Amusement Park.
Mirako Yuta × Reader. #KenkaBanchou Fanfiction.
Day 11 of #SimpTember 2021.
Siapa yang tidak kenal siswa tahun kedua yang bernama Mirako Yuta? Semua mengenalinya dengan sifat sombong yang sudah mendarah daging, namun malah sirna begitu seseorang tak mengenali ia kebalikan dari sifatnya. Seseorang tersebut adalah [Full Name].
Dengan tampang seperti bersahabat, tentu saja memungkinkan untuk salah mengira juga bukan? Inilah kisah [Name] diawal pertemuannya dengan Mirako yang nyatanya merupakan Idola-nya.
Oh? Benar saja. Tidak mengubah beberapa fakta, Mirako adalah seorang Idola. Selain merupakan seorang siswa dia juga adalah Idola. Seorang berandalan seperti ia, cukup kuat untuk memerintah sekolah, menolak melakukan hal tersebut.
Terlepas dari kata berandalan, aslinya ada bagian dalam dirinya yang tidak boleh dimasuki siapa pun. Menyembunyikan kesan dengan tampangnya yang seperti itu, kerap kali menjadi kesalahan tersendiri.
Di suatu sore, Mirako mengajak [Name] ke suatu tempat. Tempat itu berupa taman hiburan, entah mengapa arahnya menjadi kesana, itu adalah saran [Name]. Sebenarnya, Mirako ingin mengajak [Name] ke tempat lain.
Mau tak mau, selagi image nya tak hancur didepan gadis yang masih menganggap ia ramah musti harus turun tangan. Aslinya ia tak ingin melakukan hal tersebut. Apalagi berhubungan dengan taman hiburan, akan ada sesuatu yang terjadi.
Paling parah semisal ada yang melihat ia bersama gadis. Walau kenyataan memang ingin jalan-jalan tapi, gengsi nya itu kayak nolak orang. Hitung-hitung dikatai sombong, termasuk juga menjadi bagian dirinya.
“Mirako-san?”
Mendengar nama dipanggil, lamunan seketika buyar. Tak seperti orang-orang yang datang ke taman hiburan, gayanya saja sudah seperti cacing kepanasan. Risih dengan sekitar namun, perlu menahan.
Walau dia tak mau menahan diri, tapi semisal ada yang berakhir dengan luka tak mau juga. Bisa-bisa penjara taruhannya, biarlah hanya sekolah ia yang menjadikan sistem itu dan dianggap keren sesaat.
Pada dasarnya, sistem tersebut ada cukup aneh. Untuk berandalan sewaktu sekolah menengah, siapa yang tidak tergiur dengan kesempatan menguasai sekolah? Tentu saja yang terkuatlah yang mengatur sekolah.
“Hm, ada apa [Name]?”
“Dirimu melamun, apa terjadi sesuatu? Atau ada sesuatu yang menganggumu?”
“Hanya perasaanmu, sungguh.”
Lelaki bersurai ungu bertirai yang dibelah ke samping, dengan manik bewarna violet mengambangkan senyuman tipis disana. Biasanya akan membuat perempuan menggila, sebaliknya gadis dihadapan ia,
“Begitu ya, semisal Mirako-san ada keperluan tidak apa-apa.”
“Tentu saja, aku tidak bermaksud untuk itu.”
Keheningan menerpa keduanya sesaat diantara keramaian seperti ini terdengar suara yang tidak asing bagi sosok Mirako sendiri, dan mendengar suara tersebut dengan nama dirinya.
“Mirako-senpai?”