sebagai penggemar, kerap kali membuat dirinya ingin selalu menghadiri beberapa acara Six Gravity. Hingga tibalah masa di mana keduanya mulai menjalin keterikatan sebagai pasangan, mereka menyatakan bahwa mereka berpacaran. &#xA;&#xA;Figur indah yang merupakan seorang idola yang sering dipuji sebab ketampanannya yang luar biasa, kini telah menjadi pasangan dari seorang wanita yang luar biasa pula akan kecantikannya. Satsuki Aoi adalah nama dari sang idola tersebut. Sebuah kebetulan kedua nama depan mereka sama. Alhasil, si wanita itu tetap dipanggil sebagai Hime. Takutnya, kalau dia disapa sebagai Aoi juga, yang ada mereka berdua menolehkan kepalanya. Walau tetap ada kemungkinan, Hime sendiri merasa terpanggil, karena mau bagaimanapun Aoi juga namanya, sementara Hime adalah penggalan kata dari nama marga kepunyaan miliknya, yang kini telah menjadi sebutan akrab untuknya.&#xA;&#xA;Awalnya, saat Hime mulai berpacaran dengan Aoi, ia sempat berpikir bahwa itu sedikit mustahil. Sadar bahwa pekerjaan kekasihnya itu merupakan seorang idola, rasanya agak kurang pantas ketika ada orang yang mengenalnya, entah itu penggemar ataupun orang yang memang tidak asing dengan perawakannya. Sebab itu, Hime sering mampir ke asrama Six Gravity sebulan sekali, untuk berjumpa dengan kekasih tercintanya, Aoi. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di dalam asrama, lantaran mereka sadar bahwa hal itu tidak bisa sering mereka lakukan, tanpa adanya penyamaran tertentu. Biasanya, Hime sering menyamarkan dirinya dengan berpenampilan seperti laki-laki, supaya Aoi bisa bebas tanpa harus menggunakan masker. Hanya saja, jika hal itu tidak dilakukan saat dalam jangka waktu yang mendadak, Hime masih bisa mempersiapkan dirinya.&#xA;&#xA;Tangannya mengusap keringat, tanda telah berakhirnya kegiatan dalam mengurus tanaman yang menghias halaman di depan toko bunganya. Hime mengambil napas panjang, “Akhirnya selesai juga!” serunya tampak bahagia.&#xA;&#xA;Kesehariannya dalam mengurus tanaman telah ia selesaikan, ternyata hal itu tidak terlalu memakan waktu yang lama. Kini halaman depan tokonya telah dipenuhi oleh bunga hidup dalam pot yang sudah tertata rapi, sehingga bisa menciptakan suasana segar di pagi hari yang mana cuacanya juga cukup mendukung, serta menenangkan bagi siapapun yang melewati tokonya. “Nah, kalau seperti ini jadinya lebih enak dipandang,” ujarnya entah kepada siapa.&#xA;&#xA;Sedari tadi, mata birunya terus memperhatikan tanaman hidup yang dia urus sebelumnya. Rambut hitamnya terikat rapi berbentuk ekor kuda sedikit lebih tinggi sangat memudahkan dirinya dalam beraktivitas mengurus tanaman itu. Ia selalu memastikan agar setiap bunga yang berada di luar tokonya ini telah mendapatkan sinar matahari yang cukup, supaya nantinya mereka bisa dapat tumbuh dengan sangat cantik. &#xA;&#xA;Pagi ini, Hime telah menyelesaikan aktivitasnya di luar toko, yang berarti sekarang ia perlu menuntaskan aktivitas di dalam toko miliknya. Hime bergumam pelan, “Lalu sekarang bagian dalam tokonya pula, kira-kira bisa terselesaikan tidak, ya?” &#xA;&#xA;Lonceng berbunyi ketika ia memasuki tokonya sendiri, ada aroma bunga yang selalu tercium lembut setiap kali ia masuk ke dalam tokonya. Saat hari sibuk, Hime menghabiskan waktunya untuk merangkai buket bunga kepada pelanggan yang memesan buket bunganya, entah itu hanya sekadar penghias meja, untuk hadiah ulang tahun, atau mungkin sebuah pernikahan. Tentunya, jika ada sebuah kejadian atau acara tertentu yang membuatnya perlu mengirimkan buket bunga sedikit lebih mewah, seperti untuk pernikahan tadi, ia sudah memberitahukan agar dipesan jauh-jauh hari. Pada dasarnya, Hime juga membutuhkan sedikit lebih banyak waktu untuknya bekerja dalam merangkai buket bunga dan akhirnya ia bisa menghasilkan karya buket bunga yang terbaik.&#xA;&#xA;Tangan Hime sibuk mencari lembaran kertas yang mana ia tuliskan catatan pemesanan buket bunga dari beberapa pembelinya. “Sebuah buket bunga untuk kelulusan pacarnya, ya? Romantisnya anak-anak zaman sekarang ini,” kata Hime sedikit tertawa kecil. Ia benar-benar dibuat gemas karena catatan yang dibacanya sekarang ini.&#xA;&#xA;Kebetulan pula suasana hatinya saat ini sedang berada dalam perasaan yang sangat baik. Rasanya tidak akan pernah luntur senyuman yang sedari tadi pagi ia lukiskan pada kurva indah bibirnya. Seperti biasa, sebelum Hime memulai aktivitasnya setiap pagi untuk membuka toko bunga, tidak lupa untuk menyempatkan diri memberikan kabar atau sekadar menyemangati sang terkasih. &#xA;&#xA;Sebelumnya, ia pernah melupakan untuk bertukar sapa dengan sang kekasih, sehingga kenangan itu membuatnya kembali teringat akan mimik wajah yang biasanya menunjukkan senyuman luar biasa menawan, justru menyiratkan rasa cemas dan khawatir pada waktu itu. Takutnya, Aoi nanti akan mengkhawatirkannya lagi dan akhirnya malah mengganggu konsentrasi pekerjaan sang terkasih. Padahal menurutnya, sang pangeran itu adalah orang yang profesional dalam bekerja. &#xA;&#xA;Akan tetapi, pangerannya itu tetaplah seorang manusia yang bisa merasakan berbagai macam perasaan, apalagi pekerjaannya sebagai idola yang terkadang membuat lebih sibuk, tidak heran untuk beberapa kali ia sempat kehilangan fokus sebab pikirannya yang berlebihan. Ada sebuah alasan mengapa kekasihnya sering kali dipanggil sebagai pangeran, terutama di kalangan penggemar. &#xA;&#xA;Rahasia umum keluarga Satsuki adalah para lelakinya yang tumbuh di keluarga tersebut, terlahir dengan ketampanan luar biasa. Bahkan, tidak heran pula kalau seperti ada kilatan cahaya yang menyinari pada saat senyuman terlukis pada bibir mereka. Namun, bukan berarti hanya ada pangeran. Kekasihnya Aoi ialah Hime, yang namanya juga—meskipun itu merupakan nama marganya—memiliki makna seorang putri. Benar-benar seperti takdir, sang putri untuk si pangeran tampan, dan si pangeran untuk sang tuan putri yang cantik jelita. Selain itu, hal yang paling lucunya, kedua nama depan mereka sama-sama Aoi. Inilah alasan mengapa orang-orang disekitar Hime, memanggilnya dengan nama marganya. Terlebih, kekasihnya pula turut serta memanggil dengan nama itu. &#xA;&#xA;Dengan cermat, Hime akhirnya mengetik beberapa kalimat pada ponselnya. Namun, tidak berselang waktu yang lama, Hime sedikit dikagetkan oleh respons dari kekasihnya. Tertulis balasan dari Aoi di ponselnya, ternyata Aoi mengajak dirinya untuk pergi berkencan nanti sore, selain membalas ucapan selamat pagi dari Hime, dan ia juga mengatakan terima kasih kepadanya, karena ia telah memberitahu kabarnya. &#xA;&#xA;“Eh, apa? Aoi-kun mengajak berkencan di luar? Astaga, tiba-tiba sekali….” Hime benar-benar terkejut. Hime awalnya menduga jika hari ini Aoi akan sibuk seharian ini, karena latihannya sebagai idola cukup menghabiskan banyak waktu. &#xA;&#xA;Maka dari itu, dengan segera Hime membalas pesan sang terkasih, dirinya akan berusaha mempersiapkan penampilannya untuk menyamar sebagai laki-laki dengan pakaian yang memang sudah tersimpan rapi di lemarinya. Aoi sudah mengetahui kebiasaan Hime seperti itu, setiap kali mereka memutuskan untuk berkencan di luar ruangan. &#xA;&#xA;Awalnya, Aoi tidak ingin membuat Hime merasa harus direpotkan untuk menyamar sebagai laki-laki, pada saat mereka berkencan di luar nantinya. “Padahal hal seperti itu tidak masalah bagiku,” gumamnya. &#xA;&#xA;Percayalah, Hime lebih tidak ingin membuat Aoi kerepotan, walaupun itu sekadar menggunakan masker. Ia juga ingin menatap lebih lama wajahnya yang tampan, tanpa harus ditutupi oleh masker.&#xA;&#xA;Sekarang ini, Hime tengah tenggelam dalam kesibukannya merawat tanaman yang tertata rapi di dalam toko bunga miliknya. Meski begitu, bukan berarti hanya bagian luar saja yang dipenuhi bunga. Justru, di dalam toko terdapat lebih banyak bunga yang tersusun rapi di rak kayu bertingkat, yang memiliki warna cokelat alami dengan permukaan halus akibat lapisan pernis tipis. Beberapa rak menempel pada dinding, sementara yang lain berdiri sendiri, menopang berbagai pot kecil berisi tanaman hias. Rak-rak ini sudah dirancang oleh Hime sejak awal, tidak hanya untuk menampung koleksi bunganya, tetapi juga agar pelanggan bisa dengan mudah melihat dan memilih bunga yang mereka sukai. Hal ini sudah direncanakan dengan baik oleh Hime, bahkan sebelum toko bunga ini ada.&#xA;&#xA;Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela besar di bagian depan toko bunga, membiaskan warna-warna lembut dari kelopak yang tertata rapi di rak. Hal itu menandakan bahwa udaranya terasa lebih hangat dibandingkan sejuknya pada saat pagi tadi, sebelum sang mentari menunjukkan cahaya kehangatan terkhusus untuk semua makhluk hidup yang membutuhkannya. &#xA;&#xA;Suara gunting beradu dengan batang, plastik pembungkus itu terdengar berdesir halus saat dilipat, dan dentingan kecil vas kaca yang saling bersentuhan mengisi keheningan. Hime mulai menata ulang stok bunga segar, sesekali dirinya memeriksa daun-daun yang mulai layu dan memilah mana yang masih layak dijual.&#xA;&#xA;Suara asing menyapu indra pendengarannya, saat kepala Hime menoleh ke arah jendela ternyata ia melihat rintik-rintik hujan telah turun. Senyuman yang semula merekah menjadi sedikit kurang berkesan tuk dipandang. Mata sebiru lautan membentak itu, sejenak menatap fenomena air hujan yang turun ke tanah, serta menari dengan bebas di trotoar.&#xA;&#xA;“Ya ampun, ternyata turun hujan. Perasaan saat tadi aku lihat langitnya masih terlihat cerah,” kata Hime, masih memperhatikan hujan dari balik jendela toko bunganya. Sungguh aneh ketika hujan turun tanpa peringatan, seolah dunia ingin memberikan kejutan kecil di tengah kesibukan kota yang padat. &#xA;&#xA;Sejenak, Hime berpikir hujannya akan berhenti dalam beberapa waktu kemudian. Kendati langit masih tampak cerah, hujan tetap membasahi jalanan. Hime melihat ke arah langit-langit dan bertanya pada dirinya sendiri, “Apa itu hujan panas? Seingatku, pernah juga ada fenomena hujan pada saat musim panas.”&#xA;&#xA;Hime sendiri tidak mau mengambil risiko untuk melihat ke luar, takutnya kalau hujan yang sedang turun itu memang hujan panas  yang mana merupakan suatu fenomena meteorologi, turunnya hujan pada saat matahari sedang bersinar. Sehingga ia memutuskan hanya mendengarkan suara bulir-bulir hujan dari dalam toko bunga miliknya. Hime menghela napas pelan. Kalau ini memang hujan panas, seharusnya tidak akan berlangsung lama. &#xA;&#xA;Udaranya sedikit lebih dingin sewaktu hujan itu mulai membasahi trotoar, Hime kembali melanjutkan aktivitasnya untuk merangkai buket bunga yang dipesan seseorang.  Dia tadi sempat melamun lama sesekali menatap hujan turun dari balik jendela tokonya, kini jari-jari yang sedari tadi tanpa sadar telah selesai menggulung pita dari bunga yang ia rangkai sebelum ini. Suasana hujan yang mendayu membuat Hime sedikit hanyut dalam pikirannya sendiri, hingga waktu terasa berjalan lebih cepat daripada sebelum dia beraktivitas tadi.&#xA;&#xA;Angin membawa sisa hujan yang turun sejak pagi, saat matahari masih bersinar. Kini langit mulai memperlihatkan warna senja yang menenangkan, sementara jalanan tetap basah tersapu angin. Langit yang kelabu itu masih dihiasi oleh ritme gerimis yang berjatuhan di atas dedaunan. Entah mengapa, udara terasa lebih segar setelah hujan reda, meskipun musim panas telah tiba. &#xA;&#xA;“Aku jadi teringat sama Aoi-kun,” katanya pelan. Hujan yang muncul di awal musim panas, justru mengingatkannya pada figur indah nan menawan yang mana sudah akrab di benak Hime. Dari balik jendela, sepasang mata biru milik si jelita itu menatap keluar, memperhatikan langit yang perlahan berubah—kelabu yang semula suram kini mulai berganti dengan semburat jingga dan merah muda.&#xA;&#xA;Sudah berjam-jam lamanya, Hime akhirnya duduk lebih santai di sebuah kursi kayu yang berada di samping jendela. Ia mengambil napas panjang setelah menghabiskan banyak waktunya untuk merangkai buket bunga pesanan dari seseorang. Sejenak, Hime mengambil air minum yang semula ia telah sajikan di atas meja. Kini air minum tersebut sudah masuk ke tenggorokannya. Rasanya seperti dia hidup kembali. Sedari tadi, Hime memang selalu fokus pada pekerjaannya, tetapi ia berusaha mengistirahatkan tubuhnya dan mengisi tenaganya barang sekadar makan sepiring nasi untuk bisa mengganjal perutnya.&#xA;&#xA;Sekarang ini dilihatnya jarum jam yang sudah menunjukkan jam setengah tiga, itu artinya janji tuk bertemu sang pujaan hatinya tidak lama lagi. Sebenarnya Hime tidak tahu pasti mereka harus bertemu kapan, tetapi yang pasti dia berusaha bersiap lebih dahulu sebelum waktunya tiba. Lekas dirinya masuk ke dalam kamarnya, Hime mulai mengganti gaun sederhana yang biasa dipakai olehnya, kini menjadi sebuah kemeja berwarna krem dan dengan lapisan sweater hitam yang menghiasinya, serta sebuah celana yang mungkin kelihatannya lebih cocok digunakan jika dia adalah seorang pria. Akan tetapi, karena Hime adalah seorang wanita, justru sedikit sulit untuk mengakalinya. Hime sempat mengakalinya dengan menggunakan ikat pinggang supaya lebih pas saat dipakai dan merapikan penampilannya rambutnya dengan menggunakan wig berwarna merah.&#xA;&#xA;Saat Hime bersiap memasang wig merahnya, tiba-tiba lonceng pintu toko berbunyi—tanda bahwa seorang telah masuk ke toko bunganya. “Tunggu sebentar!” Hime berseru dari dalam toko, kemudian akhirnya ia memutuskan untuk keluar, melihat siapa orang yang datang pada saat itu juga.&#xA;&#xA;Penampilannya memang belum sepenuhnya sempurna; masih ada bagian rambut aslinya yang belum tersembunyi dengan baik. Namun, rasa penasaran mengalahkan kehati-hatiannya, sebab dirinya malah terburu-buru melihat siapa yang datang, ia bahkan lupa memakai kacamata yang biasanya digunakan saat ia menyamar sebagai laki-laki. Sejujurnya ia agak takut kalau ternyata orang yang datang ke toko bunganya itu salah satu pelanggannya, ada terbesit perasaan tidak pantas menyamar, jika dirinya berada di depan pelanggan.&#xA;&#xA;Namun, ternyata orang yang datang itu adalah orang yang sedari tadi ia tunggu. Matanya melebar kaget—ini benar-benar di luar perkiraan, apalagi figur indah itu membawa sebuah payung bersamanya. Hime berdiri terpaku di tempatnya, melihat kekasihnya itu telah berdiri di ambang pintu toko bunganya, sembari menutup payung yang dibawanya.&#xA;&#xA;Sebuah senyuman terlukis di wajah pria bersurai pirang dengan mata sejernih langit cerah. Sepertinya, ia datang lebih awal dari waktu yang telah mereka sepakati. “Ah, apakah aku datang terlalu cepat?” tanyanya dengan suara lembut.&#xA;&#xA;Suara sang terkasih membuat Hime tersadar dari keterkejutannya. Ia segera menggeleng pelan. “Tidak, aku hanya sedikit terkejut melihat Aoi-kun langsung kemari sambil membawa payung. Dirimu tidak nekat saat turun hujan tadi, ‘kan?” tanyanya penasaran.&#xA;&#xA;Aoi terkekeh pelan, mengangkat sedikit payung yang masih tergenggam di tangannya. Dia kemudian membalas, “Tidak, tentu saja tidak. Aku membawa payung hanya untuk berjaga-jaga.”&#xA;&#xA;Hime menghela napas lega, tetapi tetap menatapnya penuh selidik. “Syukurlah kalau begitu. Jangan sampai Aoi-kun kehujanan, nanti bisa masuk angin.”&#xA;&#xA;Aoi mulai melukis senyuman di bibirnya. Hime memang sering kali memperhatikannya dengan baik, hal itu juga yang selalu membuat dirinya merasa bahagia. “Kau selalu mengkhawatirkanku, ya?” Sesungguhnya, perkataan sederhana seperti ini sudah sukses membuat rona merah muncul diwajah milik Hime. &#xA;&#xA;“Sepertinya, Hime-chan masih belum siap, ya?” tanya Aoi, entah mengapa Hime malah merasa Aoi sedang mempermainkannya. Padahal, seharusnya Aoi bisa melihat dengan jelas kalau wig yang Hime sedang pakai saat ini belum terlihat rapi sama sekali.&#xA;&#xA;Hime mulai menggerutu, “Aoi-kun, kelihatannya sengaja sekali bicara seperti itu.” Dia menunjukkan reaksi tidak suka, rasanya ia dia ingin memalingkan wajah sekarang juga. Akan tetapi, pada detik yang sama pula, Aoi ternyata sudah berada didekatnya. Dengan telaten, Aoi membenarkan wig yang sempat Hime pasang sebelumnya. Hime merasa kalau Aoi tampaknya terbiasa mengurus hal seperti ini. Beberapa menit diperlukan Aoi untuk membantu menyembunyikan rambut aslinya Hime. Sungguh, Hime pun awalnya tidak menduga, kalau Aoi tadi tiba-tiba saja membantu untuk mengatur rambut aslinya, supaya bersembunyi di balik wig berwarna merah itu.&#xA;&#xA;Aoi kini mulai bertanya kepada Hime, “Hime-chan, apakah sekarang sudah lebih nyaman digunakan?” Hime mendongak sedikit melihat kepala Aoi, tadinya mata Hime menatap ke arah sisi kanan dan kiri bagian wignya, memastikan juga apakah rambutnya sudah tersimpan rapi dibalik wig miliknya itu.&#xA;&#xA;“Sudah lebih baik daripada tadi, terima kasih Aoi-kun! Aku ke dalam sebentar untuk memasang lensa kontak dulu, ya.” Hime berterima kasih kepada Aoi, karena telah membantunya merapikan rambut, beserta wig yang digunakan&#xA;&#xA;Aoi menganggukkan kepalanya pelan, kemudian mengatakan, “Kalau begitu aku duduk disini dan menunggumu, ya.” Hime sebenarnya tidak ingin membuat Aoi menunggu, tetapi Aoi sempat berkata bahwa tidak masalah baginya untuk menunggu sejenak, lagipula jamnya baru saja mengarah pada jam tiga kurang sepuluh menit.&#xA;&#xA;Hime juga tidak memakan waktu yang lama untuk menggunakan lensa kontak, serta menggunakan kacamatanya yang biasa digunakan. Walaupun nanti ia akan merasa sedikit kelelahan saat melihat, tetapi tidak masalah, ia masih sanggup menahannya dalam beberapa jam kedepan.&#xA;&#xA;“Aoi-kun, maaf membuatmu menunggu lama!” Hime mengatakan itu kepada Aoi dan meskipun tadinya memakan waktu berapa puluh menit, kencan yang mereka tunggu-tunggu hari ini bisa segera terlaksanakan.&#xA;&#xA;Aoi memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal, sementara Hime menutup sebentar toko bunga miliknya—menandakan bahwa saat ini, toko bunga milik Hime tidak sedang menerima pelanggan terlebih dahulu.&#xA;&#xA;Keduanya bersiap pergi ke suatu tempat yang sudah Aoi rencanakan, selain itu dia berpesan kepada Hime untuk berjaga-jaga membawa payung juga, takut terjadi hujan. Biarpun sekarang kondisinya masih terlihat bulir-bulir air berjatuhan tidak merata, langitnya sudah terlihat sedikit lebih terang. Hime juga menyetujui untuk membawa payung sendiri-sendiri, bukan karena dia tidak mau sepayung berdua sama Aoi. Akan tetapi, karena sekarang ini posisinya ia menyamar sebagai laki-laki, tidak mungkin baginya untuk sepayung berdua, meskipun tingginya tetap masih lebih tinggi Aoi.&#xA;&#xA;Lonceng kembali berbunyi, saat keduanya keluar dari toko bunga dan membuka payung mereka masing-masing. Terlihat bahwa gerimisnya masih turun, walaupun hanya terdengar seperti suara rintik halus di atas payung mereka. Hal ini menciptakan suasana tenang dengan lantunan irama dari hujan yang tak kunjung reda, padahal langit sudah hampir seutuhnya kembali cerah.&#xA;&#xA;Jalanan masih basah karena hujan sedari tadi pagi, serta aroma tanah setelah hujan mulai terasa berterbangan di udara. Mereka berjalan berdampingan dan mengobrol santai, tentang apa saja yang mereka lakukan hari ini, sampai tidak terasa bahwa sampailah mereka di sebuah kedai terdekat. &#xA;&#xA;Mereka berdua memilih tempat duduk di dekat jendela, sembari menikmati waktu berdua dan melihat sisa hujan di luar. Sebuah menu telah disajikan kepada mereka, keduanya duduk bersebelahan sembari melihat menu itu.&#xA;&#xA;“Hime-chan, mau mencoba kakigōri, tidak?” tanya Aoi kepada Hime.&#xA;&#xA;Hime menatap ke arah Aoi, sedikit bertanya-tanya terlihat jelas dari ekspresi wajahnya. “Kakigōri itu apa?” Sejujurnya, Hime baru saja tahu tentang hal itu. &#xA;&#xA;“Dessert, kok. Katanya seperti es serut yang dibumbui sama sirup dan pemanis, ataupun susu kental manis,” jelas Aoi. Hanya saja, perkataan Aoi membuat tanda tanya besar sekaligus rasa penasaran Hime terlihat.&#xA;&#xA;“Apakah ada yang merekomendasikan itu kepadamu, Aoi-kun?” Tatapan Hime penuh selidik. Jarang sekali bagi Hime mendengar rekomendasi makanan penutup dari Aoi.&#xA;&#xA;Aoi tersenyum canggung lantas ia berkata, “Ah, seorang penggemar yang menyarankannya. Lalu, kebetulan juga, aku belum pernah coba. Jadi sekalian saja, aku mencobanya bersama dirimu.”&#xA;&#xA;Awalnya Hime menaikan alisnya, tetapi kalimat terakhir dari Aoi membuat dia mendengkus. “Ya, baiklah. Aku akan mencobanya bersamamu,” balas Hime sambil tersenyum kecil. Tentu saja, Hime akan menerima hal itu dengan senang hati. Kapan lagi Aoi akan memberikan sebuah rekomendasi kepadanya.&#xA;&#xA;Pesanan sudah dibuat, yang artinya mereka sekarang perlu menunggu. Kemudian, keduanya kembali membicarakan banyak hal yang semula tertunda saat mereka berada di jalan tadi. “Aoi-kun, aku mau cerita sesuatu! Jadi, sewaktu aku mengurus pesanan buket bunga di tokoku, ternyata ada orang yang memesan buket bunga untuk kelulusan pacarnya,” ujar Hime dengan mata berbinar-binar, tanda bahwa ia sangat antusias kala menceritakannya.&#xA;&#xA;Sedari tadi Aoi fokus menatap Hime, seraya mendengarkan Hime. Hanya saja, atensi dari Aoi terpaku kepada Hime. Entah dia mendengarkan atau tidak, tetapi Aoi sempat berkata, “Andai saja saat kelulusan dulu, aku juga bisa mengirimkan Hime-chan sebuah buket bunga. Pasti kelihatannya sangat romantis juga, ‘kan?” &#xA;&#xA;Bukan main, Hime merasa wajahnya memerah. Entah kenapa pembicaraannya malah berakhir begitu saja. Sampai akhirnya perhatian mereka teralihkan kepada kakigōri yang sebelumnya mereka pesan. “Aoi-kun, sekarang kita makan saja dulu. Pesanannya sudah datang,” ujar Hime yang terdengar sangat gugup. Dia benar-benar tidak bisa menetralkan detak jantungnya setelah mendengar perkataan Aoi seperti itu.&#xA;&#xA;“Baiklah, selamat menikmati makanannya.”&#xA;&#xA;Rasanya ada kepuasan tersendiri bagi Aoi, ketika dia bisa membahagiakan Hime walaupun beberapa menit saja. Senyuman itu tidak akan pernah luntur dari bibirnya. Mereka berdua memotret dessert yang telah tersaji di meja mereka. Anggaplah ini sebagai salah satu kenang-kenangan yang bisa mereka lakukan saat berada di luar asrama. Selang waktu beberapa puluh menit lamanya, aktivitas mereka telah selesai di kedai itu. &#xA;&#xA;Awalnya Hime tidak berpikir, jika Aoi akan membawanya pergi ke suatu tempat. Kini di tempat di mana Hime dan Aoi berpijak terlihat sebuah tempat di mana pohon sakura ternyata masih menyisakan beberapa kelopaknya yang indah. Kelopak sakura yang tersisa di ranting-ranting basah seolah enggan jatuh, memilih tetap bertahan di tengah hujan musim ini yang terus turun mengguyur sejak pagi. &#xA;&#xA;Hime menatap takjub ke arah beberapa pohon sakura—ternyata kelopak-kelopak indah itu masih bertahan. Penasaran, ia pun bertanya, “Sebentar, kenapa bunga sakuranya masih mekar? Padahal sekarang sudah memasuki musim panas.”&#xA;&#xA;Aoi tersenyum kecil menatap ke arah Hime, “Hime-chan, tahu tentang samidare?” tanyanya balik.. &#xA;&#xA;Hime menoleh ke arah Aoi, dan mengangguk pelan. “Samidare itu hujan panjang di awal musim panas, bukan?” tanya Hime kepada Aoi. Ia mencoba memastikan jawabannya.&#xA;&#xA;“Benar sekali.” Aoi mengangguk, kemudian ia melanjutkan, “Hujan yang berkepanjangan itu membawa efek yang tidak biasa pada pohon sakura, sehingga membuat kelopaknya tetap mekar lebih lama daripada seharusnya.”&#xA;&#xA;Percakapan mereka lagi-lagi menghanyutkan suasana, tanpa terasa langit mulai cerah kembali, tetapi tetesan air masih jatuh dari daun dan kelopak sakura yang tersisa.  &#xA;&#xA;Keduanya menikmati momen itu bersama. Saat berdiri di bawah pohon sakura, Aoi sedikit iseng dan menggoyangkan dahan pohonnya, membuat air berjatuhan ke arah Hime. Refleks bergeser dari tempat tersebut, dengan ekspresi kesal ia menatap sang kekasih. &#xA;&#xA;Hime mulai menggerutu, “Kenapa Aoi-kun hari ini benar-benar iseng, sih?!” &#xA;&#xA;Aoi lekas dibuat tertawa, kebahagiaan sederhana yang dia inginkan seperti ini bersama sang terkasih. Ia kemudian menjawab sambil tersenyum, “Aku ‘kan nggak sengaja.” &#xA;&#xA;Sekilas dilihatnya kelopak bunga sakura jatuh di atas rambut Hime. Saat itu juga, Aoi mengulurkan tangannya, tetapi bukannya langsung mengambil kelopak itu, dia malah membenarkan rambut palsu milik Hime. Serius, penyamaran seperti ini juga pun tidak akan berguna jika ia tetap saja berhadapan dengan Aoi. Perlakuan tersebut menjadikan suasana lebih lembut dan penuh perhatian dari kekasih. Keduanya saling menatap lekat masing-masing. &#xA; &#xA;Mereka masih berdiri dan berdiam sejenak, seraya mendengar suara tetesan air dan angin yang berembus pelan, menikmati waktu yang terasa hanya milik mereka berdua. Setelah puas menikmati momen di bawah sakura, mereka melanjutkan perjalanan pulang dengan langkah lebih lambat. &#xA;&#xA;Kedua tangan mereka tetap saling bergandengan selama perjalanan pulang, tanpa banyak kata yang perlu diucapkan. Kejadian hari ini menjadi momen yang paling berkesan bagi keduanya—saling memahami satu sama lain melalui kenangan sederhana. Mereka membiarkan langkah tetap selaras, ditemani suara rintik hujan yang masih tersisa. Meski tanpa kata, genggaman tangan mereka sudah cukup untuk menyampaikan segalanya.&#xA;&#xA;End.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;  Note!&#xA;  Yukihime Aoi belongs to @aeternamare for Writing/Merch Trade.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Satsuki Aoi × Yukihime Aoi.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureTrade" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureTrade</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:TsukiHime" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">TsukiHime</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>A simple moment, but so memorable. The story of the prince and his beloved princess.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Tsukiuta" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Tsukiuta</span></a>. The Animation © TSUKINO TALENT PRODUCTION. </p></blockquote>

<hr/>

<p>Semula mentari bersembunyi di balik awan-awan yang kini mulai menari menjauhinya. Tepat pada saat itulah sang mentari muncul dan menunjukkan jati dirinya, mengirimkan cahaya keemasan yang perlahan menyapu permukaan gedung-gedung tinggi. Beberapa perumahan yang memiliki jendela kaca kini memantulkan sinarnya dengan gemilang, seolah menyambut pagi yang baru dengan kilauan yang hangat. Tidak hanya memantulkan sinarnya, tetapi juga menelusup di antara celah pepohonan, menciptakan pola-pola cahaya di trotoar yang mulai ramai oleh langkah kaki yang tergesa-gesa. Telihat saat ini jalanan telah dipenuhi oleh para penduduk kota yang sudah mulai menjalankan aktivitasnya sehari-hari.</p>

<p>Di beberapa area, terdapat kedai-kedai kopi mulai dipenuhi pelanggan yang mengantre dengan wajah masih mengantuk, sementara aroma roti panggang dan kopi hangat menyebar di udara, memberi semangat baru bagi mereka yang bersiap menghadapi hari. Tidak jauh dari kedai kopi yang menjadi langganan orang dewasa yang mampu mengembalikan semangat pagi hari tadi, terdapat sebuah toko bunga yang dikelola oleh seorang wanita muda. Setiap pagi, wanita itu selalu sibuk akan aktivitas kesehariannya dalam mengurus beberapa tanaman hidup yang menghiasi halaman toko bunga yang telah lama dia bangun, dengan menyisihkan uang dari hasilnya bekerja paruh waktu.</p>

<p>Pemilik toko bunga itu bernama Yukihime Aoi atau biasanya lebih akrab disapa Hime, oleh orang-orang terdekatnya. Semenjak SMA dulu, Hime telah menyisihkan sebagian uang yang dihasilkan dari pekerjaan paruh waktunya. Tidak berselang lama, sampai akhirnya ia menyelesaikan jenjang pendidikannya. Terkadang, disela-sela aktivitas kesehariannya sebagai florist, dirinya juga merupakan seorang penggemar dari idola dari grup ternama, yaitu Six Gravity. Sudah lama dia menjalani kehidupannya sebagai penggemar, kerap kali membuat dirinya ingin selalu menghadiri beberapa acara Six Gravity. Hingga tibalah masa di mana keduanya mulai menjalin keterikatan sebagai pasangan, mereka menyatakan bahwa mereka berpacaran.</p>

<p>Figur indah yang merupakan seorang idola yang sering dipuji sebab ketampanannya yang luar biasa, kini telah menjadi pasangan dari seorang wanita yang luar biasa pula akan kecantikannya. Satsuki Aoi adalah nama dari sang idola tersebut. Sebuah kebetulan kedua nama depan mereka sama. Alhasil, si wanita itu tetap dipanggil sebagai Hime. Takutnya, kalau dia disapa sebagai Aoi juga, yang ada mereka berdua menolehkan kepalanya. Walau tetap ada kemungkinan, Hime sendiri merasa terpanggil, karena mau bagaimanapun Aoi juga namanya, sementara Hime adalah penggalan kata dari nama marga kepunyaan miliknya, yang kini telah menjadi sebutan akrab untuknya.</p>

<p>Awalnya, saat Hime mulai berpacaran dengan Aoi, ia sempat berpikir bahwa itu sedikit mustahil. Sadar bahwa pekerjaan kekasihnya itu merupakan seorang idola, rasanya agak kurang pantas ketika ada orang yang mengenalnya, entah itu penggemar ataupun orang yang memang tidak asing dengan perawakannya. Sebab itu, Hime sering mampir ke asrama Six Gravity sebulan sekali, untuk berjumpa dengan kekasih tercintanya, Aoi. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di dalam asrama, lantaran mereka sadar bahwa hal itu tidak bisa sering mereka lakukan, tanpa adanya penyamaran tertentu. Biasanya, Hime sering menyamarkan dirinya dengan berpenampilan seperti laki-laki, supaya Aoi bisa bebas tanpa harus menggunakan masker. Hanya saja, jika hal itu tidak dilakukan saat dalam jangka waktu yang mendadak, Hime masih bisa mempersiapkan dirinya.</p>

<p>Tangannya mengusap keringat, tanda telah berakhirnya kegiatan dalam mengurus tanaman yang menghias halaman di depan toko bunganya. Hime mengambil napas panjang, “Akhirnya selesai juga!” serunya tampak bahagia.</p>

<p>Kesehariannya dalam mengurus tanaman telah ia selesaikan, ternyata hal itu tidak terlalu memakan waktu yang lama. Kini halaman depan tokonya telah dipenuhi oleh bunga hidup dalam pot yang sudah tertata rapi, sehingga bisa menciptakan suasana segar di pagi hari yang mana cuacanya juga cukup mendukung, serta menenangkan bagi siapapun yang melewati tokonya. “Nah, kalau seperti ini jadinya lebih enak dipandang,” ujarnya entah kepada siapa.</p>

<p>Sedari tadi, mata birunya terus memperhatikan tanaman hidup yang dia urus sebelumnya. Rambut hitamnya terikat rapi berbentuk ekor kuda sedikit lebih tinggi sangat memudahkan dirinya dalam beraktivitas mengurus tanaman itu. Ia selalu memastikan agar setiap bunga yang berada di luar tokonya ini telah mendapatkan sinar matahari yang cukup, supaya nantinya mereka bisa dapat tumbuh dengan sangat cantik.</p>

<p>Pagi ini, Hime telah menyelesaikan aktivitasnya di luar toko, yang berarti sekarang ia perlu menuntaskan aktivitas di dalam toko miliknya. Hime bergumam pelan, “Lalu sekarang bagian dalam tokonya pula, kira-kira bisa terselesaikan tidak, ya?”</p>

<p>Lonceng berbunyi ketika ia memasuki tokonya sendiri, ada aroma bunga yang selalu tercium lembut setiap kali ia masuk ke dalam tokonya. Saat hari sibuk, Hime menghabiskan waktunya untuk merangkai buket bunga kepada pelanggan yang memesan buket bunganya, entah itu hanya sekadar penghias meja, untuk hadiah ulang tahun, atau mungkin sebuah pernikahan. Tentunya, jika ada sebuah kejadian atau acara tertentu yang membuatnya perlu mengirimkan buket bunga sedikit lebih mewah, seperti untuk pernikahan tadi, ia sudah memberitahukan agar dipesan jauh-jauh hari. Pada dasarnya, Hime juga membutuhkan sedikit lebih banyak waktu untuknya bekerja dalam merangkai buket bunga dan akhirnya ia bisa menghasilkan karya buket bunga yang terbaik.</p>

<p>Tangan Hime sibuk mencari lembaran kertas yang mana ia tuliskan catatan pemesanan buket bunga dari beberapa pembelinya. “Sebuah buket bunga untuk kelulusan pacarnya, ya? Romantisnya anak-anak zaman sekarang ini,” kata Hime sedikit tertawa kecil. Ia benar-benar dibuat gemas karena catatan yang dibacanya sekarang ini.</p>

<p>Kebetulan pula suasana hatinya saat ini sedang berada dalam perasaan yang sangat baik. Rasanya tidak akan pernah luntur senyuman yang sedari tadi pagi ia lukiskan pada kurva indah bibirnya. Seperti biasa, sebelum Hime memulai aktivitasnya setiap pagi untuk membuka toko bunga, tidak lupa untuk menyempatkan diri memberikan kabar atau sekadar menyemangati sang terkasih.</p>

<p>Sebelumnya, ia pernah melupakan untuk bertukar sapa dengan sang kekasih, sehingga kenangan itu membuatnya kembali teringat akan mimik wajah yang biasanya menunjukkan senyuman luar biasa menawan, justru menyiratkan rasa cemas dan khawatir pada waktu itu. Takutnya, Aoi nanti akan mengkhawatirkannya lagi dan akhirnya malah mengganggu konsentrasi pekerjaan sang terkasih. Padahal menurutnya, sang pangeran itu adalah orang yang profesional dalam bekerja.</p>

<p>Akan tetapi, pangerannya itu tetaplah seorang manusia yang bisa merasakan berbagai macam perasaan, apalagi pekerjaannya sebagai idola yang terkadang membuat lebih sibuk, tidak heran untuk beberapa kali ia sempat kehilangan fokus sebab pikirannya yang berlebihan. Ada sebuah alasan mengapa kekasihnya sering kali dipanggil sebagai pangeran, terutama di kalangan penggemar.</p>

<p>Rahasia umum keluarga Satsuki adalah para lelakinya yang tumbuh di keluarga tersebut, terlahir dengan ketampanan luar biasa. Bahkan, tidak heran pula kalau seperti ada kilatan cahaya yang menyinari pada saat senyuman terlukis pada bibir mereka. Namun, bukan berarti hanya ada pangeran. Kekasihnya Aoi ialah Hime, yang namanya juga—meskipun itu merupakan nama marganya—memiliki makna seorang putri. Benar-benar seperti takdir, sang putri untuk si pangeran tampan, dan si pangeran untuk sang tuan putri yang cantik jelita. Selain itu, hal yang paling lucunya, kedua nama depan mereka sama-sama Aoi. Inilah alasan mengapa orang-orang disekitar Hime, memanggilnya dengan nama marganya. Terlebih, kekasihnya pula turut serta memanggil dengan nama itu.</p>

<p>Dengan cermat, Hime akhirnya mengetik beberapa kalimat pada ponselnya. Namun, tidak berselang waktu yang lama, Hime sedikit dikagetkan oleh respons dari kekasihnya. Tertulis balasan dari Aoi di ponselnya, ternyata Aoi mengajak dirinya untuk pergi berkencan nanti sore, selain membalas ucapan selamat pagi dari Hime, dan ia juga mengatakan terima kasih kepadanya, karena ia telah memberitahu kabarnya.</p>

<p>“Eh, apa? Aoi-kun mengajak berkencan di luar? Astaga, tiba-tiba sekali….” Hime benar-benar terkejut. Hime awalnya menduga jika hari ini Aoi akan sibuk seharian ini, karena latihannya sebagai idola cukup menghabiskan banyak waktu.</p>

<p>Maka dari itu, dengan segera Hime membalas pesan sang terkasih, dirinya akan berusaha mempersiapkan penampilannya untuk menyamar sebagai laki-laki dengan pakaian yang memang sudah tersimpan rapi di lemarinya. Aoi sudah mengetahui kebiasaan Hime seperti itu, setiap kali mereka memutuskan untuk berkencan di luar ruangan.</p>

<p>Awalnya, Aoi tidak ingin membuat Hime merasa harus direpotkan untuk menyamar sebagai laki-laki, pada saat mereka berkencan di luar nantinya. “Padahal hal seperti itu tidak masalah bagiku,” gumamnya.</p>

<p>Percayalah, Hime lebih tidak ingin membuat Aoi kerepotan, walaupun itu sekadar menggunakan masker. Ia juga ingin menatap lebih lama wajahnya yang tampan, tanpa harus ditutupi oleh masker.</p>

<p>Sekarang ini, Hime tengah tenggelam dalam kesibukannya merawat tanaman yang tertata rapi di dalam toko bunga miliknya. Meski begitu, bukan berarti hanya bagian luar saja yang dipenuhi bunga. Justru, di dalam toko terdapat lebih banyak bunga yang tersusun rapi di rak kayu bertingkat, yang memiliki warna cokelat alami dengan permukaan halus akibat lapisan pernis tipis. Beberapa rak menempel pada dinding, sementara yang lain berdiri sendiri, menopang berbagai pot kecil berisi tanaman hias. Rak-rak ini sudah dirancang oleh Hime sejak awal, tidak hanya untuk menampung koleksi bunganya, tetapi juga agar pelanggan bisa dengan mudah melihat dan memilih bunga yang mereka sukai. Hal ini sudah direncanakan dengan baik oleh Hime, bahkan sebelum toko bunga ini ada.</p>

<p>Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela besar di bagian depan toko bunga, membiaskan warna-warna lembut dari kelopak yang tertata rapi di rak. Hal itu menandakan bahwa udaranya terasa lebih hangat dibandingkan sejuknya pada saat pagi tadi, sebelum sang mentari menunjukkan cahaya kehangatan terkhusus untuk semua makhluk hidup yang membutuhkannya.</p>

<p>Suara gunting beradu dengan batang, plastik pembungkus itu terdengar berdesir halus saat dilipat, dan dentingan kecil vas kaca yang saling bersentuhan mengisi keheningan. Hime mulai menata ulang stok bunga segar, sesekali dirinya memeriksa daun-daun yang mulai layu dan memilah mana yang masih layak dijual.</p>

<p>Suara asing menyapu indra pendengarannya, saat kepala Hime menoleh ke arah jendela ternyata ia melihat rintik-rintik hujan telah turun. Senyuman yang semula merekah menjadi sedikit kurang berkesan tuk dipandang. Mata sebiru lautan membentak itu, sejenak menatap fenomena air hujan yang turun ke tanah, serta menari dengan bebas di trotoar.</p>

<p>“Ya ampun, ternyata turun hujan. Perasaan saat tadi aku lihat langitnya masih terlihat cerah,” kata Hime, masih memperhatikan hujan dari balik jendela toko bunganya. Sungguh aneh ketika hujan turun tanpa peringatan, seolah dunia ingin memberikan kejutan kecil di tengah kesibukan kota yang padat.</p>

<p>Sejenak, Hime berpikir hujannya akan berhenti dalam beberapa waktu kemudian. Kendati langit masih tampak cerah, hujan tetap membasahi jalanan. Hime melihat ke arah langit-langit dan bertanya pada dirinya sendiri, “Apa itu hujan panas? Seingatku, pernah juga ada fenomena hujan pada saat musim panas.”</p>

<p>Hime sendiri tidak mau mengambil risiko untuk melihat ke luar, takutnya kalau hujan yang sedang turun itu memang hujan panas  yang mana merupakan suatu fenomena meteorologi, turunnya hujan pada saat matahari sedang bersinar. Sehingga ia memutuskan hanya mendengarkan suara bulir-bulir hujan dari dalam toko bunga miliknya. Hime menghela napas pelan. Kalau ini memang hujan panas, seharusnya tidak akan berlangsung lama.</p>

<p>Udaranya sedikit lebih dingin sewaktu hujan itu mulai membasahi trotoar, Hime kembali melanjutkan aktivitasnya untuk merangkai buket bunga yang dipesan seseorang.  Dia tadi sempat melamun lama sesekali menatap hujan turun dari balik jendela tokonya, kini jari-jari yang sedari tadi tanpa sadar telah selesai menggulung pita dari bunga yang ia rangkai sebelum ini. Suasana hujan yang mendayu membuat Hime sedikit hanyut dalam pikirannya sendiri, hingga waktu terasa berjalan lebih cepat daripada sebelum dia beraktivitas tadi.</p>

<p>Angin membawa sisa hujan yang turun sejak pagi, saat matahari masih bersinar. Kini langit mulai memperlihatkan warna senja yang menenangkan, sementara jalanan tetap basah tersapu angin. Langit yang kelabu itu masih dihiasi oleh ritme gerimis yang berjatuhan di atas dedaunan. Entah mengapa, udara terasa lebih segar setelah hujan reda, meskipun musim panas telah tiba.</p>

<p>“Aku jadi teringat sama Aoi-kun,” katanya pelan. Hujan yang muncul di awal musim panas, justru mengingatkannya pada figur indah nan menawan yang mana sudah akrab di benak Hime. Dari balik jendela, sepasang mata biru milik si jelita itu menatap keluar, memperhatikan langit yang perlahan berubah—kelabu yang semula suram kini mulai berganti dengan semburat jingga dan merah muda.</p>

<p>Sudah berjam-jam lamanya, Hime akhirnya duduk lebih santai di sebuah kursi kayu yang berada di samping jendela. Ia mengambil napas panjang setelah menghabiskan banyak waktunya untuk merangkai buket bunga pesanan dari seseorang. Sejenak, Hime mengambil air minum yang semula ia telah sajikan di atas meja. Kini air minum tersebut sudah masuk ke tenggorokannya. Rasanya seperti dia hidup kembali. Sedari tadi, Hime memang selalu fokus pada pekerjaannya, tetapi ia berusaha mengistirahatkan tubuhnya dan mengisi tenaganya barang sekadar makan sepiring nasi untuk bisa mengganjal perutnya.</p>

<p>Sekarang ini dilihatnya jarum jam yang sudah menunjukkan jam setengah tiga, itu artinya janji tuk bertemu sang pujaan hatinya tidak lama lagi. Sebenarnya Hime tidak tahu pasti mereka harus bertemu kapan, tetapi yang pasti dia berusaha bersiap lebih dahulu sebelum waktunya tiba. Lekas dirinya masuk ke dalam kamarnya, Hime mulai mengganti gaun sederhana yang biasa dipakai olehnya, kini menjadi sebuah kemeja berwarna krem dan dengan lapisan sweater hitam yang menghiasinya, serta sebuah celana yang mungkin kelihatannya lebih cocok digunakan jika dia adalah seorang pria. Akan tetapi, karena Hime adalah seorang wanita, justru sedikit sulit untuk mengakalinya. Hime sempat mengakalinya dengan menggunakan ikat pinggang supaya lebih pas saat dipakai dan merapikan penampilannya rambutnya dengan menggunakan wig berwarna merah.</p>

<p>Saat Hime bersiap memasang wig merahnya, tiba-tiba lonceng pintu toko berbunyi—tanda bahwa seorang telah masuk ke toko bunganya. “Tunggu sebentar!” Hime berseru dari dalam toko, kemudian akhirnya ia memutuskan untuk keluar, melihat siapa orang yang datang pada saat itu juga.</p>

<p>Penampilannya memang belum sepenuhnya sempurna; masih ada bagian rambut aslinya yang belum tersembunyi dengan baik. Namun, rasa penasaran mengalahkan kehati-hatiannya, sebab dirinya malah terburu-buru melihat siapa yang datang, ia bahkan lupa memakai kacamata yang biasanya digunakan saat ia menyamar sebagai laki-laki. Sejujurnya ia agak takut kalau ternyata orang yang datang ke toko bunganya itu salah satu pelanggannya, ada terbesit perasaan tidak pantas menyamar, jika dirinya berada di depan pelanggan.</p>

<p>Namun, ternyata orang yang datang itu adalah orang yang sedari tadi ia tunggu. Matanya melebar kaget—ini benar-benar di luar perkiraan, apalagi figur indah itu membawa sebuah payung bersamanya. Hime berdiri terpaku di tempatnya, melihat kekasihnya itu telah berdiri di ambang pintu toko bunganya, sembari menutup payung yang dibawanya.</p>

<p>Sebuah senyuman terlukis di wajah pria bersurai pirang dengan mata sejernih langit cerah. Sepertinya, ia datang lebih awal dari waktu yang telah mereka sepakati. “Ah, apakah aku datang terlalu cepat?” tanyanya dengan suara lembut.</p>

<p>Suara sang terkasih membuat Hime tersadar dari keterkejutannya. Ia segera menggeleng pelan. “Tidak, aku hanya sedikit terkejut melihat Aoi-kun langsung kemari sambil membawa payung. Dirimu tidak nekat saat turun hujan tadi, ‘kan?” tanyanya penasaran.</p>

<p>Aoi terkekeh pelan, mengangkat sedikit payung yang masih tergenggam di tangannya. Dia kemudian membalas, “Tidak, tentu saja tidak. Aku membawa payung hanya untuk berjaga-jaga.”</p>

<p>Hime menghela napas lega, tetapi tetap menatapnya penuh selidik. “Syukurlah kalau begitu. Jangan sampai Aoi-kun kehujanan, nanti bisa masuk angin.”</p>

<p>Aoi mulai melukis senyuman di bibirnya. Hime memang sering kali memperhatikannya dengan baik, hal itu juga yang selalu membuat dirinya merasa bahagia. “Kau selalu mengkhawatirkanku, ya?” Sesungguhnya, perkataan sederhana seperti ini sudah sukses membuat rona merah muncul diwajah milik Hime.</p>

<p>“Sepertinya, Hime-chan masih belum siap, ya?” tanya Aoi, entah mengapa Hime malah merasa Aoi sedang mempermainkannya. Padahal, seharusnya Aoi bisa melihat dengan jelas kalau wig yang Hime sedang pakai saat ini belum terlihat rapi sama sekali.</p>

<p>Hime mulai menggerutu, “Aoi-kun, kelihatannya sengaja sekali bicara seperti itu.” Dia menunjukkan reaksi tidak suka, rasanya ia dia ingin memalingkan wajah sekarang juga. Akan tetapi, pada detik yang sama pula, Aoi ternyata sudah berada didekatnya. Dengan telaten, Aoi membenarkan wig yang sempat Hime pasang sebelumnya. Hime merasa kalau Aoi tampaknya terbiasa mengurus hal seperti ini. Beberapa menit diperlukan Aoi untuk membantu menyembunyikan rambut aslinya Hime. Sungguh, Hime pun awalnya tidak menduga, kalau Aoi tadi tiba-tiba saja membantu untuk mengatur rambut aslinya, supaya bersembunyi di balik wig berwarna merah itu.</p>

<p>Aoi kini mulai bertanya kepada Hime, “Hime-chan, apakah sekarang sudah lebih nyaman digunakan?” Hime mendongak sedikit melihat kepala Aoi, tadinya mata Hime menatap ke arah sisi kanan dan kiri bagian wignya, memastikan juga apakah rambutnya sudah tersimpan rapi dibalik wig miliknya itu.</p>

