Art.
Hishida Shunso × Reader. #MeijiTokyoRenka Fanfiction.
Day 7 of #SimpTember 2021.
Seni adalah sesuatu yang selalu menarik perhatian [Name], dihadapkan dengan sosok yang menyukai seni namun sayang hilangnya minat bagi diri. Tidak mengerti mengapa berhenti ditengah jalan.
“Tidak perlu sempurna bila ingin dilirik orang.”
Itulah yang selalu dikatakan sebagai jawaban setiap kali [Name] bertanya, mengapa ia sudah kehilangan minat akan seni. Jujur saja [Name] sangat ingin memajang seni lukis milik dirinya.
Sayang, dibagian tengah terdapat sesuatu yang tak bisa ia gambar. Berniat membantu, dikatakan ternyata yang berada didalam gambar adalah seekor roh.
Roh dari kucing hitam. Seperti apa yang dikatakan Ougai sendiri, jikalau Tamayori pasti akan mudah untuk mencarinya. [Name] tidak memiliki bakat spesial seperti itu.
Sering kali Shunso melihat kepergian [Name] sewaktu malam, entah apa yang dilakukan membuat dia sedikit penasaran dimalam itu.
“Huh. Apa yang sedang kau lakukan diluar malam-malam seperti ini?”
Tiada raut senang ataupun sedih, Shunso memiliki ekspresinya tersendiri. Cukup sulit membedakan mimik wajahnya, bila tidak peka.
“Ah, Ougai-san bilang kalau roh biasanya muncul di malam hari ... jadi aku ingin mencari kucing hitam Shunso, tidak boleh?”
Dengan kekehan pelan, tangan menggaruk-garuk pipi tak gatal. Benar-benar keras kepala, pikir Shunso.
“Keras kepala sekali,” menghela napas kasar kembali melanjutkan ucapan terjeda sebelumnya, “Memangnya, kalau sudah ketemu apa yang akan kau lakukan?”
Terdiam sesaat memikirkan kata-katanya. Sebenarnya, apa yang ia lakukan setiap malam? Bahkan dia sendiri terkadang bingung, apa yang selalu Shunso lakukan bila tidak sedang melukis?
“Membuatmu menyelesaikan lukisan itu,” balas [Name], entah kenapa sekarang dalam kondisi tiba-tiba ia malah memikirkan tentang lukisan yang kosong dibagian tengahnya.
Shunso terdiam. Mengapa gadis dihadapan ia begitu beresikeras, hingga seperti ini? Tapi yang ada semburat merah tipis dipipinya. Ia suka itu, ternyata ada yang benar-benar memerhatikan dirinya yang seperti ini.
Rasa bahagia datang sesaat entah mengapa kepada dirinya, yang baru-baru ini dilanda kecemasan dan kekhawatiran maupun cemburu bersamaan. Dia masih ada seseorang yang akan bersamanya.
“Kenapa kau melakukannya hingga ke sana?”
Memikirkan segala alasan, nyatanya pertanyaan itu lah yang ia keluarkan. Bagaikan diterpa oleh angin, suara [Name] malah terdengar samar-samar sewaktu menjawab pertanyaan yang diajukan.
”... itu karena aku tidak ingin ....”
Rasa ingin mencaci maki angin, tapi angin ternyata tak mau kalah menghalau perasaan kedua insan berbeda jenis kelamin ini. Di saat yang bersamaan hawa yang tidak asing, memicu sudut matanya segera menoleh ke asal di mana ia samar-samar merasakan sesuatu.
“Oh! Kucing hitam. Shunso, ketemu!”
Tidak bisa berkata-kata lebih, Shunso mencoba mengapai walau tidak lagi bisa. Hanya sekedar menatap dibarengi oleh kata-kata khasnya. Menggoda sesuatu yang ia anggap menarik perhatiannya.
“Apakah Shunso tidak mendengarnya tadi? Kalau begitu, aku akan mengatakannya lagi. Sebab aku ....”
Tentu saja [Name] meraih disamping Shunso menyamakan tinggi, berbisik dengan suara pelan. Sedikit terkejut, tapi Shunso mengulas senyum kecil akibat itu.
Seni yang dirimu buat, selalu membawa kilauan tersendiri bagiku.