<p>“Sudah lebih baik daripada tadi, terima kasih Aoi-kun! Aku ke dalam sebentar untuk memasang lensa kontak dulu, ya.” Hime berterima kasih kepada Aoi, karena telah membantunya merapikan rambut, beserta wig yang digunakan</p>

<p>Aoi menganggukkan kepalanya pelan, kemudian mengatakan, “Kalau begitu aku duduk disini dan menunggumu, ya.” Hime sebenarnya tidak ingin membuat Aoi menunggu, tetapi Aoi sempat berkata bahwa tidak masalah baginya untuk menunggu sejenak, lagipula jamnya baru saja mengarah pada jam tiga kurang sepuluh menit.</p>

<p>Hime juga tidak memakan waktu yang lama untuk menggunakan lensa kontak, serta menggunakan kacamatanya yang biasa digunakan. Walaupun nanti ia akan merasa sedikit kelelahan saat melihat, tetapi tidak masalah, ia masih sanggup menahannya dalam beberapa jam kedepan.</p>

<p>“Aoi-kun, maaf membuatmu menunggu lama!” Hime mengatakan itu kepada Aoi dan meskipun tadinya memakan waktu berapa puluh menit, kencan yang mereka tunggu-tunggu hari ini bisa segera terlaksanakan.</p>

<p>Aoi memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal, sementara Hime menutup sebentar toko bunga miliknya—menandakan bahwa saat ini, toko bunga milik Hime tidak sedang menerima pelanggan terlebih dahulu.</p>

<p>Keduanya bersiap pergi ke suatu tempat yang sudah Aoi rencanakan, selain itu dia berpesan kepada Hime untuk berjaga-jaga membawa payung juga, takut terjadi hujan. Biarpun sekarang kondisinya masih terlihat bulir-bulir air berjatuhan tidak merata, langitnya sudah terlihat sedikit lebih terang. Hime juga menyetujui untuk membawa payung sendiri-sendiri, bukan karena dia tidak mau sepayung berdua sama Aoi. Akan tetapi, karena sekarang ini posisinya ia menyamar sebagai laki-laki, tidak mungkin baginya untuk sepayung berdua, meskipun tingginya tetap masih lebih tinggi Aoi.</p>

<p>Lonceng kembali berbunyi, saat keduanya keluar dari toko bunga dan membuka payung mereka masing-masing. Terlihat bahwa gerimisnya masih turun, walaupun hanya terdengar seperti suara rintik halus di atas payung mereka. Hal ini menciptakan suasana tenang dengan lantunan irama dari hujan yang tak kunjung reda, padahal langit sudah hampir seutuhnya kembali cerah.</p>

<p>Jalanan masih basah karena hujan sedari tadi pagi, serta aroma tanah setelah hujan mulai terasa berterbangan di udara. Mereka berjalan berdampingan dan mengobrol santai, tentang apa saja yang mereka lakukan hari ini, sampai tidak terasa bahwa sampailah mereka di sebuah kedai terdekat.</p>

<p>Mereka berdua memilih tempat duduk di dekat jendela, sembari menikmati waktu berdua dan melihat sisa hujan di luar. Sebuah menu telah disajikan kepada mereka, keduanya duduk bersebelahan sembari melihat menu itu.</p>

<p>“Hime-chan, mau mencoba kakigōri, tidak?” tanya Aoi kepada Hime.</p>

<p>Hime menatap ke arah Aoi, sedikit bertanya-tanya terlihat jelas dari ekspresi wajahnya. “Kakigōri itu apa?” Sejujurnya, Hime baru saja tahu tentang hal itu.</p>

<p>“Dessert, kok. Katanya seperti es serut yang dibumbui sama sirup dan pemanis, ataupun susu kental manis,” jelas Aoi. Hanya saja, perkataan Aoi membuat tanda tanya besar sekaligus rasa penasaran Hime terlihat.</p>

<p>“Apakah ada yang merekomendasikan itu kepadamu, Aoi-kun?” Tatapan Hime penuh selidik. Jarang sekali bagi Hime mendengar rekomendasi makanan penutup dari Aoi.</p>

<p>Aoi tersenyum canggung lantas ia berkata, “Ah, seorang penggemar yang menyarankannya. Lalu, kebetulan juga, aku belum pernah coba. Jadi sekalian saja, aku mencobanya bersama dirimu.”</p>

<p>Awalnya Hime menaikan alisnya, tetapi kalimat terakhir dari Aoi membuat dia mendengkus. “Ya, baiklah. Aku akan mencobanya bersamamu,” balas Hime sambil tersenyum kecil. Tentu saja, Hime akan menerima hal itu dengan senang hati. Kapan lagi Aoi akan memberikan sebuah rekomendasi kepadanya.</p>

<p>Pesanan sudah dibuat, yang artinya mereka sekarang perlu menunggu. Kemudian, keduanya kembali membicarakan banyak hal yang semula tertunda saat mereka berada di jalan tadi. “Aoi-kun, aku mau cerita sesuatu! Jadi, sewaktu aku mengurus pesanan buket bunga di tokoku, ternyata ada orang yang memesan buket bunga untuk kelulusan pacarnya,” ujar Hime dengan mata berbinar-binar, tanda bahwa ia sangat antusias kala menceritakannya.</p>

<p>Sedari tadi Aoi fokus menatap Hime, seraya mendengarkan Hime. Hanya saja, atensi dari Aoi terpaku kepada Hime. Entah dia mendengarkan atau tidak, tetapi Aoi sempat berkata, “Andai saja saat kelulusan dulu, aku juga bisa mengirimkan Hime-chan sebuah buket bunga. Pasti kelihatannya sangat romantis juga, ‘kan?”</p>

<p>Bukan main, Hime merasa wajahnya memerah. Entah kenapa pembicaraannya malah berakhir begitu saja. Sampai akhirnya perhatian mereka teralihkan kepada kakigōri yang sebelumnya mereka pesan. “Aoi-kun, sekarang kita makan saja dulu. Pesanannya sudah datang,” ujar Hime yang terdengar sangat gugup. Dia benar-benar tidak bisa menetralkan detak jantungnya setelah mendengar perkataan Aoi seperti itu.</p>

<p>“Baiklah, selamat menikmati makanannya.”</p>

<p>Rasanya ada kepuasan tersendiri bagi Aoi, ketika dia bisa membahagiakan Hime walaupun beberapa menit saja. Senyuman itu tidak akan pernah luntur dari bibirnya. Mereka berdua memotret dessert yang telah tersaji di meja mereka. Anggaplah ini sebagai salah satu kenang-kenangan yang bisa mereka lakukan saat berada di luar asrama. Selang waktu beberapa puluh menit lamanya, aktivitas mereka telah selesai di kedai itu.</p>

<p>Awalnya Hime tidak berpikir, jika Aoi akan membawanya pergi ke suatu tempat. Kini di tempat di mana Hime dan Aoi berpijak terlihat sebuah tempat di mana pohon sakura ternyata masih menyisakan beberapa kelopaknya yang indah. Kelopak sakura yang tersisa di ranting-ranting basah seolah enggan jatuh, memilih tetap bertahan di tengah hujan musim ini yang terus turun mengguyur sejak pagi.</p>

<p>Hime menatap takjub ke arah beberapa pohon sakura—ternyata kelopak-kelopak indah itu masih bertahan. Penasaran, ia pun bertanya, “Sebentar, kenapa bunga sakuranya masih mekar? Padahal sekarang sudah memasuki musim panas.”</p>

<p>Aoi tersenyum kecil menatap ke arah Hime, “Hime-chan, tahu tentang samidare?” tanyanya balik..</p>

<p>Hime menoleh ke arah Aoi, dan mengangguk pelan. “Samidare itu hujan panjang di awal musim panas, bukan?” tanya Hime kepada Aoi. Ia mencoba memastikan jawabannya.</p>

<p>“Benar sekali.” Aoi mengangguk, kemudian ia melanjutkan, “Hujan yang berkepanjangan itu membawa efek yang tidak biasa pada pohon sakura, sehingga membuat kelopaknya tetap mekar lebih lama daripada seharusnya.”</p>

<p>Percakapan mereka lagi-lagi menghanyutkan suasana, tanpa terasa langit mulai cerah kembali, tetapi tetesan air masih jatuh dari daun dan kelopak sakura yang tersisa.</p>

<p>Keduanya menikmati momen itu bersama. Saat berdiri di bawah pohon sakura, Aoi sedikit iseng dan menggoyangkan dahan pohonnya, membuat air berjatuhan ke arah Hime. Refleks bergeser dari tempat tersebut, dengan ekspresi kesal ia menatap sang kekasih.</p>

<p>Hime mulai menggerutu, “Kenapa Aoi-kun hari ini benar-benar iseng, sih?!”</p>

<p>Aoi lekas dibuat tertawa, kebahagiaan sederhana yang dia inginkan seperti ini bersama sang terkasih. Ia kemudian menjawab sambil tersenyum, “Aku ‘kan nggak sengaja.”</p>

<p>Sekilas dilihatnya kelopak bunga sakura jatuh di atas rambut Hime. Saat itu juga, Aoi mengulurkan tangannya, tetapi bukannya langsung mengambil kelopak itu, dia malah membenarkan rambut palsu milik Hime. Serius, penyamaran seperti ini juga pun tidak akan berguna jika ia tetap saja berhadapan dengan Aoi. Perlakuan tersebut menjadikan suasana lebih lembut dan penuh perhatian dari kekasih. Keduanya saling menatap lekat masing-masing.</p>

<p>Mereka masih berdiri dan berdiam sejenak, seraya mendengar suara tetesan air dan angin yang berembus pelan, menikmati waktu yang terasa hanya milik mereka berdua. Setelah puas menikmati momen di bawah sakura, mereka melanjutkan perjalanan pulang dengan langkah lebih lambat.</p>

<p>Kedua tangan mereka tetap saling bergandengan selama perjalanan pulang, tanpa banyak kata yang perlu diucapkan. Kejadian hari ini menjadi momen yang paling berkesan bagi keduanya—saling memahami satu sama lain melalui kenangan sederhana. Mereka membiarkan langkah tetap selaras, ditemani suara rintik hujan yang masih tersisa. Meski tanpa kata, genggaman tangan mereka sudah cukup untuk menyampaikan segalanya.</p>

<p><strong>End.</strong></p>

<hr/>

<blockquote><p>Note!
Yukihime Aoi belongs to <a href="https://twitter.com/aeternamare" rel="nofollow">@aeternamare</a> for Writing/Merch Trade.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/samidare-wu-yue-yu</guid>
      <pubDate>Sun, 20 Apr 2025 00:59:25 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Alunan Kata, Melodi Rasa</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/alunan-kata-melodi-rasa?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Nanamegi Nanaki x Nakahara Kurumi.&#xA;  #FaureGift; #NanaKuru.&#xA;&#xA;   When poetry shows happiness for the beloved.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #18Trip © Liber Entertainment, Pony Canyon. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Seorang gadis berwarna rambut pink lembut dilihat oleh mata, menyerupai kelopak bunga sakura yang tertiup angin, sebab dirinya yang sedari tadi duduk di dekat jendela ruangan tersebut. Ekspresi wajahnya terlihat mengerut, ia merasa agak kesulitan untuk menyelesaikan sesuatu yang kini berada di kertas miliknya. Sudah berapa jam yang lalu tangannya selalu menari di atas kertas, tetapi wajah itu justru memancarkan rasa kurang puas terhadap hasil karyanya. &#xA;&#xA;Nada petikan senar gitar mengisi keheningan, membentuk melodi yang terasa akrab baginya. Gadis itu mendongak, sehingga matanya bertemu  dengan mata sang pemuda yang senyuman tidak jauh berada di hadapannya saat ini. “Ah, Nanamegi-senpai! Maaf aku tidak memperhatikan dirimu datang kemari,” ujar gadis itu terlihat agak menyesal.&#xA;&#xA;Lelaki itu, Nanamegi Nanaki menggelengkan kepalanya pelan, terlihat helaian rambut cokelat miliknya yang sedikit bergelombang ikut bergerak seiring dia bergerak. Dengan nada lembut, ia kemudian bertanya kepada sosok gadis yang tak jauh berada di hadapannya, “Tidak masalah. Kelihatannya Nakahara-san sedang sibuk membuat sesuatu. Apa aku justru mengganggumu?”&#xA;&#xA;“Nanamegi-senpai tidak mengganggu, kok! Sepertinya, mungkin aku terlalu fokus sama pekerjaanku sendiri sampai tidak memperhatikan,” sahut gadis bersurai merah muda itu, dengan cepat menentang pertanyaan bahwa dirinya seakan-akan terasa terganggu. Padahal, kalau tidak ada yang menyadarkan dirinya yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya itu, mungkin dia bisa saja berada di tempat itu seharian.&#xA;&#xA;“Hm, baiklah kalau begitu.” Nanaki hanya tersenyum tipis saat mendengar itu. Namun, perhatiannya segera beralih ke kertas-kertas yang berserakan di sekitar gadis itu. Rasa penasaran akhirnya menguasainya, hingga ia bertanya, “Sebenarnya, apa yang sedang Nakahara-san lakukan sejak tadi?” &#xA;&#xA;Gadis itu, Nakahara Kurumi, yang masih menatap lelaki di hadapannya, mulai menjelaskan, “Ah, ini tugas membuat puisi. Hanya saja, menurutku larik di bait terakhirnya terasa tidak teratur.” Ia memperlihatkannya kepada Nanaki, sementara Nanaki mulai mengambil posisi duduk ternyaman di samping Kurumi.&#xA;&#xA;“Aku izin coba lihat sebentar, ya.” Perkataan itu sukses membuat Kurumi meneguk saliva. Saat ini, di mata Kurumi, kakak kelas yang duduk di sampingnya lebih terlihat sebagai ketua klub. Pancaran aura karismatiknya sungguh luar biasa, menurut Kurumi.&#xA;&#xA;Nanaki menatap kertas-kertas berisi puisi itu sejenak, lalu mengangkat alisnya. Ekspresinya menunjukkan ketertarikan saat melihat larik-larik yang dirangkai dengan begitu hati-hati oleh Kurumi. Ia mulai tersenyum kecil, lalu berkata “Nakahara-san, bagaimana kalau dirimu mencoba mengubah ritmenya sedikit? Mungkin dengan menyesuaikan panjang lariknya, puisimu akan terdengar lebih mengalir.”&#xA;&#xA;Mendengarkan hal itu, Kurumi diam sejenak. Ia tidak kepikiran sampai ke situ. “Lagi pula, puisi itu seperti musik, &#39;kan? Terkadang, kita perlu sedikit improvisasi supaya nadanya terdengar pas.” Nanaki melanjutkan ucapannya tadi, lagi-lagi mengalihkan atensi Kurumi.&#xA;&#xA;“Itu benar! Nanamegi-senpai keren sekali sewaktu bicara seperti itu, jadi fokusku tadi agak teralihkan.” Kurumi melukis senyum lebar dan mungkin lebih terkesan jahil terhadap kakak kelasnya sendiri. Padahal, Nanaki sudah membantunya untuk mengatasi kesulitannya dalam membuat sebuah puisi.&#xA;&#xA;Wajah Nanaki mulai merona, alasan mengapa ia sering kali mudah jatuh cinta, bisa saja karena ia selalu digoda oleh orang-orang terdekatnya, sama seperti sekarang ini. “Nakahara-san, bagaimana kalau aku coba membantu dirimu dengan menggunakan nada-nada dari permainan gitarku?” tawar Nanaki, berusaha mengalihkan perhatian terhadap apa yang dikatakan oleh Kurumi tentang dirinya.&#xA;&#xA;Kurumi menatap lekat kakak kelasnya itu, sejujurnya ada perasaan tidak berkenan baginya untuk merepotkan kakak kelasnya yang satu ini. Kurumi mencoba memastikan sekali lagi, “Eh, Nanamegi-senpai mau bermain gitar untuk membantuku? Bukankah, itu justru menambah pekerjaan untukmu?”&#xA;&#xA;Nanaki mulai menunjukkan senyum tipis pada wajahnya. “Sekarang ini aku sedang tidak punya pekerjaan, kok. Jadi, tidak ada masalah kalau sekadar memainkan gitar.”&#xA;&#xA;Pemuda itu tampaknya memiliki keinginan sendiri untuk bisa membantu Kurumi akan pekerjaannya. Setidaknya, untuk kali ini dia ingin membiarkan Kurumi mendengarkan alunan nada yang dibuat dari puisinya sendiri. &#xA;&#xA;Nanaki melanjutkan perkataannya seraya berkata, “Jadi, bagaimana kalau aku menghabiskan hari ini bersama Nakahara-san sambil membantumu menyelesaikan tugasmu? Siapa tahu, saat aku mencoba memainkan gitar nanti, Nakahara-san bisa mendapatkan bayangan nada-nada yang cocok untuk puisimu.” Nanaki kembali berdiri sambil memegang gitarnya saat mengatakan kalimat tersebut. &#xA;&#xA;Rambut cokelat lembut yang agak bergelombang itu, sebenarnya bisa melihat keraguan dari figur indah di hadapannya ini memiliki warna senada antara rambut dan matanya. Walaupun menurut Nanaki, tidak ada hal yang perlu dipermasalahkan tentang ini. Ia akan terlihat senang, jika dirinya bisa membantu adik kelasnya yang satu ini.&#xA;&#xA;Kurumi mulai berdiri, sepertinya sekarang ia sudah memikirkan penawaran dari Nanaki dengan baik. Kurumi kemudian berkata, “Baiklah, kalau begitu mohon bantuannya, Nanamegi-senpai!” Kurumi membungkuk bersamaan saat ia mengatakan hal tersebut kepada Nanaki yang berada di hadapannya.&#xA;&#xA;Canggung. Nanaki tidak bisa beradaptasi dengan perilaku Kurumi yang seperti ini. “Tentu saja, aku akan coba mulai memainkan gitar milikku, ya.” Pada akhirnya, ia mulai mengalihkan perhatian Kurumi lagi dengan mulai memainkan gitarnya, setelah berkata seperti itu.&#xA;&#xA;Kurumi mendengarkan nada-nada yang mengalun dari gitar Nanaki. Melodinya sederhana, tetapi terdengar sangat lembut, seolah-olah bisa merangkai perasaan yang tersembunyi di balik setiap larik puisinya. Entah bagaimana, alunan itu terasa pas—seakan menggambarkan isi puisinya tanpa perlu banyak kata.&#xA;&#xA;Saat mengingat kembali, ia menyadari betapa hebatnya kakak kelasnya ini. Walaupun Nanaki hanya membaca puisinya sekilas, ia sudah mampu menemukan alunan nada yang sempurna untuk menjadikannya musikalisasi. Sungguh, Kurumi ingin segera memuji Nanaki, tetapi ia menahan diri. Ia memilih untuk tetap diam, membiarkan kakak kelasnya itu memainkan gitarnya hingga selesai. Baru setelahnya, ia akan meluapkan kekagumannya tanpa henti.&#xA;&#xA;Beberapa menit berlalu, akhirnya permainan gitar Nanaki telah selesai. Belum ada beberapa detik Nanaki menyandarkan gitar di sampingnya dan meregangkan bahu. Ia penasaran dengan pendapat Kurumi, makanya ia pun bertanya, “Bagaimana—”&#xA;&#xA;“Keren! Luar biasa! Sangat sempurna!” Kurumi berseru dengan penuh antusias, tanpa sadar memotong ucapan dari Nanaki. “Menurutku, Nanamegi-senpai keren sekali! Nada-nada yang  dimainkan terasa begitu selaras, nyaris seperti cerminan dari puisiku sendiri.”  &#xA;&#xA;Ia menatap Nanaki dengan kagum, masih tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Bagaimana bisa Nanamegi-senpai melakukan itu hanya dalam beberapa menit setelah membaca puisinya?!” tanya Kurumi, mungkin seharian ini dia akan terus meluapkan kekagumannya.&#xA;&#xA;Nanaki tampak terkejut karena ada banyak perkataan yang dikatakan oleh Kurumi dalam satu waktu, meskipun tidak dalam satu tarikan napas. “Kebetulan diksi yang Nakahara-san pergunakan pada puisi itu, berupa kosakata sederhana yang masih bisa aku pahami, kurang lebih seperti itu.”&#xA;&#xA;Kurumi mendengar jawaban dari Nanaki. Itu benar-benar diluar dugaan. Namun, memang benar kosakata yang Kurumi pergunakan terbilang cukup sederhana. Sebab, Kurumi sendiri tidak mungkin akan membuat puisi yang dia sendiri tidak tahu arti kosakatanya. Biar bagaimanapun, dia tidak akan melakukan hal nekat untuk sesuatu seperti ini.&#xA;&#xA;“Oh, benar juga, sih …” gumam Kurumi. &#xA;&#xA;Nanaki sebenarnya ingin memilih kosakata yang cocok untuk mengungkapkan kalimatnya, tetapi kalimat tersebut yang malah tersampaikan kepada Kurumi. “Ah, maafkan aku kalau itu menyinggung dirimu,” sahut Nanaki, dia merasa bersalah.&#xA;&#xA;“Ah, Nanamegi-senpai tidak perlu meminta maaf!” Kurumi tersenyum kecil sambil menggaruk pelan pipinya yang sebenarnya tidak gatal. &#xA;&#xA;Ia kembali melanjutkan, “Aku memang masih kurang ahli dalam memilih kosakata yang indah untuk puisi. Tapi, tenang saja! Selama aku memahami maknanya, dan dengan bantuan Nanamegi-senpai, sekarang aku bisa melanjutkan puisiku.”  &#xA;&#xA;Kurumi menatapnya dengan penuh rasa terima kasih sebelum akhirnya berkata dengan tulus, “Terima kasih banyak atas bantuannya, Nanamegi-senpai!” &#xA;&#xA;Sekilas senyuman terbit diwajah Nanaki. Ia merasa senang, ketika keahliannya dalam bermain musik seperti ini ternyata bisa membantu pekerjaan orang lain, walaupun sekadar memberikan bayangan dengan alunan nada-nadanya. “Kalau Nakahara-san sudah termotivasi begini, aku tak punya alasan untuk tidak menantikan hasilnya. Lagi pula, aku juga senang bisa membantu,” tuturnya terdengar lembut.&#xA;&#xA;Kurumi mengangguk penuh semangat dengan senyum yang lebar terlukis pada wajahnya. “Pastinya! Aku akan menyelesaikan puisinya sebaik mungkin!” &#xA;&#xA;Mereka saling bertukar tatapan sesaat sebelum tawa kecil meluncur di antara mereka. Tak ada yang perlu diucapkan lebih jauh—musik dan puisi sudah berbicara lebih banyak dari kata-kata. &#xA;&#xA;Angin mulai bertiup dari jendela tepat di sampingnya Kurumi duduk tadi. Mulai memperlihatkan langit yang tadinya cerah kini telah berubah menjadi semburat jingga keemasan, menyapu cakrawala dengan warna lembut yang menenangkan, sekaligus menemani keduanya menghabiskan waktu seharian ini bersama-sama.&#xA;&#xA;End.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;  Note!&#xA;  Nakahara Kurumi belongs to @dearnanaki from Twitter for Writing Gift.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Nanamegi Nanaki x Nakahara Kurumi.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureGift" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureGift</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:NanaKuru" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">NanaKuru</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>When poetry shows happiness for the beloved.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:18Trip" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">18Trip</span></a> © Liber Entertainment, Pony Canyon. </p></blockquote>

<hr/>

<p>Seorang gadis berwarna rambut pink lembut dilihat oleh mata, menyerupai kelopak bunga sakura yang tertiup angin, sebab dirinya yang sedari tadi duduk di dekat jendela ruangan tersebut. Ekspresi wajahnya terlihat mengerut, ia merasa agak kesulitan untuk menyelesaikan sesuatu yang kini berada di kertas miliknya. Sudah berapa jam yang lalu tangannya selalu menari di atas kertas, tetapi wajah itu justru memancarkan rasa kurang puas terhadap hasil karyanya.</p>

<p>Nada petikan senar gitar mengisi keheningan, membentuk melodi yang terasa akrab baginya. Gadis itu mendongak, sehingga matanya bertemu  dengan mata sang pemuda yang senyuman tidak jauh berada di hadapannya saat ini. “Ah, Nanamegi-<em>senpai</em>! Maaf aku tidak memperhatikan dirimu datang kemari,” ujar gadis itu terlihat agak menyesal.</p>

<p>Lelaki itu, Nanamegi Nanaki menggelengkan kepalanya pelan, terlihat helaian rambut cokelat miliknya yang sedikit bergelombang ikut bergerak seiring dia bergerak. Dengan nada lembut, ia kemudian bertanya kepada sosok gadis yang tak jauh berada di hadapannya, “Tidak masalah. Kelihatannya Nakahara-<em>san</em> sedang sibuk membuat sesuatu. Apa aku justru mengganggumu?”</p>

<p>“Nanamegi-<em>senpai</em> tidak mengganggu, kok! Sepertinya, mungkin aku terlalu fokus sama pekerjaanku sendiri sampai tidak memperhatikan,” sahut gadis bersurai merah muda itu, dengan cepat menentang pertanyaan bahwa dirinya seakan-akan terasa terganggu. Padahal, kalau tidak ada yang menyadarkan dirinya yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya itu, mungkin dia bisa saja berada di tempat itu seharian.</p>

<p>“Hm, baiklah kalau begitu.” Nanaki hanya tersenyum tipis saat mendengar itu. Namun, perhatiannya segera beralih ke kertas-kertas yang berserakan di sekitar gadis itu. Rasa penasaran akhirnya menguasainya, hingga ia bertanya, “Sebenarnya, apa yang sedang Nakahara-<em>san</em> lakukan sejak tadi?”</p>

<p>Gadis itu, Nakahara Kurumi, yang masih menatap lelaki di hadapannya, mulai menjelaskan, “Ah, ini tugas membuat puisi. Hanya saja, menurutku larik di bait terakhirnya terasa tidak teratur.” Ia memperlihatkannya kepada Nanaki, sementara Nanaki mulai mengambil posisi duduk ternyaman di samping Kurumi.</p>

<p>“Aku izin coba lihat sebentar, ya.” Perkataan itu sukses membuat Kurumi meneguk saliva. Saat ini, di mata Kurumi, kakak kelas yang duduk di sampingnya lebih terlihat sebagai ketua klub. Pancaran aura karismatiknya sungguh luar biasa, menurut Kurumi.</p>

<p>Nanaki menatap kertas-kertas berisi puisi itu sejenak, lalu mengangkat alisnya. Ekspresinya menunjukkan ketertarikan saat melihat larik-larik yang dirangkai dengan begitu hati-hati oleh Kurumi. Ia mulai tersenyum kecil, lalu berkata “Nakahara-<em>san</em>, bagaimana kalau dirimu mencoba mengubah ritmenya sedikit? Mungkin dengan menyesuaikan panjang lariknya, puisimu akan terdengar lebih mengalir.”</p>

<p>Mendengarkan hal itu, Kurumi diam sejenak. Ia tidak kepikiran sampai ke situ. “Lagi pula, puisi itu seperti musik, &#39;kan? Terkadang, kita perlu sedikit improvisasi supaya nadanya terdengar pas.” Nanaki melanjutkan ucapannya tadi, lagi-lagi mengalihkan atensi Kurumi.</p>

<p>“Itu benar! Nanamegi-<em>senpai</em> keren sekali sewaktu bicara seperti itu, jadi fokusku tadi agak teralihkan.” Kurumi melukis senyum lebar dan mungkin lebih terkesan jahil terhadap kakak kelasnya sendiri. Padahal, Nanaki sudah membantunya untuk mengatasi kesulitannya dalam membuat sebuah puisi.</p>

<p>Wajah Nanaki mulai merona, alasan mengapa ia sering kali mudah jatuh cinta, bisa saja karena ia selalu digoda oleh orang-orang terdekatnya, sama seperti sekarang ini. “Nakahara-<em>san</em>, bagaimana kalau aku coba membantu dirimu dengan menggunakan nada-nada dari permainan gitarku?” tawar Nanaki, berusaha mengalihkan perhatian terhadap apa yang dikatakan oleh Kurumi tentang dirinya.</p>

<p>Kurumi menatap lekat kakak kelasnya itu, sejujurnya ada perasaan tidak berkenan baginya untuk merepotkan kakak kelasnya yang satu ini. Kurumi mencoba memastikan sekali lagi, “Eh, Nanamegi-<em>senpai</em> mau bermain gitar untuk membantuku? Bukankah, itu justru menambah pekerjaan untukmu?”</p>

<p>Nanaki mulai menunjukkan senyum tipis pada wajahnya. “Sekarang ini aku sedang tidak punya pekerjaan, kok. Jadi, tidak ada masalah kalau sekadar memainkan gitar.”</p>

<p>Pemuda itu tampaknya memiliki keinginan sendiri untuk bisa membantu Kurumi akan pekerjaannya. Setidaknya, untuk kali ini dia ingin membiarkan Kurumi mendengarkan alunan nada yang dibuat dari puisinya sendiri.</p>

<p>Nanaki melanjutkan perkataannya seraya berkata, “Jadi, bagaimana kalau aku menghabiskan hari ini bersama Nakahara-<em>san</em> sambil membantumu menyelesaikan tugasmu? Siapa tahu, saat aku mencoba memainkan gitar nanti, Nakahara-san bisa mendapatkan bayangan nada-nada yang cocok untuk puisimu.” Nanaki kembali berdiri sambil memegang gitarnya saat mengatakan kalimat tersebut.</p>

<p>Rambut cokelat lembut yang agak bergelombang itu, sebenarnya bisa melihat keraguan dari figur indah di hadapannya ini memiliki warna senada antara rambut dan matanya. Walaupun menurut Nanaki, tidak ada hal yang perlu dipermasalahkan tentang ini. Ia akan terlihat senang, jika dirinya bisa membantu adik kelasnya yang satu ini.</p>

<p>Kurumi mulai berdiri, sepertinya sekarang ia sudah memikirkan penawaran dari Nanaki dengan baik. Kurumi kemudian berkata, “Baiklah, kalau begitu mohon bantuannya, Nanamegi-<em>senpai</em>!” Kurumi membungkuk bersamaan saat ia mengatakan hal tersebut kepada Nanaki yang berada di hadapannya.</p>

<p>Canggung. Nanaki tidak bisa beradaptasi dengan perilaku Kurumi yang seperti ini. “Tentu saja, aku akan coba mulai memainkan gitar milikku, ya.” Pada akhirnya, ia mulai mengalihkan perhatian Kurumi lagi dengan mulai memainkan gitarnya, setelah berkata seperti itu.</p>

<p>Kurumi mendengarkan nada-nada yang mengalun dari gitar Nanaki. Melodinya sederhana, tetapi terdengar sangat lembut, seolah-olah bisa merangkai perasaan yang tersembunyi di balik setiap larik puisinya. Entah bagaimana, alunan itu terasa pas—seakan menggambarkan isi puisinya tanpa perlu banyak kata.</p>

<p>Saat mengingat kembali, ia menyadari betapa hebatnya kakak kelasnya ini. Walaupun Nanaki hanya membaca puisinya sekilas, ia sudah mampu menemukan alunan nada yang sempurna untuk menjadikannya musikalisasi. Sungguh, Kurumi ingin segera memuji Nanaki, tetapi ia menahan diri. Ia memilih untuk tetap diam, membiarkan kakak kelasnya itu memainkan gitarnya hingga selesai. Baru setelahnya, ia akan meluapkan kekagumannya tanpa henti.</p>

<p>Beberapa menit berlalu, akhirnya permainan gitar Nanaki telah selesai. Belum ada beberapa detik Nanaki menyandarkan gitar di sampingnya dan meregangkan bahu. Ia penasaran dengan pendapat Kurumi, makanya ia pun bertanya, “Bagaimana—”</p>

<p>“Keren! Luar biasa! Sangat sempurna!” Kurumi berseru dengan penuh antusias, tanpa sadar memotong ucapan dari Nanaki. “Menurutku, Nanamegi-<em>senpai</em> keren sekali! Nada-nada yang  dimainkan terasa begitu selaras, nyaris seperti cerminan dari puisiku sendiri.”</p>

<p>Ia menatap Nanaki dengan kagum, masih tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Bagaimana bisa Nanamegi-<em>senpai</em> melakukan itu hanya dalam beberapa menit setelah membaca puisinya?!” tanya Kurumi, mungkin seharian ini dia akan terus meluapkan kekagumannya.</p>

<p>Nanaki tampak terkejut karena ada banyak perkataan yang dikatakan oleh Kurumi dalam satu waktu, meskipun tidak dalam satu tarikan napas. “Kebetulan diksi yang Nakahara-<em>san</em> pergunakan pada puisi itu, berupa kosakata sederhana yang masih bisa aku pahami, kurang lebih seperti itu.”</p>

<p>Kurumi mendengar jawaban dari Nanaki. Itu benar-benar diluar dugaan. Namun, memang benar kosakata yang Kurumi pergunakan terbilang cukup sederhana. Sebab, Kurumi sendiri tidak mungkin akan membuat puisi yang dia sendiri tidak tahu arti kosakatanya. Biar bagaimanapun, dia tidak akan melakukan hal nekat untuk sesuatu seperti ini.</p>

<p>“<em>Oh, benar juga, sih</em> …” gumam Kurumi.</p>

<p>Nanaki sebenarnya ingin memilih kosakata yang cocok untuk mengungkapkan kalimatnya, tetapi kalimat tersebut yang malah tersampaikan kepada Kurumi. “Ah, maafkan aku kalau itu menyinggung dirimu,” sahut Nanaki, dia merasa bersalah.</p>

<p>“Ah, Nanamegi-<em>senpai</em> tidak perlu meminta maaf!” Kurumi tersenyum kecil sambil menggaruk pelan pipinya yang sebenarnya tidak gatal.</p>

<p>Ia kembali melanjutkan, “Aku memang masih kurang ahli dalam memilih kosakata yang indah untuk puisi. Tapi, tenang saja! Selama aku memahami maknanya, dan dengan bantuan Nanamegi-<em>senpai</em>, sekarang aku bisa melanjutkan puisiku.”</p>

<p>Kurumi menatapnya dengan penuh rasa terima kasih sebelum akhirnya berkata dengan tulus, “Terima kasih banyak atas bantuannya, Nanamegi-<em>senpai</em>!”</p>

<p>Sekilas senyuman terbit diwajah Nanaki. Ia merasa senang, ketika keahliannya dalam bermain musik seperti ini ternyata bisa membantu pekerjaan orang lain, walaupun sekadar memberikan bayangan dengan alunan nada-nadanya. “Kalau Nakahara-<em>san</em> sudah termotivasi begini, aku tak punya alasan untuk tidak menantikan hasilnya. Lagi pula, aku juga senang bisa membantu,” tuturnya terdengar lembut.</p>

<p>Kurumi mengangguk penuh semangat dengan senyum yang lebar terlukis pada wajahnya. “Pastinya! Aku akan menyelesaikan puisinya sebaik mungkin!”</p>

<p>Mereka saling bertukar tatapan sesaat sebelum tawa kecil meluncur di antara mereka. Tak ada yang perlu diucapkan lebih jauh—musik dan puisi sudah berbicara lebih banyak dari kata-kata.</p>

<p>Angin mulai bertiup dari jendela tepat di sampingnya Kurumi duduk tadi. Mulai memperlihatkan langit yang tadinya cerah kini telah berubah menjadi semburat jingga keemasan, menyapu cakrawala dengan warna lembut yang menenangkan, sekaligus menemani keduanya menghabiskan waktu seharian ini bersama-sama.</p>

<p><strong>End.</strong></p>

<hr/>

<blockquote><p>Note!
Nakahara Kurumi belongs to <a href="https://twitter.com/dearnanaki" rel="nofollow">@dearnanaki</a> from Twitter for Writing Gift.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/alunan-kata-melodi-rasa</guid>
      <pubDate>Sun, 20 Apr 2025 00:46:53 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Spring Happiness</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/spring-happiness?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Toraishi Izumi × Hizafa Rein.&#xA;  #FaureYume; #IzuRein.&#xA;&#xA;   Simple happiness of the noblest behavior.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #FanfictionArchives; #Yumeships.&#xA;  #StarMyu © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Latihan Tim Hiiragi selesai lebih awal pada waktu itu. Padahal, sewaktu Festival Ayanagi mereka bahkan tidak punya waktu untuk sekadar beristirahat. Bertemu dengan Tim Ootori saja hanya beberapa kali, itupun sampai harus diikuti oleh salah seorang leader-nya. Lagi pula, orangnya memang unik juga, sih. Alhasil, anggota Tim Hiiragi tidak heran lagi, kalau orangnya bisa senekat itu.&#xA;&#xA;Meskipun sudah menjelang sore hari, cuacanya masih saja terlihat sangat cerah. Senyuman terlukis pada bibir salah seorang anggota Tim Hiiragi, ia adalah Toraishi Izumi. Netra kelabunya menatap terus ponselnya. Bersyukur semua kegiatan telah berakhir, waktunya ia akan kembali ke asrama dan membersihkan tubuhnya yang penuh keringat, setelah latihan selama beberapa jam.&#xA;&#xA;&#34;Toraishi-kun, mau sampai kapan kau berdiri di situ?&#34; tegur pemuda dengan rambut seindah bunga Sakura, itu adalah Ugawa Akira, teman satu timnya. &#xA;&#xA;Mendengar teguran dari sosok yang familier baginya, sukses mengalihkan atensi pemuda tersebut. &#34;Oh, kalian duluan saja. Aku akan menyusul setelah membalas pesan dari Rein-chan,&#34; ujarnya sembari tersenyum lebar. &#xA;&#xA;&#34;Wah, aku benar-benar tidak mengerti, seorang Rein bisa terpikat sama orang seperti dia.&#34; Sindiran itu secara tidak langsung menyentak keberadaan Toraishi, meskipun ia tahu kalau wataknya Ugawa memanglah demikian.&#xA;&#xA;&#34;Hei, jangan bicara begitu!&#34; tegur Toraishi. Seolah direnggut ketenangannya, dia justru meladeni Ugawa. &#xA;&#xA;&#34;Ya, ya. Lakukan saja sesukamu, aku tidak akan peduli.&#34; Ugawa segera pergi meninggalkan anggota timnya yang lain, tidak mau berurusan lebih banyak dengan Toraishi untuk hari ini. Sepertinya karena latihan kali ini sudah sangat menguras tenaga, jadinya Ugawa tidak memperpanjang perkataannya hingga terjadi pertikaian yang sudah menjadi kebiasaan.&#xA;&#xA;Melihat kepergian Ugawa, ketiga orang lainnya yang tadi menatap Toraishi pun akhirnya memutuskan untuk pergi dahulu. &#34;Toraishi, kami kembali ke asrama duluan, ya.&#34; Itu adalah Tatsumi Rui yang berkata dengan lembut. &#34;Sepertinya, suasana hati Ugawa kurang bagus akhir-akhir ini, jangan terlalu marah padanya, ya?&#34; lanjutnya. Sungguh mulia sekali hatinya, meminta teman satu timnya agar tidak bertengkar dan memaklumi perasaan anggota lain timnya juga. Sungguh leader sejati.&#xA;&#xA;&#34;Ya, tidak masalah~ Nanti, aku akan menyusul.&#34; Syukurnya, suasana hati Toraishi sedang bahagia saat ini. &#xA;&#xA;&#34;Kalau begitu, sampai jumpa nanti, Toraishi-kun,&#34; ujar pemuda dengan rambut cokelat disamping Tatsumi, Sawatari Eigo.&#xA;&#xA;&#34;Toraishi, sampai jumpa nanti!&#34; seru sosok yang berada didekat Tatsumi dan Sawatari. Seorang yang energinya mungkin tidak akan pernah habis. Orang yang selalu ceria dan bahagia. Tanpa ada beban sama sekali.&#xA;&#xA;Melihat kepergian anggota timnya, ia mendengkus kecil. &#34;Ya, sampai nanti,&#34; sahutnya sembari tersenyum. Setidaknya, ia masih akan tersenyum saat temannya pun melontarkan senyum kepada dirinya. Toraishi itu bukanlah pemuda yang irit tersenyum, hanya saja dia membutuhkan waktu-waktu tertentu untuk tersenyum. Terkadang, senyuman Toraishi lebih mirip seperti senyum jahil ketimbang senyum yang tulus. Ia terlalu banyak menggoda seseorang disekitarnya.&#xA;&#xA;Kini ia mengalihkan atensinya lagi ke ponsel yang sedari tadi setia digenggamnya. &#34;Oh apa ini? Rein-chan mengajak aku ketemuan?&#34; Toraishi bertanya-tanya, sejujurnya jarang sekali kalau sosok yang sedari tadi mengirimkan pesan kepadanya itu mengajaknya duluan. Padahal, biasa Toraishi yang lebih sering duluan untuk mengajaknya.&#xA;&#xA;Toraishi membalas pesan sang gadis pujaan hatinya itu. Namun, tak lama kemudian pesan itu dibalas. Sembari menunggu balasannya tadi, Toraishi sempat merapikan tas selempang yang dia bawa, dari asrama ke tempat latihan yang sekarang dipijaki olehnya.&#xA;&#xA;Pesan masuk itu bertuliskan, &#39;Bagaimana kalau hari ini, sepulang sekolah? Apa Izumi sudah punya rencana?&#39; Ia bahkan menulis balasannya dengan cepat. Tentu saja ia tidak akan mengabaikan kesempatan itu.&#xA;&#xA;Setelah itu, Toraishi bergegas untuk segera kembali ke asrama dan membersihkan tubuhnya dengan baik, karena sudah menghabiskan banyak waktu untuk latihan bahkan sepulang sekolah.&#xA;&#xA;Pesan masuk kembali diterima oleh Toraishi yang berbunyi, &#39;Kalau begitu, nanti akan aku kabari lagi. Sekarang aku mau kembali ke asrama dulu.&#39;&#xA;&#xA;Saat Toraishi kembali ke asrama, tak disangka ada salah seorang dari Tim Ootori yang menyambutnya, lebih tepatnya leader mereka.&#xA;&#xA;&#34;Toraishi, selamat ulang tahun!&#34; Betapa terkejutnya dia, padahal belum ada selangkah untuk memasuki asrama. Rasanya seolah dicegat oleh sosok pemuda bersurai cokelat muda dengan mata sehijau pepohonan.&#xA;&#xA;&#34;Wah, Hoshitani! Kau membuatku terkejut. Oh, hari ini ulang tahunku?&#34; Toraishi melirik ponsel yang dia genggam, ternyata disana terpampang jelas bahwa sudah tanggal 12 April. Dia benar-benar tidak sadar. Sepertinya, Toraishi baru saja mengerti apa yang sedang terjadi kali ini.&#xA;&#xA;&#34;Kau benar, terima kasih Hoshitani.&#34; Toraisi menepuk pundaknya sambil menyengir. Pantas saja kelihatannya suasana hati Toraishi bisa sebahagia itu, meskipun ternyata ia tetap melupakan salah satu hari penting dalam hidupnya.&#xA;&#xA;&#34;Ah, maaf membuatmu terkejut. Tadinya aku bertanya kepada Tatsumi, kalau kau ternyata masih berada di ruang latihan. Lalu, belum ada beberapa menit mereka masuk ke kamar, kaupun datang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh, iya. Tadi setelah latihan selesai, Rein-chan mengirimku pesan dan ingin mengajakku pergi setelah pulang sekolah. Makanya, aku baru saja pulang,&#34; jelas Toraishi.&#xA;&#xA;&#34;Ah~ Rein sudah lebih dahulu, ya?&#34; gumam Hoshitani, sepertinya terdengar oleh Toraishi.&#xA;&#xA;&#34;Ya, setidaknya kalau Hoshitani tidak berkata hal itu kepadaku, bisa saja aku justru seperti orang yang melupakan hari kelahirannya sendiri,&#34; balasnya tertawa renyah. Setelah itu ia pun melanjutkannya, &#34;Padahal, Rein-chan bisa mengucapkan selamat padaku yang pertama kali, sayang sekali. Tapi, tidak masalah! Suasana hatiku sekarang sedang dalam kondisi baik~&#34; &#xA;&#xA;Hoshitani awalnya terkejut mendengar jawaban itu, tetapi begitu ia mendengar perkataan terakhirnya, entah kenapa justru merasa lega. &#34;Ya sudah, aku ke dalam dulu. Boleh tolong minggir? Aku mau segera bertemu dengan Rein-chan, haha.&#34; Sungguh, kalau Toraishi tidak mengatakan hal ini, Hoshitani akan terus menerus berada di depan pintu asrama. &#xA;&#xA;&#34;Oh, maaf! Nanti, jangan pulang larut malam, ya~&#34;&#xA;&#xA;Melihat kepergian Toraishi yang hanya melambaikan tangannya saja, menandakan bahwa ia mendengarkan pernyataan itu. Sepertinya, berkat Hoshitani, dia ingin segera bertemu dengan kekasih pujaan hatinya itu.&#xA;&#xA;Sesampainya di kamar milik Toraishi, tidak terlihat keberadaan teman satu kamarnya. Dia tidak memusingkannya juga, ia memutuskan untuk membersihkan diri dan bersiap untuk bertemu dengan sosok yang selalu didambakan olehnya. &#xA;&#xA;Seorang gadis berambut kelabu, dengan iris mata sehijau tanaman yang selalu memberikan oksigen kepada makhluk hidup. Seberharga itulah sosoknya bagi seorang Toraishi Izumi. Gadis itu akrab disapa Rein, nama panjangnya ialah Hizafa Rein.&#xA;&#xA;Tidak lama setelah Toraishi bersiap, ternyata muncul pesan masuk. Awalnya Toraishi mengira itu dari Rein, tetapi sepertinya bukan. Itu adalah pesan dari Kuga Shu, teman masa kecilnya.&#xA;&#xA;Melihat pesannya yang ternyata mengucapkan, &#39;Selamat ulang tahun&#39; membuat Toraishi melukis senyuman. Sepertinya, untuk hari ini dia tidak bisa menemuinya. Ia tidak mempermasalahkan hal itu, karena tahu bahwa Kuga memiliki kerjaan sambilan. Sebenarnya, Rein pun seperti itu. Sehingga dirinya sekarang berpikir, apakah tidak akan menyita waktu sang terkasih untuk bekerja malam harinya? &#xA;&#xA;Toraishi memang tidak tahu pasti, jadwal kerja sambilannya Rein. Ia juga berharap kalau tidak membuat gadis itu justru tidak memiliki jatah istirahat, alhasil ia jarang untuk mengajaknya berkencan.&#xA;&#xA;Pada akhirnya, Toraishi memutuskan untuk bertanya mengenai hal ini dengan Rein. Selang beberapa menit kemudian, pesan masuk muncul diponsel milik Toraishi.&#xA;&#xA;Rein menuliskan balasannya, &#39;Tenang saja~ aku masuk kerjanya sekitar jam tujuh nanti malam.&#39; Toraishi bisa membayangkan betapa santainya Rein saat membaca pesan tersebut. Akan tetapi, Toraishi tetap saja merasa khawatir. Mau bagaimanapun, Rein itu seorang gadis, tidak terlalu bagus keluar malam-malam sekadar untuk bekerja.&#xA;&#xA;Toraishi membalas beberapa kalimat untuk disampaikan kepada Rein. Namun, balasan yang Toraishi dapatkan berupa, &#39;Hei, tenang saja. Sebelum aku bertemu denganmu, aku sudah lebih dahulu bekerja. Aku bisa untuk menjaga diriku sendiri. Omong-omong, aku sudah selesai bersiap. Nanti aku menunggu di depan gerbang Akademi, ya.&#39;&#xA;&#xA;Toraishi rasanya akan melesat saat itu juga, setelah ia membaca balasan dari Rein. Tentu saja, dia tidak lupa menyempatkan diri untuk membalas pesannya terlebih dahulu.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Yo, Izumi,&#34; sapa seorang gadis bersurai ungu dengan sedikit helaian rambutnya berwarna lebih muda, dibandingkan rambut lainnya.&#xA;&#xA;Bukan Rein yang menyapanya, melainkan teman akrab Rein. Sosok yang lebih sering bersama salah seorang dari Tim Ootori. &#34;Heh, sepertinya suasana hatimu bahagia sekali. Rein yang mengajakmu pergi duluan, ya~?&#34; goda gadis tersebut. Sungguh, entah kenapa gadis ini lebih berbakat dalam hal menggoda dirinya.&#xA;&#xA;&#34;Izumi, maaf membuatmu menunggu.&#34; Ya, ini barulah suara yang dia rindukan. Sosok yang akhirnya bertemu setelah percakapan panjang di ponsel mereka masing-masing. &#xA;&#xA;&#34;Tidak masalah~&#34;&#xA;&#xA;&#34;Huh? Ya, baiklah! Sudah sana kalian pergi berkencan segera. Jangan menebar kemesraan di depanku,&#34; gerutu gadis berambut ungu tadi.&#xA;&#xA;Gadis itu, Hizamara Fauraza, mendorong Toraishi dan Rein agar supaya menjauh dari hadapannya. Entah mengapa wajah Rein memanas. Ia tidak mengira kalau ajakannya malah terdengar seperti mengajak berkencan. Sementara itu, Toraishi sendiri tampak mengomeli gadis itu. Dia tidak terima karena tiba-tiba saja didorong agar menjauh dari tempat itu.&#xA;&#xA;Pada akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk pergi dan tak lupa mengucapkan sampai jumpa kepada gadis tersebut. Melihat kepergian mereka berdua, senyuman terulas diwajah mereka. Setelah itu, tangannya mengambil ponsel dan menghubungi seseorang yang dikenal oleh mereka semua.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Dalam perjalanan Toraishi bersama Rein terasa hening. Entah karena tidak bisa memulai topik, atau justru kepikiran tentang perkataan Fauraza yang berkata bahwa saat ini mereka berdua sedang kencan. Rasanya Rein ingin menangis sekolam sekarang. &#xA;&#xA;Belum sempat Toraishi ingin berbicara, terdengar seorang anak kecil tiba-tiba menangis. Atensi mereka berdua teralihkan, awalnya Rein ingin bertanya dengan anak itu, tetapi Toraishi lebih dahulu menenangkan anak kecil tersebut. Melihat hal itu membuat Rein tersenyum kecil. &#xA;&#xA;&#34;Hei, anak jagoan. Jangan menangis seperti itu,&#34; ujar Toraishi sembari jongkok tuk menyejajarkan tingginya dengan anak kecil itu. Anak kecil itu mungkin sekitaran usia tiga atau empat tahun. Toraishi mengelus pelan kepalanya sewaktu ia berkata demikian.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa dirimu menangis? Apa mungkin anak jagoan ini terpisah dengan Ibunya? Tenang saja, ayo kita cari Ibumu bersama-sama!&#34; Anak kecil itu tertawa kecil. &#xA;&#xA;&#34;Um ... Aku terpisah sama Ibuku,&#34; sahutnya pelan. Tetapi, karena Toraishi berada dekat dengannya, sehingga ia bisa mendengar suaranya.&#xA;&#xA;&#34;Tidak apa-apa, sebelum semakin malam, kita bisa ke tempat di mana Ibumu bisa menemukanmu!&#34; &#xA;&#xA;Rein menatap perilaku lembutnya Toraishi pada anak kecil itu. Terlepas dari kebiasaannya yang dahulu, Toraishi memang anak yang lemah lembut terutama kepada wanita dan anak-anak. Rasanya, diantara mereka berdua justru Toraishi yang lebih ahli dalam hal seperti ini.&#xA;&#xA;&#34;Izumi, kita pergi ke tempat petugas yang berjaga disekitar sini,&#34; sahut Rein, sembari membaca aplikasi navigasi yang berada di ponsel miliknya. Setidaknya, Rein masih bisa membantu walaupun sebatas ini saja.&#xA;&#xA;Setelah beberapa menit berlalu akhirnya, tempat yang mereka tuju ditemukan. Ternyata di sana memang sudah ada seorang Ibu yang dari ekspresi wajahnya tampak khawatir. Sampai akhirnya, &#34;Mama!&#34; Mereka berpelukan penuh haru. &#xA;&#xA;Rein yang melihat itu merasa terharu sekali. Meskipun ia sungguh tidak membantu apapun, karena lebih banyak Toraishi yang melakukannya. Akan tetapi, ia justru mendengar Toraishi menangis, walau dengan tangannya menutup matanya itu dan nyaris cukup pelan. Rein tahu, kalau Toraishi memang mudah terpengaruh hal-hal seperti ini. Namun, ia benar-benar tidak pernah menduga kalau Toraishi akan menangis di tempat itu juga. &#xA;&#xA;Rein menepuk bagian punggung Toraishi, menenangkan sosok yang lebih tinggi daripada dirinya. &#34;Jagoan masa menangis,&#34; celetuknya. &#xA;&#xA;Pada akhirnya, Toraishi tidak lagi menangis. Sang Ibu dari anak kecil yang mereka ajak untuk mencari Ibunya tadi, kini mengucapkan beribu terima kasih kepada mereka. Sebuah kisah yang mengharukan. Khususnya, pada hari kelahiran Toraishi Izumi sendiri. Ah, ia jadi membayangkan Ibunya bisa menjadi seseorang yang lebih penyayang.&#xA;&#xA;Melihat kepergian Ibu dan anak kecil itu sembari melambaikan tangannya kepada mereka, justru menjadikan kenangan itu tak terlupakan. &#xA;&#xA;&#34;Ah, Rein-chan. Maafkan aku yang justru tidak memperhatikan dirimu sedari tadi,&#34; ucap Toraishi, terlihat dari raut wajahnya yang tampak menyesal.&#xA;&#xA;Rein hanya tersenyum kecil sembari berkata, &#34;Tidak masalah, lagi pula menolong seorang anak untuk bertemu Ibunya merupakan perilaku yang sangat mulia.&#34; &#xA;&#xA;Mendengar perkataan itu dari Rein, entah kenapa ekspresi wajahnya tak dapat dikondisikan. Perasaannya terlalu banyak dalam satu waktu, ia tak mampu menampung semua ekspresi itu. &#34;Ah ... Begitu, ya. Rein-chan, boleh kita mencari tempat duduk dulu? Kita sudah berjalan hampir beberapa menit,&#34; tawar Toraishi.&#xA;&#xA;Rein sebenarnya memperhatikan ekspresi wajah Toraishi yang berubah terus, rasanya pasti tidak nyaman. Ia menyetujui hal itu, setidaknya mereka gunakan waktu untuk berbicara saja, dibanding menghabiskan banyak tenaga untuk berkeliling tanpa tahu arah.&#xA;&#xA;Mereka berjalan mendekat kesebuah tempat di mana tidak jauh berada pejalan kaki berada yang terkadang berolahraga di sore hari. &#34;Ah, ayo kita duduk di sana, Izumi!&#34; ajak Rein, sembari menunjuk ke arah yang tidak jauh dari mereka.&#xA;&#xA;Tidak menghabiskan banyak waktu akhirnya mereka duduk di sebuah bangku. &#34;Aku akan pergi membeli air minum sebentar, Izumi istirahat saja di sini.&#34;&#xA;&#xA;Baru saja, Rein ingin pergi. Namun, Toraishi tidak ingin membiarkannya pergi. &#34;Tidak lama, kok! Aku akan segera kembali, tenang saja.&#34; Kini adalah saat yang tepat bagi Rein untuk membantu Toraishi beristirahat sejenak.&#xA;&#xA;Rein bisa tahu seberapa padatnya latihan Tim Hiiragi, karena sebelum ini dia mengetahui banyak hal dari Fauraza, teman satu kamarnya di asrama. Awalnya Rein merasa bersalah untuk mengajak Toraishi pergi sepulang sekolah. Tetapi, kerja sambilannya adalah malam hari. Jadi, menurut Rein ia tidak memiliki banyak waktu. &#xA;&#xA;Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Rein tiba dengan membawakan sebotol minuman itu adalah air putih. Ada banyak energi yang mereka pergunakan seharian ini, terutama Toraishi. Dia menerima pemberian itu dari Rein, tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepadanya.&#xA;&#xA;&#34;Maaf, sepertinya hal tadi membuatku memikirkan sesuatu yang agak mustahil,&#34; ujar Toraishi dengan ekspresinya kembali tenang, setelah ia meminum air pemberian dari Rein.&#xA;&#xA;&#34;Mengenai Ibumu, ya? Maafkan aku juga, semisal perkataanku tadi sedikit menyinggung dirimu.&#34; Sungguh, Rein sebenarnya hanya ingin mengungkapkan kata hatinya, tetapi ia melupakan sesuatu yang paling mustahil untuk Toraishi sendiri.&#xA;&#xA;Terlihat Toraishi mengangguk pelan. &#34;Tidak apa-apa, bukan salahnya Rein-chan juga, kok! Aku justru sangat senang, kalau kamu yang mengajak aku pergi jalan duluan~&#34; Akhirnya sebuah senyuman terlukis dibibir Toraishi. Menandakan bahwa ia benar-benar merasa senang, apalagi melihatnya yang tampak bahagia menantikan dirinya, ia bisa mengerti perbedaan senyum Toraishi.&#xA;&#xA;&#34;Ini mungkin waktunya kurang tepat, tapi aku mau mengucapkan sesuatu kepada Izumi,&#34; ujar Rein, sedari tadi mendengar perkataan dari Toraishi ia sembari mengatur ketenangannya. Sementara dia yang mendengar namanya dipanggil tampak gugup, melihat keseriusan dari Rein.&#xA;&#xA;Rein kemudian berbicara, sembari menggenggam kedua tangan Toraishi. &#34;Terima kasih, karena sudah terlahir kedunia ini. Aku merasa beruntung sekali bisa bertemu dengan orang sebaik Izumi. Seseorang yang perhatian sama anak kecil dan wanita, tidak mungkin rela bahkan sekadar melukai mereka. Sederhana, tetapi Izumi sudah melakukan perbuatan yang begitu mulia. Sungguh, aku tidak tahu harus berkata apalagi ketika melihat Ibu dan anak kecil tadi tampak bahagia,&#34; jelas Rein.&#xA;&#xA;Perkataan tersebut menyentuh lubuk hati seorang Toraishi Izumi. Dia mungkin sudah terbawa suasana dan ingin menangis sekarang.&#xA;&#xA;&#34;Izumi, aku berharap dirimu menjadi orang paling bahagia di dunia. Khusus untuk hari ini, hari paling spesial bagimu. Selamat bertambah usia, Izumi. Aku akan selalu memperhatikan dirimu.&#34;&#xA;&#xA;Air mata Toraishi Izumi mungkin sudah menetes sekarang juga. Namun, kala ia ingin menghapusnya, Rein malah memeluknya erat. Tidak membiarkan orang-orang melihat sang jagoan itu menangis. Napasnya Toraishi mungkin menyentuh bagian lehernya, tetapi khusus untuk kali ini. Ia akan biarkan Toraishi meluapkan segala emosinya. Sebab, akan ada kejutan yang lebih spesial yang untuknya.&#xA;&#xA;Kelopak bunga sakura mulai berjatuhan. Suasana senja sudah hampir menggelap, tanda sore akan segera berakhir. Sudah berapa menit mereka habiskan duduk berdua, dengan Rein yang membenamkan Toraishi dalam pelukannya di sana. Ia mengelus pelan punggungnya. &#xA;&#xA;&#39;Musim semi memang akan selalu menjadi kenangan yang sangat berkesan bagi Toraishi Izumi.&#39;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Malam hampir tiba, disaat itulah Toraishi akhirnya memutuskan kembali ke asrama. Ia sudah mengantar Rein ke tempat kerja sambilannya, meskipun agak memakan waktu sedikit jauh dari asrama. Akan tetapi, sekadar membayangkannya saja sudah membuat dia mengkhawatirkannya lagi. &#xA;&#xA;Sebelum mereka saling mengatakan sampai jumpa besok, Rein sempat berkata, &#34;Nanti kakak kembaranku akan menjemput diriku, tenang saja~&#34; Sebenarnya, Toraishi sendiri memang belum pernah bertemu dengan kembaran Rein. Jadi, ia tidak bisa berbicara banyak hal.&#xA;&#xA;Dalam perjalanan Toraishi menuju asrama, ia merasakan sesuatu yang aneh membuat dirinya sedikit merinding. Sebelum itu, dia juga sudah mencuci wajahnya supaya saat kembali ke asrama tidak terlihat kalau ia sempat menangis.&#xA;&#xA;Namun, saat ia menyentuh pintu depan asrama. Terlihat beberapa orang berkata sesuatu yang membuatnya teringat kejadian tadi sore. Ketika, Hoshitani menghadangnya di depan pintu asrama sembari mengatakan, &#34;Toraishi, selamat ulang tahun!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Astaga! Kenapa kalian semua berada di depan pintu?!&#34; gerutu Toraishi, sungguh ia tidak suka dikejutkan untuk kedua kalinya seperti ini. Meskipun mereka semua bermaksud baik dan mungkin ingin merayakan ulang tahunnya. Menurutnya, semua ini terlalu aneh!&#xA;&#xA;&#34;Oh, sudah mulai acaranya? Selamat ulang tahun, sepertinya kau bersenang-senang hari ini,&#34; sahut seseorang datang dari asrama kedua. &#xA;&#xA;Akademi Ayanagi memiliki lebih dari satu asrama, mengingat ada banyak siswa yang bersekolah di tempat ini.&#xA;&#xA;&#34;Kau sangat terlambat, bersalah!&#34;&#xA;&#xA;Sepertinya, ini adalah kejutan yang direncanakan. Namun, Toraishi tidak pernah mengetahui kejutan ini bermula dari siapa. Setidaknya, biarkan dia menikmati hari spesialnya dengan bahagia dan kesenangan.&#xA;&#xA;Musim semi kali ini, membawa kebahagiaan bagi mereka semua. Tidak hanya Toraishi Izumi, seluruh orang yang merayakan turut memperoleh kebahagiaan yang dia berikan dengan keberadaannya itu sendiri. &#xA;&#xA;End.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Toraishi Izumi × Hizafa Rein.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureYume" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureYume</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:IzuRein" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">IzuRein</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>Simple happiness of the noblest behavior.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FanfictionArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FanfictionArchives</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:Yumeships" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Yumeships</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:StarMyu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">StarMyu</span></a> © C-Station, NBCUniversal Entertainment Japan. </p></blockquote>

<hr/>

<p>Latihan Tim Hiiragi selesai lebih awal pada waktu itu. Padahal, sewaktu Festival Ayanagi mereka bahkan tidak punya waktu untuk sekadar beristirahat. Bertemu dengan Tim Ootori saja hanya beberapa kali, itupun sampai harus diikuti oleh salah seorang <em>leader</em>-nya. Lagi pula, orangnya memang unik juga, sih. Alhasil, anggota Tim Hiiragi tidak heran lagi, kalau orangnya bisa senekat itu.</p>

<p>Meskipun sudah menjelang sore hari, cuacanya masih saja terlihat sangat cerah. Senyuman terlukis pada bibir salah seorang anggota Tim Hiiragi, ia adalah Toraishi Izumi. Netra kelabunya menatap terus ponselnya. Bersyukur semua kegiatan telah berakhir, waktunya ia akan kembali ke asrama dan membersihkan tubuhnya yang penuh keringat, setelah latihan selama beberapa jam.</p>

<p>“Toraishi-<em>kun</em>, mau sampai kapan kau berdiri di situ?” tegur pemuda dengan rambut seindah bunga Sakura, itu adalah Ugawa Akira, teman satu timnya.</p>

<p>Mendengar teguran dari sosok yang familier baginya, sukses mengalihkan atensi pemuda tersebut. “Oh, kalian duluan saja. Aku akan menyusul setelah membalas pesan dari Rein-<em>chan</em>,” ujarnya sembari tersenyum lebar.</p>

<p>“Wah, aku benar-benar tidak mengerti, seorang Rein bisa terpikat sama orang seperti dia.” Sindiran itu secara tidak langsung menyentak keberadaan Toraishi, meskipun ia tahu kalau wataknya Ugawa memanglah demikian.</p>

<p>“Hei, jangan bicara begitu!” tegur Toraishi. Seolah direnggut ketenangannya, dia justru meladeni Ugawa.</p>

<p>“Ya, ya. Lakukan saja sesukamu, aku tidak akan peduli.” Ugawa segera pergi meninggalkan anggota timnya yang lain, tidak mau berurusan lebih banyak dengan Toraishi untuk hari ini. Sepertinya karena latihan kali ini sudah sangat menguras tenaga, jadinya Ugawa tidak memperpanjang perkataannya hingga terjadi pertikaian yang sudah menjadi kebiasaan.</p>

<p>Melihat kepergian Ugawa, ketiga orang lainnya yang tadi menatap Toraishi pun akhirnya memutuskan untuk pergi dahulu. “Toraishi, kami kembali ke asrama duluan, ya.” Itu adalah Tatsumi Rui yang berkata dengan lembut. “Sepertinya, suasana hati Ugawa kurang bagus akhir-akhir ini, jangan terlalu marah padanya, ya?” lanjutnya. Sungguh mulia sekali hatinya, meminta teman satu timnya agar tidak bertengkar dan memaklumi perasaan anggota lain timnya juga. Sungguh <em>leader</em> sejati.</p>

<p>“Ya, tidak masalah~ Nanti, aku akan menyusul.” Syukurnya, suasana hati Toraishi sedang bahagia saat ini.</p>

<p>“Kalau begitu, sampai jumpa nanti, Toraishi-<em>kun</em>,” ujar pemuda dengan rambut cokelat disamping Tatsumi, Sawatari Eigo.</p>

<p>“Toraishi, sampai jumpa nanti!” seru sosok yang berada didekat Tatsumi dan Sawatari. Seorang yang energinya mungkin tidak akan pernah habis. Orang yang selalu ceria dan bahagia. Tanpa ada beban sama sekali.</p>

<p>Melihat kepergian anggota timnya, ia mendengkus kecil. “Ya, sampai nanti,” sahutnya sembari tersenyum. Setidaknya, ia masih akan tersenyum saat temannya pun melontarkan senyum kepada dirinya. Toraishi itu bukanlah pemuda yang irit tersenyum, hanya saja dia membutuhkan waktu-waktu tertentu untuk tersenyum. Terkadang, senyuman Toraishi lebih mirip seperti senyum jahil ketimbang senyum yang tulus. Ia terlalu banyak menggoda seseorang disekitarnya.</p>

<p>Kini ia mengalihkan atensinya lagi ke ponsel yang sedari tadi setia digenggamnya. “Oh apa ini? Rein-<em>chan</em> mengajak aku ketemuan?” Toraishi bertanya-tanya, sejujurnya jarang sekali kalau sosok yang sedari tadi mengirimkan pesan kepadanya itu mengajaknya duluan. Padahal, biasa Toraishi yang lebih sering duluan untuk mengajaknya.</p>

<p>Toraishi membalas pesan sang gadis pujaan hatinya itu. Namun, tak lama kemudian pesan itu dibalas. Sembari menunggu balasannya tadi, Toraishi sempat merapikan tas selempang yang dia bawa, dari asrama ke tempat latihan yang sekarang dipijaki olehnya.</p>

<p>Pesan masuk itu bertuliskan, <em>&#39;Bagaimana kalau hari ini, sepulang sekolah? Apa Izumi sudah punya rencana?&#39;</em> Ia bahkan menulis balasannya dengan cepat. Tentu saja ia tidak akan mengabaikan kesempatan itu.</p>

<p>Setelah itu, Toraishi bergegas untuk segera kembali ke asrama dan membersihkan tubuhnya dengan baik, karena sudah menghabiskan banyak waktu untuk latihan bahkan sepulang sekolah.</p>

<p>Pesan masuk kembali diterima oleh Toraishi yang berbunyi, <em>&#39;Kalau begitu, nanti akan aku kabari lagi. Sekarang aku mau kembali ke asrama dulu.&#39;</em></p>

<p>Saat Toraishi kembali ke asrama, tak disangka ada salah seorang dari Tim Ootori yang menyambutnya, lebih tepatnya <em>leader</em> mereka.</p>

<p>“Toraishi, selamat ulang tahun!” Betapa terkejutnya dia, padahal belum ada selangkah untuk memasuki asrama. Rasanya seolah dicegat oleh sosok pemuda bersurai cokelat muda dengan mata sehijau pepohonan.</p>

<p>“Wah, Hoshitani! Kau membuatku terkejut. Oh, hari ini ulang tahunku?” Toraishi melirik ponsel yang dia genggam, ternyata disana terpampang jelas bahwa sudah tanggal 12 April. Dia benar-benar tidak sadar. Sepertinya, Toraishi baru saja mengerti apa yang sedang terjadi kali ini.</p>

<p>“Kau benar, terima kasih Hoshitani.” Toraisi menepuk pundaknya sambil menyengir. Pantas saja kelihatannya suasana hati Toraishi bisa sebahagia itu, meskipun ternyata ia tetap melupakan salah satu hari penting dalam hidupnya.</p>

<p>“Ah, maaf membuatmu terkejut. Tadinya aku bertanya kepada Tatsumi, kalau kau ternyata masih berada di ruang latihan. Lalu, belum ada beberapa menit mereka masuk ke kamar, kaupun datang.”</p>

<p>“Oh, iya. Tadi setelah latihan selesai, Rein-<em>chan</em> mengirimku pesan dan ingin mengajakku pergi setelah pulang sekolah. Makanya, aku baru saja pulang,” jelas Toraishi.</p>

<p>“Ah~ Rein sudah lebih dahulu, ya?” gumam Hoshitani, sepertinya terdengar oleh Toraishi.</p>

<p>“Ya, setidaknya kalau Hoshitani tidak berkata hal itu kepadaku, bisa saja aku justru seperti orang yang melupakan hari kelahirannya sendiri,” balasnya tertawa renyah. Setelah itu ia pun melanjutkannya, “Padahal, Rein-<em>chan</em> bisa mengucapkan selamat padaku yang pertama kali, sayang sekali. Tapi, tidak masalah! Suasana hatiku sekarang sedang dalam kondisi baik~”</p>

<p>Hoshitani awalnya terkejut mendengar jawaban itu, tetapi begitu ia mendengar perkataan terakhirnya, entah kenapa justru merasa lega. “Ya sudah, aku ke dalam dulu. Boleh tolong minggir? Aku mau segera bertemu dengan Rein-<em>chan</em>, haha.” Sungguh, kalau Toraishi tidak mengatakan hal ini, Hoshitani akan terus menerus berada di depan pintu asrama.</p>

<p>“Oh, maaf! Nanti, jangan pulang larut malam, ya~”</p>

<p>Melihat kepergian Toraishi yang hanya melambaikan tangannya saja, menandakan bahwa ia mendengarkan pernyataan itu. Sepertinya, berkat Hoshitani, dia ingin segera bertemu dengan kekasih pujaan hatinya itu.</p>

<p>Sesampainya di kamar milik Toraishi, tidak terlihat keberadaan teman satu kamarnya. Dia tidak memusingkannya juga, ia memutuskan untuk membersihkan diri dan bersiap untuk bertemu dengan sosok yang selalu didambakan olehnya.</p>

<p>Seorang gadis berambut kelabu, dengan iris mata sehijau tanaman yang selalu memberikan oksigen kepada makhluk hidup. Seberharga itulah sosoknya bagi seorang Toraishi Izumi. Gadis itu akrab disapa Rein, nama panjangnya ialah Hizafa Rein.</p>

<p>Tidak lama setelah Toraishi bersiap, ternyata muncul pesan masuk. Awalnya Toraishi mengira itu dari Rein, tetapi sepertinya bukan. Itu adalah pesan dari Kuga Shu, teman masa kecilnya.</p>

<p>Melihat pesannya yang ternyata mengucapkan, <em>&#39;Selamat ulang tahun&#39;</em> membuat Toraishi melukis senyuman. Sepertinya, untuk hari ini dia tidak bisa menemuinya. Ia tidak mempermasalahkan hal itu, karena tahu bahwa Kuga memiliki kerjaan sambilan. Sebenarnya, Rein pun seperti itu. Sehingga dirinya sekarang berpikir, apakah tidak akan menyita waktu sang terkasih untuk bekerja malam harinya?</p>

<p>Toraishi memang tidak tahu pasti, jadwal kerja sambilannya Rein. Ia juga berharap kalau tidak membuat gadis itu justru tidak memiliki jatah istirahat, alhasil ia jarang untuk mengajaknya berkencan.</p>

<p>Pada akhirnya, Toraishi memutuskan untuk bertanya mengenai hal ini dengan Rein. Selang beberapa menit kemudian, pesan masuk muncul diponsel milik Toraishi.</p>

<p>Rein menuliskan balasannya, <em>&#39;Tenang saja~ aku masuk kerjanya sekitar jam tujuh nanti malam.&#39;</em> Toraishi bisa membayangkan betapa santainya Rein saat membaca pesan tersebut. Akan tetapi, Toraishi tetap saja merasa khawatir. Mau bagaimanapun, Rein itu seorang gadis, tidak terlalu bagus keluar malam-malam sekadar untuk bekerja.</p>

<p>Toraishi membalas beberapa kalimat untuk disampaikan kepada Rein. Namun, balasan yang Toraishi dapatkan berupa, <em>&#39;Hei, tenang saja. Sebelum aku bertemu denganmu, aku sudah lebih dahulu bekerja. Aku bisa untuk menjaga diriku sendiri. Omong-omong, aku sudah selesai bersiap. Nanti aku menunggu di depan gerbang Akademi, ya.&#39;</em></p>

<p>Toraishi rasanya akan melesat saat itu juga, setelah ia membaca balasan dari Rein. Tentu saja, dia tidak lupa menyempatkan diri untuk membalas pesannya terlebih dahulu.</p>

<hr/>

<p>“Yo, Izumi,” sapa seorang gadis bersurai ungu dengan sedikit helaian rambutnya berwarna lebih muda, dibandingkan rambut lainnya.</p>

<p>Bukan Rein yang menyapanya, melainkan teman akrab Rein. Sosok yang lebih sering bersama salah seorang dari Tim Ootori. “Heh, sepertinya suasana hatimu bahagia sekali. Rein yang mengajakmu pergi duluan, ya~?” goda gadis tersebut. Sungguh, entah kenapa gadis ini lebih berbakat dalam hal menggoda dirinya.</p>

<p>“Izumi, maaf membuatmu menunggu.” Ya, ini barulah suara yang dia rindukan. Sosok yang akhirnya bertemu setelah percakapan panjang di ponsel mereka masing-masing.</p>

<p>“Tidak masalah~”</p>

<p>“Huh? Ya, baiklah! Sudah sana kalian pergi berkencan segera. Jangan menebar kemesraan di depanku,” gerutu gadis berambut ungu tadi.</p>

<p>Gadis itu, Hizamara Fauraza, mendorong Toraishi dan Rein agar supaya menjauh dari hadapannya. Entah mengapa wajah Rein memanas. Ia tidak mengira kalau ajakannya malah terdengar seperti mengajak berkencan. Sementara itu, Toraishi sendiri tampak mengomeli gadis itu. Dia tidak terima karena tiba-tiba saja didorong agar menjauh dari tempat itu.</p>

<p>Pada akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk pergi dan tak lupa mengucapkan sampai jumpa kepada gadis tersebut. Melihat kepergian mereka berdua, senyuman terulas diwajah mereka. Setelah itu, tangannya mengambil ponsel dan menghubungi seseorang yang dikenal oleh mereka semua.</p>

<hr/>

<p>Dalam perjalanan Toraishi bersama Rein terasa hening. Entah karena tidak bisa memulai topik, atau justru kepikiran tentang perkataan Fauraza yang berkata bahwa saat ini mereka berdua sedang kencan. Rasanya Rein ingin menangis sekolam sekarang.</p>

<p>Belum sempat Toraishi ingin berbicara, terdengar seorang anak kecil tiba-tiba menangis. Atensi mereka berdua teralihkan, awalnya Rein ingin bertanya dengan anak itu, tetapi Toraishi lebih dahulu menenangkan anak kecil tersebut. Melihat hal itu membuat Rein tersenyum kecil.</p>

<p>“Hei, anak jagoan. Jangan menangis seperti itu,” ujar Toraishi sembari jongkok tuk menyejajarkan tingginya dengan anak kecil itu. Anak kecil itu mungkin sekitaran usia tiga atau empat tahun. Toraishi mengelus pelan kepalanya sewaktu ia berkata demikian.</p>

<p>“Kenapa dirimu menangis? Apa mungkin anak jagoan ini terpisah dengan Ibunya? Tenang saja, ayo kita cari Ibumu bersama-sama!” Anak kecil itu tertawa kecil.</p>

<p>“Um ... Aku terpisah sama Ibuku,” sahutnya pelan. Tetapi, karena Toraishi berada dekat dengannya, sehingga ia bisa mendengar suaranya.</p>

<p>“Tidak apa-apa, sebelum semakin malam, kita bisa ke tempat di mana Ibumu bisa menemukanmu!”</p>

<p>Rein menatap perilaku lembutnya Toraishi pada anak kecil itu. Terlepas dari kebiasaannya yang dahulu, Toraishi memang anak yang lemah lembut terutama kepada wanita dan anak-anak. Rasanya, diantara mereka berdua justru Toraishi yang lebih ahli dalam hal seperti ini.</p>

<p>“Izumi, kita pergi ke tempat petugas yang berjaga disekitar sini,” sahut Rein, sembari membaca aplikasi navigasi yang berada di ponsel miliknya. Setidaknya, Rein masih bisa membantu walaupun sebatas ini saja.</p>

<p>Setelah beberapa menit berlalu akhirnya, tempat yang mereka tuju ditemukan. Ternyata di sana memang sudah ada seorang Ibu yang dari ekspresi wajahnya tampak khawatir. Sampai akhirnya, “Mama!” Mereka berpelukan penuh haru.</p>

<p>Rein yang melihat itu merasa terharu sekali. Meskipun ia sungguh tidak membantu apapun, karena lebih banyak Toraishi yang melakukannya. Akan tetapi, ia justru mendengar Toraishi menangis, walau dengan tangannya menutup matanya itu dan nyaris cukup pelan. Rein tahu, kalau Toraishi memang mudah terpengaruh hal-hal seperti ini. Namun, ia benar-benar tidak pernah menduga kalau Toraishi akan menangis di tempat itu juga.</p>

<p>Rein menepuk bagian punggung Toraishi, menenangkan sosok yang lebih tinggi daripada dirinya. “Jagoan masa menangis,” celetuknya.</p>

<p>Pada akhirnya, Toraishi tidak lagi menangis. Sang Ibu dari anak kecil yang mereka ajak untuk mencari Ibunya tadi, kini mengucapkan beribu terima kasih kepada mereka. Sebuah kisah yang mengharukan. Khususnya, pada hari kelahiran Toraishi Izumi sendiri. <em>Ah, ia jadi membayangkan Ibunya bisa menjadi seseorang yang lebih penyayang.</em></p>

<p>Melihat kepergian Ibu dan anak kecil itu sembari melambaikan tangannya kepada mereka, justru menjadikan kenangan itu tak terlupakan.</p>

<p>“Ah, Rein-<em>chan</em>. Maafkan aku yang justru tidak memperhatikan dirimu sedari tadi,” ucap Toraishi, terlihat dari raut wajahnya yang tampak menyesal.</p>

<p>Rein hanya tersenyum kecil sembari berkata, “Tidak masalah, lagi pula menolong seorang anak untuk bertemu Ibunya merupakan perilaku yang sangat mulia.”</p>

<p>Mendengar perkataan itu dari Rein, entah kenapa ekspresi wajahnya tak dapat dikondisikan. Perasaannya terlalu banyak dalam satu waktu, ia tak mampu menampung semua ekspresi itu. “Ah ... Begitu, ya. Rein-<em>chan</em>, boleh kita mencari tempat duduk dulu? Kita sudah berjalan hampir beberapa menit,” tawar Toraishi.</p>

<p>Rein sebenarnya memperhatikan ekspresi wajah Toraishi yang berubah terus, rasanya pasti tidak nyaman. Ia menyetujui hal itu, setidaknya mereka gunakan waktu untuk berbicara saja, dibanding menghabiskan banyak tenaga untuk berkeliling tanpa tahu arah.</p>

<p>Mereka berjalan mendekat kesebuah tempat di mana tidak jauh berada pejalan kaki berada yang terkadang berolahraga di sore hari. “Ah, ayo kita duduk di sana, Izumi!” ajak Rein, sembari menunjuk ke arah yang tidak jauh dari mereka.</p>

<p>Tidak menghabiskan banyak waktu akhirnya mereka duduk di sebuah bangku. “Aku akan pergi membeli air minum sebentar, Izumi istirahat saja di sini.”</p>

<p>Baru saja, Rein ingin pergi. Namun, Toraishi tidak ingin membiarkannya pergi. “Tidak lama, kok! Aku akan segera kembali, tenang saja.” Kini adalah saat yang tepat bagi Rein untuk membantu Toraishi beristirahat sejenak.</p>

<p>Rein bisa tahu seberapa padatnya latihan Tim Hiiragi, karena sebelum ini dia mengetahui banyak hal dari Fauraza, teman satu kamarnya di asrama. Awalnya Rein merasa bersalah untuk mengajak Toraishi pergi sepulang sekolah. Tetapi, kerja sambilannya adalah malam hari. Jadi, menurut Rein ia tidak memiliki banyak waktu.</p>

<p>Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Rein tiba dengan membawakan sebotol minuman itu adalah air putih. Ada banyak energi yang mereka pergunakan seharian ini, terutama Toraishi. Dia menerima pemberian itu dari Rein, tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepadanya.</p>

<p>“Maaf, sepertinya hal tadi membuatku memikirkan sesuatu yang agak mustahil,” ujar Toraishi dengan ekspresinya kembali tenang, setelah ia meminum air pemberian dari Rein.</p>

<p>“Mengenai Ibumu, ya? Maafkan aku juga, semisal perkataanku tadi sedikit menyinggung dirimu.” Sungguh, Rein sebenarnya hanya ingin mengungkapkan kata hatinya, tetapi ia melupakan sesuatu yang paling mustahil untuk Toraishi sendiri.</p>

<p>Terlihat Toraishi mengangguk pelan. “Tidak apa-apa, bukan salahnya Rein-<em>chan</em> juga, kok! Aku justru sangat senang, kalau kamu yang mengajak aku pergi jalan duluan~” Akhirnya sebuah senyuman terlukis dibibir Toraishi. Menandakan bahwa ia benar-benar merasa senang, apalagi melihatnya yang tampak bahagia menantikan dirinya, ia bisa mengerti perbedaan senyum Toraishi.</p>

<p>“Ini mungkin waktunya kurang tepat, tapi aku mau mengucapkan sesuatu kepada Izumi,” ujar Rein, sedari tadi mendengar perkataan dari Toraishi ia sembari mengatur ketenangannya. Sementara dia yang mendengar namanya dipanggil tampak gugup, melihat keseriusan dari Rein.</p>

<p>Rein kemudian berbicara, sembari menggenggam kedua tangan Toraishi. “Terima kasih, karena sudah terlahir kedunia ini. Aku merasa beruntung sekali bisa bertemu dengan orang sebaik Izumi. Seseorang yang perhatian sama anak kecil dan wanita, tidak mungkin rela bahkan sekadar melukai mereka. Sederhana, tetapi Izumi sudah melakukan perbuatan yang begitu mulia. Sungguh, aku tidak tahu harus berkata apalagi ketika melihat Ibu dan anak kecil tadi tampak bahagia,” jelas Rein.</p>

<p>Perkataan tersebut menyentuh lubuk hati seorang Toraishi Izumi. Dia mungkin sudah terbawa suasana dan ingin menangis sekarang.</p>

<p>“Izumi, aku berharap dirimu menjadi orang paling bahagia di dunia. Khusus untuk hari ini, hari paling spesial bagimu. Selamat bertambah usia, Izumi. Aku akan selalu memperhatikan dirimu.”</p>

<p>Air mata Toraishi Izumi mungkin sudah menetes sekarang juga. Namun, kala ia ingin menghapusnya, Rein malah memeluknya erat. Tidak membiarkan orang-orang melihat sang jagoan itu menangis. Napasnya Toraishi mungkin menyentuh bagian lehernya, tetapi khusus untuk kali ini. Ia akan biarkan Toraishi meluapkan segala emosinya. Sebab, akan ada kejutan yang lebih spesial yang untuknya.</p>

<p>Kelopak bunga sakura mulai berjatuhan. Suasana senja sudah hampir menggelap, tanda sore akan segera berakhir. Sudah berapa menit mereka habiskan duduk berdua, dengan Rein yang membenamkan Toraishi dalam pelukannya di sana. Ia mengelus pelan punggungnya.</p>

<p><em>&#39;Musim semi memang akan selalu menjadi kenangan yang sangat berkesan bagi Toraishi Izumi.&#39;</em></p>

<hr/>

<p>Malam hampir tiba, disaat itulah Toraishi akhirnya memutuskan kembali ke asrama. Ia sudah mengantar Rein ke tempat kerja sambilannya, meskipun agak memakan waktu sedikit jauh dari asrama. Akan tetapi, sekadar membayangkannya saja sudah membuat dia mengkhawatirkannya lagi.</p>

<p>Sebelum mereka saling mengatakan sampai jumpa besok, Rein sempat berkata, “Nanti kakak kembaranku akan menjemput diriku, tenang saja~” Sebenarnya, Toraishi sendiri memang belum pernah bertemu dengan kembaran Rein. Jadi, ia tidak bisa berbicara banyak hal.</p>

<p>Dalam perjalanan Toraishi menuju asrama, ia merasakan sesuatu yang aneh membuat dirinya sedikit merinding. Sebelum itu, dia juga sudah mencuci wajahnya supaya saat kembali ke asrama tidak terlihat kalau ia sempat menangis.</p>

<p>Namun, saat ia menyentuh pintu depan asrama. Terlihat beberapa orang berkata sesuatu yang membuatnya teringat kejadian tadi sore. Ketika, Hoshitani menghadangnya di depan pintu asrama sembari mengatakan, “Toraishi, selamat ulang tahun!”</p>

<p>“Astaga! Kenapa kalian semua berada di depan pintu?!” gerutu Toraishi, sungguh ia tidak suka dikejutkan untuk kedua kalinya seperti ini. Meskipun mereka semua bermaksud baik dan <em>mungkin</em> ingin merayakan ulang tahunnya. <em>Menurutnya, semua ini terlalu aneh!</em></p>

<p>“Oh, sudah mulai acaranya? Selamat ulang tahun, sepertinya kau bersenang-senang hari ini,” sahut seseorang datang dari asrama kedua.</p>

<p>Akademi Ayanagi memiliki lebih dari satu asrama, mengingat ada banyak siswa yang bersekolah di tempat ini.</p>

<p>“Kau sangat terlambat, bersalah!”</p>

<p>Sepertinya, ini adalah kejutan yang direncanakan. Namun, Toraishi tidak pernah mengetahui kejutan ini bermula dari siapa. Setidaknya, biarkan dia menikmati hari spesialnya dengan bahagia dan kesenangan.</p>

<p>Musim semi kali ini, membawa kebahagiaan bagi mereka semua. Tidak hanya Toraishi Izumi, seluruh orang yang merayakan turut memperoleh kebahagiaan yang dia berikan dengan keberadaannya itu sendiri.</p>

<p><strong>End.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/spring-happiness</guid>
      <pubDate>Sat, 12 Apr 2025 11:20:25 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Kebahagiaan Kini</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/kebahagiaan-kini?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Kazuhiko Arata × Hizamara Fauraza &amp; Kaitosawa Shuu.&#xA;  #FaureOCs; #AraFau.&#xA;&#xA;   When the time comes, the memory will be perfect.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #OriFictArchives.&#xA;  #FaureStory; Travel Chain Universe. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Dalam hitungan hari, sepupu jauhnya akan bertambah usia. Tak mengira, sosok yang dahulunya keras kepala, akan menjadi wanita dewasa. Ya, tidak bisa dibilang dewasa juga, karena belum mencapai usia dua puluh tahun.&#xA;&#xA;Benar, remaja perempuan itu belum beranjak menuju usia dua puluh tahun, melainkan dibawahnya. Akan tetapi, sudah beberapa kali dia menemukan hal-hal unik yang menyapa penglihatan miliknya. Tidak disangka, bahwa ia akan benar-benar melakukan saran dari tunangannya itu.&#xA;&#xA;Rasanya seperti komedi, tetapi begitulah kepribadian sang sepupu jauh. &#34;Kasihan juga, tunangannya.&#34; Pemuda bersurai merah muda yang tampak nakal ini, tidak sepenuhnya dikatakan nakal. Karena kepribadiannya sebatas ramah dan begitulah dia yang terbuka dengan banyak orang.&#xA;&#xA;Dia mendapatkan berita itu dari sepupu jauhnya, lebih tepatnya si kakak dari remaja perempuan yang sebentar lagi akan bertambah usianya. Agak tidak terduga, menurutnya. Meskipun itu baru saja terjadi dalam sepuluh hari atau mungkin lebih?&#xA;&#xA;Bisa-bisanya, dia lebih memproritaskan hubungan dengan pelayan seperti itu. Sejujurnya, dia sendiri tak berhak mengatur kehidupan sepupu jauhnya. Akan tetapi, miris rasanya ketika dia membayangkan posisi tunangannya yang harus mengutarakan saran untuk membantu menyiapkan kejutan tersebut.&#xA;&#xA;Hanya saja, ketika kejutan itu tertuju kepada dirinya. Apakah sepupunya itu pernah mengatakan tanggal berapa dia akan bertambah usia? Lagi pula, remaja perempuan satu ini terkadang suka melupakan hal yang paling penting. Dia tidak akan ambil pusing terhadap semua ini.&#xA;&#xA;&#34;Menurutmu, haruskah kita melibatkan tunangannya itu?&#34; tanya sosok pemuda bersurai hijau kebiru-biruan.&#xA;&#xA;&#34;Itu tidak menarik, kau tahu? Bisa saja, Fauraza langsung menyuruh dirinya, untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada dia. Sebagai seorang kakak, pasti ada yang kau ketahui setidaknya beberapa perilaku dari adikmu itu.&#34;&#xA;&#xA;Helaan napas berat terdengar. Pemuda bersurai merah muda mengukir senyuman. &#34;Biarkan sepasang kekasih itu, memainkan permainan mereka sendiri.&#34; Ya, pemuda ini akan menikmatinya. Seperti orang yang berada dibalik layar dan mengamati jalan ceritanya yang ini berlangsung. Sebab, sudah ada rencana yang terbesit dipikirannya dan pemuda di hadapannya mengetahui hal tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Sepertinya, dirimu sudah merencanakan sesuatu.&#34; Lantas, hal ini dibenarkan oleh pemuda bersurai merah muda itu dengan senyuman khasnya.&#xA;&#xA;&#34;Tentu saja, meskipun tidak begitu menarik.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Semua yang dirimu katakan adalah kebohongan. Lagi pula, tidak mungkin kau bisa tersenyum lebar seperti itu, jika sesuatu yang sedang direncanakan justru tidak menarik.&#34;&#xA;&#xA;Mengusap wajahnya, tidak menduganya. Kebiasaan khasnya semenjak mereka berada dalam satu kelas yang sama, menjadi teman tanpa mengetahui latar belakang. Kalau dipikir, mereka baru mengetahui jika mereka terhubung sebagai sepupu jauh itu sewaktu SMP. Jujur saja agak menyedihkan.&#xA;&#xA;&#34;Ketebak sekali, ya.&#34; Pemuda di hadapannya mulai memutar bola mata malas. Ia melirik ke arah lain, sampai akhirnya mendapati sosok yang mereka bicarakan sebelumnya.&#xA;&#xA;Saat ini, mereka berada dalam lingkup di mana mereka berkuliah. Akan tetapi, karena jurusan mereka berbeda, susah untuk bisa bertemu. Jika bertemu pun, sewaktu makan siang saja selebihnya kalau sedang mempunyai kegiatan di luar kampus.&#xA;&#xA;Sosok yang menjadi bincangan hangat diantara mereka, membuat pria bersurai merah muda mulai melirik ke arah mana pemuda di hadapannya ini menatap. &#34;Ah, panjang umur juga tunangannya Fauraza. Baru saja dibicarakan ternyata bisa muncul juga anaknya. Seingatku, dia adalah teman Shika. Tapi, mengapa penampilannya sangat mirip dengan dirinya?&#34; Pemuda itu bertanya-tanya.&#xA;&#xA;&#34;Jika kau sepenasaran itu terhadapnya, langsung tanyakan saja kepada orangnya,&#34; celetuk pemuda bersurai hijau kebiru-biruan itu.&#xA;&#xA;&#34;Aduh, itu agak merepotkan. Tapi, sebelumnya aku pernah bertanya mengenai hal itu. Dia menjawab, kalau dia ingin saja,&#34; gerutunya membalas pertanyaan dia sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Kalian berdua telah mengenal satu sama lain? Lalu, mengapa kau malah memanggilnya tunangan Fauraza terus-menerus?&#34; tanya pemuda itu lagi, yang sedari tadi berusaha mendapatkan jawaban dari perkataannya.&#xA;&#xA;&#34;Ah mengenai hal itu, bagaimana ya aku menjelaskannya. Jadi, dia adalah salah satu anggota dari klub Karate. Kau tahu sendiri, aku dulu pernah mengikuti klub Karate, meskipun tidak bertahan lama karena terlalu sibuk mengurus trainee waktu itu,&#34; jelasnya menjeda sejenak.&#xA;&#xA;&#34;Hm, berarti kau tidak terlalu mengenali dirinya atau malah sebaliknya?&#34; Pemuda ini menyimpulkan demikian.&#xA;&#xA;&#34;Jawabannya ada di opsi pertama, ialah alasanku memanggil dirinya seperti itu.&#34; Figur di hadapannya menggelengkan kepala, tidak sanggup mengatakan alasan apapun lagi. Terlalu banyak informasi yang mereka lakukan, meskipun tidak terlalu berguna.&#xA;&#xA;&#34;Kukira kau mengenalnya.&#34;&#xA;&#xA;Menatap tidak percaya, lebih tepatnya terkejut. Pada akhirnya ia tetap membalas, &#34;Astaga. Bahkan, saat aku ramah dan terbuka kepada banyak orang sekalipun, belum tentu anaknya akan menerima orang baru di dalam lingkungan pertemanan yang mereka miliki.&#34; Pemuda itu mengatakannya sembari mengingatkan kepada diri yang mana, terkadang terlalu banyak berbaur dengan banyak orang sampai tidak bisa membedakan mana yang menerima ataupun tidak nyaman terhadap dirinya.&#xA;&#xA;&#34;Siapa yang tahu—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Halo, Kaitosawa-senpai juga Hizamara-senpai. Sudah lama tidak berjumpa dengan kalian,&#34; sapa seseorang membuat perhatian mereka teralihkan. Terlihat seorang laki-laki dengan rambut dan mata yang senada warnanya. Setelah diperhatikan dengan lekat sekalipun, sesuai apa yang dikatakan oleh salah satu orang yang bercakap panjang lebar itu.&#xA;&#xA;&#34;Halo, untuk dirimu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah, lama tidak berjumpa denganmu juga, Arata. Tidak perlu seformal itu denganku,&#34; tegur pemuda bersurai hijau kebiru-biruan. Ia menolak panggilan formal yang ditujukan kepadanya, apabila seseorang ini telah menjadi bagian penting dalam hidup salah satu saudaranya. Rasanya, ia seperti membatasi diri dengan sosok yang mana tahu dikemudian hari bisa menjalin suatu hubungan yang lebih besar dibandingkan saat ini, bukan?&#xA;&#xA;&#34;Baiklah kalau begitu,&#34; balas lelaki tersebut. Mengangguk pelan, menyetujui hal yang sama, supaya tidak terlalu formal diawal pertemuan dan perkenalan mereka. Hanya saja, sekarang fokus pemuda yang diajak oleh seorang Arata berbicara teralihkan kepada pemilik netra kuning. &#34;Omong-omong, Shuu. Kau tidak berniat untuk menipuku, &#39;kan?&#34; tanyanya dengan nada yang agak berbeda.&#xA;&#xA;&#34;Sudah aku katakan, itulah kenyataannya.&#34;&#xA;&#xA;Pembahasan mereka sedikit berbeda. Salahnya juga yang tiba-tiba menyapa, tanpa memberikan masukan untuk berbicara barang kali hanya berapa kalimat sederhana. &#34;Oh iya, Arata. Aku ingin bertanya tentang Fauraza. Bagaimana dirinya yang sekarang? Apakah dia masih merepotkanmu sewaktu awal pertunangan kalian?&#34; Kini giliran dia lagi yang mengutarakan pertanyaan kepada sosok yang sedari tadi mereka bicarakan.&#xA;&#xA;Hizamara Ryutatsu, selaku kakak tertua dari Hizamara Fauraza, yang sekarang tunangannya ini sedang dilontarkan banyak pertanyaan. Tidak begitu banyak, tetapi cukup membuat dirinya harus menjawab sejujurnya.&#xA;&#xA;&#34;Dia tidak seperti itu, kok. Hanya saja, akhir-akhir ini dia sering memikirkan terlalu banyak entah apa saja itu, dan itu membuatnya melupakan beberapa hal penting.&#34; Kazuhiko Arata, itulah namanya. Sering disebutkan sebagai Arata karena namanya lebih mudah diucapkan kebanyakan orang. Meskipun, mereka yang tidak akrab saja memanggilnya dengan namanya langsung. Tetapi, dia tidak begitu mempermasalahkan panggilannya.&#xA;&#xA;Dia menunjukkan reaksi seperti orang yang sedang berpikir sekarang. Sementara untuk kedua orang yang dirinya sapa tadi saling menatap satu sama lain. Sudah tidak diragukan lagi. Ryutatsu tidak sanggup untuk membalas jawaban dari Arata. Sehingga, pemuda di sampingnya menggantikan. &#34;Mohon dimaklumi perilakunya yang seperti itu, ya. Oh, satu hal lagi. Semisal Fauraza melakukan hal yang menyimpang atau nekat begitu, tolong beritahu kami atau tegur saja dirinya,&#34; celetuk lelaki itu kepada Arata.&#xA;&#xA;&#34;Shuu memang benar, pasti akan ada kalanya dia melakukan sesuatu dengan nekat. Jika menurutmu itu adalah hal yang terbaik, kau bisa mendukungnya. Namun, apabila itu berbanding terbalik, sebagai kakaknya aku ingin meminta tolong kepadamu agar lebih banyak membimbing dia.&#34; Ryutatsu menyempurnakan apa yang telah dikatakan oleh Kaitosawa Shuu baru saja.&#xA;&#xA;&#34;Eh? Apa itu tidak masalah?&#34; Sejujurnya, untuk melakukan hal seperti itu saja, Arata sangat ragu. Alhasil, ia jarang sekali memberikan peringatan kepada sang tunangan.&#xA;&#xA;&#34;Sesekali ditegur pun tidak masalah.&#34; Arata mengangguk tanda menyetujuinya.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Telah lama waktu dimakan oleh hari. Seolah tidak seperti biasanya, entah mengapa Arata merasa menjadi akan ada sesuatu yang mungkin bisa terjadi kepadanya dengan segera. Sewaktu pertemuan itu, Arata diberikan suatu informasi tentang hari spesial sang tunangan. Sejujurnya, dia sendiri agak terkejut.&#xA;&#xA;Karena, Fauraza sebagai tunangannya saja tidak pernah memberitahukan hal itu kepada dirinya. Sementara Fauraza menyuruh agar dirinya mengatakan kapan dia bertambah usia. Rasanya sangat tidak adil. Sejenak, Arata terpikirkan sesuatu. Apakah mungkin jika seseorang yang sedang berulang tahun, malah memberikan kejutan kepada pasangannya? Sedikit tidak masuk akal, tetapi mungkin saja bisa terjadi, bukan?&#xA;&#xA;Lagi pula, kalau dia bertanya kepada Fauraza mengenai hari spesialnya. Apakah dia bisa memberikan sesuatu yang berkesan sebagai hadiah kepadanya? Untuk seorang Hizamara Fauraza yang kehidupannya terjamin, berbanding terbalik dengan dirinya. Bahkan, sebab Fauraza jugalah keduanya menjadi tunangan. Walau perasaan gundahnya diawal mendapatkan kabar tercipta dengan jelas, serta perkataan beruntun dari Fauraza langsung membuat diri kewalahan.&#xA;&#xA;Arata terlalu banyak melamun sedari tadi, hingga dirinya tidak sadar bahwa saat ini sudah ada figur indah tunangannya yang meraih tangannya yang bebas, tiada pegangan apapun. &#34;Kak Arata!&#34; panggil sosok perempuan yang sangat cantik, dan ternyata inilah wujud dari si tuan putri, ialah tunangannya.&#xA;&#xA;&#34;Kak Arata sedang memikirkan apa? Kelihatannya serius sekali,&#34; tutur Hizamara Fauraza, itulah nama yang sungguh indah dari tunangannya sekarang ini.&#xA;&#xA;&#34;Bukan hal penting, kok.&#34;&#xA;&#xA;Menghela napas panjang. Seperti sudah menjadi kebiasaan bagi dirinya yang merasa tidak kuasa untuk mengatakan beberapa kata sekalipun. &#34;Lalu, dengan Fauraza sendiri? Akhir-akhir ini, aku perhatikan kalau dirimu terlalu memaksakan diri. Tidak baik untuk kesehatan, tahu.&#34; Arata mengungkapkan perhatian dari perilaku yang disedang lakukan sekarang. Ia mengelus pelan surai ungu bercampur putih itu, sembari tersenyum.&#xA;&#xA;&#34;Ah, oh?&#34; Fauraza tersentak. Meskipun ini bukanlah pertama kali untuk dia yang disentuh pada bagian rambut dan kepalanya, entah mengapa perasaannya lebih cepat timbul sehingga membuat detak jantungnya bekerja lebih cepat. Langsung ia membalas, &#34;Supaya aku bisa lebih luang diwaktu libur, makanya aku fokuskan kegiatan pada harinya. Maafkan aku, Kak Arata.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Berarti, pada waktu libur aku akan pastikan bahwa dirimu benar-benar beristirahat, seperti apa yang dirimu inginkan.&#34;&#xA;&#xA;Fauraza menggelengkan kepalanya pelan. &#34;Bukan untuk menikmati waktu libur dengan beristirahat. Aku ingin menghabiskan waktu bersama Kak Arata, karena sudah lama aku tidak jalan-jalan bersama Kak Arata, hehe.&#34; Hal ini membuat Arata mendadak bingung. Ia mengira bahwa Fauraza akan istirahat, ternyata ia meluangkan waktu hanya untuk berjalan berdua bersama dirinya. Ah, tunggu, hanya berdua?&#xA;&#xA;Padahal, hal yang paling Arata ketahui ialah Fauraza yang selalu bersama dengan pelayannya. Menurut Arata sendiri, pelayannya yang sudah lama mengurusnya lebih mengetahui apa saja yang Fauraza inginkan dan apa yang dirinya sukai. Tidak seperti dirinya yang baru memiliki hubungan dengan Fauraza yang bahkan belum genap satu tahun.&#xA;&#xA;&#34;Kira-kira, hari ini Kak Arata ada waktu luang?&#34; tanya Fauraza, mengalihkan atensi dari Arata yang kembali terdiam dalam pemikirannya.&#xA;&#xA;&#34;Hari ini?&#34; Arata sejenak bergumam, ia merogoh ponsel pintar miliknya. Menatap lekat sesuatu di ponselnya. &#34;Aku punya waktu luang,&#34; jawab Arata kemudian. Arata telah menyadari, karena sempat melihat sekilas tanggal pada hari ini. Ya, semoga saja dia tidak terlambat, bukan?&#xA;&#xA;2 Oktober. Itu adalah hari di mana Fauraza bertambah usia, dan pada hari itulah Fauraza yang mengajaknya. Ah, kalau dipikir seharusnya orang yang memberikan kejutan yang akan mengajaknya. Tetapi, ini malah orang yang sedang berulang tahun. Tidakkah ini terasa aneh?&#xA;&#xA;&#34;Asik! Aku punya tempat yang bagus dan pemandangannya cantik, nanti kita kesana bersama Kak Shuu, oke?&#34; ujar Fauraza.&#xA;&#xA;Tunggu, apa? Haruskah ada satu orang yang perlu berada disekitar Fauraza, disaat dia sedang bersama dengan dirinya? Arata tidak tahu mengapa perasaannya sering kali berubah seperti ini. Hanya saja, ia seperti berada dalam perputaran yang hanya mereka saja yang mengetahui kejadian itu. Lagi pula, Arata hanya mengetahui hubungan keduanya sebagai sepupu jauh. Dan, untuk selain itu sepertinya tidak ada yang bisa ia ketahui.&#xA;&#xA;&#34;Oh, Kaitosawa-senpai? Boleh saja. Kira-kira berangkatnya pukul berapa? Aku perlu izin dahulu sama keluargaku, takutnya malah mereka yang melarangku.&#34; Arata menjadi kikuk dan merasa tidak enak. Padahal, remaja zaman sekarang sering kali bepergian keluar untuk menikmati hari sebagai masa muda. Bahkan, jika mereka sudah dewasa pasti mereka akan lebih memilih beristirahat dan tidak terlalu banyak beraktivitas di luar. Sehingga, hanya mendapati aktivitas di mana jika saja ada yang mengajak.&#xA;&#xA;Fauraza terdiam sebentar. Ternyata, ia melupakan sesuatu yang terpenting. Mengingat dirinya yang telah lama tinggal berpisah dengan orang tua, membuatnya bebas untuk bepergian tanpa izin. Paling-paling meminta izin dengan Ryutatsu saja ataupun meminta izin kepada Shuu. Namun, entah mengapa ketika dirinya mendengarkan ucapan dari Arata, ia teringat kenangan lama di mana dirinya tinggal bersama kedua orang tuanya. Sebenarnya, Ryutatsu juga tinggal sendiri seperti dirinya. Akan tetapi, karena ditemani oleh pelayan, dia tidak akan sendiri di dalam rumah sebesar itu.&#xA;&#xA;&#34;Semoga diizinkan, ya. Oh, iya perjalanannya dimulai siang ini karena mungkin agak memakan waktu karena kita juga menggunakan kendaraan mobil. Kak Arata ada riwayat mabuk perjalanan tidak?&#34; tanya Fauraza lagi.&#xA;&#xA;&#34;Ah, aku tidak ada riwayat mabuk perjalanan, kok. Lagi pula waktu pertama kali dijemput dengan pelayanmu itu, untuk menghadiri acara keluarga kita. Dia mengantar kami sekeluarga menggunakan mobil, bukan?&#34; balas Arata yang mana dia juga hanyut dalam memori masa lalu.&#xA;&#xA;&#34;Oh, iya! Aku lupa, hehe.&#34; Fauraza mengatakan hal itu, tanpa mengetahuinya kalau Arata tetap menatap dirinya sembari menampilkan senyuman tipis pada wajah.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Yaaho~&#34;&#xA;&#xA;Sapaan telah terdengar. Kini waktunya bagi mereka untuk bisa berjalan bersama, meskipun cuacanya cerah. Tetapi beruntung saja karena mereka menggunakan mobil yang mana atap di dalamnya tertutup. Meskipun ada juga yang bisa terbuka, syukur saja ini lebih baik untuk melindungi mereka.&#xA;&#xA;&#34;Ah, halo Kaitosawa-senpai!&#34; Arata balik menyapa dirinya juga.&#xA;&#xA;&#34;Maaf, kalau aku nimbrung kencan kalian, ya~ Kakaknya Fauraza itu memang ada-ada saja,&#34; gerutu pemuda bersurai merah muda itu, yang entah kenapa ia merasa kesal karena bisa terseret dalam permainan yang mana itu dari dirinya sendiri.&#xA;&#xA;Sesungguhnya, Shuu hanya berdalih dengan alasan seperti itu. Karena faktanya, ia telah merencanakan hal itu dengan Ryutatsu untuk membuat hubungan kedua tunangan ini tidak akan lebih jauh dari kata akrab. Ya, semoga saja pada hari ulang tahunnya Fauraza ini, mereka bisa lebih akrab dan membuka diri. Lalu, bagaimana dengan Shuu? Dia hanya akan mengamati dan kemudian memberikan laporan kepada Ryutatsu setelahnya.&#xA;&#xA;Ryutatsu melakukan itu untuk membatasi pergerakan Fauraza yang akhir-akhir ini, terlalu banyak beraktivitas di luar lingkungan kampus. Sehingga, tidak ada yang bisa mengawasi dirinya. Selain itu, meskipun Arata merupakan tunangannya, mereka bahkan belum seakrab itu untuk sekadar bergandengan tangan. Hanya, Fauraza yang selalu berusaha memulai untuk bisa mendekati dirinya.&#xA;&#xA;&#34;Tidak masalah, Senpai.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Baiklah, kalau begitu aku punya ide untukmu.&#34;&#xA;&#xA;Suatu ide dibisikkan kepadanya, melupakan Fauraza yang sedang berbincang dengan Keluarga Kazuhiko akhirnya telah kembali. Fauraza sendiri tidak akan mengganggu percakapan mereka yang mungkin penting, sampai harus berbisik seperti itu. Membuatnya menegur karena mungkin, takut teralu lama berleha-leha. Tidak seperti Fauraza yang biasanya.&#xA;&#xA;&#34;Kak Shuu, Kak Arata! Ayo, kita berangkat, aku sudah selesai.&#34;&#xA;&#xA;Shuu yang telah menyadari keberadaan Fauraza hanya mendiamkan diri tadi, dengan ucapan yang sedang dia rencanakan untuk para kekasih yang berada dalam bimbingannya ini. Ia kembali menoleh ke arah Fauraza yang ternyata telah berada di dekat mobil yang Shuu bawa. &#34;Seperti yang aku katakan, begitu saja kejutannya. Selebihnya, tergantung apa yang akan kalian lakukan. Ah, sebentar dirimu tidak memiliki alergi terhadap serbuk sari dalam bunga, kan? Fauraza memang tidak ada, tapi takutnya malah dirimu yang mengalaminya.&#34;&#xA;&#xA;Arata menggeleng pelan, &#34;Baiklah, aku akan berusaha. Lalu, untuk pertanyaan itu, aku tidak memiliki alergi terhadap bunga, Senpai.&#34; Ia mengatakan demikian, karena memang dia hampir tidak diketahui memiliki riwayat ataupun alergi terhadap sesuatu.&#xA;&#xA;&#34;Baguslah, ayo kita menyusul.&#34; Arata dan Shuu, menyusul ke dalam mobil yang agak jauh dari halaman rumah Arata. Sekalian bisa putar balik, kalau kata Fauraza. Alhasil, mereka menempuh menuju mobil dengan berjalan kaki.&#xA;&#xA;&#34;Kalian berdua sudah siap?&#34; Shuu yang akan menyetir mobil tersebut. Dengan penghuninya adalah Arata dan Fauraza yang duduk dibelakang. Kalau melihatnya, mungkin orang-orang akan beranggapan kalau dirinya adalah sopir. Akan tetapi, saat ini hanya itu peran baginya.&#xA;&#xA;Mereka berdua menikmati perjalanan yang agak jauh, yang mana tidak seperti bisanya. Dalam perjalanan itu, Arata mengingat kembali apa saja yang Shuu katakan tadi mengenai kejutan yang ternyata sepenuhnya direncanakan oleh dirinya. Tetapi, berdalih bahwa semua itu karena dia yang disuruh oleh Ryutatsu untuk menjaga Fauraza.&#xA;&#xA;&#34;Tujuan kita kali ini adalah taman bunga. Tempat itu sebenarnya adalah tempat favorit dari orang tuaku, yang entah mengapa bisa menurun kepadaku juga. Lalu, di sana biasanya akan ada orang yang memberikan karangan bunga. Kalau bisa, dapatkan saja karangan bunga Aster Kuning dan peran untukmu menggunakan karangan itu ke atas kepala Fauraza.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nanti aku akan memberikannya kepadamu, kalau memang aku bisa mendapatkannya. Untuk artinya, dirimu bisa mencari di situs online, bukan? Ya, lakukan saja itu selama dalam perjalanan. Aku yakin, itu bisa mengekspresikan kepribadiannya,&#34; ujar Shuu disaat berbisik dengan dirinya. Hingga saat itulah, Fauraza hadir dan menegur mereka berdua untuk segera berangkat.&#xA;&#xA;Kembali ke masa sekarang, sesuai apa yang Shuu katakan tadi. Ia mulai sibuk mencari suatu makna dari bunga yang dikatakan oleh dirinya. Meskipun Fauraza agak penasaran dengan apa yang Arata lakukan, ia berusaha tidak mengusik Arata secara berlebihan. Sudah cukup dirinya yang di masa lalu terlalu memaksakan kehendaknya.&#xA;&#xA;Masa lalu yang mana membuatnya bisa berubah, berkat omongan dari Ryutatsu. Ia telah mengutarakan permintaan maaf kepada Arata, tentang apa yang dia lakukan supaya mereka bisa bertunangan.&#xA;&#xA;Meskipun begitu, itulah pertama kalinya Fauraza menggunakan panggilan &#39;Kak&#39; di depan nama Arata, yang bahkan sebelum itu dirinya memanggil tanpa sufiks tersebut.&#xA;&#xA;Arata yang telah mengetahui apa makna dari balik bunga yang dikatakan oleh Shuu. Ia mengukir senyum tipis. Ternyata, makna dari suatu bunga bisa begitu banyak yang sesuai. Ia melirik Fauraza yang entah kenapa, ekspresinya tidak seperti mereka yang diawal. Seperti memancarkan ekspresi sedih, membuat Arata menepuk pelan bahu dari Fauraza seraya memanggil, &#34;Fauraza.&#34;&#xA;&#xA;Fauraza sendiri tidak begitu mengamati suasana saat ini. Sehingga, ia bisa terkejut seperti itu. &#34;Ah, maafkan aku. Ada apa, Kak Arata?&#34; tanya Fauraza berusaha mengekspresikan dirinya dengan baik, seperti apa yang dia lakukan sebelum mereka berangkat bersama.&#xA;&#xA;Sementara Shuu, sesuai apa yang dia lakukan bersikap seolah-olah dia hanya sebagai sopir untuk sepasang kekasih ini, dan akan melaporkan kejadian ini kepada sang Kakak dari Fauraza itu sendiri. &#34;Fauraza terlihat seperti ingin menangis, apa terjadi sesuatu?&#34; tanya Arata berusaha mengutarakannya dengan nada pelan.&#xA;&#xA;Fauraza benar-benar dibuat terkejut bukan main. Ternyata, Arata menyadari itu semua. &#34;Ah, tidak kok. Aku tidak ada masalah,&#34; sahut Fauraza yang sepertinya menyembunyikan masa lalu.&#xA;&#xA;&#34;Anak itu berbohong, kau tahu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kak Shuu!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Baiklah, abaikan saja itu tadi. Kebetulan kita akan segera sampai,&#34; ucap Shuu yang pada akhirnya mengalihkan pembicaraan mereka, yang  mana takut berujung kisah yang memilukan di hari spesialnya Fauraza yang entah menyadarinya atau tidak, bahwa dirinya akan menjadi korban dari rencananya Shuu.&#xA;&#xA;Hingga, pemandangan itu tampak sangat luas. Dari luarnya saja sudah membuat mereka semua terpukau. &#34;Wow, Kak Shuu pemandangannya indah sekali!&#34; seru Fauraza yang mana mungkin terlalu bersemangat.&#xA;&#xA;Pada akhirnya, mereka telah sampai dan memutuskan untuk turun terlebih dahulu. Sementra untuk Shuu, akan menyusul karena dua mencari tempat untuk memarkirkan mobil yang dia gunakan selama mentantar mereka berdua.&#xA;&#xA;Angin berembus menyejukan tubuh. Padahal, langin masih cerah, belum menuju senja. Akan tetapi, suasananya mendukung sekali. Bahkan, lokasi yang mereka pijaki ini terdiri dari banyaknya hamparan bunga, sampai akhirnya mereka agak takut kalau tidak sengaja menginjak bunganya.&#xA;&#xA;Sembari menunggu Shuu, Fauraza bersama Arata memutuskan untuk membelikan tiket masuk untuk mereka semua. Kemudian, Shuu memasuki tempat itu dan mulai menjelajahi lokasi menyegarkan pemandangan mata bersama-sama.&#xA;&#xA;Shuu menyarankan agar mereka berdua berpisah. Di mana Arata dan Fauraza akan bersenang-senang bersama, sementara dirinya akan mengambil beberapa foto untuk dibagikan kepada Fauraza. Ya, Fauraza sudah berpesan kepada dirinya. Mengingat Shuu juga mahir dalam mengambil gambar yang bagus, sehingga Fauraza mempercayainya.&#xA;&#xA;Shuu sendiri mengabadikan gambar di mana Fauraza bisa bersenang-senang dengan Arata. Menurutnya, untuk apalagi dirinya harus mengawasi mereka berdua, lagu pula keduanya tidak akan bersikap aneh-aneh. Asalkan mereka bisa menjaga diri masing-masing saja, sudah lebih baik.&#xA;&#xA;Saat itu juga, Shuu mendapati seorang yang memang membagikan karangan bunga. Walau sebenarnya ada juga yang berkenan mengajarkan mereka untuk merangkai karangan bunga. Ya, tidak butuh waktu lama, ia mendapatkan tiga rangkaian karangan bunga itu. Kalau ditanya untuk siapa saja, tentu saja untuk mereka bertiga. Lalu, siapa yang akan memakaikannya? Itu akan dia serahkan kepada Fauraza.&#xA;&#xA;&#34;Seharusnya tadi aku meminta ID Line milik dia.&#34; Shuu bergumam pelan dan dia merutukinya. Namun, saat itu dia melihat Arata ternyata berhadapan dengan keberadaan dia saat itu, sementara Fauraza membelakangi dirinya. Ia mulai mendekati mereka. Tetapi tidak terlalu dekat, sampai akhirnya Arata melihat sosok itu dan memutuskan untuk pergi sejenak menemui Shuu.&#xA;&#xA;&#34;Fauraza, sepertinya Kaitosawa-senpai sedang memanggilku. Aku pergi sebentar dan nanti aku akan kembali, tidak apa-apa kan?&#34; tanya Arata yang mana membuat dahi Fauraza berkerut.&#xA;&#xA;&#34;Tunggu, memanggil? Kok, aku tidak kedengaran. Ah, tunggu. Kak Arata tetap memanggilnya seperti itu, berarti belum memiliki ID Line milik Kak Shuu, ya?&#34; Arata terdiam, takut apa yang direncanakan oleh Shuu dibalik semua ini akan gagal.&#xA;&#xA;Sehingga, Arata menganggukinya pelan. &#34;Tadi, dia melambaikan tangan kepadaku, siapa tahu dirinya ingin memanggilku, hanya saja takut tidak nyaman untuk mengganggu kegiatan yang sedang Fauraza lakukan dalam menikmati keindahan bunga yang ada.&#34; Fauraza tidak percaya bahwa Arata akan menjelaskan hal ini, supaya Fauraza tidak salah paham. Padahal, ia sudah mengetahui gerak-gerik Shuu yang semenjak awal sudah berbeda menurut dirinya.&#xA;&#xA;&#34;Lalu, untuk ID Line, itu memang benar. Kami tidak begitu akrab, hingga saling menukar ID Line, jadinya itu merumitkan untuk Kaitosawa-senpai yang akan memanggil diriku, begitu?&#34; Arata memberikan reaksi dirinya seperti orang yang sedang menyimpulkan sesuatu.&#xA;&#xA;Semua yang Arata tampilkan, sungguh membuat Fauraza mengundang tawanya. &#34;Baiklah, silakan bertemu dengan Kak Shuu. Tetapi, jangan lupa kembali, ya!&#34; Fauraza memutuskan untuk kembali kepada aktivitasnya. Ia memang gemar mengamati banyaknya bunga yang tumbuh di daerah itu.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Di samping itu, Arata telah menyusul ke arah Shuu. Yang mana mungkin telah menimbulkan pemikiran aneh, sehingga Shuu hanya mengatakan sedikit, &#34;Pasangkan ini kepada dirinya dan katakan apa yang ingin dirimu katakan untuknya.&#34; Shuu telah menyerahkan satu rangkaian karangan bunga Aster Kuning. Menurut Arata, itu tampak indah. Dan bahkan, mungkin lebih mirip warnanya dengan netra milik Shuu saat itu. Sama-sama berwarna kuning.&#xA;&#xA;Arata kembali mendekati Fauraza yang sibuk dengan kegiatannya, ia pun memakaikan karangan bunga tersebut. Hal itu sukses membuat dirinya terpaku karena kaget. Fauraza tidak menduga, bahwa seorang Arata bisa melakukan seperti ini. Tetapi, dengan cepat Fauraza menyimpulkan bisa saja semua ini karena Shuu. Mengingat sedari tadi Arata berada dekat dengan Shuu. Ia tidak terlalu mengekang dirinya.&#xA;&#xA;&#34;Selamat ulang tahun, Fauraza.&#34;&#xA;&#xA;Fauraza memang terkejut, tetapi karena memikirkan apa yang telah terjadi saat itupun, ia langsung mengumbar tawa dengan kepalanya telah ada rangkaian bunga yang dimaksud oleh Shuu saat tadi.&#xA;&#xA;&#34;Ah, ternyata Kak Arata sudah mengetahuinya. Terima kasih banyak!&#34; umbarnya senang.&#xA;&#xA;&#34;Terima kasih juga untukmu. Apabila aku pikirkan, kebahagiaan kini telah banyak yang dirimu sumbangkan kepadaku. Tunggu, itu terlalu menyedihkan. Bagaimana jika dengan dirimu yang sudah memberikan banyak kebahagiaan kepadaku sekarang? Meskipun, aku sendiri tidak pernah mengetahui hari spesialmu sebelum akhirnya diberitahukan. Sepertinya, agak tidak adil untukku,&#34; jelasnya Arata panjang lebar.&#xA;&#xA;Fauraza benar-benar bahagia, ia tidak menduga bahwa seorang Arata bisa berkata demikian. Meskipun pada bagian akhirnya cukup menyindir bagi Fauraza yang mana menyembunyikan hari ulang tahunnya, bahkan kepada tunangannya sendiri. Tentu saja, hal itu sangat tidak adil bagi Arata.&#xA;&#xA;&#34;Tentu saja, jika aku berbahagia maka Kak Arata harus bahagia juga! Lalu, tentang itu, hehe. Maafkan aku, tetapi Kak Arata mengetahui ulang tahunku dari siapa?&#34; Hal ini sedikit membuat Fauraza penasaran, ia menebak bahwa itu dikatakan oleh Shuu, akan tetapi tebakan hanyalah tebakan. Bisa saja dirinya yang salah.&#xA;&#xA;&#34;Ah, itu diberitahukan oleh kakakmu. Belum lama ini, mungkin lusa kemarin?&#34; Arata sedang mengungkit kisah di mana pertemuan mereka waktu itu.&#xA;&#xA;&#34;Apa dirimu sudah diberitahukan oleh Fauraza mengenai ulang tahunnya, yang tidak lama lagi?&#34; Saat itu bukanlah Ryutatsu yang mengatakan, melainkan Shuu yang mengucapkannya.&#xA;&#xA;Ketika dirinya mulai menggelengkan kepala, sahutan datang dari Ryutatsu, &#34;Lusa nanti, tanggal 2 Oktober itu adalah hari ulang tahunnya.&#34;&#xA;&#xA;Rasanya saat itu Arata benar-benar tidak tahu harus bersikap apa dengan waktu yang hanya dua hari sampai akhirnya, tibalah saat ini berkat adanya bantuan dari Shuu yang telah merencanakan sesuatu dari awal.&#xA;&#xA;&#34;Oh, begitu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Halo, kalian. Oh, sepertinya sudah selesai? Omong-omong ini untuk dirimu Fauraza, kau bebas memberikannya kepada siapapun. Atau mungkin, kau akan memberikannya kepada Arata,&#34; ujar Shuu setengah bercanda. Ia memang sangat menyarankan agar Fauraza memberikan sesuatu yang dia serahkan kepadanya untuk Arata, agar mereka terlihat seperti couple.&#xA;&#xA;&#34;Kak Shuu, kebiasaan! Terima kasih untuk semua ini, dan lalu siapa yang memasangkan karangan bunga itu diatas kepala Kak Shuu?&#34; Fauraza menyadari suatu perbedaan yang mana, Shuu juga telah menggunakan karangan bunga diatas kepalanya. Akan tetapi, siapa orang yang memakaikan karangan bunga itu kepada dirinya?&#xA;&#xA;Shuu sebenarnya ingin tertawa ketika mengingatnya, &#34;Ada seseorang yang memasangkannya kepadaku, dikala aku mengamati kalian dari jauh. Sepertinya dia menganggap aku sedang patah hati, mungkin?&#34; guraunya bercanda, meskipun fakta bahwa dia mengamati dan ada orang yang memasangkan karangan bunga itu adalah benar.&#xA;&#xA;&#34;Woah, tidak kusangka. Ternyata, ada orang baik yang memasangkannya untuk Kak Shuu.&#34; Fauraza juga ikutan bercanda dengan nada yang mungkin menurut Arata itu adalah sindiran.&#xA;&#xA;Arata memang tidak mengerti hubungan mereka berdua, sampai tidak masalah dengan sindir-menyindir seperti itu. Alangkah baiknya, ketika Arata juga menyadari fakta bahwa Fauraza kini mmasangkan karangan bunga yang diberikan oleh Shuu diatas kepalanya. Posisi mereka saat ini sedang duduk di antara rangkaian bunga yang bertaburan diatas rumput yang halus ini.&#xA;&#xA;&#34;Baiklah, terima kasih untuk semua ini, khususnya kepada kalian berdua. Senang sekali rasanya, aku jadi terlibat dalam permainan kalian sekarang. Lalu, untuk Kak Shuu sendiri, syukur saja ada orang yang mau memasangkannya. Jadi, aku kan hanya memasangkan untuk Kak Arata.&#34;&#xA;&#xA;Fauraza mengatakan hal itu, membuat Arata tertegun. Ia tidak menyangka terdapat hal positif dari balik kejadian ini. Meskipun interaksi yang keduanya jalin terlihat lebih dekat daripada keluarganya sendiri, membuatnya merasakan sedih.&#xA;&#xA;&#34;Sudah cukup menyindirku, ya.&#34;&#xA;&#xA;Keduanya mengutarakan tawa yang tidak bisa terbendung, bahkan hal itu menularkan tawa kepada seorang Kazuhiko Arata. Jujur saja, inilah kebahagiaan yang ingin dirinya peroleh semenjak bertunangan dengan Fauraza.&#xA;&#xA;Terima kasih untukmu, yang sudah memberikan kebahagiaan seperti ini kepadaku. Meskipun, pada dasarnya dirimulah yang berulang tahun dan bukan diriku. Untuk semua dukungan ataupun saran, dirimu berikan kepadaku itu sangat berkesan bagiku. Tidak cukup sampai sana, karena terlalu banyak usaha yang dirimu lakukan, hanya demi seorang seperti aku.&#xA;&#xA;Terima kasih telah ingin menerimaku sebagai tunanganmu.&#xA;&#xA;End.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Kazuhiko Arata × Hizamara Fauraza &amp; Kaitosawa Shuu.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureOCs" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureOCs</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:AraFau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">AraFau</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>When the time comes, the memory will be perfect.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:OriFictArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">OriFictArchives</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureStory" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureStory</span></a>; Travel Chain Universe. </p></blockquote>

<hr/>

<p>Dalam hitungan hari, sepupu jauhnya akan bertambah usia. Tak mengira, sosok yang dahulunya keras kepala, akan menjadi wanita dewasa. Ya, tidak bisa dibilang dewasa juga, karena belum mencapai usia dua puluh tahun.</p>

<p>Benar, remaja perempuan itu belum beranjak menuju usia dua puluh tahun, melainkan dibawahnya. Akan tetapi, sudah beberapa kali dia menemukan hal-hal unik yang menyapa penglihatan miliknya. Tidak disangka, bahwa ia akan benar-benar melakukan saran dari tunangannya itu.</p>

<p>Rasanya seperti komedi, tetapi begitulah kepribadian sang sepupu jauh. “Kasihan juga, tunangannya.” Pemuda bersurai merah muda yang tampak nakal ini, tidak sepenuhnya dikatakan nakal. Karena kepribadiannya sebatas ramah dan begitulah dia yang terbuka dengan banyak orang.</p>

<p>Dia mendapatkan berita itu dari sepupu jauhnya, lebih tepatnya si kakak dari remaja perempuan yang sebentar lagi akan bertambah usianya. Agak tidak terduga, menurutnya. Meskipun itu baru saja terjadi dalam sepuluh hari atau mungkin lebih?</p>

<p>Bisa-bisanya, dia lebih memproritaskan hubungan dengan pelayan seperti itu. Sejujurnya, dia sendiri tak berhak mengatur kehidupan sepupu jauhnya. Akan tetapi, miris rasanya ketika dia membayangkan posisi tunangannya yang harus mengutarakan saran untuk membantu menyiapkan kejutan tersebut.</p>

<p>Hanya saja, ketika kejutan itu tertuju kepada dirinya. Apakah sepupunya itu pernah mengatakan tanggal berapa dia akan bertambah usia? Lagi pula, remaja perempuan satu ini terkadang suka melupakan hal yang paling penting. Dia tidak akan ambil pusing terhadap semua ini.</p>

<p>“Menurutmu, haruskah kita melibatkan tunangannya itu?” tanya sosok pemuda bersurai hijau kebiru-biruan.</p>

<p>“Itu tidak menarik, kau tahu? Bisa saja, Fauraza langsung menyuruh dirinya, untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada dia. Sebagai seorang kakak, pasti ada yang kau ketahui setidaknya beberapa perilaku dari adikmu itu.”</p>

<p>Helaan napas berat terdengar. Pemuda bersurai merah muda mengukir senyuman. “Biarkan sepasang kekasih itu, memainkan permainan mereka sendiri.” Ya, pemuda ini akan menikmatinya. Seperti orang yang berada dibalik layar dan mengamati jalan ceritanya yang ini berlangsung. Sebab, sudah ada rencana yang terbesit dipikirannya dan pemuda di hadapannya mengetahui hal tersebut.</p>

<p>“Sepertinya, dirimu sudah merencanakan sesuatu.” Lantas, hal ini dibenarkan oleh pemuda bersurai merah muda itu dengan senyuman khasnya.</p>

<p>“Tentu saja, meskipun tidak begitu menarik.”</p>

<p>“Semua yang dirimu katakan adalah kebohongan. Lagi pula, tidak mungkin kau bisa tersenyum lebar seperti itu, jika sesuatu yang sedang direncanakan justru tidak menarik.”</p>

<p>Mengusap wajahnya, tidak menduganya. Kebiasaan khasnya semenjak mereka berada dalam satu kelas yang sama, menjadi teman tanpa mengetahui latar belakang. Kalau dipikir, mereka baru mengetahui jika mereka terhubung sebagai sepupu jauh itu sewaktu SMP. Jujur saja agak menyedihkan.</p>

<p>“Ketebak sekali, ya.” Pemuda di hadapannya mulai memutar bola mata malas. Ia melirik ke arah lain, sampai akhirnya mendapati sosok yang mereka bicarakan sebelumnya.</p>

<p>Saat ini, mereka berada dalam lingkup di mana mereka berkuliah. Akan tetapi, karena jurusan mereka berbeda, susah untuk bisa bertemu. Jika bertemu pun, sewaktu makan siang saja selebihnya kalau sedang mempunyai kegiatan di luar kampus.</p>

<p>Sosok yang menjadi bincangan hangat diantara mereka, membuat pria bersurai merah muda mulai melirik ke arah mana pemuda di hadapannya ini menatap. “Ah, panjang umur juga tunangannya Fauraza. Baru saja dibicarakan ternyata bisa muncul juga anaknya. Seingatku, dia adalah teman Shika. Tapi, mengapa penampilannya sangat mirip dengan dirinya?” Pemuda itu bertanya-tanya.</p>

<p>“Jika kau sepenasaran itu terhadapnya, langsung tanyakan saja kepada orangnya,” celetuk pemuda bersurai hijau kebiru-biruan itu.</p>

<p>“Aduh, itu agak merepotkan. Tapi, sebelumnya aku pernah bertanya mengenai hal itu. Dia menjawab, <em>kalau dia ingin saja</em>,” gerutunya membalas pertanyaan dia sendiri.</p>

<p>“Kalian berdua telah mengenal satu sama lain? Lalu, mengapa kau malah memanggilnya tunangan Fauraza terus-menerus?” tanya pemuda itu lagi, yang sedari tadi berusaha mendapatkan jawaban dari perkataannya.</p>

<p>“Ah mengenai hal itu, bagaimana ya aku menjelaskannya. Jadi, dia adalah salah satu anggota dari klub Karate. Kau tahu sendiri, aku dulu pernah mengikuti klub Karate, meskipun tidak bertahan lama karena terlalu sibuk mengurus <em>trainee</em> waktu itu,” jelasnya menjeda sejenak.</p>

<p>“Hm, berarti kau tidak terlalu mengenali dirinya atau malah sebaliknya?” Pemuda ini menyimpulkan demikian.</p>

<p>“Jawabannya ada di opsi pertama, ialah alasanku memanggil dirinya seperti itu.” Figur di hadapannya menggelengkan kepala, tidak sanggup mengatakan alasan apapun lagi. Terlalu banyak informasi yang mereka lakukan, meskipun tidak terlalu berguna.</p>

<p>“Kukira kau mengenalnya.”</p>

<p>Menatap tidak percaya, <em>lebih tepatnya terkejut.</em> Pada akhirnya ia tetap membalas, “Astaga. Bahkan, saat aku ramah dan terbuka kepada banyak orang sekalipun, belum tentu anaknya akan menerima orang baru di dalam lingkungan pertemanan yang mereka miliki.” Pemuda itu mengatakannya sembari mengingatkan kepada diri yang mana, terkadang terlalu banyak berbaur dengan banyak orang sampai tidak bisa membedakan mana yang menerima ataupun tidak nyaman terhadap dirinya.</p>

<p>“Siapa yang tahu—”</p>

<p>“Halo, Kaitosawa-<em>senpai</em> juga Hizamara-<em>senpai.</em> Sudah lama tidak berjumpa dengan kalian,” sapa seseorang membuat perhatian mereka teralihkan. Terlihat seorang laki-laki dengan rambut dan mata yang senada warnanya. Setelah diperhatikan dengan lekat sekalipun, sesuai apa yang dikatakan oleh salah satu orang yang bercakap panjang lebar itu.</p>

<p>“Halo, untuk dirimu.”</p>

<p>“Ah, lama tidak berjumpa denganmu juga, Arata. Tidak perlu seformal itu denganku,” tegur pemuda bersurai hijau kebiru-biruan. Ia menolak panggilan formal yang ditujukan kepadanya, apabila seseorang ini telah menjadi bagian penting dalam hidup salah satu saudaranya. Rasanya, ia seperti membatasi diri dengan sosok yang mana tahu dikemudian hari bisa menjalin suatu hubungan yang lebih besar dibandingkan saat ini, bukan?</p>

<p>“Baiklah kalau begitu,” balas lelaki tersebut. Mengangguk pelan, menyetujui hal yang sama, supaya tidak terlalu formal diawal pertemuan dan perkenalan mereka. Hanya saja, sekarang fokus pemuda yang diajak oleh seorang Arata berbicara teralihkan kepada pemilik netra kuning. “Omong-omong, Shuu. Kau tidak berniat untuk menipuku, &#39;kan?” tanyanya dengan nada yang agak berbeda.</p>

<p>“Sudah aku katakan, itulah kenyataannya.”</p>

<p>Pembahasan mereka sedikit berbeda. Salahnya juga yang tiba-tiba menyapa, tanpa memberikan masukan untuk berbicara barang kali hanya berapa kalimat sederhana. “Oh iya, Arata. Aku ingin bertanya tentang Fauraza. Bagaimana dirinya yang sekarang? Apakah dia masih merepotkanmu sewaktu awal pertunangan kalian?” Kini giliran dia lagi yang mengutarakan pertanyaan kepada sosok yang sedari tadi mereka bicarakan.</p>

<p>Hizamara Ryutatsu, selaku kakak tertua dari Hizamara Fauraza, yang sekarang tunangannya ini sedang dilontarkan banyak pertanyaan. Tidak begitu banyak, tetapi cukup membuat dirinya harus menjawab sejujurnya.</p>

<p>“Dia tidak seperti itu, kok. Hanya saja, akhir-akhir ini dia sering memikirkan terlalu banyak entah apa saja itu, dan itu membuatnya melupakan beberapa hal penting.” Kazuhiko Arata, itulah namanya. Sering disebutkan sebagai Arata karena namanya lebih mudah diucapkan kebanyakan orang. Meskipun, mereka yang tidak akrab saja memanggilnya dengan namanya langsung. Tetapi, dia tidak begitu mempermasalahkan panggilannya.</p>

<p>Dia menunjukkan reaksi seperti orang yang sedang berpikir sekarang. Sementara untuk kedua orang yang dirinya sapa tadi saling menatap satu sama lain. <em>Sudah tidak diragukan lagi.</em> Ryutatsu tidak sanggup untuk membalas jawaban dari Arata. Sehingga, pemuda di sampingnya menggantikan. “Mohon dimaklumi perilakunya yang seperti itu, ya. Oh, satu hal lagi. Semisal Fauraza melakukan hal yang menyimpang atau nekat begitu, tolong beritahu kami atau tegur saja dirinya,” celetuk lelaki itu kepada Arata.</p>

<p>“Shuu memang benar, pasti akan ada kalanya dia melakukan sesuatu dengan nekat. Jika menurutmu itu adalah hal yang terbaik, kau bisa mendukungnya. Namun, apabila itu berbanding terbalik, sebagai kakaknya aku ingin meminta tolong kepadamu agar lebih banyak membimbing dia.” Ryutatsu menyempurnakan apa yang telah dikatakan oleh Kaitosawa Shuu baru saja.</p>

<p>“Eh? Apa itu tidak masalah?” Sejujurnya, untuk melakukan hal seperti itu saja, Arata sangat ragu. Alhasil, ia jarang sekali memberikan peringatan kepada sang tunangan.</p>

<p>“Sesekali ditegur pun tidak masalah.” Arata mengangguk tanda menyetujuinya.</p>

<hr/>

<p>Telah lama waktu dimakan oleh hari. Seolah tidak seperti biasanya, entah mengapa Arata merasa menjadi akan ada sesuatu yang mungkin bisa terjadi kepadanya dengan segera. Sewaktu pertemuan itu, Arata diberikan suatu informasi tentang hari spesial sang tunangan. Sejujurnya, dia sendiri agak terkejut.</p>

<p>Karena, Fauraza sebagai tunangannya saja tidak pernah memberitahukan hal itu kepada dirinya. Sementara Fauraza menyuruh agar dirinya mengatakan kapan dia bertambah usia. Rasanya sangat tidak adil. Sejenak, Arata terpikirkan sesuatu. Apakah mungkin jika seseorang yang sedang berulang tahun, malah memberikan kejutan kepada pasangannya? Sedikit tidak masuk akal, tetapi mungkin saja bisa terjadi, bukan?</p>

<p>Lagi pula, kalau dia bertanya kepada Fauraza mengenai hari spesialnya. Apakah dia bisa memberikan sesuatu yang berkesan sebagai hadiah kepadanya? Untuk seorang Hizamara Fauraza yang kehidupannya terjamin, berbanding terbalik dengan dirinya. Bahkan, sebab Fauraza jugalah keduanya menjadi tunangan. Walau perasaan gundahnya diawal mendapatkan kabar tercipta dengan jelas, serta perkataan beruntun dari Fauraza langsung membuat diri kewalahan.</p>

<p>Arata terlalu banyak melamun sedari tadi, hingga dirinya tidak sadar bahwa saat ini sudah ada figur indah tunangannya yang meraih tangannya yang bebas, tiada pegangan apapun. “Kak Arata!” panggil sosok perempuan yang sangat cantik, dan ternyata inilah wujud dari si tuan putri, ialah tunangannya.</p>

<p>“Kak Arata sedang memikirkan apa? Kelihatannya serius sekali,” tutur Hizamara Fauraza, itulah nama yang sungguh indah dari tunangannya sekarang ini.</p>

<p>“Bukan hal penting, kok.”</p>

<p>Menghela napas panjang. Seperti sudah menjadi kebiasaan bagi dirinya yang merasa tidak kuasa untuk mengatakan beberapa kata sekalipun. “Lalu, dengan Fauraza sendiri? Akhir-akhir ini, aku perhatikan kalau dirimu terlalu memaksakan diri. Tidak baik untuk kesehatan, tahu.” Arata mengungkapkan perhatian dari perilaku yang disedang lakukan sekarang. Ia mengelus pelan surai ungu bercampur putih itu, sembari tersenyum.</p>

<p>“Ah, oh?” Fauraza tersentak. Meskipun ini bukanlah pertama kali untuk dia yang disentuh pada bagian rambut dan kepalanya, entah mengapa perasaannya lebih cepat timbul sehingga membuat detak jantungnya bekerja lebih cepat. Langsung ia membalas, “Supaya aku bisa lebih luang diwaktu libur, makanya aku fokuskan kegiatan pada harinya. Maafkan aku, Kak Arata.”</p>

<p>“Berarti, pada waktu libur aku akan pastikan bahwa dirimu benar-benar beristirahat, seperti apa yang dirimu inginkan.”</p>

<p>Fauraza menggelengkan kepalanya pelan. “Bukan untuk menikmati waktu libur dengan beristirahat. Aku ingin menghabiskan waktu bersama Kak Arata, karena sudah lama aku tidak jalan-jalan bersama Kak Arata, hehe.” Hal ini membuat Arata mendadak bingung. Ia mengira bahwa Fauraza akan istirahat, ternyata ia meluangkan waktu hanya untuk berjalan berdua bersama dirinya. <em>Ah, tunggu, hanya berdua?</em></p>

<p>Padahal, hal yang paling Arata ketahui ialah Fauraza yang selalu bersama dengan pelayannya. Menurut Arata sendiri, pelayannya yang sudah lama mengurusnya lebih mengetahui apa saja yang Fauraza inginkan dan apa yang dirinya sukai. Tidak seperti dirinya yang baru memiliki hubungan dengan Fauraza yang bahkan belum genap satu tahun.</p>

<p>“Kira-kira, hari ini Kak Arata ada waktu luang?” tanya Fauraza, mengalihkan atensi dari Arata yang kembali terdiam dalam pemikirannya.</p>

<p>“Hari ini?” Arata sejenak bergumam, ia merogoh ponsel pintar miliknya. Menatap lekat sesuatu di ponselnya. “Aku punya waktu luang,” jawab Arata kemudian. Arata telah menyadari, karena sempat melihat sekilas tanggal pada hari ini. Ya, semoga saja dia tidak terlambat, bukan?</p>

<p>2 Oktober. Itu adalah hari di mana Fauraza bertambah usia, dan pada hari itulah Fauraza yang mengajaknya. Ah, kalau dipikir seharusnya orang yang memberikan kejutan yang akan mengajaknya. Tetapi, ini malah orang yang sedang berulang tahun. Tidakkah ini terasa aneh?</p>

<p>“Asik! Aku punya tempat yang bagus dan pemandangannya cantik, nanti kita kesana bersama Kak Shuu, oke?” ujar Fauraza.</p>

<p><em>Tunggu, apa?</em> Haruskah ada satu orang yang perlu berada disekitar Fauraza, disaat dia sedang bersama dengan dirinya? Arata tidak tahu mengapa perasaannya sering kali berubah seperti ini. Hanya saja, ia seperti berada dalam perputaran yang hanya mereka saja yang mengetahui kejadian itu. Lagi pula, Arata hanya mengetahui hubungan keduanya sebagai sepupu jauh. Dan, untuk selain itu sepertinya tidak ada yang bisa ia ketahui.</p>

<p>“Oh, Kaitosawa-<em>senpai</em>? Boleh saja. Kira-kira berangkatnya pukul berapa? Aku perlu izin dahulu sama keluargaku, takutnya malah mereka yang melarangku.” Arata menjadi kikuk dan merasa tidak enak. Padahal, remaja zaman sekarang sering kali bepergian keluar untuk menikmati hari sebagai masa muda. Bahkan, jika mereka sudah dewasa pasti mereka akan lebih memilih beristirahat dan tidak terlalu banyak beraktivitas di luar. Sehingga, hanya mendapati aktivitas di mana jika saja ada yang mengajak.</p>

<p>Fauraza terdiam sebentar. Ternyata, ia melupakan sesuatu yang terpenting. Mengingat dirinya yang telah lama tinggal berpisah dengan orang tua, membuatnya bebas untuk bepergian tanpa izin. Paling-paling meminta izin dengan Ryutatsu saja ataupun meminta izin kepada Shuu. Namun, entah mengapa ketika dirinya mendengarkan ucapan dari Arata, ia teringat kenangan lama di mana dirinya tinggal bersama kedua orang tuanya. Sebenarnya, Ryutatsu juga tinggal sendiri seperti dirinya. Akan tetapi, karena ditemani oleh pelayan, dia tidak akan sendiri di dalam rumah sebesar itu.</p>

<p>“Semoga diizinkan, ya. Oh, iya perjalanannya dimulai siang ini karena mungkin agak memakan waktu karena kita juga menggunakan kendaraan mobil. Kak Arata ada riwayat mabuk perjalanan tidak?” tanya Fauraza lagi.</p>

<p>“Ah, aku tidak ada riwayat mabuk perjalanan, kok. Lagi pula waktu pertama kali dijemput dengan pelayanmu itu, untuk menghadiri acara keluarga kita. Dia mengantar kami sekeluarga menggunakan mobil, bukan?” balas Arata yang mana dia juga hanyut dalam memori masa lalu.</p>

<p>“Oh, iya! Aku lupa, hehe.” Fauraza mengatakan hal itu, tanpa mengetahuinya kalau Arata tetap menatap dirinya sembari menampilkan senyuman tipis pada wajah.</p>

<hr/>

<p>“<em>Yaaho~</em>“</p>

<p>Sapaan telah terdengar. Kini waktunya bagi mereka untuk bisa berjalan bersama, meskipun cuacanya cerah. Tetapi beruntung saja karena mereka menggunakan mobil yang mana atap di dalamnya tertutup. Meskipun ada juga yang bisa terbuka, syukur saja ini lebih baik untuk melindungi mereka.</p>

<p>“Ah, halo Kaitosawa-<em>senpai!</em>” Arata balik menyapa dirinya juga.</p>

<p>“Maaf, kalau aku nimbrung kencan kalian, ya~ Kakaknya Fauraza itu memang ada-ada saja,” gerutu pemuda bersurai merah muda itu, yang entah kenapa ia merasa kesal karena bisa terseret dalam permainan yang mana itu dari dirinya sendiri.</p>

<p>Sesungguhnya, Shuu hanya berdalih dengan alasan seperti itu. Karena faktanya, ia telah merencanakan hal itu dengan Ryutatsu untuk membuat hubungan kedua tunangan ini tidak akan lebih jauh dari kata akrab. Ya, semoga saja pada hari ulang tahunnya Fauraza ini, mereka bisa lebih akrab dan membuka diri. Lalu, bagaimana dengan Shuu? Dia hanya akan mengamati dan kemudian memberikan laporan kepada Ryutatsu setelahnya.</p>

<p>Ryutatsu melakukan itu untuk membatasi pergerakan Fauraza yang akhir-akhir ini, terlalu banyak beraktivitas di luar lingkungan kampus. Sehingga, tidak ada yang bisa mengawasi dirinya. Selain itu, meskipun Arata merupakan tunangannya, mereka bahkan belum seakrab itu untuk sekadar bergandengan tangan. Hanya, Fauraza yang selalu berusaha memulai untuk bisa mendekati dirinya.</p>

<p>“Tidak masalah, <em>Senpai.</em>“</p>

<p>“Baiklah, kalau begitu aku punya ide untukmu.”</p>

<p>Suatu ide dibisikkan kepadanya, melupakan Fauraza yang sedang berbincang dengan Keluarga Kazuhiko akhirnya telah kembali. Fauraza sendiri tidak akan mengganggu percakapan mereka yang mungkin penting, sampai harus berbisik seperti itu. Membuatnya menegur karena mungkin, takut teralu lama berleha-leha. Tidak seperti Fauraza yang biasanya.</p>

<p>“Kak Shuu, Kak Arata! Ayo, kita berangkat, aku sudah selesai.”</p>

<p>Shuu yang telah menyadari keberadaan Fauraza hanya mendiamkan diri tadi, dengan ucapan yang sedang dia rencanakan untuk para kekasih yang berada dalam bimbingannya ini. Ia kembali menoleh ke arah Fauraza yang ternyata telah berada di dekat mobil yang Shuu bawa. “Seperti yang aku katakan, begitu saja kejutannya. Selebihnya, tergantung apa yang akan kalian lakukan. Ah, sebentar dirimu tidak memiliki alergi terhadap serbuk sari dalam bunga, kan? Fauraza memang tidak ada, tapi takutnya malah dirimu yang mengalaminya.”</p>

<p>Arata menggeleng pelan, “Baiklah, aku akan berusaha. Lalu, untuk pertanyaan itu, aku tidak memiliki alergi terhadap bunga, <em>Senpai.</em>” Ia mengatakan demikian, karena memang dia hampir tidak diketahui memiliki riwayat ataupun alergi terhadap sesuatu.</p>

<p>“Baguslah, ayo kita menyusul.” Arata dan Shuu, menyusul ke dalam mobil yang agak jauh dari halaman rumah Arata. Sekalian bisa putar balik, kalau kata Fauraza. Alhasil, mereka menempuh menuju mobil dengan berjalan kaki.</p>

<p>“Kalian berdua sudah siap?” Shuu yang akan menyetir mobil tersebut. Dengan penghuninya adalah Arata dan Fauraza yang duduk dibelakang. Kalau melihatnya, mungkin orang-orang akan beranggapan kalau dirinya adalah sopir. Akan tetapi, saat ini hanya itu peran baginya.</p>

<p>Mereka berdua menikmati perjalanan yang agak jauh, yang mana tidak seperti bisanya. Dalam perjalanan itu, Arata mengingat kembali apa saja yang Shuu katakan tadi mengenai kejutan yang ternyata sepenuhnya direncanakan oleh dirinya. Tetapi, berdalih bahwa semua itu karena dia yang disuruh oleh Ryutatsu untuk menjaga Fauraza.</p>

<p><em>“Tujuan kita kali ini adalah taman bunga. Tempat itu sebenarnya adalah tempat favorit dari orang tuaku, yang entah mengapa bisa menurun kepadaku juga. Lalu, di sana biasanya akan ada orang yang memberikan karangan bunga. Kalau bisa, dapatkan saja karangan bunga Aster Kuning dan peran untukmu menggunakan karangan itu ke atas kepala Fauraza.”</em></p>

<p><em>“Nanti aku akan memberikannya kepadamu, kalau memang aku bisa mendapatkannya. Untuk artinya, dirimu bisa mencari di situs online, bukan? Ya, lakukan saja itu selama dalam perjalanan. Aku yakin, itu bisa mengekspresikan kepribadiannya,”</em> ujar Shuu disaat berbisik dengan dirinya. Hingga saat itulah, Fauraza hadir dan menegur mereka berdua untuk segera berangkat.</p>

<p>Kembali ke masa sekarang, sesuai apa yang Shuu katakan tadi. Ia mulai sibuk mencari suatu makna dari bunga yang dikatakan oleh dirinya. Meskipun Fauraza agak penasaran dengan apa yang Arata lakukan, ia berusaha tidak mengusik Arata secara berlebihan. Sudah cukup dirinya yang di masa lalu terlalu memaksakan kehendaknya.</p>

<p><em>Masa lalu yang mana membuatnya bisa berubah, berkat omongan dari Ryutatsu. Ia telah mengutarakan permintaan maaf kepada Arata, tentang apa yang dia lakukan supaya mereka bisa bertunangan.</em></p>

<p><em>Meskipun begitu, itulah pertama kalinya Fauraza menggunakan panggilan &#39;Kak&#39; di depan nama Arata, yang bahkan sebelum itu dirinya memanggil tanpa sufiks tersebut.</em></p>

<p>Arata yang telah mengetahui apa makna dari balik bunga yang dikatakan oleh Shuu. Ia mengukir senyum tipis. <em>Ternyata, makna dari suatu bunga bisa begitu banyak yang sesuai.</em> Ia melirik Fauraza yang entah kenapa, ekspresinya tidak seperti mereka yang diawal. Seperti memancarkan ekspresi sedih, membuat Arata menepuk pelan bahu dari Fauraza seraya memanggil, “Fauraza.”</p>

<p>Fauraza sendiri tidak begitu mengamati suasana saat ini. Sehingga, ia bisa terkejut seperti itu. “Ah, maafkan aku. Ada apa, Kak Arata?” tanya Fauraza berusaha mengekspresikan dirinya dengan baik, seperti apa yang dia lakukan sebelum mereka berangkat bersama.</p>

<p>Sementara Shuu, sesuai apa yang dia lakukan bersikap seolah-olah dia hanya sebagai sopir untuk sepasang kekasih ini, dan akan melaporkan kejadian ini kepada sang Kakak dari Fauraza itu sendiri. “Fauraza terlihat seperti ingin menangis, apa terjadi sesuatu?” tanya Arata berusaha mengutarakannya dengan nada pelan.</p>

<p>Fauraza benar-benar dibuat terkejut bukan main. Ternyata, Arata menyadari itu semua. “Ah, tidak kok. Aku tidak ada masalah,” sahut Fauraza yang sepertinya menyembunyikan masa lalu.</p>

<p>“Anak itu berbohong, kau tahu?”</p>

<p>“Eh?”</p>

<p>“Kak Shuu!”</p>

<p>“Baiklah, abaikan saja itu tadi. Kebetulan kita akan segera sampai,” ucap Shuu yang pada akhirnya mengalihkan pembicaraan mereka, yang  mana takut berujung kisah yang memilukan di hari spesialnya Fauraza yang entah menyadarinya atau tidak, bahwa dirinya akan menjadi korban dari rencananya Shuu.</p>

<p>Hingga, pemandangan itu tampak sangat luas. Dari luarnya saja sudah membuat mereka semua terpukau. “Wow, Kak Shuu pemandangannya indah sekali!” seru Fauraza yang mana mungkin terlalu bersemangat.</p>

<p>Pada akhirnya, mereka telah sampai dan memutuskan untuk turun terlebih dahulu. Sementra untuk Shuu, akan menyusul karena dua mencari tempat untuk memarkirkan mobil yang dia gunakan selama mentantar mereka berdua.</p>

<p>Angin berembus menyejukan tubuh. Padahal, langin masih cerah, belum menuju senja. Akan tetapi, suasananya mendukung sekali. Bahkan, lokasi yang mereka pijaki ini terdiri dari banyaknya hamparan bunga, sampai akhirnya mereka agak takut kalau tidak sengaja menginjak bunganya.</p>

<p>Sembari menunggu Shuu, Fauraza bersama Arata memutuskan untuk membelikan tiket masuk untuk mereka semua. Kemudian, Shuu memasuki tempat itu dan mulai menjelajahi lokasi menyegarkan pemandangan mata bersama-sama.</p>

<p>Shuu menyarankan agar mereka berdua berpisah. Di mana Arata dan Fauraza akan bersenang-senang bersama, sementara dirinya akan mengambil beberapa foto untuk dibagikan kepada Fauraza. Ya, Fauraza sudah berpesan kepada dirinya. Mengingat Shuu juga mahir dalam mengambil gambar yang bagus, sehingga Fauraza mempercayainya.</p>

<p>Shuu sendiri mengabadikan gambar di mana Fauraza bisa bersenang-senang dengan Arata. Menurutnya, untuk apalagi dirinya harus mengawasi mereka berdua, lagu pula keduanya tidak akan bersikap aneh-aneh. Asalkan mereka bisa menjaga diri masing-masing saja, sudah lebih baik.</p>

<p>Saat itu juga, Shuu mendapati seorang yang memang membagikan karangan bunga. Walau sebenarnya ada juga yang berkenan mengajarkan mereka untuk merangkai karangan bunga. Ya, tidak butuh waktu lama, ia mendapatkan tiga rangkaian karangan bunga itu. Kalau ditanya untuk siapa saja, tentu saja untuk mereka bertiga. Lalu, siapa yang akan memakaikannya? Itu akan dia serahkan kepada Fauraza.</p>

<p>“Seharusnya tadi aku meminta <em>ID Line</em> milik dia.” Shuu bergumam pelan dan dia merutukinya. Namun, saat itu dia melihat Arata ternyata berhadapan dengan keberadaan dia saat itu, sementara Fauraza membelakangi dirinya. Ia mulai mendekati mereka. Tetapi tidak terlalu dekat, sampai akhirnya Arata melihat sosok itu dan memutuskan untuk pergi sejenak menemui Shuu.</p>

<p>“Fauraza, sepertinya Kaitosawa-<em>senpai</em> sedang memanggilku. Aku pergi sebentar dan nanti aku akan kembali, tidak apa-apa kan?” tanya Arata yang mana membuat dahi Fauraza berkerut.</p>

<p>“Tunggu, memanggil? Kok, aku tidak kedengaran. Ah, tunggu. Kak Arata tetap memanggilnya seperti itu, berarti belum memiliki ID Line milik Kak Shuu, ya?” Arata terdiam, takut apa yang direncanakan oleh Shuu dibalik semua ini akan gagal.</p>

<p>Sehingga, Arata menganggukinya pelan. “Tadi, dia melambaikan tangan kepadaku, siapa tahu dirinya ingin memanggilku, hanya saja takut tidak nyaman untuk mengganggu kegiatan yang sedang Fauraza lakukan dalam menikmati keindahan bunga yang ada.” Fauraza tidak percaya bahwa Arata akan menjelaskan hal ini, supaya Fauraza tidak salah paham. Padahal, ia sudah mengetahui gerak-gerik Shuu yang semenjak awal sudah berbeda menurut dirinya.</p>

<p>“Lalu, untuk <em>ID Line</em>, itu memang benar. Kami tidak begitu akrab, hingga saling menukar <em>ID Line</em>, jadinya itu merumitkan untuk Kaitosawa-<em>senpai</em> yang akan memanggil diriku, begitu?” Arata memberikan reaksi dirinya seperti orang yang sedang menyimpulkan sesuatu.</p>

<p>Semua yang Arata tampilkan, sungguh membuat Fauraza mengundang tawanya. “Baiklah, silakan bertemu dengan Kak Shuu. Tetapi, jangan lupa kembali, ya!” Fauraza memutuskan untuk kembali kepada aktivitasnya. Ia memang gemar mengamati banyaknya bunga yang tumbuh di daerah itu.</p>

<hr/>

<p>Di samping itu, Arata telah menyusul ke arah Shuu. Yang mana mungkin telah menimbulkan pemikiran aneh, sehingga Shuu hanya mengatakan sedikit, “Pasangkan ini kepada dirinya dan katakan apa yang ingin dirimu katakan untuknya.” Shuu telah menyerahkan satu rangkaian karangan bunga Aster Kuning. Menurut Arata, itu tampak indah. Dan bahkan, mungkin lebih mirip warnanya dengan netra milik Shuu saat itu. Sama-sama berwarna kuning.</p>

<p>Arata kembali mendekati Fauraza yang sibuk dengan kegiatannya, ia pun memakaikan karangan bunga tersebut. Hal itu sukses membuat dirinya terpaku karena kaget. Fauraza tidak menduga, bahwa seorang Arata bisa melakukan seperti ini. Tetapi, dengan cepat Fauraza menyimpulkan bisa saja semua ini karena Shuu. Mengingat sedari tadi Arata berada dekat dengan Shuu. Ia tidak terlalu mengekang dirinya.</p>

<p>“Selamat ulang tahun, Fauraza.”</p>

<p>Fauraza memang terkejut, tetapi karena memikirkan apa yang telah terjadi saat itupun, ia langsung mengumbar tawa dengan kepalanya telah ada rangkaian bunga yang dimaksud oleh Shuu saat tadi.</p>

<p>“Ah, ternyata Kak Arata sudah mengetahuinya. Terima kasih banyak!” umbarnya senang.</p>

<p>“Terima kasih juga untukmu. Apabila aku pikirkan, kebahagiaan kini telah banyak yang dirimu sumbangkan kepadaku. Tunggu, itu terlalu menyedihkan. Bagaimana jika dengan dirimu yang sudah memberikan banyak kebahagiaan kepadaku sekarang? Meskipun, aku sendiri tidak pernah mengetahui hari spesialmu sebelum akhirnya diberitahukan. Sepertinya, agak tidak adil untukku,” jelasnya Arata panjang lebar.</p>

<p>Fauraza benar-benar bahagia, ia tidak menduga bahwa seorang Arata bisa berkata demikian. Meskipun pada bagian akhirnya cukup menyindir bagi Fauraza yang mana menyembunyikan hari ulang tahunnya, bahkan kepada tunangannya sendiri. Tentu saja, hal itu sangat tidak adil bagi Arata.</p>

<p>“Tentu saja, jika aku berbahagia maka Kak Arata harus bahagia juga! Lalu, tentang itu, <em>hehe.</em> Maafkan aku, tetapi Kak Arata mengetahui ulang tahunku dari siapa?” Hal ini sedikit membuat Fauraza penasaran, ia menebak bahwa itu dikatakan oleh Shuu, akan tetapi tebakan hanyalah tebakan. Bisa saja dirinya yang salah.</p>

<p>“Ah, itu diberitahukan oleh kakakmu. Belum lama ini, mungkin lusa kemarin?” Arata sedang mengungkit kisah di mana pertemuan mereka waktu itu.</p>

<p><em>“Apa dirimu sudah diberitahukan oleh Fauraza mengenai ulang tahunnya, yang tidak lama lagi?”</em> Saat itu bukanlah Ryutatsu yang mengatakan, melainkan Shuu yang mengucapkannya.</p>

<p>Ketika dirinya mulai menggelengkan kepala, sahutan datang dari Ryutatsu, <em>“Lusa nanti, tanggal 2 Oktober itu adalah hari ulang tahunnya.”</em></p>

<p>Rasanya saat itu Arata benar-benar tidak tahu harus bersikap apa dengan waktu yang hanya dua hari sampai akhirnya, tibalah saat ini berkat adanya bantuan dari Shuu yang telah merencanakan sesuatu dari awal.</p>

<p>“Oh, begitu.”</p>

<p>“Halo, kalian. Oh, sepertinya sudah selesai? Omong-omong ini untuk dirimu Fauraza, kau bebas memberikannya kepada siapapun. Atau mungkin, kau akan memberikannya kepada Arata,” ujar Shuu setengah bercanda. Ia memang sangat menyarankan agar Fauraza memberikan sesuatu yang dia serahkan kepadanya untuk Arata, agar mereka terlihat seperti <em>couple.</em></p>

<p>“Kak Shuu, kebiasaan! Terima kasih untuk semua ini, dan lalu siapa yang memasangkan karangan bunga itu diatas kepala Kak Shuu?” Fauraza menyadari suatu perbedaan yang mana, Shuu juga telah menggunakan karangan bunga diatas kepalanya. <em>Akan tetapi, siapa orang yang memakaikan karangan bunga itu kepada dirinya?</em></p>

<p>Shuu sebenarnya ingin tertawa ketika mengingatnya, “Ada seseorang yang memasangkannya kepadaku, dikala aku mengamati kalian dari jauh. Sepertinya dia menganggap aku sedang patah hati, mungkin?” guraunya bercanda, meskipun fakta bahwa dia mengamati dan ada orang yang memasangkan karangan bunga itu adalah benar.</p>

<p>“Woah, tidak kusangka. Ternyata, ada orang baik yang memasangkannya untuk Kak Shuu.” Fauraza juga ikutan bercanda dengan nada yang mungkin menurut Arata itu adalah sindiran.</p>

<p>Arata memang tidak mengerti hubungan mereka berdua, sampai tidak masalah dengan sindir-menyindir seperti itu. Alangkah baiknya, ketika Arata juga menyadari fakta bahwa Fauraza kini mmasangkan karangan bunga yang diberikan oleh Shuu diatas kepalanya. Posisi mereka saat ini sedang duduk di antara rangkaian bunga yang bertaburan diatas rumput yang halus ini.</p>

<p>“Baiklah, terima kasih untuk semua ini, khususnya kepada kalian berdua. Senang sekali rasanya, aku jadi terlibat dalam permainan kalian sekarang. Lalu, untuk Kak Shuu sendiri, syukur saja ada orang yang mau memasangkannya. Jadi, aku kan hanya memasangkan untuk Kak Arata.”</p>

<p>Fauraza mengatakan hal itu, membuat Arata tertegun. Ia tidak menyangka terdapat hal positif dari balik kejadian ini. Meskipun interaksi yang keduanya jalin terlihat lebih dekat daripada keluarganya sendiri, membuatnya merasakan sedih.</p>

<p>“Sudah cukup menyindirku, ya.”</p>

<p>Keduanya mengutarakan tawa yang tidak bisa terbendung, bahkan hal itu menularkan tawa kepada seorang Kazuhiko Arata. Jujur saja, inilah kebahagiaan yang ingin dirinya peroleh semenjak bertunangan dengan Fauraza.</p>

<p><em>Terima kasih untukmu, yang sudah memberikan kebahagiaan seperti ini kepadaku. Meskipun, pada dasarnya dirimulah yang berulang tahun dan bukan diriku. Untuk semua dukungan ataupun saran, dirimu berikan kepadaku itu sangat berkesan bagiku. Tidak cukup sampai sana, karena terlalu banyak usaha yang dirimu lakukan, hanya demi seorang seperti aku.</em></p>

<p><em>Terima kasih telah ingin menerimaku sebagai tunanganmu.</em></p>

<p><strong>End.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/kebahagiaan-kini</guid>
      <pubDate>Mon, 02 Oct 2023 22:14:45 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Terima Kasih Telah Bersama</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/terima-kasih-telah-bersama?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Kazuhiko Arata × Hizamara Fauraza &amp; Reinou.&#xA;  #FaureOCs; #AraFau, #NouZa.&#xA;&#xA;   At first they didn&#39;t know each other, in the end thank you for accepting.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #OriFictArchives.&#xA;  #FaureStory; Travel Chain Universe. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Sudah dari beberapa hari yang lalu, kepala Fauraza lebih banyak memikirkan pemikiran lebih dari biasanya. Sejujurnya, menurut orang yang menjadi teman-teman dia ini, tidak begitu mengerti mengapa perubahan manusia terkadang bisa cepat, bisa berjalan lambat.&#xA;&#xA;   Meskipun, pemikirannya kacau ada satu hal yang selalu mengganggu pikiran. Hari bahagia, untuk seseorang yang telah bersamanya hingga sekarang. Kalau mengatakan hal ini, satu hal yang terpikir ialah keluarga ataupun pasangan, akan tetapi tebakan itu adalah kesalahan.&#xA;&#xA;   Sosok yang telah menemaninya, selama orang tua dan saudaranya mulai tinggal dirumah yang berbeda. Sesungguhnya, tiada hubungan khusus dari relasi mereka. Hanya sebatas orang yang telah dipercayai, tetapi bisa berada disisi dirinya.&#xA;&#xA;   Ada sekitar tujuh tahun berlalu, meski untuk mereka belum genap tujuh tahun. Dan, itulah hari bahagia yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Terkadang, solusi ataupun ide yang dia pikirkan untuk merayakan tidaklah berguna, karena terlalu biasa. Fauraza lebih suka sesuatu yang terkesan bermakna dan berharga, walau tidak begitu mewah.&#xA;&#xA;   Fauraza mengingat memori ketika pertama kali bertemu dengannya, hal yang paling menyenangkan untuk dia. Tetapi, tidak begitu menyenangkan setelah mereka bisa lebih dekat. Mungkin, Fauraza selalu beranggapan bahwa hidupnya terlalu baik sampai tidak memiliki kesedihan. Ketika sosok itu datang, dia menceritakan kesedihan, Fauraza merasa bisa rapuh dalam seketika. Setegar apapun seorang manusia, tidak ada yang lebih tegar dari Yang Maha Kuasa.&#xA;&#xA;   Semua begitu menyedihkan, tetapi juga seiring waktu berjalan terdengar menyenangkan. Larangan demi larangan, Hizamara Fauraza tersenyum dikala itu. Tidak pernah menduga, setelah sekian lamanya menjadi orang spesial dalam rumah yang dia tinggali, proses perkembangan diri figur indah itu bisa dilihat dari tahun ke tahun.&#xA;&#xA;   Untuk beberapa kejadian, Fauraza jujur tidak ingin melepaskan kehadiran manusia yang menurutnya berharga bagi dirinya. Bahkan, jika Fauraza ingin jujur, saudara laki-laki dan perempuannya selalu memutar mata malas. Mereka sudah tahu, bagaimana Fauraza bisa dengan mudah menempel dan melekat terus-menerus dengan sosok itu.&#xA;&#xA;   Terkadang, Fauraza merasa bahwa apakah mungkin dia menjadi terkekang, karena terus berada di dalam rumah? Begitu banyak pikiran yang ada di dalam otaknya. Meski begitu, dia ingin sesekali mengajak pemuda itu bisa berjalan sana-sini.&#xA;&#xA;   Ucapan miring pernah ia dengar, disaat ia berjalan berdampingan bersama pemuda itu. Jika dipikir lebih banyak lagi, seorang majikan memang tidak diperbolehkan berjalan berdampingan bersama pelayannya, bukan? Itu terdengar tidak sopan. Namun, semua gambaran itu ditepis oleh Hizamara Fauraza.&#xA;&#xA;   Saudaranya selalu lebih tegas memberi peringatan, bahwa hubungan mereka tidak bisa lebih dari itu. Namun, ada banyak cara sampai akhirnya Fauraza merasa muak tuk mendengarkan pernyataan itu.&#xA;&#xA;   Awal, mereka tidak saling mengenal. Akhir, mereka telah mengenal satu sama lain, dan sekarang telah bersama. Ya, bersama dalam satu rumah. Walaupun dikata mereka hanyalah pelayan, Fauraza mengizinkan mereka untuk mendiami tempat itu.&#xA;&#xA;   Tinggal sendiri tidak lebih baik, daripada tinggal bersama. Ada kalanya, Fauraza menyesal untuk memutuskan rumah yang berbeda dengan keluarganya, tetapi yang namanya keputusan sudah ditetapkan.&#xA;&#xA;   Fauraza mungkin terlalu memanjakan semua pelayannya, sehingga mereka terkadang selalu disuruh untuk memanggil dengan namanya saja. Terdengar agak menyebalkan, bukan?&#xA;&#xA;  Hingga, semua pemikirannya lenyap ketika ada seorang yang menyebut nama lengkap milik dia. &#34;Hizamara Fauraza, apa dirimu mendengarkanku?&#34; tuturnya, mungkin terlalu lembut sampai sang pemilik nama bahkan, tidak bisa mendengarkan panggilan itu akhirnya menoleh.&#xA;&#xA;   &#34;Ah, Kak Arata! Maafkan aku, kenapa Kak Arata berada di sini?&#34; Fauraza melirik ke sekeliling, saat ini tidak begitu banyak orang yang berkunjung ke taman kampus. Orang-orang cenderung menyukai sekumpulan mereka berkumpul dengan sesama mereka. Entah itu derajat, kelompok, jenis kelamin, tergantung dari bagaimana mereka berbaur.&#xA;&#xA;   &#34;Aku melihat dirimu dari kejauhan, melamun sedari tadi takutnya kerasukan.&#34;&#xA;&#xA;   Alis Fauraza mengerut, tidak biasanya orang yang pasangannya memberika  perilaku seperti ini. &#34;Kak Arata diajari siapa bisa seperti itu?&#34; tanya Fauraza, walaupun kesal tetapi ia berusaha menahan diri karena apa yang dikatakan oleh sosok yang  belum ada genap dua tahun menjalin hubungan dengan dirinya.&#xA;&#xA;   &#34;Tidak diajari siapa-siapa, hanya saja Yoshikazu pernah bilang seperti itu, ketika aku melamun dalam waktu lama.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Astaga! Jadi Kak Arata mempraktikannya kepadaku, begitu?&#34; balas Fauraza yang sudah terasa semakin kesal.&#xA;&#xA;   &#34;Ah, sepertinya agak menyinggung dirimu, aku minta maaf.&#34; Kazuhiko Arata memberikan reaksi mengusap leher belakangnya, sejujurnya ia mengira hal seperti itu bisa dikatakan sebagai candaan, tetapi bisa saja tidak.&#xA;&#xA;   Ah, dia lupa akan sesuatu, Tsukihiko Yoshikazu yang dia ujarkan tadi, merupakan sepupu Fauraza sebelah Ibunya, dan dia pernah mengatakan bercanda diakhir. Tetapi, dia tidak mengatakan hal itu, ia sedikit menyesal sepertinya?&#xA;&#xA;   Menghela napas panjang, &#34;Ya, tidak mengapa. Tetapi, sebaiknya jangan begitu lagi, Kak Arata. Oh, tunggu apakah aku harus protect Kak Arata dari Shika? Dia menyebalkan sekali.&#34; Fauraza menggerutu sendiri, setelah melayangkan ucapan kepadanya.&#xA;&#xA;   &#34;Tidak perlu sampai seperti itu, ya.&#34; Arata melirik ke arah Fauraza yang menyuruh dirinya untuk duduk bersamanya di taman kampus saat ini.&#xA;&#xA;   &#34;Baiklah. Ah, kebetulan sekali. Aku ingin bertanya mengenai pendapat Kak Arata, bagaimana cara membuat ulang tahun seseorang bisa berkesan?&#34; tanya Fauraza mulai mengalihkan topik pembicaraan, sebab Arata sepertinya tidak ingin membahas hal tadi.&#xA;&#xA;   Pemuda yang lebih tua satu tahun berada di hadapan melirik bingung. &#34;Ulang tahun siapa?&#34; tanya Arata, yang sepertinya ingin tahu.&#xA;&#xA;   Fauraza melupakan suatu hal. Meskipun dia pernah menceritakan sosok yang sedang berulang tahun ini, dia belum pernah menceritakan tentang hari kelahiran sosok dia. Kalau diceritakan pula, malah ia yang terlihat menyedihkan. Ia telah mengetahui cerita dibalik hari kelahiran figur indah, kini telah menemaninya sedari anak-anak tumbuh menjadi remaja.&#xA;&#xA;   &#34;Aduh, sepertinya aku lupa cerita. Kak Arata tahu Reinou pelayanku, kan?&#34; tutur Fauraza memastikan terlebih dahulu. Arata yang mengetahuinya dari Fauraza sebagai majikan pemilik nama tersebut, sekarang menganggukinya pelan.&#xA;&#xA;   Hingga, Arata sendiri menyadari, apakah mungkin kalau Fauraza sedang membahas tentang ulang tahun Reinou, pelayannya? Namun, ia urungkan pernyataan tersebut.&#xA;&#xA;   &#34;Jadi, ini tentang ulang tahun Reinou, cuma aku bosan kalau sekadar rayakan begitu. Mending sesuatu yang berkesan, daripada yang mewah. Rencananya, aku masih bingung. Antara mengajak jalan bersama terus berikan surat terima kasih untuk selama ini, atau apa.&#34;&#xA;&#xA;   Arata hanya mengulum senyum, dia sendiri sudah menyadari bahwa semenjak pertama kali Reinou diperkenalkan kepadanya, hubungan mereka lebih dekat bahkan melebihi keluarga miliknya sendiri. Rasanya iri, tetapi hubungan mereka hanyalah sebagai tunangan dan belum menikah. Memikirkan hal ini membuatnya menundukan kepala.&#xA;&#xA;   Saat ditanyai oleh Fauraza, mengapa. Arata hanya berdalih mengatakan sesuatu yang jelas-jelas, tidak langsung dipercaya. Namun, Arata terkejut karena Fauraza benar memercayainya.&#xA;&#xA;   &#34;Itu sudah bagus, kok. Kalau tidak salah, dirimu sendiri pernah bilang, jika pernah membelikan pakaian untuk dia. Bagaimana kalau ketika berjalan bersama, suruh saja Reinou gunakan pakaian tersebut?&#34; saran Arata.&#xA;&#xA;   Sebenarnya, Arata tidak banyak menyumbangkan ide. Dia meringis sewaktu mengingat dan membayangkan hal ini. Akan tetapi, untuk seorang Fauraza yang pernah sepupunya kenalkan, seperti inilah seorang Hizamara Fauraza.&#xA;&#xA;   Terbuka dengan banyak orang, berlebihan dalam memperhatikan seseorang. Terkesan seperti mengistimewakan seseorang, padahal mereka sebatas orang yang telah banyak melakukan hal bersama ataupun saling mengenal.&#xA;&#xA;   &#34;Oh iya! Jika dipikir, Reinou selalu menggunakan seragam pelayan. Sepertinya bisa menggunakan pakaian yang pernah dibeli waktu itu. Terima kasih atas sarannya, Kak Arata!&#34; ujar Fauraza dengan ukiran senyum sempurna. Sepertinya, ia sungguh senang dengan ide tersebut.&#xA;&#xA;   &#34;Ya, sama-sama. Semoga berhasil, lalu kalau boleh aku tahu kapan peristiwanya?&#34; tanya Arata lagi.&#xA;&#xA;   &#34;Hari ini, tanggal 20 September.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Eh?&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Tidak seperti Fauraza yang biasa. Bahkan, hal ini diluar dugaan menurut teman-teman yang mengenali dirinya. Meski begitu, Fauraza tetap akan membalas ketika ditanyai sesuatu oleh mereka yang berkepentingan. &#34;Dimulai dari mana ya ...,&#34; gumam Fauraza, yang sedari tadi mulai menuliskan kata-kata yang menurutnya lebih baik didengar.&#xA;&#xA;   Sejenak larut dalam pemikirannya, tetapi ia tetap berusaha fokus dengan pembelajaran. Walau apa yang dijelaskan, terkadang menjadikan dirinya seperti sesuatu yang menyebalkan. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Kondisi yang mencerminkan sosok Fauraza dikala sekarang ini.&#xA;&#xA;   Hanya terdapat beberapa mata kuliah yang dia ikuti, sehingga pulangnya tidak terlalu menjelang senja. Seharusnya ia lebih banyak bersyukur berkat hal ini. Dosen yang menjadi pembimbingnya dalam kegiatan belajar-mengajar, tidak memiliki kesibukan dan langsung mengajar di waktu yang sama setelah istirahat selesai.&#xA;&#xA;   Tidak terasa, jemputan Fauraza telah menunggu. Ah, ternyata Reinou. Fauraza melukis senyuman cerah, meskipun banyak kejadian yang membuat bibir miliknya melengkung terbalik. Ia cemberut, memikirkan banyak hal.&#xA;&#xA;   &#34;Sepertinya Nona Fauraza mengalami hari yang menyenangkan.&#34; Pelayan yang sedari tadi berada dalam pikirannya, yaitu Reinou. Meskipun bukan sebuah nama asli, dibaliknya ada pemikiran sang majikan saat memberinya nama itu. Akhirnya, Reinou mengambil alih percakapan, sembari mengendarai sebuah mobil. Sebelumnya, Reinou telah mendapatkan pelatihan sehingga sangat memungkinkan untuknya mengantar jemput sang majikan.&#xA;&#xA;   Apabila kedua orang tua, atau mungkin saudara laki-laki dari Fauraza tidak menjemputnya, maka sebagai kepala pelayan dia yang harus turun tangan. Kenapa tidak sopir saja?&#xA;&#xA;   Justru karena itu, seorang yang telah dipilih menjadi kepala pelayan tidak hanya akan mengurus keadaan di dalam rumah. Sepenuhnya mungkin terdengar seperti menguasai rumah, jikalau berbuat salah barang kali tidak sengaja maupun disengaja, maka akan berhadapan dengan sosoknya, sebelum akhirnya menemui sang majikan.&#xA;&#xA;   Multitalenta, benar sekali.&#xA;&#xA;   &#34;Hehe, tidak juga. Tetapi tahu tidak tadi, aku ketemu sama Kak Arata, loh! Dia banyak memberiku saran,&#34; sahutnya semangat dalam membalas pernyataan tersebut.&#xA;&#xA;   Reinou tetap mendengarkan, seterusnya ia menjawab, &#34;Sebuah saran? Apakah itu tentang pembelajaran?&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Eits, tidak harus tentang pembelajaran dong. Tapi, Reinou tidak perlu tahu~ Oh, iya. Setelah ini, kau luang? Aku mau jalan-jalan sama dirimu, kalau memang tidak ada kerjaan.&#34;&#xA;&#xA;   Reinou mungkin menduga, karena latar tempat di mana Fauraza bertemu dengan Arata adalah di kampus, ia menyimpulkan bahwa saran yang dimaksud ialah mengenai pembelajaran. Akan tetapi, hal yang Reinou tebak adalah kesalahan.&#xA;&#xA;   &#34;Selain menyiapkan kebutuhan Nona, sepertinya tidak ada kerjaan. Pelayan lain telah mendapat bagiannya, kemudian saya juga sudah melakukan beberapa hal untuk membantu mereka yang berkerja.&#34;&#xA;&#xA;   Ukiran senyuman terlihat sempurna. Tidak perlu diragukan lagi, jika rencana ini akan berhasil. &#34;Oke, setuju ya~ Ah, terus! Reinou sesekali gunakan pakaian yang pernah kita beli waktu itu, ya? Kita kan mau jalan-jalan, masa dirimu tetap pakai seragam pelayan.&#34; Fauraza mengatakan hal itu kepada sosok yang sedari tadi yang mengemudikan mobil.&#xA;&#xA;   &#34;Sesuai apa yang Anda perintahkan.&#34;&#xA;&#xA;   Fauraza tertawa ringan, &#34;Hei, tidak perlu seformal begitu. Namun, aku akan berterima kasih kalau dirimu melakukannya sewaktu kita jalan-jalan nanti, bagaimana?&#34; kekehnya.&#xA;&#xA;   &#34;Nona ingin kita berdua bisa berinteraksi biasa seperti teman, begitu?&#34; celetuk Reinou, yang mungkin terdengar ragu jika benar-benar mengenali kepribadian dirinya.&#xA;&#xA;   Tidak terasa dengan perjalanan yang jauh bisa lekas tiba dalam keadaan penumpangnya yang selamat. &#34;Hati-hati dalam melangkah, Nona.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Astaga, Reinou. Terima kasih,&#34; sambutnya.&#xA;&#xA;   &#34;Tentu saja. Karena ini sudah menjadi kewajiban saya, Nona.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Reinou telah menggunakan pakaian yang pernah keduanya beli. Seraya memastikan, &#34;Anda sudah siap?&#34; &#xA;&#xA;   Fauraza mengangguk semangat. Dari jauh-jauh kesempatan, ia telah menyiapkan sesuatu di dalam sakunya. Ya, seperti apa yang sudah bisa ditebak. Sesuatu yang sedari tadi membuatnya berselisih dengan pemikirannya. Benar, sesuatu itu ialah surat yang nantinya akan ia serahkan kepada Reinou, akan tetapi ia akan menikmati kebersamaan selayaknya teman.&#xA;&#xA;   &#34;Tentu saja, ayo kita pergi.&#34;&#xA;&#xA;   Mereka mulai bepergian, mirip seperti mereka yang menjalin hubungan romantis. Seperti biasa ramainya wilayah di Jepang, dipenuhi manusia yang berjalan kaki ke manapun. Keduanya memutuskan untuk berjalan kaki. Selain membuat mereka merasa sehat, sebab menggerakan seluruh anggota badan.&#xA;&#xA;   &#34;Nona—&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Panggil saja langsung, Fauraza, tidak perlu sufiks tambahan seperti biasanya. Kita yang sedang berada di luar rumah, bukan kita yang sedang berada di dalam rumah, mengerti?&#34; ucap Fauraza, mengutarakan apa yang ingin dia sampaikan.&#xA;&#xA;   &#34;Ah. Baiklah, sekarang kita akan pergi ke mana dulu?&#34; tanya Reinou.&#xA;&#xA;   Karena sang majikan yang mengajak, Reinou bertugas mengikuti dirinya. Dia sendiri tidak begitu mengerti daerah sekitar, mengingat asal dia tidak lahir di tempat saat ini ia berpijak. Meski dia mengetahui, dia tidak mau jika majikannya yang malah tersesat. Walaupun ada bantuan dari aplikasi di Smartphone.&#xA;&#xA;   &#34;Hm, aku tidak kepikiran tempat yang spesifik, sih. Apa Reinou punya saran atau tempat yang mungkin ingin dikunjungi?&#34; balik bertanya, Fauraza menawarkan Reinou mengujarkan saran.&#xA;&#xA;   &#34;Sepertinya tidak ada. Saya belum pernah memikirkan hal itu,&#34; jawab Reinou.&#xA;&#xA;   Fauraza menatap tidak heran, ia seperti sudah menduga tentang apa yang akan Reinou katakan sekarang. &#34;Kalau begitu, mau ke tempat kesukaanku?&#34; ajak Fauraza.&#xA;&#xA;   Reinou tersentak, namun bisa Fauraza lihat dengan jelas. Seolah Reinou memang benar-benar terkejut, tetapi kalau dipikir apakah Fauraza seperti orang yang tidak memiliki tempat kesukaan?&#xA;&#xA;   Terdengar tidak yakin, tegapi Reinou mengatakan, &#34;Apa saya boleh mengetahui tempat itu?&#34; Ia bertanya, memiringkan kepala. Hal ini pula membuat Fauraza tidak bisa menahan tawanya.&#xA;&#xA;   &#34;Tentu saja, tidak mengapa! Lagi pula tempat itu adalah tempat untuk pengunjung umum, jadi semua orang bisa pergi kesana. Lokasinya juga tidak jauh dari sini,&#34; sahut Fauraza.&#xA;&#xA;   &#34;Ternyata seperti itu.&#34;&#xA;&#xA;   Mereka akhirnya memutuskan tempat di mana mereka akan berjalan berdua. Meskipun mereka tidak benar seperti sepasang kekasih, namun bisa lebih dari itu karena memiliki hubungan yang sedekat keluarga. Kendati, Fauraza dan Reinou berusaha mengenal satu sama lain.&#xA;&#xA;   Hingga akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan. Sesuai apa yang Fauraza katakan, tidak jauh dari tempat mereka berpijak. Di mana sepertinya lokasi tersebut merupakan kesukaan Fauraza, sang majikan.&#xA;&#xA;   &#34;Bagaimana dengan tempatnya? Cantik dan elegan, bukan? Meskipun menggunakan biaya masuk, semua hal yang ada di dalamnya tampak menakjubkan.&#34;&#xA;&#xA;   Reinou termenung dalam keheningan. Seolah tidak biasanya, bahkan yang biasa Fauraza akan bersemangat dalam mengungkapkan beribu kata tanpa makna yang jelas, kini dia melakukan sesuatu yang berkebalikan dengan kepribadiannya sekarang. Terdiam memerhatikan polesan keindahan figur Reinou, yang merupakan pelayannya itu.&#xA;&#xA;   Hingga angin mempersembahkan pertunjukan, membuat beberapa kelopak bunga jatuh menyebar di antara para pengunjung. Tetapi, angin yang berpadukan langit senja sangat elok dalam pandangan. Fauraza tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, dan mengambil banyak ragam gambar untuk bisa dia simpan sebagai kenang-kenangan.&#xA;&#xA;   &#34;Omong-omong, Reinou. Berhubung kita sudah berada di lokasi. Aku ingin memberikan sesuatu, walau tidak bisa aku katakan itu adalah sesuatu yang spesial, mungkin.&#34; Fauraza telah berhasil memberanikan diri. Padahal, dirinya yang asli lebih percaya diri dibandingkan apapun.&#xA;&#xA;   Hanya saja, ini tentang Reinou dan semua yang berkaitan dengan pemuda itu selalu bisa membuat pikirannya kacau, serta tidak pernah merasakan ketenangan.&#xA;&#xA;   Reinou menoleh ke arah Fauraza, ia tidak menduga kalau mungkin Fauraza telah menyiapkan banyak hal seperti ini. Ia memang tidak akan bisa menduganya langsung, tetapi setelah mengingat kejadian lampau, sepertinya ia tahu alur pembicaraan ini berlangsung.&#xA;&#xA;   Rencana Fauraza untuk Reinou, tidak akan gagal, bukan?&#xA;&#xA;   &#34;Sesuatu yang Nona berikan itu, selalu spesial dimata saya. Entah apapun itu, seperti apapun rupanya. Dengan senang hati saya menerima pemberian Anda.&#34;&#xA;&#xA;   Ah, perilaku yang biasa mencerminkan dirinya terlihat.&#xA;&#xA;   &#34;Silakan,&#34; ujar Fauraza sembari memberikan sebuah surat yang telah terbungkus dengan sangat apik. Aslinya, sewaktu pulang sekolah, Fauraza sempat mendesain sesuatu, tentang suratnya. Ia tidak ingin kejadian yang seperti ini tidak memiliki makna spesial. Jangankan memiliki makna spesial, ia bahkan mengatakan mungkin tidak terasa spesial.&#xA;&#xA;   Reinou menerimanya. Kemudian, ia membaca dalam hati, tentang surat tersebut.&#xA;&#xA;   Tidak menghabiskan banyak waktu, kelopak mata Reinou tidak bisa menahannya. Rasanya ia bisa menjadi lemah seperkian detik. Sesuatu yang Fauraza katakan, sebagai majikan, sungguh menyentuh hatinya. Walau terbesit pemikiran kalau seorang Hizamara Fauraza baru pertama kali menulis surat untuk seseorang. Maka itu adalah pelayannya sendiri, Reinou. Apakah ini yang di namakan spesial bagi diri sendiri?&#xA;&#xA;   &#34;Selamat ulang tahun, Reinou.&#34;&#xA;&#xA;   Fauraza melempar senyuman kepada Reinou yang berada di hadapannya. Ia tampak menahan tangis dengan surat yang berada pada kedua tangannya yang memegang.&#xA;&#xA;   Berpikir bahwa kalau Reinou terharu dengan kata-katanya yang tidak memiliki artian khusus. Hanya mengatakan apa yang pernah dia lewati selama ini. Rasanya seperti ingin berterima kasih, tetapi diselingi oleh kalimat curhatan yang tidak berguna.&#xA;&#xA;   &#34;Sejujurnya agak menyebalkan, karena aku tidak mengetahui nama aslimu, tetapi aku tetap menyukai apapun namamu. Lalu, jika kau mempercayai diriku, apakah aku boleh mengetahui namamu untuk sekali saja? Namamu ketika dijadikan sebagai anak angkat ataupun nama aslimu disaat kau terlahir,&#34; keluh Fauraza yang mungkin sudah terlalu lama, ingin mendengarnya langsung.&#xA;&#xA;   &#34;Padahal, nama saya tidak ada spesialnya dibandingkan apa yang telah Nona berikan,&#34;  imbuh Reinou.&#xA;&#xA;   Fauraza menggelengkan kepala pelan. &#34;Jangan seperti itu, dibalik nama seorang anak, pasti ada artian tertentu. Meskipun terdengar tidak masuk akal sekalipun, pasti akan ada satu atau dua, atau bisa memiliki makna lebih,&#34; tegur Fauraza.&#xA;&#xA;   &#34;Anda memang benar, kalau begitu saya akan menjawab pertanyaan yang mungkin telah membuat penasaran,&#34; kata Reinou. Ia mengambil napas sejenak. Rasanya seperti menggumbar banyak hal berkaitan dengan sesuatu semacam privasi.&#xA;&#xA;   &#34;Ini adalah sebagai balasan yang sekiranya tidak setimpal dengan apa yang Anda berikan selama ini,&#34; lanjut Reinou dan ternyata ia masih tetap memberikan reaksi yang sama seperti tadi. Fauraza tetap mendengarkan bagaimana Reinou akan memberikan tanggapannya.&#xA;&#xA;   &#34;Perkenalkan kembali, nama asli saya adalah Yasuhiro Akira. Sesuai apa yang Nona katakan, itu adalah nama pemberian dari Ibu kandung saya yang telah tiada.&#34;&#xA;&#xA;   Fauraza hanya bisa tersenyum pahit, ketika mendengar langsung apa yang seharusnya bisa dengan kebahagiaan. Ah, kalau dipikir tidak semua hari lahir seseorang bisa berjalan dengan bahagia.&#xA;&#xA;   &#34;Sepertinya, saya telah mengingat sesuatu. Tentang diri saya, yang berusaha kabur setelah diusir oleh Ayah kandung saya. Dihari yang sama dan pada tanggal yang sama, ketika saat ini. Sudah lama meninggalkan saudara kandung saya dan hingga detik ini pun, saya belum menemukan mereka.&#34;&#xA;&#xA;   Fauraza tidak bisa menahannya. Ia memang tidak lebih tinggi dari Reinou atau bahkan tidak lebih besar darinya. Namun, Fauraza menjadikan dirinya kenyamanan terbesar untuk seorang pelayan seperti dirinya. Fauraza membuat Reinou berada dalam pelukan dirinya.&#xA;&#xA;   &#34;Baiklah, tidak perlu dilanjutkan. Aku menjadi sedih, ketika melihat dirimu yang kuanggap sebagai keluarga merasa sedih. Memang sangat menyedihkan, tetapi semua adalah kehendak takdir. Apabila dirimu tidak kabur, kita berdua tidak akan pernah bertemu. Semua kejadian, memiliki hikmah tersendiri. Jadi, ambil saja sisi positifnya.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Nona, perilaku seperti ini—&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Peluk aku dan pejamkan matamu. Ingatlah waktu ketika dirimu merasa bahagia, ingatlah semua hal yang pernah kita lalui bersama.&#34;&#xA;&#xA;   Untuk dirimu, yang telah bersama selalu. Terima kasih sudah bersama. Karena kita tidak akan tahu kapan berpisah. Nikmatilah hidup sepenuhnya, sempai kita dipisahkan oleh garis takdir. Percayalah jika, sebuah kebahagiaan itu datang dari kebersamaan.&#xA;&#xA;   End.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Kazuhiko Arata × Hizamara Fauraza &amp; Reinou.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureOCs" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureOCs</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:AraFau" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">AraFau</span></a>, <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:NouZa" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">NouZa</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>At first they didn&#39;t know each other, in the end thank you for accepting.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:OriFictArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">OriFictArchives</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureStory" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureStory</span></a>; Travel Chain Universe. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   Sudah dari beberapa hari yang lalu, kepala Fauraza lebih banyak memikirkan pemikiran lebih dari biasanya. Sejujurnya, menurut orang yang menjadi teman-teman dia ini, tidak begitu mengerti mengapa perubahan manusia terkadang bisa cepat, bisa berjalan lambat.</p>

<p>   Meskipun, pemikirannya kacau ada satu hal yang selalu mengganggu pikiran. Hari bahagia, untuk seseorang yang telah bersamanya hingga sekarang. Kalau mengatakan hal ini, satu hal yang terpikir ialah keluarga ataupun pasangan, akan tetapi tebakan itu adalah kesalahan.</p>

<p>   Sosok yang telah menemaninya, selama orang tua dan saudaranya mulai tinggal dirumah yang berbeda. Sesungguhnya, tiada hubungan khusus dari relasi mereka. Hanya sebatas orang yang telah dipercayai, tetapi bisa berada disisi dirinya.</p>

<p>   Ada sekitar tujuh tahun berlalu, meski untuk mereka belum genap tujuh tahun. Dan, itulah hari bahagia yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Terkadang, solusi ataupun ide yang dia pikirkan untuk merayakan tidaklah berguna, karena terlalu biasa. Fauraza lebih suka sesuatu yang terkesan bermakna dan berharga, walau tidak begitu mewah.</p>

<p>   Fauraza mengingat memori ketika pertama kali bertemu dengannya, hal yang paling menyenangkan untuk dia. Tetapi, tidak begitu menyenangkan setelah mereka bisa lebih dekat. Mungkin, Fauraza selalu beranggapan bahwa hidupnya terlalu baik sampai tidak memiliki kesedihan. Ketika sosok itu datang, dia menceritakan kesedihan, Fauraza merasa bisa rapuh dalam seketika. Setegar apapun seorang manusia, tidak ada yang lebih tegar dari Yang Maha Kuasa.</p>

<p>   Semua begitu menyedihkan, tetapi juga seiring waktu berjalan terdengar menyenangkan. Larangan demi larangan, Hizamara Fauraza tersenyum dikala itu. Tidak pernah menduga, setelah sekian lamanya menjadi orang spesial dalam rumah yang dia tinggali, proses perkembangan diri figur indah itu bisa dilihat dari tahun ke tahun.</p>

<p>   Untuk beberapa kejadian, Fauraza jujur tidak ingin melepaskan kehadiran manusia yang menurutnya berharga bagi dirinya. Bahkan, jika Fauraza ingin jujur, saudara laki-laki dan perempuannya selalu memutar mata malas. Mereka sudah tahu, bagaimana Fauraza bisa dengan mudah menempel dan melekat terus-menerus dengan sosok itu.</p>

<p>   Terkadang, Fauraza merasa bahwa apakah mungkin dia menjadi terkekang, karena terus berada di dalam rumah? Begitu banyak pikiran yang ada di dalam otaknya. Meski begitu, dia ingin sesekali mengajak pemuda itu bisa berjalan sana-sini.</p>

<p>   Ucapan miring pernah ia dengar, disaat ia berjalan berdampingan bersama pemuda itu. Jika dipikir lebih banyak lagi, seorang majikan memang tidak diperbolehkan berjalan berdampingan bersama pelayannya, bukan? Itu terdengar tidak sopan. Namun, semua gambaran itu ditepis oleh Hizamara Fauraza.</p>

<p>   Saudaranya selalu lebih tegas memberi peringatan, bahwa hubungan mereka tidak bisa lebih dari itu. Namun, ada banyak cara sampai akhirnya Fauraza merasa muak tuk mendengarkan pernyataan itu.</p>

<p>   Awal, mereka tidak saling mengenal. Akhir, mereka telah mengenal satu sama lain, dan sekarang telah bersama. Ya, bersama dalam satu rumah. Walaupun dikata mereka hanyalah pelayan, Fauraza mengizinkan mereka untuk mendiami tempat itu.</p>

<p>   Tinggal sendiri tidak lebih baik, daripada tinggal bersama. Ada kalanya, Fauraza menyesal untuk memutuskan rumah yang berbeda dengan keluarganya, tetapi yang namanya keputusan sudah ditetapkan.</p>

<p>   Fauraza mungkin terlalu memanjakan semua pelayannya, sehingga mereka terkadang selalu disuruh untuk memanggil dengan namanya saja. Terdengar agak menyebalkan, bukan?</p>

<p>  Hingga, semua pemikirannya lenyap ketika ada seorang yang menyebut nama lengkap milik dia. “Hizamara Fauraza, apa dirimu mendengarkanku?” tuturnya, mungkin terlalu lembut sampai sang pemilik nama bahkan, tidak bisa mendengarkan panggilan itu akhirnya menoleh.</p>

<p>   “Ah, Kak Arata! Maafkan aku, kenapa Kak Arata berada di sini?” Fauraza melirik ke sekeliling, saat ini tidak begitu banyak orang yang berkunjung ke taman kampus. Orang-orang cenderung menyukai sekumpulan mereka berkumpul dengan sesama mereka. Entah itu derajat, kelompok, jenis kelamin, tergantung dari bagaimana mereka berbaur.</p>

<p>   “Aku melihat dirimu dari kejauhan, melamun sedari tadi takutnya kerasukan.”</p>

<p>   Alis Fauraza mengerut, tidak biasanya orang yang pasangannya memberika  perilaku seperti ini. “Kak Arata diajari siapa bisa seperti itu?” tanya Fauraza, walaupun kesal tetapi ia berusaha menahan diri karena apa yang dikatakan oleh sosok yang  belum ada genap dua tahun menjalin hubungan dengan dirinya.</p>

<p>   “Tidak diajari siapa-siapa, hanya saja Yoshikazu pernah bilang seperti itu, ketika aku melamun dalam waktu lama.”</p>

<p>   “Astaga! Jadi Kak Arata mempraktikannya kepadaku, begitu?” balas Fauraza yang sudah terasa semakin kesal.</p>

<p>   “Ah, sepertinya agak menyinggung dirimu, aku minta maaf.” Kazuhiko Arata memberikan reaksi mengusap leher belakangnya, sejujurnya ia mengira hal seperti itu bisa dikatakan sebagai candaan, tetapi bisa saja tidak.</p>

<p>   Ah, dia lupa akan sesuatu, Tsukihiko Yoshikazu yang dia ujarkan tadi, merupakan sepupu Fauraza sebelah Ibunya, dan dia pernah mengatakan bercanda diakhir. Tetapi, dia tidak mengatakan hal itu, ia sedikit menyesal sepertinya?</p>

<p>   Menghela napas panjang, “Ya, tidak mengapa. Tetapi, sebaiknya jangan begitu lagi, Kak Arata. Oh, tunggu apakah aku harus <em>protect</em> Kak Arata dari Shika? Dia menyebalkan sekali.” Fauraza menggerutu sendiri, setelah melayangkan ucapan kepadanya.</p>

<p>   “Tidak perlu sampai seperti itu, ya.” Arata melirik ke arah Fauraza yang menyuruh dirinya untuk duduk bersamanya di taman kampus saat ini.</p>

<p>   “Baiklah. Ah, kebetulan sekali. Aku ingin bertanya mengenai pendapat Kak Arata, bagaimana cara membuat ulang tahun seseorang bisa berkesan?” tanya Fauraza mulai mengalihkan topik pembicaraan, sebab Arata sepertinya tidak ingin membahas hal tadi.</p>

<p>   Pemuda yang lebih tua satu tahun berada di hadapan melirik bingung. “Ulang tahun siapa?” tanya Arata, yang sepertinya ingin tahu.</p>

<p>   Fauraza melupakan suatu hal. Meskipun dia pernah menceritakan sosok yang sedang berulang tahun ini, dia belum pernah menceritakan tentang hari kelahiran sosok <em>dia.</em> Kalau diceritakan pula, malah ia yang terlihat menyedihkan. <em>Ia telah mengetahui cerita dibalik hari kelahiran figur indah</em>, kini telah menemaninya sedari anak-anak tumbuh menjadi remaja.</p>

<p>   “Aduh, sepertinya aku lupa cerita. Kak Arata tahu Reinou pelayanku, kan?” tutur Fauraza memastikan terlebih dahulu. Arata yang mengetahuinya dari Fauraza sebagai majikan pemilik nama tersebut, sekarang menganggukinya pelan.</p>

<p>   Hingga, Arata sendiri menyadari, apakah mungkin kalau Fauraza sedang membahas tentang ulang tahun Reinou, pelayannya? Namun, ia urungkan pernyataan tersebut.</p>

<p>   “Jadi, ini tentang ulang tahun Reinou, cuma aku bosan kalau sekadar rayakan begitu. Mending sesuatu yang berkesan, daripada yang mewah. Rencananya, aku masih bingung. Antara mengajak jalan bersama terus berikan surat terima kasih untuk selama ini, atau apa.”</p>

<p>   Arata hanya mengulum senyum, dia sendiri sudah menyadari bahwa semenjak pertama kali Reinou diperkenalkan kepadanya, hubungan mereka lebih dekat bahkan melebihi keluarga miliknya sendiri. Rasanya iri, tetapi hubungan mereka hanyalah sebagai <em>tunangan dan belum menikah.</em> Memikirkan hal ini membuatnya menundukan kepala.</p>

<p>   Saat ditanyai oleh Fauraza, <em>mengapa</em>. Arata hanya berdalih mengatakan sesuatu yang jelas-jelas, tidak langsung dipercaya. Namun, Arata terkejut karena Fauraza benar memercayainya.</p>

<p>   “Itu sudah bagus, kok. Kalau tidak salah, dirimu sendiri pernah bilang, jika pernah membelikan pakaian untuk dia. Bagaimana kalau ketika berjalan bersama, suruh saja Reinou gunakan pakaian tersebut?” saran Arata.</p>

<p>   Sebenarnya, Arata tidak banyak menyumbangkan ide. Dia meringis sewaktu mengingat dan membayangkan hal ini. Akan tetapi, untuk seorang Fauraza yang pernah sepupunya kenalkan, seperti inilah seorang Hizamara Fauraza.</p>

<p>   Terbuka dengan banyak orang, berlebihan dalam memperhatikan seseorang. Terkesan seperti mengistimewakan seseorang, padahal mereka sebatas orang yang telah banyak melakukan hal bersama ataupun saling mengenal.</p>

<p>   “Oh iya! Jika dipikir, Reinou selalu menggunakan seragam pelayan. Sepertinya bisa menggunakan pakaian yang pernah dibeli waktu itu. Terima kasih atas sarannya, Kak Arata!” ujar Fauraza dengan ukiran senyum sempurna. Sepertinya, ia sungguh senang dengan ide tersebut.</p>

<p>   “Ya, sama-sama. Semoga berhasil, lalu kalau boleh aku tahu kapan peristiwanya?” tanya Arata lagi.</p>

<p>   “Hari ini, tanggal 20 September.”</p>

<p>   “Eh?”</p>

<hr/>

<p>   Tidak seperti Fauraza yang biasa. Bahkan, hal ini diluar dugaan menurut teman-teman yang mengenali dirinya. Meski begitu, Fauraza tetap akan membalas ketika ditanyai sesuatu oleh mereka yang berkepentingan. “Dimulai dari mana ya ...,” gumam Fauraza, yang sedari tadi mulai menuliskan kata-kata yang menurutnya lebih baik didengar.</p>

<p>   Sejenak larut dalam pemikirannya, tetapi ia tetap berusaha fokus dengan pembelajaran. Walau apa yang dijelaskan, terkadang menjadikan dirinya seperti sesuatu yang menyebalkan. <em>Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.</em> Kondisi yang mencerminkan sosok Fauraza dikala sekarang ini.</p>

<p>   Hanya terdapat beberapa mata kuliah yang dia ikuti, sehingga pulangnya tidak terlalu menjelang senja. Seharusnya ia lebih banyak bersyukur berkat hal ini. Dosen yang menjadi pembimbingnya dalam kegiatan belajar-mengajar, tidak memiliki kesibukan dan langsung mengajar di waktu yang sama setelah istirahat selesai.</p>

<p>   Tidak terasa, jemputan Fauraza telah menunggu. <em>Ah, ternyata Reinou.</em> Fauraza melukis senyuman cerah, meskipun banyak kejadian yang membuat bibir miliknya melengkung terbalik. Ia cemberut, memikirkan banyak hal.</p>

<p>   “Sepertinya Nona Fauraza mengalami hari yang menyenangkan.” Pelayan yang sedari tadi berada dalam pikirannya, yaitu Reinou. Meskipun bukan sebuah nama asli, dibaliknya ada pemikiran sang majikan saat memberinya nama itu. Akhirnya, Reinou mengambil alih percakapan, sembari mengendarai sebuah mobil. Sebelumnya, Reinou telah mendapatkan pelatihan sehingga sangat memungkinkan untuknya mengantar jemput sang majikan.</p>

<p>   Apabila kedua orang tua, atau mungkin saudara laki-laki dari Fauraza tidak menjemputnya, maka sebagai kepala pelayan dia yang harus turun tangan. <em>Kenapa tidak sopir saja?</em></p>

<p>   Justru karena itu, seorang yang telah dipilih menjadi kepala pelayan tidak hanya akan mengurus keadaan di dalam rumah. Sepenuhnya mungkin terdengar seperti menguasai rumah, jikalau berbuat salah barang kali tidak sengaja maupun disengaja, maka akan berhadapan dengan sosoknya, sebelum akhirnya menemui sang majikan.</p>

<p>   Multitalenta, benar sekali.</p>

<p>   “Hehe, tidak juga. Tetapi tahu tidak tadi, aku ketemu sama Kak Arata, loh! Dia banyak memberiku saran,” sahutnya semangat dalam membalas pernyataan tersebut.</p>

<p>   Reinou tetap mendengarkan, seterusnya ia menjawab, “Sebuah saran? Apakah itu tentang pembelajaran?”</p>

<p>   “<em>Eits</em>, tidak harus tentang pembelajaran dong. Tapi, Reinou tidak perlu tahu~ Oh, iya. Setelah ini, kau luang? Aku mau jalan-jalan sama dirimu, kalau memang tidak ada kerjaan.”</p>

<p>   Reinou mungkin menduga, karena latar tempat di mana Fauraza bertemu dengan Arata adalah di kampus, ia menyimpulkan bahwa saran yang dimaksud ialah mengenai pembelajaran. Akan tetapi, hal yang Reinou tebak adalah kesalahan.</p>

<p>   “Selain menyiapkan kebutuhan Nona, sepertinya tidak ada kerjaan. Pelayan lain telah mendapat bagiannya, kemudian saya juga sudah melakukan beberapa hal untuk membantu mereka yang berkerja.”</p>

<p>   Ukiran senyuman terlihat sempurna. Tidak perlu diragukan lagi, jika rencana ini akan berhasil. “Oke, setuju ya~ Ah, terus! Reinou sesekali gunakan pakaian yang pernah kita beli waktu itu, ya? Kita kan mau jalan-jalan, masa dirimu tetap pakai seragam pelayan.” Fauraza mengatakan hal itu kepada sosok yang sedari tadi yang mengemudikan mobil.</p>

<p>   “Sesuai apa yang Anda perintahkan.”</p>

<p>   Fauraza tertawa ringan, “Hei, tidak perlu seformal begitu. Namun, aku akan berterima kasih kalau dirimu melakukannya sewaktu kita jalan-jalan nanti, bagaimana?” kekehnya.</p>

<p>   “Nona ingin kita berdua bisa berinteraksi biasa seperti teman, begitu?” celetuk Reinou, yang mungkin terdengar ragu jika benar-benar mengenali kepribadian dirinya.</p>

<p>   Tidak terasa dengan perjalanan yang jauh bisa lekas tiba dalam keadaan penumpangnya yang selamat. “Hati-hati dalam melangkah, Nona.”</p>

<p>   “Astaga, Reinou. Terima kasih,” sambutnya.</p>

<p>   “Tentu saja. Karena ini sudah menjadi kewajiban saya, Nona.”</p>

<hr/>

<p>   Reinou telah menggunakan pakaian yang pernah keduanya beli. Seraya memastikan, “Anda sudah siap?”</p>

<p>   Fauraza mengangguk semangat. Dari jauh-jauh kesempatan, ia telah menyiapkan sesuatu di dalam sakunya. Ya, seperti apa yang sudah bisa ditebak. Sesuatu yang sedari tadi membuatnya berselisih dengan pemikirannya. Benar, sesuatu itu ialah surat yang nantinya akan ia serahkan kepada Reinou, akan tetapi ia akan menikmati kebersamaan selayaknya teman.</p>

<p>   “Tentu saja, ayo kita pergi.”</p>

<p>   Mereka mulai bepergian, mirip seperti mereka yang menjalin hubungan romantis. Seperti biasa ramainya wilayah di Jepang, dipenuhi manusia yang berjalan kaki ke manapun. Keduanya memutuskan untuk berjalan kaki. Selain membuat mereka merasa sehat, sebab menggerakan seluruh anggota badan.</p>

<p>   “Nona—”</p>

<p>   “Panggil saja langsung, Fauraza, tidak perlu sufiks tambahan seperti biasanya. Kita yang sedang berada di luar rumah, bukan kita yang sedang berada di dalam rumah, mengerti?” ucap Fauraza, mengutarakan apa yang ingin dia sampaikan.</p>

<p>   “<em>Ah</em>. Baiklah, sekarang kita akan pergi ke mana dulu?” tanya Reinou.</p>

<p>   Karena sang majikan yang mengajak, Reinou bertugas mengikuti dirinya. Dia sendiri tidak begitu mengerti daerah sekitar, mengingat asal dia tidak lahir di tempat saat ini ia berpijak. Meski dia mengetahui, dia tidak mau jika majikannya yang malah tersesat. Walaupun ada bantuan dari <em>aplikasi</em> di <em>Smartphone</em>.</p>

<p>   “Hm, aku tidak kepikiran tempat yang spesifik, sih. Apa Reinou punya saran atau tempat yang mungkin ingin dikunjungi?” balik bertanya, Fauraza menawarkan Reinou mengujarkan saran.</p>

<p>   “Sepertinya tidak ada. Saya belum pernah memikirkan hal itu,” jawab Reinou.</p>

<p>   Fauraza menatap tidak heran, ia seperti sudah menduga tentang apa yang akan Reinou katakan sekarang. “Kalau begitu, mau ke tempat kesukaanku?” ajak Fauraza.</p>

<p>   Reinou tersentak, namun bisa Fauraza lihat dengan jelas. Seolah Reinou memang benar-benar terkejut, tetapi kalau dipikir apakah Fauraza seperti orang yang tidak memiliki tempat kesukaan?</p>

<p>   Terdengar tidak yakin, tegapi Reinou mengatakan, “Apa saya boleh mengetahui tempat itu?” Ia bertanya, memiringkan kepala. Hal ini pula membuat Fauraza tidak bisa menahan tawanya.</p>

<p>   “Tentu saja, tidak mengapa! Lagi pula tempat itu adalah tempat untuk pengunjung umum, jadi semua orang bisa pergi kesana. Lokasinya juga tidak jauh dari sini,” sahut Fauraza.</p>

<p>   “Ternyata seperti itu.”</p>

<p>   Mereka akhirnya memutuskan tempat di mana mereka akan berjalan berdua. Meskipun mereka tidak benar seperti sepasang kekasih, namun bisa lebih dari itu karena memiliki hubungan yang sedekat keluarga. Kendati, Fauraza dan Reinou berusaha mengenal satu sama lain.</p>

<p>   Hingga akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan. Sesuai apa yang Fauraza katakan, tidak jauh dari tempat mereka berpijak. Di mana sepertinya lokasi tersebut merupakan kesukaan Fauraza, sang majikan.</p>

<p>   “Bagaimana dengan tempatnya? Cantik dan elegan, bukan? Meskipun menggunakan biaya masuk, semua hal yang ada di dalamnya tampak menakjubkan.”</p>

<p>   Reinou termenung dalam keheningan. Seolah tidak biasanya, bahkan yang biasa Fauraza akan bersemangat dalam mengungkapkan beribu kata tanpa makna yang jelas, kini dia melakukan sesuatu yang berkebalikan dengan kepribadiannya sekarang. Terdiam memerhatikan polesan keindahan figur Reinou, yang merupakan pelayannya itu.</p>

<p>   Hingga angin mempersembahkan pertunjukan, membuat beberapa kelopak bunga jatuh menyebar di antara para pengunjung. Tetapi, angin yang berpadukan langit senja sangat elok dalam pandangan. Fauraza tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, dan mengambil banyak ragam gambar untuk bisa dia simpan sebagai kenang-kenangan.</p>

<p>   “Omong-omong, Reinou. Berhubung kita sudah berada di lokasi. Aku ingin memberikan sesuatu, walau tidak bisa aku katakan itu adalah sesuatu yang spesial, mungkin.” Fauraza telah berhasil memberanikan diri. Padahal, dirinya yang asli lebih percaya diri dibandingkan apapun.</p>

<p>   <em>Hanya saja, ini tentang Reinou dan semua yang berkaitan dengan pemuda itu selalu bisa membuat pikirannya kacau, serta tidak pernah merasakan ketenangan.</em></p>

<p>   Reinou menoleh ke arah Fauraza, ia tidak menduga kalau mungkin Fauraza telah menyiapkan banyak hal seperti ini. Ia memang tidak akan bisa menduganya langsung, tetapi setelah mengingat kejadian lampau, sepertinya ia tahu alur pembicaraan ini berlangsung.</p>

<p>   <em>Rencana Fauraza untuk Reinou, tidak akan gagal, bukan?</em></p>

<p>   “Sesuatu yang Nona berikan itu, selalu spesial dimata saya. Entah apapun itu, seperti apapun rupanya. Dengan senang hati saya menerima pemberian Anda.”</p>

<p>   <em>Ah, perilaku yang biasa mencerminkan dirinya terlihat.</em></p>

<p>   “Silakan,” ujar Fauraza sembari memberikan sebuah surat yang telah terbungkus dengan sangat apik. Aslinya, sewaktu pulang sekolah, Fauraza sempat mendesain sesuatu, tentang suratnya. Ia tidak ingin kejadian yang seperti ini tidak memiliki makna spesial. Jangankan memiliki makna spesial, ia bahkan mengatakan mungkin tidak terasa spesial.</p>

<p>   Reinou menerimanya. Kemudian, ia membaca dalam hati, tentang surat tersebut.</p>

<p>   Tidak menghabiskan banyak waktu, kelopak mata Reinou tidak bisa menahannya. Rasanya ia bisa menjadi lemah seperkian detik. Sesuatu yang Fauraza katakan, sebagai majikan, sungguh menyentuh hatinya. Walau terbesit pemikiran kalau seorang Hizamara Fauraza baru pertama kali menulis surat untuk seseorang. <em>Maka itu adalah pelayannya sendiri, Reinou. Apakah ini yang di namakan spesial bagi diri sendiri?</em></p>

<p>   “Selamat ulang tahun, Reinou.”</p>

<p>   Fauraza melempar senyuman kepada Reinou yang berada di hadapannya. Ia tampak menahan tangis dengan surat yang berada pada kedua tangannya yang memegang.</p>

<p>   Berpikir bahwa kalau Reinou terharu dengan kata-katanya yang tidak memiliki artian khusus. Hanya mengatakan apa yang pernah dia lewati selama ini. Rasanya seperti ingin berterima kasih, tetapi diselingi oleh kalimat curhatan yang tidak berguna.</p>

<p>   “Sejujurnya agak menyebalkan, karena aku tidak mengetahui nama aslimu, tetapi aku tetap menyukai apapun namamu. Lalu, jika kau mempercayai diriku, apakah aku boleh mengetahui namamu untuk sekali saja? Namamu ketika dijadikan sebagai anak angkat ataupun nama aslimu disaat kau terlahir,” keluh Fauraza yang mungkin sudah terlalu lama, ingin mendengarnya langsung.</p>

<p>   “Padahal, nama saya tidak ada spesialnya dibandingkan apa yang telah Nona berikan,”  imbuh Reinou.</p>

<p>   Fauraza menggelengkan kepala pelan. “Jangan seperti itu, dibalik nama seorang anak, pasti ada artian tertentu. Meskipun terdengar tidak masuk akal sekalipun, pasti akan ada satu atau dua, atau bisa memiliki makna lebih,” tegur Fauraza.</p>

<p>   “Anda memang benar, kalau begitu saya akan menjawab pertanyaan yang mungkin telah membuat penasaran,” kata Reinou. Ia mengambil napas sejenak. Rasanya seperti menggumbar banyak hal berkaitan dengan sesuatu semacam privasi.</p>

<p>   “Ini adalah sebagai balasan yang sekiranya tidak setimpal dengan apa yang Anda berikan selama ini,” lanjut Reinou dan ternyata ia masih tetap memberikan reaksi yang sama seperti tadi. Fauraza tetap mendengarkan bagaimana Reinou akan memberikan tanggapannya.</p>

<p>   <em>“Perkenalkan kembali, nama asli saya adalah Yasuhiro Akira. Sesuai apa yang Nona katakan, itu adalah nama pemberian dari Ibu kandung saya yang telah tiada.”</em></p>

<p>   Fauraza hanya bisa tersenyum pahit, ketika mendengar langsung apa yang seharusnya bisa dengan kebahagiaan. Ah, kalau dipikir tidak semua hari lahir seseorang bisa berjalan dengan bahagia.</p>

<p>   <em>“Sepertinya, saya telah mengingat sesuatu. Tentang diri saya, yang berusaha kabur setelah diusir oleh Ayah kandung saya. Dihari yang sama dan pada tanggal yang sama, ketika saat ini. Sudah lama meninggalkan saudara kandung saya dan hingga detik ini pun, saya belum menemukan mereka.”</em></p>

<p>   Fauraza tidak bisa menahannya. Ia memang tidak lebih tinggi dari Reinou atau bahkan tidak lebih besar darinya. Namun, Fauraza menjadikan dirinya kenyamanan terbesar untuk seorang pelayan seperti dirinya. Fauraza membuat Reinou berada dalam pelukan dirinya.</p>

<p>   “Baiklah, tidak perlu dilanjutkan. Aku menjadi sedih, ketika melihat dirimu yang kuanggap sebagai keluarga merasa sedih. Memang sangat menyedihkan, tetapi semua adalah kehendak takdir. <em>Apabila dirimu tidak kabur, kita berdua tidak akan pernah bertemu.</em> Semua kejadian, memiliki hikmah tersendiri. Jadi, ambil saja sisi positifnya.”</p>

<p>   “Nona, perilaku seperti ini—”</p>

<p>   “Peluk aku dan pejamkan matamu. Ingatlah waktu ketika dirimu merasa bahagia, ingatlah semua hal yang pernah kita lalui bersama.”</p>

<p>   <em>Untuk dirimu, yang telah bersama selalu. Terima kasih sudah bersama. Karena kita tidak akan tahu kapan berpisah. Nikmatilah hidup sepenuhnya, sempai kita dipisahkan oleh garis takdir. Percayalah jika, sebuah kebahagiaan itu datang dari kebersamaan.</em></p>

<p>   <strong>End.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/terima-kasih-telah-bersama</guid>
      <pubDate>Wed, 20 Sep 2023 13:53:48 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>First Meet</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/first-meet?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Kaitosawa Shuu × Inaya Zahira Shafa.&#xA;  #FaureOCs; #ShuuNaya.&#xA;&#xA;   First meeting with the woman.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #OriFictArchives.&#xA;  #FaureStory; Travel Chain Universe. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Bicara tentang sepasang kekasih, pemuda yang dahulunya bisa menjalin interaksi dan selalu dikagumi banyak perempuan, kini merasa tidak ada lagi perempuan yang seperti itu semenjak ia berkuliah.&#xA;&#xA;   Terpikirkan baginya, apakah hanya dia yang belum memiliki kekasih, sementara si adik sudah memiliki pujaan hatinya. Walau belum pernah ia melantunkan bahwa ia menyukai sosok tersebut.&#xA;&#xA;   Sepupu dan kerabatnya, sudah banyak yang menjalin kasih dengan pacar mereka, pengecualian untuk Fauraza, sepupu dari sepupunya. Hubungan mereka bisa dikatakan rumit, tetapi melihat Fauraza yang bisa menjadikan seorang lelaki untuk menjadi tunangan adalah hal yang cukup keren.&#xA;&#xA;   Walau agak memaksakan kehendak, selagi anak itu tahu risikonya, tidak masalah menurut dia. Kalaupun memang Fauraza membutuhkannya perihal cinta, ia setia untuk menolongnya. Meskipun hanya dengan kata-kata yang bisa ia ketahui, sejujurnya tidak mudah baginya untuk memahami wanita.&#xA;&#xA;   Ya, terlebih sudah terjadi kejadian seperti sesuatu yang membuat mereka harus bisa terbuka satu sama lain, serta mereka yang perlu bersikap dewasa dalam mengatasi segala permasalahan dalam percintaan masing-masing.&#xA;&#xA;   Ia tergabung dibeberapa organisasi, karena sedang berada dalam masa cuti akan pekerjaan sampingannya, tetapi dia tetap saja mengikuti kegiatan karena tidak memiliki pekerjaan selain itu. Sesekali memang pemuda itu akan mampir pulang ke rumah orang tuanya dan melepas rindu, hanya saja dengan tugas kuliah yang menyebalkan, membuat ia harus terus berduaan untuk mengurus tugas kuliah.&#xA;&#xA;   Hingga, dalam perjalanan untuk membeli sesuatu, tidak sengaja ia bertabrakan di jalan dengan seorang wanita. Kalau saja pergerakan tangannya tidak cekatan, mungkin wanita tersebut sudah hampir jatuh dengan minuman yang wanita itu pegang.&#xA;&#xA;   &#34;Ah, maafkan saya, Nona.&#34; Ia merangkul bahu dari si dara yang telah ditolong olehnya. Meskipun begitu, karena tidak mendapatkan respons membuatnya merasa canggung dengan momen tersebut.&#xA;&#xA;   Lekas, Kaitosawa Shuu, pemuda itu mulai menyingkirkan tangannya dari bahu wanita tersebut. &#34;Apakah dirimu baik-baik saja?&#34; tanyanya lagi, mulai menyadarkan figur indah dalam tatapan mata.&#xA;&#xA;   Wanita itu baru sadar dengan aksi yang laki-laki di hadapannya ini lakukan. Ia merasa malu, tetapi ia malah menganggap bahwa semua ini karena kecerobohan diri yang mana langkah kakinya tidak melangkah dengan benar.&#xA;&#xA;   &#34;Terima kasih banyak! Aku tidak apa-apa, kok. Santai saja, um, tidak perlu memanggil begitu. Panggil saja aku Inaya,&#34; sahutnya terdengar cukup lembut.&#xA;&#xA;   Shuu merasa lega dengan hal itu. Rasanya ia seperti berada dalam rekaan drama romansa yang mana ketika pertemuan pertama antara perempuan dan laki-laki bertabrakan di jalan. Walau saat ini lebih cenderung di dalam toko, saat ingin berbelanja suatu barang.&#xA;&#xA;   Sebenarnya Shuu tertegun ketika mendapati wanita di hadapannya ini malah memperkenalkan diri, belum lagi nama asing itu mirip seseorang yang mungkin menjadi kekasih dari sepupunya. Ah, itu hanya tebakannya saja. Tidak mungkin apa yang dia tebak adalah kebenarannya, bukan?&#xA;&#xA;   &#34;Inaya-san? Salam kenal. Namaku Kaitosawa Shuu, panggil saja Shuu, tidak apa-apa.&#34; &#xA;&#xA;   Ekspresi bingung mulai tercipta dari balik wajahnya. &#34;Bukankah itu akan terdengar tidak sopan? Ah, maaf. Aku akan memanggil dengan Kaitosawa-san saja, ya?&#34; gumam kecil, hingga akhirnya membalas perkenalan nama dengan menyertai panggilan yang dia sebutkan kepada pemuda itu.&#xA;&#xA;   Shuu yang tidak sengaja mendengar ucapan dari sosok yang dia tolong, kini dia menatap heran, figur wanita di hadapannya ini terlalu kaku menurutnya. Sehingga, Shuu sendiri memanggil dirinya dengan sufiks &#39;-san&#39;.&#xA;&#xA;   &#34;Tentu saja, itu tidak masalah.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Baiklah, kalau begitu. Sampai bertemu lagi, Kaitosawa-san. Aku harus kembali mengerjakan sesuatu yang tertunda. Waktu istirahatku tidak lama lagi akan berakhir,&#34; ujarnya menjelaskan.&#xA;&#xA;   Tidak tahu mengapa, tetapi wanita itu sudah melesat dengan cepat sebelum Shuu mulai membalas penjelasannya. &#34;Sudah pergi dengan cepat. Hm, apa saja yang dibutuhkan, ya? Aku harus bergegas kembali ke Kampus.&#34;&#xA;&#xA;   Shuu mulai mencari sesuatu yang akan dia beli untuk pekerjaan dalam organisasi. Selain itu, ada beberapa anggota yang menitip juga dengan dirinya. Sehingga, mereka pun masih bisa tetap membantu di sana, karena hanya satu orang saja yang pergi keluar untuk membeli barang.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   &#34;Hee?!&#34;&#xA;&#xA;   Shuu terkejut dengan reaksi teman satu organisasinya, beberapa memang pernah berada dalam satu angkatan dan merupakan teman di masa SMP maupun SMA. Hal yang tidak terduga bahwa mereka bisa berada dalam Kampus yang sama, meskipun awalnya mereka merasa heran dengan perubahan Shuu seiring waktunya.&#xA;&#xA;   Dia memang orang yang paling aktif dalam hal membicarakan wanita. Namun, untuk kali ini beberapa temannya menimbulkan ekspresi kaget yang membuat dia merasa heran sekarang.&#xA;&#xA;   &#34;Inaya-senpai, loh! Apa kau tidak mengenalinya, Shuu?&#34; tegur salah satu temannya, yang mulai merangkul bahunya.&#xA;&#xA;   &#34;Sudah begitu, ciri-cirinya sama persis dengan apa yang dikatakan. Kaitosawa-kun, beruntung bisa ketemu sama dirinya,&#34; tutur temannya yang lain.&#xA;&#xA;   &#34;Kalian kenal dengannya?&#34; Shuu mulai bertanya kepada mereka yang mulai banyak berbicara.&#xA;&#xA;   &#34;Tentu saja! Oh, astaga. Aku melupakan sesuatu, Shuu itu jarang berselancar dimedia sosial, sama seperti dulu. Jadi, Inaya-senpai sering kali masuk berita, meskipun bukan hot news seperti selebritas di luar sana. Dengar-dengar, dia itu orang dari Indonesia yang mampu menguasai bahasa Jepang meskipun tidak mahir, sewaktu SMA pernah meraih beasiswa di negara kita, yang pertukaran pelajar. Hanya saja, itu sudah bertahun-tahun lalu lamanya.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Kaitosawa-kun, lebih suka berinteraksi dengan banyak orang, sih,&#34; celetuk temannya yang lain. Ia hanya bisa tersenyum pahit.&#xA;&#xA;   &#34;Hei, justru itu lebih baik. Jadinya tidak selalu fokus dengan ponsel yang sekarang kita miliki,&#34; sahut teman lainnya yang ikut menimbrung sekarang.&#xA;&#xA;   Shuu yang menerima banyak informasi dalam sekaligus membuatnya harus dengan cepat bisa mencerna. Akan tetapi, hal itu membuat dia harus terdiam selama beberapa menit kedepannya.&#xA;&#xA;   Dia tidak menduga. Apa yang semula dia katakan ternyata berkaitan. Figur indah itu bertemu dengannya tadi adalah sosok yang teman-temannya kenali. Curang sekali. Namun, Shuu merasakan kepuasan tersendiri, ketika teman lainnya mengatakan bahwa Shuu memang dominan dalam hal berbaur dengan banyak orang.&#xA;&#xA;   Shuu sendiri tidak merasa kaget mendengarnya. Karena sejujurnya, dalam lingkungan pertemannya sudah ada sepupunya yang memiliki kekasih seorang blasteran Indonesia-Jepang. Selain itu Kakek dan Neneknya Fauraza juga demikian. Sesuatu yang sudah sangat biasa dalam hidupnya. Akan tetapi, mengenai beasiswa mungkin membuatnya merasa termenung.&#xA;&#xA;   Pasti ada banyak tes yang harus dilakukan untuk mendapatkan beasiswa seperti itu. Ada juga yang mirip seperti pertukaran pelajar, tetapi ia tidak begitu mengerti perihal itu, sehingga ia tidak akan berkomentar lebih.&#xA;&#xA;   &#34;Hei, kalian yang di sana. Lebih baik nanti saja berbicaranya setelah selesai. Waktu kita sekarang sangat terbatas,&#34; tegur seseorang yang lebih tinggi tingkatannya di antara mereka, pembimbing mereka sekaligus kakak tingkat mereka semua yang berada disana.&#xA;&#xA;   &#34;Kita lanjutkan saja nanti.&#34;&#xA;&#xA;   Mereka kembali berfokus pada pekerjaan mereka dalam organisasi tersebut. Setidaknya, Shuu sudah banyak membantu mereka membelikan barang yang dibutuhkan, tetapi tidak cukup orang jika hanya menggunakan mereka saja, yang mana artinya semua orang yang menjadi bagian dari organisasi harus berpartisipasi.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   &#34;Shuu, sepertinya aku tidak bisa tinggal di asrama hari ini. Ibuku memintaku untuk pulang ke rumah, kau tidak masalah untuk tidur sendiri, bukan?&#34; ujar seorang yang tadi banyak berbicara dengan dirinya.&#xA;&#xA;   Lokasi saat ini sudah berada di asrama Kampus mereka. Untuk asrama, mereka diperbebaskan untuk tinggal disana ataupun tinggal di rumah. Mengenai biaya sudah tergabung dalam biaya pendaftaran saat kuliah, bagi mereka yang memang membayar pribadi.&#xA;&#xA;   Shuu hanya mengulas senyum. Ia tidak mempermasalahkan hal itu. &#34;Ya, tidak masalah. Ibumu pasti rindu denganmu,&#34; balasnya, seolah mengerti mengapa Ibu dari teman dia ini meminta untuk kembali ke rumahnya. Padahal, seingatnya jarak rumah teman dia cukup jauh untuk bepergian ke Kampus.&#xA;&#xA;   Ia terlihat seperti orang yang sedang berpikir dan mulai menyetujui hal itu, kemudian berkata, &#34;Kalau dipikir, ada benarnya juga! Baiklah, sampai jumpa besok. Titip salam untuk Hiro, ya.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Hati-hati di jalan, Kana-kun. Oh, tentu akan aku sampaikan kepadanya.&#34; Menatap kepergian salah satu temannya itu, diPikirannyamenuju asrama sendiri. Dalam perjalanannya, Shuu termenung sendiri memikirkan tentang kejadian dan informasi yang baru dia terima hari ini.&#xA;&#xA;   Apakah dirinya memang seperti orang yang tidak suka dengan sesuatu dimedia sosial, karena banyak berinteraksi secara langsung? Sekarang ini, apakah ia perlu mengikut perkembangan banyak orang di berbagai media sosial? Sejujurnya, dia tidak begitu ingin menyibukan diri dengan hal itu.&#xA;&#xA;   Pikirannya sekarang ke mana-mana sudah. Hingga akhirnya, dikejutkan oleh temannya yang lain. Biar Shuu tidak mengetahui perkembangan berita di dunia maya, ia tetap bisa memiliki teman di dunia nyata. Setidaknya, dia tidak menggunakan topeng tersembunyi untuk bisa berteman dengan semua orang dan murni kebiasaannya.&#xA;&#xA;   &#34;Kaitosawa-kun!&#34; sapa temannya.&#xA;&#xA;   &#34;Ah, Chi-chan~&#34; Ia tidak lagi berekspresi murung seperti tadi, mulai membalas sapaan temannya dengan senyuman terukir pada wajah.&#xA;&#xA;   &#34;Sato-kun sudah pergi, ya? Maaf tidak ikut mengantar, karena masih ada keperluan.&#34; Shuu mengangguk pelan, menjadikan balasan dari pertanyaan tersebut.&#xA;&#xA;   Setelahnya dia melanjutkan, &#34;Dia ada titip salam kepadamu. Pasti dia memaklumi hal itu, karena dikabarnya begitu mendadak.&#34; Dia mulai merangkul bahu temannya itu.&#xA;&#xA;   &#34;Ehh? Padahal tidak perlu repot-repot sampai titip salam, lho. Aku berterima kasih kepadamu juga Kaitosawa-kun, karena sudah menyampaikannya.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Kembali kasih. Omong-omong, hari ini cukup terasa panjang, ya. Padahal, tidak ada jadwal mata kuliah hari ini, dan hanya seputar orgnisasi.&#34; Shuu kembali ke masa sebelumnya, memikirkan tentang banyak kejadian yang bisa terjadi dalam satu hari ini. Tentang semua hal yang baru bisa Shuu ketahui.&#xA;&#xA;   &#34;Hm, itu benar sekali~ Oh, iya! Kaitosawa-kun jangan dipikirkan, mengenai perkataanku tadi sewaktu kita melakukan kegiatan, ya. Aku tidak bermaksud mengatakan suatu hal yang bersifat negatif,&#34; ujar temannya yang satu ini, secara tiba-tiba menyinggung sesuatu berkenaan dengan kejadian yang telah berlalu saat tadi.&#xA;&#xA;   Shuu tidak mengerti, kenapa temannya yang satu ini malah berkata seperti itu. Ya, meskipun ia malah memikirkan pasal kejadian tadi. &#34;Soalnya, berinteraksi dengan sesama itu adalah kebiasaan yang khas dari Kaitosawa-kun. Jadi, tidak mengapa kalau dirimu tidak mengetahui perihal kejadian yang ada di dunia maya.&#34;&#xA;&#xA;   Pada dasarnya, Shuu tidak bisa mencerna mana yang harus diambil dan ia jadikan pemikiran untuk kedepannya. Menurut dia sendiri, bisa bersosialisasi dengan banyak orang adalah hal yang bagus, ketimbang diam dan menyendiri.&#xA;&#xA;   Tetapi, sekarang ini perkembangan zaman sekarang sudah banyak orang yang fokus dengan dunia maya. Sehingga, setiap kali mereka mendapati kesempatan untuk berbincang akrab, malah disibukkan dengan benda elektronik yang selalu mereka pegang setiap waktunya.&#xA;&#xA;   &#34;Apa tidak jadi masalah, Chi-chan? Diriku sekarang merasa ketinggalan banyak informasi, seperti orang yang tidak mengetahui apapun.&#34; Shuu terdiam dan tidak lagi merangkul temannya itu, Watanabe Chihiro.&#xA;&#xA;   &#34;Haish, jangan berpikir seperti itu! Aku yakin tidak akan ada masalah, dan tetaplah jadi dirimu sebagaimana biasanya, Kaitosawa-kun.&#34; Chihiro mulai menepuk pelan tubuh belakangnya Shuu.&#xA;&#xA;   &#34;Siap, di mengerti.&#34;&#xA;&#xA;   Perkataan tersebut menjadikan suasana diantara mereka menjadi lebih baik, tiada kata suram lagi yang mendominasi pikiran Shuu. Seolah dia sekarang sudah memancarkan energi positif di sekitarnya, ia sekarang bisa tersenyum tipis.&#xA;&#xA;   &#34;Lalu, apakah aku boleh bertanya satu hal kepadamu?&#34; tanya Chihiro, setelah jeda beberapa kemudian mereka memutuskan kembali lanjut berjalan.&#xA;&#xA;   Langkah kaki Shuu terhenti sejenak, ia merasa tidak nyaman kalau dia berbicara sambil berjalan. Alhasil, ia memberhentikan langkah kakinya sendiri, dan mulai mendengarkan apa yang ingin ditanyakan oleh temannya ini. &#34;Boleh, memangnya mau bertanya tentang apa?&#34; Shuu balik bertanya.&#xA;&#xA;   &#34;Mengenai Inaya-senpai, aku merasa kalau saat Sato-kun menjelaskan tentang dirinya, Kaitosawa-kun tidak terlalu kaget.&#34; Chihiro mulai penasaran mulai bertanya demikian.&#xA;&#xA;   Shuu mengusap bagian belakang lehernya. &#34;Ah, itu. Sepupuku dari sebelah keluarga Ayah, Shika, dia memiliki kekasih yang Ayahnya orang Indonesia. Jadi, sesuatu yang seperti itu tidak lagi membuatku terkejut, dan kalau terkejut mungkin bagian pertukaran pelajar dan beasiswa. Menurutku itu cukup keren! Chi-chan tahu, aku sampai bingung harus merespons seperti apa tadi.&#34; Shuu melukis senyum lebar.&#xA;&#xA;   Mendengarkan penjelasan dari Shuu secara seksama membuatnya melantunkan tawanya secara langsung. Tidak menduga kalau pernah ada orang Indonesia yang berada dalam lingkungan temannya ini. &#34;Aku setuju, Inaya-senpai sangat keren bisa mendapatkan beasiswa serta melakukan pertukaran pelajar ke negara kita.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Berarti, dirinya itu sangat pintar, bukan? Sungguh pantas jika berhasil mendapatkan beasiswa seperti itu.&#34;&#xA;&#xA;   Keduanya mengumbar senyum antara satu sama lain. Tak lama kemudian menjadi mengutarakan tawa yang perlahan tetapi pasti, menemani mereka sampai akhirnya tiba di kamar asrama masing-masing. Saat itu, Shuu satu kamar dengan temannya yang tadi harus pulang mengunjungi sang Ibu, Sato Kaname. Namun, sekarang dia hanya sendiri berhubung, sosok itu tidak bersamanya sekarang.&#xA;&#xA;   &#34;Aku semakin penasaran dengan wanita itu.&#34;&#xA;&#xA;   To Be Continued.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Kaitosawa Shuu × Inaya Zahira Shafa.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureOCs" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureOCs</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:ShuuNaya" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">ShuuNaya</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>First meeting with the woman.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:OriFictArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">OriFictArchives</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureStory" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureStory</span></a>; Travel Chain Universe. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   Bicara tentang sepasang kekasih, pemuda yang dahulunya bisa menjalin interaksi dan selalu dikagumi banyak perempuan, kini merasa tidak ada lagi perempuan yang seperti itu semenjak ia berkuliah.</p>

<p>   Terpikirkan baginya, apakah hanya dia yang belum memiliki kekasih, sementara si adik sudah memiliki pujaan hatinya. Walau belum pernah ia melantunkan bahwa ia menyukai sosok tersebut.</p>

<p>   Sepupu dan kerabatnya, sudah banyak yang menjalin kasih dengan pacar mereka, pengecualian untuk Fauraza, sepupu dari sepupunya. Hubungan mereka bisa dikatakan rumit, tetapi melihat Fauraza yang bisa menjadikan seorang lelaki untuk menjadi tunangan adalah hal yang cukup keren.</p>

<p>   Walau agak memaksakan kehendak, selagi anak itu tahu risikonya, tidak masalah menurut dia. Kalaupun memang Fauraza membutuhkannya perihal cinta, ia setia untuk menolongnya. Meskipun hanya dengan kata-kata yang bisa ia ketahui, sejujurnya tidak mudah baginya untuk memahami wanita.</p>

<p>   Ya, terlebih sudah terjadi kejadian seperti sesuatu yang membuat mereka harus bisa terbuka satu sama lain, serta mereka yang perlu bersikap dewasa dalam mengatasi segala permasalahan dalam percintaan masing-masing.</p>

<p>   Ia tergabung dibeberapa organisasi, karena sedang berada dalam masa cuti akan pekerjaan sampingannya, tetapi dia tetap saja mengikuti kegiatan karena tidak memiliki pekerjaan selain itu. Sesekali memang pemuda itu akan mampir pulang ke rumah orang tuanya dan melepas rindu, hanya saja dengan tugas kuliah yang menyebalkan, membuat ia harus terus berduaan untuk mengurus tugas kuliah.</p>

<p>   Hingga, dalam perjalanan untuk membeli sesuatu, tidak sengaja ia bertabrakan di jalan dengan seorang wanita. Kalau saja pergerakan tangannya tidak cekatan, mungkin wanita tersebut sudah hampir jatuh dengan minuman yang wanita itu pegang.</p>

<p>   “Ah, maafkan saya, Nona.” Ia merangkul bahu dari si dara yang telah ditolong olehnya. Meskipun begitu, karena tidak mendapatkan respons membuatnya merasa canggung dengan momen tersebut.</p>

<p>   Lekas, Kaitosawa Shuu, pemuda itu mulai menyingkirkan tangannya dari bahu wanita tersebut. “Apakah dirimu baik-baik saja?” tanyanya lagi, mulai menyadarkan figur indah dalam tatapan mata.</p>

<p>   Wanita itu baru sadar dengan aksi yang laki-laki di hadapannya ini lakukan. Ia merasa malu, tetapi ia malah menganggap bahwa semua ini karena kecerobohan diri yang mana langkah kakinya tidak melangkah dengan benar.</p>

<p>   “Terima kasih banyak! Aku tidak apa-apa, kok. Santai saja, <em>um</em>, tidak perlu memanggil begitu. Panggil saja aku Inaya,” sahutnya terdengar cukup lembut.</p>

<p>   Shuu merasa lega dengan hal itu. Rasanya ia seperti berada dalam rekaan drama romansa yang mana ketika pertemuan pertama antara perempuan dan laki-laki bertabrakan di jalan. Walau saat ini lebih cenderung di dalam toko, saat ingin berbelanja suatu barang.</p>

<p>   Sebenarnya Shuu tertegun ketika mendapati wanita di hadapannya ini malah memperkenalkan diri, belum lagi nama asing itu mirip seseorang yang mungkin menjadi kekasih dari sepupunya. Ah, itu hanya tebakannya saja. Tidak mungkin apa yang dia tebak adalah kebenarannya, bukan?</p>

<p>   “Inaya-<em>san</em>? Salam kenal. Namaku Kaitosawa Shuu, panggil saja Shuu, tidak apa-apa.”</p>

<p>   Ekspresi bingung mulai tercipta dari balik wajahnya. “<em>Bukankah itu akan terdengar tidak sopan?</em> Ah, maaf. Aku akan memanggil dengan Kaitosawa-<em>san</em> saja, ya?” gumam kecil, hingga akhirnya membalas perkenalan nama dengan menyertai panggilan yang dia sebutkan kepada pemuda itu.</p>

<p>   Shuu yang tidak sengaja mendengar ucapan dari sosok yang dia tolong, kini dia menatap heran, figur wanita di hadapannya ini terlalu kaku menurutnya. Sehingga, Shuu sendiri memanggil dirinya dengan <em>sufiks &#39;-san&#39;</em>.</p>

<p>   “Tentu saja, itu tidak masalah.”</p>

<p>   “Baiklah, kalau begitu. Sampai bertemu lagi, Kaitosawa-<em>san</em>. Aku harus kembali mengerjakan sesuatu yang tertunda. Waktu istirahatku tidak lama lagi akan berakhir,” ujarnya menjelaskan.</p>

<p>   Tidak tahu mengapa, tetapi wanita itu sudah melesat dengan cepat sebelum Shuu mulai membalas penjelasannya. “Sudah pergi dengan cepat. Hm, apa saja yang dibutuhkan, ya? Aku harus bergegas kembali ke Kampus.”</p>

<p>   Shuu mulai mencari sesuatu yang akan dia beli untuk pekerjaan dalam organisasi. Selain itu, ada beberapa anggota yang menitip juga dengan dirinya. Sehingga, mereka pun masih bisa tetap membantu di sana, karena hanya satu orang saja yang pergi keluar untuk membeli barang.</p>

<hr/>

<p>   “<em>Hee?!</em>“</p>

<p>   Shuu terkejut dengan reaksi teman satu organisasinya, beberapa memang pernah berada dalam satu angkatan dan merupakan teman di masa SMP maupun SMA. Hal yang tidak terduga bahwa mereka bisa berada dalam Kampus yang sama, meskipun awalnya mereka merasa heran dengan perubahan Shuu seiring waktunya.</p>

<p>   Dia memang orang yang paling aktif dalam hal membicarakan wanita. Namun, untuk kali ini beberapa temannya menimbulkan ekspresi kaget yang membuat dia merasa heran sekarang.</p>

<p>   “Inaya-<em>senpai</em>, loh! Apa kau tidak mengenalinya, Shuu?” tegur salah satu temannya, yang mulai merangkul bahunya.</p>

<p>   “Sudah begitu, ciri-cirinya sama persis dengan apa yang dikatakan. Kaitosawa-<em>kun</em>, beruntung bisa ketemu sama dirinya,” tutur temannya yang lain.</p>

<p>   “Kalian kenal dengannya?” Shuu mulai bertanya kepada mereka yang mulai banyak berbicara.</p>

<p>   “Tentu saja! Oh, astaga. Aku melupakan sesuatu, Shuu itu jarang berselancar dimedia sosial, sama seperti dulu. Jadi, Inaya-<em>senpai</em> sering kali masuk berita, meskipun bukan <em>hot news</em> seperti selebritas di luar sana. Dengar-dengar, dia itu orang dari Indonesia yang mampu menguasai bahasa Jepang meskipun tidak mahir, sewaktu SMA pernah meraih beasiswa di negara kita, yang pertukaran pelajar. Hanya saja, itu sudah bertahun-tahun lalu lamanya.”</p>

<p>   “Kaitosawa-<em>kun</em>, lebih suka berinteraksi dengan banyak orang, sih,” celetuk temannya yang lain. Ia hanya bisa tersenyum pahit.</p>

<p>   “Hei, justru itu lebih baik. Jadinya tidak selalu fokus dengan ponsel yang sekarang kita miliki,” sahut teman lainnya yang ikut menimbrung sekarang.</p>

<p>   Shuu yang menerima banyak informasi dalam sekaligus membuatnya harus dengan cepat bisa mencerna. Akan tetapi, hal itu membuat dia harus terdiam selama beberapa menit kedepannya.</p>

<p>   Dia tidak menduga. Apa yang semula dia katakan ternyata berkaitan. Figur indah itu bertemu dengannya tadi adalah sosok yang teman-temannya kenali. Curang sekali. Namun, Shuu merasakan kepuasan tersendiri, ketika teman lainnya mengatakan bahwa Shuu memang dominan dalam hal berbaur dengan banyak orang.</p>

<p>   Shuu sendiri tidak merasa kaget mendengarnya. Karena sejujurnya, dalam lingkungan pertemannya sudah ada sepupunya yang memiliki kekasih seorang blasteran Indonesia-Jepang. Selain itu Kakek dan Neneknya Fauraza juga demikian. Sesuatu yang sudah sangat biasa dalam hidupnya. Akan tetapi, mengenai beasiswa mungkin membuatnya merasa termenung.</p>

<p>   Pasti ada banyak tes yang harus dilakukan untuk mendapatkan beasiswa seperti itu. Ada juga yang mirip seperti pertukaran pelajar, tetapi ia tidak begitu mengerti perihal itu, sehingga ia tidak akan berkomentar lebih.</p>

<p>   “Hei, kalian yang di sana. Lebih baik nanti saja berbicaranya setelah selesai. Waktu kita sekarang sangat terbatas,” tegur seseorang yang lebih tinggi tingkatannya di antara mereka, pembimbing mereka sekaligus kakak tingkat mereka semua yang berada disana.</p>

<p>   “Kita lanjutkan saja nanti.”</p>

<p>   Mereka kembali berfokus pada pekerjaan mereka dalam organisasi tersebut. Setidaknya, Shuu sudah banyak membantu mereka membelikan barang yang dibutuhkan, tetapi tidak cukup orang jika hanya menggunakan mereka saja, yang mana artinya semua orang yang menjadi bagian dari organisasi harus berpartisipasi.</p>

<hr/>

<p>   “Shuu, sepertinya aku tidak bisa tinggal di asrama hari ini. Ibuku memintaku untuk pulang ke rumah, kau tidak masalah untuk tidur sendiri, bukan?” ujar seorang yang tadi banyak berbicara dengan dirinya.</p>

<p>   Lokasi saat ini sudah berada di asrama Kampus mereka. Untuk asrama, mereka diperbebaskan untuk tinggal disana ataupun tinggal di rumah. Mengenai biaya sudah tergabung dalam biaya pendaftaran saat kuliah, bagi mereka yang memang membayar pribadi.</p>

<p>   Shuu hanya mengulas senyum. Ia tidak mempermasalahkan hal itu. “Ya, tidak masalah. Ibumu pasti rindu denganmu,” balasnya, seolah mengerti mengapa Ibu dari teman dia ini meminta untuk kembali ke rumahnya. Padahal, seingatnya jarak rumah teman dia cukup jauh untuk bepergian ke Kampus.</p>

<p>   Ia terlihat seperti orang yang sedang berpikir dan mulai menyetujui hal itu, kemudian berkata, “Kalau dipikir, ada benarnya juga! Baiklah, sampai jumpa besok. Titip salam untuk Hiro, ya.”</p>

<p>   “Hati-hati di jalan, Kana-<em>kun</em>. Oh, tentu akan aku sampaikan kepadanya.” Menatap kepergian salah satu temannya itu, diPikirannyamenuju asrama sendiri. Dalam perjalanannya, Shuu termenung sendiri memikirkan tentang kejadian dan informasi yang baru dia terima hari ini.</p>

<p>   Apakah dirinya memang seperti orang yang tidak suka dengan sesuatu dimedia sosial, karena banyak berinteraksi secara langsung? Sekarang ini, apakah ia perlu mengikut perkembangan banyak orang di berbagai media sosial? Sejujurnya, dia tidak begitu ingin menyibukan diri dengan hal itu.</p>

<p>   Pikirannya sekarang ke mana-mana sudah. Hingga akhirnya, dikejutkan oleh temannya yang lain. Biar Shuu tidak mengetahui perkembangan berita di dunia maya, ia tetap bisa memiliki teman di dunia nyata. Setidaknya, dia tidak menggunakan topeng tersembunyi untuk bisa berteman dengan semua orang dan murni kebiasaannya.</p>

<p>   “Kaitosawa-<em>kun</em>!” sapa temannya.</p>

<p>   “Ah, <em>Chi-chan</em>~” Ia tidak lagi berekspresi murung seperti tadi, mulai membalas sapaan temannya dengan senyuman terukir pada wajah.</p>

<p>   “Sato-<em>kun</em> sudah pergi, ya? Maaf tidak ikut mengantar, karena masih ada keperluan.” Shuu mengangguk pelan, menjadikan balasan dari pertanyaan tersebut.</p>

<p>   Setelahnya dia melanjutkan, “Dia ada titip salam kepadamu. Pasti dia memaklumi hal itu, karena dikabarnya begitu mendadak.” Dia mulai merangkul bahu temannya itu.</p>

<p>   “<em>Ehh</em>? Padahal tidak perlu repot-repot sampai titip salam, <em>lho</em>. Aku berterima kasih kepadamu juga Kaitosawa-<em>kun</em>, karena sudah menyampaikannya.”</p>

<p>   “Kembali kasih. Omong-omong, hari ini cukup terasa panjang, ya. Padahal, tidak ada jadwal mata kuliah hari ini, dan hanya seputar orgnisasi.” Shuu kembali ke masa sebelumnya, memikirkan tentang banyak kejadian yang bisa terjadi dalam satu hari ini. Tentang semua hal yang baru bisa Shuu ketahui.</p>

<p>   “Hm, itu benar sekali~ Oh, iya! Kaitosawa-<em>kun</em> jangan dipikirkan, mengenai perkataanku tadi sewaktu kita melakukan kegiatan, ya. Aku tidak bermaksud mengatakan suatu hal yang bersifat negatif,” ujar temannya yang satu ini, secara tiba-tiba menyinggung sesuatu berkenaan dengan kejadian yang telah berlalu saat tadi.</p>

<p>   Shuu tidak mengerti, kenapa temannya yang satu ini malah berkata seperti itu. Ya, meskipun ia malah memikirkan pasal kejadian tadi. “Soalnya, berinteraksi dengan sesama itu adalah kebiasaan yang khas dari Kaitosawa-<em>kun</em>. Jadi, tidak mengapa kalau dirimu tidak mengetahui perihal kejadian yang ada di dunia maya.”</p>

<p>   Pada dasarnya, Shuu tidak bisa mencerna mana yang harus diambil dan ia jadikan pemikiran untuk kedepannya. Menurut dia sendiri, bisa bersosialisasi dengan banyak orang adalah hal yang bagus, ketimbang diam dan menyendiri.</p>

<p>   Tetapi, sekarang ini perkembangan zaman sekarang sudah banyak orang yang fokus dengan dunia maya. Sehingga, setiap kali mereka mendapati kesempatan untuk berbincang akrab, malah disibukkan dengan benda elektronik yang selalu mereka pegang setiap waktunya.</p>

<p>   “Apa tidak jadi masalah, <em>Chi-chan</em>? Diriku sekarang merasa ketinggalan banyak informasi, seperti orang yang tidak mengetahui apapun.” Shuu terdiam dan tidak lagi merangkul temannya itu, Watanabe Chihiro.</p>

<p>   “<em>Haish</em>, jangan berpikir seperti itu! Aku yakin tidak akan ada masalah, dan tetaplah jadi dirimu sebagaimana biasanya, Kaitosawa-<em>kun</em>.” Chihiro mulai menepuk pelan tubuh belakangnya Shuu.</p>

<p>   “Siap, di mengerti.”</p>

<p>   Perkataan tersebut menjadikan suasana diantara mereka menjadi lebih baik, tiada kata suram lagi yang mendominasi pikiran Shuu. Seolah dia sekarang sudah memancarkan energi positif di sekitarnya, ia sekarang bisa tersenyum tipis.</p>

<p>   “Lalu, apakah aku boleh bertanya satu hal kepadamu?” tanya Chihiro, setelah jeda beberapa kemudian mereka memutuskan kembali lanjut berjalan.</p>

<p>   Langkah kaki Shuu terhenti sejenak, ia merasa tidak nyaman kalau dia berbicara sambil berjalan. Alhasil, ia memberhentikan langkah kakinya sendiri, dan mulai mendengarkan apa yang ingin ditanyakan oleh temannya ini. “Boleh, memangnya mau bertanya tentang apa?” Shuu balik bertanya.</p>

<p>   “Mengenai Inaya-<em>senpai</em>, aku merasa kalau saat Sato-<em>kun</em> menjelaskan tentang dirinya, Kaitosawa-<em>kun</em> tidak terlalu kaget.” Chihiro mulai penasaran mulai bertanya demikian.</p>

<p>   Shuu mengusap bagian belakang lehernya. “Ah, itu. Sepupuku dari sebelah keluarga Ayah, Shika, dia memiliki kekasih yang Ayahnya orang Indonesia. Jadi, sesuatu yang seperti itu tidak lagi membuatku terkejut, dan kalau terkejut mungkin bagian pertukaran pelajar dan <em>beasiswa</em>. Menurutku itu cukup keren! <em>Chi-chan</em> tahu, aku sampai bingung harus merespons seperti apa tadi.” Shuu melukis senyum lebar.</p>

<p>   Mendengarkan penjelasan dari Shuu secara seksama membuatnya melantunkan tawanya secara langsung. Tidak menduga kalau pernah ada orang Indonesia yang berada dalam lingkungan temannya ini. “Aku setuju, Inaya-<em>senpai</em> sangat keren bisa mendapatkan beasiswa serta melakukan pertukaran pelajar ke negara kita.”</p>

<p>   “Berarti, dirinya itu sangat pintar, bukan? Sungguh pantas jika berhasil mendapatkan beasiswa seperti itu.”</p>

<p>   Keduanya mengumbar senyum antara satu sama lain. Tak lama kemudian menjadi mengutarakan tawa yang perlahan tetapi pasti, menemani mereka sampai akhirnya tiba di kamar asrama masing-masing. Saat itu, Shuu satu kamar dengan temannya yang tadi harus pulang mengunjungi sang Ibu, Sato Kaname. Namun, sekarang dia hanya sendiri berhubung, sosok itu tidak bersamanya sekarang.</p>

<p>   “Aku semakin penasaran dengan wanita itu.”</p>

<p>   <strong>To Be Continued.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/first-meet</guid>
      <pubDate>Sat, 26 Aug 2023 12:37:30 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Afeksi Nyata</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/afeksi-nyata?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Tsukihiko Yoshikazu × Hizafa Rein.&#xA;  #FaureOCs; #ShikaRei.&#xA;&#xA;   A light kiss of affection.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #OriFictArchives.&#xA;  #FaureStory; Travel Chain Universe. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Kecupan ringan pada pipi ia persembahkan, kepada sang kekasih yang entah kapan membalas perasaannya. Akan tetapi, ia akan tetap setia dengan gadis itu. Karena, anak perempuan yang telah tumbuh bersama semenjak ia masih kecil itu, merupakan cinta pertamanya, sekaligus teman masa kecilnya.&#xA;&#xA;   Dunia memang selalu mempunyai cerita untuk setiap pasangan. Ada yang bertemu dengan klise, ada juga yang bertemu dengan cara tidak baik. Tetapi, baik dan buruknya bisa dinilai kembali dengan kejadian yang memang terjadi. Dan, hal itu terjadi pula sewaktu pertama kali mereka bertemu kembali. Pertemuan yang sangat buruk.&#xA;&#xA;   Itu telah terjadi berapa tahun lamanya. Mungkin, ada sekitar satu atau dua tahun? Yang pastinya, belum tepat tiga tahun. Semenjak si gadis memutuskan untuk mengikuti Ayahnya ke negara luar, di mana negara sang Ayah lahir tanpa mengajak kembarannya.&#xA;&#xA;   Dirasa bahwa, hanya selama tiga tahun mereka menetap di sana. Tanpa pikir yang panjang, kehilangan tanpa jejak akan sangat menyakitkan hati. Tidak, bukannya ia tidak bersyukur dengan tiga tahun itu, hubungan keluarga si anak lelaki kian membaik.&#xA;&#xA;   Walaupun, tahun-tahun yang menyedihkan ia ganti dengan menghabiskan waktu bersama teman. Ia berhasil mendapatkan teman baru, tanpa melupakan teman yang lama; sosok yang pernah ia cintai dahulu.&#xA;&#xA;   Reaksi yang mungkin tidak bisa dia bayangkan, kini muncul pada air muka gadis di hadapannya. Ia tersipu malu. Bahkan, gadis tersebut tidak tahu harus berkata apapun, ketika mendapati perilaku seperti itu secara tiba-tiba.&#xA;&#xA;   &#34;Shika!&#34; serunya, &#34;Apa yang sedang kau lakukan?&#34; Ya, dia pada akhirnya bersuara sembari memegang wajahnya. Ia sungguh tidak mempercayai hal ini. Rasanya, seorang Hizafa Rein selalu bisa mengetahui gerak-geriknya selama ini. Padahal, apa yang dilakukan seorang Shika atau Tsukihiko Yoshikazu hanyalah sebatas apa yang diinginkannya saja.&#xA;&#xA;   &#34;Gift for you,&#34; ucapnya sembari menepuk pelan kepala sang gadis yang merupakan pujaan hati.&#xA;&#xA;   &#34;Hei! Hadiah macam apa itu dan hadiah untuk apa?&#34; Rein menepis tangan Yoshikazu dari atas kepalanya. Saat ini, Rein bisa menggapai tangannya karena mereka sedang duduk bersama di tempat yang Yoshikazu temukan. Entah dengan cara apa ia bisa menemukan lokasi tersebut.&#xA;&#xA;   &#34;Santai sedikit, Rein. Itu hanyalah hadiah ulang tahunmu yang sekiranya sudah sangat terlambat,&#34; balas Yoshikazu mulai mengusap-usap tangannya. &#34;Dan aku hanya meminta saran kepada sepupuku.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Kau menyebalkan, Shika. Padahal, tidak perlu memberikan hadiah, ucapan selamat pun aku akan terima,&#34; sahut Rein. Ia tidak mengerti, kenapa orang suka sekali memberikan hadiah? Padahal, sekadar kata ucapan saja sudah membuat bahagia. Namun, kalau memang ada yang berniat untuk mengucapkan, sih.&#xA;&#xA;   &#34;Kutebak, pasti diantara kedua orang itu.&#34; Entah dapat angin darimana, Rein mulai menebak demikian. Perasaan, seingat Yoshikazu tadi Rein cukup merasa malu, ah, kalau dipikir yang tadi memang sungguh memalukan.&#xA;&#xA;   Rona tipis muncul pada wajahnya Yoshikazu, ia menutup mulutnya dengan beberapa jari. Bisa saja sekarang, kepercayaan dirinya akan menghilang sekarang juga. Kebiasaan dirinya yang selalu melakukan tanpa pikir panjang, membuatnya terjebak dalam pemikiran sendiri. Hal ini sungguh membuat dirinya mencoba berpikir lebih banyak.&#xA;&#xA;   Rein mulai mengoyang-goyangkan telapak tangannya dihadapan Yoshikazu, berpikir kalau sosok yang berada di sampingnya ini malah melamun, dan benar saja!&#xA;&#xA;   &#34;Ya ampun, kau justru melamun sekarang! Hei, apakah kau mendengarkanku?&#34; tanya Rein, aga sedikit mendekati wajahnya Yoshikazu. Si pemuda yang mendapatkan atensi dari sang gadis pujaan, agak sedikit menjaga jarak akibat terkejut.&#xA;&#xA;   &#34;Eh, maaf. Rein berbicara apa?&#34; balas Yoshikazu, berusaha membuat Rein harus mengulangi tebakannya tadi. Lekas, Rein menghela napas panjang.&#xA;&#xA;   &#34;Aku tadi berbicara mengenai sepupumu, apakah yang memberikan saran adalah kedua orang itu?&#34; Rein mengulangi pernyataannya.&#xA;&#xA;   Yoshikazu mengusap leher belakangnya, yang tidak terasa apapun. Ia hanya bingung membalas apa, karena faktanya memang demikian. Yoshikazu memang tidak begitu akrab dengan sepupunya, tetapi kakaknya mungkin agak sedikit akrab dengan mereka. Alhasil, dibeberapa kesempatan ia akan mencoba untuk mengakrabkan diri. Ketika ia berada dalam organisasi atau sebuah klub.&#xA;&#xA;   Untuk kedua orang dimaksudkan adalah sepupunya dari pihak Ayah, yaitu Hizamara Fauraza, dan sepupunya dari pihak Ibu, ialah Kaitosawa Shuu. Kedua orang yang mungkin pakar akan percintaan dan kasih sayang dengan manusia di luar sana. Tetapi, belum ada keinginan untuk memiliki pacar. Namun, untuk Fauraza mungkin sedang melakukan proses pendekatan dengan sahabatnya, Kazuhiko Arata, sekaligus teman satu kelasnya saat masih di Akademi.&#xA;&#xA;   &#34;Itu benar, lebih tepatnya yang menyarankan hal tadi itu adalah Shuu-san. Kalau Fauraza hanya menyarankan diriku untuk melakukan sedikit surprise,&#34; jelas Yoshikazu. Rein menaikan alisnya, ketika mendapati pernyataannya adalah benar. Akan tetapi, sekarang &#xA;yang menjadi fokus utamanya adalah sesuatu yang dimaksudkan surprise.&#xA;&#xA;   &#34;Surprise apalagi?&#34; Yoshikazu yang ditanya hanya menaikan bahu, ia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana &#39;surprise&#39; yang dimaksudkan oleh Fauraza yang telah dikatakan kepadanya. &#34;Astaga ....&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Afeksi yang diberikan oleh Yoshikazu nyata adanya. Rein bisa mengetahui semua itu lewat tatapan matanya. Ada perasaan yang mendalam, ketika Rein tak sengaja bertatapan dengan Yoshikazu. Meskipun aslinya, Rein tidak bisa menjelaskan apa maksud dari semua pernyataan yang dia dapatkan dari orang sekitar.&#xA;&#xA;   Apakah mungkin Yoshikazu menyukainya? Menepis pemikiran mustahil tersebut, ia memang sudah berteman lama dengan Yoshikazu. Kendati, pernah melupakan sosok menawannya yang memang belum pernah bertemu kembali semenjak sepuluh tahun berlalu.&#xA;&#xA;   Rein tahu, kalau semua orang sering kali membicarakan dirinya yang mungkin selalu bisa mendapatkan perhatian dua keluarga tersorot oleh umum. Bahkan, Rain sebagai kakak kembarannya saja, tidak pernah sampai sedekat itu dengan keluarga ternama seperti dirinya.&#xA;&#xA;   Terkadang, perasaan yang bersalah yang berpotensi merusak semua hubungan mereka. Orang-orang memang tidak mengganggu secara fisik, tetapi mentalnya selalu dipertaruhkan. Kalimat menyakitkan itu terus melukai hatinya. Secara pikiran, ia selalu memprioritaskan sesuatu yang berkaitan perkataan. Tetapi, kalau semua hal terjadi tak sesuai keinginan, perlahan rapuhlah dirinya.&#xA;&#xA;   Yoshikazu memanglah teman masa kecilnya. Namun, bukan berarti ia akan selalu bersama dengan dirinya. Rasanya, untuk bersama figur tersebut saja sangat sulit. Melihat para penggemar perempuan atau mungkin laki-laki selalu mengajaknya ngobrol terlebih dahulu. Semua itu akan langsung berbanding terbalik, kalau Yoshikazu bersama dengan dirinya.&#xA;&#xA;   Selalu Yoshikazu yang memulai topik pembicaraan, untuk mengatasi rasa canggung mereka setelah beberapa tahun tidak bertemu. Dulunya, memang dia yang selalu mengutarakan terlebih dahulu. Akan tetapi, tidak semua hal di masa lalu bisa tetap sama di masa kini.&#xA;&#xA;   Yoshikazu yang dulu sangatlah pemalu. Ia adalah anak yang mudah menangis, apabila suatu kejadian itu menyangkut orang terdekatnya. Dibandingkan Rein, yang bisa terbuka hampir mirip Fauraza, tapi tidak mirip juga. Tidak tahu mengapa, semua itu malah terjadi kepadanya.&#xA;&#xA;   Apakah takdir yang Maha Kuasa membalikan kepribadian mereka? Lekas pemikiran itu ditepis mentah-mentah, karena seiring berjalannya waktu orang akan berubah. Ya, kalau memang ada usaha dari mereka juga.&#xA;&#xA;   &#34;Ah, aku lupa. Untuk yang tadi, terima kasih banyak, Shika. Padahal, aku hanya teman masa kecilmu, tetapi dirimu justru berusaha membuatku senang seperti dulu,&#34; kata Rein yang sepertinya sudah tidak bisa melanjutkan ucapannya.&#xA;&#xA;   Yoshikazu sedari tadi tetap bersamanya dan membiarkan Rein larut dalam imajinasinya, sembari mereka berkeliling kesana-kemari, sebelum memutuskan pulang. Tadinya, Yoshikazu sangat bersyukur bahwa hari itu adalah hari libur. Di mana Rein tidak akan bekerja sampingan di hari libur.&#xA;&#xA;   Akan tetapi, setelah mendengarkan pernyataan dari Rein. Hatinya terasa memanas. Semua yang terjadi usai begitu saja. Rona yang bewarna serupa dengan bunga Sakura, perlahan menghilang, ketika telinga dia mendengarkan pernyataan &#39;Aku hanya teman masa kecilmu&#39;. Apakah semua yang dilakukan, usahanya tidak membuahkan hasil?&#xA;&#xA;   Apakah ini yang selalu dihadapi oleh sepupunya—Fauraza, ketika menghadapi sosok Arata? Ah, tidak. Itu adalah dua hal yang berbeda. Tidak mampu menahan semua perasaanya, Yoshikazu tidak lagi jernih memikirkan kedepannya.&#xA;&#xA;   &#34;Rein, jangan berbicara seperti itu,&#34; kata Yoshikazu, ia mulai meraup wajah Rein. Sungguh kejutan bagi seorang Rein, mendapati perlakukan tiba-tiba dari teman masa kecilnya. Rein merasa malu sekarang. Rasanya, ia tak akan mampu menatap Yoshikazu lebih lama, akan tetapi tangan miliknya membuat mereka harus menatap satu sama lain dalam waktu lama.&#xA;&#xA;   Yoshikazu lanjut berkata, &#34;Aku ingin lebih dari teman masa kecil, Rein.&#34; Netra merah yang menatap iris mata hijau milik Rein lebih dalam dibandingkan biasanya.&#xA;&#xA;   Sekarang ia telah memantapkan hatinya, &#34;Aku memang bukan orang yang spesial dihatimu dan bukan pula seperti sepupuku, yang mungkin lebih mengetahui tentang &#39;Apa itu cinta?&#39; Bahkan, untuk melakukan hal seperti tadi bukan tanpa alasan. Meskipun menurutmu, aku adalah orang yang tidak pernah berpikir dua kali. Tetapi, semenjak kejadian itu aku telah memikirkan berulang kali.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Apa?&#34; Rein merespons dengan bibir yang kaku untuk mengeluarkan pertanyaan dari apa yang ia dapatkan saat ini. Otaknya benar-benar tidak mampu menampung apa yang dikatakan oleh Yoshikazu.&#xA;&#xA;   Untuk pertama kalinya, Yoshikazu menyinggung kalimat, &#39;apa itu cinta?&#39; Rein tidak mampu berkata-kata, yang pada akhirnya dibalas kembali oleh Yoshikazu.&#xA;&#xA;   &#34;Aku selalu menahan diri untuk mengatakan hal yang berpotensi akan membuat hancurnya hubungan kita selama ini.&#34; Yoshikazu agak gemetar mengatakan semua ini sekaligus. Ia takut kalau Rein akan menjaga jarak, setelah dirinya mengungkapkan semua ini.&#xA;&#xA;   &#34;Jujur saja, aku tidak ingin berpisah denganmu, Hizafa Rein.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   &#34;Rein, serius akan pergi?&#34; sahut anak laki-laki itu, seraya memegang ujung pakaian milik si anak gadis.&#xA;&#xA;   &#34;Sangat disayangkan memang. Tetapi, aku akan tetap pergi, Shika. Aku harap jaga dirimu baik-baik, ya? Apabila sudah waktunya tiba, aku janji akan bertemu kembali denganmu!&#34;&#xA;&#xA;   Untuk usia anak-anak, janji mereka dibuat dengan mengaitkan jari kelingking. Entah apapun janjinya, semua akan berpusat kepada janji kelingking.&#xA;&#xA;   &#34;Apa Rein mau berjanji kepadaku juga, kalau saat sudah tiba kemari, tidak akan pernah berpisah dariku?&#34; Anak itu malu-malu mengatakannya, tetapi semua perasaan malu itu ia tepis. Ia berusaha percaya diri untuk mengatakan hal itu.&#xA;&#xA;   &#34;Astaga Shika, tentu saja! Aku pasti tidak bisa berpisah dengan teman pertamaku.&#34; Rein mengukir senyum diantara mereka, walau nyatanya anak sekecil itu tetaplah merasakan sedih yang mendalam.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Yoshikazu sekarang menunduk dan menenggelamkannya di leher Rein. Dirinya tak sanggup memperlihatkan raut wajahnya. Kenangan masa lalu yang menyedihkan sekaligus menyenangkan. Perkataannya benar-benar membuat Rein terdiam di tempat.&#xA;&#xA;   Setelah dua tahun melakukan pendekatan, dan sepuluh tahun ditinggal pergi. Bagi Yoshikazu, rintangan untuk mendapatkan sosok pujaan hati sangatlah menyulitkan. Tetapi, semua itu sepadan dengan semua waktu yang berhasil mereka habiskan, layaknya teman masa kecil yang berpisah sekian lamanya.&#xA;&#xA;   Rein tidak habis pikir, semua yang melesat dari mulut Yoshikazu langsung diserap olehnya. Apakah tidak apa-apa, kalau dirinya menangis saja sekarang? Meskipun, ia kurang bisa mengekspresikan semua ini. Akan ada perasaan yang membuat dirinya tanpa sadar memperoleh berbagai macam raut muka.&#xA;&#xA;   Rein memberanikan diri untuk bertindak lebih dewasa. Meskipun mereka berdua sama usianya, akan tetapi Rein tetaplah yang lebih tua diantara mereka. &#34;Shika, apakah dirimu akan terus seperti ini?&#34; tanya Rein. Sejujurnya, ia tidak sanggup mengatakan semua itu. Tetapi, ia tidak mampu juga untuk memendam semua ini terlalu lama.&#xA;&#xA;   Yoshikazu mulai kembali seperti sedia kala. Ia telah mengambil segala oksigen yang ada didekatnya. Mencoba merilekskan pemikirannya sekarang, supaya tidak gegabah seperti tadi. &#34;Maafkan aku, seharusnya sedari dulu aku bersikap jujur kepadamu, Rein.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Shika, hal yang berlalu telah terjadi di masa lalu. Jadi, tidak apa-apa, kalau dirimu jujur sekarang. Rasanya, aku melihat sosok dirimu yang dahulu. Ah, ingatanku sudah kembali sewaktu dirimu mengatakan hal terakhir tadi,&#34; jelas Rein sembari mengutarakan senyum yang tulus.&#xA;&#xA;   &#34;Rein ....&#34; Rasa canggung kembali mendominasi. Tetapi, saat inilah sering menjadikan Rein, seperti sosok yang berbeda.&#xA;&#xA;   &#34;Untuk pertama-tama, aku akan berterima kasih sudah mengatakan itu semua. Rasanya, menyedihkan sekali kalau tadi aku sempat berpikir bahwa dirimu menyukaiku. Tetapi, bagaimana bisa itu terjadi? Aku sangat bingung membalas pernyataanmu, untuk terus bersama.&#34;&#xA;&#xA;   Yoshikazu menatap tidak percaya dengan apa yang sedang Rein katakan. &#34;Tsukihiko Yoshikazu, itu namamu. Dirimu adalah orang yang spesial bagiku, selain keluargaku dan bahkan teman-temanku. Berkat dirimu yang dulu, aku bisa lebih banyak belajar pengetahuan umum. Ketika kita bertemu semenjak kejadian itu, kau sudah memberitahukan padaku, bukan?&#34;&#xA;&#xA;   Sesuatu yang pernah Yoshikazu beritahukan. Hanyalah sewaktu pertama kali mereka bertemu di masa remaja. Rein melanjutkan ucapannya, &#34;Tentang sesuatu di masa depan, entah itu benar atau tidak. Masa sekarang adalah masa sekarang, tetapi di masa itu dirimu dan diriku tetap bisa menjalin hubungan tanpa adanya kehancuran. Bahkan, sepertinya aku lebih terbuka dibandingkan yang sebelumnya, kurasa? Aku memang tidak bisa membayangkannya.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Rein, apakah semenjak hari itu dirimu benar-benar mengalami skizofrenia? Aku sangat mengkhawatirkan dirimu.&#34; Rein hanya tersenyum simpul.&#xA;&#xA;   &#34;Aku tidak apa-apa, Shika. Tidak perlu cemas seperti itu,&#34; sahut Rein begitu lembut selayaknya yang biasa Yoshikazu dengarkan.&#xA;&#xA;   &#34;Baiklah, aku tidak akan begitu lagi. Tetapi, balasannya aku ingin mengetahui jawaban dari apa yang aku nyatakan. Rein apakah dirimu bersedia?&#34; tanya Yoshikazu, dia berusaha mengembalikan kepercayaan dirinya seperti sedia kala.&#xA;&#xA;   Rein mencoba menetralkan pikirannya lagi. Mengambil napas dan mencoba memikirkannya kembali. &#34;Selagi dirimu bisa kembali akur dengan keluargamu, dan aku diterima oleh mereka. Bagaimana?&#34;&#xA;&#xA;   Yoshikazu yang semula berharap banyak dari reaksi Rein, turut cemberut sekarang. Menurut Rein, reaksi yang dibuat oleh Yoshikazu cukup lucu. Inilah alasannya kenapa dia sering menggoda si pemuda tersebut.&#xA;&#xA;   &#34;Rein curang sekali,&#34; gerutunya.&#xA;&#xA;   &#34;Aku hanya bercanda—&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Untuk yang terakhir, aku akan usahakan demi dirimu.&#34; Yoshikazu mengatakan hal itu, seraya memotong ucapan Rein tadi. Walau Yoshikazu sedikit kecewa karena Rein justru mengatakan kalau persetujuan tadi itu, sekadar bercanda. Sekarang, dia menatap Rein yang sepertinya tertegun berkat dia.&#xA;&#xA;   &#34;Maafkan diriku, yang sedari dulu selalu tarik-ulur, dengan hubungan lebih dari teman. Bahwa, aku memang masih saja merasakan bingung dengan apa yang aku sendiri rasakan. Namun, aku tetap tidak bisa menyembunyikan perasaan yang sangat menyenangkan, ketika bisa bersama denganmu.&#34;&#xA;&#xA;   Saat itu juga, Yoshikazu tertegun atas pernyataan yang dibuat oleh Rein. Ia sungguh tidak mengira bahwa perasaannya terhadap Rein dapat terbalaskan detik itu juga. Walau dengan perilaku yang awalnya sedikit buruk. Entah mengapa hanya dengan pernyataan tersebutlah, hati mereka justru bisa terasa tenang dan nyaman.&#xA;&#xA;   Untuk kedepannya, semoga kita bisa lebih jujur terhadap diri sendiri. Selagi, kita mencoba memahami diri masing-masing.&#xA;&#xA;   Itulah harapan yang bersumber dari hati terdalam mereka. Memang tidak diungkapkan, tetapi lewat senyuman tulus keduanya sudah dapat terpancarkan.&#xA;&#xA;   &#34;Terima kasih, Rein. Apakah dirimu sekarang tidak keberatan, jikalau menjadi kekasihku?&#34; Sungguh diluar dugaan. Yoshikazu yang dulunya pemalu sekarang bisa menjadi percaya diri terhadap segaka macam perkataan yang dilontarkan.&#xA;&#xA;   &#34;Tentu saja ... dan aku sudah menepati janjiku yang dulu, benar?&#34; Rein agak ragu, tetapi hanya sekilas itulah yang bisa dia ketahui.&#xA;&#xA;   &#34;Semua janji yang pernah dibuat telah tercapai, Rein.&#34; Yoshikazu mencoba membuat Rein jatuh kedalam pelukannya, sembari ia mengelus rambut bagian belakang milik Rein yang begitu lembut.&#xA;&#xA;   &#34;Baiklah, sudah waktunya kita kembali pulang ke rumah.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Rumahku?&#34; gurau Yoshikazu. &#xA;&#xA;   &#34;Rumah masing-masing, hei!&#34;&#xA;&#xA;   End.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Tsukihiko Yoshikazu × Hizafa Rein.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureOCs" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureOCs</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:ShikaRei" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">ShikaRei</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>A light kiss of affection.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:OriFictArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">OriFictArchives</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureStory" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureStory</span></a>; Travel Chain Universe. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   Kecupan ringan pada pipi ia persembahkan, kepada sang kekasih yang entah kapan membalas perasaannya. Akan tetapi, ia akan tetap setia dengan gadis itu. Karena, anak perempuan yang telah tumbuh bersama semenjak ia masih kecil itu, merupakan cinta pertamanya, sekaligus teman masa kecilnya.</p>

<p>   Dunia memang selalu mempunyai cerita untuk setiap pasangan. Ada yang bertemu dengan <em>klise</em>, ada juga yang bertemu dengan cara tidak baik. Tetapi, baik dan buruknya bisa dinilai kembali dengan kejadian yang memang terjadi. Dan, hal itu terjadi pula sewaktu pertama kali mereka bertemu kembali. Pertemuan yang sangat buruk.</p>

<p>   Itu telah terjadi berapa tahun lamanya. Mungkin, ada sekitar satu atau dua tahun? Yang pastinya, belum tepat tiga tahun. Semenjak si gadis memutuskan untuk mengikuti Ayahnya ke negara luar, di mana negara sang Ayah lahir tanpa mengajak kembarannya.</p>

<p>   Dirasa bahwa, hanya selama tiga tahun mereka menetap di sana. Tanpa pikir yang panjang, kehilangan tanpa jejak akan sangat menyakitkan hati. Tidak, bukannya ia tidak bersyukur dengan tiga tahun itu, hubungan keluarga si anak lelaki kian membaik.</p>

<p>   Walaupun, tahun-tahun yang menyedihkan ia ganti dengan menghabiskan waktu bersama teman. Ia berhasil mendapatkan teman baru, tanpa melupakan teman yang lama; sosok yang pernah ia cintai dahulu.</p>

<p>   Reaksi yang mungkin tidak bisa dia bayangkan, kini muncul pada air muka gadis di hadapannya. <em>Ia tersipu malu.</em> Bahkan, gadis tersebut tidak tahu harus berkata apapun, ketika mendapati perilaku seperti itu secara tiba-tiba.</p>

<p>   “Shika!” serunya, “Apa yang sedang kau lakukan?” Ya, dia pada akhirnya bersuara sembari memegang wajahnya. Ia sungguh tidak mempercayai hal ini. Rasanya, seorang Hizafa Rein selalu bisa mengetahui gerak-geriknya selama ini. Padahal, apa yang dilakukan seorang Shika atau Tsukihiko Yoshikazu hanyalah sebatas apa yang diinginkannya saja.</p>

<p>   “<em>Gift for you</em>,” ucapnya sembari menepuk pelan kepala sang gadis yang merupakan pujaan hati.</p>

<p>   “Hei! Hadiah macam apa itu dan hadiah untuk apa?” Rein menepis tangan Yoshikazu dari atas kepalanya. Saat ini, Rein bisa menggapai tangannya karena mereka sedang duduk bersama di tempat yang Yoshikazu temukan. Entah dengan cara apa ia bisa menemukan lokasi tersebut.</p>

<p>   “Santai sedikit, Rein. Itu hanyalah hadiah ulang tahunmu yang sekiranya sudah sangat terlambat,” balas Yoshikazu mulai mengusap-usap tangannya. “Dan aku hanya meminta saran kepada sepupuku.”</p>

<p>   “Kau menyebalkan, Shika. Padahal, tidak perlu memberikan hadiah, ucapan selamat pun aku akan terima,” sahut Rein. Ia tidak mengerti, kenapa orang suka sekali memberikan hadiah? Padahal, sekadar kata ucapan saja sudah membuat bahagia. Namun, kalau memang ada yang berniat untuk mengucapkan, <em>sih</em>.</p>

<p>   “Kutebak, pasti diantara kedua orang itu.” Entah dapat angin darimana, Rein mulai menebak demikian. Perasaan, seingat Yoshikazu tadi Rein cukup merasa malu, <em>ah, kalau dipikir yang tadi memang sungguh memalukan</em>.</p>

<p>   Rona tipis muncul pada wajahnya Yoshikazu, ia menutup mulutnya dengan beberapa jari. Bisa saja sekarang, kepercayaan dirinya akan menghilang sekarang juga. Kebiasaan dirinya yang selalu melakukan tanpa pikir panjang, membuatnya terjebak dalam pemikiran sendiri. Hal ini sungguh membuat dirinya mencoba berpikir lebih banyak.</p>

<p>   Rein mulai mengoyang-goyangkan telapak tangannya dihadapan Yoshikazu, berpikir kalau sosok yang berada di sampingnya ini malah melamun, dan benar saja!</p>

<p>   “Ya ampun, kau justru melamun sekarang! Hei, apakah kau mendengarkanku?” tanya Rein, aga sedikit mendekati wajahnya Yoshikazu. Si pemuda yang mendapatkan atensi dari sang gadis pujaan, agak sedikit menjaga jarak akibat terkejut.</p>

<p>   “Eh, maaf. Rein berbicara apa?” balas Yoshikazu, berusaha membuat Rein harus mengulangi tebakannya tadi. Lekas, Rein menghela napas panjang.</p>

<p>   “Aku tadi berbicara mengenai sepupumu, apakah yang memberikan saran adalah kedua orang itu?” Rein mengulangi pernyataannya.</p>

<p>   Yoshikazu mengusap leher belakangnya, yang tidak terasa apapun. Ia hanya bingung membalas apa, karena faktanya memang demikian. Yoshikazu memang tidak begitu akrab dengan sepupunya, tetapi kakaknya mungkin agak sedikit akrab dengan mereka. Alhasil, dibeberapa kesempatan ia akan mencoba untuk mengakrabkan diri. Ketika ia berada dalam organisasi atau sebuah klub.</p>

<p>   Untuk kedua orang dimaksudkan adalah sepupunya dari pihak Ayah, yaitu Hizamara Fauraza, dan sepupunya dari pihak Ibu, ialah Kaitosawa Shuu. Kedua orang yang mungkin pakar akan percintaan dan kasih sayang dengan manusia di luar sana. Tetapi, belum ada keinginan untuk memiliki pacar. Namun, untuk Fauraza mungkin sedang melakukan proses pendekatan dengan sahabatnya, Kazuhiko Arata, sekaligus teman satu kelasnya saat masih di Akademi.</p>

<p>   “Itu benar, lebih tepatnya yang menyarankan hal tadi itu adalah Shuu-<em>san</em>. Kalau Fauraza hanya menyarankan diriku untuk melakukan sedikit <em>surprise</em>,” jelas Yoshikazu. Rein menaikan alisnya, ketika mendapati pernyataannya adalah benar. Akan tetapi, sekarang
yang menjadi fokus utamanya adalah sesuatu yang dimaksudkan <em>surprise</em>.</p>

<p>   “<em>Surprise</em> apalagi?” Yoshikazu yang ditanya hanya menaikan bahu, ia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana &#39;<em>surprise</em>&#39; yang dimaksudkan oleh Fauraza yang telah dikatakan kepadanya. “Astaga ....”</p>

<hr/>

<p>   Afeksi yang diberikan oleh Yoshikazu nyata adanya. Rein bisa mengetahui semua itu lewat tatapan matanya. Ada perasaan yang mendalam, ketika Rein tak sengaja bertatapan dengan Yoshikazu. Meskipun aslinya, Rein tidak bisa menjelaskan apa maksud dari semua pernyataan yang dia dapatkan dari orang sekitar.</p>

<p>   <em>Apakah mungkin Yoshikazu menyukainya?</em> Menepis pemikiran mustahil tersebut, ia memang sudah berteman lama dengan Yoshikazu. Kendati, pernah melupakan sosok menawannya yang memang belum pernah bertemu kembali semenjak sepuluh tahun berlalu.</p>

<p>   Rein tahu, kalau semua orang sering kali membicarakan dirinya yang mungkin selalu bisa mendapatkan perhatian dua keluarga tersorot oleh umum. Bahkan, Rain sebagai kakak kembarannya saja, tidak pernah sampai sedekat itu dengan keluarga ternama seperti dirinya.</p>

<p>   Terkadang, perasaan yang bersalah yang berpotensi merusak semua hubungan mereka. Orang-orang memang tidak mengganggu secara fisik, tetapi mentalnya selalu dipertaruhkan. Kalimat menyakitkan itu terus melukai hatinya. Secara pikiran, ia selalu memprioritaskan sesuatu yang berkaitan perkataan. Tetapi, kalau semua hal terjadi tak sesuai keinginan, <em>perlahan rapuhlah dirinya.</em></p>

<p>   Yoshikazu memanglah teman masa kecilnya. Namun, bukan berarti ia akan selalu bersama dengan dirinya. Rasanya, untuk bersama figur tersebut saja sangat sulit. Melihat para penggemar perempuan atau mungkin laki-laki selalu mengajaknya ngobrol terlebih dahulu. Semua itu akan langsung berbanding terbalik, kalau Yoshikazu bersama dengan dirinya.</p>

<p>   Selalu Yoshikazu yang memulai topik pembicaraan, untuk mengatasi rasa canggung mereka setelah beberapa tahun tidak bertemu. Dulunya, memang dia yang selalu mengutarakan terlebih dahulu. Akan tetapi, tidak semua hal di masa lalu bisa tetap sama di masa kini.</p>

<p>   Yoshikazu yang dulu sangatlah pemalu. Ia adalah anak yang mudah menangis, apabila suatu kejadian itu menyangkut orang terdekatnya. Dibandingkan Rein, yang bisa terbuka hampir mirip Fauraza, tapi tidak mirip juga. Tidak tahu mengapa, semua itu malah terjadi kepadanya.</p>

<p>   Apakah takdir yang Maha Kuasa membalikan kepribadian mereka? Lekas pemikiran itu ditepis mentah-mentah, karena seiring berjalannya waktu orang akan berubah. <em>Ya, kalau memang ada usaha dari mereka juga.</em></p>

<p>   “Ah, aku lupa. Untuk yang tadi, terima kasih banyak, Shika. Padahal, <em>aku hanya teman masa kecilmu</em>, tetapi dirimu justru <em>berusaha membuatku senang seperti dulu</em>,” kata Rein yang sepertinya sudah tidak bisa melanjutkan ucapannya.</p>

<p>   Yoshikazu sedari tadi tetap bersamanya dan membiarkan Rein larut dalam imajinasinya, sembari mereka berkeliling kesana-kemari, sebelum memutuskan pulang. Tadinya, Yoshikazu sangat bersyukur bahwa hari itu adalah hari libur. Di mana Rein tidak akan bekerja sampingan di hari libur.</p>

<p>   Akan tetapi, setelah mendengarkan pernyataan dari Rein. Hatinya terasa memanas. Semua yang terjadi usai begitu saja. Rona yang bewarna serupa dengan bunga Sakura, perlahan menghilang, ketika telinga dia mendengarkan pernyataan &#39;<em>Aku hanya teman masa kecilmu</em>&#39;. Apakah semua yang dilakukan, usahanya tidak membuahkan hasil?</p>

<p>   Apakah ini yang selalu dihadapi oleh sepupunya—Fauraza, ketika menghadapi sosok Arata? <em>Ah, tidak. Itu adalah dua hal yang berbeda.</em> Tidak mampu menahan semua perasaanya, Yoshikazu tidak lagi jernih memikirkan kedepannya.</p>

<p>   “Rein, jangan berbicara seperti itu,” kata Yoshikazu, ia mulai meraup wajah Rein. Sungguh kejutan bagi seorang Rein, mendapati perlakukan tiba-tiba dari teman masa kecilnya. Rein merasa malu sekarang. Rasanya, ia tak akan mampu menatap Yoshikazu lebih lama, akan tetapi tangan miliknya membuat mereka harus menatap satu sama lain dalam waktu lama.</p>

<p>   Yoshikazu lanjut berkata, “Aku ingin lebih dari teman masa kecil, Rein.” Netra merah yang menatap iris mata hijau milik Rein lebih dalam dibandingkan biasanya.</p>

<p>   Sekarang ia telah memantapkan hatinya, “Aku memang bukan orang yang spesial dihatimu dan bukan pula seperti sepupuku, yang mungkin lebih mengetahui tentang &#39;<em>Apa itu cinta?</em>&#39; Bahkan, untuk melakukan hal seperti tadi bukan tanpa alasan. Meskipun menurutmu, aku adalah orang yang tidak pernah berpikir dua kali. Tetapi, semenjak kejadian itu aku telah memikirkan berulang kali.”</p>

<p>   “Apa?” Rein merespons dengan bibir yang kaku untuk mengeluarkan pertanyaan dari apa yang ia dapatkan saat ini. Otaknya benar-benar tidak mampu menampung apa yang dikatakan oleh Yoshikazu.</p>

<p>   Untuk pertama kalinya, Yoshikazu menyinggung kalimat, &#39;<em>apa itu cinta?</em>&#39; Rein tidak mampu berkata-kata, yang pada akhirnya dibalas kembali oleh Yoshikazu.</p>

<p>   “Aku selalu menahan diri untuk mengatakan hal yang berpotensi akan membuat hancurnya hubungan kita selama ini.” Yoshikazu agak gemetar mengatakan semua ini sekaligus. Ia takut kalau Rein akan menjaga jarak, setelah dirinya mengungkapkan semua ini.</p>

<p>   “Jujur saja, <em>aku tidak ingin berpisah denganmu</em>, Hizafa Rein.”</p>

<hr/>

<p>   <em>“Rein, serius akan pergi?” sahut anak laki-laki itu, seraya memegang ujung pakaian milik si anak gadis.</em></p>

<p>   <em>“Sangat disayangkan memang. Tetapi, aku akan tetap pergi, Shika. Aku harap jaga dirimu baik-baik, ya? Apabila sudah waktunya tiba, aku janji akan bertemu kembali denganmu!”</em></p>

<p>   <em>Untuk usia anak-anak, janji mereka dibuat dengan mengaitkan jari kelingking. Entah apapun janjinya, semua akan berpusat kepada janji kelingking.</em></p>

<p>   <em>“Apa Rein mau berjanji kepadaku juga, kalau saat sudah tiba kemari, tidak akan pernah berpisah dariku?” Anak itu malu-malu mengatakannya, tetapi semua perasaan malu itu ia tepis. Ia berusaha percaya diri untuk mengatakan hal itu.</em></p>

<p>   <em>“Astaga Shika, tentu saja! Aku pasti tidak bisa berpisah dengan teman pertamaku.” Rein mengukir senyum diantara mereka, walau nyatanya anak sekecil itu tetaplah merasakan sedih yang mendalam.</em></p>

<hr/>

<p>   Yoshikazu sekarang menunduk dan menenggelamkannya di leher Rein. Dirinya tak sanggup memperlihatkan raut wajahnya. Kenangan masa lalu yang menyedihkan sekaligus menyenangkan. Perkataannya benar-benar membuat Rein terdiam di tempat.</p>

<p>   Setelah dua tahun melakukan pendekatan, dan sepuluh tahun ditinggal pergi. Bagi Yoshikazu, rintangan untuk mendapatkan sosok pujaan hati sangatlah menyulitkan. Tetapi, semua itu sepadan dengan semua waktu yang berhasil mereka habiskan, <em>layaknya teman masa kecil yang berpisah sekian lamanya.</em></p>

<p>   Rein tidak habis pikir, semua yang melesat dari mulut Yoshikazu langsung diserap olehnya. Apakah tidak apa-apa, kalau dirinya menangis saja sekarang? Meskipun, ia kurang bisa mengekspresikan semua ini. Akan ada perasaan yang membuat dirinya tanpa sadar memperoleh berbagai macam raut muka.</p>

<p>   Rein memberanikan diri untuk bertindak lebih dewasa. Meskipun mereka berdua sama usianya, akan tetapi Rein tetaplah yang lebih tua diantara mereka. “Shika, apakah dirimu akan terus seperti ini?” tanya Rein. Sejujurnya, ia tidak sanggup mengatakan semua itu. Tetapi, ia tidak mampu juga untuk memendam semua ini terlalu lama.</p>

<p>   Yoshikazu mulai kembali seperti sedia kala. Ia telah mengambil segala oksigen yang ada didekatnya. Mencoba merilekskan pemikirannya sekarang, supaya tidak gegabah seperti tadi. “Maafkan aku, seharusnya sedari dulu aku bersikap jujur kepadamu, Rein.”</p>

<p>   “Shika, hal yang berlalu telah terjadi di masa lalu. Jadi, tidak apa-apa, kalau dirimu jujur sekarang. Rasanya, aku melihat sosok dirimu yang dahulu. Ah, ingatanku sudah kembali sewaktu dirimu mengatakan hal terakhir tadi,” jelas Rein sembari mengutarakan senyum yang tulus.</p>

<p>   “Rein ....” Rasa canggung kembali mendominasi. Tetapi, saat inilah sering menjadikan Rein, seperti sosok yang berbeda.</p>

<p>   “Untuk pertama-tama, aku akan berterima kasih sudah mengatakan itu semua. Rasanya, menyedihkan sekali kalau tadi aku sempat berpikir bahwa dirimu menyukaiku. Tetapi, bagaimana bisa itu terjadi? Aku sangat bingung membalas pernyataanmu, untuk terus bersama.”</p>

<p>   Yoshikazu menatap tidak percaya dengan apa yang sedang Rein katakan. “Tsukihiko Yoshikazu, itu namamu. Dirimu adalah orang yang spesial bagiku, selain keluargaku dan bahkan teman-temanku. Berkat dirimu yang dulu, aku bisa lebih banyak belajar pengetahuan umum. Ketika kita bertemu semenjak kejadian itu, kau sudah memberitahukan padaku, bukan?”</p>

<p>   Sesuatu yang pernah Yoshikazu beritahukan. Hanyalah sewaktu pertama kali mereka bertemu di masa remaja. Rein melanjutkan ucapannya, “Tentang sesuatu di masa depan, entah itu benar atau tidak. Masa sekarang adalah masa sekarang, tetapi di masa itu dirimu dan diriku tetap bisa menjalin hubungan tanpa adanya kehancuran. Bahkan, sepertinya aku lebih terbuka dibandingkan yang sebelumnya, kurasa? Aku memang tidak bisa membayangkannya.”</p>

<p>   “Rein, apakah semenjak hari itu dirimu benar-benar mengalami <em>skizofrenia</em>? Aku sangat mengkhawatirkan dirimu.” Rein hanya tersenyum simpul.</p>

<p>   “Aku tidak apa-apa, Shika. Tidak perlu cemas seperti itu,” sahut Rein begitu lembut selayaknya yang biasa Yoshikazu dengarkan.</p>

<p>   “Baiklah, aku tidak akan begitu lagi. Tetapi, balasannya aku ingin mengetahui jawaban dari apa yang aku nyatakan. Rein apakah dirimu bersedia?” tanya Yoshikazu, dia berusaha mengembalikan kepercayaan dirinya seperti sedia kala.</p>

<p>   Rein mencoba menetralkan pikirannya lagi. Mengambil napas dan mencoba memikirkannya kembali. “Selagi dirimu bisa kembali akur dengan keluargamu, dan aku diterima oleh mereka. Bagaimana?”</p>

<p>   Yoshikazu yang semula berharap banyak dari reaksi Rein, turut cemberut sekarang. Menurut Rein, reaksi yang dibuat oleh Yoshikazu cukup lucu. Inilah alasannya kenapa dia sering menggoda si pemuda tersebut.</p>

<p>   “Rein curang sekali,” gerutunya.</p>

<p>   “Aku hanya bercanda—”</p>

<p>   “Untuk yang terakhir, aku akan usahakan demi dirimu.” Yoshikazu mengatakan hal itu, seraya memotong ucapan Rein tadi. Walau Yoshikazu sedikit kecewa karena Rein justru mengatakan kalau persetujuan tadi itu, sekadar bercanda. Sekarang, dia menatap Rein yang sepertinya tertegun berkat dia.</p>

<p>   “Maafkan diriku, yang sedari dulu selalu tarik-ulur, dengan hubungan lebih dari teman. Bahwa, aku memang masih saja merasakan bingung dengan apa yang aku sendiri rasakan. Namun, aku tetap tidak bisa menyembunyikan perasaan yang sangat menyenangkan, ketika bisa bersama denganmu.”</p>

<p>   Saat itu juga, Yoshikazu tertegun atas pernyataan yang dibuat oleh Rein. Ia sungguh tidak mengira bahwa perasaannya terhadap Rein dapat terbalaskan detik itu juga. Walau dengan perilaku yang awalnya sedikit buruk. Entah mengapa hanya dengan pernyataan tersebutlah, hati mereka justru bisa terasa tenang dan nyaman.</p>

<p>   <em>Untuk kedepannya, semoga kita bisa lebih jujur terhadap diri sendiri. Selagi, kita mencoba memahami diri masing-masing.</em></p>

<p>   Itulah harapan yang bersumber dari hati terdalam mereka. Memang tidak diungkapkan, tetapi lewat senyuman tulus keduanya sudah dapat terpancarkan.</p>

<p>   “Terima kasih, Rein. Apakah dirimu sekarang tidak keberatan, jikalau menjadi kekasihku?” Sungguh diluar dugaan. Yoshikazu yang dulunya pemalu sekarang bisa menjadi percaya diri terhadap segaka macam perkataan yang dilontarkan.</p>

<p>   “Tentu saja ... dan aku sudah menepati janjiku yang dulu, benar?” Rein agak ragu, tetapi hanya sekilas itulah yang bisa dia ketahui.</p>

<p>   “Semua janji yang pernah dibuat telah tercapai, Rein.” Yoshikazu mencoba membuat Rein jatuh kedalam pelukannya, sembari ia mengelus rambut bagian belakang milik Rein yang begitu lembut.</p>

<p>   <em>“Baiklah, sudah waktunya kita kembali pulang ke rumah.”</em></p>

<p>   <em>“Rumahku?” gurau Yoshikazu.</em></p>

<p>   <em>“Rumah masing-masing, hei!”</em></p>

<p>   <strong>End.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/afeksi-nyata</guid>
      <pubDate>Tue, 23 May 2023 08:18:15 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Hanya Mengingatkan</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/hanya-mengingatkan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Hizamara Fauraza, Hizafa Rein.&#xA;  #FaureOCs.&#xA;&#xA;   When someone starts reminding and wants to give you help.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #OriFictArchives. &#xA;  #FaureStory; Travel Chain Universe. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Olahraga pada jam ketiga adalah sesuatu yang menyebalkan bagi sebagian orang, mengingat matahari sudah mulai tampak bersinar lebih terang. Sungguh menyulitkan untuk mereka yang tak terbiasa dengan gerakan beragam, bahkan sekadar pemanasan saja sudah menyerah.&#xA;&#xA;   Hal itu terjadi kepada seorang Hizafa Rein, seorang gadis dengan rambut yang sengaja tergerai bebas, padahal sedang masuk jam pembelajaran olahraga. Syukur-syukur, sekolah itu membebaskan siswanya untuk menggerai rambutnya. Meskipun demikian, karena bisa saja ada alasan lainnya, selain tidak terbiasa mengikat rambut mereka.&#xA;&#xA;   Dia duduk ditepi lapangan dalam keadaan sedang berteduh di bawah sebuah pohon, di sana memang ada tersedia sebuah kursi yang terbuat dari batu. Lokasi itu berada di dekat taman sekolah, sehingga murid lainnya bisa menikmati suasana rindang yang berasal dari pepohonan yang ditanam pada area tersebut.&#xA;&#xA;   Rein sering kali dinyatakan absen dalam kelas olaharaga karena kelihatan tidak begitu mampu mengikuti kelas, karena alasannya selalu saja berkaitan dengan pencernaannya. Teman-teman satu kelasnya pun terkadang merasa sudah tak bisa berkomentar lebih, terhadap penyataan yang diucapkannya.&#xA;&#xA;   Dia sering menyatakan bahwa perutnya terasa sakit sepert diremas-remas, bahkan dalam pembelajaran olahraga sekalipun, entah kenapa itu seperti sudah diperkirakan. Tetapi, tugas berkaitan dengan pengetahuan tidak tahu mengapa Rein malah mampu mengikutinya.&#xA;&#xA;   &#34;Rein masih terasa sakit perut? Mau ke UKS saja, tidak? Coba istirahat di sana dulu sekalian minta obatnya,&#34; tanya seseorang yang menurut Rein tidak asing. Ketika Rein menatap sosok tersebut, ternyata adalah teman yang mungkin saja dekat dengannya. Hizamara Fauraza.&#xA;&#xA;   &#34;Aku baik-baik saja, Fauraza. Tidak perlu ke UKS, sakit perutnya seperti biasa kok. Mungkin karena telat tibanya,&#34; gumamnya menolak tawaran tersebut.&#xA;&#xA;   &#34;Baiklah, kalau dirimu merasa begitu. Aku khawatir soalnya, setiap pelajaran olahraga kamu absen duduk di sini terus, kecuali pelajaran sewaktu di kelas. Kalau misalnya terasa kurang enak badan di beberapa pelajaran, izin saja ke gurunya.&#34;&#xA;&#xA;   Rein hanya mengangguki perkataan dari Fauraza, kemudian ia menyanggupi diri untuk segera berdiri dan di bantu oleh Fauraza ketika akan bangun. &#34;Aku bantu ya~&#34; Lagi-lagi, Rein menolaknya. Ia tidak berniat untuk merepotkan Fauraza meskipun sebentar, mengingat sakit perut yang dialaminya tidak seberapa.&#xA;&#xA;   &#34;Aku bisa berdiri sendiri, kok. Hanya sakit perut, bukan sedang terluka.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Kalau menurut Fauraza suasana di sekitar mereka seperti biasanya, berbanding terbalik dengan Rein. Seolah semuanya menatap ke arah mereka, padahal baru saja memasuki kelas. Iya, Rein dan Fauraza satu kelas.&#xA;&#xA;   Meskipun Rein lebih tua satu tahun dari Fauraza, semuanya dikarenakan sewaktu dulu ia perlu menjalani perawatan di rumah sakit, sehingga tidak memungkinkan baginya untuk mengikuti pelajaran sebagai mestinya. Hal itu terjadi, ketika tahun di mana ia mulai kembali ke mana mereka tinggal kembali bersama.&#xA;&#xA;   &#34;Mentang-mentang bisa bersekolah di sini, kelakuannya seperti orang hebat saja.&#34;&#xA;&#xA;   Suara-suara yang mulai mengusik ketenangannya kembali. Semula, Rein tidak begitu acuh dengan percakapan mereka. Saat itu, mereka baru saja kembali dari ruang ganti pakaian. Benar juga, jaraknya memang sedikit jauh, supaya siswanya terbiasa untuk melangkahkan kaki ke sana kemari.&#xA;&#xA;   Rein itu termasuk orang yang mungkin beruntung, karena selain tidak ada terlibat kasus perundungan secara fisik seperti dalam film-film. Meskipun saat ini memang sedang dikata-katai tetapi bisa saja bukan dirinya, bukan? Walau Rein termasuk salah seorang yang pemikir lebih, terkadang ia mengacuhkannya kalau sudah terlalu pusing.&#xA;&#xA;   &#34;Ruhi-kun!&#34; sapa Fauraza. Itu bukanlah Rein, karena dia bukanlah seorang yang bisa dengan mudah menjalin relasi dengan banyak orang. Energi sosialnya dengan cepat terkuras segera, &#34;Oh, ternyata Anda.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Aduh, masih sama seperti dulu bahasanya. Padahal sudah aku bilang yang nyaman untuk dirimu saja,&#34; balas Fauraza.&#xA;&#xA;   &#34;Tidak apa-apa, saya sudah terbiasa. Bahkan, di rumah juga seperti itu dengan Otou-sama.&#34; Sosok itu menyunggingkan lekukan tipis pada mulutnya. Iris matanya menatap ke arah figur yang berada di samping Fauraza.&#xA;&#xA;   &#34;Oh, kalian baru bertemu hari ini, &#39;kan? Aku perkenalkan dia adalah Hizafa Rein, namanya mirip dengan panggilanku yang lain, bukan? Untuk laki-laki di depanmu ini, namanya Soranaga Haruhi. Teman satu klub Drama sekaligus teman satu kelas sewaktu dulu,&#34; jelas Fauraza.&#xA;&#xA;   Keduanya membunggkuk selayaknya bagaimana mereka berkenalan, &#34;Saya Soranaga Haruhi, mohon bantuannya Hizafa-sama.&#34; Rein yang mendapati respons dari lelaki di hadapannya sedikit kikuk. &#34;Ah ... Hizafa Rein, mohon bantuannya juga, Haruhi-san.&#34;&#xA;&#xA;   Lelaki dengan surai dwiwarna sedikit kebingungan, mengingat mereka belum lama berkenalan, akan tetapi Rein telah menyebutkan nama kecilnya, dan itu terdengar sedikit berbeda. &#34;Ah, Ruhi-kun! Rein dulu pernah tinggal di Indonesia juga, jadi kebiasaan memanggil nama seperti itu.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Ah, maaf ... Aku kebiasaan, Soranaga-san.&#34; Sementara Haruhi seperti memahaminya, tidak asing dengan maksud itu. Ia segera menggelengkan kepala kecil. &#34;Tidak mengapa, Hizafa-sama. Mungkin karena belum terbiasa, semoga kedepannya bisa mengikuti kebiasaan orang Jepang, agar tidak terjadi kesalahpahaman.&#34;&#xA;&#xA;   Fauraza mengangguki pernyataan yang diberikan oleh Haruhi, diikuti oleh Rein yang hanya biss tersenyum canggung. Hingga, terdengar suara bel yang berbunyi menandakan tibalah jam pelajaran selanjutnya. &#34;Oh, sudah waktunya masuk kelas. Sampai jumpa, Ruhi-kun!&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Sampai jumpa lagi, Soranaga-san.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   &#34;Fauraza,&#34; ucap Rein merasa ragu dengan ucapannya sekarang. Padahal sebentar lagi guru akan memasuki ruangan kelas mereka, tetapi dia malah menghentikan langkah kakinya. &#34;Sepertinya aku akan izin ke UKS saja, nanti sewaktu istirshat.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Oh, bisa-bisa! Mau sekalian aku antarkan ke sana? Nanti aku akan mampir ke kelasnya Kakakmu juga, biar tahu keberadaan adik tersayangnya ini.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Tidak apa-apa, aku bisa sendiri. Cuma numpang istirahat di sana saja, kok.&#34; Fauraza diam sebentar, setelah itu menyetujuinya. Menyadari bahwa tidak banyak kata yang berbeda disebutkan oleh Rein, berarti diri sedang ingin tidak terlalu banyak dicampuri urusannya.&#xA;&#xA;   &#34;Aku kasih satu syarat, Rein harus ingat untuk meminum obat yang diberikan, oke? Atau, nanti aku kasih tahu dia saja, kalau dirimu ini sedang tidak sehat—&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Fauraza, aku akan mengingatnya. Tenang saja, ya?&#34; Rein berusaha menyakinkan figur dengan helaian rambut ungu tergerai bersamaan warna putih yang menghiasinya di hadapan dia ini.&#xA;&#xA;   &#34;Awas saja kalau lupa! Soalnya, aku hanya bisa mengingatkan.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Pembelajaran setelah olahraga berlangsung lancar, meskipun ia sedang berada dalam kondisi menahan mulasnya perut yang sedang dia alami sampai sekarang. Sulit rasanya untuk bisa berkonsentrasi dengan keadaan sakit yang melibatkan saluran pencernaan.&#xA;&#xA;   &#34;Permisi, apa ada orang?&#34; Rein mulai mengetuk pintunya perlahan. Biasa UKS sekolah miliknya ini sering tertutup, supaya barang-barang tidak keluar dari tempat asalnya. Sejauh ini tidak ada yang bersikap untuk nekat mengambil barang-barang seperti itu.&#xA;&#xA;   &#34;Masuklah.&#34; Rein membuka sekilas pintunya, mendapati seorang wanita paruh baya di sana sedang fokus dengan obat-obatan yang sepertinya akan di letak di dalam rak obat.&#xA;&#xA;   &#34;Hizafa-san, apakah keluhannya sama seperti kemarin lusa?&#34; ucap wanita tersebut. Karena memang, Rein sudah mengunjungi tempat itu kemarin lusa, sehingga bisa saja langsung dikenali oleh pengurus UKS sekolahnya.&#xA;&#xA;   &#34;Iya ....&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Kalau begitu, Hizafa-san minum obat yang ini saja, silakan. Setelah itu, lekas istirahat di atas kasur saja. Kalau perlu oleskan minyak kayu putih juga,&#34; balas si wanita itu.&#xA;&#xA;   &#34;Baik, terima kasih, Sensei.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Oh, iya. Sudah bicara kepada wali kelasmu atau kelas yang sedang diajari oleh beliau? Dirimu tidak ingin tidak naik kelas, bukan?&#34; Rein menggangguk pelan, pernyataan yang ditemukan olehnya sehari ini benarlah semua.&#xA;&#xA;   &#34;Sensei hanya mengingkatkan, selebihnya terserah kepadamu. Omong-omong, sensei akan tinggalkan kamu sebentar. Tolong jaga diri baik-baik, ya.&#34;&#xA;&#xA;   Sampai akhirnya, sosok guru yang menjaga UKS pergi meninggalkan Rein sendiri di tempat tersebut. Entah mengapa, pandangannya lekas memburam ketika ia berhasil menyelesaikan minum obatnya. Berpikir, selemah itukah dirinya? Apakah hal yang dia alami selama itu sekadar kelelahan semata?&#xA;&#xA;   &#34;Astaga, Rein!&#34; Sosok yang baru saja tiba itu terkejut dengan keberadaan Rein yang terbaring pingsan di lantai UKS. Iya, Rein belum berada di tempat tidur yang ada di UKS. Segera ia memindahkan Rein ke atas kasur di sana. &#xA;&#xA;   &#34;Syukur dirinya mengatakan hal ini kepadaku, kalau tidak dirimu akan terbaring di lantai yang dingin, sampai pengurus UKS datang membangunkan dirimu.&#34; Senyum yang tampak tidak jadi terulas, rasanya benar-benar mengandung kesedihan. Sudah sekian lama mereka tidak bertemu, akan tetapi ketika ia berusaha mencari waktu yang tepat, dunia sedang mengujinya.&#xA;&#xA;   &#34;Padahal, ini adalah pertemuan kita pertama kalinya. Sepertinya, dunia sekarang sedang menguji kesabaranku untuk menunggumu tiba.&#34; Larut dalam kesedihan, ia benar-benar mengingat masa lalunya. &#34;Kuharap penyakitmu segera membaik, dan lekaslah sadar, Hizafa Rein.&#34;&#xA;&#xA;   To Be Continued.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Hizamara Fauraza, Hizafa Rein.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureOCs" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureOCs</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>When someone starts reminding and wants to give you help.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:OriFictArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">OriFictArchives</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureStory" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureStory</span></a>; Travel Chain Universe. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   Olahraga pada jam ketiga adalah sesuatu yang menyebalkan bagi sebagian orang, mengingat matahari sudah mulai tampak bersinar lebih terang. Sungguh menyulitkan untuk mereka yang tak terbiasa dengan gerakan beragam, bahkan sekadar pemanasan saja sudah menyerah.</p>

<p>   Hal itu terjadi kepada seorang Hizafa Rein, seorang gadis dengan rambut yang sengaja tergerai bebas, padahal sedang masuk jam pembelajaran olahraga. Syukur-syukur, sekolah itu membebaskan siswanya untuk menggerai rambutnya. Meskipun demikian, karena bisa saja ada alasan lainnya, selain tidak terbiasa mengikat rambut mereka.</p>

<p>   Dia duduk ditepi lapangan dalam keadaan sedang berteduh di bawah sebuah pohon, di sana memang ada tersedia sebuah kursi yang terbuat dari batu. Lokasi itu berada di dekat taman sekolah, sehingga murid lainnya bisa menikmati suasana rindang yang berasal dari pepohonan yang ditanam pada area tersebut.</p>

<p>   Rein sering kali dinyatakan absen dalam kelas olaharaga karena kelihatan tidak begitu mampu mengikuti kelas, karena alasannya selalu saja berkaitan dengan pencernaannya. Teman-teman satu kelasnya pun terkadang merasa sudah tak bisa berkomentar lebih, terhadap penyataan yang diucapkannya.</p>

<p>   Dia sering menyatakan bahwa perutnya terasa sakit sepert diremas-remas, bahkan dalam pembelajaran olahraga sekalipun, entah kenapa itu seperti sudah diperkirakan. Tetapi, tugas berkaitan dengan pengetahuan tidak tahu mengapa Rein malah mampu mengikutinya.</p>

<p>   “Rein masih terasa sakit perut? Mau ke UKS saja, tidak? Coba istirahat di sana dulu sekalian minta obatnya,” tanya seseorang yang menurut Rein tidak asing. Ketika Rein menatap sosok tersebut, ternyata adalah teman yang mungkin saja dekat dengannya. Hizamara Fauraza.</p>

<p>   “Aku baik-baik saja, Fauraza. Tidak perlu ke UKS, sakit perutnya seperti biasa kok. Mungkin karena <em>telat tibanya</em>,” gumamnya menolak tawaran tersebut.</p>

<p>   “Baiklah, kalau dirimu merasa begitu. Aku khawatir soalnya, setiap pelajaran olahraga kamu absen duduk di sini terus, kecuali pelajaran sewaktu di kelas. Kalau misalnya terasa kurang enak badan di beberapa pelajaran, izin saja ke gurunya.”</p>

<p>   Rein hanya mengangguki perkataan dari Fauraza, kemudian ia menyanggupi diri untuk segera berdiri dan di bantu oleh Fauraza ketika akan bangun. “Aku bantu ya~” Lagi-lagi, Rein menolaknya. Ia tidak berniat untuk merepotkan Fauraza meskipun sebentar, mengingat sakit perut yang dialaminya tidak seberapa.</p>

<p>   “Aku bisa berdiri sendiri, kok. Hanya sakit perut, bukan sedang terluka.”</p>

<hr/>

<p>   Kalau menurut Fauraza suasana di sekitar mereka seperti biasanya, berbanding terbalik dengan Rein. Seolah semuanya menatap ke arah mereka, padahal baru saja memasuki kelas. Iya, Rein dan Fauraza satu kelas.</p>

<p>   Meskipun Rein lebih tua satu tahun dari Fauraza, semuanya dikarenakan sewaktu dulu ia perlu menjalani perawatan di rumah sakit, sehingga tidak memungkinkan baginya untuk mengikuti pelajaran sebagai mestinya. Hal itu terjadi, ketika tahun di mana ia mulai kembali ke mana <em>mereka tinggal kembali bersama.</em></p>

<p>   <em>“Mentang-mentang bisa bersekolah di sini, kelakuannya seperti orang hebat saja.”</em></p>

<p>   Suara-suara yang mulai mengusik ketenangannya kembali. Semula, Rein tidak begitu acuh dengan percakapan mereka. Saat itu, mereka baru saja kembali dari ruang ganti pakaian. Benar juga, jaraknya memang sedikit jauh, supaya siswanya terbiasa untuk melangkahkan kaki ke sana kemari.</p>

<p>   Rein itu termasuk orang yang mungkin beruntung, karena selain tidak ada terlibat kasus perundungan secara fisik seperti dalam film-film. Meskipun saat ini memang sedang dikata-katai tetapi bisa saja bukan dirinya, bukan? Walau Rein termasuk salah seorang yang pemikir lebih, terkadang ia mengacuhkannya kalau sudah terlalu pusing.</p>

<p>   “Ruhi-<em>kun</em>!” sapa Fauraza. Itu bukanlah Rein, karena dia bukanlah seorang yang bisa dengan mudah menjalin relasi dengan banyak orang. Energi sosialnya dengan cepat terkuras segera, “Oh, ternyata Anda.”</p>

<p>   “Aduh, masih sama seperti dulu bahasanya. Padahal sudah aku bilang yang nyaman untuk dirimu saja,” balas Fauraza.</p>

<p>   “Tidak apa-apa, saya sudah terbiasa. Bahkan, di rumah juga seperti itu dengan <em>Otou-sama.</em>” Sosok itu menyunggingkan lekukan tipis pada mulutnya. Iris matanya menatap ke arah figur yang berada di samping Fauraza.</p>

<p>   “Oh, kalian baru bertemu hari ini, &#39;kan? Aku perkenalkan dia adalah Hizafa Rein, namanya mirip dengan panggilanku yang lain, bukan? Untuk laki-laki di depanmu ini, namanya Soranaga Haruhi. Teman satu klub Drama sekaligus teman satu kelas sewaktu dulu,” jelas Fauraza.</p>

<p>   Keduanya membunggkuk selayaknya bagaimana mereka berkenalan, “Saya Soranaga Haruhi, mohon bantuannya Hizafa-<em>sama</em>.” Rein yang mendapati respons dari lelaki di hadapannya sedikit kikuk. “Ah ... Hizafa Rein, mohon bantuannya juga, Haruhi-<em>san</em>.”</p>

<p>   Lelaki dengan surai dwiwarna sedikit kebingungan, mengingat mereka belum lama berkenalan, akan tetapi Rein telah menyebutkan nama kecilnya, dan itu terdengar sedikit berbeda. “Ah, Ruhi-<em>kun</em>! Rein dulu pernah tinggal di Indonesia juga, jadi kebiasaan memanggil nama seperti itu.”</p>

<p>   “Ah, maaf ... Aku kebiasaan, Soranaga-<em>san.</em>” Sementara Haruhi seperti memahaminya, tidak asing dengan maksud itu. Ia segera menggelengkan kepala kecil. “Tidak mengapa, Hizafa-<em>sama.</em> Mungkin karena belum terbiasa, semoga kedepannya bisa mengikuti kebiasaan orang Jepang, agar tidak terjadi kesalahpahaman.”</p>

<p>   Fauraza mengangguki pernyataan yang diberikan oleh Haruhi, diikuti oleh Rein yang hanya biss tersenyum canggung. Hingga, terdengar suara bel yang berbunyi menandakan tibalah jam pelajaran selanjutnya. “Oh, sudah waktunya masuk kelas. Sampai jumpa, Ruhi-<em>kun</em>!”</p>

<p>   “Sampai jumpa lagi, Soranaga-<em>san.</em>“</p>

<hr/>

<p>   “Fauraza,” ucap Rein merasa ragu dengan ucapannya sekarang. Padahal sebentar lagi guru akan memasuki ruangan kelas mereka, tetapi dia malah menghentikan langkah kakinya. “Sepertinya aku akan izin ke UKS saja, nanti sewaktu istirshat.”</p>

<p>   “Oh, bisa-bisa! Mau sekalian aku antarkan ke sana? Nanti aku akan mampir ke kelasnya Kakakmu juga, biar tahu keberadaan adik tersayangnya ini.”</p>

<p>   “Tidak apa-apa, aku bisa sendiri. Cuma numpang istirahat di sana saja, kok.” Fauraza diam sebentar, setelah itu menyetujuinya. Menyadari bahwa tidak banyak kata yang berbeda disebutkan oleh Rein, berarti diri sedang ingin tidak terlalu banyak dicampuri urusannya.</p>

<p>   “Aku kasih satu syarat, Rein harus ingat untuk meminum obat yang diberikan, oke? Atau, nanti aku kasih tahu <em>dia</em> saja, kalau dirimu ini sedang tidak sehat—”</p>

<p>   “Fauraza, aku akan mengingatnya. Tenang saja, ya?” Rein berusaha menyakinkan figur dengan helaian rambut ungu tergerai bersamaan warna putih yang menghiasinya di hadapan dia ini.</p>

<p>   “Awas saja kalau lupa! Soalnya, <em>aku hanya bisa mengingatkan</em>.”</p>

<hr/>

<p>   Pembelajaran setelah olahraga berlangsung lancar, meskipun ia sedang berada dalam kondisi menahan mulasnya perut yang sedang dia alami sampai sekarang. Sulit rasanya untuk bisa berkonsentrasi dengan keadaan sakit yang melibatkan saluran pencernaan.</p>

<p>   “Permisi, apa ada orang?” Rein mulai mengetuk pintunya perlahan. Biasa UKS sekolah miliknya ini sering tertutup, supaya barang-barang tidak keluar dari tempat asalnya. Sejauh ini tidak ada yang bersikap untuk nekat mengambil barang-barang seperti itu.</p>

<p>   “Masuklah.” Rein membuka sekilas pintunya, mendapati seorang wanita paruh baya di sana sedang fokus dengan obat-obatan yang sepertinya akan di letak di dalam rak obat.</p>

<p>   “Hizafa-<em>san</em>, apakah keluhannya sama seperti kemarin lusa?” ucap wanita tersebut. Karena memang, Rein sudah mengunjungi tempat itu kemarin lusa, sehingga bisa saja langsung dikenali oleh pengurus UKS sekolahnya.</p>

<p>   “Iya ....”</p>

<p>   “Kalau begitu, Hizafa-<em>san</em> minum obat yang ini saja, silakan. Setelah itu, lekas istirahat di atas kasur saja. Kalau perlu oleskan minyak kayu putih juga,” balas si wanita itu.</p>

<p>   “Baik, terima kasih, <em>Sensei.</em>“</p>

<p>   “Oh, iya. Sudah bicara kepada wali kelasmu atau kelas yang sedang diajari oleh beliau? Dirimu tidak ingin tidak naik kelas, bukan?” Rein menggangguk pelan, pernyataan yang ditemukan olehnya sehari ini benarlah semua.</p>

<p>   “<em>Sensei</em> hanya mengingkatkan, selebihnya terserah kepadamu. Omong-omong, <em>sensei</em> akan tinggalkan kamu sebentar. Tolong jaga diri baik-baik, ya.”</p>

<p>   Sampai akhirnya, sosok guru yang menjaga UKS pergi meninggalkan Rein sendiri di tempat tersebut. Entah mengapa, pandangannya lekas memburam ketika ia berhasil menyelesaikan minum obatnya. Berpikir, selemah itukah dirinya? Apakah hal yang dia alami selama itu sekadar kelelahan semata?</p>

<p>   “Astaga, Rein!” Sosok yang baru saja tiba itu terkejut dengan keberadaan Rein yang terbaring pingsan di lantai UKS. Iya, Rein belum berada di tempat tidur yang ada di UKS. Segera ia memindahkan Rein ke atas kasur di sana.</p>

<p>   “Syukur <em>dirinya</em> mengatakan hal ini kepadaku, kalau tidak dirimu akan terbaring di lantai yang dingin, sampai pengurus UKS datang membangunkan dirimu.” Senyum yang tampak tidak jadi terulas, rasanya benar-benar mengandung kesedihan. Sudah sekian lama mereka tidak bertemu, akan tetapi ketika ia berusaha mencari waktu yang tepat, dunia sedang mengujinya.</p>

<p>   “Padahal, ini adalah pertemuan kita pertama kalinya. Sepertinya, dunia sekarang sedang menguji kesabaranku untuk menunggumu tiba.” Larut dalam kesedihan, ia benar-benar mengingat masa lalunya. “Kuharap penyakitmu segera membaik, dan <em>lekaslah sadar,</em> Hizafa Rein.”</p>

<p>   <strong>To Be Continued.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/hanya-mengingatkan</guid>
      <pubDate>Sat, 29 Apr 2023 16:32:31 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Tawa Penuh Kasih</title>
      <link>https://reeinshiyu.writeas.com/tawa-penuh-kasih?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Tsukihiko Yoshikazu × Hizafa Rein.&#xA;  #FaureOCs; #ShikaRei.&#xA;&#xA;   A sweet story wrapped in comedy.&#xA;        written by @dreamereein (Faure).&#xA;&#xA;  #OriFictArchives. &#xA;  #FaureStory; Travel Chain Universe. !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Sepuluh tahun lamanya. Semenjak perpisahan itu berlangsung, tanpa kabar yang jelas. Seolah dunia sedang tidak berkehendak agar sepasang insan itu bisa bersatu.&#xA;&#xA;   Sebagai teman. Sebagai sahabat. Atau mungkin, sebagai sesuatu yang lebih dari itu? Dengan kepala yang penuh tanda tanya, ia menyadari bahwa beberapa hari ini tidurnya ia semakin sering.&#xA;&#xA;   Apakah mimpi mulai membuat ia lupa akan dunia nyata? Sepertinya tidak. Bahkan, untuk saat ini, ia telah terbangun. Mulai melangkahkan jenjang kaki, agar bisa bertemu sosok yang telah mau tak mau harus melepaskan kepergiannya, sewaktu kecil dahulu.&#xA;&#xA;   Pintu bel berbunyi, rumah kontrakan itu tiba-tiba saja kedatangan tamu. &#34;Sebentar.&#34; Seseorang mulai membukakan pintunya. Tampaklah seorang yang sepertinya bukan figur manusia yang sedang dicarinya.&#xA;&#xA;   &#34;Ah, selamat datang. Yoshikazu-san sedang mencari Rein?&#34; ujarnya, menyambut ia dengan baik. Benar saja, seseorang yang bisa dia bedakan. Kembaran Reinーseorang yang sedang dicarinya.&#xA;&#xA;   Ia mengusap leher belakangnya, sudah merasa telah lama tidak berkunjung. Padahal, baru-baru ini ia berkunjung. Dengan ajakan sang kakaknya; sosok yang membukakan pintu sekarang ini.&#xA;&#xA;  &#34;Begitulah. Apakah dirinya ada?&#34; Ragu, ia bertanya. Karena, bagaimanapun juga kembaran sang gadis pujaan hati, tidak sedekat itu dengan kakaknya ataupun dia sendiri.&#xA;&#xA;   Hanya saja, pemuda itu; Tsukihiko Yoshikazu, menyuruhnya agar untuk memanggil nama depannya seperti si kembaran. Supaya tak terjadi kecanggungan diantara mereka. Seperti kejadian masa lampau.&#xA;&#xA;   Lagi pula, seakrabnya mereka karena ia melihat sosok kakak yang hangat pada seorang Hizafa Rain. Figur dari kembaran gadis yang sedang dicari oleh dia, Hizafa Rein. &#34;Sebenarnya, Rein belum pulang. Ia masih bekerja sambilan, selagi menunggu masuk saja ke dalam. Ayo!&#34;&#xA;&#xA;   Sungguh, Yoshikazu merasa tidak enak dengan itu. Sebaik-baiknya Rain pada dia, sosok itu cukup tegas dibandingkan Rein. Dia tidak mau juga, kalau harus mendengarkan ceramah dari kedua orang yang bermarga sama.&#xA;&#xA;   &#34;Tidak perlu repot-repot, kira-kira dirinya pulang jam berapa biasa?&#34; Balik melontarkan pertanyaan, ia pun menolak tawaran dari Rain.&#xA;&#xA;   &#34;Hmm, tidak akan lama, shift kerjanya Rein sering kali berubah menyesuaikan kegiatan di sekolah,&#34; jelasnya. Yoshikazu mengangguk, ia mencoba memahaminya.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Setelah diberikan penjelasan dan pembicaraan panjang yang membosankan itu, tibalah Rein di sana. &#34;Astaga, kenapa tiba-tiba kemari?&#34; tanyanya Rein, yang memang baru saja tiba.&#xA;&#xA;   &#34;Rein, suruh dia untuk masuk. Aku yang menyuruh dia takkan mau,&#34; kata Rain cepat. Seperti mengerti dengan kode sang kakak, ia mulai menyuruh Yoshikazu ikut masuk. Agar dengan ini Yoshikazu berniat masuk, tanpa harus menunggu di luar lebih lama lagi.&#xA;&#xA;   &#34;Hei, jangan mendorongku masuk begitu saja.&#34; Yoshikazu merasa tidak terima, kenapa setelah ada Rein ia malah menjadi seorang laki-laki yang melemah dan dengan mudah didorong masuk ke dalam rumah itu, bersamaan dengan Rain yang sudah duluan masuk ke dalam.&#xA;&#xA;   &#34;Ya, ya, aku tahu seorang Tsukihiko Yoshikazu pasti akan menolak hal seperti itu,&#34; cibir Rein. Ia berani, karena sudah beberapa hari yang lalu diri mendapatkan ingatan tentang temanーatau mungkin, sahabatnya dulu.&#xA;&#xA;   Rein bisa seberani itu karena ia sudah merasakan kedekatan dengan seorang, entah itu lawan jenis maupun sejenis. Tetapi, beda cerita kalau ia masih menjaga jarak terhadap orang tersebut.&#xA;&#xA;   &#34;Huh?&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Mumpung harinya spesial, kenapa kalian tidak pergi jalan-jalan berdua?&#34; celetuk Rain tiba-tiba. Membuat keduanya langsung kaget bersamaan. Sungguh, tampak lucu dimatanya.&#xA;&#xA;   Rein mengerutkan alisnya, ia tidak mungkin melakukan itu. Lagi pula dirinya bukan tipe orang yang akan keluar seenak hatinya, kalau bukan hal yang penting. Menurutnya, lebih asik di rumah. &#34;Kalau begitu, bagaimana dengan kakak sendiri?&#34; tanyanya, sedikit khawatir.&#xA;&#xA;   Kakaknya mulai tersenyum. &#34;Oh, jangan khawatirkan aku. Ada Mamo-kun yang menemaniku, jadi bersenang-senanglah kalian.&#34; Tampak senang kakaknya itu, dikala mengatakan seseorang yang ia sebut sebagai Mamo-kun. Ya, itu adalah kekasihnya.&#xA;&#xA;   Rein melupakan sebuah fakta, kalau selama ini putra angkat dari keluarga Chikei, yaitu Chikei Mamoru telah menjalin hubungan beberapa tahun lalu, bersama sang kakak. Seromantis itu mereka. Saking romantisnya, Rein selalu bisa mendapatkan ide untuk membuat kalimat manis yang kelak disimpan untuk dirinya dalam sebuah buku.&#xA;&#xA;   &#34;Ah, aku lupa tentang itu. Tunggu sebentar, jadi kalian akan berpergian juga?&#34; ujar Rein, mulai bertanya-tanya. Dia sedang heran akan perubahan ekspresi sang kakak, yang tidak dapat ditebak ataupun kalimat yang ia lontarkan baru saja.&#xA;&#xA;   &#34;Fufu~ tentu saja!&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Aku tidak keberatan, Rein mau jalan-jalan denganku, tidak?&#34; Yoshikazu keterlaluan, pikir Rein.&#xA;&#xA;   Senyuman manis yang terpatri menjadikannya semakin lucu nan mengagumkan bagi dia. Percayalah, kalau tiada sang kakak berada di tempat itu, ia akan mencubit habis-habisan wajah sang pemuda.&#xA;&#xA;   Benar-benar tidak baik untuk jantungnya.&#xA;&#xA;   &#34;Oho? Aku pasti akan mengizinkan, karena itu Yoshikazu-san. Tetapi, kembali ke Rein lagi, ya.&#34; Tepukan ringan mendarat dibahu dia yang disebutkan. Astaga, mengapa sang kakak selalu saja menyudutkannya seperti ini? Tidak habis pikir.&#xA;&#xA;   &#34;Baiklah, aku berkenan.&#34;&#xA;&#xA;   Rain tersenyum puas, ia pun berkata pada Yoshikazu saat itu juga, &#34;Tolong bertanggung jawab, ya?&#34; Sebuah pesan yang membuat Yoshikazu perlu mencemaskan seorang Hizafa Rein saja.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   Saat ini, ia tidak mengerti akan dibawa ke mana dirinya. Sedari apa yang disebutkan sang kakak, ketika ia mulai mempersiapkan dirinya untuk pergi dengan pakaian kesukaannya. Tidak begitu mencolok dengan warna, tetapi akrab dengan helaian rambut dia sendiri.&#xA;&#xA;   &#34;Hei, sekarang mau ke mana?&#34; Rein mulai binggung, sedari tadi pergelangan tangannya dipegang oleh Yoshikazu, yang sepertinya tidak ingin dia lepas dari pandangan. Padahal, keduanya saling berada disamping masing-masing.&#xA;&#xA;   &#34;Ke mana saja, asalkan tidak membuat Rein merasa lelah.&#34;&#xA;&#xA;   Oh, astaga.&#xA;&#xA;   Tentu saja ia merasa sangat-sangat lelah, kalau pergi keluar begini. Jepang selalu ramai dengan toko-tokonya di hari yang senja seperti ini, membuat energi sosialnya semakin menurun. Takut kalau diri mendapati orang yang akan terus berbicara. Ia tidak pernah bisa meladeninya.&#xA;&#xA;   &#34;Sekarang juga aku lelah sebenarnya,&#34; gumam Rein tanpa sadar.&#xA;&#xA;   Pendengaran Yoshikazu itu cukup bagus, berbanding terbalik dengan penglihatannya. Alhasil, netra merahnya mencari-cari apakah ada sebuah bangku kosong yang bagus. Kebetulan saat ini mereka berjalan ke pinggiran taman kota.&#xA;&#xA;   Meskipun kelihatan ramai berlalu lalang orangnya, tidak luput dari pandangan sang lelaki bisa menemukan sebuah bangku. &#34;Rein, kalau duduk di sana mau tidak?&#34; Sembari menunjuk ke arah yang akan mereka tuju. Rein menyetujuinya.&#xA;&#xA;   Pada akhirnya, Rein bisa duduk lagi. Untuk sekarang, pekerjaan menghidupi diri bersama kakaknya tidak sampai di sana. &#34;Lokasi yang indah, dirimu selalu pintar dalam menemukan tempat seperti ini.&#34;&#xA;&#xA;   Rein memuji Yoshikazu, dan hal itu membuat dia merasa senang. Sudah lama hal-hal seperti ini menjadi keinginannya. Dipuji seseorang itu menyenangkan, hanya saja selama ini pujian selalu mengarah pada kakaknya, Tsukihiko Shiyu.&#xA;&#xA;   Sehingga, ketika ia mendapati bahwa Rein dulu beberapa kali memujinya, ia selalu menyukainya. Terkadang, dirinya merasa rindu dengan momen masa kecil mereka itu.&#xA;&#xA;   &#34;Oiya, sebelumnya maaf. Bagaimana suasana di Indonesia? Aku ingin tahu sedikit,&#34; ucap Yoshikazu. Dia merasa ragu, tetapi mungkin saja untuk kali ini, ia bisa meluapkan rasa penasarannya.&#xA;&#xA;   Rein menoleh ke arahnya, yang tadi tidak melihat ke arahnya. Sementara Yoshikazu selalu melihat dia. &#34;Ah, tidak mengapa. Suasana di Indonesia? Berbeda dengan Jepang pastinya, bukankah Fauraza pernah mengatakan padamu? Dia pernah tinggal di sana juga, kan?&#34; tanya Rein balik.&#xA;&#xA;   Menggaruk wajahnya, ia ragu akan hal itu. &#34;Ya, itu benar. Tetapi itu sudah lama sekali, dan seperti yang Rein tahu. Aku tidak terbiasa dengan keahlian dirinya berbicara.&#34;&#xA;&#xA;   Rein mulai melukis tawanya. &#34;Sama saja denganku berarti,&#34; katanya tanpa sadar. Yoshikazu sudah mengetahui hal itu. &#34;Kalau begitu, bagaimana dengan bahasanya? Apakah Rein bisa berkomunikasi dengan orang di sana?&#34;&#xA;&#xA;   Menggali dan terus menggali topik yang sama, agar peristiwa ini bisa berjalan dengan lama. Ya, seperti itulah gaya Yoshikazu ketika ingin berbincang lama dengan seorang yang akrab baginya. Selain Rein, ada satu orang lagi. Orang itu adalah sepupunya sekaligus temannya juga.&#xA;&#xA;   Tetapi, kesampingkan hal itu. Saat ini, fokus utama adalah pada Rein yang sedang berpikir tuk bisa membalas pertanyaan dari Yoshikazu. &#34;Ah, maafkan aku,&#34; sahut Yoshikazu menyadari perbedaan gaya Rein menjawab soalan darinya.&#xA;&#xA;   Sementara itu, Rein menggelengkan kepalanya pelan. &#34;Tidak apa-apa, aku punya teman kok di sana. Awalnya aku tidak terbiasa, tetapi Ayahku juga mengajariku beberapa kosakatanya agar aku bisa memahami orang berbicara dengan bahasa Indonesia,&#34; jelas Rein panjang.&#xA;&#xA;   &#34;Aku melupakan kalau Ayahnya Rein adalah  orang Indonesia juga, maaf? Lalu, kosakata apa yang paling sering digunakan? Aku mau tahu.&#34; Entah mengapa sepertinya Rein merasa bahwa Yoshikazu mulai tertarik dengan kehidupannya selama di Indonesia, sewaktu dulu.&#xA;&#xA;   Rein mulai mengingat-ingat. &#34;Kata-kata seperti, selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam, mungkin? Untuk bahasa Jepang sendiri sampai sekarang aku masih belum fasih, karena selama berada di Indonesia sulit sekali membagi waktunya tuk mempelajari semuanya,&#34; balas Rein.&#xA;&#xA;   Yoshikazu mengurungkan niatannya untuk bertanya lebih banyak, namun ia mulai berkata, &#34;Sekarang sudah cukup bagus, kok. Oh? Aku sepertinya pernah mendengar kata-kata itu dari dirinya.&#34;&#xA;&#xA;   Rein mengulas senyum, ia mengetahui siapa orang yang disebutkan sebagai dirinya. Seperti halnya tadi, &#34;Fauraza masih sering kali berkata seperti itu, ya?&#34; Rein mulai tertawa. Sungguh, tidak menyadari bahwa telah menjelang malam hari. Tawa pun menjadi saksi bisu keberlanjutan acara jalan-jalan mereka.&#xA;&#xA;   &#34;Begitulah.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;   &#34;Shika, ini enak sekali!&#34; Rein berbinar-binar, ekspresinya kembali hadir tidak tahu mengapa. Seolah kesukaannya bisa dengan sempurna membuat orang langsung berubah 360°.&#xA;&#xA;   Yoshikazu tertawa kecil, &#34;Seenak itu sampai makannya berantakan? Mirip seperti anak kecil, lho.&#34; Astaga, inilah Yoshikazu yang asli. Jadi, sedari tadi sosok Yoshikazu yang masih tertutup atau bagaimana?&#xA;&#xA;   Mulai pemikiran aneh datang tiba-tiba. Rein semakin tidak mengerti, &#34;Huh? Apa-apaan sekarang mengejekku?&#34; Malah dengan polosnya, Yoshikazu hanya menggelengkan kepala pelan.&#xA;&#xA;   &#34;Yang pasti itu tidaklah benar, mana mungkin Rein-ku seperti itu.&#34; Ia tersenyum lagi dan lagi.&#xA;&#xA;   Kesal. Tentu saja!&#xA;&#xA;   &#34;Hei.&#34;&#xA;&#xA;   Rein sekesal itu kalau Yoshikazu sudah menyebutkan kata &#39;ku&#39; setelah namanya. Seolah-olah dia mengklaim dirinya menjadi milik dia. Tunggu sebentar, apa pemikiran itu? Rein lebih memilih melanjutkan sesi makan kuenya.&#xA;&#xA;   Ya, saat ini mereka berada di sebuah toko kue, di mana toko tersebut adalah langganan dari Yoshikazu. Beberapa kali, tidak sesering Rein. Ia akan berkunjung tuk membeli kue yang tersaji di sana.&#xA;&#xA;   &#34;Omong-omong, itu adalah hadiah dariku,&#34; kata dia kemudian. Rein yang telah berhasil menyelesaikan sesi makannya, kembali menatap Yoshikazu. Mereka berada disatu meja yang sama.&#xA;&#xA;   &#34;Aku tidak sedang ulang tahun sekarangー&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Bukan itu, kata kakakmu hari ini adalah hari spesial.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Hmm, spesial?&#34; Masih merasa bingung.&#xA;&#xA;   &#34;Iya. Happy White Day, Rein.&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Oh iyaーeh, sebentar kakakku?&#34; Rein masih memproses maksudnya. &#34;Astaga, yang benar saja?!&#34;&#xA;&#xA;   Sungguh kisah yang penuh dengan komedi.&#xA;&#xA;    End.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Tsukihiko Yoshikazu × Hizafa Rein.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureOCs" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureOCs</span></a>; <a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:ShikaRei" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">ShikaRei</span></a>.</p></blockquote>

<p>   <em>A sweet story wrapped in comedy.</em>
        <em>written by <a href="https://twitter.com/dreamereein" rel="nofollow">@dreamereein</a> (Faure).</em></p>

<blockquote><p><a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:OriFictArchives" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">OriFictArchives</span></a>.
<a href="https://reeinshiyu.writeas.com/tag:FaureStory" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">FaureStory</span></a>; Travel Chain Universe. </p></blockquote>

<hr/>

<p>   Sepuluh tahun lamanya. Semenjak perpisahan itu berlangsung, tanpa kabar yang jelas. Seolah dunia sedang tidak berkehendak agar sepasang insan itu bisa bersatu.</p>

<p>   Sebagai teman. Sebagai sahabat. Atau mungkin, sebagai sesuatu yang lebih dari itu? Dengan kepala yang penuh tanda tanya, ia menyadari bahwa beberapa hari ini tidurnya ia semakin sering.</p>

<p>   Apakah mimpi mulai membuat ia lupa akan dunia nyata? Sepertinya tidak. Bahkan, untuk saat ini, ia telah terbangun. Mulai melangkahkan jenjang kaki, agar bisa bertemu sosok yang telah mau tak mau harus melepaskan kepergiannya, <em>sewaktu kecil dahulu.</em></p>

<p>   Pintu bel berbunyi, rumah kontrakan itu tiba-tiba saja kedatangan tamu. “Sebentar.” Seseorang mulai membukakan pintunya. Tampaklah seorang yang sepertinya bukan figur manusia yang sedang dicarinya.</p>

<p>   “Ah, selamat datang. Yoshikazu-<em>san</em> sedang mencari Rein?” ujarnya, menyambut ia dengan baik. Benar saja, seseorang yang bisa dia bedakan. Kembaran Reinーseorang yang sedang dicarinya.</p>

<p>   Ia mengusap leher belakangnya, sudah merasa telah lama tidak berkunjung. Padahal, baru-baru ini ia berkunjung. Dengan ajakan sang kakaknya; sosok yang membukakan pintu sekarang ini.</p>

<p>  “Begitulah. Apakah dirinya ada?” Ragu, ia bertanya. Karena, bagaimanapun juga kembaran sang gadis pujaan hati, tidak sedekat itu dengan kakaknya ataupun dia sendiri.</p>

<p>   Hanya saja, pemuda itu; Tsukihiko Yoshikazu, menyuruhnya agar untuk memanggil nama depannya seperti si kembaran. Supaya tak terjadi kecanggungan diantara mereka. <em>Seperti kejadian masa lampau.</em></p>

<p>   Lagi pula, seakrabnya mereka karena ia melihat sosok <em>kakak yang hangat</em> pada seorang Hizafa Rain. Figur dari kembaran gadis yang sedang dicari oleh dia, Hizafa Rein. “Sebenarnya, Rein belum pulang. Ia masih bekerja sambilan, selagi menunggu masuk saja ke dalam. Ayo!”</p>

<p>   Sungguh, Yoshikazu merasa tidak enak dengan itu. Sebaik-baiknya Rain pada dia, sosok itu cukup tegas dibandingkan Rein. Dia tidak mau juga, kalau harus mendengarkan ceramah dari kedua orang yang bermarga sama.</p>

<p>   “Tidak perlu repot-repot, kira-kira dirinya pulang jam berapa biasa?” Balik melontarkan pertanyaan, ia pun menolak tawaran dari Rain.</p>

<p>   “Hmm, tidak akan lama, <em>shift</em> kerjanya Rein sering kali berubah menyesuaikan kegiatan di sekolah,” jelasnya. Yoshikazu mengangguk, ia mencoba memahaminya.</p>

<hr/>

<p>   Setelah diberikan penjelasan dan pembicaraan panjang yang membosankan itu, tibalah Rein di sana. “Astaga, kenapa tiba-tiba kemari?” tanyanya Rein, yang memang baru saja tiba.</p>

<p>   “Rein, suruh dia untuk masuk. Aku yang menyuruh dia takkan mau,” kata Rain cepat. Seperti mengerti dengan kode sang kakak, ia mulai menyuruh Yoshikazu ikut masuk. Agar dengan ini Yoshikazu berniat masuk, tanpa harus menunggu di luar lebih lama lagi.</p>

<p>   “Hei, jangan mendorongku masuk begitu saja.” Yoshikazu merasa tidak terima, kenapa setelah ada Rein ia malah menjadi seorang laki-laki yang melemah dan dengan mudah didorong masuk ke dalam rumah itu, bersamaan dengan Rain yang sudah duluan masuk ke dalam.</p>

<p>   “Ya, ya, aku tahu seorang Tsukihiko Yoshikazu pasti akan menolak hal seperti itu,” cibir Rein. Ia berani, karena sudah beberapa hari yang lalu diri mendapatkan ingatan tentang temanーatau mungkin, sahabatnya dulu.</p>

<p>   Rein bisa seberani itu karena ia sudah merasakan kedekatan dengan seorang, entah itu lawan jenis maupun sejenis. Tetapi, beda cerita kalau ia masih menjaga jarak terhadap orang tersebut.</p>

<p>   <em>“Huh?”</em></p>

<p>   “Mumpung harinya spesial, kenapa kalian tidak pergi jalan-jalan berdua?” celetuk Rain tiba-tiba. Membuat keduanya langsung kaget bersamaan. Sungguh, tampak lucu dimatanya.</p>

<p>   Rein mengerutkan alisnya, ia tidak mungkin melakukan itu. Lagi pula dirinya bukan tipe orang yang akan keluar seenak hatinya, kalau bukan hal yang penting. Menurutnya, lebih asik di rumah. “Kalau begitu, bagaimana dengan kakak sendiri?” tanyanya, sedikit khawatir.</p>

<p>   Kakaknya mulai tersenyum. “Oh, jangan khawatirkan aku. Ada <em>Mamo-kun</em> yang menemaniku, jadi bersenang-senanglah kalian.” Tampak senang kakaknya itu, dikala mengatakan seseorang yang ia sebut sebagai <em>Mamo-kun</em>. Ya, itu adalah kekasihnya.</p>

<p>   Rein melupakan sebuah fakta, kalau selama ini putra angkat dari keluarga Chikei, yaitu Chikei Mamoru telah menjalin hubungan beberapa tahun lalu, bersama sang kakak. Seromantis itu mereka. Saking romantisnya, Rein selalu bisa mendapatkan ide untuk membuat kalimat manis yang kelak disimpan untuk dirinya dalam sebuah buku.</p>

<p>   “Ah, aku lupa tentang itu. Tunggu sebentar, jadi kalian akan berpergian juga?” ujar Rein, mulai bertanya-tanya. Dia sedang heran akan perubahan ekspresi sang kakak, yang tidak dapat ditebak ataupun kalimat yang ia lontarkan baru saja.</p>

<p>   “<em>Fufu~</em> tentu saja!”</p>

<p>   “Aku tidak keberatan, Rein mau jalan-jalan denganku, tidak?” Yoshikazu keterlaluan, pikir Rein.</p>

<p>   Senyuman manis yang terpatri menjadikannya semakin lucu nan mengagumkan bagi dia. Percayalah, kalau tiada sang kakak berada di tempat itu, ia akan mencubit habis-habisan wajah sang pemuda.</p>

<p>   <em>Benar-benar tidak baik untuk jantungnya.</em></p>

<p>   “Oho? Aku pasti akan mengizinkan, karena itu Yoshikazu-<em>san</em>. Tetapi, kembali ke Rein lagi, ya.” Tepukan ringan mendarat dibahu dia yang disebutkan. <em>Astaga, mengapa sang kakak selalu saja menyudutkannya seperti ini?</em> Tidak habis pikir.</p>

<p>   “Baiklah, aku berkenan.”</p>

<p>   Rain tersenyum puas, ia pun berkata pada Yoshikazu saat itu juga, “Tolong bertanggung jawab, ya?” Sebuah pesan yang membuat Yoshikazu perlu mencemaskan seorang Hizafa Rein saja.</p>

<hr/>

<p>   Saat ini, ia tidak mengerti akan dibawa ke mana dirinya. Sedari apa yang disebutkan sang kakak, ketika ia mulai mempersiapkan dirinya untuk pergi dengan pakaian kesukaannya. Tidak begitu mencolok dengan warna, tetapi akrab dengan helaian rambut dia sendiri.</p>

<p>   “Hei, sekarang mau ke mana?” Rein mulai binggung, sedari tadi pergelangan tangannya dipegang oleh Yoshikazu, yang sepertinya tidak ingin dia lepas dari pandangan. Padahal, keduanya saling berada disamping masing-masing.</p>

<p>   “Ke mana saja, asalkan tidak membuat Rein merasa lelah.”</p>

<p>   <em>Oh, astaga.</em></p>

<p>   Tentu saja ia merasa sangat-sangat lelah, kalau pergi keluar begini. Jepang selalu ramai dengan toko-tokonya di hari yang senja seperti ini, membuat energi sosialnya semakin menurun. Takut kalau diri mendapati orang yang akan terus berbicara. Ia tidak pernah bisa meladeninya.</p>

<p>   “Sekarang juga aku lelah sebenarnya,” gumam Rein tanpa sadar.</p>

<p>   Pendengaran Yoshikazu itu cukup bagus, berbanding terbalik dengan penglihatannya. Alhasil, netra merahnya mencari-cari apakah ada sebuah bangku kosong yang bagus. Kebetulan saat ini mereka berjalan ke pinggiran taman kota.</p>

<p>   Meskipun kelihatan ramai berlalu lalang orangnya, tidak luput dari pandangan sang lelaki bisa menemukan sebuah bangku. “Rein, kalau duduk di sana mau tidak?” Sembari menunjuk ke arah yang akan mereka tuju. Rein menyetujuinya.</p>

<p>   Pada akhirnya, Rein bisa duduk lagi. Untuk sekarang, pekerjaan menghidupi diri bersama kakaknya tidak sampai di sana. “Lokasi yang indah, dirimu selalu pintar dalam menemukan tempat seperti ini.”</p>

<p>   Rein memuji Yoshikazu, dan hal itu membuat dia merasa senang. Sudah lama hal-hal seperti ini menjadi keinginannya. Dipuji seseorang itu menyenangkan, hanya saja selama ini pujian selalu mengarah pada kakaknya, Tsukihiko Shiyu.</p>

<p>   Sehingga, ketika ia mendapati bahwa Rein dulu beberapa kali memujinya, <em>ia selalu menyukainya.</em> Terkadang, dirinya merasa rindu dengan momen masa kecil mereka itu.</p>

<p>   “Oiya, sebelumnya maaf. Bagaimana suasana di Indonesia? Aku ingin tahu sedikit,” ucap Yoshikazu. Dia merasa ragu, tetapi mungkin saja untuk kali ini, ia bisa meluapkan rasa penasarannya.</p>

<p>   Rein menoleh ke arahnya, yang tadi tidak melihat ke arahnya. Sementara Yoshikazu selalu melihat dia. “Ah, tidak mengapa. Suasana di Indonesia? Berbeda dengan Jepang pastinya, bukankah Fauraza pernah mengatakan padamu? Dia pernah tinggal di sana juga, kan?” tanya Rein balik.</p>

<p>   Menggaruk wajahnya, ia ragu akan hal itu. “Ya, itu benar. Tetapi itu sudah lama sekali, dan seperti yang Rein tahu. Aku tidak terbiasa dengan keahlian <em>dirinya</em> berbicara.”</p>

<p>   Rein mulai melukis tawanya. “Sama saja denganku berarti,” katanya tanpa sadar. Yoshikazu sudah mengetahui hal itu. “Kalau begitu, bagaimana dengan bahasanya? Apakah Rein bisa berkomunikasi dengan orang di sana?”</p>

<p>   Menggali dan terus menggali topik yang sama, agar peristiwa ini bisa berjalan dengan lama. Ya, seperti itulah gaya Yoshikazu ketika ingin berbincang lama dengan seorang yang akrab baginya. Selain Rein, ada satu orang lagi. Orang itu adalah sepupunya sekaligus temannya juga.</p>

<p>   Tetapi, kesampingkan hal itu. Saat ini, fokus utama adalah pada Rein yang sedang berpikir tuk bisa membalas pertanyaan dari Yoshikazu. “Ah, maafkan aku,” sahut Yoshikazu menyadari perbedaan gaya Rein menjawab soalan darinya.</p>

<p>   Sementara itu, Rein menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak apa-apa, aku punya teman kok di sana. Awalnya aku tidak terbiasa, tetapi Ayahku juga mengajariku beberapa kosakatanya agar aku bisa memahami orang berbicara dengan bahasa Indonesia,” jelas Rein panjang.</p>

<p>   “Aku melupakan kalau Ayahnya Rein adalah  orang Indonesia juga, maaf? Lalu, kosakata apa yang paling sering digunakan? Aku mau tahu.” Entah mengapa sepertinya Rein merasa bahwa Yoshikazu mulai tertarik dengan kehidupannya selama di Indonesia, <em>sewaktu dulu.</em></p>

<p>   Rein mulai mengingat-ingat. “Kata-kata seperti, <em>selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam</em>, mungkin? Untuk bahasa Jepang sendiri sampai sekarang aku masih belum fasih, karena selama berada di Indonesia sulit sekali membagi waktunya tuk mempelajari semuanya,” balas Rein.</p>

<p>   Yoshikazu mengurungkan niatannya untuk bertanya lebih banyak, namun ia mulai berkata, “Sekarang sudah cukup bagus, kok. Oh? Aku sepertinya pernah mendengar kata-kata itu dari <em>dirinya</em>.”</p>

<p>   Rein mengulas senyum, ia mengetahui siapa orang yang disebutkan sebagai dirinya. Seperti halnya tadi, “Fauraza masih sering kali berkata seperti itu, ya?” Rein mulai tertawa. Sungguh, tidak menyadari bahwa telah menjelang malam hari. Tawa pun menjadi saksi bisu keberlanjutan acara jalan-jalan mereka.</p>

<p>   “Begitulah.”</p>

<hr/>

<p>   “Shika, ini enak sekali!” Rein berbinar-binar, ekspresinya kembali hadir tidak tahu mengapa. Seolah kesukaannya bisa dengan sempurna membuat orang langsung berubah 360°.</p>

<p>   Yoshikazu tertawa kecil, “Seenak itu sampai makannya berantakan? Mirip seperti anak kecil, lho.” Astaga, inilah Yoshikazu yang asli. Jadi, sedari tadi sosok Yoshikazu yang masih tertutup atau bagaimana?</p>

<p>   Mulai pemikiran aneh datang tiba-tiba. Rein semakin tidak mengerti, “Huh? Apa-apaan sekarang mengejekku?” Malah dengan polosnya, Yoshikazu hanya menggelengkan kepala pelan.</p>

<p>   “Yang pasti itu tidaklah benar, mana mungkin Rein-ku seperti itu.” Ia tersenyum lagi dan lagi.</p>

<p>   <em>Kesal. Tentu saja!</em></p>

<p>   “Hei.”</p>

<p>   Rein sekesal itu kalau Yoshikazu sudah menyebutkan kata &#39;ku&#39; setelah namanya. Seolah-olah dia mengklaim dirinya menjadi milik dia. <em>Tunggu sebentar, apa pemikiran itu?</em> Rein lebih memilih melanjutkan sesi makan kuenya.</p>

<p>   Ya, saat ini mereka berada di sebuah toko kue, di mana toko tersebut adalah langganan dari Yoshikazu. Beberapa kali, tidak sesering Rein. Ia akan berkunjung tuk membeli kue yang tersaji di sana.</p>

<p>   “Omong-omong, itu adalah hadiah dariku,” kata dia kemudian. Rein yang telah berhasil menyelesaikan sesi makannya, kembali menatap Yoshikazu. Mereka berada disatu meja yang sama.</p>

<p>   “Aku tidak sedang ulang tahun sekarangー”</p>

<p>   “Bukan itu, kata kakakmu hari ini adalah hari spesial.”</p>

<p>   “Hmm, spesial?” Masih merasa bingung.</p>

<p>   “Iya. <em>Happy White Day, Rein.</em>“</p>

<p>   “Oh iyaーeh, sebentar kakakku?” Rein masih memproses maksudnya. “Astaga, yang benar saja?!”</p>

<p>   <em>Sungguh kisah yang penuh dengan komedi.</em></p>

<p>    <strong>End.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://reeinshiyu.writeas.com/tawa-penuh-kasih</guid>
      <pubDate>Tue, 14 Mar 2023 12:55:27 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>